
Di rumah Mirza,
Udin menunggu di teras sedangkan Mirza mempersiapkan semua surat-surat kendaraan, lantas segera memberikannya pada Udin begitu keluar.
“Berikan ini pada ibu dan bilang masalah surat-surat tanah akan aku urus secepatnya.” Tukas Mirza.
Udin hanya melongo, sepertinya telah terjadi sesuatu yang sangat serius anatar majikannya dan Mirza.
“Kenapa masih bengong? Cepet pulang sana!” Perintah Mirza.
“Ba baik, Mas.” Udin menjawab sedikit tergagap dan cepat berlalu dengan motor Bu Een.
Mirza segera masuk dan menuju kamar. Dia melihat istrinya meringkuk membelakanginya menghadap dinding. Mirza duduk di bibir ranjang mengusap rambutnya kasar.
Tak ingin membuang waktu terlalu lama, Mirza menghubungi Yana sahabat Via yang bekerja di kantor notaris PPAT.
“Halo, Popaye. Ada apaan, kok tumben nelpon aku? Olive mana?” Sapa Yana dengan suara khasnya yang cempreg begitu menerima panggilan telpon dari Mirza.
“Ada. Eh, aku mau minta tolong nih Yan.” Ucap Mirza langsung pada permasalahan.
“Soal apa?”
“Soal ngurus sertifikat tanah.”
“Wow! Kamu baru beli tanah lagi, Popaye? Gila, bener-bener pelaut hebat kamu! Tanah dimana-mana ya?” Yana heboh sendiri memuji suami sahabatnya itu.
“Bukan, aku mau ngurus pindah nama.” Sahut Mirza sedikit kesal.
“Lho, maksudnya?”
Mirza gusar, gimana cara ngomongnya. Nggak enak juga kalo harus ngomongin di telpon. Mirza melihat pada Via yang masih tak bergeming membelakanginya.
“Hoy, Popaye! Maksud kamu gimana?” Tanya Yana menyadarkan Mirza.
“Gini aja deh, sore ini kita ketemu ya. Bisa kan? Nggak enak kalo mau ngomongin di telpon.”
“Sore ini ya, hemmm…” Yana berpikir sejenak. “Besok aja ya, aku udah ada janji soalnya.”
“Ok.”
KLIK
Mirza mengakhiri teleponnya. Tanpa Mirza ketahui ternyata Via mendengarkan percakapannya dengan Yana.
“Mas?” tegur Via mengagetkan Mirza.
Mirza menoleh sedikit terkejut.
“Ya, sayang.” Sahut Mirza dengan wajah sendu.
Via bangun beringsut ke dekat suaminya.
“Mas ngomongin pindah nama apa maksudnya sama Yana tadi?”
Mirza menyerongkan posisinya sehingga mereka saling berhadapan kini.
“Sayang, dengarkan Mas." Mirza meraih kedua telapak tangan Via, menggenggamnya erat. "Maaf kalo Mas selama ini udah banyak menyakiti kamu, tapi sebentar lagi nggak akan ada yang mengusik ketenangan rumah tangga kita lagi. Mas akan memberikan semua tanah, rumah dan kendaraan yang Mas punya menjadi milik ibu. Apa kamu keberatan dengan semua ini?” Mirza menatap lurus manik mata hitam milik istrinya.
Via tak bisa menyembunyikan kekagetannya. “Semuanya? Apa Mas sudah pikir masak-masak?”
Mirza menghela nafas berat. “Nggak ada cara lain lagi, sayang. Selama ini yang ada dipikiran ibu hanya harta. Sikapnya yang begitu acuh padamu juga karena kekhawatirannya soal harta.” Tutur Mirza hati-hati sekali. “Dan Mas yakin, tadi juga ibu telah melontarkan kata-kata yang menyakiti hatimu lantaran soal harta.”
Via menunduk, perih dihatinya kembali terasa. Masih terngiang ditelinganya bagaimana kata-kata pedas menyakitkan dari mulut ibu mertuanya yang menuduhnya dan keluarganya sedemikian rupa.
Mirza meraih dagu Via perlahan untuk kembali menatapnya.
“Apakah kamu bersedia hidup denganku jika aku tak punya apa-apa?” Tanya Mirza dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
Perkataan Mirza membuat kedua mata Via berkaca-kaca, laki-laki di hadapannya rela kehilangan segalanya demi dirinya.
“Mas, aku … “ Via tak sanggup melanjutkan kalimatnya karena butiran bening sudah meluncur bebas di kedua pipinya.
Mirza meraih istrinya dalam pelukannya. “Aku janji, kita akan selalu bersama walau apapun yang terjadi.”
Via mendorong tubuh suaminya perlahan.
“Mas, tapi ibu adalah ibu kandungmu. Berdosa sekali jika kamu menjauhinya.”
“Mas nggak membenci ibu, sayang. Mas hanya ingin agar ibu tahu bahwa kita benar-benar saling mencintai.” Mirza mengusap pipi Via yang basah.
“Maafkan aku, Mas. Maafkan aku yang membuat hubungan Mas dan ibu jadi begini. Seharusnya memang dari dulu kita nggak memaksakan hubungan kita.”
“Ssstt.” Mirza menempelkan telunjuk kanannya pada bibir Via. “Tuhan yang telah menakdirkan kita untuk bersama. Kamu jangan bilang begitu, sayang. Kita berdua harus bisa membuktikan bahwa semua sangkaan ibu itu salah.”
Tak ingin mendengar kata apa-apa lagi dari mulut istrinya, Mirza kemabali meraih tubuh Via ke dalam pelukannya.
Bahagia? Mungkin. Mungkin Via bahagia pada suaminya yang sangat mencintainya dan rela melepaskan semua yang dia punya demi untuk selalu bersama dengan dirinya. Namun tak bisa dipungkiri, dalam hati kecil Via ada pearsaan bersalah. Bagaimana pun juga, Via itu perempuan yang baik, dia merasa sangat berslah karena telah membuat hubungan ibu dan anak menjadi renggang.
__________
Pukul 7 pagi, Jane asisten pribadi Ramzi sudah tiba di kediaman keluarga Husein bersama seorang pria kemayu yang membawa beberapa koper besar bersamanya.
Nyonya Husein telah membangunkan Sofi sejak subuh tadi dan menyuruhnya bersiap. Maka ketika Jane, perempuan tinggi langsing berambut keriting panjang pirang itu datang, Sofi sudah siap di depan cermin.
“Wow, yei look so beautiful, ciin …” Puji Pria kemayu yang diketahui bernama Bobi itu begitu melihat Sofi. “Ini sih eike kagak perlu lamberta permak yei, ciin.”
Bobi meraih alat tempurnya yang berada di dalam koper, lantas tangan gemulainya mulai beraksi.
“Pantas aja bos yei ngebet banget ya ciin nikahnya dadakan begindang.” Bobi cekikikan sendiri sambil melihat Jane.
Jane hanya memutar bola matanya, sementara Sofi tak bereaksi sedikit pun.
“Yei kaku banget sih, cin. Dih, eike jadi berasa ngerias mayat deh, grogi ya ciin?” Canda Bobi pada Sofi.
“Iye, ni bentar lagi juga kelar. Tinggal cari bajunya yang cucok.” Bobi kemudian meraih koper yang paling besar dan memeriksa isinya. “Eh, lupita eike. Bajunya masih di hanger ada di mobil. Sebentar ya, Cin.”
Bobi berlari kecil dengan gaya gemulainya menuruni tangga dengan tergesa.
“Hup! Aduh!”
Karena buru-buru, si Bobi sampe nggak ngeliat jalan dan menubruk Azad yang mau naik ke lantai dua.
“Eh, ati-ati dong, Mas.” Ucap Azad.
“Woow, Aksay kumar!” Mata Bobi langsung berbinar penuh lope-lope begitu melihat wajah Azad.
Azad melotot mendengar gaya bicara laki-laki di depannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa tubuh tegap berisi laki-laki di hadapannya itu dalemannya ternyata lembek kaya kerupuk kesiram kuah bakso.
“Oh, Bang Aksay Kumar, mau dong eike jadi Kareena Kapoornya.” Bobi menjawil dagu Azad gemas sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
HAH?
Azad langsung kaget, dan mengusap dagunya kasar yang telah dijamah mahluk jadi-jadian macam Bobi.
“Kapur apaan? Kapur ajaib apa kapur barus?” Sengit Azad.
“Kapur tulis aja deh, buat nulis nama Bang Aksay dihatiku …”
Ting ting ting …
Bobi mengedipkan matanya beberapa kali mirip orang cacingan.
“Bobi ….!!” Lengkingan suara Jane dari undakan tangga paling atas mengagetkan Bobi yang lagi genit-genitnya. “Ngapain lu masih di situ? Elu mau dikutuk sama bos gue jadi Bajay?” Jane melotot dengan wajah galak.
“Eh, iya iya … “ Bobi langsung berlari demi mendengar ancaman Jane.
__ADS_1
“Maaf ya.” Ucap Jane pada Azad.
“It’s OK” Azad coba ramah. “Oya, jam berapa acaranya akan mulai? Di masjid mana akadnya akan berlangsung.” Tanya Azad pada Jane.
“Jam 9, akadnya di sini.”
“Apa?” Azad kaget.
“Iya, disini. Kenapa? Bukankah akad nikah selalu di tempat mempelai wanita?” Tanya Jane santai.
“Tapi kenapa tak ada persiapan apa-apa?” Azad bingung.
“Bos Ram yang menginginkan seperti itu. Akadnya hanya dihadiri keluarga inti saja.” Terang Jane, lantas dia melihat jam tangannya. “Sebentar ya, gue cek persiapan di depan dulu. Seharusnya Bos Ram dan penghulu datang sbentar lagi.”
Jane melangkah ke depan sambil mengeluarkan ponselnya.
Azad terdiam. Pernikahan macam apa ini? Tak ada hiasan, tak ada hidangan, tak ada tamu undangan. Azad melangkah gontai untuk menemui ayahnya. Ia tak ingin mengatakan itu semua pada Sofi karena sudah pasti kakaknya akan kecewa. Siapaun pasti mendambakan pernikahan yang meriah, meski hanya sekedar akad saja.
Setengah jam kemudian, Ramzi tiba bersama Tuan Alatas dan dua orang kepercayaannya. Hanya itu, tak ada orang lain. Sofi yang sudah siap dengan gaun pengantin putih berenda nampak makin cantik dan menawan, namun tak terbit seulas senyum pun di wajahnya. Nyonya Husein memandang sendu putrinya yang sudah berada di ruangan berbeda dimana calon mempelai pria berada di ruang tamu untuk melaksanakan ijab qobul.
Azad ke ruang tengah untuk menanyakan kesiapan kakaknya yang hanya dijawab anggukan samar oleh Sofi.
Azad mengerti benar keadaan kakaknya. Harusnya jika Ramzi sangat mencintai Sofi, pastilah menggelar akad yang sangat meriah meskipun ini dadakan. Toh, dia sudah melamar Sofi dan mempersiapkan segalanya dari sebulan yang lalu. Daim-diam Azad menaruh kejengkelan pada Ramzi yang seolah sudah merendahkan derajat keluarganya.
Ramzi pun hanya mengenakan setelan jas biasa, bukan gamis dan igal (ikat kepala) yang biasa dikenakan para pengantin keturunan arab kebanyakan. Juga tak ada hadrah marawis yang mengiringi kedatangan calon pengantin pria karena Ramzi hanya datang dengan ayahnya dan 2 orang keprcayannya.
Azad kembali ke ruang depan dan memberitahukan kesiapan Sofi setelah menyambut seorang temannya untuk turut menjadi saksi nikah. Saksi nikah dari pihak Sofia adalah Azad dan temannya. Sedangkan dari pihak Ramzi adalah dua orang kepercayannya itu.
Akad nikah pun segera dilaksanakan setelah pembacaan khutbah tentang keutaman-keutamaan menikah. Ramzi menjabat tangan Tuan Husein mantap.
“Saya terima nikah dan kawinnya Sofia Alta Husein Binti Ali Husein dengan maskawin 1000 gram emas batangan, satu unit mobil sport BMW 320i dan Perusahaan Alta Company dibayar tunai.”
Demikian Ramzi sangat lancar dan lantang mengucapkan kalimat akad.
SAH
Semuanya serempak menjawab dan langsung mengucap hamdalah. Penghulu memimpin doa akad dan semuanya mengamini denagn khusyuk.
Tuan dan Nyonya Husein tak kuasa menahan air matanya. Entah mereka bahagia karena Sofi berhasil menikah dan tak akan mengembara lagi kayak Ninja Hatori, atau mereka bersedih karena putri mereka harus menikah dengan cara yang seperti ini.
Sofi langsung diantar ke ruang depan diiring Nyonya Husein dan Jane. Tanpa ekspresi Sofi mencium punggung tangan Ramzi. Pun dengan Ramzi, dia mencium kening Sofi yang kini sudah sah menjadi istrinya tanpa senyum.
Setelah itu, keluarga Ramzi pun pamit membawa Sofi bersamanya. Tak ada acara Jalsah Galwa yang biasa digelar setelah acara akad dimana kedua keluarga akan berkumpul bersama untuk sekedar minum kopi dan menyantap makanan ringan untuk saling mempererat silaturahmi. Pun tak ada acara Gambusan yang melantunkan lagu-lagu melayu dengan syair berbahasa arab diamana pasangan pengantin baru akan menari di tengah panggung bersama dengan beberapa lelaki keturunan arab lainnya dan pasangan-pasangannya.
Rangkaian acara akad berjalan sangat singkat, dan tak meninggalkan kesan apapun bagi Sofi. Nyonya Husein melepas kepergian putrinya dengan berat hati. Bahunya berguncang menyaksikan mobil yang dianiki Sofi keluar dari halaman rumahnya. Tuan Husein merangkul pundak istrinya untuk menenangkannya. Azad menatap lurus tanpa kata, hatinya sakit melihat kakaknya harus menikah dengan cara yang seperti ini. Akan tetapi sebuah colekan dipinggangnya mengagetkannya.
“Hai, Bang Aksay. Eike pulang dulu, ya. Kapan-kapan kita ketemu lagi.” Pamit Bobi dengan gaya kemayunya sambil menyeret dua koper besar bersamanya.
_____________
Naah, sudah SAH sodara-sodara 😂😂
Sofi dan Ramzi akhirnya menikah juga 😁😁
Yaa…, walupun nikahnya sepi kagak ada apa-apanya ya😅😅
Untung nggak pada dateng ya Kak... Coba kalo pada kondangan, pasti kecele, hehe…😆😆😆🤭🤭🤭
Well, kenapa sih Ramzi kok pelit banget akad aja nggak ada aqua gelas atau bolu barang seiris pun? Hehehe…, liat di sepisode nanti ya Kak…😉😉😉
Oya, buat info aja, barangkali ada yang lupa nih. Itu mobil kan sebenarnya hadiah lamaran buat Sofi ya, tapi karena dibalikin ya udah sekalian buat maskawin aja, gitu deh pikir Ramzi kira-kira 😅😅
Oke, akak… sgini dulu ya…🤩🤩🤩
Like, komen, rate 5 dan votenya jangan lupa yaa…😍😍😍😍
Terima kasih🙏🙏🙏❤️❤️❤️
__ADS_1
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘