TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
191 #MENDAPAT FAKTA


__ADS_3

Malam basah merambat pelan, gerimis yang turun sejak lepas senja tadi membuat suasana hati Ramzi semakin mellow saja. Ia berdiri sendirian di balkon kamarnya, mendongak mencari gumintang dan rembulan di langit malam yang gelap. Konyol sekali, sudah tau hujan, mana ada bintang dan bulan?


“Arrgh!” Ramzi menjambak rambutnya frustasi. Gundah gulana kayak anak perawan mau dijodohin sama duda anak lima, mungkin seperti itu parasaan Ram malam ini. Setelah kejadian dinner itu, ia dan Jane tak lagi saling menghubungi. Dia tahan semua persaannya, meski sempat berucap rindu lewat pesan singkat namun nyatanya Jane tak meresponnya. Bahkan sampai sekarang Jane tak ada kabar, ia pun teralu gengsi jika harus memulainya duluan.


Pandangannya dilempar jauh pada taman dan kolam renang terisi gerimis yang datang keroyokan. Kelebatan baying-bayang Sofi bermain dibenaknya. Ia pernah melewati masa-masa indah di sana bersana sang istri. Lebih tepatnya, masa-masa HOT! Dengan kegilaannya Ram menyerang sang istri ditepi kolam renang, bermain di area terbuka memang memiliki sensasi tersendri. Bibir Ramzi mengukir senyum kecil.


“Sofia ….” Gumamnya. Diusapnya kasar wajahnya seolah ingin menyingkirkan bayang wajah perempuan yang pernah sangat dicintainya itu, namun justru slide demi slide kenangan bersama Sofi kembali bermunculan dalam pikirannya. Perasaan cinta yang begitu besar yang berubah menjadi benci. Tapi apakah benar ia membencinya? Kenapa dia seperti merasa kehilangan?


Pfft…. Ramzi menghela nafas panjang, memejamkna mata mencoba menyelami perasaannya dalam kondisi hati dan pikiran yang sedang carut marut kayak kancah perpolitikan Negara ini. Eeeh ….🤭🤭


Sementara itu, Tuan Alatas nampak baru saja selesai memeriksa berkas di ruang kerjanya yang belum sempat disentuhnya ketika berada di kantor. seorang pelayan baru saja keluar dari ruang kerja Tuan Alatas ketika Gerald akan masuk. Tuan Alatas menyesap kopi gahwanya yang dibawakan pelayan tadi, Gerald mengangguk memberi hormat.


“Tuan memanggil saya?” Tanyanya.


“Duduklah.” Titah Tuan Alatas meletakkan cangir di atas meja kerjanya. “Sudah kau lakukan apa yang aku perintahkan kemarin?” Tuan Alatas menyorot tajam sang kepala pelayan yang duduk di hadapannya.


“Sudah, Tuan.”


“Dimana keberadaan si jal**ng itu?”


“GPS dari mobilnya menunjukkan dia berada di pinggiran kota, sebuah vila dekat pantai.”


Tuan Alatas tersenyum samar. “Biarkan dia menikmati hari-hari terakhirnya sebagai Nyonya Ramzi Alatas, dia pasti akan datang sendiri mengemis belas kasihku sebelum bayi itu benar-benar lahir.”


“Maaf, Tuan. Tapi sepertinya dia tidak takut dengan ancaman dari saya ….” Ungkap Gerald agak ragu.


“Maksudmu?” Tuan Alatas mencondongkan tubuhnya ke arah Gerald.


“Dari nada suaranya, dia sama sekali tidak gentar.”


“Teror dia terus, bila perlu sampai dia benar-benar stress!”


“Baik, Tuan.” Gerald mengangguk patuh, Tuan Alatas kembali mencubit cangkir dan menyesap kopi gahwa favoritnya.


“Kamu harus bisa buat Ram dan Jane lebih dekat. Ambil beberapa foto mereka lagi, si ja**ng itu pasti akan semakin membenci Ram.” Ucap Tuan Alatas kemudian. “Aku yakin kamu bisa melakukannya. Foto hasil jepretanmu kemarin sangat bagus. Ram dan Jane terlihat seperti betul-betul menikmati kedekatan mereka. Kamu pandai mengambil momennya. Aku rasa setelah pensiun kerja disini kau bisa jadi fotografer, Gerald.” Tuan Alatas terkekeh sendiri diakhir kalimatnya.


“Emh, tapi sepertinya …. Tuan Ram dan Nona Jane sekarang sedang ada masalah, Tuan?” Tutur Gerald.


“Masalah?” Tuan Alatas mengakhiri kekehannya. “Maksudmu mereka bertengkar?”


“Saya kurang tau pasti. Sejak beberapa hari yang lalu ketika Tuan Ram pulang makan malam dengan Nona Jane dia terlihat murung. Nona Jane pun belum berkunjung kemari lagi.” Gerald menjelaskan.


“Hem, itu tugas kamu untuk membereskannya.” Sahut Tuan Alatas singkat. “Sekarang kau boleh pergi, aku juga sudah lelah mau istirahat.”


Tuan Alatas dan Gerald bangkit dari duduknya, namun sebelum mereka beranjak suara pintu yang dibuka kasar mengagetkan mereka.


“Jadi kalian merencanakan hal jahat dibelakangku?” sengit Ramzi pada sang kepala pelayan dan menghunus tatapan tajam pada ayahnya.


“Ram, kau dengar semuanya?”


“Ya. Aku sudah mendengarnya. Papa betul-betul keterlaluan! Aku tau Papa nggak pernah menyukai Sofi, tapi yang Papa lakuakn itu sudah kelewatan. Di dalam Rahim Sofi itu ada anak aku, Pa! cucu Papa!” Ramzi meradang.


Tuan Alatas memberi isyarat dengan matanya pada Gerald untuk keluar, lantas ia mengulas senyum tipis. “Baguslah kalau kau sudah mendengarnya. Papa akan buat kalian benar-benar berpisah.”


“Tapi cara Papa ini sangat kejam! Papa merekayasa semuanya, memaksa Sofi membenciku. Papa nggak sadar, dalam waktu bersamaan Jane juga membenciku.”


“Jane tidak akan meninggalkanmu karena dia menyukaimu.” Tuan Alatas melangkah hendak meninggalkan Ramzi.


“Pa, tunggu!” Cegat Ramzi. “Apa yang akan Papa lakukan selanjutnya pada Sofi?”


Tuan Alatas menatap manik tajam sang putra dengan tatapan penuh teka-teki. “Yang pasti, Papa nggak akan mencelakai calon cucu Papa sendiri. Tenang saja.” Pungkas Tuan Alatas dingin lantas meninggalkan Ramzi begitu saja.


Ramzi mengungkapkan kekesalannya dengan meninju udara, sungguh ia merasa bodoh sekali. Dia memang membenci istrinya, tapi ia tak rela jika ayahnya melukai istri dan calon anaknya.


❤️❤️❤️❤️❤️


BRAAK …!


PRANG …!


Bunyi benda jatuh dan pecah mengagetkan Rumi yang baru sampai depan pintu. Dia terkejut melihat Hanson tengah berdiri dengan wajah memerah.


“Baby, ada apa?” Gegas Rumi menghampiri sang calon suami.


“Tanya sama dia!” Hanson menunjuk muka Ustadz Salman yang sepertinya masih shock.


Ustadz muda itu sungguh tak menyangka bakal mendapat respon diluar dugaan dari Hanson, ia melihat ponselnya yang jatuh terserak di atas lantai setelah dilempar mengenai cangkir kopi hingga cairan coklat kehitaman itu muncrat mengenai baju kokonya yang berwarna putih.


“Ustadz, ada apa ini? Apa yang terjadi?” Rumi meminta penjelasan, namun Ustadz Salman tak menghiraukan karena sedang memunguti kepingan pecahan ponselnya.


“Ab jetzt höre ich auf mit dir zu lernen!” (Mulai sekarang aku berhenti belajar sama kamu!” Ucap Hanson dengan wajah masih penuh emosi.


“Baby, tolong jelasin ini ada apa sebenarnya?” Rumi masih diliputi kebingungan karena nggak ngerti Hanson ngomong apaan. “Kenapa kamu marah-marah sama Ustadz Salman? Nggak boleh gitu dong, kamu dosa lho.” Rumi mengingatkan seraya meraih lengan Hanson namun Hanson dengan cepat menepisnya.


“Schatzi, dia ini ustadz nggak punya etika! Dia udah nyebarin video aku belajar ngaji di akun sosomednya.” Tutur Hanson dengan dada turun naik coba menata amarahnya.


Rumi sejenak mencerna pekataan Hanson. “Malah bagus dong. Itu bisa jadi motivasi buat yang nonton, siapa tau mereka juga pingin belajar, ya kan?” Cetus Rumi kemudian.


“Apa kamu bilang? Bagus?” Hanson melotot tak percaya. “Schatzi, are you crazy?”


“Crazy? Crazy what? What crazy? Crazy no what-what?” Ucap Rumi dengan maksud yang hanya dia sendiri yang paham.


“Dia, ustadz yang kamu bilang bagus dan kompeten ini, yang suka ngisi kajian di majelis- majelis kampus ini, udah manfaatin aku buat jadiin konten di …”


“Tidak seperti itu. Anda salah paham.” Potong Ustadz Salman yang baru saja selesai mengumpulkan kepingan ponsel mehongnya merek applah.


“Salah paham, katamu?” Hanson maju hendak meraih bagian depan baju koko sang ustadz muda. Namun Rumi segera menghalanginya.


“Baby, jangan pake kekerasan. Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik.” Ujar Rumi menenangkan kekasihnya.


“No, Schatzi. Aku sudah kasih peringatan dari beberapa hari yang lalu ketika dia record aku live. Ternyata dia nggak kapok. Dia record lagi pake hidden camera. Lihat ini!” Hanson menunjuk benda kecil seukuran kelereng yang dia ambil dari rak buku ruang tamu Ustadz Salman. “Dia sembunyikan kamera dimana-mana.” Hanson mengambil kamera yang besarnya tak lebih dari ukuran dadu ular tangga dari vas bunga di meja tamu tempatnya belajar mengaji.


Rumi memperhatikan kedua benda mungil di tangan Hanson. “Wow! Amazing sekali, Anda benar-benar kreatif Ustad.” Gumam Rumi.


“Mbak Rumi, percayalah. Saya hanya ingin mendokumentasikan saja.” Ustadz Salman meyakinkan kerena merasa mendapatkan dukungan dari Rumi.


“Cih! Kamu bilang juga begitu beberapa hari yang lalu. Kamu record video dan take some pictures with me juga bilang hanya untuk dokumentasi, lalu aku tahu semua video-video dan foto-fotoku sudah kamu unggah di fb, ig, sama chanel yutupmu yang kampungan itu dengan ribuan viewers lalu kamu dapat keuntungan dari itu. Dan kamu nggak ijin sama aku. Tindakan kamu ini Kriminal!” Hanson meletup-letup penuh emosi dengan tangan digerak-gerakkan kesana kemari mirip orang lagi deklamasi.


“Saya akan ijin, hanya belum sempat. Saya minta maaf.” Ucap Usatadz Salaman.


“Omong kosong!” Hardik Hanson. “Harusnya kamu ijin sebelum kamu unggah. Kalau begini kejadiannya, sudah lain cerita.”


“Saya pikir Anda aka menyukainya ….” Lirih Ustadz.

__ADS_1


“Saya tidak suka publikasi! Saya nggak suka ketenaran!”


“Tapi banyak komentar yang menginginkan lanjuatan videonya.”


“Ustadz mau kasih persentase berapa buat calon suami saya?” Rumi tiba-tiba menyela maju.


“Schatzi!” Bentak Hanson. “Kamu juga mau ikutan? Mau jual privasi saya? Saya tidak suka privasi saya diketahui orang banyak. Saya bukan artis yang cuman lagi ngupil aja dibikin video!”


“B-bukan begitu ….” Rumi tergagap.


“Aku kecewa sama kamu, schatzi!” Potong Hanson dengan tatapan tajam pada Rumi lalu balik badan meninggalkan ruang tamu Ustadz Salman.


“Tunggu, Baby!” Panggil Rumi.


CIIT….!


Hanson mengerem langkahnya. Rumi tersenyum lebar seraya menghampiri mengira Hanson berubah pikiran.


“Stop disitu, Schatzi! Jangan dekati aku.” Ujar Hanson dingin. “Dan kamu, Ustadz alay! Hapus semua video dan foto aku dari semua akun kamu. Kalau tidak, saya akan perkarakan kamu!” Ancam Hanson lantas kembali meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.


Rumi terdiam cukup lama. Apakah itu artinya Hanson benar-benar marah padanya? Apakah Hanson beneran akan berhenti belajar ngaji? Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan mereka? Papanya nggak akan memberikan restu sebelum Hanson bisa mengaji dan hafal bacaan shalat. Ya ampun! Rumi diliputi kecemasan akan kelanjutan hubungan percintaannya dengan si bule Jerman itu.


“Mbak Rumi.” Tegur Ustadz Salman membuyarkan benak Rumi. “Gimana dengan HP saya yang hancur. Mbak Rumi akan menggantinya kan?”


Rumi melihat ustadz muda yang sebenarnya tampangnya lumayan cakep dan lumayan sholeh itu. setidaknnya begitulah menurut pendapat Rumi, karena kemana-mana sang ustadz tak pernah lepas dari peci hitamnya. (padahal ukuran kesholehan orang kan bukan dilihat dari pecinya ya?)🤭🤭


“Mbak?” Tegur Ustadz Salman lagi karena Rumi masih diam.


“Heem, maaf Ustadz. Saya nggak tanggung jawab, semua ini juga karena perbuatan Ustadz.” Jawab Rumi lugas. “Bahkan hubungan saya dipertaruhkan disini.”


“Tapi Mbak Rumi …”


“Sebaiknya Ustadz hapus semua video dan foto calon suami saya kalau Ustadz nggak mau masalah ini semakin runyam.” Putus Rumi lantas ia pun keluar setelah mengucap salam.


❤️❤️❤️❤️❤️


Lepas maghrib tak biasanya Via sangat mengantuk, ia baru saja akan merebahkan dirinya di atas kasur ketika terdengar suara bel.


“Biar Mas aja yang buka, Sayang.” Mirza beranjak keluar.


“Popaye …..!” Sapa suara melengking yang tak asing lagi begitu pintu ruang tamu terbuka. “Olive mana?” Sang tamu yang tak lain adalah Yana langsung menyeruak masuk melewati begitu saja sang tuan rumah yang masih berdiri di ambang pintu. “Olive….., yuhuu…. Aku datang…” Yana masuk mencari keberadaan sahabatnya.


“Istri kamu emang dari dulu nggak pernah berubah ya? Seenaknya sendiri!” Gerutu Mirza pada Khusni yang cuman nyengir. Mereka berdua lantas duduk di sofa ruang tamu sementara Yana udah nyelonong ke kamar Via.


“Liv, kamu sakit?” Yana langsung meraba kening Via sok perhatian.


“Eh, Yan? Sama siapa kamu? Kok tumben dateng malem-malem?” Kantuk Via seketika buyar, ia bangkit duduk berhadapan dengan Yana.


“Ye, ditanya malah balik nanya.” Yana keki. “Aku sama Khusni lah, suamiku yang paling tamvan, baik hati, penuh pengertian dan kasih sayang, tidak sombong, gemar menabung serta rajin menolong sesama sesuai dengan dasa darma pramuka.”


“Lebay!” Cibir Via.


“Ya udah yok keluar, kalo kamu nggak sakit.” Ajak Yana. “Aku bawa martabak teluk Arafuru tuh!”


Via mengernyit. “Teluk bayur kali! Arafuru itu nama laut bukan teluk!”


“Teluk bayur mah deket, teluk Arafuru yang agak jauhan dikit.” Yana cuek.


“Nggak.” Yana menggeleng dengan wajah lempengnya. “Kan kamu tau sendiri pelajaran biologi aku waktu sekolah nggak pernah bagus?”


“Geografi, Yana… bukan biologi!”


“Bodo ah, diajak makan martabak aja peke bahas mata pelajaran waktu sekolah.” Yana ngedumel seraya melangkah mendahului Via yang cuman bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah ajaib sahabatnya itu.


“Sayang, kamu nggak jadi tidur?” Sambut Mirza pada Via yang duduk di sampingnya.


“Nggak jadi, orang digangguin sama dia.” Via menunjuk Yana dengan dagunya.


“Jadi tadi itu ceritanya kalian mau kelon? Ya ampun, masih sore ini, Liv!” Yana melotot sambil mencomot martabak yang sudah terhidang di atas meja. “Cicak juga belom ngantuk kali jam segini. Ngggak malu apa kalian ntar diiintipin sama cicak?”


“Terserah kamu deh, Yan!” Via bangkit bermaksud mau membuat minuman.


“Mau kemana, Sayang?” Mirza menarik tangan istrinya.


“Bikin minum buat dua orang tamu tak diundang ini.”


“Biar mereka bikin sendiri. Kamu disini aja, nggak boleh capek-capek.” Mirza merangkul bahu Via dengan senyum lebar yang sontak membuat Yana dan Khusni saling pandang.


“Mentang-mentang lagi hamil, dimanja banget sih?” Sindir Yana disela-sela kesibukannya mengunyah martabak coklat keju kegemarannya.


“Oya, ngomong-ngomong gimana kalian udah berhasil belum? Pengantin baru pasti joss terus dong? Hehe…” Mirza nyengir menatap Yana dan Khusni.


“Huh, dia belum berhasil menghamiliku!” Yana mendengus dengan bibir maju melirik Khusni kesal.


“Sabar dong, istriku. Mirza sama Via aja nunggu 7 tahun baru bisa punya anak, lah kita kan nikah baru seumur jagung. Masih banyak waktu untuk kita membuat adonan yang lebih kalis biar hasilnya bagus.” Elak Khusni.


“Udah jangan ngomong aja, ambilin minum dong. Aku seret nih.” Pinta Yana pada suaminya karena ia nampak kesusahan menelan martabaknya.


“Oke, mau panas apa dingin, istriku?”


“Apa aja, cepetan!” Yana tak sabaran.


Mirza dan Via terkikik geli melihat tingkah Yana, tampangnya udah kayak ayam abis nelen karet gelang. Lucu dan menggelikan. Tak lama Khusni muncul dengan 2 gelas es sirup coco pandan. Yana meneguk hampir setengah gelas sirupnya.


“Makanya bawa martabak jangan diabisin sendiri. Perasaan tadi nawarin deh, nggak taunya dia makan sendiri.” Cibir Via.


“Suruh sapa diliatin aja, kan sayang kalo nggak cepet dimakan?” Yana menyuapkan potongan terakhir martabak ke dalam mulutnya.


“Ya mapun, gimana istriku nggak makin semok kalo begini ceritanya?” Gumam Khusni yang langusng mendapat lirikan tajam Yana.


“Coba bilang sekali lagi?” Yana sewot.


“Udah, nggak usah baper ah.” Via melerai pertengkaran sengit yang hampir terjadi antara kedua suami istri itu. “Oya besok malem kalo nggak ada halangan kalian datang ya kesini ya.” Ucap Via yang teringat acaranya.


“Ada acara apaan, Liv?”


“Syukuran 4 bulan kehamilanku, Yan. Cuman kecil-kecilan aja kok, ngundang tetangga sama temen deket aja.”


“Oh, yang kmau WA aku kemarin itu, Za?” Khusni meyakinkan.


“Iya. Bisa kan kalian datang?”


“Kenapa melem-malem sih? Sore kan bisa?” Tanya Yana heran.

__ADS_1


“Aku kan kerja, Yan. Nggak enak kalo mau ijin, aku udah banyak nggak masuk soalnya.”


Yana cuman manggut-manggut sambil kembali mencomot martabak di depannya. “Keluarga kalian dateng semua kan? Om Jaka sama Denaya juga? Aku belum sempet jenguk bayinya lho.” Ucap Yana kemudian.


“Insya Allah dateng, paling cuman ibu aku aja yang nggak. Ya, kalian tau sendiri kan ibuku itu emang unik banget?” Mirza nyengir.


“Emang kamu nggak undang ibu kamu, Za?” KHusni penasaran.


“Belum, nggak tau ya masih bingung mau dikasih tau apa nggak.” Mirza melirik Via disampingnya.


“Hem, bisa pecah perang nuklir nih kalo sampe mertua kamu tau acaranya tapi nggak diundang, Liv.” Ujar Yana yang membuat Mirza dan Via bertukar pandang membenarkan perkataan Yana.


Mereka terdiam untuk beberapa saat, sedari habis mengunjungi Om Jaka sebenarnya Mirza masih ragu mau ngasih tau Bu Een apa nggak tentang acara syukuran 4 bulan kehamilan Via. Diundang atau pun nggak rasanya sama-sama nggak ada baiknya.


“Eh, kalian ngerasa nggak sih kalo ibu kalian itu selalu tau soal apa aja yang kalian lakuin disini?” Ungkap Yana memecah keheningan diantara mereka.


“Maksudnya?” Mirza dan Via kompakan.


Yana lantas mengulang peristiwa demi peristiwa yang dialami Mirza dan Via yang tak luput dari perhatian Bu Een. Yana tau soal semua itu karena Via kerap curhat padanya. Menurut pengamatan Yana tak mungkin Bu Een yang jauh di kampung sampe tau segala yang terjadi pada anak dan menantunya jika tak ada yang memberikan informasi.


“Maksud kamu ibuku punya mata-mata gitu?” Mirza tak yakin.


“Betul!” Yana menjentikkan jarinya. “Aku curiga sama tetangga kalian yang tempo hari kepergok lagi ngintipin kalian itu lho. Dia kayaknya kepo banget orangnya.”


“Bujel?” Via tak habis pikir.


“Siapa lagi? Kalian kan palingan deket sama Yanti, Firman, Danar dan Papanya. Nggak mungkin dong mereka yang comel ke mertua kamu, Liv? Buat apa juga kan?”


Mirza dan Via lantas me-rewind kembali gulungan kaset dalam memori mereka. Benar adanya, Bujel yang selalu kepo dan nongol tiba-tiba tak kenal waktu dan suasana rasanya memang perlu dicurigai.


“Saran aku sih mendingan kalian ganti aja tempatnya jangan disini kalo emang nggak mau ngundang ibu kamu, Za.” Khusni memberikan saran.


“Iya lho, hati-hati sama tetangga model begitu. Masih mendingan aku, biar pun doyan makan tapi mulutnya nggak comel dan lemes.” Yana mengibas-ngibaskan rambutnya berbangga diri.


“Kamu memang terbaik, istriku. Comelnya cuman sama aku aja.” Khusni mencubit gemas pipi chubby Yana yang udah kayak bakpau.


Setelah Yana dan Khusni pamit, Mirza dan Via pun nampak memikirkan dengan serius parkataan dua sahabatnya itu. terbesit ide dalam pikiran Mirza, yaitu mengadakan acara syukuran di salah satu panti asuhan saja. Selain lebih aman tanpa resiko, juga mereka mengharapkan doa mustajab dari para anak yatim untuk kesehatan Via dan calon anak mereka. Via langsung setuju. Maka mereka langsung sibuk menghubungi teman dan keluarga yang sudah terlanjur diundang lewat WA, untung saja mereka belum mengundang para tetangga.


Via nampak sibuk berbicara di telpon dengan Riri di kamar. Mirza pun langsung menelpon Om Jaka selesai mengirim pesan pada Firman dan Danar.


“O gitu ceritanya? Bagus deh, gue setuju tuh!” Ucap Om Jaka di seberang setelah mengetahui perubahan acara syukurannya Via. “Gue juga mau ikutan bikin kayak elu aja deh buat acara akiqah anak gue ntar.”


“Lho, bukannya waktu itu udah ya Om?” Mirza heran.


“Belom, yang ntu namanya puputan. Akiqah kan ntar kalo udah 40 hari. Masa bayi gue kemaren baru lima hari udaah akiqahan?”


“Puputan itu apaan, Om?”


“Ya elah, ni bocah lahir di negara mana sih kagak tau puputan? Tanya bini elu aja deh!”


“Ribet amat, tinggal kasih tau aja pake nyuruh tanya Via segala?”


“Puputan itu syukuran acara adat karena pusar bayi udah lepas, Mirza ….” Om Jaka kesel juga lama-lama.


“Cuman pusernya lepas aja Om sampe bikin acara pengajian besar-beasarn segala kayak waktu itu? ck ck ck…, luar biasa memang Om Jaka juragan matrial yang kaya raya ini. Salut!” puji Mirza berdecak-decak.


“Hu, dasar ponakan katro! Udah ah, gue ngantuk. Bye!” Om Jaka memutuskan sambungan sepihak tiba-tiba.


“Dasar Om somplak!” Balas Mirza sambil meletakkan ponselnya di meja kemudian menyusul Via ke kamar.


Tampak wajah lelah Via sudah terlelap dengan hengpong masih dalam genggaman tangannya. Rupanya kantuknya sudah tak tertahankan lagi. Mirza tersenyum menatap wajah istrinya, perlahan ia ambil ponsel dari tangan Via.


“Mas?” Ternyata Via kaget.


“Sayang, maaf. Mas cuman mau ambil Hp kamu aja kok.”


“He em.” Via kembali mengatupkan kedua matanya seraya memiringkan posisi tidurnya membelakangi suaminya. “Jam berapa ini Mas? Aku belum sholat isya.” Via seperti menggumam.


“Baru mau jam 9, Sayang. Kamu mau sholat dulu bareng Mas?”


“Nanti aja, bangunin aku jam 11 ya? Aku mau tidur bentar aja Mas.”


“Iya, Sayang, tidurlah.” Mirza mengusap-usap kepala istrinya lembut, perlahan ia pun ikut merebahkan diri disamping Via dan memeluknya dari beakang. Ia endus wangi tubuh sang istri, belaian tangannya kini turun ke lengan, pinggang lantas ….


Ya ampun! Kenapa tiba-tiba jadi tegang begini? Mirza merasakan sesuatu dalam dirinya menagang. Sekuat tenaga ia redam perasaannya karena tak mau mengganggu istirahat sang istri.


Tahan, Za. Tahan …. Nanti tunggu 2 jam lagi istrimu bangun. Nah, pas itu kamu boleh deh tuh minta nganu. Batin Mirza ngomel sendiri. Dia heran banget pada dirinya sendiri, kenapa cuman deketan aja udah kayak begini rasanya, tegangan tinggi rupanya dia. Mirza menarik nafas dan menghembuskan perlahan menenangkan gejolaknya.


“Hemm, Mas. Apa sih ini geli-geli?” Via merasakan sesuatu yang menmpel di bokongnya seperti bergerak-gerak kecil. Perlahan Via membalikkan tubuhnya menghadap lurus pada wajah sang suami.


“Maaf, Sayang. Mas ….”


“Mas udah kunci pintu depan belum?” Tanya Via.


“Udah, Sayang.”


“Ya udah yuk cepetan sholat isya, terus aku kasih hadiah.” Via membuka menatap wajah suaminya.


“Hadiah?” Mirza agak bingung.


Via mengangguk. “Iya, hadiah buat si kecil yang tadi bergerak-gerak bikin geli.”


Sontak mata Mirza langsung berbinar dengan senyum lebar. “Kamu nggak jadi tidur, Sayang?”


Via menggeleng lantas merentangkan tangannya mirip burung mau terbang. “Gendong….” Rajuknya manja.


Mirza langsung bangkit dengan semangat, dengan sekali angkat sudah menggendong tubuh Via menuju kamar mandi.


Usai shalat isya bersama, Via menepati janjinya memberikan hadiah yang bikin Mirza berbinar penuh kebahagiaan menerimanya.


Eaaaa..... sensor aja ya, bayangin sendiri deh Mirza ngebuka hadiahnya 😂😂


❤️❤️❤️❤️❤️


Terima kasih sudah membaca ya....


Maaf kalau ada typo dan kesalahan 🙏🙏🙏


jempolnya jangan ketinggalan ya Kak, walau othor makin telat aja upnya 😊😊


komen juga biar othor makin semangat...🤩🤩


I Love you all pokokmen! 🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2