TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
208 #MENGINAP DI RUMAH IBU MERTUA


__ADS_3

Mirza terdiam, raut wajahnya sangat serius. Sepertinya Bu Een di seberang tengah mengatakan hal yang serius pula, Om Jaka sampe penasaran dibuatnya.


“Za, kenapa emak lu?” Om Jaka menggoyangkan lengan Mirza dengan gerakan bibir minim suara, takut kedengeran Mbakyunya kali. “Za …?” Ulang Om Jaka tak dapat menahan rasa keponya.


“Iya, Bu. aku segera kesana. Tunggu ya Bu.” Mirza memutuskan sambungan.


“Apaan sih, Za? Bikin gue penasaran aja lu?” Dengus Om Jaka demi melihat raut wajah Mirza yang berubah cemas.


“Aku harus cepet-cepet ke rumah ibu Om, tangan ibu kesiram air panas. Ibu lagi kesakitan sekarang.” Ungkap Mirza penuh kekhawatiran.


“Kesiram air panas? Kok bisa? Emak elu lagi nyobain ilmu apa gimana? Ada-ada aja deh!” Om Jaka tak habis pikir.


“Ya makanya aku mau kesana, mau liat keadaan ibu.”


“Gue rasa sih itu akal-akalan emak elu aja kali, Za. Kayaknya dia tau deh elu sama Via lagi di rumah gue, makanya emak elu sok drama pake kesiram air panas segala!” Tebak Om Jaka.


“Siapa yang kesiram air panas, Beb?” Tanya Denaya agak kaget, ia muncul bersama Via dari belakang.


“Ntu emaknya si Miza.”


“Ibu, Mas?” Tatapan Via meminta penjelasan pada Mirza.


“Iya, Sayang. Barusan ibu telpon katanya tangan kanannya kesiram air panas. Mas mau ke rumah ibu sekarang, kamu …”


“Aku ikut Mas.” Potong Via sebelum Mirza melajutkan kalimatnya. “Sebentar aku ambil tas dulu.” Via segera menuju kamar Denaya untuk mengambil tasnya di sana.


“Moga-moga kalian nggak kena prank ya?” Seloroh Om Jaka.


“Bebeb!” Denaya melotot pada Om Jaka.


“Ayok, Mas!” Via muncul dengan tergesa. “Dena, Om Jaka, kami pamit ya. makasih dan maaf udah ngrepotin.”


Denaya hanya mengangguk, ia mengerti kekhawatiran Via. Meski Via kerap mendapatkan perlakuan yang tak menyengkan dari ibu mertuanya, namun ia tetap tak mau mengabaikan sisi kemanusiaannya. Denaya dan Om Jaka melepas kepergian Mirza dan Via dengan harapan moga nggak ada yang terlalu serius dengan keadaan Bu Een.


“Apa Mbakyu tau ya kalo mereka lagi disini, Han? Padahal kan tadi aku sama Mirza nggak lewat depan rumahnya si Mbakyu waktu mau kendurian.” Om Jaka masih dengan keheranannya.


“Ya ampun, Beb!” Pekik Denaya tiba-tiba.


“Kenapa Han?” Om Jaka sampe ikutan kaget.


“Nasi kendurinya Via ketinggalan tuh!” Denaya menunjuk nasi kenduri yang masih tersisa satu di meja makan.


“Ya udah biarin aja, besok pagi buat makan ayam.”


“Ih, nggak bisa. Sayang Beb! Cepetan susulin ke Via sekarang!”


“Mereka pasti udah jauh Hani Bani Switi…., udah ah biarin aja. Lagian tadi juga Via udah makan kan? Itu Cuma sisaan, biarin aja lah!”


Denaya melipat kedua tangan di dada, netra menyorot tajam dengan raut tegas, membuat Om Jaka seketika melunak. “Iya deh iya…., aku susulin. Tapi ntar habis shalat isya ya, udah adzan Han.”


“Hem.”


“Jangan melotot lagi dong, serem tau!” Om Jaka mencolek pipi Denaya.


“Habis Bebeb nggak pengertian banget sih. Tau kan kalo wanita hamil suka laper tengah malem. Kasian Via kalo di rumahnya nggak ada stok makanan.” Denaya masih pasang tampang sebal.


“Iya Hani, nanti aku anterin ke rumah Mbakyu. Tapi aku mau shalat dulu ya, biar kuat menghadapi kenyataan.”


“Kenayataan pahit diomelin Mbakyu maksudnya?”


“Iya, hehe ….” Om Jaka nyengir. “Tau sendiri kan Mbkayuku itu ajaib banget, bawaannya pingin nyap-nyap mulu tiap ngeliat tampang ganteng suamimu ini.”


Denaya hanya mendengus, pasrah dengan kenarsisian suaminya. Lantas mereka berdua segera ambil air wudhu untuk shalat isya berjamaah, sementara Via dan Mirza sudah hampir sampai di rumah Bu Een. Mobil Mirza berhenti tepat di bawah pohon jambu air.


“Kok gelap sih, Mas?” Tanya Via begitu mereka turun dari mobil.


“Mungkin ibu lupa nyalain lampu depan, Sayang.” Mirza kemudian mengetuk pintu. Beberapa saat Bu Een tak kunjung membukakan pintu dan hanya terdengar sahutan lemah dari dalam, Mirza segera membuka pintu depan yang ternyata tak dikunci dan meraba saklar lampu untuk menyalakan lampu teras.


“Za, akhirnya kamu datang juga.” Ucap Bu Een dengan seutas senyum mendapati sang anak kesayangannya datang menemuinya, namun senyumnya segera redup manakala menangkap sosok Via yang muncul di belakang Mirza. “Kenapa kamu bawa istri kamu segala?” Pandangan Bu Een terang-terangan mengarah tak suka pada Via.


“Aku tadi emang lagi sama Via Bu di rumahnya Om Jaka.” Mirza jujur banget.


“Di rumah Jaka?” Bu Een setengah nggak percaya. “Pantesan cepet banget datengnya. Ada urusan apa kamu nemuin Om kamu yang tak tau diri itu?” Kicau Bu Een dengan bibir menceng kiri menceng kanan selalu tak suka jika harus menyebut nama Om Jaka. Heran, padahal Om Jaka adiknya sendiri lho. Adik kandung, pula!


“Nanti aja ceritanya, sekarang gimana keadaan ibu? Mana yang sakit? Katanya kena air panas?” Mirza menarik kursi di sebelah ibunya.


Bu Een yang tengah duduk di ruang makan mengulurkan tanagn kanan dan kaki kanannya juga, tak lupa menyetel wajah kesakitan. Padahal barusan abis nyinyir ya?


“Astagfurulah, Bu. kok bisa sih sampe kesiaram air panas begini tangan sama kaki ibu?” Mirza kaget melihat kulit tangan dan kaki Bu Een yang sudah melepuh.


“Tadi ibu masak air, Za. Airnya mendidih, ibu pingin bikin teh. Karena tangan kanan ibu juga dari kemarin udah lagi sakit, jadi ibu pake tangan kiri angkat tekonya dari kompor, eh terus tumpah semua kena tangan sama kaki ibu.” Bu Een hampir menangis menceritakan kesialannya beberapa saat yang lalu.


Mirza dan Via kompakan melihat ke arah dapur, nampak teko air panas menggelimpang di lantai dengan air berantakan di sekitarnya.


“Biar aku bersihkan dulu lantainya Mas, takut licin.” Via bangkit berinisiatif.


“Nggak usah, sayang. Biar Mas aja nanti.” Sergah Mirza. “Kamu tolong ambilin kotak P3K aja ya di dekat TV, kayaknya disitu ada salep buat luka bakar.”


Via mengangguk, Bu Een manyun. Sebel banget dia, Mirza nggak memperbolehkan Via ngepel lantai.


“Kamu jangan terlalu manjaain dia, Za. Biarin aja dia bersihin lantai dapur.” Lirih Bu Een dengan nada tak suka.


Mirza tak menghiraukannya, seolah tak mendengar ibunya. Dia masih memeriksa kulit Bu Een yang nampak melepuh membentuk benjolan-benjolan tak beraturan yang berisi air. Lantas segere mengoleskan salep yang disodrkan Via.


“Emh, ibu udah makan?” Via mencoba mencairkan suasana kerena keheningan mengusai ruangan.


“Nggak laper.” Sahut Bu Een tanpa melihat Via. “Hati-hati Za, itu perih. Nggak usah banyak-banyak salepnya.” Bu Een meringis seolah menahan sakit padahal cuman nggak mau ngeladenin Via.


“Biar nggak ada bekas lukanya, Bu. tahan sedikit nggak papa.” Mirza masih meratakan salepnya. “Nah, udah beres sekarang.


“Ayok Mas, kita bawa ibu ke kamar biar ibu istirahat.” Ucap Via berdiri mau bantuin Mirza memapah sang ibu mertua.

__ADS_1


“Iya, Sayang.”


“Ibu nggak bisa jalan, Za. Ibu mau digendong aja ke ruang tengah.” Rajuk Bu Een manja, Mirza dengan ceketan segera mengangkat tubuh ibunya menuju sofa ruang tengah. Bu Een senang bukan kepalang karena mendapatkan perhatian anaknya. Padahal kalo dipikir-pikir, Mirza kan emang selalu perhatian ya sama ibunya? Cuman emang dasar Bu Eennya aja yang suka nggak terima gitu sama perhatian anak dan memantunya.


“Sayang, kamu temani ibu dulu ya. Mas mau beresin lantai dapur dulu.” Ucap Mirza lantas melangkah menuju dapur.


Bu Een meraih remote TV dengan tangan kirinya, ia nampak serius mengganti-ganti chanel mencari tayangan TV yang sreg di hatinya. Via paham, ibu mertuanya itu sama sekali tak mau menganggapnya ada, namun dia nggak mau berkecil hati. Via sudah bertekad ia tak kan pernah menjadi lemah ataupun cengeng di depan ibu mertuanya.


“Oya, tadi ibu katanya mau minum teh? Biar aku bikinin ya, Bu?” Via masih tetap menunjukkan perhatianya meski sedari tadi tak digubris sama sekali.


“Sekarang udah nggak pengen.” Sahut Bu Een, matanya tak beralih dari layar TV.


Via tatap sabar, toh sudah hampir 8 tahun ini dia menerima perlakuan semacam itu dari sang ibu mertua. Sudah kebal! Ia lantas bengkit dan seketika membuat Bu Een menoleh ke arahnya.


“Mau kemana kamu?”


“Mau bikin teh, Bu.”


“Kan tadi saya udah bilang saya udah nggak keingin minum teh?” Ketus Bu Een.


“Bukan buat ibu, tapi buat saya sendiri.”


DOENG!


Bu Een keki banget sama si menantunya yang baik, cantik, dan perhatian tapi selalu tak pernah dianggapnya ada itu. Via hanya tersenyum tipis membuat Bu Een makin sinis.


Di dapur Mirza sudah selesai ngepel, Via datang dan langsung mengisi teko dengan air dari kran wastafel dapur. “Mau ngapain, Sayang?” Tanya Mirza.


“Mau bikin teh, Mas.”


“Buat ibu?”


“Buat aku sendiri. Ibu katanya nggak mau.” Via menutup kran.


“Eh, biar Mas aja!” Mirza segera mengangkat teko ke atas kompor. “Nggak boleh angkat yang berat-berat, ingat?” Mirza menggoyangkan telunjuk kanannya di depan wajah cantik istrinya.


“Hem, kumat deh lebaynya…” Via mencebik lantas meraih gelas dari dalam rak. “Mas mau kopi nggak?”


“Boleh, Sayang.” Segera dilingkarkan kedua lengan kekarnya pada perut sang istri.


“Ish, Mas! Jangan kayak gini ah, nggak enak diliat ibu.” Via melepaskan belitan tangan suaminya.


“Masa peluk sedikit aja nggak boleh?” Mirza malah meletakan dagunya di bahu kiri Via. Untuk sesaat kedua insan yang selalu sweet itu asyik bercanda ria sembari menunggu air mendidih. Samar-samar terdengar ketukan pintu dari ruang tamu, lantas suara nyaring Bu Een dari ruang TV menyusul kemudian.


“Za! Kayaknya ada tamu tuh di depan!”


Mirza langsung menghentikan aksinya menjahili sang istri. “Iya, Bu!”


“Eh, biar aku aja Mas!” Via mendapatkan kesempatan melarikan diri dari sang suami, segera ia menuju ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. “Om Jaka?” Sambut Via heran begitu mendapati sang Om kesayangan sudah berdiri di depan pintu.


“Iya gue! Lagi pada ngapain sih lama amat buka pintunya? Ampe jari gue pada lecet nih ketok-ketok pintu.” Kesal Om Jaka dengan tampangnya yang …. Ya biasa lah, begitu adanya. Mau dubilang galak tapi lucu.


“Tadi lagi di dapur, Om. Jadi nggak denger ada Om dateng.” Sahut Via. “Eh iya, Masuk Om.” Via mempersilakan.


“Ya ampun, Dena…. Segitunya deh. Kan aku tadi udah makan?” Keluh Via jadi merasa tak enak hati.


“Gue juga bilang gitu sama dia. Tapi ya udah lah daripada gue nggak dikasih jatah ntar malem gara-gara nggak nurutin dia.” Om Jaka pasang tampang masam.


Via mengulum senyum, ada-ada aja si Omnya itu. “Eh, beneran Om nggak mau masuk dulu? Om nggak mau liat keadaan ibu?”


“Emang emak mertua elu beneran kesiram air panas?” Tanya Om Jaka mulai penasaran.


“Iya, Om. Kaki sama tangan kanannya melepuh.”


“Nggak jadi kena prank dong kalian, hehe….” Om Jaka malah cengengesan.


“Siapa tamunya, Vi ….?” Teriak Bu Een dari dalam.


“Om Jaka, Bu …” Balas Via setengah berteriak pula.


“Hadoh! Ngapa pake elu bilang sih?” Kesal Om Jaka dengan suara agak berbisik.


Via malah cekikikan. “Sekarang mau masuk apa mau langsung pulang, Om?” Ledek Via.


Om Jaka melangkahkan kakinya ke dalam meski dengan setengah hati. “Hai, halo Mbakyu…” Sapa Om Jaka dengan senyum yang bisa juga dibuatnya lebar untuk menyapa sang kakak tersayang.


Sudah bisa ditebak gimana sambutan Bu Een kan?


“Ngapain kamu kesini malem-malem?” Ketus Bu Een.


“Dih, jangan GR sampean Yu! Gue kesini mau nganterin nasi kendurinya si Via yang ketinggalan!” Om Jaka menunjuk nasi kenduri di tangan Via.


“Om? Sama siapa?” Tegur Mirza yang muncul dari dapur dengan segelas teh dan kopi lantas meletakkannya di meja.


“Sendiri, Cuma mo nganterin itu tuh!” Sekali lagi Om Jaka menunjuk nasi kenduri Via.


“Denaya yang nyuruh katanya Mas, padahal kan aku tadi udah makan sampe kenyang.” Via duduk meletakkan nasinya juga di meja.


“Duduk dulu Om, aku bikinin kopi sekalian ya?” Tawar Mirza berbaik hati.


“Kagak usah. Ntar bini gue nyariin kalo kelamaan.”


“Halah, alesan! Bilang aja kamu nggak mau nengokin aku, emang dasar nggak perhatian kamu, Jaka!” Bu Een mulai dengan aksi nyinyirnya.


“Heh….” Om Jaka mengehala napas “Serba salah gue sama sampean Yu. Diperhatiin salah, nggak diperhatiin juga salah.”


“Aku juga nggak butuh perhatian dari kamu! Udah, pulang aja sana!” Usir Bu Een terang-terangan.


“Ya emang gue mau pulang, sapa juga yang mau nginep?” Cibir Om Jaka. “Za, Vi, gue pamit ya. jagain tuh emak kalian, karena bentar lagi biasanya kalo orang abis kesiram air panas tengah malem jam 12 bakalan ganti kulit!” Seloroh Om Jaka melirik mbakyunya.


“Kurang ajar! Emangnya kamu pikir saya ular, pake ganti kulit segala?” Semprot Bu Een jengkel.

__ADS_1


Om Jaka dengan cueknya malah ketawa, Via dan Mirza mau ikut ketawa tapi takut dosa. Mereka Cuma menahannya dalam hati demi melihat raut wajah Bu Een yang merah padam menahan kejengkelan.


“Untung sampean cuman kesiram air panas Yu, coba kalo kesiram minyak panas? Bisa-bisa langsung jadi krispy tuh tangan sama kaki sampean!”


“Jaka ……!” Teriak Bu Een memekakkan telinga, Om Jaka langsung ngacir keluar. Seneng banget dia udah bikin si Mbakyunya mencak-mencak, wkwkwk….


“Bu, sabar Bu…. jangan marah-marah.” Via coba menenangkan ibu mertuanya yang napasnya terengah-engah saking emosinya.


“Gimana mau sabar kalo ngadepin manusia kayak dia?” Bu Een gantian mau marahin Via.


“Bu, jangan nurutin emosi ya, nggak bagus. Ingat kesehatan ibu.” Mirza menggeser posisinya dekat dengan ibunya.


“Om kamu itu, Mirza! Dia selalu bikin ibu naik darah!” Bu Een masih emosi.


Mirza mengusap-usap pundak ibunya penuh perhatian mencoba menenangkan sang ibunda.


“Malam ini kamu nginep disini aja ya? istri kamu anterin pulang dulu, ibu nggak mau ditinggal sendirian.” Bu Een kembali merajuk.


Via sempat agak kaget, bisa-bisanya ibu mertunya itu bilang begitu. Dirinya suruh diantarkan pulang, kayaknya nggak mau banget ibu mertuanya itu dia nginep di rumahnya.


“Kalo aku nginep disini, Via juga nginep disini dong Bu. Masa aku tega ngebiarin Via sendirian di rumah, kan dia lagi hamil.” Mirza selalu tak bisa berat sebelah, bagaimana pun juga ia tak kan sanggup untuk menyakiti hati ibu dan istrinya.


“Kan istri kamu besok harus kerja? Nanti dia kesiangan berangkatnya?” Kilah Bu Een.


“Via udah berhenti kerja kok Bu. kami sepakat untuk konsentrasi menjaga kadungannya dulu, aku nggak mau Via kelelahan.” Ucapan Mirza sontak membuat Bu Een kaget.


“Beneran dia udah berhenti kerja?” Bu Een masih tak yakin.


“Iya Bu.” Sahut Via.


“Bagus deh! Berarti kamu udah nggak bisa sombong lagi dong? Sekarang kamu kembali menjadi IRT, nggak usah blagu ya!”


Via tak terima terus dipojokkan ibu mertuanya. “Emangnya selama ini aku sombong dan blagu, Bu? dari dulu meski aku sibuk kerja juga aku tetep berusaha memenuhi kewajibanku sebagai istri buat Mas Mirza.” Via membela diri.


Bu Een diam membuang muka, Mirza tahu istrinya merasa kecewa dengan ucapan ibunya. “Bu, selama ini Via memang sudah menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik meski pun dia sibuk kerja. Dan dia berbesar hati mau menerima saranku untuk berheni kerja demi kesehatan bayi kami.” Mirza menjelaskan.


“Alah, udahlah. Terserah kalian!” Bu Een kembali meraih remote TV. “Sudah sana pergi tidur kalo kamu emang mau ikut nginep disini sama suami kamu! Saya nggak mau ada suara berisik!” Ucap Bu Een tanpa melihat pada Via.


Via memandang suaminya dengan raut datar, Mirza mengusap lengan Via seolah memintanya untuk memaklumi sikap ibunya. “Mas anterin kamu ke kamar Sayang.”


Via dan Mirza pun menuju kamar yang dulu ditempati Mirza. Setelah merapikan kasurnya, Mirza membawa sang istri ke tepi ranjang. “Sayang, maafin sikap ibu ya.” Pandangan teduh sang suami selalu saja bisa meluluhkan hati Via.


Via mengangguk. “Mas nggak perlu khawatir, semua perlakuan ibu nggak akan membuat baktiku luntur terhadapnya, juga rasa cintaku padamu Mas.”


Hati Mirza seketika menghangat, bersyukur adalah kata yang paling tepat, karena Tuhan Yang Maha Baik telah menganugrahkan istri yang lembut hati dan penuh kasih sayang seperti Via untuknya.


“Makasih, Sayang.”


Cup!


Satu kecupan lembut didaratkan Mirza pada kening istrinya.


“Oya, mas bawain teh kamu kesini ya?”


“Iya, Mas.”


“Nasi kendurinya sekalian nggak?”


“Heem, boleh deh. Mana tau aku lapar tengah malam.”


“Iya Sayang. Kamu harus makan yang banyak ya, biar dia tumbuh sehat di dalam.” Mirza membelai perut sang istri dan menciuminya.


“Mas, geli ih!” Via mudur sedikit. “Sana cepetan katanya mau ngambilin teh?”


“Iya, Sayang. Nanati kamu istirahat ya, Mas mau ngopi dulu di depan.” Mirza mengusap pucuk kepala istinya lantas keluar kamar.


Satu pemandangan membuat Mirza menghentikan langkahnya ketika sampai ruang tengah. Bagaimana tidak? Sang ibundanya tengah menyesap teh hangat sambil asyik selojoran nonton TV.


Hem…., ya udahlah, aku tinggal bikinin lagi aja buat Via.


Mirza ngeloyor ke dapur tanpa suara. Kembali ia meracik secangkir teh melati untuk istrinya, tak berapa lama ia selesai dan kembali ke ruang tengah untuk mengambil nasi kenduri, namun apa yang terjadi soda-sodara….? Bu Een tampak sedang terkesima memandangi isi bungkusan nasi kenduri yang baru saja dibukanya.



Tanpa tengok kanan kiri lagi Bu Een langsung memakannya dengan sangat lahap.


Mirza geleng-geleng kepala dengan kelakuan sang ibunda.


Tadi katanya bilangnya nggak laper? Nggak taunya doyan? Hem, ibu … ibu… Mirza membatin tak habis pikir dengan ibunya yang selalu menolak setiap tawaran Via namun nyatanya lahap juga. Nggak teh nggak nasi kenduri semua digasaknya sampe ludes tak bersisa.


Biarin aja deh, Via juga pasti bakalan ngerti kok. Nanti agak maleman aku cariiin makanan lagi buat Via, biasanya kan di pasar ada yang jual makanan sampe malem. Lanjut batin Mirza menuju kamar membawakan teh melati untuk istri tercintanya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Ea…. Gimana, gimana... ada yang ikut geleng-geleng kaki ehh… geleng-geleng kepala sama tingkah ajaib Bu Een?😂😂😂


Hahaha… maafin othor ya, kalo pagi-pagi udah bikin kezel aja.😆😆


Upnya segini dulu Kak, part ini khusus Via Mirza Pokoknya. Yang lain nyusul ya…😊😊


Terima kasih sudah membaca.🙏🙏


Terima kasih juga yang udah kasih vote❤️


❤️


Like jangan ketinggalan ya😄😄


akhir-akhir ini agak sepi like, apa masih lagi pada sibuk bikin sate kali ya?😅😅


Komen juga jangan lupa Kakak… biar othor makin semangat nulisnya 😍😍

__ADS_1


I love you all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2