TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
142 #KETAHUAN DEH


__ADS_3

Selesai berpakaian Ramzi segera menemui Tuan Alatas yang sudah menunggunya sedari tadi di ruang kerjanya.


“Maaf, menunggu lama.” Ucap Ramzi langsung duduk di hadapan ayahnya.


“Simpan basa-basimu.” Tuan Alatas mengulas senyum sinis.


“Ada apa Papa memanggilku?”


Tuan Alatas menghela nafas berat, dipandanginya putra semata wayangnya yang akan menjadi penerus semua kerajaan bisnisnya itu. Ia masih menimbang apa akan mengatakan semuanya itu pada Ramzi sekarang ataukah merahasiakan terlebih dahulu.


“Ram, berhati-hatilah dengan istrimu.” Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Tuan Alatas.


“Papa memanggilku hanya untuk itu?” Dengus Ramzi tak habis pikir. “Papa sudah mengatakannya ratusan kali.”


“Dan Papa akan terus mengatakannya …”


“Pa, sudahlah.” Potong Ramzi dengan raut kesal. “Sofi itu tak seburuk yang Papa kira. Dia mungkin salah di masa lalu, tapi sikapnya yang sekarang menunjukkan bagaimana dia sangat menyesali semua itu.” Papar Ramzi seperti biasanya selalu membela istrinya.


Dasar keras kepala! Jika aku beberkan kelakuan istrimu selama ini dibelakangmu, kau mungkin baru akan percaya. Namun aku tak yakin kau yang begitu lemah bisa memainkan peranmu dengan sempurna jika ku beri tugas berpura-pura menjadi suami yang baik setelah mengetahui siapa istrimu yang sebenarnya.


“Apa Papa nggak punya kerjaan lain di akhir pekan selain menggangu urusan pribadiku?” Sinis Ramzi menghentikan monolog dalam hati Tuan Alatas.


Tuan Alatas hanya menggedikkan bahu acuh, kemudian keluar ruangan kerja Ramzi tanpa kata. Ramzi menatap kepergian ayahnya heran, benar-benar tak ada bosannya ayahnya itu selalu saja mengatakan hal buruk tentang istrinya.


“Awasi semua gerak gerik wanita itu.” Perintah Tuan Alatas pada kepala Pelayan.


Setelah beberapa lama menunggu dan dirasa ayah mertuanya mungkin sudah keluar dari ruang kerja suaminya, Sofi segera menyusul Ramzi. Begitu juga dengan Ramzi, ia yang sudah tak sabar menunggu berniat akan ke kamar saja. Keduanya bertemu tepat ketika Ramzi akan membuka pintu ruang kerjanya dan Sofi akan mengetuk pintunya.


“Apa papamu sudah pergi?” Tanya Sofi.


Ramzi mengangguk. “Masuklah.” Pintanya seraya sedikit menarik tangan Sofi dan langsung memburu bibir ranum istrinya.


“Ayo kita lakukan di dalam.” Bisik Sofi begitu lepas dari serangan mendadak suamnya itu.


“Kita warming up dulu disini, sayangku.”


“Tak perlu, Kak. Aku ingin kita segera ke dalam.”


“Hemm, kau sudah tak sabar rupanya.” Ramzi segera membopong istrinya masuk ke ruang pribadinya.


TIIIIIT….! SENSOR ….!


Setelah pergumulan dahsyat di pagi menjelang sing itu, Ramzi terkulai dengan nafas lemah.


“Kau hebat.” Bisik Sofi di telinga Ramzi.


Ramzi tersenyum mendengar pujian itu, tentu saja dia bangga karena bisa membuat istrinya melambung ke awang-awang. Perlahan matanya mulai mengatup. Sofi memainkan semak belukar yang memenuhi dada Ramzi dengan jemarinya membuat Ramzi semakin hanyut dalam ketidakberdayaan. Setelah dirasa suaminya itu pulas, Sofi segera mengenakan kembali pakaiannya dan bergegas menuju lemari tempat menyimpan semua berkas dan surat-surat berharga Ramzi yang sudah lama diincarnya.


Tak ada yang mencurigakan, semua letak dan posisi kuncinya masih sama. Dengan sangat hati-hati dan tak menimbulkan suara, Sofi yang genius dalam hal tipu muslihat berhasil membuka lemari itu setelah memutar anak kuncinya dengan seklai tekan.


JENGJENG!


Lemarinya kosong sodara-sodara. Sofi kaget bukan kepalang, kedaannya sungguh di luar perkiraan.


“Kemana perginya semua berkas dan surat-surat penting itu?” Gumam Sofi gusar.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Menjelang sore setelah puas di rumah Via seharian, Yana pamit pulang. Dia bahkan tak merasa kepikiran sama sekali dengan semua makanan yang didapatkan dari pengirim rahasia yang hampir dihabiskannya tadi pagi. Berbeda dengan Via yang merasa janggal dan aneh.


Via masuk kamar dan meraih ponselnya, ternyata banyak sekali pesan masuk dan ada beberapa panggilan juga dari Riri dan ibunya.


“Ada apa ibu sama Riri sampe nelpon berkali-kali ya?” Via bertanya pada dirinya sendiri, namun setelah ia memeriksa pesan ternyata tak ada satu pun pesan masuk dari Riri ataupun ibunya.


Beberapa pesan masuk dari Denaya, Om Jaka, Danar dan yang paling atas dari suaminya, Mirza. Ah, rupanya ponselnya masih dalam mode silent bekas semalam, Via lupa mengubahnya karena seharian ini asyik dengan Yana.


Via membaca satu per satu pesan itu. Denaya dan Om Jaka sama-sama mengabarkan kalau mereka akan mampir sore nanti sepulang dari toko matrial mereka yang di kota. Danar menanyakan soal kiriman makanan tadi pagi.


Deg!


“Ternyata benar dia yang ngirim semua makanan itu.” Gumam Via. “Ngapain sih nih orang? Nggak! Nggak bisa dibiarin.” Via resah sendiri karena mendadak ada sesuatu hal aneh yang menelusup masuk ke dalam celah hatinya, namun begitu dia urung untuk membalas pesan Danar karena keburu penasaran dengan isi pesan dari suaminya.


Mirza


Sayang, istri Mas yang paling cantik dan baik lagi ngapain? Mas lagi agak kurang enak badan nih. Seandainya disini ada kamu, Mas mau pelukin kamu biar merasa hangat dan nyaman. Big luv and kisses 🤗🤗😘😘


Via senyum-senyum sendiri membaca pesan dari suaminya yang dikirimkan sekitar satu jam yang lalu itu. Dengan perasaan berbunga, Via segera mengetik pesan balasan untuk suaminya.


Via


Maaf ya Mas Mirzaku sayang, baru bales nih. Semalam Yana nginep disini jadi aku asyik sama dia sampe nggak tau ada pesan masuk. Mas sakit apa? Udah minum obat belum? Cepet sembuh ya suamiku sayang, jaga kesehatan. Luv U full ❤️❤️🤗🤗😘😘


Send!


Via girang sendiri setelah mengirim pesan balesan itu yang meski hanya tanda ceklis satu tapi tak apa, Via pikir suaminya mungkin sedang istirahat dan nanti juga pasti membaca pesannya.


Waktu ashar hampir tiba, Via segera masuk ke kamar mandi karena Denaya dan Om Jaka akan datang. Namun di kamar mandi pikirannya kembali terusik dengan isi pesan Danar.


Bisa-bisanya laki-laki itu semakin memberinya perhatian seperti itu. Via merasa sikap Danar itu terlalu belebihan jika hanya untuk seorang teman. Bukannya tak sadar, dari sejak pertemuan pertama mereka dan pertemuan-pertemuan selanjutnya setelah itu Via memang merasa ada sikap Danar yang mengganjal dalam hatinya. Namun Via tentu saja tak mau ge er atau menyimpulkan sendiri jika Danar menaruh hati padanya. Meskipun nyatanya belakangan sikap itu bisa terbaca oleh Denaya.


Sekuat kemampuannya sedari awal memang Via berusaha menepis semua itu dan menghindar dari laki-laki yang mempunyai tampang dan senyum menawan itu. Ia sangat sadar diri statusnya sebai seorang istri, namun sepertinya Tuhan selalu menguji kesetiannya dengan terus-menerus mendekatkan Danar padanya diberbagai kesempatan.


Via segera menyambar ponselnya setelah keluar dari kamar mandi, dengan masih berbalut jubah mandi dan perasaan yang campur aduk Via mengetik pesan untuk Danar.


Via


Danar, makasih ya untuk semua perhatian kamu. Tapi kamu sungguh nggak perlu melakukan semua itu, aku rasa kamu terlalu berlebihan. Aku nggak mau hubungan pertemanan kita jadi nggak nyaman nantinya. Terlebih lagi kita sekarang partner kerja. Tolong jangan membuat posisiku tersudut karena mungkin kebaikanmu akan menimbulkan salah paham buat sebagian orang. Terima kasih.


Send!


Via menghela napas lega. Semoga perkataannya tak menyinggung, ya meskipun sangat tegas dan terang-terangan banget sih. Tapi via merasa sikapnya itu sudah benar. Via meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerjanya kemudian kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, karena terlalu kepikiran soal Danar ia sampai lupa bewudhu. Kumandang adzan ashar terdengar saup-sayup dari mushola di depan komplek perumahannya, Via lekas menunaikan empat rakaatnya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Mirza baru saja masuk kamar setelah selesai bekerja. Tubuhnya yang letih ia hempaskan di kasur single miliknya.


“Udah minum obat belum lo?” Tanya Miko teman satu kamar Mirza.


“Udah.”


“Beneran? Awas aja kalo sampe sakit, gue nggak mau nge-sift sendirian besok!” Miko menceramahi Mirza. “Kan nggak lucu kalo kita petugas kesehatannya malah sakit?”


“Iya, iya! Cerewet banget sih kamu!” Mirza sebel juga. Pelayarannya kali ini ia satu kamar dengan Miko, laki-laki jomblo cerewet lulusan sekolah keperawatan tenama di Jakarta. Dia sebenarnya orangnya baik, hanya saja sedikit berisik sebagai seorang laki-laki.


“Nih, handuk elo! Mandi sana, biar seger!” Miko melemparkan handuk ke muka Mirza.

__ADS_1


“Ck, nanti ah. Kamu aja duluan sana!” Mirza berdecak kesal.


“Ogah! Gue mau nge-gym bentar lagi. Elo mau ikut nggak?”


“Males!” Mirza membalikkan badannya menelungkup memeluk handuknya.


Fasilitas di Delta Cruise memang sangat lengkap, tersedia juga arena olah raga dan game center untuk para crew yang bisa dimanfaatkan di waktu senggang mereka. Mirza pun biasanya pergi ke sana bersma Miko dan beberapa temannya, hanya saja kali ini badannya benar-benar sedang tak bisa diajak kompromi. Selain itu hatinya juga merasa tiba-tiba terserang gundah gulana.


Grek.. grekk…


“Eh, mau ngapai kamu?” Mirza spontan melihat ke arah Miko yang sedang membuka jendela kamar. “Jangan dibuka jendelanya. Dingin tau!”


“Biar seger, Za!”


“Kamu mau aku masuk angin? Udah tau aku lagi nggak enak badan malah buka jendela malam-malam!” Omel Mirza.


“Huh! Elo letoy banget sih jadi orang, masa kena angin malem aja masuk angin?”


PLUK!


Mirza melemparkan handuknya tepat ke wajah Miko.


“Berisik! Sana pergi kalo mau nge-gym. Aku mau istirahat, jangan lupa tutup lagi tuh jendelanya.”


Dengan wajah kesal Miko menutup kembali jendela kamar mereka.


“Oke, gue pergi. Tapi elo jangan lupa mandi terus minum obat lagi. Awas aja kalo besok pagi elo masih ngeluh nggak enak badan, gue aduin ke dokter Steve biar elo dipulangin, rasain!”


“Jiah, aku malah seneng kalo disuruh pulang. Soalnya udah kangen banget sama istri aku ….” Mirza malah tersenyum lebar seraya memeluk guling disampingnya membuat Miko mecibir keki.


“Elo mau pulang naik apaan di tengah lautan begini? Mau nyewa jasa ikan pesut?”


“Terserah aku lah, yang penting bisa ketemu istriku dan melukin dia sepuasnya.”


Miko pasang tampang kesal.


“Haha…. Nggak usah ngiri gitu bro! Makanya nikah, punya bini! Biar ada yang dikangenin. Seru tau kalo pulang bisa kangen-kangenan, peluk-peluk, cuim-cium, dan anu-anu sepuasnya.” Mirza malah makin manas-manasin Miko.


Miko bertambah kesal, ia tak menjawab dan memilih segera keluar dari kamar.


BLAM …!


Miko membanting pintu kesal membuat Mirza menyeringai puas berhasil mengerjai roommate-nya itu. sesaat kemudian ia ingat dengan ponselnya. Segara Mirza merogoh sakunya.


Mirza tersenyum mendapati satu notifikasi pesan masuk dar istrinya. Dengan mengulas senyum manis di wajahnya Mirza pun membuka dan membaca pesan dari Via itu. Pesan pertama membuat matanya berbinar karena perhatian istrinya. Namun beberapa detik kemudian, senyumnya meghilang. Wajahnya tegang dan gemuruh di dadanya nyata ia rasakan. Mirza baca sekali pesan kedua dari istrinya itu, isinya masih tetap sama. Dengan mengumpulkan segenap kesbarannya, Mirza mengetik pesan balasan untuk istrinya.


Mirza


Sayang, apa kamu salah mengirim pesan?


❤️❤️❤️❤️❤️


Hayoooo….. katahuan deh …. 😂😂


apakah yang akan terjadi kemudian sodara-sodara?😁😁😁


Nantikan kelanjutannya ya ….😍😍

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca dan selalu setia dukung othor🙏🙏🙏🌹🌹🌹


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2