TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
169 #SUAMI IDAMAN (2)


__ADS_3

Ben bersiul-siul di depan rumah Arumi, gayanya narsis sok kecakepan nggak ketulungan. Dengan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya yang cukup bangir, ia memutar-mutar kunci mobil memainkannya masih sambil asyik bersiul menunggu orang yang ditunggunya muncul.


“Non, itu yang di depan temannya Non Rumi apa siapa? Kok dari tadi ngeliatin ke sini terus?” ART Rumi bertanya pada Rumi yang masih sedang memoles bibirnya di depan cermin.


“Iya Bi, temen gue. Suruh tunggu bentar, bilangin lima menit lagi gue selesai.”


“Udah, Non. Tapi dia diem aja, malah siul-siul cuek aja nggak denger bibi ngomong.”


“Ya udah biarin aja, ntar juga bibirnya monyong kecapekan bersiul.” Ucap Rumi kali ini menambahkan mascara agar penampilannya makin cetar.


“Rumi, kamu mau pergi kemana?” Gantian Pak Joni yang nongol bertanya.


“Ih, Papa want to know aja deh urusan anak muda.” Rumi cuek memakai sepatu high heelsnya tanpa melihat pada wajah kepo sang papa.


“Bukannya gitu, kamu kan bentar lagi nikah sama si Hansol, masa sembarangan aja jalan sama laki-laki lain? Kamu nggak peduliin gimana persaannya si Hansol nanti kalo tau kelakuan kamu? Hansol itu kan ….”


“Aduh papa, udah deh! Hansol Hansol mulu, nggak ada lagi si Hansol dalam hidup aku! Udah tutup buku, ganti cerita baru.” Potong Rumi kesal. “Satu lagi, Papa jangan sebut-sebut lagi nama dia di depan aku!” Lanjut Rumi seraya menyambar tasnya lantas keluar menemui Ben yang sudah menunggunya.


Ben segera membukakan pintu mobil untuk Rumi dengan gaya membungkuk mempersilakan.


“Nggak usah lebay lo! Gue nggak kasih bayaran buat ini!” Rumi melotot galak lantas segera duduk mengambil posisi ternyaman.


Ben tergelak. “Gue cuman mau kasih service yang memuaskan aja kok.”


Tak lama kemudian mobil Ben pun berlalu, Pak Joni menatap kepergian mereka dengan benak penuh tanya. Pasti ada yang tak beres antara anaknya dan si bule calon suami anaknya itu. Pak Joni emang penasaran banget, tapi dia tau siapa Rumi. Anak itu jika semakin didesak maka akan semakin belagak tak peduli. Pak Joni memilih pasrah, nanti juga Rumi pasti bakalan cerita sendiri.


Pak Joni baru saja akan melangkah masuk ketika sebuah mobil berhenti di halaman rumahnya. Sang empunya mobil segera turun.


“Hansol?” Pak Joni agak terkejut begitu laki-laki bule itu mendekat.


“Halo, Om. Rumi ada?”


“Baru saja pergi tadi.”


“Baru saja?” Hanson tak yakin.


“Iya, barusan. Belum lama, palingan kamu juga papasan tadi.”


Hanson nampak berpikir sejenak. “Pergi sama siapa ya Om?”


“Sama temennya.”


“Jane?”


“Bukan. Laki-laki, entah saya juga nggak kenal.”


Hanson menduga sesuatu. “Pakai mobil putih?” Hanson agak ragu.


“Iya.”


Deg! Berarti firasatnya benar, ia tadi seperti melihat mobil Ben keluar dari komplek perumahan Rumi.


“Hansol, apa kamu sedang ada masalah dengan Rumi?” Tanya Pak Joni membuyarkan lamunan Hanson.

__ADS_1


“Hanson Om, bukan Hansol.” Seperti biasa Hanson meralat calon ayah mertuanya yang selalu saja salah sebut namanya.


“Yah itu deh pokoknya! Lidah saya agak susah bilang Hanson!” Pak Joni asal.


“Nah itu bisa, Om?”


“Tadi kan cuman contoh!” Pak Joni ngeles. “Jadi, ada masalah apa kamu sebenarnya dengan Rumi, Hansol?” Pak Joni mengulangi pertanyaannya.


Huh, dasar bapak sama anak sama saja! Suka seenaknya sendiri! Hanson gemas juga lama-lama sama Pak Joni.


“Sol? Kok kamu diam saja sih saya tanya?” Tegur Pak Joni sekali lagi.


“Emh, bukan masalah yang serius kok Om. Nanti kami bisa menyelesaikannya sendiri.” Sahut Hanson.


Pak Joni manggut-manggut. “Ya sudah kalo begitu mari masuk dulu. Temani saya minum kopi. Saya mau ngobrol sama kamu, sudah sampe mana belajar agamamu Sol?”


Pertanyaan Pak Joni sontak saja membuat Hanson kalang kabut. Giana mau belajar agama, wong sama ustadznya aja dia belum sempat ketemu.


“Oh, saya lagi buru-buru nih Om. Lain kali saja, maaf saya masih ada urusan.” Tolak Hanson sebisa mungkin agar tak menimbulkan kecurigaan pada calon ayah mertuanya.


“Begitu ya? Ya sudah nggak apa-apa, tapi kamu tetap semangat ya belajar agamanya, Sol.” Pak Joni menepuk pundak calon mantunya memberi dukungan.


Hanson mengangguk seraya tersenyum meski hatinya agak gondok juga dipanggil begitu. Sol? Dia pikir gue sol sepatu?


❤️❤️❤️❤️❤️


Menjelang sore hari, Via pulang kantor dengan dua kantong plastik yang penuh belanjaan di tangannya.


“Hai, Sayang.” Mirza menghampiri mengambil alih belanjaan dari tangan istrinya yang baru turun dari motor.


“Wa alaikumsalam. Capek ya?” Mirza mengecup kening istrinya dengan senyum manis. “Mandi dulu Sayang, abis itu kita makan bareng. Mas udah masak spesial buat kamu.”


“Mas Mirza masak?” Via agak surprise.


“Biasa aja dong, nggak usah kaget gitu.” Mirza menggamit lengan istrinya. “Kan udah biasa Mas masak?”


“Iya, tapi ….” Via tak melanjutkan kalimatnya. Ia melihat pada tanaman sayurannya yang berderet rapi pada barisan poly bag di halaman depan dan samping rumahnya. “Itu Mas yang nyiramin?” Tanya Via yang melihat ceceran air membasahi tanah di dekat tanaman sayurannya.


“Iya. Kenapa emangnya? Tadi sekalian bersihin rumput dan ada beberapa sayuran yang siap petik, jadi ya sekalian aja Mas siram. Boleh kan?”


“Makasih ya, Mas. Aku emang kadang lupa ngurus tanaman karena suka pulang telat.”


“Jangan khawatir, mulai sekarang suamimu ini yang akan mengurusnya.” Ucap Mirza dengan senyum lebar.


Mereka melangkah masuk, Mirza menyimpan belanjaan di dalam kulkas. Via menuju kamar belakang hendak meletakkan pakaian kotornya.


“Lho, baju-baju kotor disini keman ya?” Gumam Via memeriksa ember tempat menyimpan cucian kotor.


“Nyari apa Sayang?” Mirza agak mengagetkan Via.


“Baju-baju kotor disini …”


“Oh, udah Mas cuci kok.” Ujar Mirza dengan santainya. “Udah Mas masukin lemari, udah rapi licin dan wangi.” Lanjutnya.

__ADS_1


Via tertegun. Ia terpaku menatap sang suami di depannya. “Mas, nggak seharusnya Mas Mirza melakukan semua itu.” Lirih Via hampir menangis.


“Hey, kok malah sedih sih? Harusnya seneng dong, karena Mas juga ngelakuin itu semua dengan senang hati.” Mirza mengusap lembut pipi istrinya.


“Iya tapi itu semua tugas aku, Mas.”


Mirza menarik istrinya ke dalam pelukan. “Kamu nggak perlu bilang begitu Sayang. Namanya pasangan itu harus saling membantu. Kamu kan udah capek kerja seharian, Mas nggak mau liat kamu harus capek juga ngurus rumah.”


“Tapi aku ngerasa bersalah sama kamu, Mas.” Via mendongak menatap wajah suaminya. “Semua pekerjaan rumah harusnya menjadi tanggung jawabku sebagai seorang istri.”


“Apa yang menjadi tanggung jawabmu dalam hal pekerjaan rumah, mulai sekarang menjadi tanggung jawabku juga Sayang. Setidaknya ijinkan suamimu ini melakukannya selama belum mendapatkan pekerjaan.”


“Kalo gitu aku behenti kerja aja Mas.” Cicit Via merasa tak rela jika suaminya harus mengerjakan semua pekerjaan rumah karena ia sungguh merasa menjadi istri durjana.


“Hey, apa jadinya kalo dua orang pengangguran tinggal dalam satu rumah? Pasti bakalan sangat membosankan. Jangan resign dulu Sayang, tunggu suamimu sampai mendapatkan pekerjaan.” Mirza menangkup kedua pipi istrinya dengan dua telapak tanganya.


“Tapi apa kata orang nanti kalo tahu Mas?”


“Kenapa harus pusingin perkataan orang? Bukankah kita sendiri yang menjalaninya, hm?”


“Entahlah Mas, tapi yang jelas aku merasa bersalah karena kamu melakuakn semua tugas dan kewajiban seorang istri.” Via membenamkan wajah sendunya ke dalam dada bidang sang suami yang terasa begitu nyaman.


Mirza menghela nafas, ia paham akan apa yang dirasakan istrinya. “Baiklah, kalo kamu harus benar-benar resign apa kamu sudah siap, Sayang? Bukankah kamu yang mengeluh bosan di rumah dan ingin bekerja? Masa hanya gara-gara ini saja kamu mau resign, apa nggak sayang dengan semua yang sudah kamu raih?”


Via terdiam, dalam hatinya ia membenarkan semua perkataan suaminya. Tak seharusnya ia berkata seperti itu meski mungkin ia merasa bersalah karena tak lagi bisa menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga dengan sepenuhnya.


Mirza membelai rambut istrinya penuh sayang. “Sudah ya, jangan dibahas lagi. Kita pikirkan nanti. Sekarang lebih baik kamu cepat mandi keburu malam, Sayang. Kecuali kalo kamu ingin …” Mirza sengaja menjeda kalimatnya.


“Ingin apa, Mas?” Via melihat pada wajah tampan suaminya yang sok berteka-teki.


“Ingin olah raga sore dulu.” Mirza tersenyum penuh arti.


“Hm, mulai deh.” Via melerai pelukan. “Tunggu agak maleman dikit ya Mas.” Lanjut Via agak tersipu.


“Iya Sayang, Mas sabar menunggu. Kita akan melakukannya sampai pagi biar cepat jadi.”


Wajah Via bersemu merah, ia tak bisa menutupi rasa malunya. Suaminya itu terlalu blak-blakan dalam soal ranj*ng. selayaknya pasangan yang sudah lama terpisah dan baru dipertemukan kembali, mereka selalu hangat dan ingin selalu melakukannya sesering mungkin seolah ingin menebus semua waktu yang hilang.


❤️❤️❤️❤️❤️


Terima kasih sudah membaca.😊😊


Othor bisa up hari ini adalah suatu keajaiban dan usaha banget. 😂😂


mohon maaf kalo banyak typo yaa 🙏🙏


maafkan juga kalo lama bales komen dan telat feedback ya Kak 🙏🙏🙏


Komen dan likenya jangan lupa ya Kak, biar othor selalu semangat.😍😍


Vote mah seingetnya aja, karena cuman bisa seminggu seali ye kan?


😆😆

__ADS_1


Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2