
Hari masih bisa dibilang pagi ketika Via menghentikan mobilnya di depan rumah sang ibu mertua bertepatan dengan Sofi yang baru keluar hendak mencari Romlah yang lagi beberes toko.
“Via?” Surprise Sofi, suaranya hampir tak terdengar, kedua netra tak berkedip memandang sosok yang berjalan mendekatinya dengan langkah yakin. “Mau cari-“
“Aku ada perlu sama kamu.” Potong Via datar lantas mendahului masuk menuju ruang tamu.
Agak ragu Sofi menghempaskan diri perlahan di sofa ruang tamu berseberangan dengan Via. Entah kemana jiwa brutalnya yang selalu meledak-ledak setiap kali mendapati hal yang mengusik jiwanya. Kali ini dia lebih tenang, atau mungkin sedikit gentar.
“Apa kamu benar-benar mau menikah dengan Mas Mirza?”
Lontaran pertanyaan Via sekonyong-konyong membuat Sofi merasa sesak, ia bahkan tak mampu menelan ludahnya sendiri.
“Apa kamu pernah mengalami rasanya dikhianati?” wajah Via datar nyaris tanpa ekspresi.
Pertanyaan kedua Via sukses membuat Sofi makin tertohok, kilasan peristiwa antara suaminya dengan Jane berseliweran di benaknya tanpa permisi. Dari mulai adegan mesra mereka di kantor, foto-foto mesra mereka di balkon istana sang suami, sampai adegan mereka perpelukan di rumah Jane belum lama ini. Sofi meremas ujung dressnya.Hatinya nyeri mengingat itu semua.
“Kalau belum, biar aku kasih tau.” Menatap Sofi lurus. “Itu lebih dari rasa sakit. Karena kamu ingin membencinya tapi cintamu terlalu besar.kamu ingin memaafkannya, tapi egomu menguasai hatimu. Itu sangat menyiksa.”
Sofi tertunduk. Ia yakin Via tak tau apa-apa tentang kondisi rumah tangganya, namun semua kalimat yang Via lontarkan terasa menusuk-nusuk relung hatinya, semuanya benar adanya. Itulah yang sedang ia rasakan selama ini pada Ramzi.
“Aku tak akan memohon padamu untuk berhenti mengharapkan Mas Mirza. Tapi sebagai seorang istri aku ingin tau bagaimana persaanmu jika suamimu dipaksa untuk menikah dengan perempuan lain padahal kau masih terikat pernikahan dengannya dan sedang mengandung anaknya?”
Remasan jemari Sofi pada ujung dressnya semakin kencang, ia merasakan getaran hebat pada dadanya. Dia tau Via bukan sedang menyindirnya. Kenyataannya dia dan Via sekarang berada pada situasi dan posisi yang sama persis.
Via masih menunggu Sofi untuk bicara, ia masih setia dengan tatapan datarnya membuat Sofi tak kuasa mengangkat wajahnya. “Via, aku –“ Sofi tertahan, segera ia mengusap kedua mata indahnya yang mulai mengembun.
Sampai beberapa saat Sofi tak kunjung melanjutkan kalimatnya ia sibuk menahan agar buliran bening tak tumpah dari kedua sudut matanya indah bola pingpongnya.
“Aku ingin kamu tahu bahwa aku nggak akan membiarkan siapapun merusak ketentraman rumah tanggaku yang sudah susah payah aku bangun kembali setelah semua kepercayaanku luntur karena pengkhianatan Mas Mirza.” Via bangkit. “Usahamu dan ibu akan sia-sia karena Mas Mirza sangat mencintaiku.” Pungkas Via lantas melangkah ke luar.
“Via, tunggu!” bangkit menyusul Via setelah kesadarannya sempurna. “Kamu juga harus tau, kalau kedatanganku kesini bukan karena aku punya maksud ingin merebut Mirza darimu. Tapi karena aku-“
Via mengernyit, Sofi menggigit bibir bawahnya seolah tak ingin meneruskan kalimatnya.
“Karena kamu mencari tempat perlindungan dari ayah mertuamu yang jahat?”
Sofi sedikit kaget. “Mirza menceritakannya padamu?”
“Alasanmu terlalu mengada-ada.” Via senyum sarkas. “Kamu punya keluarga, seharusnya merekalah tempat kamu minta perlindungan.”
“Kamu nggak tau seperti apa ayah mertuaku! Dia bisa melakukan apa saja karena dia bukan hanya jahat, tapi kejam dan bengis! Kamu harus percaya sama aku. Aku nggak berbohong.” Sofi bersungguh-sungguh.
“Oya? Lalu apa bedanya dengan ibu? Siapa yang lebih jahat, kejam dan bengis diantara mereka?”
__ADS_1
“Sama keduanya.” Lirih Sofi setelah berpikir sejenak.
“Berati kamu mencari tempat perlindungan yang salah!”
“Dengarkan aku dulu, Via.” Menarik lengan Via yang hendak meninggalkannya. “Aku bersumpah tak akan mengganggu rumah tanggamu dengan Mirza, aku hanya tinggal disini untuk sementara sampai aku melahirkan bayiku.” Sofi mengusap perutnya dengan kedua mata yang kembali mengembun. “Kita sama-sama sedang mengandung – “
“Kita berbeda!” Sarkas Via. “Aku jelas-jelas mencintai suamiku dan akan memperjuangkan pernikahanku, aku tidak lari saat masalah datang menderaku. Aku berusaha bangkit dan menyelesaikannya. Tapi kamu? Coba lihat dirimu!” Cecar Via dengan senyum kecut.
“Aku merasa tak ada orang yang peduli padaku.” Cicit Sofi, lelehan air mata kembali menganak sungai di kedua pipinya.
“Lalu apa kamu pikir ibu peduli padamu? Nggak! Ibu hanya memanfaatkanmu saja, kamu harusnya sadar akan hal itu! kamu itu dimanfaatkan ibu sebagai alat untuk memisahkan aku dan Mas Mirza!” Via hampir kehilangan kesabarannya. Gemes banget dia sama Sofi yang sadar dirinya salah tapi masih nggak mau pergi juga dari rumah ibu mertuanya.
“Aku nggak bisa percaya semua kata-katamu, karena selama kamu masih disini sama saja kamu sedang mengancam ketenangan rumahtanggaku. Jadi jika kamu ingin aku dan Mas Mirza percaya sama kamu, sebaiknya kamu segera pergi dari sini!”
Sofi menggeleng, ia usap kasar wajahnya yang basah. “Aku nggak mau terjadi sesuatu yang buruk pada bayiku. Maafin aku, Vi …”
“Aku sudah tau kalau akan begini akhirnya.” Mendengus kasar penuh kekecewaan. “Tapi setidaknya aku sudah mengatakan semuanya padamu, bahwa aku nggak akan melepaskan Mas Mirza demi apapun.” Via segera memutar langkah menuju mobilnya yang terparkir di luar pagar meninggalkan Sofi yang masih dengan derai air mata pilunya.
-
-
-
Via memperlambat laju mobilnya ketika melewati areal jalan persawahan, tampak di depannya sebuah mobil truk pengangkut hasil panen dengan tumpukan karung berisi padi menjulang tinggi. Via dan beberapa pengendara motor lebih memilih untuk antri merayap di belakang mobil truk karena dari arah berlawanan juga tampak cukup ramai kendaraan.
Via bersabar seraya sesekali menikmati pemandangan hamparan persawahan yang penuh tumpukan jerami, palingan juga di perempatan depan truk itu akan mengambil arah berbeda dengannya sehingga dia bisa kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan normal agar bisa sampai ke rumah. Perutnya sudah terasa mengeras, sepertinya Via kecapekan. Ia ingin cepat sampai di rumah.
Sebuah sepeda motor dengan bunyi berisik berkecepatan tinggi mengagetkan lamunan Via. Si pengendara motor yang ugal-ugalan itu menyalip mobilnya dan beberapa kendaraan lain di depannya, dia bahkan tak mengurangi kecepatan motornya saat menyalip truk yang penuh muatan karung padi.
CIIIT ….
NGIIK ….
BRUAKK ….!!!
Terdengar bunyi benturan hebat setelah suara decit rem yang dipaksa sedmikian rupa. Sontak semua pengendara di belakang mobil truk menghentikan laju kendaraannya, termasuk Via. Mereka berbodong-bondong berlarian untuk melihat apa yang terjadi. Agak ragu Via keluar dari mobilnya. Dia mendengar jerit histeris dan berkali-kali nama Allah disebut nyaring pertanda keceakaan sedemikin tragisnya. Lutut Via tiba-tiba bergetar, ia tak kuasa untuk sekedar melangkah melanjutkan niatnya mencari tahu.
“Bu, di depan ada apa ya? kecelakaan?” Tanya Via pada seorang ibu yang baru saja kembali ke motornya setelah melihat kejadian kecelakaan.
“Iya Mbak. Tragis banget! Tabrakan antara sepeda motor, korbannya satu terlempar ke sawah satunya masuk kolong truk, entah mati apa hidup.” Ungkap ibu itu lalu putar balik dengan motornya.
Via semakin takut, ia berpegangan pada pintu mobil berniat putar arah juga cari jalan lain saja. Kerumunan orang semakin ramai dan kemacetan pun tak bisa terelakkan. Beberapa dari mereka tampak memperbincangkan kejadian tersebut sedangkan Via masih menata perasaannya. Dia selalu saja gampang gematar jika ada hal-hal yang mengerikan.
__ADS_1
“Nggak ada yang berani ngangkat korbannya.”
“Iya kasihan, saya saja nggak tega liatnya! Mungkin nanti nunggu polisi datang.”
“Itu yang masuk kolong truk yang ibu-ibu apa yang laki-laki?”
“Kayaknya yang ibu-ibu deh.”
“Yang laki-laki itu kayaknya lagi mabok, soalnya tadi dia ngebut banget nyalip motor saya.”
“Si korban yang masuk kolong truk katanya dari kampung Suka Tresna.”
“Iya, yang punya toko sembako gede itu katanya.”
“Bu Endang apa siapa ya namanya?”
JLEDER!
Bagaikan disambar petir di siang bolong ketika Via mendengar nama ibu mertuanya disebut-sebut oleh beberapa orang yang tengah memeperbincangkan kecelakaan tragis itu. Tulang-tulangnya seolah perlahan melemah, Via oleng dengan tubuh gemetar. Seseorang sempat melihat tubuhnya yang limbung.
“Mbak? Mbak nggak papa?” laki-laki setengah baya yang tadi berbincang segera menghampiri Via.
Via berusaha pada kesadarannya, “Pak, tolong cari tau. Apa benar korban kecelakaannya bernama Bu Endang?” Ungkap Via dengan gemetar.
“Mbak siapanya? Mbak kenal denagn korban itu?” si laki-aki setengah baya itu mulai khawatir karena melihat wajah Via yang sangat shock.
“Saya menantunya.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Wah, seneng niih kemarin yang ngarep Bu Een kecelakaan 😂😂🤭🤭 tragis ya Bu Een kecelakaan ampe masuk kolong truk 😱😱
Ayok siapa yang mau nolongin…?
Terima kasih sudah membaca dan support karya othor sampai sejauh ini.🙏🙏
Jangan lupa jempol dan komennya😊😊
Vote juga kalo masih bisa 😂😂
Tetap jaga kesehatan ya semuanya❤️
❤️
__ADS_1
I luv you all🤗🤗🤗😘😘😘