
"Kita mau kemana, Bu? Kayaknya ini bukan jalan menuju pulang?" Sofi agak ragu mengikuti instruksi Bu Een.
"Nggak usah banyak tanya! Turuti aja apa kata saya!" Ketus Bu Een tanpa melihat pada Sofi yang mengemudikan mobil dengan raut heran campur bingung.
Nurut. Emang kata yang pas, karena sekarang Bu Een yang pegang kendali. Sofi hanya numpang dan harus rela disuruh-suruh. Berbeda dengan kedatangannya dulu, dimana justru Sofi yang disanjung dan dipuja karena Bu Een merasa sangat butuh Sofi sebagai pihak ketiga untuk memisahkan Via dan Mirza.Walau sekarang juga masih butuh sih tapi akan lebih sulit karena Bu Een jelas tau Sofi bukan hamil anak Mirza.
"Eeeh.... stop! Berhenti disini..." Aba-aba dadakan membuat Sofi menginjak pedal rem seketika.
NGOK
JEDUG!
"Aduuh! Sofi, kamu sengaja banget sih ngerem mendadak sampe bikin jidat saya nyium dashboard begini!" Bu Een mengusap jidatnya yang nggak benjol tapi lumayan ngilu.
"Maaf Bu."
"Maaf maaf terus! Perasaan dari semalem kamu ngeselin banget sih! Udah kamu masak mie rebus medok campur cangkang telor, bekas masaknya nggak diberesin lagi. Jadi saya yang bersihin kompor bekas tumpahan telor dan nyuci perabotnya. Emangnya kamu pikir saya pembantu apa?" Omel Bu Een yang teringat kejadian semalam.
"Makanya ibu punya pembantu biar nggak capek bersih-bersih rumah." Sahut Sofi.
"Buat apa? Kan udah ada kamu?"
"Jadi ibu berniat menjadikan aku sebagai pembantu?" Sofi melotot tak percaya.
"Hey, kamu itu udah numpang di rumah saya. Kalo suruh bayar sewa udah berapa coba? Apalagi di Jakarta, pasti mahal! Nggak usah protes, karena kamu sendiri yang mohon-mohon pingin tinggal di rumah saya!"
Sialan ini nenek-nenek! Beneran minta dijorokin ke dalem sumur deh! Masa aku disuruh jadi babu di rumahnya? Apa kata dunia, seorang Sofia Alta Husein yang terbiasa hidup dilayani kini harus jadi babu? Kalo gini mending aku bayar ART aja sekalian!
"Heh! Ngapain bengong?" Bu Een menepuk lengan Sofi. "Cepet turun sana!"
Mengernyit bingung, "turun kemana, Bu?"
"Ya ke rumah itu! Awasi keadaannya, sepi apa banyak orang?" menunjuk rumah di seberang jalan komplek perumahan yang tak begitu lebar.
Meski nggak terima selalu disuruh-suruh terus tapi Sofi tak kuasa menolak titah Bu Een. Ia mengendap-endap seperti agen rahasia sedang mengawasi target buruannya. Rumah yang dalam perhatiannya terlihat sepi. Angin gersang berhembus membelai kulitnya yang halus bak satin,Sofi mengusap peluh di kedua pelipisnya. Heran, mau aja siang bolong begini dikerjain si nenek lampir.
Akhirnya Sofi memilih kembali ke mobil setelah melakukan pengintaian amatir dari bawah pohon Srikaya yan tak seberapa lebat buahnya.
__ADS_1
"Rumahnya sepi-sepu aja Bu, kayak nggak ada orang." Melapor pada Bu Een.
"Bagus. Sekarang cepat ikut saya ke sana."
"Emangnya itu rumah siapa, Bu?" Penasaran banget si Sofi.
"Nanti juga kamu tau." Bu Een turun setelah membenahi penampilannya. wajahnya diganti menjadi mode sedih penuh simpati. "Dengarkan saya, kamu jangan bicara apa-apa kecuali saya yang bertanya. Paham?" Bu Een mengultimatum.
Sofi pasrah saja, mengangguk karena tak punya pilihan lain. Lantas mereka pun berjalan beriringan. Bu Een sudah mencapai pintu, ditekannya bel dengan wajah tenang. Drama babak baru sebentar lagi akan dimulai, ia sadar jika cara kasar tak akan bisa mengalahkan musuh maka ia harus mengatur siasat menggunakan cara halus.
"Ibu?" Via terkejut begitu membuka pintu depan mendapati ibu mertuanya disana. Keterkejutannya semakin berlipat-lipat manakala mendapati seorang wanita yang berdiri di belakang ibu mertuanya.
Sofi? ada apa wanita ini datang lagi ke rumahku? apa dia belum puas ingin merusak ketentraman rumah tanggaku? monolog batin Via.
Sofi pun sama kagetnya ketika melihat wanita di depannya ternyata adalah Via. Namun Sofi segera menutupi keterkejutannya itu.
"Kamu nggak nyuruh kami masuk" tanya Bu Een dengan wajah datar menyentak kesadaran Via.
"Ibu sengaja datang ke sini sama dia?" Melihat Sofi dengan tatapan tak suka.
"Ibu sengaja kan datang ke sini sama dia untuk mengusik ketenangan rumah tanggaku dan Mas Mirza? " Via mengulang pertanyaannya.
"Duduklah dulu, ibu mau bicara."
Heran tentu saja, karena tak biasa-biasanya ibu mertuanya itu bersikap seperti itu. Via pun duduk dengan memasang kewaspadaan tingkat tinggi,ia tak ingin ketenangan rumah tangganya terusik kembali oleh sang ibu mertua dan wanita pelakor yang tak diharapkan kedatangannya itu.
"Vi, Sofi sekarang sedang hamil. Dia mengandung anak dari suaminya, dia membutuhkan pertolongan." Bu Een jeda sebentar untuk melihat wajah sang menantunya yang tak biasanya diperhatikannya.
"Maaf Bu, aku bukan orang yang tepat untuk dimintai tolong." Menolak tanpa ingin memberikan kesempatan.
"Dengarkan dulu, ibu belum selesai bicara."
"Jika yang ingin ibu bicarakan adalah tentang wanita itu, aku tidak mau mendengarnya."
"Via ... " menyerongkan posisi duduknya sehingga menghadap sang menantu. "Tolong dengarkan dulu apa yang ingin disampaikan oleh wanita tua ini."
Deg!
__ADS_1
Via jelas menangkap keanehan atas sikap ibu mertuanya yang luar biasa itu, tidak biasa-biasanya dia berkata lembut dan sopan. Via bahkan merasa kehilangan akan sosok ibu mertuanya yang kerap mencibir dan selalu menyindir padanya. Dia merasa ada yang tidak beres pada diri sang ibu mertua.
"Ibu tahu kamu adalah wanita yang berhati baik bak malaikat. Sikap sabar dan kasih sayangmu telah mampu meluluhkan hati Mirza putra ibu satu-satunya. Ibu mohon maaf atas kesilapan ibu di masa lalu, ibu mempunyai satu permintaan yang hanya bisa diwujudkan oleh kamu, Vi." menatap manik mata sang menantu dengan intens.
Via tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh mulut sang ibu mertua. Kenapa baru sadar kalau dirinya memang baik, sabar dan penuh kasih Sayang? Kemarin-kemarin kemana aja? pakai bilang baik hati bak malaikat pula, berlebihan banget memujinya kelihatan kalau lagi cari-cari perhatian.
Via membalas tatapan sang ibu mertua, dia tak ingin terlihat lemah juga tak ingin terlihat terpengaruh oleh rayuan kata-kata yang penuh dengan pemanis buatan dari mulut sang ibu mertua.
"Jangan memintaku untuk melakukan hal yang tidak bisa aku lakukan Bu " tegas Via dengan raut penuh penekanan.
"Tidak. Kamu pasti bisa melakukannya, karena hanya kamu yang mampu Vi." meraih tangan kanan via dan menggenggamnya penuh pengharapan.
Refleks Via menarik tangannya, ia sungguh tidak terbiasa dengan perlakuan dari sang ibu mertua yang tiba-tiba berubah drastis 180° itu.
"Via, kamu tentu tidak ingin melihat hubungan ibu dan suami kamu renggang dan menjadi berantakan kan? Ibu hanya punya satu permohonan, setelah ini ibu berjanji tidak akan pernah mengusik rumah tangga kalian lagi karena ibu sadar ibu selama ini sudah banyak salah. Tapi ijinkan ibu untuk mempunyai satu saja permintaan. Di masa tua ibu, yang mungkin usia ibu sudah tidak lama lagi, kamu tentu ingin membuat ibu mertuamu ini bahagia kan?" Kalimat Bu Een begitu mendayu-dayu seolah mencoba menyayat hati Via untuk mendapatkan rasa belas kasihannya.
"Apa permintaan ibu?" Akhirnya kalimat itu lolos juga dari bibir Via.
"Ibu ingin agar Mirza menikahi Sofi untuk menyelamatkan bayi yang ada dalam kandungan Sofi itu."
JLEDER!
❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca🙏🙏
jangan lupa tinggalkan omelan-omelan di kolom komentar untuk othor...😁😁
jempol jangan ketinggalan 😂
votenya boleh lho..😘
sehat-sehat selalu semuanya ❤️
Salam sayang untuk kalian semua😍😍
I love you all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1