TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
287 #CEMBURU


__ADS_3

Pak Norman membukakan pintu mobil untuk Via dan Mirza sementara Jumilah sudah turun mengambil stoller di bagasi. Istana sudah nampak sepi padahal baru jam 7 malam, mungkin Tuan Alatas sudah berada di ruangannya untuk istirahat. Mereka baru mencapai ruang tengah ketika satu suara menyapa mereka.


“Bagaimana hari libur kalian?”


Semuanya serempak menoleh, ternyata sang Tuan besar tengah duduk di temani Gerald .


“Oh, Tuan.” Mirza sedikit surprise. “ Anda disini rupanya? Saya kira –“


“Kalian bersenang-senang?”


Tersenyum, “ya, seperti saran Anda.”


“Apa anakmu tidur?” beranjak menghampiri seolah ingin memastikan Nala di dalam stollernya.


Via mengangguk, “dia sudah tertidur sejak kami sampai di dermaga, Tuan.”


“Pasti dia kelelahan,” melihat sebentar pada Nala yang sangat pulas.


“Kami permisi ke kamar, Tuan,” ucap Mirza.


“Aku tunggu kalian untuk makan malam setengah jam lagi.”


Via dan Mirza tentu tak berani membantah walau badan mereka terasa lelah, gegas mereka menuju kamar untuk membersihkan diri. Jumilah sempat mencuri pandang pada Gerald yang berdiri tegap di belakang sang Tuan. Hatinya tetiba dag dig dug membayangkan besok bakal jalan bareng si mas gantengnya itu.


Selang tiga puluh menit Via dan Mirza turun namun tak melihat Tuan Alatas di ruang makan. Sayup terdengar suara orang berbicara dari ruang depan.


“Gerald,” Mirza mengehentikan langkah Gerald yang masuk dengan tergesa. “Apa Tuan Alatas sedang ada tamu?”


“Ya.” menyahut singkat lantas gegas menuju ruang kerja Tuan Alatas.


Mirza heran sepertinya Gerald tergesa-gesa begitu, ia melangkah ke ruang depan hanya untuk melihat siapa tamu sang Tuan Besar. Terhenti jauh dari pandangan kedua manusia yang tampak tegang di ruangan. Ramzi masih menenteng tas kerjanya lengkap dengan setelan jas berdiri dengan raut datar, Mirza yakin Ramzi belum pulang ke rumah lepas dari kantornya. Tuan Alatas duduk di atas sofa beludru memainkan cerutunya.


“Papa salah paham,” terdengar suara Ramzi lirih.


“Aku tidak mau dengar penjelasanmu.”


“Tapi Papa harus tau, aku kesini hanya untuk meminta Papa menandatangani berkas kerjasama, bukan untuk menanyakan –“


“Ini Tuan,” Gerald yang baru tiba menyodorkan beberapa map pada Tuan Alatas.


“Berikan padanya,” titah Tuan Alatas dingin.


Gerald memberikannya pada Ramzi, ”silakan Anda terima.”


“Semua anak perusahaan dan hotel sekarang sudah menjadi milikmu, ambil dan pergilah.”


Ramzi masih belum menerima map yang Gerald sodorkan, ia menatap papanya dengan pandangan sulit diartikan.


“Apa lagi?” membalas dengan tatapan tajam, “itu kan yang kamu inginkan?”


Ramzi menggeleng, “rendah sekali papa menilaiku. Aku tidak butuh itu semua, Pa,” ungkap Ramzi getir.


Tersenyum sinis, meminta Gerald menyalakan korek dengan isyaratnya. Kepulan asap menguak udara. Ini kali pertama Mirza melihat Tuan Alatas merokok, dan terlihat aneh baginya.


“Kamu pikir aku tidak tau keadaan perusahaan mertuamu?” sambung Tuan Alatas.


“Tapi aku datang kesini tidak untuk mengemis, aku ingin menawarkan kerja sama secara terhormat.”


Bangkit perlahan mengalihkan topik pembicaraan, “kalau kau masih ada waktu, aku mengundangmu untuk makan malam.”


Mirza segera menarik diri, ia kembali ke ruang tengah sebelum Tuan Alatas melihatnya.


“Papa, aku bukan tamu disini. Aku datang ke rumahku sendiri untuk menemuimu.”


“Apa kamu lupa bagaimana kau meninggalkan rumahmu sendiri? Masih kamu merasa kalau disini rumahmu?” menyalak nanar.


“Pa, aku minta maaf –“ Ramzi tercekat.


“Pergi dan katakan pada istrimu, dia perlu menyingkirkanku lebih dulu jika yang kamu dapatkan sekarang belum cukup untuk memuaskan ambisinya,” berbalik seraya meninggalkan kepulan sisa pembakaran ceritunya.


“Pa, tunggu!” Ramzi mengejar namun Gerald menghentikannya.


“Apa Tuan muda akan ikut makan malam?”


“Gerald, kamu ini apa-apaan sih? Aku harus menjelaskan semuanya pada papa!” Ramzi kesal Gerald menghalangi langkahnya.


“Maaf Tuan muda, sabaiknyaAnda pergi dan ambil ini,” kembali menyodorkan map.


Mengambil semua map dengan kasar lalu melemparkannya hingga berserak di lantai. “Aku nggak butuh ini semua!” memutar langkah pergi membawa kekecewaan yang amat mendalam.


-


-


-


Suster Inez baru saja selesai memakaikan baju baby Arfan, Sofi mengangkat putra kesayangannya ke dalam pelukan, menciumi aroma wangi khas kesukaan.


“Terima kasih, Sus, “ucapnya.


Suster keluar besamaan dengan Ramzi yang baru masuk. Sofi hanya memperhatikan suaminya yang tampak kusut menuju meja kerja di sudut kamar. Ramzi duduk seperti mencari sesuatu. Bukankah ini akhir pekan, kenapa suaminya itu tampak sibuk begitu?


“Kak, lihat sini,” panggil Sofi coba mengalihkan kesibukan sang suami.


Masih mencari sesuatu tak mengindahkan panggilan Sofi.


“Kak, kamu cari apa sih?” Sofi penasaran membawa baby Arfan mendekat.


“Kamu lihat berkas yang semalam aku bawa?”


Berpikir sejenak, “berkas apa?”

__ADS_1


Dari nada bicara istrinya, Ramzi yakin Sofi tak tau apa-apa. Lantas pandangannya beralih pada sang putra yang tengah memainkan tali pita baju Sofi hingga berusaha melahap ke dalam mulut mungilnya.


“Kenapa Arfan bersamamu? Susuter Inez kemana?”


“Aku suruh dia jalan-jalan, ini kan akhir pekan.”


Mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.


“Omong-omong apa kamu juga nggak mau ngajakin aku dan Arfan jalan-jalan?”


Sebenarnya suasana hati Ramzi sedang tak telalu baik gegera peristiwa semalam dengan sang papa. Tapi ya sepertinya boleh juga ide Sofi untuk jalan-jalan, mungkin bisa membantu mengembalikan moodnya.


“Boleh, kau mau kemana?”


“Kemana saja asalkan ada wahana bermain untuk anak,” tersenyum lebar.


“Oke, nanti kita pikirkan sambil jalan. Tunggu sebentar ya, aku siap-siap dulu,”


Sofi tampak bahagia, ia berbicara pada sang putra. “Kita mau jalan-jalan, kamu senang kan, Sayang?”


Tak butuh waktu lama Ramzi sudah berganti baju lantas segara mangajak turun. Langkah mereka terhenti di ruang keluarga, perbincangan hangat tengah tercipta di sana.


“Azad, Jane? Kalian ada disini?” Ramzi menyapa lebih dulu.


“Hai, Kak. Iya, baru sampai belum lama.” Azad menyahut gegas menghampiri.


“Kalian sudah rapi mau kemana?” Nyonya Husein bertanya penuh rasa ingin tahu, sementara Tuan Husein hanya di tempatnya memperhatikan.


“Cuma keluar untuk kalan-jalan, Ma.“


“Hai, Arfan,” Jane mendekat pada stoller untuk menyapa sang keponakan. “ “Boleh aku menggendongnya?” melihat pada Sofi dan Ramzi.


“Kami mau pergi,” sahut Sofi pendek, kentara sekali dia enggan untuk lebih lama disana.


Jane tampak sedikit kecewa namun berusaha maklum.


“Maaf ya, kami pergi dulu.” Ramzi menepuk lengan Azad lantas segera meraih bahu Sofi.


Dalam perjalanan Sofi tampak membisu, Ramzi paham apa penyebabnya. Sekarang mood Sofi yang berubah buruk.


“Gimana kalo kita ke restoran favorit kita di –“


“Aku belum lapar,” pangkas Sofi.


“Kau mau belanja? Atau membeli suatu barang yang kamu inginkan?”


Menggeleng tak bersemangat.


“Kalo gitu kita ke –“


“Kak, kita tinggal di apartmen aja!” berujar tiba-tiba.


Mencari tempat pemberhentian lalu menepikan mobilnya, hanya menatap sejurus tanpa kata.


Menghela napas membuat sang istri menoleh, “Kak Ram keberatan?”


“Kita tak bisa terus menghindar dari orang yang tidak kita sukai, apalagi mereka keluarga kita sendiri.”


“Kak Ram bicara begitu karena senang bisa melihatnya kan?” bernada sinis penuh kecurigaan.


Malah tersenyum meraih jemari Sofi, namun cepat Sofi tepis dengan melipat kedua tangan di dada pertanda kekesalannya makin betambah. “Terserah penilaianmu, yang jelas aku punya kewajiban untuk mengingatkanmu sebagai istriku.” ucap Ramzi tenang.


“Akui saja!”


“Apa itu akan membuatmu puas?”


“Tuh kan, Kak Ram benar-benar senang melihat wanita itu!” memalingkan wajah keluar jendela.


“Dia adik iparmu sekarang.”


“Tapi aku benci dia, karena kalian pernah ada hubungan!”


Tersenyum samar seraya kembali memutar kunci, “Kalo kamu lebih bahagia hidup dengan bayang-bayang masa lalu, lanjutkan saja,” perlahan menginjak pedal gas kembali melaju ke jalanan.


“Kak, aku belum selesai!” protes Sofi jengkel.


“Nggak akan pernah selesai, karena kamu menganggap dirimu yang paling benar,” mengambil jalur lain yang semestinya karena tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya.


“Kita mau kemana?” bertanya karena jalan yang mereka lewati mencurigakan bagi Sofi.


Tak menyahut, tetap fokus pada kemudi tak menghiraukan Sofi yang makin kesal. Gerbang kokoh terbuka begitu mobil Ramzi sampai di depannya.


“Kamu mengajakku kesini?”


menatap sang suami tak percaya.


Mematikan mesin mobil, berucap dengan tatapan lurus. “Aku ingin kita memperbaiki semuanya, tolong bantu aku.”


Mendengus kasar, “papamu nggak suka sama aku! Percuma saja!”


“Itu PR buat kita untuk bisa mengubah pandangannya.”


“Aku bukan anak sekolah, jadi aku nggak punya PR!”


Membuka pintu mobil, “aku akan turun, terserah kalo kamu mau tetap disini. Tapi aku akan bawa Arfa menemui kakeknya,” turun lebih dulu membuat Sofi jengkel namun tak bisa melampiaskan emosinya. Terpaksa dia menurut walau hatinya ketar ketir dan kakinya seolah alot untuk melangkah.


Ramzi menggandeng sang istri, “tenanglah, ada aku suamimu,” tersenyum namun terasa getir untuk Sofi.


Pelayan membukakan pintu dan mengucapkan selamat datang, menunjukkan dimana sang Tuan Besar setelah Ramzi bertanya padanya.


Langkah-langkah berat bagi Sofi, mereka menuju taman samping yang asri. Pemandangan yang tak biasa bagi anak dan menantu itu. Tuan Alatas nampak sedang berada dengan Nala yang berada di kursi bayinya.

__ADS_1


“Dia tidak melepaskan jariku sedari tadi,” Tuan Alatas berbicara pada Mirza yang sedang menyiapkan obat untuk sang Tuan. Nala menggenggam telunjuk kanan Tuan Alatas sambil terus mengoceh riang.


“Itu tandanya dia menyukai Tuan,”


“Aku akan menelpon Gerald untuk membelikan mainan untuk anakmu,” meraih ponsel dengan tangan kirinya.


“Sebaiknya minum dulu obatnya, Tuan,” menyodorkan obat yang sudah disiapkan.


“Aku takut Gerald keburu pulang,”


“Dia dan Jumilah mungkin agak lama karena mereka jalan-jalan dulu,”


Tersenyum samar, “suatu kemajuan untuk Gerald.” Menaruh kembali ponselnya lantas segera meminum obatnya.


“Ramzi, Sofi?” Via yang muncul dari belakang membawa sebotol susu mendapati sepasang suami istri itu hanya berdiri di teras samping.


Tuan Alatas dan Mirza menoleh bersamaan, mereka tentu tak menyadari kehadiran Ramzi dan Sofi sedari tadi.


Ramzi tersenyum, “kami datang berkunjung,”


Mirza berdiri lekas menghampiri, “Ram, apa kau sudah lama?”


“Hem, baru saja.”


Mirza ingin mengajak mereka namun tentu saja karena dia bukan tuan rumah jadi tak punya kuasa. Ia melihat pada Tuan Alatas, namun sang Tuan memalingkan pandangannya. Via lebih merasa tak enak lagi, lekas ia hampiri Nala bermaksud untuk membawanya.


“Biarkan dia,” ucap Tuan Alatas melarang Via.


“Tapi dia harus minum susunya dulu, Tuan.”


“Dia suka disini. Berikan botol susunya,” Tuan Alatas meminta botol susu Nala.


Via nampak enggan, tapi siapa yang sanggup membantah titah Tuan Alatas. Pemandangan seperti itu tentu mengiris hati Ramzi dan Sofi. Mereka tentu tak menyangka kalau Via dan Nala berada di disini setelah menghadiri resepsi pernikahan Azad.


Mirza dan Via bingung harus bagaimana. Sofi sudah ciut sedari tadi, namun Ramzi malah mendorong stoller Arfan mendekat.


“Pa, aku datang bersama Arfan, cucumu.”


Tak menyahut, seolah kegiatan bersama Nala lebih membuatnya kelihatan sibuk. Nala pun nampak bersemangat menyedot isi botol susu yang dipegang Tuan Alatas.


Hening cukup lama tanpa ada yang tau masing-masing harus berkata apa, Sofi rasanya sudah ingin lari saja dari sana.


“Oh, jadi putramu Arfan ya namanya?” Via mendapatkan ide untuk menetralkan suasana. “Boleh ku gendong?”


Ramzi mengangguk.


“Halo, Arfan,” sapa Via sengaja mendekatkan Arfan pada sang kakek. “Apa kamu mau main sama Nala? Sebentar ya, Nala masih minum susu. Nanti kta main sama-sama, ok.”


“Sepertinya dia mengantuk,” Tuan Alatas melepas botol susu Nala yang sudah kosong, dan Nala memang terlihat sayup-sayup. “Bawa dia ke dalam, aku pun lelah mau istirahat.” Bangkit dari duduknya tak mempedulikan kehadiran anak, cucu dan menantunya.


Ramzi segera mengambil Arfan, “Pa, apa kau tak mau menyapanya. Dia –“


“Mirza, tolong bantu aku ke ruanganku di atas.” Sengaja memangkas kalimat Ramzi.


Tanpa menyahut Mirza gegas membantu sang Tuan, ia sempat melihat ekspresi Ramzi yang diliputi kekecewaan. Sofi yang sedari tadi mematung, buru-buru mengabil Arfan dan segera mendorong stollernya pergi dengan langkah lebar. Tak ada kata yang terucap, namun Via tau peasaan Sofi.


“Ram –“


“Nggak papa,” ucap Ramzi sebelum Via melanjutkan kalimatnya. “Aku nggak akan nyerah.”


Via salut dengan kegigihan Ramzi untuk kembali meraih hati ayahnya, ia tau Ramzi baik dan tulus.


“Kalo gitu aku duluan ya,”


Via hanya menagngguk, Ramzi menyusul Sofi yang sudah berada di luar. Menjadi asing di rumah sendiri memang tidak menyenangkan, namun Ramzi coba menekan sumua perasaan itu.


“Kak Ram liat sendiri kan tadi? Kita nggak dihargai sama sekali!” Sofi langsung menumpahkan isi hatinya begitu di dalam mobil. “Papamu lebih peduli pada Mirza, dan Via juga anaknya. Padahal siapa sih mereka? Kita justru yang lebih berhak dari mereka!”


Mulai melajukan mobil keluar dari istana megah Tuan Alatas.


“Aku nggak mau datang kesini lagi. Ini semua sudah cukup!” tegas Sofi.


“Begitulah rasanya jika mertuamu lebih peduli pada orang lain ketimbang pada menantunya sendiri.”


“Apa maksudmu?”


sinis Sofi.


Menoleh sekilas, “kamu lupa bagaimana ibunya Mirza memperlakukan kamu dan Via? Dia lebih perhatian padamu kan, daripada ke Via yang memantunya sendiri?”


Terhenyak seketika, tak mengira suaminya akan berbicara seperti itu.


“Padahal sudah jelas-jelas kamu hadir sebagai orang ketiga, dan kamu tengah mengandung anak yang bukan darah daging Mirza.” sambung Ramzi tanpa melihat wajah Sofi yang sudah berubah pias, pandangan Ramzi datar dan lurus ke depan.


Sofi semakin tertohok. Memang beginikah rasanya menjadi menantu yang tak dianggap?


“Jangan ungkit lagi, itu sudah masa lalu,” ujar Sofi dengan suara gemetar.


“Bukannya kamu senang hidup dalam bayang-bayang masa lalu?” penuh sindiran membuat Sofi tak kuasa menitikkan air mata.


“Sekarang kamu tau kan bagaimana rasanya berada pada posisi seperti Via?”


“Kak, aku tau aku bersalah, tapi bukan berarti kau bebas mengungkitnya lagi. Kita sudah sepakat membuka hidup baru, tolong jangan ingatkan itu, karena sangat membuatku sakit.”


“Itu pun yang terjadi padaku dan Jane. Itu semua masa lalu, dan aku mengaku salah. Tapi kenapa kamu selalu mengungkitnya, padahal aku sudah berusaha membuktikan kalau aku sudah berubah.”


“Oke! Aku minta maaf!” menekankan kata maaf seraya menghapus jejak air mata di kedua pipi mulusnya.


“Maaf saja tak cukup kalau sikap dan cara pandangmu tidak berubah.”


pungkas Ramzi tegas.

__ADS_1


Manata hati, meredakan ego dan emosi. Sofi harus belajar banyak dari kenyataan hidupnya yang sekarang. Sekeras apapun dia coba menghindari orang-orang yang tak disukainya, tentu tidak akan bisa. Benar kata suaminya, sikap dan cara pandangnya harus dirubah. Sofi memang keras kepala sedari dulu, tapi semuanya harus mulai berubah dari sekarang. Dalam perjalanan pulang yang kelu, isak Sofi tertahan karena sesungguhya dia malu pada diri sendiri. Diam-diam ia lihat sang suami dengan ekor matanya. Dalam guratan wajah tegas sang suami, Sofi tau Ramzi adalah laki-laki yang tepat untuknya, dan dia kan sangat menyesal jika sampai kehilangan sang suami untuk yang kedua kalinya.


💕💕💕💕💕


__ADS_2