
JANGAN NYEPAM DI KARYA GUE!!!
(maaf ye, emak othor lagi gedek sama tukang spam!)
❤️❤️❤️❤️❤️
Aroma harum masakan yang baru saja disajikan di meja makan menggelitik bulu hidung Mirza, matanya mengerjap, perlahan ia bangun dari sofa ruang tengah yang menjadi tempat pelampiasan kantuknya yang masih membalut matanya selepas subuh tadi. Mirza melihat hasil karya istrinya sudah terhidang di ruang makan, langkahnya diayun ke dapur, nampak istri cantiknya sedang mencuci perkakas dapur yang kotor.
Via yang berdiri membelakanginya tak menyadari kedatangan suaminya. Mirza tersenyum melihat sang istri, meski hanya mengenakan daster dan rambutnya yang masih agak basah diikat seadanya namun selalu membuat Mirza terpesona.
Krep…
Mirza memeluk Via dari belakang.
“Eh, Mas udah bangun?” Via tersenyum, tangannya membilas beberapa perabot yang sudah selesai disabun.
“Bukan cuman Mas yang bangun, tapi juga si boim nih.” Mirza menciumi tengkung istrinya.
Via kaget dan langsung berbalik menatap suaminya galak. “Jangan macem-macem ya, Mas. Suruh si boimmu itu tidur lagi!”
Mirza malah memepet istrinya, raut wajah Via menegang sama seperti si boim di bawah sana.
“Nggak bisa kah kita melakukannya sebentar sebagai olah raga pagi?” puppy eyes Mirza mengerjap-ngerjap memohon pengertian.
“Nggak!”
“Olah raga pagi itu sehat lho, Sayang.” Mirza merayu.
“Semalem kan udah? Rambutku aja belum kering, Mas. Aku bisa telat ke kantor nanti.”
“Mas bantu keringin nanti." Mirza nyengir. "Ya mau ya?” Mirza mendekatkan wajahnya.
“Ih, nggak ya nggak ….” Via mendorong tubuh suaminya lalu mengelap wajah suaminya dengan kedua telapak tangannya yang masih basah. “Nih, rasain!”
“Aduh, kok muka Mas diuyel-uyel sih?”
“Mau tambah ini sekalian? Biar otak Mas nggak mesum terus!” Via mengambil spons pencuci piring yang penuh busa.
Spontan Mirza mundur. “Ampun, Sayang.”
“Makanya jangan usil, aku gosok muka Mas pake ini nanti biar kinclong!” Via mencebik seraya melemparkan spons ke wastafel.
“Teganya! Kau samakan wajah suamimu yang ganteng ini dengan pantat wajan!” Mirza pura-pura ngambek.
“Itu hanya bentuk peringatan. Camkan itu wahai Ki sanak!” Via melengos cuek menuju meja makan.
Mirza segera mengekor dan mengambil duduk di sisi istrinya. “Wuahh, ini kayaknya enak banget Sayang.” Mata Mirza berbinar menatap menu yang terhidang.
Via mengambilkan nasi untuk suaminya. “Iya, aku sengaja masak rawon buntut Mas.”
“Istriku memang jago masa.” Puji Mirza dengan senyum lebar lantas menyendok rawon ke dalam piringnya. “Ini buntut apa, Sayang?”
“Buntut tirex.”
“Ha? Buntut tirex?” Kedua mata Mirza membulat.
“Ish! Biasa aja dong Mas, nggak usah kaget gitu.” Via sebel. “Butut sapi lah, masa iya buntut tirex?” Lanjut Via memberikan sendok dan garpu untuk suaminya.
“Oh, syukurlah. Mas kira buntut tirex beneran, Sayang.”
Via mengerucutkan bibirnya, reaksi suaminya lebay banget. Emang bisa buntut tirex dibikin rawon?
Meraka kemudian mulai menyantap menu sarapan special itu bersama.
“Kok tumben Sayang, kita sarapan menu berat gini? Biasanya roti atau ….”
“Kan kita mau jenguk ibu, Mas. Ibu juga suka banget kan sama rawon? Nanti kita bawain buat ibu ya.” Sahut Via disela sarapannya.
Mirza melirik istrinya. Via tampak begitu santai, ia seperti tak menyimpan dendam atau rasa sakit hati apapun terhadap ibu mertuanya. Mirza terdiam, ia ragu ingin mengatakan sesuatu pada istrinya.
“Kok ngeliatin aku kayak gitu sih, Mas?” Tanya Via yang sadar dirinya sedang diperhatikan.
“Emh, gimana kalo Mas perginya sendiri aja?”
“Kok gitu?”
“Ya … kamu kan abis pulang kerja, sayang. Nanti malah capek.” Mirza beralasan.
Via menghentikan makannya. “Bukannya kerana ada alasan lain?” Diatatapnya kedua netra suaminya penuh tanya.
Mirza menghela nafas. “Sebenarnya Mas hanya nggak mau melihat ibu melukai hati kamu dengan kata-katanya lagi.”
“Nggak papa Mas, aku udah biasa kok.” Via mengulas senyum tipis. “Lagian kalo Mas datang kesana sendiri ibu pasti tambah berpikir negatif sama aku.”
“Mirza meraih tangan istrinya. “Sayang, Mas mohon. Mas cuman nggak mau melihat kamu tersakiti oleh ibu.”
Setelah berpikir sejenak akhirnya Via pun setuju. Via pamit selepas sarapan, ia akan ke kantor dengan memakai motor.
“Sampaikan salamku untuk ibu ya, Mas.” Ucap Via sebelum pergi.
“Iya, Sayang. Kamu hati-hati ya, kabari Mas kalo ada apa-apa.” Pesan Mirza.
Via mengangguk lantas mencium punggung tangan suaminya dan mengucap salam segera berlalu.
Sepeninggal istrinya, Mirza berinisiatif untuk membereskan rumah karena Via bangun sangat pagi dan langsung masak tak sempat beberes. Mirza tak ingin melihat istrinya yang sudah lelah bekerja seharian kelak pulang masih juga harus capek mengurus rumah.
Kegiatan Mirza berhenti menjelang siang, ia pun beristirahat sejenak seraya meraih ponselnya bermaksud ingin menelpon ibunya terlebih dahulu. Namun setelah menimbang sesaat, ada baiknya ia langsung datang saja hitung-hitung buat kejutan. Mirza bersiap.
Ting tung … ting tung …
Terdengar suara bel dari depan.
Ting tung … ting tung …
Sekali lagi bel berbunyi, agaknya orang yang mencet itu nggak sabaran banget.
Mirza berjalan cepat ke depan sambil menggerutu siapa si tamu yang sangat tak sabaran itu.
“Za, elu di dalem kan….?”
Sebelum mencapai pintu, dari suaranya Mirza langsung tau siapa sang tamu itu. Mirza segera membuka pintu dan mendapati tampang ajaib Omnya.
“Tadaaaa…… kejutan …..!” Ucap Om Jaka dengan senyum lebar sambil menunjuk pada sebuah mobil kinclong yang terparkir di luar pagar rumah.
Mirza mengernyit heran. “Mobil siapa tuh, Om?”
“Ya mobil elu lah, masa mobil si Udin!” Om Jaka keki.
Mirza melongo, lantas berjalan menghampiri mobil yang masih sangat mengkilap penuh bintang-bintang itu saking kinclongnya.
“Ini mobil baru?” Mirza tak yakin.
“Iye mobil baru, mobilnya elu.” Jawab Om Jaka bangga.
“Mobil aku? Kok bisa?” Mirza masih heran.
“Ya bisa lah, gue yang beliin buat elu! Dan pake duit elu, hehehe….” Om Jaka cengengesan.
“Pake duit aku yang ada sama Om Jaka itu?” Mirza sekonyong-konyong melotot.
“Iye. Kenapa? Udah, elu nggak usah terharu gitu. Gue tau kok elu mau bilang makasih kan sama gue? Santai aja, gue emang baik dan perhatian kok sama elu, jadi elu nggak usah berlebihan ya. Gue tau kok elu pasti nggak sempet ke show room kan? Makanya gue sengaja beliin dan pilihin yang pas buat elu. Gimana, elu suka mobilnya kan?” Om Jaka nyerocos memuji dirinya sendiri masih dengan tampang ajaibnya yang penuh percaya diri.
“Kok Om nggak bilang dulu sih sama aku? Aku kan belum ngobrol sama Via?” Mirza kesal, pingin rasanya dia marah sambil nguyel-nguyel tampang Omnya yang sok tau itu.
“Halah, kagak usah bilang juga si Via pasti setuju, dia kan tipe istri yang penurut.” Sanggah Om Jaka enteng.
“Tapi…”
“Kagak usah pake tapi tapi, sekarang cobain sana mobilnya buat keliling komplek!” Om Jaka mendorong punggung keponakannya.
Mirza mendengus, ia coba bersabar dan mencari sisi positif dari tindakan Omnya yang semaunya sendiri itu. Walau ia pingin banget ngomel, namun rasanya nggak pantas karena niat Om Jaka sebenarnya memang baik. Mirza hanya berharap semoga Via nggak merasa tersinggung atau marah padanya ketika tau hal ini karena biasanya Mirza selalu melibatkan istrinya dalam memutuskan apapun jika menyangkut kepentingan bersama, Mirza adalah tipe suami yang demokratis!
__ADS_1
“Wadidaaaw ….. mobil baru nih!” Seru satu suara yang datang tiba-tiba entah dari mana. “Mas Chicko baru pulang melaut udah beli mobil baru aja…., mana keren dan cakep banget dah mobilnya, sama kayak orangnya……” si pemilik suara melirik genit pada Mirza lantas mengelus-elus body mobil sambil merem melek seolah membayangkan sesuatu.
“Eh, sapa dia Za?” Om Jaka agak shock melihat mahluk over semok bohay bahenol dengan dempul tebal dan bibir yang selalu merah menyala itu.
Si mahluk over semok bohay bahenol dengan dempul tebal dan bibir yang selalu merah menyala yang tak lain adalah Bujel itu pun agak surprise melihat pada Om Jaka. “Eh, ada orang lain toh disini selain Mas Chicko?” Bujel menghentikan aktifitas mengelus-ngelus body mobil barunya Mirza dan segera melempar senyuman terbaiknya pada Om Jaka. “Halo, ganteng … Kenalin, saya Jelita Manjalita tetangganya Mas Chicko Jerico.” Bujel mengulurkan tangannya disertai kerlingan mata menggooda.
Namun bukannya langsung menyambut, Om Jaka malah kayak bergidik ngeri ngeliatin mahluk Tuhan yang paling antik sekomplek itu.
“Sorry, bukan muhrim.” Ucap Om Jaka ogah menjabat tangan Bujel.
“Duuuh, jual mahal banget sih ganteng ….” Bujel malah semakin agresif mau mengelus juga Om Jaka punya body yang kekar kayak binaragawan itu.
“Eeeeh, jangan pegang-pegang!” Om Jaka mundur. “Gue masih punya wudhu. Sana lu, getel banget sih jadi orang!” Kesal Om Jaka. “Dia beneran tetangga elu, Za?” Om Jaka heran.
Mirza hanya menyahut., “Hem.”
“Galak amat sih, kan aku cuman mau kenalan?” Bujel memonyongkan bibirnya. “Oya sampe lupa, aku belum nanya kabar. Mas Chicko apa kabar? Sehat?” Bujel tersenyum dan bertanya sok perhatian pada Mirza. “Tau nggak sih Mas, komplek ini tuh rasanya sepi, hampa tanpa kehadiran Mas Chicko. Sama kayak hatiku yang sepi, hampa merana karena terlalu lama ditinggal kekasih pujaan hati. Jiwaku kosong, kering kerontang, gersang laksana padang ilalang yang …”
“Eh, maaf… Mbak, maaf banget ya. Saya tiba-tiba mules nih.” Mirza mengiterupsi sambil memegangi perutnya. “Saya permisi dulu ya …” Mirza ngacir berlari ke dalam rumah membuat Bujel dan Om Jaka keheranan.
“Lho, Mas Chicko kenapa tiba-tiba mules gitu sih? Padahal kan aku lagi berpuisi.” Bujel menghentakkan kakinya belagak kesal, lantas ia beralih melirik pada Om Jaka. “Ekhem, Mas ganteng ….”
“Aduduh ….!” Om Jaka meringis memegangi perutnya. “Maap, perut gue tiba-tiba mules juga nih! Maap ye ….” Om Jaka ikutan ngibrit meninggalkan Bujel melongo seorang diri.
“Kok bisa sih mules berjamaah gitu? Huh! Dasar para laki-laki tak berperasaan!” Kesal Bujel.
Namun kekesalan Bujel itu tak bertahan lama karena mendadak ia mendapatkan sebuah ide yang sangat brilliant. Segera ia keluarkan smart phonenya dari dalam saku bajunya.
Cekrek cekrek cekrek
Bujel mengambil beberapa foto selfi bersama mobil baru Mirza dengan berbagai gaya yang sudah pasti sangat narsis.
Bujel tersenyum puas. “Ini akan menjadi tambang sembako selanjutnya.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Setelah pertemuan dengan Hanson kemarin, Sofi sangat gelisah. Kini selain mengahadapi sang ayah mertua yang sewaktu-waktu bisa saja mendepaknya dari istana megah suaminya itu, ia pun harus menghadapi ancaman Hanson yang sangat gila menurutnya. Sofi berpikir keras, tak ada seorang pun yang dapat diandalkannya untuk membantunya, kecuali …..
“Sayangku, kamu melamun?” Ramzi masuk kamar heran melihat istrinya memandang kosong ke luar balkon.
Sofi kaget mendapati suaminya tiba-tiba datang. “Kak Ram? Kanapa ada disini, bukanya Kak Ram harusnya di kantor?”
“Aku mengambil berkas yang ketinggalan.” Ramzi memperlihatkan map yang dibawanya.
“Kenapa nggak nyuruh orang aja, jadi Kak Ram kan nggak usah repot-repot pulang?”
“Kamu lupa ya, aku kang nggak punya asisten?”
Tring!
Sebuah bola lampu seolah langsung bersinar di atas kepala Sofi begitu mendengar kata asisiten.
Ia beranjak dan menghampiri suaminya. “Apa cuma karena alasan itu? kalo gitu kenapa harus masuk dulu ke kamar, nggak langsung pergi aja?” Dibelainya lembut pipi suaminya yang penuh browok itu.
“Kenapa harus buru-buru, aku mau lihat istriku dulu.” Ucap Ramzi manatap intens kedua netra istrinya yang nampaknya sengaja menggodanya itu. “Sejak kepulanganku dari luar kota, kita belum …”
“Suuuuutt!” Sofi menempelkan telunjuk kanannya pada bibir Ramzi. “Kalau kamu mau kita bisa melakukannya sekarang.” Sofi mendekatkan dadanya lebih mepet lagi sehingga membuat Ramzi cukup kaget.
“Sekarang?” Ramzi tak yakin.
Sofi mengangguk disertai senyuman. “Maafin aku ya. Akhir-akhir ini aku banyak sekali pikiran sampai mengabaikanmu.”
“Aku paham.” Ramzi menyelipkan rambut Sofi pada daun telinga istrinya itu sehingga membuat leher jenjang Sofi makin terekspose. “Kehamilanmu mungkin membuatmu sering lelah.”
“Bukan itu, masalahnya adalah papamu.”
“Papa? Kenapa?” Ramzi mengernyitkan keningnya.
Sofi berbalik dengan wajah masam yang dibuat-buat. “Dia sengaja mengundang perempuan penggoda itu makan malam disini dan memintanya untuk menjadi asisiten pribadinya.”
Ramzi mendekat. “Jane maksudmu?”
“Siapa lagi?” Kesal Sofi. “Aku yakin papamu melakukan itu untuk membuatnya dekat denganmu. Papamu itu sepertinya selalu saja mencari masalah denganku, padahal aku selama ini berusaha baik padanya. Aku juga tak berulah macam-macam saat kau tak ada. Tapi dia selalu saja membenciku, padahal aku kan sedang hamil anakmu, ini adalah cucunya sendiri, darah dagingnya juga kan? Hiks… hiks… hiks…” Sofi terisak, bahunya sampai berguncang-guncang.
Sofi melerai pelukan. “Jangan lakukan itu, aku takut papamu akan tersinggung dan semakin membenciku. Dia akan beranggapan aku telah mempengaruhimu, hiks…hiks…hiks…” Air mata Sofi lebih deras lagi mengalir. “Lagi pula perempuan penggoda itu sudah menolak tawaran papamu. Aku hanya mengingikan kau tetap di sampingku, Kak. Mendukung dan menyemangatiku setiap waktu.”
“Memangnya kau mau bertanding sepak bola sampai perlu didukung dan semangati segala?” Ramzi coba mnggoda Sofi.
“Bukan begitu! Ah, kau payah, Kak!” Sofi pra-pura ngambek lagi.
Ramzi tersenyum, diusapnya pipi basah wanita yang sangat dicintainya itu. “Iya aku tau maksudmu, sayangku. Aku kan hanya becanda. Sudah, jangan nangis lagi ya. Aku pasti selalu di sampingmu apapun yang tejadi.”
“Bener?”
“Iya, aku orang pertama yang akan membelamu jika terjadi apa-apa denganmu.”
“Kamu nggak lagi menggombal kan?”
“Aku serius, istriku. Karena aku adalah orang yang paling mencintaimu.” Ucap Ramzi bersungguh-sungguh. “Kamu juga harus tahu, aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku nggak mau bayi kita ini kenapa-napa kerana sindrom yang dideritamu, makanya aku tadi sempatkan melihatmu kemari.” Ramzi mengelus perut rata Sofi dan memandanginya dengan senyuman, seolah janin yang ada di dalam sana juga sedang tersenyum padanya.
“Terima kasih ya, Kak. Aku juga mencintaimu.” Sofi mendekatkan b***rnya lalu …
TIIIIIIIIIIT
SENSOR
😝😝😝
“Emh, sayangku.” Ucap Ramzi kemudian. “Apa kita akan benar-benar melakukannya sekarang?”
“Bagaimana menurutmu?” Sofi mengerling nakal, tangannya merayap menyusuri dada bidang suaminya yang masih terbalut setelan jas rapi.
“Eum…, entahlah ….”
“Apa kau sedang buru-buru? Atau kau takut pada papamu?”
“Tentu saja nggak …. “
“Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang. Kau bisa langsung mandi dan pergi setelah kita selesai.” Sofi membuka kancing jas suaminya.
bayangin sendiri yaa.... 🤭🤭🤭
❤️❤️❤️❤️❤️
Lepas dzuhur, Mirza sampai di kediaman ibunya. Rumah itu masih terlihat sama, masih begitu asri dan nyaman sama seperti beberapa bulan yang lalu ketika ia terakhir kali menginjakkan kaki disana. Nyaman hanya dalam penglihatan, karena nyatanya setelah turun dari mobil dan melangkah keluar, hati Mirza mendadak resah. Namun segera dihalaunya segala pikiran buruk dari benaknya.
Sasana rumah sepi, pelataran rumah nampak dipenuhi guguran kembang jambu daun jambu kering yang berserak. Mirza menuju toko di samping rumahnya, mungkin ibunya ada di sana. Hanya ada Udin yang sedang terkantuk-kantuk di bawah etalase besar tempat gula dan minyak tertata rapi di sana. Terbesit ide jahil di kepala Mirza. Diambilnya kotak korek api dari atas meja kasir dan dilemparkan ke arah Udin.
PLUK!
“Eh, kawin! Eh, kawin!” Sontak Udin kaget sambil nyeplos nggak nggenah.
Mirza terbahak melihat tingkah konyol Udin. “Siapa yang minta kawin, Din?”
Udin terkejut mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Ia memandang tak percaya pada sosok yang berdiri di dekat meja kasih, dukuceknya kedua matanya tergesa dan menajamkan pandangannya. “Mas Mirza?” Udin bangkit dan menyongsong lelaki tegap itu kemudian menubruknya seketika. “Mas Mirza kapan datang? Udah pulang ya? Alhamdulillah…. Aku seneng banget Mas Mirza akhirnya pulang.”
Mirza agak risih dengan perlakuan Udin. “Udah, ah! Peluknya jangan lama-lama, aku geli!” Mirza menjauhkan tubuh Udin.
“Aku kan kangen, Mas…”
“Kangen sih kangen, tapi nggak gitu juga!”
Udin nyengir. “Oya, udah ketemu ibu mas?”
“Baru juga dateng. Justru aku mau nanya ibu dimana?”
“Ada di dalem, Mas. Sekarang ibu nggak penah jaga toko, paling kadang-kadang aja.”
“Kenapa?”
Udin tiba—tiba berubah sendu. Lantas ia menceritakan tentang kondisi Bu Een dari mulai jatuh sampa keadaannya drop seperti sekarang.
__ADS_1
“Ya udah, aku ke dalem dulu ya.” Mirza melangkahkan kaki menuju rumah. setelah memberikan oleh-oleh pada Udin. Dibukanya pintu depan perlahan serya megucap salam. Mirza terus masuk ke dalam dan mendapati ibunya tengah tiduran di sofa depan TV.
“Assalamualaikum, Bu.” Ucap Mirza sekali lagi.
Bu Een yang agaknya mulai mengantuk baru menyadari seseorang datang ke rumahnya. “Wa alaikumsalam.” Bu Een menoleh malas.
Mirza mendekat dan segera bersimpuh di dekat sofa seraya meraih tangan ibunya, menciumnya takzim. Bu Een terperangah, ia sama sekali tak menyangka Mirza akan datang hari ini walau sebenarnya dia sudah tau perihal kepulangan anaknya itu dari Bujel.
“Mirza ….” Bu Een bangkit perlahan dan duduk menatap wajah putra kesayangannya dengan mata haru.
Begitu pun dengan Mirza, wajah wanita yang paling dicintainya itu terlihat lebih tirus dan nampak kantung mata di sana menandakan ia kurang istirahat.
“Ibu gimana kabarnya? Sehat kan?” Mirza masih menggenggam tangan kanan ibunya.
Bu Een hanya mengangguk, matanya tak lepas dari wajah anak semata wayangnya yang sangat dirindukannya itu. Mirza terlihat semakin dewasa dan mapan. Rambut gondrong dan brewok tipis yang menghias wajahnya menjadikannya makin menawan. Bu Een bangga sekali, putranya itu memang sangat tampan.
Ia kemudian mengusap kepala Mirza penuh kasih, Mirza pun meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya. Menikmati belaian lembut tangan sang bunda yang sudah sangat lama tak dirasakannya. Memorinya menembus lorong waktu berpuluh tahun yang telah lewat, dimana Mirza kecil yang selalu bermanja pada ibunya dan tak kan pernah mau tidur sebelum tangan sang bunda mengusap-usap kepalanya sambil mendongengkan cerita-cerita fiktif kesukaannya.
“Kenapa kamu baru kesini?” Tanya Bu Een parau.
Mirza mendongak, kembali melihat wajah tua yang dikasihinya itu. “Maafin aku ya, Bu ….” Rasa sesal menyelimuti hati Mirza, jika saja ia menuruti saran Via waktu itu untuk segera mengunjungi ibunya setelah kepulangannya mungkin ia tak akan merasa seperti ini.
“Apa istrimu yang melarangmu untuk menemui ibu?”
JLEB!
Mirza tersentak, ia menegakkan posisinya. “Kenapa ibu mengira seperti itu? Justru Via yang memintaku agar segera menemui ibu.”
Bu Een tak mneyahut, namun kentara sekali ia tak setuju dengan perkataan anaknya itu. Mirza duduk disamping ibunya dan mengambil beberapa paper bag yang tadi diletakkannya di lantai. “Ini untuk ibu, semoga ibu suka.”
Bu Een mengambilnya dan meletakkannya di meja. “Ibu nggak membutuhkan semua itu. kehadiran kamu saja bagi ibu sudah cukup.” Jawab Bu Een.
Mirza coba mengulas senyum meski ia merasakan ada maksud tertentu dari kalimat ibunya itu. Namum Mirza tak mau berprasangka.
“Kenapa istrimu tak ingut kemari?” tanya Bu Een kemudian.
“Dia kan kerja, Bu. Kalo nungguin dia pasti nanti keburu sore, lagian dia juga pasti capek nanti.”
Bu Een melengos. “Sudah berubah jadi perempuan hebat istrimu itu! Tak mau turut kata suaminya!”
Mirza kembali dibuat terkejut dengan perkataan ibunya tentang istrinya namun masih berusaha sabar. “Via masih istriku yang dulu Bu, dia nggak berubah jadi wonder woman kok.” Mirza coba bergurau.
“Lantas apa namanya kalau lebih mementingkan pekerjaannya daripada ikut suaminya menjenguk ibunya?”
Mirza menghela nafas. Sabar, Za … sabar ….
“Tadinya Via juga mau ikut, Bu. Tapi aku yang ngelarang. Via bahkan udah masakin rawon lho itu buat ibu.” Mirza menunjuk salah satu papper bag yang ada wadah tupperwernya.
“Ibu lagi nggak makan daging.” Ketus Bu Een.
“Oh, ibu vegetarian sekarang?” Mirza masih terus coba bercanda. “Kalau gitu biar rawonya buat Udin aja.”
“Bilang sama istrimu itu, jadi perempuan jangan sok! Baru dapet kerja begitu saja sudah blagu nggak mau ngunjungin mertuanya.”
“Ya ampun ibu. Via bukannya nggak mau ke sini, tapi beneran aku yang ngelarang dia karena …”
“Sudah, nggak usah belain terus istrimu itu! nanti dia makin besar kepala!” Sergah Bu Een.
Mirza mendengus kasar, nggak habis pikir dengan ibunya kenapa selalu saja berpikiran buruk pada Via. Beruntung ia melarang Via untuk ikut, kalo nggak bisa-bisa Via hanya jadi bahan bulan-bulanan ibunya saja.
“Jadi perempaun itu harus bisa jaga diri kalo suami nggak ada. Jangan mentang-mentang sudah bisa cari duit sendiri dan suami kerja jauh seenaknya saja jalan sama laki-laki lain!”
Mirza tersentak. “Apa maksud ibu?”
Bu Een tersnyum sinis. “Istrimu itu sering jalan sama laki-laki lain dan bawa pulang laki-laki ke rumah!”
Mirza tentu saja tak percaya dengan perkataan ibunya. “Dari mana ibu dapet kabar murahan itu?”
“Dari mana itu nggak penting! Yang terpenting sekarang nasehati istrimu, sebagai wanita harus bisa jaga kehormatan dan nama baik suami! Jangan suka ngobral wajah dan kata-kata manis pada semua laki-laki di luaran!”
“Astaghfirullah ….” Mirza beristighfar berusaha sekuat hati malapangkan dada mendengar semua tuduhan keji ibunya pada istrinya. Mirza tau betul siapa istrinya. Dia bahkan sangat jujur mengakui kesalahannya yang salah mengirim chat padanya untuk Danar waktu itu. tak mungkin Via berperangai buruk seperti tuduhan ibunya.
“Kenapa? Kamu nggak percaya? Ibu punya buktinya kok.” Bu Een melirik jutek. “Tapi itu semua nggak penting kalo kamu masih saja membelanya. Nanti juga kamu akan tau sendiri siapa sebenarnya istrimu. Dan nanti kalau kamu sudah mengetahui belangnya, kamu pasti akan menyesalinya seumur hidupmu. Bahkan kamu pasti menyesal sudah menikah dengannya. Kalau sudah begitu kamu ceraikan saja dia!”
“Bu!” Mirza hilang kendali sampai membentak ibunya. “Ibu tak pantas berkata seperti itu. Ibu boleh membencinya, tapi jangan memfitnahnya dengan keji seperti itu. aku tau betul siapa istriku, Bu. Dia wanita yang sangat menjaga kehormatannya.” Mirza sampai berdiri karena tak bisa menguasai lagi emosinya.
“Kamu membentak ibu?” Bu Een memandang anaknya tak percaya. “Kamu berani membentak ibu hanya karena ingn membela istrimu yang kau kira perempuan baik-baik itu? Sadarlah Za, sadar! Dia itu sudah serong di belakanmu! Dia jalan sama bosnya, dia juga jalan sama laki-laki lain. Dia suka menerima banyak laki-laki di rumah saat kamu nggak ada.”
“Cukup, Bu. Cukup ….” Sanggah Mirza dengan nada yang disabar-sabakan, ia menyesal juga telah hilang kendali. “Maafkan aku, aku nggak bermaksud membentak atau pun kasar sama ibu. Tapi kata-kata ibu itu semuanya nggak bener.”
Bu Een pun tampak sangat kecewa dengan perlakuan anaknya, namun ia tak mau menyerah. Ia terus menabur kebencian pada Mirza. Misinya dari dulu belum berubah, yaitu memisahkan Mirza dari Via.
“Kamu boleh menyalahkan ibu sekarang, tapi nanti kamu yang akan berbalik menyalahkan istrimu. Firasat seorang ibu itu sangat tajam, Za. Kamu harus tau itu.” Ucap Bu Een penuh penekanan.
Mungkin ungkapan itu benar, namun Mirza tetap yakin ibunya sangat keliru menilai istrinya. Ia pun tak kalah kecewanya dengan apa yang baru saja terjadi. Momen haru yang seharusnya berlangsung lebih lama karena mereka sama-sama sedang melepas rindu, nyatanya hanya sekejap mata. Perasaan benci yeng sudah mengusai hati ibunya membuat semuanya ambyar.
“Ibu tak usah memikirkan hal yang bukan menjadi tanggung jawab ibu, sebaiknya ibu fokus saja pada kesehatan ibu.” Lirih Mirza sudah reda dari emosinya.
“Tentu saja rumah tanggamu itu juga tanggung jawab ibu.” Bantah Bu Een.
“Terima kasih ibu sudah peduli, tapi aku bisa sendiri. Ibu tak perlu khawatir. Kesehatan ibu lebih utama.” Mirza meyakinkan ibunya. “Bagaimana kaki ibu sekarang? Apa masih sakit, kenapa ibu bisa sampai jatuh?” Mirza mangalihkan topik pembicaraan agar suasaana tak memenas lagi.
“Ini semua juga gara-gara istrimu!”
“Gara-gara Via?” Heran Mirza, kenapa semua masalah seolah larinya pada istrinya. “Bukannya ibu jatuh ke parit di sawah? Kok bisa nyalahin Via sih?”
“Iya, kao aja dia nggak pamer bisa nyetir mobil lewat jalan itu pasti ibu nggak ngeliatin dia dan sampe nabrak orang kecebur parit segala.” Bu Een kesal ingat kejadian itu.
Mirza menarik sebuah kesimpulan dan tersenyum getir. “Masalahnya bukan sama Via, tapi sama hati ibu sendiri. Ibu nggak suka kan liat Via bisa nyetir mobil?”
“Kamu jadi nyalahin ibu?” Suara Bu Een naik lagi. “Istrimu saja yang sengaja pamer biar diliatin banyak orang!”
“Kenapa ibu meleng?”
“Ah, sudah! Pokoknya nggak ada benarnya ibu dimata kamu, selalu saja Via dan Via terus yang kamu bela! Kamu juga beli mobil baru pasti karena permintaan istrimu yang matre itu kan? Kamu nggak sayang uangnya? Kamu kerja jauh-jauh dengan menggadaikan nayawa tapi hasilnya cuman buat nyenengin istrimu aja, kamu lupa menyenangkan orang tuamu, ibumu ini!” Bu Een mengomel menjadi-jadi. semuanya ia kerahkan demi mendapatkan perhatian Mirza.
Mirza mulai frustasi. Cepat-cepat beristighfar dalam hati. Heran juga dia dari mana ibunya tau ia beli mobil baru, padahal ia sama sekali belum keluar rumah untuk melihatnya. Ah, tapi itu semua tak penting. Ibunya memang selalu seperti itu dan ini sama sekali nggak akan ada ujungnya, ia hadapi dengan emosi pun hanya akan menambah runyam. Maka diraihnya kembali tangan ibundanya itu, ia tatap lekat kedua netra yang nampak lelah di hadapannya.
“Bu, sayang dan cinta aku dari dulu sampai sekarang untuk ibu sama sekali tak berkurang. Ibu adalah wanita yang sudah mengandungku, melahirkanku, membesarkan dan merawatku penuh kasih sayang, mana mungkin aku tak akan membahagiakan ibu? Ibu adalah wanita nomor satu di hatiku, Bu. Ibu cintaku yang pertama.”
Bu Een menghempaskan tangan Mirza. “Bohong! Kalau benar begitu, kenapa kamu lebih membela istrimu.”
“Karena dia adalah separuh dari jiwaku. Sudah ya, ibu jangan bahas itu lagi. Aku nggak mau kita berdebat dan menyakiti hati ibu. Sekarang ibu mau minta apa dariku, katakan saja Bu. Aku pasti akan memenuhinya.” Mirza terus membujuk ibunya yang ngambek kayak bayi bangkotan itu. “Ibu mau jalan-jalan? Shopping? Atau mau umroh? Naik haji? “
“Nggak! Ibu bisa sendiri. Ibu sangat mampu membiyai itu semua dengan uang ibu sendiri.” Ketus Bu Een.
Mirza tersenyum simpul. “Baiklah, kalo gitu pikirkan yang lain. Nanti kalau udah ketemu kasih tau aku ya, Bu. Sekarang aku pamit dulu.” Mirza mencium punggung tangan dan kening ibunya penuh sayang.
Bu Een tak bergeming, wajahnya terus aja merengut, bahkan dia hanya menjawab ucapan salam Mirza dengan lirih saja.
“Oya, ini rawonnya biar aku kasih Udin aja ya, daripada dibawa pulang lagi.” Mirza meraih satu paperbag dan segera keluar menuju toko.
Sudah dapat dipastikan Udin menerimanya dengan sangat suka cita.
Mirza pun segera melajukan mobilnya perlahan keluar dari halaman rumahnya. Dengan langkah terseok-seok Bu Een berjalan ke depan dan memandangi bagian belakang mobil baru Mirza pergi menghilang. Lantas ia melanjutkan langkahnya menuju toko sambil berteriak nyaring.
“Din ….! Udin……!”
Udin berlari mengampiri dengan masih membawa wadah Tupperware berisi rawon buntut.
“Iya, Bu?”
“Kemarikan rawonnya!” Bu Een merebutnya dari tangan Udin dan segera memutar langkahnya menuju rumah.
Udin pun hanya melingo melihat tingkah majikannya. Ya nasb … ya nasib …..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Terima kasih sudah membaca ya Kak...
Maaf lagi, telat banget up nya 🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
komen like jangan lupa yaa..... 🤩🤩🤩🤩
Luv U all 🤗🤗🤗🤗😘😘😘😘😘