
Sofi melihat kesibukan para pelayan tak seperti biasanya sore ini. Karena merasa heran makan dia memanggil seorang pelayan yang melintas di depannya.
“Hey, ada apa? Kenapa kalian sibuk sekali? Seperti mau ada tamu penting saja.”
“Benar Nyonya. Tuan besar dan Tuan muda sedang dalam perjalanan pulang bersama beberapa kolega bisnisnya. Kami harus menyiapkan jamuan makan malam untuk mereka.” Sahut seorang pelayan yang ditanya Sofi.
Jadi si brewok dan si tua bangka itu akan pulang? Kenapa cepet banget sih? Padahal aku belum mendapatkan yang aku cari di ruangan si brewok itu.
“Permisi, Nyonya. Saya kembali ke belakang.” Pelayan itu minta diri membuyarkan benak Sofi.
Sofi pun terpaksa harus kembali ke kamarnya dan mengurungkan niatnya yang akan mengunjungi orangtuanya. Sofi gusar mondar mandir di kamarnya, dia mencari cara agar malam ini tak digarap habis-habisan oleh suaminya sebab dia tiba-tiba teringat pesan suaminya itu yang sebelum pergi memintanya untuk menyiapkan diri setelah ia pulang dari luar kota.
Hiyyy!
Sofi bergidik ngeri sendiri dibuatnya karena membayangkan aksi suaminya yang brutal di atas ranjang.
TUWIWIW… TUWIWIW… WIUW
TUWIWIW… TUWIWIW… WIUW
Bunyi ponsel dari atas nakas membuat Sofi terlonjak kaget karena dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Sial! Aku kira bunyi apaan!” Sofi mengumpat sendiri seraya meraih ponselnya. “Ngapain si brewok nelpon? Haduh, jangan-jangan dia mau minta aku minum jamu kuat …” Sofi parno sendiri sambil melihat layar ponselnya dimana foto suaminya terpampang di sana.
Ponselnya terus menjerit beberapa kali menuntut segera diladeni. Akhirnya setelah membaca ayat kursi sebanyak 7x Sofi memberanikan diri menerima panggilan telepon suaminya itu.
“Halo, Kak …” Sapa Sofi dengan agak gugup.
“Halo, istriku sayang.” Sambut Ramzi dengan suara terdengar sangat manis. “Kau sedang apa? Aku baru sampai bandara, sebentar lagi pulang.”
GLEK!
Sofi tercekat, tak bisa menjawab pertanyaan suaminya. Ia seperti kehilangan kata-kata.
Sudah sampai bandara? Itu berarti sejam lagi akan sampai rumah? Dia akan segera mandi lalu menjamu para tamu, dan setelah itu menjelang tengah malam setelah berbasa-basi dengan tamunya, dia akan segera menghabisiku! Atau bisa lebih buruk lagi, jangan-jangan setelah mandi dia akan menyerangku terlebih dahulu. Atau bahkan lebih cepat dari itu tanpa mandi dan membersihkan diri dulu, begitu dia masuk kamar dia akan segera menerkamku dan membolak-balik tubuhku tanpa ampun… Oh, Tuhan…!
“Hey, kenapa kamu diam?” Pertanyaan Ramzi sedikit mengagetkan lamunan Sofi. “ Apa kamu masih sakit, sayang? Kepala pelayan bilang dua hari yang lalu dokter datang untuk memeriksamu.”
AHA!
CLING!
Tiba-tiba Sofi mendapatkan ide yang sangat briliant.
“Iya, Kak … Aku masih tak enak badan.” Sahut Sofi dengan suara yang sengaja dibuat lemas dan sesekali mendesis seperti menahan sakit.
“Oh, sayang… kenapa kau tak mengabariku sendiri?” Ramzi terdengar sangat khawatir.
“Heum, aku tak mau mengganggu kerjaanmu, Kak. Aku sudah meminta kepala pelayan memanggil dokter dan keadaanku berangsur membaik meskipun kepalaku masih pusing dan badanku lemas….”
“Maafkan aku ya, kau pasti kecapekan juga karena malamnya aku … yah, kau tahu, aku … begitu bernafsu. Maafkan aku…” Terdengar penyesalan dari kalimat Ramzi.
Bagus juga ternyata kau sadar, wahai brewok! Kelakuanmu sudah kayak penyamun ketemu anak perawan!
“Baiklah, sebagai permintaan maafku aku akan membelikanmu sesuatu. Kau ingin apa, sayang?” Tanya Ramzi kemudian.
“Ehm, nggak usah, Kak. Aku nggak mau apa-apa. Aku hanya ingin istirahat.” Sahut Sofi masih berpura -pura dengan suara lemahnya.
“Begitu ya? Ya sudah, nanti kalau keadaanmu sudah membaik, kita akan membeli hadiahnya bersama. Kau boleh meminta apapun dariku.” Ucap Ramzi dengan penuh kelembutan.
“Terima kasih, Kak.”
Ramzi kemudian mengakhiri panggilan teleponnya dan Sofi tersenyum puas. Ternyata bakat actingnya memang sangat memukau. Nggak sia-sia juga dia tadi baca ayat kursi ampe 7 kali, wkwkwkkk 😁
Sofi segera berjalan ke meja rias dan menghapus make up nya. Dia juga mengganti pakaiannya dengan piyama dan tak lupa mengacak sedikit rambutnya agar terkesan baru bangun tidur.
“Sempurna!” Sofi girang menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin.
______________
Di rumah kontrakan Via, menjelang maghrib Tia dan Arya pamitan pulang namun Ica merengek tak mau diajak pulang meskipun Arya dan Tia sudah merayunya dengan berbagai macam jurus jitu. Sia-sia, anak itu selalu lengket jika sudah ketemu Via tante kesayangannya.
“Ya udahlah, Mbak. Biarin aja Ica nginep disini sekalian nemenin aku.” Ucap Via akhirnya.
“Dia pasti nanti ngerepotin kamu. Tau sendiri kan si Ica kalo udah kumat manjanya pasti sering merajuk?” Jawab Tia yang tak ingin merepotkan adiknya.
“Ica janji nggak akan bikin tante Via repot, kok.” Sahut Ica meyakinkan sambil tak mau melepaskan pelukannya dari pinggang Via.
“Ya udah, kalo gitu bunda nginep sekalian aja disini kalo takut Ica bikin repot.” Usul Arya.
“Mas Arya nggak papa pulang sendiri?” Tia meyakinkan suaminya.
“Nggak papa, besok pagi aku jemput kalian ke sini.”
“Kenapa Mas Arya nggak nginep sekalian aja disini? Daripada bolak-balik.” Timpal Via.
“Nanti malam jadwalnya ronda, Vi. Nggak enak sama tetangga kalo nggak berangkat.” Sahut Arya.
__ADS_1
“Ya udah, besok aku antar aja deh sekalian main ke rumah Ibu. Kasihan Mas Arya soalnya.”
“Ide bagus, Vi. Maaf ya, akhirnya ngerepotin kamu juga.” Arya nyengir mendengar usulan adik iparnya.
Setelah itu Arya pamit pulang, ica sudah pasti bersorak girang karena diperbolehkan menginap. Dia tak mau jauh dari tantenya, bahkan sampai Via mandi pun Ica rela menunggunya di depan pintu kamar mandi.
“Aduh anak Bunda, sampe lupa kalo ada Bundannya di sini ya?” Tia melongok ke kamar Via dan melihat putrinya tengah duduk menyandarkan punggung di lemari menghadap ke pintu kamar mandi.
Ica menoleh kaget pada ibunya. “Bunda istirahat aja, malam ini Ica pokoknya mau sama tante Via.” Celoteh Ica dengan wajah polosnya.
“Ya udah, nanti kalo tante Via udah selesai mandi dan sholat kita makan dulu ya? Bunda tunggu di meja makan.” Pesan Tia pada anaknya.
Ica hanya mengangguk. Menunggu rupanya membuat Ica bosan, matanya mulai memindai seisi kamar tantenya. Ica melihat beberapa album foto di bawah meja samping tempat tidur dan berjalan untuk mengambil album foto yang paling atas.
Senyum Ica terbit ketika melihat album foto yang berisi foto-foto pernikahan Om dan tante kesayangannya.
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Via keluar sudah mengenakan baju.
“Tante maaf, ya. Ica liat-liat foto nikahan Om sama Tante.” Ucap Ica pada Via.
Via berjalan mendekati keponakannya dan duduk di sampingnya. “Iya, nggak papa.” Via mengelus rambut Ica sayang.
“Tante, gimana kalo kita telpon Om Mirza? Ica kengen banget!” Usul Ica dengan mata berbinar.
“Ica mau telpon Om Mirza?”
Ica mengangguk cepat. “Video call aja, Tante. Ica mau lihat wajah ganteng Om kesayangan Ica.”
Via tersenyum mendengar kepolosan keponakannya itu. Via melihat jam dinding, mungkin tak apa kalau menelpon jam segini ya?
“Ayo Tante, cepetan!” Ica menggoyang lengan Via.
“Oke, sebentar ya?” Via bangkit mengambil ponselnya dan melakukan video call pada suaminya, tak berapa lama Mirza langsung menerimanya.
“Halo, sayang? Kok tumben video call? Kangen banget ya sama suamimu ini?” Sapa Mirza dengan senyum sumringah memenuhi layar ponsel Via.
“Om Mirza ….!” Teriakan nyaring Ica menjawab tanya Mirza. “Halo, Om ….” Ica segera mendekat dan menyabotase ponsel Via.
“Hai, halo Ica sayang ….” Sambut Mirza agak surprise mendapati keponakannya yang tau-tau muncul menggantikan wajah cantik istrinya.
Via terpaksa ngalah dan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Ica yang terus memberondong suaminya dengan pertanyaan-pertanyaan lucu dan terkesan tak masuk akal. Ica asyik berbincang dengan Mirza dan berceloteh tentang banyak hal.
“Oh, jadi Om belum pernah ketemu sama putri duyung ya?"
"Belum, Ca."
Mirza terekekeh. “Nggak juga, sayang. Kan mereka tinggalnya di laut dalam. Om kan cuman di atas kapal?”
“Oh, kalo gitu Om pasti pernah ketemu sama Flying Dutchman ya?” Tebak Ica kemudian.
Kening Mirza tampak berkerut. “Flying Dutchman? Siapa itu?”
“Itu lho Om, hantu bajak laut yang jahat dan menyeramkan….!” Ica memasang wajah seram sehingga membuat Mirza kembali tertawa.
Via ikut terkekeh mendengarnya. Dasar ica! Obrolan antara Om dan keponakan itu terus bergulir dan Via tak diberikan kesempatan sedikitun oleh Ica untuk nimbrung.
Via memilih membereskan album foto yang masih terserak di lantai. Matanya kemudian menangkap foto dirinya dan Mirza saat hari bahagia beberapa tahun lalu itu.
Via tersenyum mengamati satu per satu gambar dirinya dan suami di momen sacral itu. Diusapnya lembut gambar wajah suaminya. Aah… betapa kangennya dia dengan suami tampan berlesung pipinya itu. Sejenak Ica dan Via asyik dengan kegiatannya masing-masing. Mereka baru berhenti ketika Tia masuk kamar untuk mengingatkan mereka agar segera sholat maghrib lalu makan malam karena ia sudah menyiapkannya sejak tadi.
_______________
Sementara itu di rumah Om Jaka juga tak jauh beda. Denaya yang baru pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu nampak memindai seisi rumah. Untungnya sebelum pulang kampung, Om Jaka mengamanatkan seorang tetangganya untuk selalu membersihkan rumah, jadi ketika sekarang dia kembali rumahnya tetap bersih dan terawat.
"Nyaman juga ya Beb rumah ini." Komentar Denaya.
"Iya, sayangnya kamu nggak mau tinggal di ibu kota, Han"
"Nggak ah. Tinggal di kampung lebih damai." Denaya menyandarkan punggungnya di sofa ruang tengah rumah Om Jaka. Perjalanan dari kampung ke ibu kota selama hampir 4 jam ditambah lagi mampir ke beberapa tempat membuat Denaya tampak lelah.
"Udah malem, kita istirahat yuk!" Ajak Om Jaka.
"Aku mau mandi dulu, Beb." Denaya bangkit.
Om Jaka segera menggandeng lengan istrinya menuju kamar. Denaya terpesona dengan kamar Om Jaka yang rapi.
BRUKK....!!
Denaya langsung menjatuhkan diri di atas kasur dan tubuhnya mantul-mantul beberapa kali.
"Ooh..., akhirnya ketemu kasur juga..." Denaya merentangkan tangannya seraya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Katanya mau mandi, Han?" Om Jaka mengingatkan.
"Bebeb dulu aja deh. Aku udah pewe nih."
"Hemm, dasar muka kasur!" Om Jaka mencubit hidung Denaya gemas.
"Daripada Bebeb, muka tembok!" Balas Denaya tak kalah gemasnya.
Om Jaka terkekeh lantas segera masuk kamar mandi. Denaya tenggelam menikmati kenyamanan kamar suaminya.
Kamar yang cukup rapi untuk seorang duda. Batin Denaya. Ia kemudian ingat untuk mengabari pada ayahnya kalau sudah sampai Jakarta. Denaya segera mengirim pesan singkat pada Pak Haji Barkah lalu menyimpan ponselnya di atas nakas. Matanya kemudian bertumbuk pada figura kecil di atas nakas.
"Hah? Foto siapa ini?" Gumam Denaya seraya mengambil figura dan mengamati wajah dalam poto itu.
"Han? Lagi ngapain?" Tanya Om Jaka yang tau-tau sudah keluar dari kamar mandi tanpa Denaya sadari.
"Eh, Beb ... Ini, aku lagi liat foto ini." Denaya memperlihatkan figura yang dipegangnya. "Ini foto siapa, Beb?"
"Emangnya kamu pikir itu foto siapa, Han? Foto si Udin? Ya nggak mungkin kan?"
"Ish, Beb. Aku serius nanya!" Gemas Via sambil mau mencubit perut suaminya, tapi Om Jaka lebih gesit menghindar dengan memegang tangan Denaya.
"Itu foto aku waktu masih jaman jahiliah, Han." Sahut Om Jaka menunjuk foto dirinya yang sebelah kiri yang berkumis tipis dengan gaya sok yang paling keren sedunia akhirat.
Denaya melongo tak percaya, namun kemudian tawanya pecah.
"Nggak usah ngeledek ya? Itu waktu aku lagi ganteng-gantengnya." Om Jaka keki karena istrinya menertawakan foto dirinya dimasa mudanya.
"Kalo yang ini foto kamu juga, Beb?" Denaya menunjuk yang sebelah kanan.
"Iyalah! Keren kan? Itu foto waktu aku lagi syuting obat kuat."
"Apa? Syuting iklan obat kuat?" Denaya shock.
Kali ini Om Jaka yang terkekeh karena melihat reaksi kaget istrinya.
"Biasa aja, Han. Cuma becanda kok, suamimu ini meskipun keren bin macho tapi nggak pernah punya cita-cita jadi artis kok." Ucap Om Jaka berusaha menetralkan kekagetan istrinya.
Denaya yang merasa dikerjain langsung mencubit pinggang suaminya kesal dan kali ini Om Jaka tak sempat menghindar.
"Aaww..., Aawww...!!" Om Jaka meringis. "Suka banget sih kamu nyubit, Han? Heran deh!" Om Jaka mengusap-usap pinggangnya yang baru kena cubitan maut.
"Rasain! Makanya jangan suka ngerjain!" Denaya mencebik kesal lantas meletakkan kembali figura itu di atas nakas dan memandangnya lagi sejenak.
"Beb, tapi apa bener perutmu sixpack kayak gitu? Kok aku nggak tau ya?" Tanya Denaya polos.
Om Jaka senyum lantas mendekati istrinya dan membalikkan wajah istrinya untuk memandangnya.
"Makanya kalo kita lagi NGANU kamu jangan sambil merem, Han. Jadi kamu nggak tau kan perut suamimu ini kayak roti sobek?" Ucap Om Jaka seraya menatap manik mata istrinya.
Kontan saja Denaya tersipu mendengarnya. Dia menunduk karena malu, Om Jaka meraih dagu Denaya perlahan.
"Gimana kalo untuk membuktikannya kita lakukan sekarang?"
"L-lakukan apa, Beb?" Denaya agak terbata.
"Itu lho.... NGANU..." Sahut Om Jaka dengan senyum menggoda. "Jangan sambil merem ya, biar kamu bisa lihat roti sobek suamimu." Om Jaka mendekatkan wajahnya, Denaya menghindar.
"Emh, aku... mau mandi dulu, Beb." Kilah Denaya. "Lengket ..."
"Nggak papa, sekalian lengketnya, Han." Lengan kekar Om Jaka meraih tengkuk Denaya. Lalu....
TIIIIIIIIT......
SENSOR 😆😆😆
Fantasikan sendiri ya, Kak 🤭🤭
_______________
Foto :
- koleksi foto pernikahan Chico Jericho dan Putri Marino. (Mohon maaf ya, anggap saja itu foto Mirza Mahendra dan Livia Hasan) ☺️☺️
- koleksi foto Dian Sidik.
Oke, segini dulu up hari ini ya, Kak. 🤩🤩
Terima kasih sellau support othor.🙏🙏❤️❤️
Luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1