TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
65 #PENGUSIRAN


__ADS_3

Sofi baru saja akan merebahkan dirinya di atas kasur ketika terdengar suara ribu-ribut dari halaman depan. Namun karena badannya terasa pegal-pegal dia memilih cuek dan berusaha memejamkan matanya sambil menunggu Bu Een datang untuk menolongnya.


Mirza dan Via berlari ke luar karena mereka penasaran dengan suara gaduh dari halaman.


“Ya, ampun Ibu! Apa-apan ini?” Via kaget demi melihat beberapa warga lengkap dengan Pak RT datang ke rumahnya.


“Seharusnya kalian lakukan ini dari kemarin-kemarin kalau nggak bisa mengusir perempuan itu sendiri!” Bu Harni bicara menatap Mirza dan Via bergantian. “Ayo Pak RT dan ibu-ibu ikut saya masuk ke dalam! Kita seret perempuan itu!"


“Bu, tunggu Bu!” Via mencoba menahan aksi ibunya dan para warga.


“Kamu ini kenapa sih, Via? Nggak usah menghalangi Ibu!” Bu Harni kesal. “Atau kamu memang pingin dimadu? Iya? Kamu setuju suamimu kawin lagi?” Bu Harni mulai hilang kesabaran.


Via diam tertohok dengan pertanyaan ibunya itu. Dan merasa tak punya pilihan dia akhirnya menepi bersama Mirza memberi jalan para warga masuk ke rumahnya.


Bu Harni semangat sekali memimpin pasukan ibu-ibu masuk menuju kamar Sofi diikuti Pak RT.


Tanpa aba-aba atau peringatan sejenisnya Bu Harni langsung menggedor pintu kamar Sofi membuat Sofi yang hampir terlelap blingsatan karena kaget.


“Buka pintunya perempuan nggak tau malu! Cepet buka!” Teriak Bu Harni.


“Ya ampun, mau ngapain lagi sih si nenek tua itu?” Sofi mulai ngeri di dalam kamar.


“Kalo kamu nggak mau buka, saya sama warga bakal dobrak pintu ini dan seret kamu keluar!” Teriak Bu Harni lagi.


Sofi disergap perasaan takut. Dia panik mendengar ada warga juga di luar. Cepet-cepat diraihnya ponsel untuk kembali menghubungi Bu Een, namun lagi-lagi tak juga kunjung dijawab. Sofi nggak tau kalo Bu Een lagi di kamar mandi setelah sebelumnya ketiduran di sofa ketika baru datang.


“Sial! Kemana sih ini nenek tua satunya ini?” Sofi jengkel.


DOR DOR DOR DOR ….


Gedoran pintu kembali terdengar lagi, kali ini para warga pun ikut ambil suara.


“Udah Bu, kita dombrak aja!”


“Iya, betul!”


“Setuju, kita seret rame-rame biar kapok itu pelakor!”


Sementara itu di kamar atas Tia yang baru saja selesai menemani Ica main air di kamar mandi juga penasaran karena mendengar suar ribut di lantai bawah.


“Ica, ayo pake baju dulu sini, Nak.” Tia mengambil baju dari tas yang dibawanya.


“Nanti boleh main air lagi kan, Bun? Kamar mandi rumahnya tante Via asyik banget, ada air mancurnya.”


Tia hanya tersenyum. Tiap kali menginap di rumah Via, anaknya itu demen banget mainan shower di kamar mandi. Dia kadang berkhayal lagi main hujan-hujanan atau main air mancur. Maklumlah, kamar mandi di rumah kontrakan mereka cuman pake ember dan gayung yang sudah buluk, lapuk bocor lagi.


“Boleh kan, Bun?” Tanya Ica memastikan.


“Boleh.” Sahut Tia.


Ica pun bersorak kegirangan. Suara ramai di lantai satu makin santer karena Bu Harni dan warga sudah mulai menghitung untuk memberikan aba-aba mau dobrak pintu kamar Sofi.


“Bun, itu suara apa ya? Kok kayak banyak orang gitu?” Ica ikut penasaran.


“Bunda juga nggak tau, sayang. Makanya ayo cepet pake bajunya. Kita turun ke bawah liat ada apa.”


Ica mengangguk.


“Dua …!”

__ADS_1


“Ti … !”


Hampir pada hitungan ketiga Sofi yang tak punya pilihan lain membuka pintu kamarnya.


Bu Harni langsung mendorong daun pintu untuk dibuka lebih lebar dan menarik tangan Sofi.


“Sini kamu!”


Sofi meringis berusaha mengelak, tapi para ibu yang lain sigap membantu Bu Harni menyeret Sofi keluar dari kamar.


“Oh, jadi seperti ini tampang pelakornya?” Ungkap satu Ibu yang berdiri di samping Pak RT.


“Iya betul, ini orangnya! Udah, kita sret aja paksa dia keluar, atau bila perlu kita arak keliling kampung!” Timpal satu ibu lagi, Sofi merasa pernah melihat tampang ibu yang satu ini.


“Heh, kamu masih ingat sama kami kan?” Ibu gendut yang juga pernah Sofi liat tampangnya melotot galak padanya. “Harusnya kamu udah pergi dari rumah ini sejak kami peringatkan kemarin-kemarin!” Lanjut Ibu itu berkacak pinggang. “Sekarang saya tepatin janji saya, saya bawa para anggota IWANKOR buat usir kamu dari kampung ini. Ayo ibu-ibu kita seret dia!” Ibu itu memberi komando.


Ternyata si Ibu IWANKOR itu lebih sangar dari Bu Harni. Bu Harni tersenyum puasmelihat Sofi ditarik keluar.


“Pak, Pak RT jangan diem aja dong!” Mirza menghampiri Pak RT yang berdiri di sebelah Bu Harni. “Tolong jangan ada keributan di rumah saya.” Pinta Mirza yang melihat kelakuan bar-bar para anggota gank IWANKOR.


“Heh, Mirza! Kalo kamu nggak mau rumahmu ribut kayak gini ya harusnya kamu sendiri dong yang tegas usir pelakor itu!” Semprot Bu Harni galak. “Udah, Pak RT! Kita bawa dia ke kantor kelurahan aja!” Lanjut Bu Harni pada Pak RT.


“Bu, Sofi itu menderita sindrom. Kami cuman takut kalo terjadi hal buruk sama dia akibat kejadian ini.” Via buka suara.


“Kamu lagi! Malah belain pelakor!” Bu Harni ngomelin Via. “Mau dia menderita sindrom kek, mau menderita gangguan jiwa kek, Ibu Nggak peduli! Masa bodo! Yang namanya pelakor harus dibasmi. Dan justru penyakitnya itu yang ia jadikan senjata buat bikin kalian nggak tegas sama dia! Dasar pada nggak bisa mikir kalian ini, payah!”


Bu Harni meninggalkan Mirza dan Via dengan langkah cepat menyusul warga yang sudah di halaman depan, Pak RT segera mengekor.


Tia tampak menuruni tangga sambil menggendong Ica dengan langkah tergesa.


“Vi, ada apa ini? Kok kayak ada suara ribut-ribut?” Tanya Tia begitu sampai di lantai bawah.


Mirza dan Via akhirnya ikut ke depan karena bagaimana pun juga Sofi sedang hamil, mereka hanya khawatir terjadi hal yang tak diinginkan jika kemungkinan warga bertindak di luar batas.


“Pak RT, Bu Harni, enaknya kita apakan si pelakor ini?” Seru satu Ibu yang berambut keriting.


“Tenang dulu, ibu-ibu. Tenang! Jangan pakai kekerasan ya.” Pak RT yang dari tadi cuman ikut kesana kemari baru angkat bicara.


“Tenang, tenang gimana sih Pak RT? Udah jelas-jelas di kampung kita ini ada pelakor!”


“Betul! Dia malah nekad tnggal di rumah Mirza lagi, dia kan bukan muhrim. Nanti kita satu kampung bisa ikutan dosa lho, bisa kena azab kalo cuman diem aja!” Timpal ibu yang berambut jagung.


“Iya, bener! Pak RT mau kena azab kayak di TV-TV itu? Saya sih ogah! Biar si pelakor ini aja yang kena azab!” Timpal Ibu bermuka glowing.


“Iya, iya betul!”


“Huh, rasain!”


“Biar kapok kamu pelakor!”


“Dasar pelakor nggak tau diri!”


Para warga semangat sekali memaki-maki Sofi yang nyalinya sudah ciut mengkerut keriput kayak kerupuk kesiram air comberan.


“Bun, kok ada yang sebut-sebut pelakor lagi sih?” Tanya Ica yang sudah berada di teras rumah bersama ibunya. “Mereka juga suka sama kue pelakor yang kayak pernah dibikin bunda, ya?” Ica melihat pada wajah ibunya dengan mimik polosnya.


“Bukan, sayang. Ini beda lagi.”


“Tapi tadi …”

__ADS_1


“Udah, Ica diem ya. Jangan berisik, nanti dimarahin Pak RT lho kalo ngomong mulu.” Tia menunjuk Pak RT dengan dagunya.


Ica pun nurut langsung diem memilih anteng digendongan bundanya.


Sementara itu Bu Een baru saja keluar dari kamar mandi dan merasakan kesegaran yang sempurna setelah diguyur berliter-lite air. Lelah dan penat yang dirasakannya dari kemarin sirna sudah. Bu Een menyandarkan punggungnya pada bantal yang sudah ia tata sedemian rupa pada dipan ranjangnya.


“Hari ini nggak papa deh nggak buka toko dulu, capek banget mau istirahat.” Bu Een menyelonjorkan kakinya yang masih terasa pegal.


Lantas ia meraih ponselnya di atas nakas samping ranjang, “Si Sofi moga baik-baik aja deh udah nyampe sana lagi.” Gumam Bu Een sambil memeriksa hpnya.


JENGJENG!


10X panggilan tak terjawab dari Spfi dan satu pesan singkat yang isinya kontan saja membuat Bu Een terperanjat langsung bangun dari acara males-malesannya.


“Gawat! Harus segera kesana ini!” Bu Een membuka lemari bergegas ganti baju dan merapikan dirinya.


“Din! Udin!” Panggil Bu Een nyaring begitu keluar kamar dengan langkah tergesa. “Udin! Cepetan kamu ….”


Bu Een tak melanjutkan teriakkannya begitu ingat si Udin juga udah pulang ke rumahnya karena hari ini toko libur dulu. Bu Een balik lagi ke kamarnya mencari kunci motor.


Bu Een langsung mengeluarkan motor dari garasi dan segera melesat menuju rumah Mirza dengan kecepatan diatas rata-rata. Semua orang di jalan termasuk ayam-ayam tetangga, bebek-bebek yang lagi jalan santai di pinggir sawah dan para kambing beserta segerombolan sapi yang sedang asyik merumput pada kaget dan berlarian menyelamatkan diri demi melihat Bu Een yang udah hampir mirip Komeng di iklan motor YA MANA itu kecepatannya. Untung aja baju Bu Een nggak ikut sobek-sobek dan bibirnya nggak ikutan melambai-lambai kayak si Komeng karena saking ngebutnya.


NGIIK!


SREET!


NGOK!


JEDOR!


GEDUBRAK!


Motor Bu Een langsung berhenti setelah melakukan pengereman darurat karena menabrak pohon Palm di halaman depan rumah Mirza. Bu Een ternyata cukup sakti, dia cepat bangun dan melangkah dengan wajah bengis menuju kerumunan warga.


“Ibu?” Ucap Mirza dan Via hampir bersamaan.


Semua orang menoleh ke sumber suara NGIIK SREET NGOK JEDOR GEDUBRAK itu.


Dan semua mata tertuju pada Bu Een yang melangkah penuh percaya diri, gamis dan hijab panjangnya berkibar-kibar tertiup angin membuat penampakannya bak model yang lagi jalan di panggung fashion show.


(Eits, jangan heran ya Kak, penampilan Bu Een akhir-akhir ini sudah berubah lebih muslimah sajak mau main ke rumahnya haji Barkah. Soalnya Bu Een kan emang udah daftar mau naik haji barengan sama si tukang bubur. Jadi beliaunya pingin mulai merubah penampilannya, ya meskipun watak dan sifatnya nggak berubah sama sekali sih, hehehe….)


Eh, sampe mana tadi ya ….


Sampe fashon show ya…


Lanjut nanti aja ya Kak, hehehe…. 😂😂


Authornya mau nyuci dulu nih, wkwkwkk…😅😅😅


Terima kasih sudah selalu setia mengikuti Livia dan Mirza❤️


❤️❤️


Like, komen, rate 5 dan votenya selalu aku tunggu lho🤩🤩🤩


Mohon maaf kalo ada typo dan sesuatu yang kurang sreg ya Kak🙏🙏🙏


Salam sayang dariku buat Akak-Akak semua😍😍😍😍

__ADS_1


Luv u all🤗🤗😘😘


__ADS_2