
Ceklek.
“Kak Ram!”
Suara teriakan geram segera memenuhi ruangan setelah pintu ruang kerja Ramzi terbuka. Hal itu mebuat Ramzi dan Jane langsung berdiri menyudahi adegan romantis yang baru setengah jalan itu.
“S-Sofi?” Desis Ramzi tak percaya melihat Sofi kini ada di hadapannya.
“Apa yang Kak Ram lakukan dengan dia?” Sofi menunjuk pada Jane yang tampak sangat kikuk karena tertangkap basah oleh istri bosnya sendiri.
“Sofi, aku bisa jelaskan.” Ucap Ramzi seraya berjalan mendekati Sofi.
Namun bukan Sofi namanya kalau tak bertindak barbar, dia berjalan lebih cepat mengahmpiri Jane yang hanya menunduk diam.
SREET!
BRUUK!
Sofi menarik rambut Jane kemudian menghempaskannya hingga Jane jatuh terjengkang ke belakang menabrak kursi kerja Ramzi.
“Sofi! Apa yang kau lakukan?” Pekik Ramzi kaget tak menyangka kelakuan Sofi pada Jane.
“Diam disitu!” Perintah Sofi pada Rmazi, kemudian ia kembali berbalik menatap nyalang pada Jane yang sedang meringis kesakitan karena bokongnya telak mencium lantai.
“Kemari kau!” Sofi kembali menarik rambut Jane hingga perempuan itu meringsi kesakitan.
“Aaw!”
“Berani kau menggoda suamiku, hah? Sudah bosan, hidup kau rupanya!”
PLAK!
PLAK!
Sofi menampar pipi Jane kanan kiri boak balik.
Belum paus menampar, Sofi kembali mendorong Jane hingga terjerembab kembali ke lantai. Ramzi mencoba menolong Jane yang sudah tampak tak berdaya menadapat amukan Sofi.
Tak terima dengan suaminya yang malah hendak membantu Jane berdiri, Sofi semakin menggila, semua benda yang ada di atas meja kerja Ramzi semuanya melayang dilemar dengan brutal ke arah Jane, Ramzi yang iba coba menghalangi dengan tangannya namun tak mampu menahannya juga.
“Sofi, cukup! Hentikan!” Bentak Ramzi yang berhasil mencekal tangan Sofi.
“Lepas! Kau membela parempuan itu?” Sofi mengibaskan tangannya, hingga terlepas karena saking kuatnya tenaganya.
“Sofi, dengar. Aku bisa menjelaskan, semua yang kamu lihat tak seperti yang ada dalam pikiranmu.” Ramzi berusah bernegosiasi karena sadar tak mampu menghadapi Sofi dengan kekerasan.
“Tak seperti yang ada dalam pikiranku, katamu? Kau pikir aku buta? Kau pikir aku bodoh?” Geram Sofi dengan nafas yang tersengal, emosinya masiih berada di puncak ubun-ubun. “Siapapun yang melihat perbuatan kalian barusan pasti akan berpikiran sama denganku! Dasar kau perempuan murahan! Tak tau diri!”
sofi kembali menyerang Jane yang sudah tak karu-karuan lagi tampangnya.
Jane berusaha menghindah meski sia-sia.
“Akan aku tunjukkan seperti apa kau seharusnya!”
KREEK!
KREEK!
PRAL!
Sofi menarik kemeja Jane dan membukanya paksa hingga robek dan semua kancingnya terlepas membuat dada Jane terekspose ke luar.
“Begitu lebih pantas untukmu! Sekarang pergi kau dari sini, pergi!” Usir Sofi bengis.
__ADS_1
Jane yang tak punya keberanian melawan, hanya bisa menangis sambil berusah menutupi dadanya dengan mengatupkan kembali kemejanya yang robek. Dia berlari keluar dengan air mata bercucuran. Beruntung kantor sedang sepi karena para karyawan sudah pergi untuk makan siang jadi tak ada yang menyaksikan keributan yang maha dahsyat tu.
“Kau sudah keterlaluan!” Ramzi mendekati Sofi dengan bringas.
“Apa? Kau mau menamparku? Tampar!” Sofi memasang wajahnya dengan sangat berani dan menatap Ramzi dengan kilatan amarah yang semakin membuncah. “Tampar aku sekarang! Ayo, lakukan!” Teriak Sofi.
Ramzi mengurungkan niatnya yang memang mau memberi istrinya itu peringatan atas sikapnya yang sangat keterlaluan pada Jane.
“Kau lebih membela perempuan tak tau malu itu dari pada aku istrimu?” Sinis Sofi.
“Kau sebut dia seperti itu, lantas bagaimana denganmu?” Balas Ramzi dengan seringai kebencian.
“Aku?" Sofi menunjuk dirinya sendiri. "Memang aku tak lebih baik darinya. Kau sudah tau kan, tapi kenapa kau masih menginginkanku?” Sofi menantang dan tak gentar sedikitpun. “Sekarang ceraikan aku! Aku sudah muak denganmmu!”
“Apa katamu, cerai?” Ramzi kage tak percaya. “Enak saja! Setelah semua yang kau dapatkan dariku, kau memintaku untuk menceraikanmu?”
“Kalau begitu kenapa kau tak memperlakukanku dengan baik? Padahal aku sudah berniat akan memulai lenbaran baru denganu. Tapi kau malah berselingkuh dengan asistenmu yang tak punya harga diri itu!” Sofi mulai menitikkan air mata.
“Aku nggak selingkuh!” Ramzi membela diri.
“Lalu yang aku lihat barusan itu apa? Kalian hampir berciuman, kalian melakukannya di kantor! Menjijikan!”
“Aku bilang aku nggak selingkuh! Kamu harus percaya padaku! Semua itu hanya kesalahpahaman!”Ramzi kukuh.
“Aku tida percaya. Jika kamu tak mau menceriakanku, maka aku yang akan menggugatmu! “
“Tidak!”
“Apa lagi? Aku nggak mau kau selingkuhi karena aku sudah mulai mencintaimu. Apa pengorbananku kau anggap sia-sia? Aku bahkan merelakan janinku lenyap hanya karena ingin memulai hidup baru denganmu.” Sofi terisak-isak di depan Ramzi. “Aku tahu ini semua perbuatamu. Kau sengaja melakukannya dnegan dokter itu kan? Iya kan? Katakan!” Sofi menguncang-guncang bahu Ramzi dengan air mata yang semakin deras mengalir.
Ramzi tertegun.
“Jika aku mau, aku bisa saja mengusut semuanya. Tapi aku tidak melakukannya, semua itu karena apa kau pikir, hah? Karena aku sadar, aku bersalah padamu, aku ingin memulainya lagi dari awal. Aku ingin berusaha mencintaimu dan menjadi istrimu seutuhnya. Tapi kau malah berselingkuh! Hu..hu…hu…” Sofi terus menangis hingga dadanya tersengal-sengal karena isaknya yang semakin menjadi.
Ramzi berada di titik lemah, ia menyadari Sofi sudah benar-benar berubah.
“Tidak, aku tidak percaya!” Sofi melepaskan tangannya dan berpaling.
“Aku berani bersumpah! Aku akan melakukan apa saja demi kau percaya padaku.”
Sofi menoleh menatap lurus pada suaminya.
“Kalau begitu pecat dia!”
Ramzi terdiam beberapa saat dan menghela napas berat. Jane sudah bekerja padanya hampir lima tahun, selama itu dia sangat banyak membantu dan dapat dipercaya. Dia juga teman yang syik karena selalu bisa diandalkan dalam berbagai situasi, termasuk diajak bersenang-senang dalam keadaan pikiran Ramzi sedang kacau.
“Pecat dia atau ceraikan aku!” Dsak Sofi.
“Baik, aku akan memecatnya.”
Senyum simpul terukir di wajah Sofi yang masih penuh air mata.
“Terima kasih, Kak Ram.” Sofi memeluk Ramzi.
Ramzi membalas pelukan Sofi erat. “ Kita akan benar-benar memulainya lagi dari awal.” Bisik Ramzi pada telinga Sofi.
Sofi mengangguk. Ramzi tersenyum bahagia, dia lega karena berhasil mendapatkan seorang istri seperti yang diinginkannya selama ini.
Namun tanpa Ramzi ketahui, dibalik pelukan itu diam-diam Sofi tersenyum licik.
______________
Dokter baru saja selesai dengan pemeriksaan USG dan memberikan foto hasil USG pada Via.
__ADS_1
“Dokter, apa ini maksudnya? Apa kandungan saya baik-baik saja?” Tanya Via, karena dokter yang memeriksanya belum mengatakan tentang kondisi janinnya sedari tadi.
“Ibu Via mengalami kehamilan ektopik, atau istilah lainnya disebut kehamilan di luar kandungan.”
JLEDER!
Kalimat dokter kandungan senior itu bagaikan kilatan petir menyambar tubuh Via di siang bolong.
Via terdiam tak percaya.
“Kehamilan ektopik, Dok?” Ulang Riri ragu.
“Betul. Hal itu terjadi karena sel telur yang telah dibuahi tidak tumbuh pada tempatnya, tapi menetap di sini. Di saluran tuba falopi.” Dokter itu menunjuk foto hasil USG sambil menjelaskan.
Riri coba ikut memperhatikan foto yang bagi Riri tak berarti apa –apa itu. Dia sama sekali tak bisa melihat denga jelas gambar itu, karena menurutnya foto itu sama saja, tak ada gambar apa-apa di sana. Dan apa tadi, tuba falopi? Istilah yang satu itu sih rasanya ia pernah mendengarnya waktu pelajaran Biologi ketika masih sekolah.
“Seharusnya sel telur yang telah dibuahi hanya tinggal di tuba falopi hanya kurang lebih tiga hai saja, selanjutnya akan dilepaskan ke rahim dan berkembang disana. Tapi yang terjadi pada kandungan Ibu Livia, tidak seperti itu. hal ini menybabkan kondisi yang saya sebutkan tadi, kehamilan ektopik atau diluar kandungan. Dan ini harus segera diatasi karena jika dibiarkan bisa fatal.” Papar doketer panjang lebar.
Penjelasan dokter itu membuat tubuh Via gemetar. Ia ingin tak percaya dengan penjelasan dokter yang didengarnya. Rasanya tulang-tulangnya terasa copot semua, tubuhnya terasa begitu lemas. Kehamilan yang sudah sekian tahun dinantikannya bersama sang suami, kini haruskah berakhir seperti ini? Via masih berharap dokter itu salah bicara atau salah mendiagnosa.
Riri yang menyadari perubahan raut wajah Via segera merengkuh pundak kakaknya itu.
“Tapi Dok, kakak saya pada masa awal ia diketahui hamil sepertinya baik-baik saja tak ada masalah. Dan baru mengeluh sakit perut hari ini.” Ungkap Riri yang memang tak tau kalau Via sudah sering mulai merasakan nyeri sejak dari beberapa hari yang lalu.
“Kehamilan ekopik memang cenderung tidak menunjukkan gejala berati, Bu. Karena memang pada tahap awal gejalanya sama seperti orang hamil pada umumnya. Hanya mungkin mual dan lemas saja. Pada tingkatan berikutnya, kondisinya akan lebih serius seiring bertambahnya usia kandungan, seperti nyeri dibagian perut bawah, sakit di area panggul, dan sebagian tubuh seperti, tengkuk dan pundak, bahkan bisa menyebabkan perdarahhan pada va**na.”
Riri mangagguk pertanda mencerna semua penjelasan sang dokter. Via pun membenarkan penjelasn itu dalam hati, dirinya memang kerap nyeri perut di bagian bawah dan merasakan leher serta pundaknya sering sakit. Jadi, apakah diagnose dokter ini benar? Via membatin sambil berusaha mengusai dirinya meski air matanya sudah menggenag di kedua pelupuk mata indahnya.
“Lalu tindakan apa yang haus dilakukan, Dok?” Tanya Riri.
“Jaringan ektopik harus segera diangkat, Bu, agar tak mengakibatkan komplikasi yang serius. Dan ada beberapa tindakan yang bisa diambil. Dainataranya dengan suntik methotrexate, oprasi laparoskopi, dan oprasi laparotomy.” Papar sang dokter.
“Dokter, mohon maaf sebelumnya.” Riri menyela sebelum dokter itu menjelaskan lebih lanjut. “Saya hanya ingin yang terbaik untuk kakak saya, lakukan apapun. Maaf, karena saya tak begitu memahami isilah medis, dan suami kakak saya ini sedang diluar kota, jadi saya hanya ingin tindakan yang cepat untuk kakak saya saat ini.”
Dokter pun mengerti dengan maksud Riri, sementara Via dari tadi hanya diam saja.
“Baiklah, Bu. Untuk saat ini saya akan memberikan obat pereda nyeri terlebih dahulu, karena untuk melakukan tindakan selanjutnya harus dialakukan tes darah terlebih dahulu agar lebih akurat untuk mengetahui kadar hormon hCG dan progesterone yang ada, karena pada kasus kehamilan ektopik kadar kedua hormon itu lebih rendah daripada kehamilan normal.”
“Lakukan yang terbaik, Dok. Saya percaya sama Dokter.” Riri pasrah.
“Saya buatkan resepnya, datanglah kembali besok untuk tes darah, Bu. Selanjautnya kita akan ambil tindakan apa yang lebih tepat untuk kakak ibu.” Ungkap doktervitu lantas menuliskan resep.
Meski Riri risih sedari tadi dipangil Bu terus sama sang dokter, tapi ia tak ingin menggubrisnya. Ia hanya fokus pada keadaan kakaknya. Padahal dirinya sempat membatin kesal. “tampangku apa udah kayak ibu-ibu ya? Dari tadi nih dokter manggil Bu terus?”
“Nah, ini resepnya. Silakan ke apotik, dan jangan lupa datang lagi besok, Bu.” Dokter itu memberikan resp pada Riri.
Nah kan, panggil Bu lagi.
“Baik, terima kasih Dok.” Ucap Riri lantas menggandeng Via ke luar ruangan.
____________
Huaaaah...., sediiih dong pasti Via 😢😢😢
heheee, maafin othor ya. Alurnya memang harus belok dulu kesini, Kak 😀
Kalo lurus terus nanti nabrak dong 😅😅😅
Oke yuk, lanjuut.....
Di depan bakalan ada yang bikin nganu 🤭🤭🤭
Eits, jempolnya dulu dong Kakak... 😉😉
__ADS_1
komen jangan lupa...😀😀
Cuus... baca lagi 😍😍