
HAH?!
Freeze untuk beberapa detik.
Danar kaget ditodong begitu sama khusni, sementara Via nggak nyangka kalo Khusni bakalan minta tolong sama Danar. Yana dan Riri? Jangan ditanya, dua orang itu masih asyik memamah biak alias makan dengan cueknya tak menyadari perubahan ekspresi wajah Via dan Danar.
“Bisa kan?” Tanya Khusni sekali lagi, kali ini dengan nada agak memaksa.
Danar nggak langsung jawab, dia tau Via seperti nggak menghendaki jawaban ‘iya’ darinya.
“Emangnya kamu sama Yana belum mau pulang sekarang?” Tanya Via akhirnya.
“Gimana sayang, kita pulang sekarang atau nanti?” Khusni bertanya pada Yana.
“Aku sih terserah kamu aja.” Sahut Yana cuek disela-sela kegiatannya mengunyah.
“Aku masih pingin berduaan sama kamu, kan aku besok mau pulang dulu ke Bandung.” Ujar Khusni sok manis.
“Ya udah, kalo gitu kita pulang nanti. Biar mereka diantar sama Danar.”
Huh! Dasar si Yana nggak berperasaan! Seenaknya sendiri aja, mentang-mentang baru jadian. Lupa dia kalo berangkatnya sama aku, eh giliran mau pulang aku malah disuruh sam si manusia aneh itu. Via kesal nggak habis pikir sama Yana.
“Aku nge-grab aja.” Putus Via .
“Eh, jangan dong!” Sergah Khusni cepat. “Nanti kalo diculik gimana? Bisa-bisa aku yang dihajar sama suami kamu.”
BLARR!
Ada denyar aneh di hati Danar kala mendengar kata suami dari mulut Khusni. Mungkinkah itu karena dia punya perasaan tertentu pada Via?
“Ya udah, ini kuncinya.” Khusni memberikan kunci mobilnya pada Danar.
Danar hanya menerimanya tanpa mengatakan apapun. Khusni seenaknya aja nyuruh-nyuruh, padahal Danar belum bilang setuju.
“Terus ngapain masih pada bengong?” Yana heran melihat pada Danar dan Via. “Ri! Kamu juga, makan mulu dari tadi! Itu kakakmu si Oliv mau balik, kamu mau ikut pulang apa mau nyuci piring dulu disini?” Ujar Yana yang melihat Riri masih santai aja ngabisin makanan yang ada di meja.
“Bisa nggak pulangnya bentar lagi?” Riri mulai merajuk.
“Kamu nggak liat muka kakakmu itu?” Yana melirik Via dengan senyum jahil.
Mau tak mau Riri menyudahi keasyikannya.
SROOT … SROOT …
Riri mengabiskan frappuccino- nya sebagai penutup.
“Oke, yuk!” Riri bangkit berjalan mendahului mereka dengan gaya cueknya. Via cuma menahan sabar dengan kelakuan adiknya itu.
Mereka sampai di parkiran. Via dan Riri berhenti karena nggak tau yang mana mobil Khusni.
TWIT TWIT
Danar yang berjalan di belakang mereka menekan kunci mobil. Sebuah mobil hitam metalic di dekat mereka lampunya berkedip-kedip. Riri melanjutkan langkahnya menuju mobil, namun tiba-tiba Via menyerobot Riri yang hendak membuka pintu tengah mobil.
“Kamu duduk di depan aja.” Ujar Via datar memerintah adiknya.
Tanpa membantah Riri nurut aja.
___________
Di warung ikan bakar Mang Doel, Mirza tak menunggu terlalu lama sudah langsung mendapatkan ikan bakar pesanannya, sehingga membuatnya tak jadi membuka ponselnya yang sewaktu dalam perjalanan tadi bergetar seperti ada pesan masuk.
“Udah, Mas?” Tanya Udin yang nunggu di motor.
“Udah. Nih!” Mirza meberikan dua plastik berisi ikan bakar itu pada Udin.
“Kok dikasihin saya, Mas?”
__ADS_1
“Aku aja yang bawa motornya. Awas, minggir kamu!” Mirza menyuruh Udin turun. “Kamu yang bawa lelet banget jalannya kayak siput kena asam urat!”
“Halah, bilang aja Mas Mirza udah nggak tahan kan pingin cepet-cepet ketemu sama Mbak Via?” Seloroh Udin usil.
Mirza senyum. “Cepet, naik. Pegangan yang kenceng, mau ngebut nih.” Perintah Mirza seraya menyetater motor.
Udin pun nurut langsung pegangan pada tas punggung Mirza. Mirza melesat melaju di jalanan desa yang mulus beraspal di waktu yang hampir maghrib.
____
Di dalam mobil, suasana beku kerasa banget. Perjalanan sudah berlangsung belasan menit, namun tak ada perbincangan apapun diantara mereka bertiga.Via menatap layar ponselnya tanpa tau mau ngapain. Danar di balik kemudi tanpa kata.
“Ehm, perasaan sepi banget ya? Ini mobil nggak ada bunyi-bunyian apa gitu?” Riri memecah keheningan dengan kecomelannya.
“Bunyi apa, Ri?” Tanya Danar tanpa menoleh, matanya hanya lurus menatap jalan.
“Ya bunyi apa kek, yang penting nggak sepi gini kayak di kuburan.”
“Ya udah, kamu nyanyi aja atau baca puisi juga boleh.” Ujar Danar cuek. Dia coba bersikap biasa meski merasakan ada sesuatu yang di hatinya.
“Dih, kok akau sih, Mas? Mas Danar aja yang nyanyi, kan suaranya Mas Danar bagus.”
“Bisa aja kamu.” Danar tersenyum tipis sambil melihat Riri yang duduk di jok samping.
“Mbak? Tidur ya, kok diam aja?” Tegur Riri menoleh pada Via.
“Nggak.” Sahut Via pendek.
_____
Mirza dan Udin sampai di di depan rumah. Mereka agak heran melihat belum ada satu lampu pun yang menyala di rumah padahal hari sudah hampir gelap.
“Lho, Mbak Via apa lagi nggak di rumah ya, Mas?” Tanya Udin turun dari motor menghampiri pintu gerbang yang tertutup. “Tapi nggak dikunci kok, Mas.” Udin membuka gerbang.
“Paling Via ketiduran. Ya udah, kamu pulang aja.” Perintah Mirza sambil meraih bungkusan ikan bakarnya dari tangan Udin.
“Ada, palingan di dalem.”
Udin jadi bingung, ternyata situasinya tak seperti yang dia bayangkan. Kalo udah gini alamat kena omel lagi sama Bu Een.
“Ngapain masih diem? Kamu mau nginep disini?” Tanya Mirza pada Udin yang bengong.
“Eh, nggak lah. Nanti malah ngganggu Mas Mirza sama Mbak Via lagi, hehe …” Udin cengengesan.
“Ya udah cepetan, sana!”
Mau tak mau Udin pergi juga, sepanjang perjalan Udin tak henti berdoa moga-moga suasana hati Bu Een lagi baik, jadi bisa ngerti keadaan. Ya meskipun Udin hampir meragukannya sih. Tapi kan apa salahnya berdoa, masalah nanti terkabul apa nggak sih belakangan. Toh dia udah biasa diomelin sama majikannya itu.
Tap tap tap
Mirza melangkahkan kaki menuju teras dan membunyikan bel. Sekali, belum ada tanda-tanda Via akan membuka pintu. Dua kali, masih sama. Mirza memencet bel untuk ketiga kalinya, namun tetap sepi.
Mirza merogoh ponsel di saku celananya. Matanya langsung tertuju pada pesan dari Via.
PLEK!
Mirza menepak jidatnya sendiri setelah membaca pesan dari Via. Tak ada cara lain selain menunggu Via pulang. Mirza menuju gazebo di teras belakang melalui halaman samping yang menghubungkannya ke sana. Mirza duduk dan mencoba menelpon Via.
Di dalam mobil, Via sedikit kaget melihat ponselnya ada panggilan masuk dari Mirza. Namun perasaan senang lalu mengusai hatinya.
“Halo, Mas” Sapa Via lembut seperti biasanya. “Apa? Mas udah di rumah?” Lanjut Via kaget. “Ya udah tunggu ya. Aku bentar lagi nyampe kok, Mas. Ini udah mau pulang.” Via mengakhiri percakapan.
“Mas Mirza udah nyampe, Mbak?” Tanya Riri nengok ke arah Via.
“Iya.”
“Cepet banget nyampenya dari Jakarta?”
__ADS_1
Via hanya mengangkat bahu. Lantas hening lagi untuk beberapa saat.
“Di depan itu nanti belok kanan ya, Mas.” Ujar Riri pada Danar kemudian.
“Oke.”
“Kita anterin Mbak Via dulu.”
Danar mengangguk. Denyar aneh itu kembali terasa di hatinya. Dia juga tak mengerti kenapa bisa merasa seperti itu. Sementara Via yang duduk di jok belakang diam-diam merasa sangat lega karena paling tidak kini Danar sudah tau kalo dirinya telah bersuami. Nggak tau juga mengapa Via merasa seperti itu. Yang jelas kini Via merasa sangat senang Karena Mirza sudah pulang.
“Slow, Mas. Rumahnya udah deket.” Riri memberi aba-aba pada Danar.
Danar mengurangi kecepatan.
“Nah, itu kiri jalan yang gerbangnya putih, Mas.” Tunjuk Riri.
Danar berhenti tepat di depan rumah Via yang masih dalam keadaan gelap.
“Ri, Mbak duluan, ya.” Ucap Via sambil membuka pintu mobil.
BLAM!
Via segera menutupnya kebali lantas menuju gerbang. Mirza yang mendengar suara pintu mobil segera bangkit menuju ke halaman depan.
“Eh, Mbak!” Seru Riri membuka kaca mobil.
“Apa?” Via membalikkan badan melihat pada Riri.
“Makasih dulu kek, main nyelonong aja! Udah kangen banget ya?” Oceh Riri yang tak ayal membuat Via kembali ke mobil.
“Makasih ya.” Ucapnya pada Danar pendek.
Danar hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.
Tak perlu berlama-lama lagi Via kembali melangkah menuju rumahnya. Mobil yang dikemudikan Danar baru saja pergi ketika Mirza sampai di halaman depan.
“Sayang, kamu udah nyampe?” Sapa Mirza begitu melihat Via.
Via langsung menyambut Mirza dengan mencium tangan suaminya itu, Mirza balas mengecup kening Via.
“Iya kan tadi juga udah lagi di jalan waktu mas telpon.”
“Oh.” Mirza manggut-manggut. “Eh, Yana kok nggak mampir dulu? Tumben buru-buru amat dia?” Tanya Mirza agak heran.
Via hanya menggeleng.
“Ya udah, bagus deh kalo gitu. Berarti kita aman bisa langsung cus.” Mirza merangkul pundak Via mengajaknya masuk.
“Ha, cus apaan? Mandi dulu!” Via mencubit dada Mirza.
Mirza sedikit meringis. Via langsung membuka kunci pintu rumah.
“Oh, iya. Mas bawa ikan bakar ada di gazebo belakang, sayang.” Ucap Mirza yang ingat kalo dia meninggalkan tas dan ikan bakarnya di belakang.
“Lho, dari Jakarta kok oleh-olehnya ikan bakar?”
Glek!
Mirza terdiam.
___
Bersambung
Terima kasih sudah setia mengikuti Livia sampai sini ya 🙏☺️
Like, komen, rate dan vote jangan lupa, biar aku makin semnagat❤️
__ADS_1
😘😘