TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
108 #CURI-CURI PANDANG


__ADS_3

Waktu berlalu, kondisi Via semakin membaik. Hari ini check up yang terakhir dan dokter telah menyatakan Via sudah sehat karena sudah tak ada sel ektopik pada saluran tuba falopinya. Dan Mirza berjanji akan mengijinkan Via makan apa saja jika sudah sembuh. Maka hari ini Via menagih janjinya.


“Mas, kita mampir ke toko kuenya Riri yuk.” Ajak Via begitu keluar dari rumah sakit.


“Boleh. Kamu mau kue apa, sayang?”


“Aku pingin kue Engka Ketan.”


“Emang di sana ada?”


“Ada. Aku pernah nanya.”


“Ya udah, ayok!” Mirza merangkul pundak Via menuju parkiran.


Tak sampai lima belas menit mereka sampai di toko kue Riri dan mendapati Riri sedang sibuk dengan ponselnya.


“Ri, kok sepi?” Sapa Via langsung masuk diiringi Mirza.


“Eh, Mbak Via. Iya nih baru buka soalnya, ini lagi ngecek orderan.” Sahut Riri melihat sekilas pada kakaknya lantas kembali menekuri ponselnya.


“Udah siang begini baru buka?” Tanya Mirza.


“Iya, tadi pagi aku bantuin bikin orderan catering di rumah Bu Elin dulu, Mas.”


Mirza manggut-manggut. “Ya udah sayang, pilih sana kue yang kamu mau.” Ucap Mirza kemudian, lantas dia duduk di kursi sisi ruangan.


Via melangkah ke etalase dan mengangkut satu loyang kue engka ketan. “Ri, ini bukan pesenan orang kan?” Tanya Via seraya memperlihatkan kue itu pada Riri.


“Bukan. Ambil aja, Mbak. Itu baru bikin tadi pagi, masih fresh.”


Via lantas mengambil piring kecil, garpu dan pisau. Dengan semangat ia meletakkan kue itu di meja depan suaminya, lalu mulai memotongnya.


“Sayang, kamu mau makan ini semua?” Tanya Mirza melihat pada Via tak percaya demi membawa satu loyang penuh kue engka ketan itu.


“Kalo iya kenapa emangnya?”  Sahut Via cuek, lantas mulai memasukkan potongan kue itu ke dalam mulutnya. Rasanya yang legit langsung membuatnya tersenyum puas. “Kue bikinanmu emang enak Ri.” Puji Via pada adiknya.


“Iya, dong!”


“Mas cobain deh, aku suapin ya. Aaaa...” Via menyodorkan sepotong kue ke dekat mulut Mirza.


Mirza membuka mulutnya dan mengunyah kue itu sambil merem melek dengan ekspresi tak karuan.


“Kenapa, Mas?” Tanya Via khawatir.


“Kecut!”


“Ha? Masa sih? Orang enak gini, kok!” Via tak percaya lantas memasukkan sepotong kue lagi ke dalam mulutnya. “Enak beneran ini, Mas! Manisnya pas gini kok dibilang kecut sih?” Via heran.


Mirza malah nyengir. “Tapi masih kalah manis sama kamu, sayang. Hehehe....”


“Hu, gombal!” Via menepuk pelan pipi suaminya sedikit kesal.


“Suapin lagi dong, sayang.” Pinta Mirza.


“Bentar ya, aku potongin dulu.”


Via memotong kue dengan ukuran lebih kecil-kecil lagi agar langsung hup dalam sekali suapan. Lantas setelah selesai mereka saling menyuapi diiringi candaan ringan sambil sesekali terdengar tawa renyah Via.


“Mas, kamu laper apa doyan sih? Dari tadi rakus banget makannya, aku sampe nggak kebagian nih.” Protes Via.


“Laper, sayang. Ini kan emang udah jamnya makan siang? Cepet, suapin Mas Lagi.” Pinta Mirza.


“Ih, mana boleh. Ini udah tinggal sedikit, mau dibawa pulang.”


“Ya ampun, nanti beli lagi, sayang.”


“Nggak ada, cuman ada satu loyang ini. Aku mau habisin yang sepotong ini, sisanya mau dibawa pulang.” Via mengambil potongan kuenya dengan garpu kecil.


“Mas minta sedikit aja.” Mirza coba mengambil garpu dari tangan Via.


“Nggak, ini bagianku Mas.” Via kekeh mau nyuapin kue itu ke mulutnya sendiri.


“Bagi dua ya?” Mirza memperlihatkan puppy eyes-nya sambil tak mau melepaskan garpu yang dipegang Via.


Terjadi rebutan yang seru diantara mereka, Riri yang duduk di pojok ruangan hanya senyum sambil geleng-geleng kepala melihat sekilas kelakuan kakak dan kakak iparnya yang kumat sifat kekanak-kanakkannya itu.


Akhirnya mereka sepakat mengambil sepotong kue itu dan menggigitnya secara bersamaan. Adegan itu disaksikan oleh sepasang mata yang baru saja masuk ruko dengan tampang sedikit shock. Terlebih lagi ketika Mirza sengaja mencaplok kue yang tersisa sehingga bibirnya mengenai bibir Via.


“Ih, Mas modus, deh!” Kesal Via sambil mencubit pipi suaminya kesal.

__ADS_1


Mirza malah tergelalak melihat raut kesal istrinya.


“Bibir kamu ada sisa kuenya, sayang. Makanya sekalian Mas bersihin, haha....”


Via masih kesal dengan mengerucutkan bibirnya.


“Sini, mas bersihin lagi.” Mirza maju mau nyium Via lagi.


“Eh, Mas Danar.” Ucap Riri yang baru melihat Danar.


Danar seketika agak gugup dan mengulas senyum canggung.


“Iya, aku mau nganterin ini.” Sahutnya sambil memperlihatkan banner untuk toko kue Riri.


“Danar, sini gabung.” Sapa Mirza.


Danar tersenyum. “Makasih, aku buru-buru nih.”


Riri mendekat dan mengambil banner itu.


“Wah, bagus banget! Nanti aku langsung pasang di depan deh.” Ucap Riri senang.


“Ya udah, aku duluan ya.”


“Eh, bentar Mas.” Riri teringat sesuatu. “Nitip bahan buat Ari, ya?”


“Bahan apa?”


“Bahan buat bikin makanan sama minuman di kedai. Kemarin aku abis belanja, si Ari nitip. Bentar ya, aku ambilin dulu di kulkas atas.” Riri menuju lantai atas tanpa menunggu jawaban Danar.


Danar duduk di kursi sambil melihat orderan Riri hari ini untuk mengatasi rasa canggung karena melihat adegan romantis Via dan Mirza barusan. Danar coba tak memperhatikan mereka lagi.


“Sayang, Mas haus deh. Kayaknya disini kalo nggak salah ada yang jual juice ya?” Ucap Mirza.


“Iya, Mas. Di cafe sebelah sini ada kok.”


“Kamu mau nggak? Mas beliin sekalian.”


“Boleh.”


“Mau juice apa?”


“Terserah Mas aja deh.”


“Ya, kenapa Mas?”


“Sayang, kamu mau juice apa nih? Ada alpukat, jambu biji, sawo, sirsak, mangga, strawberry sama jeruk. Eh, apel juga ada.” Ucap Mirza memperlihatkan tampangnya dengan senyum lebarnya memenuhi layar ponsel Via.


“Ya ampun, Mas. Cuman mau nanyain itu doang kok pake video call segala, ih.” Decak Via tak habis pikir.


“Ya kan biar kamu yang milih mau juice apa, sayang.”


“Kan tadi udah bilang terserah Mas aja.”


“Ya udah, juice sirsak aja ya kesukaan kamu?”


“Iya, terserah Mas Mirza aja. Eh, tapi juice pisang ada nggak? Kayaknya enak deh, Mas.” Ralat Via.


“Nggak ada, pisangnya belum dipetik. Adanya pisangnya Mas ini, mau nggak?” Ujar Mirza agak berbisik.


“Hah? Masa pisangnya Mas Mirza mau dijuice?” Via sontak kaget dengan wajah polosnya.


“Pssst, jangan kenceng-kenceng bilangnya.” Mirza masih berbisik.


“Ya abis, Mas Mirza ada-ada aaj deh!” Via merengut kesal.


Mirza malah tertawa.


“Ya udah, terserah Mas aja deh!”


“Oke, sayang. Muuuachhh!” Mirza mengakhiri video callnya dengan memonyongkan bibirnya belagak mau nyium Via.


Via tersenyum geli dibuatnya, tingkah suaminya itu emang kadang suka gemes-gemes menyebalkan. Danar yang diam-diam mempehatikan Via semakin tak karuan dibuatnya.


Mereka harmonis dan romantis sekali. Aku emang salah tempat kayaknya untuk jatuh cinta. Nggak mungkin aku bisa dapetin Via, sementara ada Mirza yang sangat mencintainya. Benar-benar cinta yang datang pada waktu yang tak tepat. Huft!


“Mas! Kok malah bengong sih?” Tegur Riri yang sudah berada di dekat Danar dengan satu kantong penuh belanjaan pesenan Ari.


“Emh, Eh ... kenapa?” Tanya Danar sedikit tergagap.

__ADS_1


“Ini pesenannya si Ari.” Riri memberikan plastik belanjaan itu.


Danar menerimanya dan memeriksa sebentar isinya.


“Makasih ya Mas, udah mau direpotin. Bilangin sama Ari, uangnya nanati aja kapan-kapan aku ke sana.”


“Oke.” Ucap Danar berlalu lantas melangkah melewati tempat Via duduk.


“Vi, aku duluan ya.” Sapa Danar dengan sebisa mungkin bersikap biasa.


“Oh, iya. Hati-hati, ya.” Balas Via dengan senyuman.


Danar mengangguk lantas melanjutkan langkahnya menuju parkiran.


Tuhan, jika cinta tak pernah salah, kenapa Kau getarkan hati ini pada seseorang yang tak mungkin aku miliki?


 _______________


 


Suasana cafe di sebuah mall ibu kota cukup ramai siang ini. Nampak dua orang perempuan muda sedang duduk berhadapan berbincang sesuatu hal yang serius sambil menikmati makan siangnya.


“Jadi, kenapa kamu dipecat oleh atasanmu?” Tanya seorang perempuan yang sedang memotong steaknya.


“Karena aku kepergok lagi berduaan sama dia oleh istrinya.” Sahut si perempuan yang satunya dengan nada kesal.


Perempuan yang sedang memotong steak yang tak lain adalah Arumi itu melotot tak percaya.


“Kamu berkencan dengan bosmu sendiri?”


“Ck! Bukan seperti  itu, aku cuman baru mau menciumnya.” Decak si perempuan yang satunya yang tak lain adalah Jane.


“Astaga! Kamu gila, Jane!” Mata Arumi membeola. “Bosmu kan sudah punya istri, kenapa kamu nekad?”


“Ish, kamu kayak nggak sama kayak aku aja! Kamu juga suka ngejar-ngejar pacar orang kan?” Jane makin kesal.


“Kan cuman pacar orang, bukan suami orang!” Arumi tak mau kalah, lantas menyuapkan potongan steaknya.


“Aku juga nggak tau kenapa bisa suka sama bosku itu. Mungkin karena kami sering menghabiskan waktu berdua di pub malam.” Ungkap Jane.


“Apa? Kalian sering clubing bareng?” Arumi makin kaget. “ Kalian pasti udah ngapa-ngapain ya? Oh, Jane! Aku nggak ngira kamu separah itu!”


“Jangan mesum dulu dong! Aku nggak pernah ngapa-ngapain kok, swear! kita cuman menghabiskan waktu bersama kalo bosku itu lagi kesel sama tunanagannya yang sekarang itu udah istrinya. Aku cuman nemenin dia, nggak lebih.” Jane mengangakt dua jari telunjuknya lantas menyedot minumannya.


“Serius?” Jene menatap penuh selidik.


“Untuk hal yang satu ini aku nggak bohong.”


Mereka lantas melanjutkan makan siang.


“Oya, omong-omong gebetan kamu itu mana? Katanya mau ke sini?” Tanya Jane kemudian. “Tajir nggak dia? Masih pacar orang apa dah jadi mantan?”


“Tajir lah, kalo nggak mana mau aku.” Arumi tersenyum lebar. “Udah tajir, ganteng pula! Dia asli orang jerman, tapi udah lama tinggal di sini. Kerjaannya cuman traveling, maklum lah ya duitnya banyak, haha...” Celoteh Arumi bangga.


“Awas aja kalo nggak ganteng!”


“Dijamin kamu juga naksir deh!” Sahut Arumi percaya diri. “Omong-omong kayak gimana tampang bos kamu itu sampe kamu napsu sama dia? Mana, ada fotonya, nggak?” Tanya Arumi penasaran.


“Sebentar.” Jane mengambil ponselnya lantas mencari foto bosnya di galeri ponselnya. “Nah, ini.  Cakep kan?”


JENGJENG!


Arumi terdiam beberapa saat, ia mencermati wajah laki-laki di layar ponsel Jane. Sepertinya dia pernah melihat wajah laki-laki itu. Dan tampangnya langsung terkejut ketika mengingat siapa si laki-laki itu.


“Astaga, Jane! Jadi ini bos kamu?” Tanya Arumi terkaget-keget.


____________________


Nah lo! teenyata ..... 🤔🤔🤔


tungguin kelanjutannya ya, Kak 😉


like dulu 🤩


komen juga ❤️


rate 5 selalu 🤩


vote seikhlasnya 🤩

__ADS_1


Terima kasih, 🙏❤️❤️


luv u full 🤗🤗❤️❤️😘😘


__ADS_2