TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
193 #GATHERING


__ADS_3

Setelah mendapat penanganan dari dokter, keadaan Via berangsur membaik. Dokter bilang Via hanya kelelahan dan disarankan untuk banyak istirahat. Menjelang jam makan malam, Via dan Cila sudah pindah di kamar yang diperuntukan bagi karyawan. Cila datang membawakan makan malam yang dipesan dari delivery order.


“Lho kok kamu bawa makanan ke sini sih, Cil? Bukannya kita mau turun ya?” Via bertanya heran melihat Cila meletakkan makanan di meja.


“Pak Bos yang suruh. Kita makan malam di kamar katanya.”


“Danar?”


“Iya siapa lagi?”


Via mendengus. “Aku kan udah baikan.”


Cila tak menyahut, dia merapikan diri di depan cermin. Via memandanginya, Cila tau dari pantulan cermin di depannya.


“Kamu kenapa malah ngeliatin aku? Cepetan makan, ntar Pak Bos ngomelin aku lagi.”


Via mendekatinya. “Maafin aku ya Cil, ngerepotin kamu. Gara-gara aku kamu nggak ikut acara pembukaan.” Via sungguh merasa tak enak hati. “Kamu turun aja makan malam sama yang lain. Abis itu kamu pasti mau jalan-jalan kan?”


“Kok kamu tau?” Cila berbalik.


Via tersenyum. “Pergi aja, nggak papa kok. Pemandangan kota Bogor pasti indah banget kalo malam hari. Aku udah baikan.”


“Beneran?” Cila meyakinkan.


Via mengangguk pasti.


“Tapi Pak Bos …”


“Nanti aku yang bilang.”


“Thanks ya. Kalo gitu aku turun sekarang.” Cila bersemangat. “Jangan lupa dimakan ya!” Ia melambai sebelum keluar.


Via duduk menikmati makan malamnya, perutnya memang sudah lapar. Siang tadi begitu pulih dari pingsan ia belum begitu selera. Maka sekarang lah waktunya untuk balas dendam, hehee.... Diraihnya ponsel untuk menghubungi suaminya ditengah keasyikannya bersantap malam.


“Halo, Assalamualaikum Mas.” Sapa Via.


“Wa alaikumussalam, Sayang.” Jawab Mirza. “Lagi ngapain Sayang? Pasti kangen ya sama suamimu yang ganteng ini, hehe….” Goda Mirza di seberang.


“Ish, masa belum juga sehari udah kangen?” Cebik Via disela-sela makannya.


“Kamu lagi makan, Sayang?”


“Iya, dibeliin Cila nih barusan. Mas udah makan belum?”


“Lho bukannya kalo acara itu makan malemnya bareng-bareng ya?” Mirza balik bertanya heran.


Oops! Via tak mungkin bilang kalo dia makan malam di kamar gara-gara siang tadi pingsan kelelahan dalam perjalanan.


“Emh, ini cuman ngemil aja kok Mas. Buat ganjel perut, bentar lagi aku turun buat makan malam.” Via beralasan tak mau mengatakan yang sebenarnya kerena takut Mirza khawatir.


“O gitu? Bagus deh, yang banyak ya ngemilnya, biar dede bayinya sehat.”


“Iya, Mas. Ya udah, kalo gitu nanti kita sambung lagi ya Mas, aku mau turun dulu.”


“Iya Sayang, hati-hati ya. Mas nggak mau kamu sama calon bayi kita kenapa-napa.”


Via pun mengakhiri panggilannya. Tarikan nafas panjang penuh kelegaan menyertai, untung saja tadi dia nggak sampe keceplosan. Via meraba perutnya dengan tangan kirinya. “Kamu pasti baik-baik aja di dalem.” Ucapnya seraya tersenyum.


Segera Via merapikan sisa makan malamnya. Ia berdiri di dekat jendela kamar yang besar. Viewnya memang tak terlalu bagus. Kamarnya di lantai 5 menghadap ke jalanan kota Bogor . Via melihat lampu-lampu mobil dari kejauhan yang sedang merayap menuju jalan yang menanjak.


Via mendesah ringan, alangkah membosankannya baginya jah-jauh datang ke Bogor tapi nggak bisa menikmati suasananya. Bahkan ia belum sempat menghirup udara segar pegunungan karena turun dari bus sudah dalam keadaan tak sadarkan diri. Via berpikir sejenak, ia bergeges meraih tasnya dan menuju pintu.


Ceklek.


Jengjeng!


Seseorang sudah berdiri di depan pintu kamarnya ketika dia membuka pintu.


“Danar?” Via terkejut.


Danar melihat penampilan Via. “Mau kemana?”


“Eum, aku … Cuma mau cari udara segar.” Jawabnya agak ragu.


“Udah makan?” Tanya Danar dengan intonasi ditekan.


“Udah.”


“Minum vitamin?”


Via mau jawab udah tapi nyatanya belum. Lagian kenapa sih Danar pake nanya kayak orang lagi introgasi gitu? Mana tampangnya sok serius gitu lagi? Via ngedumel dalam hati.


“Cepet minum sana, aku nggak mau kamu pingsan lagi!” Perintah Danar masih dengan intonasi sama, tak mau dibantah.


Via berbalik mengambil vitamin yang diresepkan dokter siang tadi. Danar hanya berdiri di ambang pintu memperhatikan yang dilakuakn Via.


“Pakai jaketmu, di luar udaranya dingin!” Perintah Danar lagi.


Beruntung semua pakaiannya sudah ditata rapih ke dalam lemari oleh Cila. Nggak kebayang kalo belum. Dia mengobrak-abrik isi koper sambil dipelototin pak bosnya yang malam ini tampangnya jutek banget

__ADS_1


Via lantas keluar setelah mendapatkan jaketnya. Mereka menyusuri lorong menuju lift. Apa itu artinya ia akan jalan-jalan malam menikmati udara segar kota Bogor bersama Pak bosnya?


“Danar?” Tegur Via memberanikan diri ketika sudah di dalam lift.


“Hem.”


“Kita mau kemana?”


“Kamu bilang mau cari udara segar?”


“Iya, tapi aku mau pergi sendiri aja.”


Sreet!


Danar melirik tajam. “Kamu masih bisa bilang begitu setelah kejadian tadi siang?”


Glek!


Ting!


Via terdiam, beruntung pintu lift terbuka. Mereka sudah mencapai loby hotel. Terlihat beberapa karyawan masih berada di sana. Sebagian besar yang lain mungkin sudah pergi jalan-jalan malam. Via mengikuti langkah Danar ke luar loby. Mereka menunggu sebentar, mobil Danar datang tak lama bersama sopir. Via nurut saja ketika Danar menyuruhya masuk.


“Kita mau kemana?” Via mengulang pertanyaan yang sama di dalam mobil.


Danar mendengus. “Nggak ada pertanyaan lain?” petanyaan Via dijawab dengan pertanya lagi.


Via pun pasrah, agaknya Pak bosnya itu malam ini berubah jadi sok galak.


“Di depan kita ambil kanan aja, Pak.” Uap Danar pada sopir karena mereka mulai terjebak macet. “Ini kan yang kamu mau, macet-macetan di janan kota Bogor saat week end?” Danar melirik Via sekilas yang duduk mepet ke pintu sebelah kanan.


Via tak menyahut dia pura-pura asyik melihat pemandangan malam di luar, padahal hatinya sebel banget. Siapa juga yang minta ditemenin? Makanya nggak usah sok baik kalo nggak ikhlas!


Setelah hampir satu jam dalm perjalan yang padat merayap, mereka sampai juga pada suatu tempat wisata yang buka sampai malam hari.


“Danar, ini tempat apa?” Via tak bisa menutup mulutnya untuk menahan agar tak bertanya.


“Udah masuk aja, jangan banyak tanya.” Danar berjalan duluan membeli tiket masuk.


Ternyata meski udara malam kota Bogor sangat dingin, banyak juga orang berwisata malam ke tempat ini. Davoyage Bogor, berlokasi di Jalan Raya Boulevard CBD Bogor Nirwana Residence, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor ini merupakan tempat wisata rasa Eropa yang unik. Di dalamnya banyak terdapat replica ikon-ikon terkenal dari negara-negara di Eropa.



“Wah! Indah dan bagus!” Mata Via berbinar melihat replica menara Eifel dari kejauhan yang berdiri kokoh dengan lampu menyala menarik perhatian mata.


Danar tersenyum melihat binar kebahagiaan Via, ia sengaja berjalan lebih dulu agar Via mengikutinya. Langkah Via terhenti ketika melewati little Venice yang di sisi kanal buatan itu terdapat beberapa perahu kecil berwarna-warni.


Via menanggapi hanya dengan senyum tipis lantas melanjutkan langkahnya.


“Kamu nggak mau foto?” Tanya Danar.


Via menggeleng.


Danar menangkap suasana muram pada wajah ayu wanita yang dipujanya secara diam-diam itu. Via duduk di kursi taman menyandakan punggungnya, Danar mengikuti duduk di ujung bangku.


“Capek?” Tanya Danar.


“Lumayan.”


"Dibilang nggak boleh kecapekan malah nekat jalan mau cari udara segar." Danar seperti menggumam.


Via tak menanggapi, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Beberapa orang nampak berjalan menuju pintu keluar. Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


“Sebentar lagi memang akan tutup, kita datengnya kemaleman.” Ujar Danar seolah tau isi pikian Via.”


“Ya udah, ayok kita pulang sekarang.” Via bangkit.


“Udah puas cari udara segernya?”


Via mengangguk samar.


“Senang kan bisa jalan-jalan ke tempat wisata malam yang bagus begini?” Danar menjajari langkah Via yang berjalan lebih dulu.


“Sejujurnya akan lebih menyenangkan kalo aku jalannya bareng sama Mas Mirza.” Sahut Via lirih tanpa melihat ke arah Danar.


JLEB!


Yang sabar ya Mas Danar? Udah dibela-belain nemenin jalan-jalan malem, yang diinget tetep aja Mas Mirza, wkwkwkkk….


Mereka kini sudah dalam perjalan pulang, Via memilih hanya diam. ia tak berniat membuka obrolan apapun. Danar pun menyibukkan diri dengan ponselnya. Satu chat yang baru dibacanya membuatnya tercenung. Ia melirik pada Via yang anteng memperhatikan jalanan di sampingnya. Danar mengetik balasan pesan singkat dan memasukkan kembali ponselnya.


Beberapa lama kemudian mereka tiba di hotel. Sampai di loby Via bertemu dengan Cila yang nampaknya juga baru sampai bersama Milen dan Vony. Danar segera memisahkan diri, meskipun begitu tak ayal membuat Milen dan Vony berkasak kusuk di belakang Via.


“Ekhem!” Vony sengaja berdehem keras begitu mereka berdiri di pintu lift. “Abis jalan kemana Vi sama Pak Bos?” Agaknya dia tak bisa menahan rasa gatal pada mulutnya untuk tak bertanya pada Via.


“Kenapa emang?” Via nanya balik.


“Ya mau tau aja. Katanya kamu lagi sakit? taunya malah kelayaban sama Pak Bos.”


“Penting ya kamu tau kemana aku jalan sama Danar?” Via menagggapi dengan ketus. Moodnya emang lagi nggak baik sejak dari tampat wisata tadi.

__ADS_1


“Waw, manggilnya udah sebut nama aja , Len! Nggak pake embel-embel Pak lho dia.” Vony sengaja mencolek lengan MIlen yang sedari tadi masih belum buka suara.


Beruntung pintu lift terbuka, mereka segera masuk dan menuju lantai Dimana kamar mereka berada, Via tak perlu meladeni ocehan Vony. Di dalam lift mereka cuman berempat, Vony masih dengan kekepoannya terus menguntit setelah keluar lift.


“Von! Kamar kita kan di sebalah sana? Ngapain lo malah ngiutin Cila sama Via?” Heran Milen yang melihat Vony mengekor Via.


“Elo sengaja ngikutin kita?” Cila bebalik seketika membuat Vony mengerem langkahnya.


“Gue cuman mau mastiin aja kalo Pak Bos nggak ikutan masuk kamar Via, hehe….” Vony malah nyengir dengan tapang innocentnya.


“Ngomong sekali lagi, gue jambak mulut lo!” Cila melotot kesal.


“Lho, bukannya nggak mungkin kan Pak Bos malem-malem ntar nyamperin? Buktinya tadi apa? Via nyuruh elo turun kan, taunya dia malah keluar berdua sama Pak Bos?” Vony makin nyerocos tak terkendali.


Via berusaha menahan semua kejengkelannya.


“Perasaan yang lebih julit harusnya gue deh! Kenapa jadi elo lebih julid dari gue ya?” Milen jadi bingung campur heran sendiri.


“Itu karena gue yang paling konsisten dengan kejulitan gue diantara kita bertiga!” Sahut Vony bangga.


“Terserah elo!” Cila segera menarik lengan Via untuk menuju kamaranya yang hanya beberapa langkah lagi.


“Tunggu!” Vony megejar dan mencegat mereka.“Denger ya Vi, gue cuman mau ingetin aja. Elo itu udah punya suami dan lagi hamil, jadi mendingan jaga jarak deh sama Pak Bos.” Ucap Vony tajam yang sukses membuat hati Via kayak disengat tawon.


“Bisa diem nggak lo?” Cila udah mau ngmelin Vony lagi tapi Via keburu mengajaknya masuk kamar.


Via langsung membersihkan diri, Cila ingin bertanya tapi sadar ini adalah hal yang sangat senditive. Semetara itu Danar pun sama kesalnya di kamar Bu Elin.


“Ibu menyuruhku kesini hanya untuk memperlihatkan foto-foto itu?” Danar memberikan kembali ponsel ibunya. Dia baru saja diperlihatkan beberapa foto dirinya tengah menggendong Via dari bus menuju hotel.


“Kamu nggak malu?” Bu Elin menatap keheranan.


“Itu hanya foto biasa, Bu. aku menolong Via pingsan. Itu aja, nggak lebih.” Jelas Danar.


“Tap orang lain yang menilai dari sisi yang berbeda jelas akan menimbulkan asumsi berbeda pula.”


“Biarkan orang yang menilai, Bu. toh kita hanyalah obyek bagi yang lainnya.” Danar ngeyel.


“Lalu bagaimana dengn foto ini?” Bu Elin kembali memperlihatkan foto kebersamaan Danar dan Via di Davoyage barusan.


“Darimana ibu dapat itu?”


Bu Eli mendengus gusar. “Nggak penting dari mana ibu dapat. Yang terpenting sekarang adalah jauhi Via. Sudah berapa kali ibu bilang Danar, lupakan dia. Dia wanita bersuami.” Bu Elin menaikkan sedikit intonasinya.


“Aku akan cari siapa dalangnya yang nyebarin foto-foto itu. ibu pasti dapat dari grup chat karyawan kan?” Danar bangkit.


“Jangan gegabah, Danar. Jika kamu salah bertindak, itu bisa jadi boomerang bagi kamu sendiri.”


“Aku nggak peduli. Aku harus tuntaskan, kalo aku sama Via emang nggak ada apa-apa. Mereka kurang kerjaan nyebarin hoaks kayak gitu.”


“Tapi persaanmu sama Via bukan hoaks kan? Itu nyata, Danar. Sama nyatanya dengan semua gambar ini yang mereka lihat.” Bu Elin mendekati putra angkatnya, mengelus pundaknya lembut. “Jangan sampai ibu harus mengambil tindakan tegas pada Via, Danar.”


Danar menoleh kaget. “Ibu mau mecat dia?”


“Ibu haus menyelamatkan anak kesayang ibu satu-satunya.” Bu Elin menatap manik mata Danar yang gusar.


“Kalo begitu biar aku yang resign.” Putus Danar tegas.


Bu Elin menghela nafas panjang. “Sudah ibu duga, kamu ingin selalu melindunginya kan?"


Danar membuang pandang tak menjawab pertanyaan ibunya.


"Besok pagi kembalilah ke Jakarta."


"Tapi acara kita sampai siang, Bu."


"Ibu ingin kamu menemui seseorang."


"Bahkan di hari minggu pun ibu masih menyuruhku bekerja." Danar mengeluh kesal. "Apa orang itu penting banget? Suruh aja senin kalo urusan bisnis."


"Nggak bisa, Danar. Ibu bilang besok ya besok." Bu Elin kesel juga Danar yang penurut berani membantah.


"Oke, aku anggap ini adalah bagian dari rencana ibu untuk menjauhkanku dari Via." Ucap Danar sambil berlalu menuju pintu.


"Memang begitu seharusnya kan? Dasar anak muda payah! Ganteng-ganteng sukanya sama istri orang!" Gerutu Bu Elin pada Danar yang sudah menghilang keluar kamar.


Lihat saja Danar, setelah besok kamu bertemu dengan orang itu apa kamu masih tetap menaruh harapan pada Via atau tidak? Batin Bu Elin membayangkan hal selanjutnya yang akan terjadi esok hari.


❤️❤️❤️❤️❤️


hi, readers..... maaf banget baru sempat up 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


banyak alasannya, tapi cuma satu yang bikin othor down beberapa hari ini. parno kena covid 😱😱😱😱


Disaat teman, keluarga dan orang-orang terdekat kita terinveksi covid 19 sudah pasti kita harus lebih waspada ya, ketatkan prokes.


namun othor juga manusia biasa yang gampang diliputi cemas dan takut sampe parno nggak karuan. Setiap hari kerja dari pagi sampe sore dan bertemu dengan banyak orang yang nggak tau pasti kondisinya kayak apa. beruntung hasil swab othor negative.


Salam sayang untuk kalian semua. Jangan lupa jaga kesehatan ya. Sehat itu lebih utama dari apapun. Love you all 🤗🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2