
Hari belum terlalu siang, Sofi baru saja menyelesaikan sarapan paginya.
“Sarapan yang kesiangan lagi?” Tuan Husein muncul di ruang makan, sejak Sofi tinggal di rumahnya ia memperhatikan pola makan anak perempuanya itu yang kurang teratur.
“Kalo pagi aku belum nafsu makan, Pa. soalnya masih suka mual.”
Tuan Alatas hanya tersenyum. “Jaga kandunganmu ya.”
“Maksaih Pa. Papa perhatian banget sama calon cucu Papa ini.” Sofi mengelus perutnya.
“Sofia, temani Mama belanja ya?” Nyonya Husein menghampiri dengan tas cangklong di tangannya.
Sofi menatap ibunya yang sudah rapi. “Mama berangkat sama sopir aja ya, aku mau pulang ke rumah bentar lagi.”
“Kamu udah mau pulang? Tinggallah sebentar lagi disini, jangan buru-buru pulang.” Nyonya Husein seolah tak mau membiarkan Sofi pergi.
“Ma, memang sebaiknya dia berada di rumah suaminya kan? Lagipula tak baik meninggalkan suami terlalu lama.” Tuan Husein mengingatkan istrinya. “Apa Ramzi sudah kembali dari luar kota, Sofia?” Tanya Tuan Husein.
“Udah, Pa.” Sahut Sofi agak ragu karena sebenarnya dia juga nggak tau dimana suaminya.
“Ya sudah, cepatlah bersiap mumpung belum terlalu siang.” Titah tuan Husein yang langsung diagguki Sofi.
Sofi menuju kamar mengambil tasnya lalu berpamitan. Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan normal, benaknya penuh tanya mengapa suaminya tak menghubunginya sama sekali? Mendadak ia didera perasaan khawatir dan takut, bagaimana jika Ramzi sudah termakan hasutan mertuanya? Benar kata Azad, harusnya dia tak membiarkan permasalah ini terlalu lama dan cepat kembali ke rumah. Ahh, tapi dia kekeh tak mau menyerahkan semua surat-surat perusahaan Ramzi.
SREEET….
Sofi menghentikan mobilnya d tepi jalan. Bukan waktu yang tepat untuk menyesal, namun ia sungguh bingung bagaimana menghadapi suaminya nanti? Sofi mereka-reka sendiri apakah gerangan yang akan ia lakukan dan katakan kelak jika bertemu dengan Ramzi. Apa mungkin dia kan langsung sosor saja suaminya itu? Sofi termenung di dalam mobilnya.
“Aah, bisa jadi begitu. Si brewok itu kan bucin parah sama aku. Pasti dia bahagia banget kalo aku langsung nyosor.” Gumam Sofi mengulas senyum kecil. Namun seditik kemudian senyumnya musnah berganti dengan raut khawatir. “Iya kalo dia mau, kalo nalak gimana? Malu dong aku!”
Beberapa berkutat dengan pikirannya sendiri Sofi kemudian dikagetkan dengan ketukan di kaca jendela moblnya.
Tok .. tok .. tok ….
Sofi menoleh, ia terkejut mendapati seorang ibu-ibu berpakain lesu dan bertampang kumal dengan menggendong seorang bocah mengulurkan tangan ke arahnya.
“Kiran setan, ngagetan aja!” Rutuk Sofi kesal.
Si ibu itu masih setia menadahka tangannya dengan tampang memelas, walau ia tak dapat meihat Sofi dari luar kaca jendela namun wajahnya seolah yakin banget si empunya mobil bakal kasihan padanya. Sofi pun membuka dompetnya, dicarinya uang pecahan terkecil namun ia tak menemukannya. Maklum lah ya, doi kan istrinya sultan, wkwkwkkk..
To tok tok …
Si ibu mengetuk lagi kaca jendela mobil Sofi, kali ini agak keras. Bocah dalam gendongannya yang sedari tadi wajahnya nyungsep di ketek ibunya itu sampe terjingkat kaget karena ketukan yang dibuat ibunya sendiri. Wajah bocah kecil yang mungkin usianya hanya setahun lebih saja itu ikut memeperhatikan kaca jendela mobil yang nampak hitam dari luar. Wajahnya sama kumalnya dengan sang ibu, ia merigis kepanasan.
“Ya ampun, uang recehan kalo dibutuhin nggak ada. Pas nggak dibutuhin pada nongol!” Sofi masih berkutat dengan dopetnya. Akhirnya dia merih satu lembar, itu diangggap paling kecil.
Sesaat Sofi terenyuh melihat tampang si bocah dekil yang wajahnya masih meringis tersengat matahari itu. perlahan Sofi menurnkan kaca jendela mobilnya hingga hampirsetengahnya lalu memberikan uang pecahan 75 ribuan.
Sang ibu pengemis langsung tersenyum lebar menerimanya.
“Terima kasih Bu, terima kasih banyak.” Ucapnya dengan suka cita. Namun sejurus kemudian raut wajahnya berubah, ia membolak-balikan lembar uang itu sperti bingung. “Bu, ini uang asli kan?” Tanyanya polos.
NGOEK!
Sofi kaget dengan pertanyaan si ibu. “Ya asli lah, Bu!” Sahutnya agak sebal.
“Soalnya saya baru liat uang seperti ini, Bu. Saya takut uang palsu.” Si ibu pengemis itu masih memandangi uang di tangannya, lalu tersenyum melihat hologram yang berkilat-kilat di pojok permukaan uang dalam genggamannya.
Sofi sampe geleng-geleng melihat kelakuan si ibu itu. dasar udik! Batin Sofi kemudian menutup kembali kaca jendelanya, si ibu pengemis itu pun pergi dengan wajah sumringah.
Diam-diam Sofi memperhatikan si ibu pengemis dengan bocah dalam gendongannya itu. sofi membuka kembali kaca jendelanya sedikit, Si ibu menyeberang jalan dan tampak mengobrol dengan sang anak di dalam gendongan sambil berjalan. Tak tau apa yang mereka bicarakan, namun cukup membuat hati Sofi tercubit.
Ya Tuhan…., apa nasibku akan seperti itu kalo aku beneran didepak sama si tua bangka Alatas dari rumah Kak Ram? Batin Sofi bergemuruh seraya menatap sendu pada ibu dan anak yang sudah menjauh dan menghilang di tikungan jalan.
“Ahh! Apa-apan sih, kenapa jadi cengeng begini aku!” Sofi tersentak sendiri dari benaknya yang mendadak melo. “Nggak! Aku nggak boleh kalah sama si tua bangka Alatas bau tanah itu! semuanya akan menjadi milikku!” Sofi menutup jendela dan segera melajukan mobilnya kembali.
Ia mulai masuk pusat kota, jalanan ramai karena sudah masuk jam makan siang. Sofi berubah pikiran, ia akan ke kantor saja karena suaminya pasti di kantor. Sofi berencana mengajaknya makan siang.
__ADS_1
“Pasti si brewok itu seneng banget dapet kejutan.” Sofi merapikan diri sebentar sebelum turun dari mobilnya. Lantas dengan langkah percaya diri ia masuk dan langsung menuju lantai di mana saminya berpada.
“Selamat siang Nyonya Sofia.” Sapa mbak receptionist yang manis kinyis-kinyis berdiri menyambut Sofi.
Sofi tersenyum jumawa. “Apa suamiku belum keluar makan siang?”
Mbak receptionist yang mnais kinyis-kinyis itu tampak bingung dengan ertanyaan sang nyonya bos, namun sayangnya Sofi tak menyadainya.
“Katakan padanya, ada tamu penting yang ingin bertemu.” Lanjut Sofi udah kadung sangat percaya diri ingin membuat kejutan untuk Ramzi.
Mbak receptionist yang manis kinyis-kinyis itu pun semakin menampakkan raut bingungnya, bahkan Mbak receptionis di sampinya yang alisnya tajam menukik kayak prostan anak TK yang sedari tadi sibuk menulis ikut melihat pada sang nyonya bos dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?” Kesal Sofi.
“Ma-af Nyonya. Tapi Tuan Ram sedang tak di kantor.” Sahut Mbak receptionist yang manis kinyis-kinyis itu gak terbata.
“Dia sudah keluar makan siang, begitu?” Sofi memastikan.
“Tuan Ram sudah hampir dua minggu tak masuk kerja.”
DOENG!
ZONK!
Bagai dikeroyonk gerombolan semut api rasanya Sofi mendengarnya. 2 minggu tak ke kanttor dan tak menghubunginya sama seklai sebenarnya kemana bang brewok itu perginya?
Sofi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ia ingin marah saking kesalnya namun dua orang wanita muda di depannya itu sudah pasti yak layak mendapatkan amukannya karena mereka juga bilang tak tau di mana Bang Brewok berada.
Tanpa sofi sadari, seseorang yang baru saja keluar dari lift memperhatikannya dari kejauhan. Ia menyeringai melihat Sofi yang tampak sedanh mengusai batinnya. Segera rang itu mngeluarkan gawainya untuk menelpon.
“Gerald.” Katanya dengan nada datar. “Si jal*ng itu pasti sebentar lagi akan ke rumah. Lakukan semuanya sesuai rencana.” Sang penelon yang tak lain adalah Tuan Alatas menakhiri perakapan.
Sofi dengan langkah sedikit limbung akhirnya memilih kleuar. Disandakannya tubuhnya pada jok mobil mewahnya, cukup lama ia berdiam diri disana. Alu setelah kekuatannya dirasa pulih ia keluar parkiran dan menuju istana megah suaminya.
Tak ada yang aneh di rumah mewah itu, semua pelayan menyambutnya hormat seperti biasa. Sampai kemudian ia akan menaiki anak tangga menuju kamarnya, a melihat seorang perempuan yang begitu sangat dikenalnya meskipun hanya melihatnya dari belakang.
“Bukankah dia Jane?” Pandangan Sofi tertuju pada Jane ynag berjalan dengan Rinara pelayan yang biasa melayani keperluan pribadinya. Sofi segera memutar langkahnya. “Hey, tunggu!” panggil Sofi dengan nada marah.
“Rinara! Ada apa ini? Kenapa kamu bersama dia?” Sofi mengacuhkan sapaan Jane menatap tajam pada sang pelayan.
Rinara hanya menunduk, diam seribu bahasa.
“Heh, jawab aku!” Sofi mengguncangkan bahu Rinara.
“Jangan bertanya padanya, dia hanya melakukan tugasnya.” Ucap Jane.
“Diam kamu! Aku nggak ngomong sama kamu!” Hardik Sofi jengkel. “Lagipula kenapa kamu ada di rumahku? Apa kamu juga sudah alih profesi jadi pelayan disini? Sengit Sofi dengan pandangan sinis.
Jane hanya tersenyum tipis, Gerald sang kepala pelayang mengawasi dari kejauhan. Huru hara bakal segera dimulai. Pastinya ini pertunjukkan yang sangat seru.
“Kenapa diam? Apa yang kamu kerjakan disini, hah?” Teriak Sofi lagi.
“Katanya aku suruh diam, Nyonya. Kenapa Anda tiba-tiba menyuruhku bicara?” Sahut Jane polos.
“Dasar kamu wanita tak tau malu!” Sofi melayngkan tangannya, dan sebelum teapak tangan itu mendarat di pipi mulus Jane Geraral segera melesat untuk mencegahnya. Sudah bak super hero saja si Grald itu, mirip the Flash!
“Saya mohon, jangan membuat keributan Nyonya.” Ujar Gerald dengan sopan namun matanya menyiratkan ketegasan membuat Sofi semakin geram.
“Kau jangan ikut campur!” Sofi menyentakkan tangannya lepas dari pegangan Gerald. “Aku tanya sama kamu, kenapa wanita tak tau malu ini bisa berada di sini? “
“Seperti yang Anda katakana Nyonya, dia sekarang menjadi pelayan disini.” Awab Gerald tenang.
“Kamu becanda?” Sofi mengernyit dan melihat Jane dengan sins. “Kalo gitu kenapa dia nggak pake pakaian pelayang seerti yang lainnya?”
“Karena dia khusus melayani Tuan Ram.”
JRENG!!
__ADS_1
“Apa?” Kedua mata indah bak bola pingpong Sofi membelalak sempurna. “ Ap-apa maksudmu melayani cerara khusus?” Sofi agak terbata hampir kelu lidahnya kaget bukan kepalang. “Maksudmu Kak …Ram ada disini?”
Gerald mengangguk. “Tuan Ram sedang beristirahat, mohon Nyonya jangan mengganggunya.”
“Nggak bisa, aku harus menemuainya sekarang!” Sofi berjalan cepat meniaki tangga menuju kamarnya.
TOWEWEW!!
Kamar tidur nan luas mewah harum mewangi itu kosong, Sofi tak menemukan sosok Bang Brewok yang dicarinya. penasaran, Sofi menuju balkon. Nihil! Sofi beralih ke kamar mandi, dipikirnya sang suami lagi berendam ataupun ngenge* kali yaak🤭
*Gerald! Di mana Kak Ram? Kenapa dia tak ada di kamar?" Sofi menuruni tangga dengan tergesa sementara sang kepala pelayan masih berdiri di tempat semula, seperti sengaja menunggu sang Nyonya kembali untuk bertanya padanya. Sedangkan Jane dan Rinara sudah pergi sedari tadi.
"Maaf Nyonya, Tuan Ram ada di kamar pribadinya." Sahut Gerald sopan.
"Apa maksudmu? Kenapa tadi kamu nggak bilang?" Sofi sangat jengkel.
"Nyonya tak menanyakannya pada saya." Gerald menunduk.
Dengan wajah menahan marah, Sofi pun melangkah cepat menuju lift bermaksud naik ke lantai 4 dimana suaminya berada. Namun sekali lagi, dengan cepat Gerald melesat menghalangi. Tubuh tinggi besarnya sudah berdiri lebih dulu di depan pintu lift dan mencegah Sofi menekan tombol.
"Gerald! Ngapain kamu? Minggir!" Geram Sofi.
"Maaf Nyonya, Anda dilarang menemui Tuan Ram."
"Apa maksudmu? siapa yang berani melarangku? Minggir kataku!" Sofi berusaha menyingkirkan tubuh Gerald dari hadapannya namun sia -sis. Jangankan menyingkir, bergeser pun tidak.
"Saya hanya menjalankan perintah Tuan Besar." Ucap Geradl dingin.
"Oh, jafi Tuanmu si tua bangka itu yang memerintahmu untuk menghalingiku bertemu dengan suamiku sendiri?" Sinis Sofi dengan amarah hampir membuncah.
"Nyonya, saya mohon jaga sikap Anda."
"Aku nggak peduli! Menyingkir kau Geradl!" Sofi mendorong sekuat tenaga tubuh Gerald. Namun ia tak bergeming sama sekali. "Kak Ram! Keluar, aku mencarimu! Kak Ram .... ku mohon keluarlah temui aku...!!" Teriak Sofi dengan suara memenuhi seisi ruangan.
Sofi menatap nyalang, Gerald si kepala pelayan tetap dengan wajah datarnya membuat emosi Sofi tak dapat lagi di bendung. Ia meraih apa saja di dekatnya dan berusaha melemparkannya pada sang kepala pelayan itu menumpahkan amarahnya.
RRANG....!
PRANG....!
BRUUK...!!
Bunyi benda pecah dan berjatuhan membuat beberapa pelayan mengintip kepo. Gerald dengan memberi kode pada seorang pelayan laki-laki.
"Dengar! Aku bakal hancurin isi rumah ini kalo kamu nggak memberiku jalan!" Sofi memegang guci keramik yang berukuran cukup besar dan mengangkatnya.
"Jangan lakukan itu, Nyonya." Gerald berusaha menenangkan masih dengan wajah datar.
"Makanya menyingkir ku bilang!" Diangkatnya guci itu lebih tinggi namun bekum sempat Sofi menjatuhkannya ke lantai dua security datang meraih tangannya.
"Bawa keluar!" Perintah Geral.
"Gerald, beraninya kau! Awas saja aku akan membalasmu!!" Teriak Sofi meronta-ronta. "Kak Ram.... dengar aku! Turunlah Kak..... temui aku, huhuhu..... Temui aku demi anakmu, huhuhu....." Sofi terus berteriak-teriak kali ini sambil menangis.
kedua security itu dengan terpaksa menyeret sang nyonya keluar walau dengan sangat susah payah.
"Beraninya kalian menyentuhku!" Sofi menatap dua security itu begitu ia dilepaskan di halaman. "Lihat saja aku akan pecat kalian semua!!"
Sofi berjalan cepat menuju mobilnya dengan amarah masih memenuhi dadanya. Ia menyeka kasar sisa air matanya dan masuk mobil membanting pintu mobil eengan sangat keras. Tak lama ia pun pergi dengan harga diri yang bagai telah dikuliti mentah-mentah.
Tanpa Sofi tau, Ramzi sempat menyaksikan kepergiannya dari balik jendela kamarnya di lantai 4. Hati Ramzi remuk redam, ia sungguh tak rela membiarkan istrinya pergi namun juga tak sudi menerimanya kembali.
"Ram, sudah waktunya makan siang." Suara lembut Jane mengalihkan perhatian Ramzi. "Aku suapin ya."
❤️❤️❤️❤️❤️
Eaaaa..... bentar lagi ada yang mau jadi Nyonya Ramzi baru nih kayaknya 😂😂
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏 jangan lupa like dan komen ya Kak.🤩🤩🤩 maaf kalau ada typo 🙏🙏😊😊nanti othor edit ...sekarang lagi buru-buru 😁😁😁
love you all 🤗🤗🤗😘😘😘