TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
247 #HATI YANG MATI


__ADS_3

Terima kasih yang udah vote yaa 🙏🙏❤️


Yang masih bisa vote, boleh dong …😊


Perbanyak istighfar gais di bab ini karena masih bikin emosi jiwa 😁😁moga-moga kuat bacanya sampe novel ini end, hehe …😂😂


❤️❤️❤️❤️❤️


Pulang larut membuat Mirza kesiangan bangun, ia sedikit kerepotan mengurus rumah dan menyiapkan segala keperluan ibunya.


Roman kusut tak bersemangat jelas terlukis pada wajah laki-laki tampan rupawan pagi itu. perdebatannya kemarin sore dengan sang istri sangat mempengaruhi moodnya. Ia seperti kehilangan gairah hidup. meski dirinya sudah berusaha membujuk Via nyatanya Via tetap pada pendiriannya. Bu Een dapat membaca raut semrawut yang membayang pada wajah sang putra, ia pun tahu semalam Mirza pulang jam berapa, hanya saja seperti biasanya Bu Een melanjutkan perannya seolah tak tau apa-apa.


“Za, nanti siang ibu mau makan soto lamongan. Nanti kamu belikan buat ibu ya?”


Mirza hanya mengangguk, tangannya merapikan bekas sarapan Bu Een. Tak mendapat respon yang memuaskan dari anaknya, Bu Een kembali coba menarik simpati Mirza.


“Akhir pekan nanti ibu mau jalan-jalan, ibu bosan di rumah terus. Kamu mau kan temani ibu?”


Tak langsung menjawab, Mirza meraih tas kerjanya. “Sepertinya akhir pekan ini ada stok obat yang datang dari Bandung, aku harus mengawasinya Bu.”


“Kan hari libur? Apa nggak bisa hari lain saja?”


“Nggak bisa Bu, dokter Burhan sendiri yang memintanya.”


Mendengus kecewa. “Padahal ibu hanya minta ditemani jalan-jalan, kenapa nggak bisa?” memasang raut sedih. “Seandainya kamu tau Za, seperti apa rasanya di posisi ibu sekarang? Duduk tak berdaya di kursi roda, hanya untuk sekedar berjalan dan meraih sesuatu saja ibu membutuhkan bantuan kamu –“ menyeka air mata yang mulai merembes di kedua sudut matanya.


“Bukan aku nggak mau menemani, Bu.” menatap tak tega. “Tapi ibu juga harus tau, selama ibu sakit aku banyak sekali ijin dan sering tidak masuk kerja Bu. aku nggak enak pada dokter Burhan. Lagipula kita kan bisa pergi di akhir pekan depan.”


“Sudahlah, kamu memang nggak mau menemani ibu,” membuang muka dengan kekecewaan yang diabut berlebih-lebih. “Padahal waktu sama istrimu ibu yakin kamu sering ngajakin dia jalan-jalan kalo akhir pekan.”


“Astaghfirullah, Bu.” menyabarkan hatinya, entah harus seperti apa memberi pengertian pada ibunya. “keadaannya kan berbeda, sekarang ibu sedang sakit, ibu harus banyak istirahat di rumah.”


“Kamu nggak denger tadi ibu bilang apa? Ibu bosan di rumah!” meninggikan intonasinya. “Ibu nggak bisa ngapa-ngapain, mau menghirup udara segar di luar saja ibu harus nunggu kamu pulang.”


Mendengus kesal, “makanya ibu jangan judesin Ice. Coba kalo ada dia, ibu kan bisa –“


“Jangan sebut lagi nanmanya!” Sela Bu Een berang. “Istrinya Udin itu kurang ajar, tak tau diuntung. Berani dia marah-marah, padahal suaminya itu siapa yang nolongin waktu lagi susah kalo bukan ibu?”


“Kenapa sih ibu selalu saja menyalahkan orang lain? Ice bersikap seperti itu juga karena ibu yang memulainya. Ibu selalu saja menganggap orang lain buruk dan lebih rendah, padahal mereka sudah baik sama ibu. Sekrang lihat kan, nggak ada yang mau merawat ibu?”


“Jadi kamu menyalahkan ibu?”


Menghempaskan tas kerjanya sebagai pelampiasan kekesalannya. Tak mungkin ia membentak ibunya, situasi ini sudah sangat membuat pikirannya seperti buntu.


“Sudahlah, aku nggak mau ribut sama ibu.” Menyugar rambutnya kasar, mencoba kembali bersabar. “Ibu perlu apa sekarang? Bar aku siapkan, karena aku mau berangkat kerja.”


“Ibu nggak mau apa-apa, pergi saja kalau mau pergi.” Ketus Bu Een. “Tapi kamu jangan pulang larut lagi, ibu nggak mau kamu kesiangan lagi karena semalaman kamu menemani istrimu.”


Tangan Mirza yang hampir terulur untuk meraih punggung tangan ibunya terhenti, ia tak menyangka ibunya akan berkata seperti itu. Via masih sah sebagai istrinya, dan sekarang sedang mengandung anaknya, wajar kalau dirinya menemaninya semalaman meskipun sebenarnya Mirza tak disana melainkan pergi ke rumah Om Jaka untuk mencurahkan segala beban hatinya pada Om semata wayangnya itu hingga larut malam.


“Dalam kondisi seperti ini saja ibu masih begitu membenci Via, dia itu sedang hamil Bu. dia mengandung anakku, cucu ibu” ucap Mirza dingin.


“Dia hanya sedang hamil bukan sedang sakit kan?” Sahut Bu Een dengan entengnya. “Dia masih bisa melakukan segalanya sendiri, sedangkan ibu?”


“Sudahlah, aku nggak mau debat lagi.” Memutar tubuhnya urung untuk menyalami ibunya.


“Memang tidak perlu diperdebatkan lagi soal istrimu itu, karena sebentar lagi kamu akan menceraikannya.”


Tak!


Menoleh seketika, “aku belum bilang setuju dengan syarat yang ibu ajukan.”


“Jadi kamu akan membiarkan ibu seumur hidup berada di atas kursi roda, iya begitu? Kamu tega melihat ibumu cacat dan kamu lebih memilih istrimu itu daripada ibumu sendiri yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkanmu, menjadikanmu seperti sekarang ini, iya?” Bu Een meluapkan semua yang ada dalam isi kepalanya melupakan keadaannya yang masih sakit.


“Hem, pantes aja gue ucap salam kagak dijawab, rupanya lagi perang nih pagi-pagi.” Suara Om Jaka tau-tau singgah memenuhi ruang makan rumah Bu Een. Mirza memang tak menutup pintu depan sehabis ia membersihkan halaman depan.


Mirza dan Bu Een nampak agak kaget dengan kemunculan Om Jaka.


“Udah sehat rupanya sampean Yu? Udah bisa ngomel-ngomel lagi?” Cengiran Om Jaka menyapa sang mbakyu.


“Mau ngapain kamu pagi-pagi udah kesini?” Bu Een menyahut ketus, menatap sang adik tak suka.


“Assalamualaikum, Bu Endang.” Suara Pak Haji Barkah membuat Bu Een menyetel raut wajahnya ke dalam mode normal. “Maaf ya Bu, si Jaka main nyelenong aja.” Melihat pada sang menantu yang masuk lebih dulu karena Pak Haji Barkah baru selesai menerima telepon. “Jaka, mana buah dan kuenya yang untuk Bu Endang?”


“Oh iya, masih di mobil Yah.” Om Jaka segera keluar untuk mengambil parcel buah dan kue yang tadi sempat dibelinya sebelum ke rumah Bu Een.


“Ada apa ya, Pak Haji kok tumben pagi-pagi sudah ke rumah saya?” Bu Een menaruh kecurigaan.


“Bu, sebaiknya kita ngobrolnya di ruang tengah aja” mendorong kursi roda sang bu. “Mari Pak Haji.”


Pak Haji Barkah mengikuti. Bu Een jelas heran dengan maksud kedatangan Pak Haji berwajah kharismatik yang sempat diincarnya ingin dijadikan besannya dan bahkan pernah berangan-angan ingin menikah dengan Haji Barkah karena harta kekayaan Pak Haji Barkah yang sangat melimpah itu. (baca di bab berapa ya…? othor lupa, pokoknya Bu Een itu pernah naksir Pak Haji Barkah biar makin kaya raya katanya, wkwkwk).

__ADS_1


“Sebelumnya maaf Bu, kalau kedatagan saya pagi ini kurang bekenan,” Pak Haji Barkah membuka obrolan berbasa-basi, ia tak mungkin mengatakan maksud kedatangannya karena permintaan sang menantu yang menginginkan dirinya sebagai penengah antara persoalan Mirza dan ibunya. “Saya juga minta maaf karena baru bisa menjenguk Bu Endang.”


Mendapat perhatian dari laki-laki yang pernah ditaksirnya, Bu Een langsung mengukir senyum tipis. Apalagi oleh-oeh yang dibawa Pak Haji sangat banyak. Om Jaka meletakkannya di meja.


“Terima kasih Pak Haji sudah mau repot-repot menjenguk saya,”


Heh, giliran dikasih oleh-oleh aja langsung senyum. Padahal tadi udah pasang tampang judes. Dasar lu mbakyu matre! Om Jaka mengomel dalam hati.


“Gimana keadaan Bu Endang? Pasca operasi nggak ada keluhan kan, Bu?” Pak Haji Barkah membawa obrolan ke arah santai.


“Ah, Pak Haji ini nanyaya udah kayak dokter aja.” Bu Een tersenyum lagi, kali ini lebih jelas dan terang sehingga wajahnya tak lagi terlihat pucat tapi berseri. “Alhamdulillah operasi saya dua kali berjalan lancar Pak Haji. Meskipun saya masih harus bolak balik rumah sakit untuk check up.”


Pak Haji pun mengurai senyum, “Syukur Alhamdulillah kalau begitu Bu. saya rasa kalau hanya check up itu sih wajar saja Bu, agar kesehatan Bu Endang dapat dipantau oleh dokter.”


“Iya Pak Haji, betul.” Senyum Bu Een semakin lebar. “Oya Za, tolong bikinkan minum untuk Pak Haji dan Om kamu ini.”


“Nggak usah repot-repot, Za.” Sergah Pak Haji. “Makasih Bu Endang, saya tadi udah ngteh kok sebelum kesini.”


Huh, tumben-tumbenan gue dateng kesini pake mau dibikin minum segala? Biasanya boro-boro! Kagak diomelin aja udah untung. Dasar mulut licin lu Yu, ada ayah mertua gue aja lu baek sama gue! Lagi-lagi Om Jaka ngomel dalam hati.


“Kalau saya perhatikan keadaan Bu Endang pasca operasi sepertinya nggak ada perubahan ya. sangat sehat dan bugar. Soalnya saya punya teman yang anaknya juga pernah menjalani operasi tempurung kepala dan koma hampir dua bulan lamanya di rumah sakit, pasca operasi dia mengalami kesulitan bicara dan bergerak seperti orang lumpuh.”


Bu Een sedikit kaget mendengarnya. “Benarkah Pak Haji?”


“Iya Bu, dia sampai harus terapi bolak balik rumah sakit. Untungnya setelah hampir satu tahun akhirnya dia pulih dan bisa aktifitas kembali.”


Bu Een menghela napas. “Mengerikan juga ya Pak Haji. Saya beruntung Allah sangat menyayangi saya Pak Haji, Allah kasih saya kesembuhan. Saya juga sempat mengalami kesulitan bicara ketika masih di rumah sakit, tapi hanya sebentar. Paling kalau sekarang hanya tulang kaki dan tulang selangka saya saja yang masih sangat sakit dan sulit digerakkan.” Bu Een sedikit mellow melirik arm sling yang menjadi penyangga lengan kirinya.


“Itu wajar Bu Endang, mengingat kecelakaan yang menima Bu Endang juga sangat fatal. Yang penting Bu Endang bersabar dan terus berdoa, Insya Allah Bu Endang akan diberi kesehatan seperti sedia kala.” Pak Haji mulai mengarah pada hal yang menjadi sasarannya. “Tapi luka pada tulang Bu Endang tidak membutuhkan operasi kan?”


Menghela napas, “itulah Pak Haji, sebenarnya dokter menyarankan agar saya menjalani operasi tulang selangka secepatnya, tapi –“ Bu Een menjeda kalimatnya, ia melihat pada Mirza yang sedari tadi hanya menjadi pendengar.


“Tapi Mirza nggak mau menceraikan Via kan?” Sela Om Jaka tak sabaran. Menurutnya ayah mertuanya itu terlalu lama mutar muter kebanyakan basa-basi, sedangkan telinganya sudah sangat gatal mendengar penuturan Mbakyunya yang mendadak sok manis itu.


Tak ayal Pak Haji menatap Om Jaka tajam, menantunya itu emang nggak bisa diajak main alus.


“Sampean itu emang seenaknya sendiri Yu, tak punya hati ingin memisahkan anak dan menantu sendiri dengan menggunakan sakit sampean sebagai senjatanya.” Om Jaka seolah tak peduli dengan tatapan tajam sang ayah mertuanya.


“Jaka,” Pak Haji memperingatkan.


“Gue heran Yu, punya dendam apa sih sampean sama Via sampe segitu bencinya sampean ke Via?” Om Jaka cuek terus nyerocos. “Bagusan sampean itu koma, jadi rumah tangga Via dan Mirza aman.”


“Jaka! Tutup mulut kamu!” Hardik Bu Een. “Tega kamu nyumpahin saya koma terus?”


Bu Een diam, merasa semua kartunya kebuka di depan Pak haji Barkah. Mirza dan Pak Haji pun tak bersuara seolah membiarkan Om Jaka menumpahkan semua kejengkelannya.


“Oh gue lupa, sampean nggak bisa mikir ya? otak sampean kan udah konslet atau jangan-jangan malah udah nggak ada karena kepotong waktu operasi.” Om Jaka tersenyum sinis.


“Cukup Jaka.” Suara Bu Een bergetar, ia tak tahan lagi dipermalukan di depen Pak Haji oleh adiknya sendiri.


“Baru segitu aja sampean udah nggak mau denger Yu, gimana Via yang sekian lama selalu sampean nyinyirin, sampean salah-salahin? Via itu nggak salah apa-apa, jangan korbankan perasaannya demi ego sampean. Atau sampean mau melihat Mirza jadi gila karena kehilangan Via.”


“Pak Haji, tolong bawa menantu Pak Haji ini pergi” tajam menatap Jaka dengan suara yang masih bergetar.


“Gue bakal pergi sendiri kalo udah kelar” Sahut Om Jaka.


“Bu Endang, saya mohon maaf kalau ikut campur. Namun jika yang Jaka ucapkan tadi benar, bahwa Bu Endang meminta Mirza untuk berpisah dengan Via sebagai syarat agar Bu Endang menjalani operasi, menurut saya itu tindakan yang salah.”


“Saya tidak butuh pendapat Pak Haji,” jawab Bu Een datar.


“Sebagai sesama muslim, sudah seharusnya kita saling mengingatkan jika ada yang keliru. Apalagi kita satu keluarga Bu.”


Membuang muka ke sembarang arah merasa kini semua orang menyerangnya.


“Apa Bu Endang tega melihat Mirza berpisah dengan Via padahal sebentar lagi mereka akan memunyai keturunan? Bukankah selama ini Bu Endang menginginkan agar punya cucu? Lagi pula wanita hamil tidak boleh ditalak sebab –“


“Mereka bisa bercerai setelah Via melahirkan” potong Bu Een.


“Astaghfirullah.” Pak Haji beristighfar tak menyangka dengan jalan pikiran Bu Een. “Bu Een nggak kasihan pada bayi kecil cucu ibu sendiri? Yang baru lahir tapi kedua orang tuanya harus berpisah? Bayi itu tidak bersalah Bu, kenapa ia harus ikut menderita?”


“Lalu apa saya salah kalau saya menginginkan anak saya berbakti pada saya? Bukankah sudah menjadi kewajiban seorang anak untuk berbakti pada orang tuanya? Apalagi Mirza itu anak laki-laki, ia harus lebih mengutamakan ibunya daripada istrinya.” Tandas Bu Een.


“Tidak ada yang salah dengan semua pendapat ibu barusan. Tapi Bu Endang juga harus tau, perceraian itu meskipun halal namun dibenci oleh Allah. Apalagi ini alasannya sama sekali bukan hal yang prinsip atau menyangkut ketauhidan.”


“Sudah Pak Haji, saya tidak mau dengar ceramah Pak Haji. Kalo mau ceramah lebih baik di masjid.” Sinis Bu Een.


“Benar-benar somplak otak smapean Yu! Harusnya Tuhan membiaran sampean nggak bisa ngomong habis pulih dari operasi itu. buat apa punya mulut kalau hanya buat menyakiti orang lain.”


“Kamu merasa lebih baik dari saya?” menatap sengit pada Om Jaka.”Mulutmu juga kalau ngomong selalu nyinyir .”


“Itu karena sampean yang memulai.”

__ADS_1


“Jaka, sudah.” Pak Haji meredakan Om Jaka agar tak semakin memperpanjang pertengkaran.


“Mirza,” Pak Haji beralih pada Mirza yang terdiam. “Memang sudah menjadi kewajibanmu berbakti pada ibumu, tapi –“


“Jangan coba-coba mempengaruhi Mirza Pak Haji.” Sergah Bu Een. “Dia itu anak saya, dia akan dengar apa kata saya, dan harus melakukan apa yang saya inginkan. Karena dia harus membalas budi pada saya sebagai ibunya yang sudah mengandungnya, melahirkannya, membesarkannya, mendidiknya , memberinya kecukupan dan kenyamanan sampai dia menjadi seperti sekarang ini.”


“Cih! Ibu macam apa sampean yang gila menuntut budi dari sang anak? Itu semua sudah menjadi tanggung jawab sampean sebagai orang tua Yu. Nggak bisa sampean menuntut Mirza balas budi atas semua yang sudah sampean lakukan pada Mirza karena memang sudah selayaknya orang tua apalagi seoarang ibu berbuat yang terbaik untuk anaknya. Apalagi Mirza anak satu-satunya sampean.”


“Justru karena Mirza anak saya satu-satunya, maka dia harus menuruti semua keinginan saya, kalau tidak mau disebut sebagai anak durhaka.” Bu Een tak mau kalah.


“Astaghfirrullah! Bikin emosi orang satu ini. Udah Yah, kita pulang aja! Nggak ada gunanya kasih nasihat pada orang yang sudah mati hatinya.” Om Jaka bangkit.


“Pulang sana, nggak ada yang nyuruh kamu kesini.”


“Gue yakin sekarang Kang Muhib lagi nangis di akhirat sana, dia sedih punya istri yang dzolim pada anak sendiri macam sampean!” Om Jaka melangkah keluar duluan meninggalkan Haji Barkah karena sudah tak tahan dengan sikap dan perlakuan Bu Een.


“Bu Endang, sebaiknya Bu Endang pikirkan lagi dengan syarat yang Bu Een ajukan pada Mirza, jangan sampai Bu Endang menyesalinya dikemudian hari. Dan saat itu tiba, Bu Endang sudah tak bisa memperbakinya lagi.”


Ucapan Pak Haji Barkah sontak membuat Bu Een membulatkan matanya. “Apa maksud Pak Haji? Pak haji sedang menyumpahi saya biar mati? Pak haji juga harus tau, saya nggak akan pernah menyesali apa yang sudah saya ucapkan karena saya yakin itu benar.”


Banyak-banyak beristighfar, hanya itu yang mampu Pak Haji Barkah lakukan. Bu Endang ternyata sangat keras hatinya.


“Maaf sudah menggangu waktu Bu Endang, saya permisi. Assalamualaikum.” Pak Haji Barkah menyusul Om Jaka.


Mirza ikut bangkit karena hari yang semakin merambat siang, “aku pergi Bu.”


“Mirza!” Seruan Bu Een menghentikan langkah Mirza.“Ingat, jangan pulang larut lagi. Ibu tak mengijinkamu mengunjungi istrimu lagi, kalian harus membiasakan diri hidup terpisah sebelum benar-benar berpisah.”


“Ibu sudah kelewat batas.”


“Pernikahan kalian selamanya tidak akan bahagia karena sedari awal ibu nggak setuju kamu menikah dengannya. Berpisah adalah jalan satu-satunya.”


Tak menyahut, Mirza meneruskan langkahnya keluar rumah. Ternyata Pak Haji dan Om Jaka belum pergi.


“Mirza, saya tau beban pikiranmu sekarang sedang menumpuk,” Pak Haji menghampiri Mirza. “Tapi kamu tetap harus berpikir dengan jernih. Sebagai orang tua saya hanya ingin melihat keluarga kamu utuh.”


Mirza mengangguk.


“Allah memerintahkan untuk berbakti dan mematuhi orang tua, selama semua yang orang tuamu inginkan bukan suatu perbuatan dosa maka turutilah. Tapi jika sebakiknya, kamu tidak harus mentaatinya. Namun kamu tetap harus berlaku baik padanya. Kamu paham kan?” menepuk pundak Mirza.


Mengangguk lagi. Kejadian pagi ini membuatnya semakin tertekan.


“Udah, jangan murung lu. Sana cepet pergi kerja, jangan berhenti ikhtiar. Allah pasti kasih jalan kok.” Om Jaka memberi semangat pada keponakannya.


Mirza hanya menjawab dengan dengusan kasar, wajahnya kentara bimbang.Ia seolah tak sanggup berkata-kata.


Mendekatkan mulutnya pada telinga Mirza, “kalo gue jadi elu, udah gue tinggalin tuh emak elu. Biar dia tau rasa sendirian dalam keadaan sakit begitu. Ntar juga dia nyariin elu, dan saat itu elu paksa dia harus nerima elu sama Via selamanya.”


“Ngomong apa sih, pake bisik-bisik segala?” Pak Haji Barkah menepuk punggung Om Jaka.


“Nggak papa Yah,” Om Jaka nyengir, kalo sampe dia ketahuan ngasih nasehat yang nggak bener pasti udah kena semprot ayah mertuanya.


“Emak elu emang udah mati hatinya, hanya Tuhan yang mampu memberinya hidayah.” Pungkas Om Jaka antas berpamitan pada Mirza.


Mirza tau ia sudah sangat terlambat masuk kerja, namun ia rasa belum terlambat untuk terus membujuk Via agar mau merubah pendiriannya. Mirza yakin cinta mereka masihlah sama besarnya, Via pasti akan bersedia berjuang kembali dengannya.


Seiring dengan matahari yang terus merangkak naik, seirama dengan hembusan angin yang memberi kesejukan, Mirza melantunkan doa-doa pengahrapan sepanjang perjalanannya menuju tempatnya bekerja.Hati ibunya mungkin telah mati, namun hati Via pasti selalu hidup dan disana terukir namanya untuk selamanya.


-


-


-


“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.” (QS. Al – Baqarah : 7)


Naudzubillah!


❤️❤️❤️❤️❤️


Readers, gimana… sehat semua kan ….?


semoga aman ya, tensi darah nggak pada naik gagara beberapa bab belakangan kenceng mulu ritmenya 🤭


bab selanjutnya othor kasih yang slow deh 😊


Jempol jangan lupa ya… 😄


like udah belum??😂


Komentarnya ditinggu banget….😁❤️

__ADS_1


Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan di bab ini ya 🙏🙏


I love you all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2