TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
284 #TIADA MAAF?


__ADS_3

Part ini kita balik ke acara kondangan, yaa …


😊


Di pesta rsepsi pernikahan Azad dan Jane,


Tuan Alatas bersama Mirza berjalan menuju pelaminan, tentu saja mereka tidak mengetahui ada tiga pasang mata yang tak lepas mengawasi dengan pandangan shock tak percaya.


Mirza masih belum sadar sekeliling, pun belum tahu yang tangah berdiri bahagia di singgasana raja dan ratu sehari yang tengah sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu undangan itu adalah Azad dan Jane. Sebenarnya ada begitu banyak foto kedua mempelai dari sejak memasuki ballroom tadi, namun Mirza tidak terlalu hirau akan hal itu.


Langkah kian mendekat, tiba giliran Tuan Alatas untuk memberikan ucapan selamat. Pandangan kedua mempelai cukup surprise melihat kedatangan Tuan Alatas, meski mereka memang mengundang sang Tuan Besar namun tak menyangka Tuan Alatas akan menyempatkan diri untuk hadir di hari bahagia mereka. Dan surprise itu menjadi berpuluh-puluh kali lipat mereka rasakan menakala menyadari sosok yang berdiri di belakang kursi roda Tuan Alatas adalah Mirza. Ekspresi yang sama pun ditujukan Mirza saat bertemu pandang dengan Azad dan Jane.


“Mas Mirza?” Azad menggumam dengan tatapan heran campur terkejut.


“Tuan, Anda dan Mas Mirza –“ Jane tak mampu melanjutkan kalimatnya saking surprisenya.


Tuan Alatas yang tidak tau sejarah perkenalan mereka kontan saja menoleh ke belakang, menatap Mirza penuh tanda tanya.


“Kami sudah saling mengenal,” sahut Mirza mencoba setenang mungkin meski jelas sekali ia tak bisa menyenyembunyikan degupan jantungnya yang tak ritmis. “Saya tidak tahu kalau Tuan akan mengajak saya ke pesta resepsi mereka,” lanjut Mirza memberi penjelasan.


Meski diliputi panasaran yang sangat, Tuan Alatas tetap datar. Pandangannya dialihkan pada kedua mempelai yang berdiri kaku di depannya, lanjut ia mengucapkan selamat untuk Azad dan Jane.


“Tuan, terima kasih banyak ya,” Jane tersenyum hangat menanggapi.


Mengeluarkan sebuah kotak persegi dari balik saku jasnya.


“Apa ini, Tuan?” Jane bertanya heran setelah menerimanya.


“Bukalah,” titah Tuan Alatas.


Kedua mata Jane nyaris melompat, menutup mulutnya yang ternganga dengan telapak tangan kanannya hingga membuat Azad ikut melihat apa isi dalam kotak itu.



Sebuah kunci mobil, “Tuan, ini –“ Jane haru campur bahagia tak mengira Tuan Alatas akan memberinya perhatian sampai sebegininya.


“Apa ini tidak terlalu berlebihan, Tuan?” sambung Azad.


“Jane pernah menjadi bagian dari bisnis keluarga saya, sudah sepatutnya dia mendapatkannya,” ucap Tuan Alatas. “Lagi pula saya hanya memberinya sebuah mobil, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan jasa dan kerja keras yang pernah ia berikan,” lanjut Tuan Alatas enteng.


“Tapi mobil mewah ini –“


“Aku tidak menerima penolakan,” memangkas ucapan Jane. “Dan kamu,” menatap Azad. “Jangan pernah menyakitinya, jika tidak ingin menyesal seumur hidupmu.”


Bukannya tersinggung, marah atau apa, Azad malah tersenyum. “Itu lebih terdengar seperti ancaman daripada nasehat.” Meraih pinggang perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya itu “saya juga tidak akan membiarkan siapapun menggoyahkan cintanya.”


Cup!


Sebuah kecupan singkat didaratkan Azad pada kening Jane. Tuan Alatas menarik sedikit sudut bibir atasnya kemudian memberikan isyarat pada Mirza untuk membawanya turun dari pelaminan karena sudah tampak mengantri para tamu lain untuk turut memberikan ucapan selamat.


Tatapan penuh rasa penasaran menggiring langkah Ramzi berjalan mendekati sang ayah.


“Kak, mau kemana?” Sofi menarik lengan Ramzi.


Tak menyahut, Sofi nampak enggan mengikuti sang suami. Terlebih lagi ia tadi menyaksikan adegan kebahagiaan Jane yang mendapatkan sebuah hadiah dari sang ayah mertua yang sangat membenci dirinya. Meski Sofi tidak tau apa isi dalam kotak hadiah itu, namun dengan melihat ekspresi raut bahagia Jane, pastilah isinya sangat berharga.


Tuan Alatas nampak berhenti di sebuah meja yng disediakan untuk tamu undangan, Mirza sedang bertanya apakah Tuannya itu menginginkan sesuatu.


Ramzi melambatkan langkahnya seraya mempersiapkan mental untuk bertemu dengan sang papa dengan masih dalam pengawasan Sofi dari kejauhan. Lain lagi dnegan Haji Barkah, ia tampak sibuk dengan ponselnya. Ia tak ingin kehilangan momen berharga ini.


“Astaghfirullah, kemana sih kamu, Jaka?” menggumam agak kesal karena telponnya tak kunjung diangkat oleh Om Jaka. Tak menyerah, Pak Haji pun coba menghubungi Denaya, namun hasilnya sama saja. Tak ada jawaban.


Di hotel yang sama dengan resepsi yang digelar Azad, Om Jaka baru saja keluar dari kamarnya tempat menginap. Om Jaka ternyata kerepotan membawa dua buah kado berukuran besar dengan kedua tangannya.


“Hani, harusnya kita nyuruh orang buat bawa ini semua,” protes Om Jaka.


“Udah deh, nggak usah bawel,” merapikan bandana yang dikenakan Amara.


“Iya tapi kamu bikin penampilanku rusak, masa udah pake jas rapi suruh bawa kado segede gaban gini? Kayak seles kompor gas tau, kagak?” Omel Om Jaka. “Lagian si Via juga ngapain pake ikut-ikutan ide gila kamu ngasih kado beginian segala?”


Yang lagi diomongin langsung muncul. Kamar Via menginap bersebelahan dengan kamar Denaya. Via nampak cantik dengan gaun panjangnya sampe bikin Om Jaka melongo.



“Kenapa Om, kok ngeliatin aku kayak gitu?” Via jadi salting.


“Elu ngapain pake bawa rumput-rumputan gitu? mo ngasih makan kambing? ” ternyata bukan penampilan Via yang bikin Om Jaka salfok, melainkan seikat rumpun bunga yang di tangan Via.


“Eh, ini –nggak tau, si Njum yang nyuruh,” melihat pada Jumilah yang baru nongol dari kamar dengan menggendong Nala. “Katanya buat penganten cewek,” sambung Via dengan wajah polos.


“Kenapa, Mbak?” Jumilah heran.


“Taroh, sana! Malu-maluin aja ke kawinannya orang kaya bawanya bunga begituan,” Om Jaka ngomel lagi sebelum Via menjelaskannya pada Jumilah.


“Eh, jangan sembarangan Om. Ini kembang mahal lho, Njum beli di depan hotel sono, harganya seiket 15 rebu!” Jumilah tak terima.


“Taroh, apa elu kagak usah ikut kondangan!” Om Jaka sedikit mengancam pada Jumilah.

__ADS_1


“Bebeb, biarin aja sih. Ngapain pake ributin kembang begituan?” Denaya heran juga dengan kelakuan sang suami.


“Tau nih Om Jaka,” Jumilah mengerucutkan bibirnya. “Ini kan kado Njum buat Mbak Jane.”


“Udah ah, ayok cepetan!” Denaya menggeret lengan suaminya, “Aku udah laper pengen makan,tau!”


“Sabar dong, Han!” sedikit kepayahan.


Mereka menuju ballroom dengan menggunakan lift. Begitu pintu lift terbuka, suasana sudah banyak lalu lalang para tamu undangan, alunan musik pun terdengar. Om Jaka berjalan paling belakang, beruntung mereka sudah mencapai meja penerima tamu sehingga Om Jaka bisa langsung terbebas dari bebannya. Diletakkan dua kado besar berisi perlengkpan rumah tangga dan alat memasak itu di meja sementara Via sedang mengisi daftar buku tamu.


“Mbak, makanannya enak-enak nih, Njum boleh bawa pulang nggak ya?” Bisik Jumilah pada Via.


Kontan saja Via langsung melotot tajam, “jangan malu-maluin!” gumamanya.


“Udah, Vi?” Tanya Denaya.


Mengangguk, “beres.”


“Ya udah yok, kita mau nemuin pengantennya dulu apa mau makan dulu nih?” Denaya agaknya emang udah laper beneran.


“Makan dulu aja, Mbak.” Jumilah menyahut semangat.


Denaya segera setuju, “Bebeb!” menarik Om Jaka.


“Bentar, Han. Ini dari tadi ponsel gue geter mulu nih, siapa sih yang nelpon? Kagak tau orang lagi rempong apa?” mengambil ponselnya dari saku jasnya. “Ayah?” sedikit haren mengetahui ayah mertuanya yang menelpon.


“Oh, ayah pasti udah disini nungguin kita, Beb,” sahut Denaya lantas celingukan mencari sosok Haji Barkah. “Kamu sih tadi kelamaan pake debat dulu!” melirik kesal pada sang suami.


“Kalian duluan deh, pada mau makan dulu kan? Gue mau nerima telpon ayah dulu,” gegas keluar ruangan karena suasana sangat ramai.


“Yah, kok malah pergi sih? Ntar kalo kamu ilang gimana dong?”


Via nyengir tak habis pikir, “udah nggak usah khawatir, kalo Om Jaka ilang tinggal cari gantinya,” celetuk Via.


“Ish, kamu Vi! Suami aku itu limited edition!”


“Ya udah, kita makan dulu aja, katanya kamu laper?” segera menggandeng lengan Denaya.


Via, Denaya, dan Jumilah segera berbaur dengan para tamu undangan lain. Beruntung baby Nala dan Amara tidak rewel, istirahat mereka cukup jadi tidak terganggu dengan suasana pesta yang sangat ramai itu.


Di sisi ruangan lain, Ramzi sudah mencapai meja Tuan Alatas.


“Papa,” panggil Ramzi lirih.


Yang dipanggil seketika menoleh, tentu saja dengan ekspresi dinginnya. Tuan Alatas tak nampak terkejut sedikit pun, ia mungkin sudah memperhitungkan akan bertemu dengan Ramzi karena Azad memang adik ipar dari anak semata wayangnya itu.


“Apa kabar, Pa?” suara Ramzi agak bergetar, ia melihat keadaan sang ayah yang tidak terlalu baik. Pertanyaan itu jadi terkesan hanya basa basi.


Mirza yang sedari tadi seperti menahan napas, menadadak merasa lega karena harus keluar dari situasi tegang seperti ini.


“Tunggu, Pa,” Ramzi setengah memohon, ia duduk di kursi sebelah ayahnya, sedangkan Mirza masih berdiri di belakang sang Tuan. “Pa, maafkan aku –“


Tak menyahut, Tuan Alatas tampak enggan melihat wajah Ramzi.


“Pa, aku tidak tau kalau keadaan Papa seperti ini,” ucap Ramzi penuh sesal. Sungguh ia tak mengira kondisi papanya lebih buruk dari yang ia pikirakan. Andai saja dirinya tahu, pastilah dia sudah menjenguknya dari dulu.


“Pa, aku memang bersalah. Aku memang bukan anak yang baik,” kedua mata Ramzi mulai mengembun.


Tak bergeming sedikit pun, agaknya Tuan alatas sudah menulikan kedua pendengarannya. Ramzi semakin merasa bersalah dibuatnya.


“Papa –“ berusaha meraih tangan sang ayah, namun Tuan Alatas dengan cepat menghindarinya membuat Ramzi terpukul merasa tak lagi dihargai sebagai seorang anak, hatinya sungguh perih.


Mengangguk berusaha tegar dengan menahan agar buliran bening tak sampai menetes jatuh, bagaimana pun juga ini suasana bahagia pernikahan adik iparnya, rasanya tak pantas jika ia terlihat bersedih. “Baik Pa, tidak apa-apa kalau Papa tidak mau memaafkanku,” ucap Ramzi penuh kegetiran.


Hati Mirza ikut mencelos mendengarkan kalimat Ramzi, seolah ia merasakan beban hati yang tengah ditanggung Ramzi. Beginikah rasanya saat orang tua tak mau memaafkan kesalahan anaknya? Jangankan untuk berucap, melihat wajahnya pun sepertinya tak sudi. Apakah dirinya akan bernasib sama jika suatu hari nanti bersimpuh dikaki sang ibunda untuk meminta maaf atas semua kesalahan fatalnya yang telah pergi menghilang begitu saja?


“Mirza,” suara Ramzi membuat Mirza tersadar dari benaknya.


Bukan hanya Mirza yang kaget, tapi Tuan Alatas juga sukses ikut menoleh surprise.


“Bagaimana bisa kamu bersama Papa?” pertanyaan itu baru sempat terlontar dari mulut Ramzi, padahal ia sudah penasaran sejak melihat Papanya dan Ramzi memasuki ballroom tadi.


“Aku yang merawat Papamu,” sahut Mirza tetap tenang meski ia tau dari perubahan wajah sang Tuan, akan ada pertanyaan besar yang dilontarkan untuknya.


Ramzi mengulas senyum, “syukurlah, aku percaya padamu. Tolong rawat Papa dengan baik.”


“Tentu,” mengangguk pasti.


“Kalian saling kenal?” meluncurlah pertanyaan yang sedari tadi Mirza khawtairkan.


Mirza tak tau harus mulai menjelaskannya dari mana, belum usai penasaran Tuannya kenapa dirinya bisa mengenal Azad dan Jane, kini sudah bertambah rasa heran dan penasaran lain yang muncul di pikiran Tuan Besarnya itu.


“Dia yang membantu Sofi di masa sulitnya.”


Kalimat Ramzi itu bagaikan butir peluru yang mematikan untuk Mirza. betapa ia sudah berusaha menutupinya selama ini, ternyata terungkap hanya dengan sekali ucap.


Wajah Tauan Alatas kentara sekali menengang, Mirza cukup pias dibuatnya namun kemudian suara berisik mencairkan suasana tegang diantara ketiganya.

__ADS_1


“Za! Elu masih idup? Gue kira elu udah mati dimakan ikan pesut!” sekonyong-konyong Om Jaka muncul menggaplok punggung Mirza membuatnya hampir pingsan saking kagetnya demi melihat kemunculan sang Om somplak yang tak tau nongol dari mana.


“Om Jaka?” uacapnya setelah pulih dari keterkejutannya.


“Iya, ini gue! Kemana aja lu, kagak ngasih kabar, pergi diem-diem, udah kayak anak perawan minta kawin kagak direstui bapaknya, tau kagak lu?!” Om Jaka mengomel tiada henti.


Rentetan kalimat demi kalimat Om Jaka semakin memperkeruh suasana hati Tuan Alatas, ternyata Mirza menyimpan banyak hal yang sengaja ia tutupi.


“Mirza, apa kita bisa pergi sekarang?” pertanyaan bernada sarkas itu mengagetkan semuanya.


“Eh, ntar dulu!” tahan Om Jaka. “Elu kagak boleh pergi, elu harus ketemu sama anak bini elu!”


Tercekat seketika, “Vi –a ada disini?” menggumam terbata tak percaya.


Om Jaka celingukan tak sabaran, ia tadi sudah sepakat bagi tugas dengan sang ayah mertua. Dirinya yang menemui Mirza, Haji Barkah yang mencari Via.


“Huh, kemana sih tuh para emak-emak rempong? Heran gue, kalo udah ketemu makanan pasti pada hilaf!” menggerutu kesal.


“Om, apa Via ada disini?” Mirza mengulang petanyaannya.


“Iya! Kenapa, lu kagak mau nemuain?” tuduh Om Jaka sengit. “Jangan jadi pengecut lu, tau kagak bini lu hampir gila mikirin elu. Dia udah mau ikut acara orang ilang di tipi tau, saking bingungnya kudu nyari elu kemana?” Om Jaka sengaja hiperbola. “Dicariin kemana-mana kagak taunya malah lagi enak-enakan kondangan, dasar suwek lu!” semprot Om Jaka makin kesal.


Mirza terima semua tuduhan Omnya. Dirinya memeng pengecut, pecundang sejati. Hatinya dipenuhi debaran tak menentu kini. Sosok perempuan yang sangat dicintainya ternyata ada disini. Sungguh ia tak menyangka akan bertemu dengan sang istri dalam suasana seperti ini. Ditengah perasaan Mirza yang jedak jeduk tak karuan, Tuan Aalats terlihat semakin gusar hingga membuat Ramzi merasa harus melakukan sesuatu.


“Biar aku antar jika Papa ingin pulang sekarang,” menawarkan diri.


“Tidak perlu,” ketus sang Papa.


Seketika Ramzi kecewa, niat baiknya ditolak mentah-mentah, padahal ia tau papanya sudah merasa tak nyaman.


“Ayolah Pa, Mirza mungkin akan sedikit lebih lama disini karena –“


“Tidak usah mengaturku, aku tak perlu bantuanmu!”


“Baik, kalau begitu aku akan minta Gerald untuk menjemput Papa,” merogoh saku jasnya berniat mengambil ponsel untuk menelpon Gerald.


“Aku tidak perlu apa-apa darimu, jadi jangan sok perhatian!” sarkas Tuan Alatas dengan tajam yang sukses membuat semuanya beralih menatapnya.


“Pa, aku hanya nggak mau Papa kelelahan, Papa sedang sakit kan?” Ramzi kekeh.


“Memangnya siapa kamu? Apa pedulimu?”


Ramzi terhenyak, “apa Papa sudah tidak menganggapku anak lagi?”


Drama kini tengah berlangsug anatara ayah dan anak. Om Jaka yang tak tau seluk beluk perkaranya, hanya bisa ikut memandang dengan berjuta rasa tanda tanya.


“Sejak kamu memutuskan pergi, kamu bukan anakku lagi!” Tandas Tuan Alatas.


“Tuan, baiklah mari saya antar pulang sekarang,” Mirza turun tangan menengahi perang antara ayah dan anak itu.


“Za, elu mau pergi sekarang?” Om Jaka kecewa.


“Om, aku harus antar Tuan Alatas pulang. Karena ini adalah tanggungjawabku.”


“Iya, tapi Via sama Nala nanti –“


“Om Jaka nggak langsung pulang kan?” potong Mirza. “Nanti malam aku kesini lagi.”


“Ntar malem pestanya udah bubaran! Lu kira gue tukang dekor, mau diem aja disini beresin meja prasmanan?” Om Jaka kesal.


Mirza terus memohon pengertian, “Om, tolong ngerti, aku sekarang kerja sama Tuan Alatas. Jadi aku bertanggung jawab penuh pada kesehatannya, aku harus antar pulang sekarang.”


Tak menyahut, Om Jaka sungguh kecewa tapi juga geregetan kenapa si Via belom nongol juga. Namun Om Jaka tak bisa berbuat apa-apa, terlebih lagi ia melihat wajah suram Tuan Alatas, akhirnya Om Jaka hanya bisa pasrah membiarkan sang keponakan pergi dengan mendorong kursi roda Tuan Alatas.


Langkah mereka semakin menjauh, pupus sudah harapan Om Jaka untuk mempertemukan Mirza dengan Via.


“Mas Mirza!”


Suara itu sungguh familiar, ditengah kemeriahan pesta dalam langkahnya yang hampir mencapai pintu keluar ballroom, Mirza mendengar sesorang memanggilnya.


Seketika menghentikan langkahnya, menoleh perlahan.


Bayangin ya, ini adegan slow motion, wwkwkwk…. 🤭🤭


Via berjalan ke arah Mirza. Diantara lalu lalang para tamu undangan yang semakin ramai, Mirza mencari sosok pemilik suara yang sangat dirindukannya itu.


Tap tap tap


Langkah Via semakin dekat, Mirza membalikkan badan sepenuhnya. Ia sungguh merasa ini bukan mimpi, separuh jiwanya kini berada di hadapannya. Mereka berdiri mematung seolah kaku untuk saling menggapai, meski bibir mereka tak berucap, namun pandangan keduanya jelas menyiratkan kerinduan yang sangat mendalam.


_


_


_


Kita lanjut lagi nanti ya 🥰🥰

__ADS_1


Othor ucapkan banyak-banyak terima kasih buat readers kesayangan yang selalu setia support karya abal-abal ini 🙏🙏😁😁


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2