TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
188 #DINNER


__ADS_3

Senyum Ramzi mengembang sempurna ketika Jane keluar menyambutnya yang datang menjemput dengan mobil sport mewahnya. Malam ini Jane terlihat anggun dan cantik dalam balutan dress hitam bahu terbuka. Rasanya ia baru menyadari kalau mantan asisiten pribadinya itu memang benar-benar menarik.


“Ram, kau tak pake sopir?” Sambut Jane.


“Aku sudah pulih 100%.” Ramzi membukakan pintu untuk Jane.


Mobil Ramzi segera melaju membelah jalanan malam menuju sebuah restaurant mewah yang sudah dipesan sebelumnya. Beberapa kali Ramzi mencuri pandang pada Jane ditengah fokusnya mengemudi. Sedangkan Jane hanya anteng memperhatikan jalan lurus sambil menyilangkan tangan di dada.


“Jane.” Panggil Ramzi. “Aku senang kamu ngajak dinner.”


Seulas senyuman tanpa kata terukir di bibir indah wanita muda berambut pendek mendengar penuturan Ramzi.


“Aku nyesel kenapa bukan aku yang mempunyai inisiatif lebih dulu.” Ucap Ramzi lagi.


Lagi-lagi Jane hanya tersenyum, dan Ramzi paham Jane adalah wanita yang cenderung pendiam bila dibandingkan istrinya yang selalu terang-terangan.


Hampir setengah jam dalam perjalanan, mobil Ramzi pun sampai tempat tujuan. Mereka segera menaiki lift menuju lantai tujuh. Jane keluar lift beriringan dengan Ramzi menenteng clutchnya. Seorang waiter membukakan pintu dan mengangguk sopan begitu mereka sampai. Satu waiter lain segera memandu mereka menuju meja reservasi.


“Jane, kenapa kau pesan meja ini? Bukannya kita cuman makan berdua?” Heran Ramzi.


“Tunggu sebentar, kita akan kedatangan seseorang.” Jane menyelipkan rambutnya ke telinga.


“Maksudmu kita nggak hanya berdua?” Ramzi penasaran. “Aku kira ini dinner berdua saja.” Lanjutnya menggumam.


“Sudahlah, Ram. Lagi pula di sini viewnya bagus.” Sahut Jane sungguh tak nyambung. Ia melayangkan pandangan ke luar jendela. Nampak pemandangan malam yang indah dengan lampu kota bertebaran bak kunang-kunang yang terbang di langit malam.


Seorang pelayan kemudian datang untuk membawakan appetizer bersama daftar menu. Tanpa bertanya pada Ramzi, Jane memesan main course dan dessert pada sang witer yang segera mencatatnya.


“Kenapa kamu nggak tanya padaku aku mau makan apa?” Tanya Ramzi setelah waiter pergi.


“Nggak usah protes, karena aku yang traktir.” Jane nyengir lantas mulai menyendok fruit saladnya mengacuhkan wajah Ramzi yang nampak masam.


Ramzi mendengus menahan perasaannya melihat Jane cuek banget seolah cuman sendiri di sana. Jane yang tau hal itu pun pura-pura tak peduli. Nampak seseorang berjalan mendekat berbalut kemeja tosca dengan gaya coolnya.


“Hi, Jane.” Sapa orang itu yang tak lain adalah Azad.


Jane mendongak, mengulas senyum. “Hai. Ayo duduk.” Balasnya mempersilakan.


Jadi kamu menunggu Azad? Kenapa juga kamu ajak dia dinner bareng? Merusak suasana saja! Ram menggerutu dalam hati.


“Halo Kak Ram, apa kabar? Maaf aku tak tau soal kecelakaan yang menimpamu. Aku tau dari Jane belum lama.” Azad menyapa sang kakak ipar.


“Kabarku baik. Tak apa, aku sudah sehat. Dan itu semua berkat Jane yang membantu merawatku.” Ramzi melirik pada Jane yang baru selesai dengan appetizernya.


Pembicaraan mereka terjeda sebentar katika seorang waiter membawakan main course dan segera berlalu setelah selesai.


“Ah, ayo kita makan dulu.” Ajak Jane.


Kedua laki-laki di dekat Jane pun mulai makan tanpa suara. Dari raut wajah mereka Jane tau keduanya sama-sama sedang bermonolog dalam hati.


“Aku permisi ke toilet sebentar.” Ramzi bangkit seketika.


Ditatapnya punggung sang kakak ipar sampai menjauh.”Jane, apa kamu nggak bilang sama Kak Ram kalo akan menemuiku? Sepertinya dia kesal sekali.” Azad menyisihkan makanannya.


“Dia nggak akan mau kalo aku mengatakan yang sebenarnnya.”


“Dia pasti mengira akan kencan berdua saja denganmu.”


Jane tak menyahut sibuk memeriksa riasannya di depan cermin dalam genggaman tangannya setelah selesai makan. Namun ia tau Azad tengah menatapnya dingin.


“Ekhem.” Jane berdehem setelah memasukkan cerminnya kembali ke dalam clutchnya. “Jadi Nyonya Sofi sudah berapa hari belum pulang?”


“Dua hari ini. Kemarin malam aku mencarinya sampai pagi dan tak ada seorang temannya pun tahu dimana dia. Nomor ponselnya juga tak bisa dihubungi.” Azad mengusap wajahnya kasar.


“Aku akan bantu bicara dengan Ram.”


“Ya, seharusnya kamu melakuaknnya sejak dulu.” Sinis Azad.


“Azad, kamu nggak tau kalo aku udah berusaha membujuk Ram untuk menelponnya sebelum Sofi menghilang.” Jane tak mau disalahkan.


“Aku minta kamu ninggalin dia bukan membujuknya untuk menelpon kakakku.” Ketus Azad.


“Tapi itu terjadi sebelum kamu memintaku.” Jane kekeh, raut wajahnya menahan jengkel, mengapa Azad tak mempercayainya. “Kamu pikir aku seneng liat rumah tangga Ram seperti ini? Aku bukan tipe orang yang bisa bahagia di atas penderitaan orang lain!” Tegas Jane membalas tatapan dingin Azad.

__ADS_1


“Omong kosong! Selama kamu masih berada di dekat kakak iparku!” Lirih Azad dengan nada penuh penekanan karena ia melihat Ramzi tengah mendekat.


“Jane, sepertinya aku tak bisa tinggal lebih lama disini.” Ramzi melihat rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


“Duduklah, Ram. Ada hal penting yang ingin Azad .... maksudku, aku ingin menyampaikan sesuatu.” Ralat Jane membenahi posisi duduknya.


“Apa ini soal Sofia?” Tanya Ramzi seraya menghempaskan pantatnya kembali di tempat duduknya. Agaknya oa sudah ounya firasat.


“Iya, Ram. Istrimu pergi dari rumah dua hari yang lalu dan sampai sekarng belum kembali.” Terang Jane.


Ramzi melihat Azad yang hanya diam seolah tak berniat mengatakan apapun.


“Aku tak punya urusan apapun lagi dengannya.” Ramzi bangkit.


“Tunggu, Ram!” Cegah Jane, ia melihat Azad yang masih diam dan segera sadar diri. “Sebaiknya aku saja yang pergi, biar kalian bisa ngobrol lebih bebas.” Jane ikutan berdiri.


“Nggak, jika aku tetap tinggal maka kamu pun nggak boleh pergi.” Ramzi mencekal pergelangan tangan Jane. Pemandangan itu membuat Azad mengernyit, ia tak suka dengan perlakuan Ramzi pada Jane.


“Kalo begitu kalian berdua saja yang duduk biar aku yang pulang.” Kesal Azad.


“Azad, kamu ini apa-apaan?” Jane melepaskan tengan Ramzi dari pergelangan tangan kanannya dan kembali duduk, Ramzi mengikuti.


“Aku tau Kak Ram tak menginginkan kehadiranku.” Azad melirik kakak iparnya. “Kak Ram berharap makan malam haya berdua saja dengan Jane, kan?” sorot netra Azad menghunus telak pada sang kakak ipar. “Apa pantas laki-laki yang sudah beristri bersikap seperti itu?”


“Aku nggak mau lagi bahas soal Sofi.”


“Tapi dia masih sah sebagai istrimu!” Azad akhirnya meluapkan perasaan yang sedari tadi ditahannya. “Dan sebaiknya Kak Ram suruh Tuan Alatas untuk mencabut surat perjanjian konyol itu!”


Ramzi menegakkan posisinya. “Perjanjian apa?"


“Kak Ram jangan pura-pura tak tau.” Sinis Azad.


“Aku memang tak tau, perjanjian konyol macam apa yang kamu maksud?” Ramzi semakin heran.


Azad menyeringai menatap pada Jane. “Jane, katakan padanya. Kau tau semuanya kan?”


Jane sempat tergagap, namun segera menenangkan diri. “Ram ...” Ucapnya setelah menghela nafas panjang, mungkin untuk berpikir.


“Katakan, aku siap mendengarnya.” Pinta Ramzi.


“Langkah Papa benar.” Ucap Ramzi setelah Jane selesai dengan uraian panjangnya, tak pelak pernyataan Ramzi itu membuat Jane dan Azad tersentak kaget.


“Kak Ram, apa kau sudah gila?” Azad tak percaya.


“Sofia pantas mendapatkan itu karena sudah berlaku sangat jahat di belakangku.” Geram Ramzi.


“Ram, tapi dia sedang mengandung anakmu. Apa kau tak memikirkan itu?” Jane menatap sendu.


“Justru lebaih baik anakku kelak tak mempunyai ibu macam dia.”


“Kak Ram, kau bener-benar egois!”


“Aku begini juga karena ulah Sofia! Jika saja dia bisa menjalani takdirnya sebagai istriku dengan semestinya, tentu semua hal ini tak akan terjadi.”


Amarah ramzi yang hampir mencapai puncaknya terhenti seketika manakala dua orang waiters datang untuk mengambil main course dan menggantinya dengan dessert. Untung lah kedua waiter itu datang pada saat yang tepat, batin Jane. Ia nggak mau melihat kemarahan Ramzi di tempat umum begini.


“Ram, coba pikirkan baik-baik. Jika terjadi sesuatu dengan Sofi dan bayinya, kamu juga akan menyesal. Sebaiknya kamu bicara denagn Papamu untuk jangan lagi mendesak Sofi menyetujui perjanjian itu. Aku yakin dia pergi karena tekanan dari papamu.” Jane menyentuh lengan Ramzi masih dengan tatapan sendunya.


Meski Azad tau maksud Jane memang benar, tapi dia sungguh tak menyukai tingkah Jane yang menurutnya itu berlebihan.


Nggak harus pegang-pegang juga, bisa kali! Dengus Azad dalam hati.


“Kalau dia memang berniat menolaknya, seharusnya dia datang menemuiku.”


“Kak Sofi sudah mencoba datang ke rumahmu, jauh-jauh hari sebelum orang kepercayaan papamu datang ke rumah kami untuk mebawa surat perjanjian konyol itu, tapi Tuan Alatas mengusir Kak Sofi.” Papar Azad dengan kesal.


Ramzi terdiam, ia memang membenarkan hal itu karena dia sendiri memang melihat kedatangan istrinya itu dan mendengar kegaduhan yang diciptakan Sofi.


“Aku tak percaya ternyata papamu sangat licik, Kak. Dia bahkan menyembunyikan berita tentang kecelakaan yang menimpamu dari kakakku.” Azad tersenyum miring. “Harusnya jika pikiranmu jernih, kau bisa berpikir siapa yang menyebabkan kekacauan dalam rumah tanggamu.”


“Tentu saja Sofia.” Potong Ramzi mulai naik lagi nadanya. “Papa nggak mungkin berlaku kelewat batas jika Sofia tau diri."


“Lalu siapa yang merencanakan menggugurkan bayi pertama Kak Sofi?Papamu, Kak!” Tegas Azad dengan suara tertahan.

__ADS_1


“Karena Sofia mengkhianatiku. Dia hamil dengan laki-laki entah siapa, apadhal sudah berjanji sepulang pesiarnya yang terakhir dia akan menikah denganku!” Balas Ramzi tak mau kalah.


“Tapi bayi itu tak berdosa. Dan kau malah mendukung perbuatan biadab papamu. Harusnya kau tak melakukan itu jika kau memang benar-benar mencintai kakakku.” Mata Azad tak berkedip menatap lurus sang kakak ipar yang nampaknya mulai goyah.


Jane masih mengamati perang dingin keduanya, ia tak mau buka suara khawatir memperkeruh keadaan.


“Jane.” Panggil Azad membuat jane sedikit tersentak. “Sebaiknya kau pikir-pikir lagi jika berniat menjadi pengganti kakakku, agar kau tak menyesal menikah dengan laki-laki tak berpaerasaan ini.” Sinis Azad yang langsung disambut dengan kepalan tangan Ramzi.


“Apa katamu?” Ramzi menarik kerah baju Azad dengan tangan satunya membuat badan azad sedikit tertarik ke depan.


“Ram, jangan.” Jane mengkap kepalan tangan Ramzi. “Ini tempat umum, jangan membuat keributan.” Jane melihat ke sekeliling yang untungnya hanya ada beberapa orang saja, itupun mereka terlihat asyik dengan pasangannya masing-masing.


“Ingat perkataanku ini baik-baik, Jane. Kak Ram mungkin saja menikahimu hanya sebagai pelampiasan karena kecewa dengan kakakku. Jika itu benar, maka pernikahanu pun tak akan bahagia.” Azad bangkit dan segera berlalu meninggalkan mereka berdua.


“Kau seharusnya tak perlu menahanku.” Ramzi melepaskan tangannya dengan perasan jengkel. Sedikit lagi dia hampir meninju adik iparnya itu.


“Kita melupakan dessertnya.” Jane mencoba mencairkan suasana seraya meraih es krim di hadapannya.


“Aku sudah tak berselera!” Ramzi bangkit dan ikut melangkah pergi meninggalkan Jane sendirian.


“Sepertinya Ram terkena amnesia dadakan. Kenapa dia melupakanku?” Jane berdecak kesal, tapi ia tak punya pilihan selain menikmati saja dessertnya seorang diri. Begini jauh lebih baik, dia juga tak mau pulang bersama Ram yang mungkin akan ugal ugalan di jalanan karena kesal.


Bip


Satu notifikasi pesan masuk diponsel Jane. Ia segera merogohnya dari dalam clutch.


Ramzi


Cepat turun, aku tunggu di parkiran.


Jane segera membalasnya.


Jane


Pulanglah sendirian, aku udah pesan taxi online.


Jane mematikan ponselnya, ia kembali asyik menyendok es krim sambil menikmatipemandangan malam ibu kota.


❤️❤️❤️❤️❤️


Di sebuah penginapan kelas melati pinggiran kota, sepasang mata bola yang telah kehilangan binarnya menatap slide demi slide foto pada galeri ponselnya. Meski ia sudah berusaha tak ingn melihatnya lagi, tapi sesuatu seperti menggerakkannya untuk kembali mengaktifkan ponselnya untuk memandangi foto-foto itu. Dan perasaanny masih sama. Tak percaya!


“Ternyata semudah itu kau berpaling, Kak Ram.” Lirihnya segera mengesut matanya yang mulai mengembun. “Dan kau wanita tak tau malu, aku akan membuat perhitungan denganmu!”


FLASH BACK ON


Sofi keluar tanpa suara dari kamarnya. Suasana sore seperti biasa, semua pelayan sibuk menyipakan masakan menu makan malam. Beruntungnya Sofi berhasil keluar dengan mobil mewahnya tanpa seorangpun yang tau. Amarah dan dendam yang bercampur jadi satu membuatnya nekad akan menyambangi kembali istana megah sang suami. Sofi tak peduli meski nanti akan dihadang oleh para security sekalipun. Ia memacu mobilnya lebih kencang, sesekali diliriknya map di samping joknya yang akan ia tamparkan pada pipi Alatas yang sudah semena-mene memperlakukannya. Beberapa menit berkendara Sofi mulai terjebak macet karena berbarengan dengan jam pulang kantor.


Drrrrt…. Drrrrt …


Drrrrrt … Drrrrt ….


Ponselnya di dalam tas bergetar beberapa kali, agaknya cukup banyak pesan yang masuk. Sembari tertib dalam kemacetan yang mengular, Sofi membuka gawainya.


JENGJRENG!!


Matanya nyaris melompat keluar dengan mulut menganga melihat beberapa foto yang dikirim oleh nomor yang tak dikenalnya. Namak disana foto suaminya tengah bersama dengan Jane di balkon kamar lantai empat ruangan pribadi suaminya. Meraka terlihat sangat intim. Beberapa foto mengabadikan momen Jane dan Ramzi tengah saling tatap dan melempar senyum. Dan yang membuat Sofi paling terkejut bak terkena serangan jantung dadakan adalah ketika melihat Ramzi memeluk Jane dengan posesive. Jane nampaknya sangat menikmati pelukan itu.


Jika saja tak sadar tengah berada dalam kemacetan, mungkin Sofi sudah berlari keluar sambil berteriak-teriak meluapkan emosinya.


TIN … TIN … TIIIIN…..


Bunyi klakson sahut-sahutan membuat Sofi terlonjak, mobil di depannya sudah melaju jauh dan ia masih terpaku di tempatnya. Segrea Sofi menginjak pedal gasnya, ia merubah haluan ketika kemacetan berhasil terurai. Sofi berkendara tanpa tujuan. Lepas senja ia terdampar di pinggiran kota dengan air mata membajiri pipinya.


FLASH BACK OFF


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


hi, readers kesayangan semuanya.... maaf up nya segini dulu. 🙏🙏🙏🙏


like


komen selalu yaa🤩🤩

__ADS_1


I love you all pokokmen! 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2