TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
294 #AMNESIA BENERAN INI MAH


__ADS_3

Terisak Bu Een dalam pelukan Om Jaka sampe Om Jaka bingung kudu gimana. Sempat ia membatin, apakah mbakyunya telah bertaubat dan menyadari segala kekhilafannya selama ini? untungnya Bu Een segera menghela pelukannya, ia usap sendiri air mata dipipi keriputnya. Pandangannya tak putus dari wajah Om Jaka.


"Terima kasih ya, Pak Haji Barkah sudah mau menjenguk saya," ucap Bu Een.


DOENG!!


Rasanya Om Jaka mau pingsan saat itu juga. Via dan Mirza pun tak kalah kagetnya. Om Jaka dikira haji Barkah? yang bener aja, emangnya tampang Om Jaka udah setua itu ya? 🤭


Keduanya mendekat, "Bu," ucap Mirza lembut menyentuh pundak sang bunda. "Ini Om Jaka, bukan Pak Haji Barkah."


Beralih menatap Mirza, binar bahagianya redup berganti kecewa. "Om Jaka?" ulangnya dengan mimik ragu.


"Iya, ini Om Jaka. Jaka Sutrisna adik ibu. ingat kan?"


kembali pada Om Jaka, keningnya berkerut-kerut. Wajahnya berubah datar, kedua lensa cekungnya menelisik setiap inci raut sang adik semata wayang di depannya. "Jadi kamu bukan Haji Barkah?" berubah ketus, Om Jaka udah deg-degan jangan-jangan dia mau kena tabok nih. "Terus haji Barkahnya mana? Kenapa kamu datang kesini sendirian?" kecewa seolah Om Jaka udah berjanji sesuatu padanya.


"Ibu," suster Ani maju. "Ini ada Mas Mirza anak ibu dan Mbak Via juga," mengalihkan fokus Bu Een.


Berganti menatap anak dan menantunya, "Via?" pada Via seolah tak yakin.


Segera Via meraih punggung tangan Bu Een untuk menciumnya takdzim. "Iya, Bu. Ini aku, Via. Ibu ingat aku kan?"


Menelengkan kepalanya sedikit, tangan terulur mengusap rambut Via. "Cantik," ucapnya dengan senyum tipis.


Via terharu, sepanjang menjadi menantu belum pernah Bu Een membelainya apalagi memujinya.


“Via ini menantu ibu, istri Mirza,” papar Mirza pada Bu Een.


Mengangguk, senyumnya belum lepas dari wajah Via. “Ibu tau.”


“Ibu tau?” ulang Mirza antusias. “Ibu ingat?”


Mengangguk lagi, “yang menolong ibu waktu kecelakaan kan?”


Via dan Mirza saling pandang sejenak, “ I –ya”


“Terima kasih ya,” memangkas ucapan Mirza yang agak ragu. “kamu memang menantu yang sangat baik, ibu beruntung punya mantu kayak kamu,” mengenggem tangan Via masih dengan senyumnya.


Kentara sekali ekspresi kebingungan dari Via. Ia sempat melihat Om Jaka dan suaminya, namun Om Jaka hanya mengangkat bahu tanda tak tau apa-apa. suster Ani segera mengajak Bu Een dan Via duduk. “Ngobrolnya sambil duduk ya, biar lebih nyaman.”


“Suster, boleh saya minta makan siangnya biar mantu saya saja yang suapin?”


“Tentu saja, Bu.”


“Kalau begitu bawakan kesini ya.”


Melihat arlojinya skilas, “masih satu jam lagi, Bu. mungkin –“


“Tapi saya maunya makan sekarang,” menyerobot tak suka. “Masa harus nunggu sejam lagi, gimana sih? Saya lapar, Sus!” ngomel dengan mode judes.


“Emak elu asli tuh, bener dah yakin gue!” Bisik Om Jaka pada Mirza.


“Ya emang emak gue!” mendelik pada Om Jaka. “Eh, maksudku emang itu ibu aku, Om!”


“Gue sempet ragu tadi,soalnya ngomongnya bisa lembut banget kayak tepung baru diayak! Nah kalo udah ngomel begitu, gue yakin dia emak elu beneran. Kagak kaleng-kaleng!”


“Bu,” ucap Via coba menenangkan ibu mertuanya. “Mungkin makanannya belum siap, jadi gimana kalo ibu makan yang lain aja dulu?”


“Tapi ibu udah laper!”


“Aku bawa kue tadi,” meminta tas yang dibawa Mirza. “Nah, ini coba ibu liat,” mengeluarkan isi bawaannya.” Ada kue lapis ketan, bolu pisang, puding roti, sama –“


“Ibu mau buah.”


“Oh, buah? Boleh.” Meminta Mirza mengambilkan kantong yang satunya.


“Ibu mau buah apa?” Mirza memperlihatkan buah-buahan yang dibawanya. “Ada jeruk, anggur, apel, nih sama melon juga ada. Mirza kupasin dulu ya Bu.”


Terdiam, sepertinya sedang mengingat sesuatu. “Ibu nggak tau ibu suka buah apa.”


“Ibu suka buah melon,” sahut Mirza. “Kan kemarin sama dokter Wahyu ibu minum jus melon? Iya kan, Sus?” bertanya pada suster Ani yang berdiri di samping ibunya.


“Iya, betul. Bu Endang suka banget buah melon, waktu itu ibu minum jus melonnya sampai habis.” Terang Suster Ani.


“Tapi sekarang udah nggak suak lagi,” melengos dengan raut kecewa. “Ibu nggak mau buah apa-apa.”


Ketiganya saling pandang, Suster Ani berusaha meyakinkan kalau makan buah itu sehat, apalagi sebelum makan. Namun Bu Een sama sekali tak merespon, ekspresinya datar. Mirza dan Via sempat dilanda kekhawatiran.


“Oh, gue tau!” cetus Om Jaka tiba-tiba. “Gue tau buah kesukaan Mbakyu.”


Semuanya melihat pada Om Jaka, termasuk Bu Een.


“Mbakyu ingat nggak? Mbakyu suka banget makan buah belimbing wuluh!” jelas Om Jaka disertai senyuman.


“Om!” Via dan Mirza berbarengan.


“Belimbing wuluh?” mengucap ulang dengan bibirnya seperti tak yakin. “Buah apa itu?” menatap Om Jaka.


“Mbakyu nggak ingat?”


Menggeleng pelan.


“Itu buah yang paling seger. Yang pohonnya ada di samping kamar gue. Mbakyu suka banget makan buah itu. gue aja sampe diimarahin waktu ngambil buat Denaya yang lagi ngidam. Inget kagak?”


Segera menarik Omnya agak menjauh, “Om apa-apaan sih? Ngaco aja!”


“Ye, itu bagian dari terapi memori buat emak elu!” sahut Om Jaka. “Lu kagak liat emak elu plonga plongo kaya kebo dongo begitu!”

__ADS_1


“Om!” Mirza gak terima ibunya dikata-katain semena-mena.


“La emang iya kan? Ingatannya juga sakit tuh, jadi kudu ikut diterapi. Coba deh elu tanya dokternya abis ini.” Om Jaka sok yakin.


Menoleh pada ibunya yang sedang dibujuk oleh suster Ani dan Via.


“Elu tadi kagak liat, gue dikira Haji Barkah! Itu buktinya kalo ingetan emak elu tuh sakit. Parah bener dah, udah mental sakit, otak ikutan sakit juga.”


Dalam hati Mirza membenarkan juga ucapan Om Jaka. Dia perlu ngobrol lagi dengan dokter Wahyu.


“Pak, saya perimisi sebentar ya mau melihat persiapan makan siang untuk Bu Endang.” Suster Wahyu menghampiri Om Jaka dan Mirza.


“Eh, sebentar Sus.”


“Gue masih penasaran kenapa tadi pas baru dateng Mbakyu ngira gue Haji Barkah ya? padahal mertua gue belom pernah kesini kan?”


Suster Ani tersenyum, “oh iya, saya mau cerita nih, kemarin Pak Haji Barkah datang mengunjungi Bu Endang.”


“Metua gue beneran kesini? Kok gak bilang-bilang?” Om Jaka surprise.


“Iya, cuma sebentar, Pak. Soalnya keburu waktu istirahat makan siang,” terang suster Ani. “Tapi sepertinya Bu Endang sangat senang dengan kunjungan Pak Haji. Bahkan sampai malamnya pun Bu Endang tanya sama saya kapan Pak Haji mau datang lagi.”


“Hem, kelakuan emak elu tuh! Dari dulu emang naksir sama mertua gue, kan?”


Mirza melotot kesal, dia jadi gak enak kalo sampe suster Ani tau emaknya emang suka caper sama Pak Haji Barkah.


“Oh, pantesan aja tadi sama Via ngomongnya ibu gitu ya? mungkin Pak Haji yang nyeritain kemarin.”


“Ngomong apaan?”


“Tadi ibu bilang Via yang nolongin ibu waktu kecelakaan.”


“Iya, Mas. Pak Haji Barkah kasih sugesti yang positif, cerita-cerita masa lalu yang berhubungan dengan keluarga dekat. Dan itu sangat baik untuk membantu pemulihan ingatannya.” Sahut suster Ani.


“Tuh kan, mertua gue mah emang top dah orangnya. Dia tau yang diceritain yang bagus-bagusnya, makanya emak elu jadi lembut gitu kan?”


“Iya, makanya jangan cerita soal belimbing wuluh! Ntar ibu jadi suka marah-marah lagi, mau?”


“Ya kan gue juga mau membantu buat pemulihan ingatan emak elu!”


“Tapi jangan cerita yang bikin emosi juga Om.”


“Belum tentu juga dia emosi, sapa tau malah bisa bikin ketawa. Kan sarap-sarap otaknya bisa kendor tuh kalo dibawa ketawa, iya kan Sus?”


“Sotoy, Om Jaka nih!”


“Elu kagak percaya sama gue?”


Suster Ani cuman senyum-senyum menyaksikan perdebatan kecil antara Om dan keponakan itu, kemudian melanjutkan tujuannya untuk memasitikan persiapan makan siang, sementara Bu Een tampak sedang makan jeruk ditemani Via.


“Gue ikut!” segera mengekor.


💕💕💕💕💕


Menjelang jam makan siang kedai selalu ramai pengunjung. Beberapa pelayan nampak hilir mudik ke meja pelanggan, Danar nge-set mini stage-nya seperti rutinatas hariannya. Di jam makan siang biasanya akan ada live performance dari teman-teman pengamennya yang sengaja diundang untuk nyanyi menemani santap siang para pengunjung kedai.


Di area outdoor beberapa meja sudah nampak penuh meski ini belum jam sitirahat kerja sebenarnya. Area itu menjadi pilihan favorit pengunjung, kerana selain tempatnya lebih luas, suasananya juga nyaman karena banyak tanaman bunga dan pepohonan. Sedangkan area indoor lebih privat, biasanya untuk mereka yang menginginkan suasana yang lebih intim. Selesai dengan tugasnya, Danar turun dan melihat Chelsi masuk membawa dua kantong belanjaan penuh.


“Dari mana kamu?” Tanyanya ketika Chelsi berjalan melewatinya.


“Belanja.”


“Kok gak nyuruh karyawan lain aja sih?” mengikuti berjalan ke belakang.


“Mana bisa, kan kalo jam segini pada sibuk?”


“Kalo gitu pake online lah, yang smart dong!”


Meletakkan belanjaannya, “Apa? smart?” berbalik menatap Danar kesal.


“Iya, kamu itu ribet! Gak praktis, ada yag gampang carinya yang susah.”


“Please ya Pak bos, kalo nggak bantuin gak usah ngomel!” Balas Chelsi. “Aku tuh belanja bahan-bahan organik, semua bahannya hampir pada abis takutnya nggak cukup buat menu makan siang ini. Kan gak lucu kalo banyak pesenan tapi bahannya gak ada?”


“Justru karena banyak pesenan, makanya kamu gak usah pergi-pergi. Tuh liat, di meja kamu!” menunjuk pantry ruangan di sebelahnya, “disana udah masuk beberapa orderan, tapi pending gara-gara gak ada yang ngerjain. Harusnya kamu nyuruh orang buat belanja, biar kamu bisa kerjain orderan yang udah masuk yang mana yang bisa dikerjain dulu sesuai bahan yang masih ada. Paham?”


“Oke, kalo gitu mulai besok aku nyuruh Pak Bos Danar yang terhormat buat belanja!” kesal Chelsi.


“Enak aja!"


“Ya kan cuman Pak Bos yang gak ada kerjaan? Yang lain sibuk!”


“Enak aja, aku justru yang paling sibuk. Aku harus pastiin semuanya beres. Kamu gak usah ngatur-ngatur ya?”


“Ekhem, permisi –“ Ari lewat menenteng nampan yang sudah kosong. “Iklan dulu boleh dong?” nyengir lebar. “Pada mau minum apa nih? Biar ributnya makin semangat, hehe …”


“Nggak usah ngeledek ya!” semprot Chelsi menghentakkan kakinya lantas masuk ke pantry dengan wajah ditekuk.


Danar pun kelihatan menahan kesal, baru kali ini ada karyawannya susah diatur. Kerja belum lama, tapi seenaknya sendiri, ngedumel dalam hati.


“Suaranya kedengeran sampe meja depan lho, Mas.” Ucap Ari kemudian.


“Suaranya siapa?”


“Suara hatinya Mas Danar!"


Danar kaget, masa iya suara hati bisa kedengeran ampe kemana-mana?

__ADS_1


"Ya suara ribut-ribut tadi lah, gimana sih? Gak sekalian pake mic aja ribut di atas panggung sana?” ledek Ari.


“Kamu itu nggak ngerti, Ri! Dia kerja kayak gak ada aturannya, dikasih masukan malah gak dianggep. Heran tuh orang, bikin kesel aja!”


“Ciyee …, kesel apa kesel?” mecolek lengan Danar. “Ati-ati lho Mas, dari kesel ntar jadi … ekhem!” senyum-senyum gak jelas.


“Apaan sih maksud kamu?”


“Benci jadi cinta, kayak judul –“


“Aku gak benci, tapi kesel! Sebel!” ralat Danar. “Lagian –“ tak melanjutkan kalimatnya karena melihat Chelsi keluar. “Mau kemana lagi kamu?” tanyanya pada Chelsi dengan nada jutek. “Mau pergi lagi? Atau mau ngajak ribut?”


“Siapa yang mau ngajak ribut sih? Nggak usah ke-GR-an deh!” meraih kantong belanjaanya yang tadi diletakkan sembarang lantas segera masuk lagi.


“Tuh kan, persis kayak di FTV-FTV itu, Mas. Awalnya berantem mulu, eh lama-lama jatuh cinta, hahaha …”


“Ngomong sekali lagi, aku pecat kamu sekarang juga!” semprot Danar segera berlalu dengan wajah jengkel.


-


-


-


Menunggu beberapa lama setelah menunaikan shalat dzuhur, dokter Wahyu akhirnya kembali ke ruangannya. Om Jaka dan Mirza segera ikut masuk. Dokter Wahyu paham yang disampaikan mereka dan mengtakan kalau Bu Een memang mengidap amnesia disosiatif.


“Maaf saya tadi pagi belum sempat menjelaskannya ya,” dokter Wahyu meminta maaf.


“Saya juga gak tau kalau ibu saya ternyata mengidap amnesia, Dok.” Sahut Mirza. “Tadi pagi saya dan istri saya teralu bersemangat karena mendengar kabar pekembangan ibu yang sangat baik.”


“Jadi amnesia disosiatif itu apa, Dok?” kejar Om Jaka penasaran dengan pemaparan dokter Wayu di awal.


Dokter Wahyu menghela napas sejenak sebelum memulai uraiannya. “Jadi, amnesia disosiatif ini merupakan salah satu bagian dari kondisi yang bernama gangguan disosiatif atau bisa juga disebut dengan penyakit mental yang melibatkan gangguan pada ingatan, kesadaran, identitas, dan persepsi.”


“itu berbeda dengan amnesia-amnesia pada umumnya ya, Dok?” sela Om Jaka.


“Ya. Jenis amnesia yang satu ini berbeda dari kasus lupa yang biasanya terjadi. Amnesia disosiatif tidak sama dengan jenis amnesia pada umumnya, yang melibatkan hilangnya informasi dari ingatan, akibat dari penyakit atau cedera pada otak. Amnesia disosiatif terjadi ketika seseorang memblokir informasi tertentu. Biasanya berupa kejadian yang berhubungan dengan trauma psikologis atau stres. Hal ini membuat dirinya tidak mampu mengingat poin-poin informasi yang sebenarnya penting.”


Mirza menyimak dengan seksama, semenatra Om Jaka mulai garuk-garuk kepala. Ntah karena gatel ketombean atau karena puyeng kayak biasanya kalo denger penjelasan yang berbau-bau ilmiah.


“Pada amnesia disosiatif, ingatan sebenarnya masih ada, tapi tersimpan sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat. Meski begitu, ingatan tersebut dapat kembali muncul dengan sendirinya atau setelah dipicu oleh sesuatu yang ada di sekitar.” Lanjut dokter Wahyu.


“Semilas dengan kita bantu ibu ingatkan tentang peristiwa-peristiwa yang pernah dialami, begitu Dok?” tanya Mirza.


“Betul, itu juga sangat membantu. Seperti yang suster Ani bilang, kemarin Bu Endang mendapat kunjungan dari Pak Haji yang menceritakan beberapa hal peristiwa positif dalam rentang kehidupannya, itu berguna sekali.”


“Itu ayah mertua gue, Dok.” Sambar Om Jaka. “Eh, ayah mertua saya,” ralatnya karena gak sopan banget ama doketer pake gue gue segala.


“Iya, ini juga termasuk bagian dari terapi social. Dan keluarga dekatlah yang wajib membantunya karena lebih tau tentang peristiwa apa saja yang pernah dialami Bu Endang.”


“Emak elu kudu diingetin yang baek-baeknya aja, biar kagak berubah jadi Mak Lampir lagi,” bisik Om Jaka yang lagsung dijawab dengan sikutan Mirza. “Uhuk!” Om Jaka sampe kebatuk gegera dadanya disikut Mirza.


“Kalau keadaannya sudah mulai stabil, ibu saya bisa kan Dok, rawat jallan saja?” ungkap Mirza karena menurutnya prose pemulihannya akan lebih baik jika di rawat di rumah saja.


“Tentu, tapi kita harus lihat hasil observasi lanjutannya dulu ya. jika kondisi psikis memang stabil tinggal pemulihan daya ingatnya saja maka Bu Endang boleh menjalani rawat jalan saja. Tapi kan yang dikhawatirkan, kondisi psikisnya bisa kembali mengalami tekanan jika kami belum observasi lanjutan.”


“Betul tuh, daripada emak elu ntar ngamuk-ngamuk di rumah kan malah repot?” timpal Om Jaka.


“Saya harap Mas Mirza sedikit lebih sabar menunggu hasilnya ya,” pinta dokter Wahyu mengharap pengertian Mirza. “Karena amnesia disosiatif ini berkaitan dengan trauma psikologis atau stres berat, yang merupakan akibat dari sebuah peristiwa traumatis seperti yang dialami Bu Endang. Jadi dikhawatirkan jika di bawa ke rumah terlalu terburu-buru, masa pemulihannya tidak akan maksimal.”


Menganguk paham, “baik, saya menegrti, Dok.”


Setelah dirasa cukup, Mirza dan Om Jaka pun keluar ruangan. Mereka berjalan kembali menuju taman.


“Panetasan aja ya emak elu kayak kebingungan gitu? Suruh milih buah aja dia kagak tau mau buah apaan? Ck, nasib emak elu! ” Om Jaka geleng-geleng kepala.


“Iya kan kayak yang udah dibilang sama dokter Wahyu, Om. Gejala utama dari amnesia disosiatif adalah ketidakmampuan secara tiba-tiba untuk mengingat kejadian masa lalu atau informasi personal. Pengidapnya biasanya akan terlihat kebingungan dan mengalami depresi atau rasa cemas.” Mirza mengulang penjelasan dokter Wahyu.


“Etapi, kalo menurut gue. Kayaknya mendingan emak elu amnesia aja deh kagak usah sembuh, Za.”


Reflek Mirza mengerem langkahnya, “kok gitu?”


“Ya soalnya dia bisa jadi baek bener kalo amnesia gini. Lu liat kan, sama gue sama Via dia bisa lembut begitu kayak–“


“Itu artinya Om Jaka doain ibu nggak sembuh-sembuh!” kesal Mirza lantas berjalan cepat mendahului Omnya.


“E bukan gitu, Za.” OM Jaka mengejar. “Lu pan tau sifat sama watak asli emak elu kayak apa? Kalo dia normal, apa kagak dibejek-bejek nih muka gue? Secara dia kan benci banget sama gue?” terus ngomong sambil menjajari langkah Mirza. “Apalagi bini elu tuh! Wah, janji bakalan dijambak-jambak dah rambutnya kalo emak elu waras mah!”


MIrza enggan menanggapi, ia semakin mempercepat langkahnya membuat Om Jaka berhenti karena ngos-ngosan kepayahan.


“Ya elah tu bocah kagak percaya banget dibilangin!” gerutu Om Jaka. “Ntar lu liat aja kalo emak lu udah waras, bakalan nyesel lu!”


Referensi:


Psychology Today. Diakses pada 2020. Dissociative Amnesia.


WebMD. Diakses pada 2020. Mental Health and Dissociative Amnesia.


💕💕💕💕💕


Hi, dear ….


Maksih ya udah ikut puyeng kayak Om Jaka ….


😂😂😂


Pokoke I love you full buat semuanya yang masih setia disini 🙏🙏🙏🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2