TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
70 #AKHIRNYA ...


__ADS_3

SLAP!


Mata Via dan Danar bertemu pandang.


Via tampak terkejut kenapa Danar bisa datang bersama keluarganya, namun ia berusaha meyembunyikannya di balik matanya yang redup.


“Ah, Ica. Sini, sayang.” Tia mengambil Ica dari gendongan Danar. “Maaf ya, Ica sudah merepotkanmu Danar.” Tia meinta maaf pada Danar.


"Nggqk kok, Mbak."


Ica terlihat enggan berpindah dari Danar, tapi Tia dengan sedikit tatapan tajamnya berhasil membuat Ica mau juga.


“Mas Arya kemana, Mbak? Ini aku bawain sarapan lho.” Tanya Riri sambil meletakkan makanan yang dibawanya.


“Tadi ke kantin klinik mau cari kopi.”


“Biar aku cari sekalian pesen kopi buat Mas Danar.” Riri keluar ruangan.


“Vi, gimana keadaanmu?” Tanya Bu Harni sambil mengusap rembut Via.


“Sudah baikan, Bu. Tadi dokter Burhan sudah memeriksaku lagi. Katanya nanti setelah infusnya habis udah boleh pulang.” Ucap Via masih sedikit lemah dan kembali merebahkan tubuhnya.


Bu Een mengangguk, lalu melihat pada botol infus yang isinya hanya tinggal sedikit lagi.


“Oh iya, Vi. Nak Danar ini yang udah nolongin kamu bawa ke klinik semalam.” Ucap Bu Harni teringat pada Danar yang sedari tadi hanya berdiri.


Danar medekati bed Via.


“Makasih ya.” Ucap Via mencoba mengulas senyum tipis.


Danar megangguk membalas senyum Via.


Ceklek.


Pintu kamar dibuka oleh seorang perawat.


“Permisi, salah satu keluarga pasien bisa ikut untuk mengurus admisintrasinya?” Ucap mbak perawat.


“Baik, Sus.” Bu Harni bangkit, mengikuti suster.


“Nenek mau kemana, Bun?” Tanya Ica kepo.


“Mau ikut Mbak perawat.”


“Ica mau ikit juga.”


“Nggak usah, Nak.”


“Ayok, Bun. ica pingin nyusul ayah aja kalo gitu.” Ica mulai merengek.


“Nanti juga ayah kesini bentar lagi.”


“Aah, nggak mau ..” Ica kembali berdrama ria.


Tia akhirnya menuruti Ica daripada melihatnya yang mulai berulah kumat manjanya.


“Danar, tolong jaga Via dulu ya.” Ucap Tia sebelum pergi.


“Iya, Mbak.”


Danar dan Via saling diam. Entah mengapa jantung Danar berpacu lebih cepat. Hanya ada dirinya dan Via di ruangan itu kini.


“Emh, sarapanmu belum dihabiskan.” Ucap Danar melihat bubur yang tadi disuapkan Tia masih tergeletak di atas nakas.


“Udah kenyang.” Sahut Via pelan.


Via terlihat lebih tenang, bagamana pun juga dia harus bisa menguasai dirinya. Danar bukanlah siapa-siapa. Dia mengenalnya pun belum lama, meskipun dia juga merasa Danar itu kayak hantu bisa nongol dimana-mana lalu ngilang gitu aja. Via sadar betul, dia adalah seorang perempuan yang sudah bersuami, oleh sebab itu ia nggak akan membiarkan sepercik perasaan anehnya pada Danar berkembang dan menjalar kemana-mana.


“Kamu …” Ucap Via dan Danar hampir bersamaan.


“Kamu dulu deh yang ngomong.” Ujar Via.


“Nggak, silakan kamu dulu.”


“Kamu aja.” Tolak Via.


“Aku nggak mau bilang apa-apa kok.”


“Oh, aku juga.”


“Ya udah.”


Mereka lantas kembali berdiaman.


“Mau aku ambilkan minum?” Tawar Danar akhirnya.


“Nggak, makasih.”


Sepi lagi. Danar nggak tau mau nanya apa lagi.


“Oya, gimana persiapan ruko barunya sama Riri?” Via akhirnya menemukan bahan obrolan yang pas.

__ADS_1


“Lancar kok. Minggu depan sepertinya udah mulai buka.”


Via tersenyum tulus mendengarnya.


“Dateng ya, nanti mau buat acara syukuran kecil-kecilan di ruko.”


“Bener nih aku diundang?” Tanya Via yang sudah mualai cair suasananya.


“Iya, kan tadi aku sendiri yang bilang.”


“Oke, semoga aku bisa dateng.”


“Harus lah, kan itu usaha baru adik kamu.”


“Join kan sama kamu?”


“Nggak, aku cuman bantuin aja karena Ibu Elin yang memintanya.” Tutur Danar.


“Jadi kalo bukan Bu Elin yang minta, kamu nggak bakal bantu?”


Danar sedikit kaget ditanya begitu.


“Ya nggak dong, tetep bakal aku bantu. Karena aku seneng Riri bisa punya usaha di kota biar…” Danar tak melanjutkan karena khawatir ketahuan kalo sebenarnya ia punya niat tersembunyi di balik itu.


“Biar apa?” Kejar Via penasaran.


“Biar bakat Riri berkembang.” Jawab Danar.


“O” Ucap Via hanya ber O ria.


Danar dan Via diam lagi.


Ceklek


Untunglah pintu terbuka jadi mereka tak perlu repot-repot mencari bahan obrolan lagi.


Tampak Riri, Tia dan Arya yang menggendong Ica masuk ruangan.


“Mas Danar, ini kopinya.” Riri memberikan gelas plastik transparan berisi kopi hitam untuk Danar.


“Makasih, ya.” Danar menerimanya.


Riri perhatian banget sama Danar. Danar juga keliatannya peduli banget sama Rriri. Jangan-jangan mereka saling suka. Atau mungkin mereka malah udah jadian tanpa setahu aku? Ah, ya ampun! Aku mikirin apaan sih! Biarin aja kalo mereka jadian, memangnya kenapa? Danar juga baik dan dewasa orangnya, cocok bisa ngemong Riri yang manja dan semaunya sendiri.


“Vi!” Panggil Tia menyadarkan lamunannya.


“Eh, iya Mbak.” Via agak tergagap.


“Nggak Mbak, nanti aja.” Ucap Via sambil berusaha bangun.


“Biar aku bantu.” Danar segera meletakan kopinya untuk membantu Via duduk.


Disetelnya sandaran bed Via senyaman mungkin untuk Via duduk.


Wajah mereka berdekatan, Danar melirik sekilas wajah pucat Via. Via diam saja, tak menangkap raut Danar.


“Makasih.” Hanya itu yang diucapkan Via.


“Danar, ayok sarapan sekalian bareng.” Arya menawarkan pada Danar.


“Oh, iya Mas. Silakan, aku ngopi dulu.” Ucap Danar, lantas tak berapa lama ponselnya berbunyi. “Permisi, aku terima telpon dulu ya.” Danar keluar dengan membawa gelas kopinya.


Tia menggelar tikar plastik bergambar kartun di lantai agak jauh dari Via, lalu menyiapkan menu sarapan yang sudah dibawa Riri. Mareka pun mulai sarapan berempat dengan Ica. Maklumlah, namanya juga orang kampung ya, di klinik atau di rumah sakit pun nggak ketinggalan selalu bawa tikar dan makanan. Beruntung, Via dirawat di ruangan VIP klinik itu jadi tak ada pasien lain selain Via.


Sementara itu Bu Harni yang baru saja menyelesaikan administrasi dihampiri oleh seorang perawat yang memintanya untuk menemui dokter Burhan di ruangannya.


“Ada apa ya, Sus?” Tanya Bu Harni agak heran. “Apa dikira saya mau ngutang ya bayar perawatannya? Saya udah bayar lunas kok, Sus. Ini kwitansinya.” Bu Harni memperlihatkan bukti kwitansi pada suster.


Si Mbak suster hanya tersenyum. “Saya juga kurang tau, Bu. Sebaiknya mari saya antar saja ke ruangan dokter sekarang.” Mbak Sus mempersilakan, Bu harni nurut juga.


Tok tok tok


Setelah suster mengetuk pintu, terdengar suara dokter Burhan dari dalam.


“Masuk.”


Ceklek


Suster membukakakn pintu, dan segera menutupnya kembali dan meninggalkan Bu Harni di ruang dokter.


“Silakan duduk, Bu.” Ucap dokter Burhan sopan.


“Terima kasih, Dok. Maaf sebelumnya ada apa ya? Apa ada yang serius dengan anak saya Via, Dok?” Tanya Bu Harni cemas demi melihat raut wajah serius dokter Burhan yang ada di hadapannya.


“Iya, ini menyangkut Via.”


Deg!


Bu Harni jadi makin deg-degan. Ia sudah cukup mengenal dokter Burhan dengan baik, dan dokter Burhan bukanlah orang yang suka berbasa-basi.


“Kenapa dengan Via, dok?” Bu Harni makin penasaran, perasaannya makin tak karuan.

__ADS_1


“Setelah kami melakukan pemeriksaan lanjutan tadi pagi, kami sudah mendapatkan hasil bahwa tenyata Via …”


Dokter Burhan sengaja menggantung kalimatnya membuat Bu Harni makin gemas. Mugkin kalo dalam drama-drama india, wajah dokter Burhan sudah di-zoom out zoom in berulang-ulang sampe bkin yang nonton pingin ngelempar sandal melihatnya.


“Ternyata Via kenapa, Dok?” Kejar Bu Harni.


“Via positif hamil, Bu.”


Raut kekhawatiran wajah Bu Harni langsung berubah bahagia.


“Benarkah? Via hamil, Dok? Alhamdulilah….” Bu Harni mengucap syukur dengan praasaan haru.


Dokter Burhan mengangguk seraya tersenyum. Ia tahu Bu Harni sudah mendambakan cucu dari Via sekian lama. Seperti pada Bu Een, dokter Burhan pun mengenal Bu Harni cukup baik. Karena rasa-arasanya tak ada di kamapung itu orang yang tak dikenalnya. Sejak dokter Burhan ditugaskan pertama kali di puskesmas kecamatan, sampai sekarang sudah membuka klinik kesehatan yang cukup besar ia adalah dokter yang dikenal ramah dan selalu siap mebantu siapun pasiennya, dari kalangan mana pun. Maka tak heran dokter Burhan pun mengenal setiap pribadi orang-orang yang pernah berobat padanya. Karena ia selalu mengajak pasiennya ngobrol dan memberikan pelayanan terbaik.


“Terima kasih ya, Dok. Terima kasih atas kabar bahagia ini.” Ucap Bu Harni masih dengan perasaan bahagia campur harunya.


“Sama-sama, Bu. Hanya saja, usia kandungan Via kan masih muda jadi harus berhati-hati. Apalagi ini adalah kehamilan pertamanya.”


“Baik, Dok. Saya mengerti.”


“Dan untuk lebih detailnya mengenai keadaan kandungan Via, sebaiknya segera diperiksakan ke dokter kandungan. Namun sabtu ini tak ada praktek, hari senin Ibu bisa datang lagi kemari untuk menemui dokter kandungan.” Saran dokter Burhan.


“Iya, Dok. Terima kasih sekali lagi ya.”


Bu Harni keluar ruangan dokter dengan hati berbunga-bunga tak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia itu pada semua anggota keluarganya.


Ketika akan masuk ruang rawat Via, Bu Harni melihat Danar sedang bicara di telpon tak jauh dari teras kamar Via. Bu Harni memilih tak menegurnya karena Danar tampak serius.


Bu Harni segera masuk dan pasang tampang bahagia lahir batin.


“Ibu, ayok sarapan.” Tawar Tia pada Ibunya.


“Sarapannya nanti aja, ini ada hal yang lebih penting daripada sarapan.” Ucap Bu Harni yang membuat semua yang ada di ruangan itu saling pandang keheranan.


“Ada apa, Bu?” Tanya Riri.


Bu Harni mendekati Via.


“Vi, selamat ya. Kamu akhirnya hamil juga.” Ucap Bu Harni pada Via dengan wajah berbinar.


“Apa, Bu?” Via terlonjak kaget tak percaya dirinya hamil.


Tia dan juga yang lainya pun sama kagetnya, mereka sampai lupa kalo lagi makan. Mereka serentak mendekati Via untuk memeluknya dan memberikan selamat.


Semua keluarga tampak sangat bahagia dan bersyukur, penantian panjang Via akhirnya berbuah manis.


“Tapi kita jangan kasih tau siapa-siapa dulu ya, termasuk Mirza.” Instruksi Bu Harni.


“Lho, kenapa, Bu?” Riri heran.


“Nanti aja kalo Mirza udah dateng, buat kejutan.”


Semua anggta keluarga setuju. Bu Harni tak lupa menyampaikan pesan kalau hari senin nanti Via lebih baik periksa ke dokter kandungan agar tahu lebih lanjut tentang kondisi kehamilannya.


Ceklek


Pintu terbuka, perawat yang tadi muncul lagi.


“Maaf, biar saya periksa infusnya ya. Sepertinya sudah mau habis, Mbak Via nanti bisa pulang.”


“Iya, Sus. Saya juga udah pengen banget pulang.” Sahut Via bersemangat.


Suster tersenyum, lantas mempercepat jalannya tetesan cairan infus yang mengalir ke tubuh Via. Tak sampai dua menit, suster pun melepas jarum infus dari tangan Via.


“Terima kasih ya, Sus.”


Suster mengangguk ramah lantas keluar ruangan.


“Ayok lanjutanan sarapnnya, setelah itu kita segera berkemas untuk pulang.” Paritah Bu Harni.


Mereka pun kembali pada tikar plastik yang terhampar di lantai itu, Bu Harni ikut nimbrung di sana.


Sarapan pagi itu rasanya sarapan terlezat yang dinikmati Bu Harni. Betapa tidak, ia kali ini merasa lebih menang dari besannya dan si pelakor itu karena Vis sudah berhasil hamil dan pasti akan membuat Mirza makin mencintai Via.


____________


Naaah, Via akhirnya hamil tuh Kak.☺️❤️ Gimana…? Pada seneng kan?😂😂🤩


Kalo seneng jangan lupa kasih vote ya 😉😉 hehehe….🤭🤭


Maaf ya kak kalo banyak typo dan ada beberapa yang mungkin luput, soale author pingin banget up banyak episode nih sebenarnya hari ini, berusaha banget ngebut, tapi segini dulu deh. Sisanya masih on procces.😀😀


Eiiits, tapi jangan terlalu senang dulu Esmelarda…😂😂🤭🤭


Karena masih ada masalah yang harus dihadapi Via dan Mirza untuk menguji kesungguhan cinta mereka.❤️


❤️


Ikuti terus kelanjutannya ya Kak🤩🤩


Terima kasih sudah setia dukung Livia.🙏🙏🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Luv u all🤗🤗😘😘


__ADS_2