
Pukul 07.10 pagi Via bangun dengan wajah panik dan melompat turun dari tempat tidur berlari ke kamar mandi. Mirza yang masih bergelung dalam selimut usai pertarungan ke dua dini hari tadi tak terusik dengan kehebohan Via. Selang sepuluh menit Via keluar kamar mandi dengan handuk di kepala dan langsung mencari hair dryernya. Sialnya kalo lagi buru-buru begitu dia lupa naroh dimana tuh si hair dryer. Via membongkar laci meja rias, laci lemari, laci nakas tapi nihil. Handuk dikepalanya beberapa kali melorot membuatnya tambah kesal sendiri, aneka bunyi-bunyian yang diciptakannya akhirnya mampir ke telinga Mirza.
“Sayang, ada apa sih kok berisik banget?” Tanya Mirza mengucek kedua matanya.
Via tak menyahut. Kini ia tengah sibuk mencari baju kerjanya karena si hair dryer tak kunjung ditemukan.
“Sayang, kok diem aja sih ditanyain hm?” Mirza tau-tau melukin Via dari belakang.
“Mas, ish lepasin! Aku lagi buru-buru!” Via berusaha melepaskan diri, ia sibuk dengan kancing bajunya sekarang. Setelah selesai dia menyalakan kipas angin bermaksud untuk mengeringkan rambutnya.
“Udah ada AC ngapain masih pakai kipas angin? Kamu kegerahan ya, Sayang?”
“Aku mau ngeringin rambut. Mas tau hair dryerku nggak?” Tanya Via membuka handuk yang melilit di kepalanya.
“Kayaknya ada di dapur.” Jawab Mirza polos.
“Di dapur? Kenapa bisa ada di dapur?” Via kaget campur heran.
Mirza nyengir. “Waktu itu mas pake buat ngeringin jam tangan yang nyemplung di mesin cuci, hehe….”
“Bukannya ngomong kek dari tadi? Udah tau aku nyari kemana-mana, malah diem aja!” Ketus Via.
“Ye, kan nanyanya barusan?” Mirza nggak mau disalahin.
“Ya udah cepetan ambilin! Bentar lagi telat nih, mana rambut aku masih basah lagi!”
“Baik, Nyonya.” Mirza melesat ke dapur dan segera kembali dengan si hair dryer di tangannya. “Ini Nyonya. Mau saya bantu mengeringkan rambutnya, Nyonya?” Tanya Mirza dengan suara lembut dibuat-buat.
“Nggak usah!” Via menyerobot hair dryer dari tangan Mirza dan mulai menegringkan rambutnya.
Mirza duduk di bibir ranjang tersenyum memandangi sang istri yang nampak kesulitan karena rambut panjangnya tiba-tiba kusut.
“Mas, bantun dong! Malah senyum-senyum lagi, seneng ya ngeliat aku menderita?” Omel Via yang mendapati suaminya tengah senyam senyum melihat dirinya.
“Tadi katanya nggak usah? Sekarang malah minta dibantuin?” Sungut Mirza.
“Cepetan sini, pegang nih! Arahin yang bener, nih sisirnya!” Via memberikan sisir dan hair dryer pada suaminya sementara dia meraih toner dan kawan-kawannya untuk membuat riasan natural di wajah cantiknya.
Mirza pun nurut, ia mulai menyisir perlahan dan membantu mengeringkan rambut indah sang istri.
“Aww!” Via yang lagi serius dengan pensil alisnya tiba-tiba memekik seiring kepalanya yang agak ketarik ke samping karena rambutnya dibagian samping juga agak kusut.
“Eeh, maaf Sayang.”
“Pelan-pelan dong, Mas! Ini alis aku jadi melenceng kan dari garis khatulistiwa?! Huh!” Kesal Via melihat alis sebelah kirinya lebih panjang gegara kecoret barusan.
Via segera merapikannya kembali, Mirza pun nenyisir lembut rambut panjang istrinya dengan sangat hati-hati dan telaten.
“Mas kalo kayak gitu kapan keringnya rambut aku? Agak cepet bisa kan?” Omel Via lagi yang sudah selesai memoles bedak tipis di wajahnya.
“Hem, cepet salah, pelan salah. Apa si maunya ni Nyonya?” Gerutu Mirza.
“Ngomong apa barusan?” Sontak Via membalikkan badan.
“Eeh, nggak kok. Itu …, anu ….”
“Udah, aku mau berangkat aja.” Via bangkit dengan rambut yag belum kering sempurna.
“Kita sarapan dulu Sayang.”
“Nggak sempet Mas, ini udah jam setengah delapan lebih.” Via memakai sepatunya dan kembali hilr mudik mencari kunci motor.
“Mas anterin Sayang, sebentar Mas cuci muka dulu.”
“Nggak usah, lebih cepet naik motor Mas.”
“Nggak, nanti kamu ngebut. Takut ada apa-apa di jalan.”
“Ya udah cepetan!”
“Sabar dong Sayang. Perasaan dari tadi buru-buru aja deh. Makanya pasang waker biar nggak kesiangan bangun.”
“Kok nyalahin aku sih Mas? Siapa coba yang tengah malem tangannya bergerilya mendaki gunung lewati lembah minta jatah tambahan?” Via melotot kesal. “Kalo Mas nggak iseng, aku nggak kecapekan dan nggak kesiangan bangun! Enak aja nyalahin aku, semua ini gara-gara Mas tau!”
“Iya iya, Sayang … semua itu salah Mas. Maaf ya…” Mirza segera menghampiri dan menenangkan istrinya yang sedari tadi meletup-letup kayak minyak goreng kena air. “Kamu tunggu sebentar ya, Mas cuci muka dan anterin kamu.”
Via tak menyahut, dia menghempaskan bokongnya ke atas kursi kerjanya di dekat jendela sementara Mirza menuju kamar mandi. Namun belum juga kakinya mencapai pintu kamar mandi, Mirza teringat akan sesuatu.
“Sayang, apa kamu udah pake test packnya?” Tanya Mirza.
Via sedikit kaget. “Belum Mas, aku lupa karena buru-buru.”
Mirza urung ke kamar mandi. “Cepet pake sekarang.”
“Mana bisa Mas? Kan aku udah pipis?” Tolak Via.
“Ya tinggal pipis lagi aja Sayang. Gitu aja kok repot?” Mirza ngeyel.
“Tapi aku nggak pengen pipis Mas.”
“Mas nggak mau tau, pokoknya kamu harus pipis sekarang. Atau Mas yang pipisin kamu nih!”
“Mas jangan aneh-aneh deh! Ini udah mau jam delapan,aku bisa telat dan diomelin bos.” Via masih kekeh nolak.
“Bos kamu kan Danar? Dia nggak bakalan berani ngomelin kamu. Kalo sampe berani, Mas hajar dia!”
“Mas nggak boleh gitu dong, semena-mena. Lagian besok kan bisa aku pake test packnya?”
“Nggak bisa, nanti kamu lupa lagi Sayang.”
__ADS_1
“Nggak bakalan.”
Mirza segera membuka laci nakas. “Pake sekarang!” Mirza menyodorkan test pack di depan wajah istrinya.
“Mas aku nggak enak kalo telat, kemarin udah ijin masa …”
“Aku kan suami kamu? Masa kamu lebih patuh sama bos kamu daripada sama suami kamu?” Potong Mirza.
“Ck! Nyebelin!” Akhirnya Via ngalah dan mengambil test pack itu, dengan bibir mengerucut dia menuju kamar mandi.
Mirza menunggu dengan snyum mengembang. Semenit, dua menit, sampai beberapa menit Via belum juga keluar hingga Mirza penasaran.
“Kok lama banget sih? Apa jangan-jangan dia lagi minum air keran ya biar bisa pipis banyak? Haduh, sungguh mengkhawatirkan.” Mirza bangkit dan mengetuk pintu kamar mandi.
Tok tok tok ….
“Sayang, kamu tidur ya di dalem? Kok lama banget sih?” Tanya Mirza.
Ceklek.
Via membuka pintu dan wajahnya telihat datar membuat Mirza makin pinisirin.
“Sayang, apa yang terjadi? Katakan pada suamimu ini?” Mirza meraih kedua pundak istrinya, ala-ala melodrama gayanya. “Katakan sesuatu, jangan diam saja. Apa kau hamil, Esmeralda?”
Perlahan Via memperlihatkan benda yang disembunyikan di balik pungungnya. Sontak kedua mata Mirza membelalak dengan bibir setengah melongo melihat garis dua samar-samar berwarna merah jambu pada benda yang dipegang istrinya itu.
“Esperanza, teryata kau benar-benar hamil?” Ucap Mirza sangat bahagia begitu sadar dari kemelongoannya.
PUK! Via menepuk pelan pipi suaminya.
“Aduh, kok mukul sih Sayang?”
“Jadi yang bener namaku Esmeralda apa Esperanza?” Via keki.
“Apapun itu terserah, yang penting kamu hamil sekarang.” Mirza segera menarik istrinya ke dalam pelukannya dan menciumi pucuk kepalanya.
Tak ingin larut dalam kesenangan karena masih menyimpan keraguan maka Via perlahan melerai pelukannya. “Kamu jangan senang dulu Rudolfo, bisa jadi alatnya rusak.” Ucap Via.
“Nggak, aku yakin kok.”
“Tapi garisnya samar begitu?”
“Itu karena bukan pipis pertama yang kamu pakai Sayang.”
“Ya makanya Mas jangan seneng dulu, mungkin alatnya nggak berfungsi dengan baik.” Via menunduk, hatinya tak rela juga sebenarnya mengatakan itu. tapi bagaimanapun ia masih ragu akan kehamiannya sendiri. “Lagian, aku kan udah bilang Mas, aku belum terlambat datang bulan? Biasanya aku dapet sekitar tanggal ….”
“Awal bulan kan? Ini udah tanggal 7 Sayang, udah lewat beberapa hari dari awal bulan. Udah, nggak usah protes, pokoknya kamu hamil titik.” Mirza tak mau dibantah. “Kalau kamu masih ragu, sekarang juga kita periksa ke dokter kandungan.” Lanjut Mirza.
“Eeeh, nanti aja Mas. Aku kan harus masuk kerja? Besok pagi aja deh, aku test lagi ya?” Via setengah memohon.
“Oke, tapi dengan satu syarat. Mas anterin kamu ke kantor. Mas mandi dulu.”
“Eett! Jangan protes!” Pangkas Mirza kemudian meraih gawainya dan mencari nomor seseorang. “Halo, Danar.”
Mendengar nama Danar disebut membuat Via mau membuka mulut melancarkan protes kembali, tapi Mirza memberi isyrat dengan jari telunjuknya pada Via untuk diam.
“Maaf ya, ini aku mau minta ijun lagi nih. Via hari ini agak telat masuk kerja nggak papa kan? Soalnya dia abis muntah-muntah, maklumlah namanya lagi hamil muda.”
“( ………………………..)”
“Iya, jadi kemarin itu sakit karena dia hamil. Ini aku aja baru tau karena baru di tes pake test pack.”
“(……………………..)”
“Oh, iya … nanti sepulang kerja mau periksa ke dokter kok.”
“(………………………..)”
“Nggak mau katanya. Via kekeh tetep pingin masuk kerja tuh. ya udah ya, makasih udah ngijinin Via masuk telat. Maaf merepotkan.”
“Mas ngapain pake bohong bilang aku muntah-muntah segala?” Omel Via begitu suaminya selesai menelpon. “Labay tau!”
“Biar lebih dramatis, Sayang. Hehe ….” Mirza nyengir lalu ngeloyor ke kamar mandi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Belakangan ini Rumi selain sibuk kursus masak dia juga sibuk jadi guru privat buat Hanson. Dia jadi lebih sering bolak balik apartement kekasihnya itu demi mengajar ngaji si calon suami.
“Baiknya kamu balajar bacaan sholat dulu deh.” Usul Rumi yang hendak memulai sesi mengajarnya.
“No, Schatzi. Aku mau surat-surat pendek dulu.”
“Udah bisa Al Fatihah sama Al Ikhlas aja udah cukup, yang lain gampang nyusul. Sekarang kita belajar …”
“Aku agak lupa dengan surat Al Ikhlas, Schatzi.” Potong Hanson pada Rumi yang baru saja membuka buku tuntunan shalat lengkap.
“Ck! Kamu ini pikun atau apa sih? Kan baru kemarin?” Rumi sedikit kesal.
“Aku coba boleh?”
“Ya udah, coba dulu deh. Awas kalo sampe lupa ya? Orang kemarin udah hafal kok!”
“Eum, tapi Schatzi ….”
“Apa lagi tapi tapi? Jangan banyak alasan ya!” Rumi melotot persis kayak Bu guru galak. “Tadi siapa yang minta hafalan surat pendek?”
“Aku. Tapi ada syaratnya.”
“Apaan?”
__ADS_1
“Tiap aku hafal satu ayat, kamu harus kasih aku satu cium.”
Seketika rumi melotot mendengarnya. “Itu sih enak di kamu! Dasar mesum!” Rumi melayangkan tangannya hendak mendaratkan cubitan maut namun Hanson sigap menahannya.
“Cium pipi aja masa nggak boleh?” Goda Hanson nakal.
“Empat ayat berarti empat kali cium dong?”
“Mau kasih bonus juga boleh kok.” Hanson memainkan alisnya kembali menggoda Rumi. “Mau ya, Schatzi? Aku janji, cuman cium pipi. Kalo aku bohong, kamu boleh putusin aku.”
“Waaaatt…..?” Rumi meotot lagi. “Sebegitunya demi bisa nyium aku?” Lirih Rumi kemudian, ia memandangi wajah bule di depannya yang terdiam menunggu jawaban.
“Gimana, mau ya?”
“No! kita sedang belajar ngaji, jangan bikin dosa!”
Hanson mendengus kecewa. Sebenarnya Rumi juga kepingin sih dalam hati, hihihi…. Tapi dia musti kuat-kuat iman. Bahaya, di apartement soalnya cuman berdua. Rumi berpikir nggak bisa terus-terusan begini, bisa-bisa benteng pertahanannya runtuh juga kalo begini teus.
“Oke, besok aku carikan ustadz aja deh. Sekarang kita libur dulu belajarnya.” Putus Rumi akhirnya.
“Wait, kenapa?”
“Karena aku takut tergoda sama bibirmu yang kissable itu.” Jawab Rumi tanpa malu-malu.
Hanson terkekeh mendengarnya. “Oh mein Gott! du bist so ehrlich Schatz Das hat mich überzeugt, dich zu heiraten."
(Ya Tuhan! Kamu jujur banget, sayang. Itu yang membuatku yakin untuk menikahimu.)
“Tau ah, ngomong apaan!” Sahut Rumi cuek lalu bangkit menuju dapur.
Hanson tersenyum. Kekasihnya itu memang unik, berapa wanita yang ia kencani selama hidupnya, rasanya cuman Arumi yang paling unik karena tiada duanya. Rumi dengan segala karakternya menempati posisi paling istimewa dihatinya.
Ting tung ting tung …
Terdengar bunyi bel.
“Biar aku saja!” Seru Hanson beranjak menuju pintu.
Ceklek.
“Hallo. Wie geht es dir?"
(halo apa kabar?). sapa seorang perempuan dengan seyum manis membingkai wajah cantiknya begitu Hanson membukakan pintu.
“Sofia?” Gumam Hanson tak percaya.
"darf ich rein kommen?"
(boleh aku masuk?). Tanya Sofi dengan senyum masih setia mengembang di bibir ranumnya yang menggoda.
Sejenak Hanson gelagapan. Ia tak mungkin membiarkan Sofi masuk karena di dalam ada Arumi.
"nicht. Ich habe keine Gäste." (tidak. Aku sedang tak menerima tamu). jawab Hanson tegas.
Sofi memainkan rambutnya dengan kerlingan mata seraya menyandarkan bahunya di kusen pintu, tatapannya dibuat begitu sayu.
"Ist es wahr? Es tut mir leid, aber ich wollte Ihnen ein Angebot machen." (benarkah? Padahal aku ingin membuat penawaran). ucap Sofi pura-pura sedih.
"Ich bin auch nicht daran interessiert, Angebote anzunehmen." (aku juga tak berminat menerima tawaran apapun).
Sofi memutar otaknya. Dalam hatinya dia memaki laki-laki yang pernah menjadi pacar kontraknya selama dua tahun yang berdiri di depannya itu. blagu banget si dia? Apa dia menolakku karena si Rumi? Huh, cantikan aku kemana-mana sama si tengil itu? ngapain juga coba dia mau-maunya pacaran bahkan sampe mau nikah segala sama si cewek sompak itu.
“Sofia, Wenn es nichts mehr zu bereden gibt, kannst du gehen." (kalau tak ada yang mau dibicarakan lagi kamu boleh pergi.)
Sofi tertohok dengan kalimat Hanson barusan. Dia ngusir aku? Beneran?
“hast du mich rausgeschmissen?" (apa kamu mengusirku?)" tanya Sofi kembali dengan raut sedih yang dibuat-buat seraya mengelus perutnya yang mulai membuncit. "Hast du das noch nie gesagt ....
"(bukankah kamu pernah mengatakan bahwa ….)
“Baby, siapa yang datang?” Seru Rumi dari dalam.
Itu…. kayak suaranya Arumi? Batin Sofi kaget. Apa tadi? Baby…? Dia panggil Hanson baby?
“Kenapa lama banget sih?” Teriak Rumi lagi.
“Wait, Schatzi. Sebentar ….” Balas Hanson, ia mulai panik karena Sofi masih mematung di hadapannya sambil mengusap-usap perutnya.
Schatzi? Cih! Hanson panggil dia schatzi? Apa-apaan? Sofi menggeram tak terima dalam hati, wajahnya sudah memanas. Ia sungguh tak mengira hubugan Rumi dan mantan pacar kontraknya itu sudah sedekat itu.
“Baby, cepetan! Aku udah buatin kamu minuman nih.”
Tap … tap .. tap ….
Terdengar langkah kaki Rumi mendekat, Hanson tahan nafas sembari menunggu apakah gerangan yang bakal terjadi karena calon istrinya akan bertemu dengan mantan pacar kontraknya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Tungguin besok aja ya Kak … hehe….😁😁😁
Selamat hari minggu semuanya…😍😍
Terima kasih sudah membaca ya..🙏🙏
Mohon maaf kalau ada typo dan kesalahan dalam penerjemahan.🙏🙏🙏
Yang kemarin ngarepin Via hamil, semoga puas ya. Itu Via hamil beneran kok, don,t worry… 😊😊😊🤩🤩🤩
Oke, jangan lupa tinggalkan jejak selalu ya Kak 😄😄😄
__ADS_1
Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘