
Di rumah Via,
Via terbangun karena mendengar bunyi bel yang dipencet berkali-kali oleh Ica, lalu bocah kecil itu langsung merangsek memeluk tante kesayangannya begitu Via membukakan pintu.
“Aku bawain kamu makan siang, Vi.” Tia memperlihatkan rantang susun yang dibawanya kemudian menuju ruang makan.
Via menggendong Ica dan mengikutinya di belakang.
“Apa nggak bisa lebih modern sedikit Mbak, hari gini masih pake rantang susun?” Gurau Via.
“Mau pake apa memangnya? Kardus? Atau karung?” Cibir Tia. “Udah dibawain makanan bukanya makasih.” Lanjut Tia lalu mengambil piring dan mangkuk di lemari dapur.
Via mendudukkan Ica di sampingnya, tapi anak itu malah melorot dan berlari ke depan TV memainkan remot sesuka hatinya .
“Mbak Tia kok tau kalo aku belum makan?”
“Feeling aja.” Sahut Tia datar lantas menyodorkan piring yang telah terisi nasi dan lauk yang dimasaknya. “Makan dulu.”
Via menyendokkan nasi ke dalam mulutnya dan mengunyahnya cukup lama, Tia memperhatikannya. Dia tau adiknya sedang dalam masalah berat. Namun dia tak ingin bertanya dulu sebelum Via selesai makan.
“Aku udah kenyang.” Via mendorong pirangnya setelah hanya beberapa sendok saja makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
“Kok nggak diabisin? Ini Mbak khusus bikinin buat kamu lho.” Tia pasang tampang kecewa.
“Kenyang, Mbak. Simpen aja buat nanti lagi.” Via terdengar malas.
Tia hanya menghela napas lalu membereskan meja makan dan kembali duduk di samping Via dengan menyodorkan segelas air putih.
“Selingkuhan Mas Mirza ternyata sedang hamil, kemarin dia datang kesini.” Ucap Via setelah meneguk air yang diberikan Tia.
Tia membelalakkan matanya dengan mulut melongo shock. “Sampai sejauh itu rupanya?”
“Aku sebenarnya ragu akan tetep bertahan, Mbak. Kemarin aku hampir memaafkan Mas Mirza dan mencoba melupakan kesalahannya, tapi tiba-tiba perempuan itu datang meminta Mas Mirza menikahinya.” Ungkap Via dengan tatapan kosong.
Tia mengelus pundak Via.
“Kamu yang berhak menentukan semuanya.” Ucap Tia penuh arti.
Kedua kakak adik itu saling berpandangan dalam diam, raut wajah Via sendu tapi sungguh tak ingin menangis.
Dari halaman depan terdengar suara mobil berhenti, Ica langsung berlari.
“Yee, Om Mirza datang! Om Mira datang!” Sorak Ica girang.
Mirza langsung mengangkat tubuh mungil Ica, menggelitiknya hingga Ica terkekeh kegelian lalu membawanya masuk ke ruang tengah dimana Via dan Ica masih tampak terdiam di meja makan.
__ADS_1
“Om Mirza bawa apaan?” Tanya Ica polos.
“Yaah…, Om Mirza nggak bawa apa-apa, gimana dong? Maafin Om ya… Apa Om Mirza bakal dapet Omelan Ica?” Mirza pura-pura pasang tampang takut.
Ica tampak berpikir sejenak, lalu menggeleng.
“Karena Ica sayang banget sama Om Mirza, jadi Ica nggak bakal ngomelin Om dan Ica maafin Om kali ini.” Tukas Ica sok dewasa.
Mirza tersenyum mengacak sayang rambut Ica lantas melihat pada Via yang hanya memandangi mereka. Mirza menurunkan Ica dari gendongannya.
“Ica main lagi ya. Nanti Om janji bawain kue sama coklat kalo Ica kesini lagi.”
“Janji ya, Om?” Ica menunjukkan jari kelingking kanannya yang imut pada Mirza.
“Janji.” Mirza menautkan kelingkingnya pada kelingking Ica.
Ica kembali pada keasyikannya memencet-mencet remot TV mencari tayangan TV sesuka hatinya. Mirza menghampiri meja makan dan langsung mendaratkan kecupan di kening Via.
“Udah makan, sayang?” Tanyanya pada Via.
Via hanya mengangguk.
Mirza lantas melirik pada Tia.
“Maaf ya, sayang. Tadi Mas pikir bakal lama di tempat ibu, makanya Mas minta Mbak Tia ke sini bawain makanan buat kamu.”
Via hanya tersenyum tipis.
“Mbak, aku … “
“Apa? Kamu mau bilang apa?” Potong Via gemas yang melihat Mirza gelagapan tak menyangka Tia akan bertanya seperti itu.
Mirza melirik Via yang tertunduk. Sorot mata kakak iparnya yang biasanya teduh menentramkan kini tajam menghujam ulu hatinya.
“Tega kamu, Za!” Umpat Tia tertahan karena takut Ica mendengarnya.
“Mbak, aku nggak bermaksud seperti itu. Aku tau aku salah, tapi tolong dengar dulu penjelasan ku.”
Tia tersenyum sinis. Sosok Tia yang biasanya kalem dan tak banyak bicara kini berubah garang.
“Mbak sungguh nggak mau ikut campur urusan kalian berdua. Mbak bilang sama Via kalau semua keputusannya terserah padanya. Tapi Mbak mau tau dari mulutmu sendiri, jawab dengan jujur, Za. Kalo udah begini kejadiannya, kamu akan menceraikan Via atau akan memadunya dengan perempuan selingkuhanmu itu?"
Mirza kaget, pedas juga perkataan Tia. Kakak iparnya memang sangat menyayangi Via, Mirza tetap tenang agar Tia tak larut dalam amarahnya.
“Sampai kapanpun aku nggak akan menceraikan Via, Mbak. Dia akan tetap menjadi istriku satu-satunya.” Sahut Mirza yakin.
“Lalu mau kamu kemanakan selingkuhanmu dengan bayi yang ada di perutnya yang merupakan perbuatan bejadmu itu?”
Mirza mengsuap rambutnya gusar. Ia tau penjelasannya berulang-ulang pada semua orang yang menuduhnya bersalah jelas tak akan mudah diterima. Dia akan sulit meyakinkan bahwa bayi yang ada dalam kandungan Sofi itu belum tentu anaknya, karena dia juga belum punya bukti meski dia mengatakan bahwa pergaulan Sofi sangat bebas.
__ADS_1
“Oke, kamu nggak bisa jawab ya?” Sinis Tia pada Mirza. “Perbanyak istighfar, jangan lupa istikharah, Vi. Minta pada Allah agar kamu diberi pilihan yang terbaik.” Bisik Tia sebelum beranjak pamit.
Via hanya mengangguk tanpa sepatah katapun.
“Ica, kita pulang yuk, nak!” Ajak Tia pada Ica yang tengah khusyuk nonton Spons Bob.
“Sebentar, Bunda." Sahut Ica sambil matanya tak beralih dari layar lebar di depannya.
“Kan bisa nonton di rumah, sayang?” Bujuk Tia.
“Nanti pasti udah abis. Lagi seru ini, Bun. Patrick dikira nyuri jaring ubur-uburnya Sponges Bob, tapi dia nggak mau ngaku.” Sungut Ica masih tak bergeming dari depan TV.
“Itu kan udah diulang beberapa kali, Ca.” Tia mulai tak sabaran. “Patrick pasti nggak bakalan ngaku, karena dia merasa benar.” Lanjut Tia sambil melirik Mirza dengan ekor matanya.
“Ah, tapi Patrick kan sebenarnya baik, Bunda.” Ica membela Patrick seolah Patrick itu sahabat baiknya.
“Udah, ayo kita pulang dulu. Nanti dicariin ayah lho kalo lama-lama.”
Mendengar kata ayah disebut, Ica langsung beranjak meski dengan berat hati.
“Ica pulang dulu, ya Om, Tante.” Pamit Ica cemberut sambil salim pada MIrza dan Via.
“Iya, sayang. Makasih ya, Mbak.” Ucap Via sambil mengantar Tia ke depan.
Mirza segera menyusul begitu Via menutup pintu. Diraihnya tubuh Via ke dalam dekapannya kemudian dengan sekali gerakan Mirza mencium bibir Via dengan sangat bernafsu. Via yang tak menyangka karena mendapat serangan secara tiba-tiba dari Mirza langsung berusaha melepaskan diri dan mendorong tubuh kekar Mirza yang seperti hilang kendali itu menjauh darinya.
“Mas! Kamu apa-apain sih?” Bentak Via.
“Tolong jangan terus menghindariku! Aku bisa gila, Vi!” Mirza semakin tak terkendali.
Jika Mirza sudah memanggil Via dengan sebutan namanya bukan sayang seperti biasanya, itu menandakan dia sedang emosi. Seperti saat ini, kepalanya rasanya penuh dengan berat pikiran yang membebaninya.
Via tak mempedulikan suaminya, dia berlari ke arah tangga bermaksud akan mengunci diri di kamar namun Mirza yang lebih gesit berhasil menghadangnya dan mencoba sekali lagi menciumnya. Kali ini Mirza lebih bringas, setelah berhasil mengunci bibir Via dengan bibirnya, tangan kanannya mulai nakal merayap ke area dada berusaha membuka kancing dress yang Via pakai.
PLAK!
Satu tamparan yang dilayangkan Via ke pipi kanan Mirza cukup membuat Mirza kaget dan melepaskan ciumannya. Tamparan itu memang tidak terlalu keras, tapi berhasil membuat Mirza berjarak dengan Via. Dan kesempatan itu dipergunakan Via untuk lari menaiki anak tangga menuju kamarnya lantas mengunci pintu.
Via menghambur pada kasur busanya yang empuk dan tangisnya kembali pecah.
______________
Sebelum lanjut, jangan lupa like dan komen dulu ya akak sayang 🙏☺️☺️ rate 5 dan votenya jugq jangan ketinggalan yaa 😉😉
Buat akak-akak author mohon bersabar yang belum aku feedback ya 🙏🙏❤️❤️
Makasih banyak yang udah setia dukung author dan Via sampai sejauh ini, luv u 😘😘🤗🤗🌹🌹❤️❤️❤️❤️
__ADS_1