
Acara syukuran untuk Bu Een telah digelar semalam, tak ada warga kampung Jati Asri ataupun Suka Tresna yang terlewat, semuanya diundang oleh Pak Haji Barkah yang baik hati dan tidak sombong itu. Para warga yang pulang dari acara tak hanya membawa “berkat” dan amplop yang berisi sejumlah uang sebagai tanda terima kasih dari pak Haji, tapi mereka juga membawa oleh-oleh berupa tanda tanya besar tentang kondisi Bu Een pasca keluar dari rehabilitasi mental.
“Itu beneran Bu Een ya?”
“Iya, kan Bu Een gak punya kembaran.”
“Bisa alim begitu dia, kesambet apa gimana?”
“Hush!”
“Kan dia amnesia.”
“Masa? Bukannya dia gila?”
“Ssst, jangan kenceng-kenceng. Ntar Bu Een denger, bisa ngamuk dia!”
Kasak kusuk demikian hanya dari sebagian kecil warga yang duduk di pojokan saja yang ngerasa aneh dan gak percaya setelah melihat keadaan Bu Een. Pasalnya Bu Een keliatan kalem dan ramah banget menyambut semua tamu yang datang. Ucapan terima kasih yang selama ini terkesan sangat mahal dan langka darinya, malam itu tak henti mengalir dari bibirnya yang terus mengulas senyum.
Dan pagi ini Bu Een sedang menemani Nala di halaman belakang. Bocah kecil lucu itu anteng dipangku sang nenek yang terus mengajaknya ngobrol tentang apa saja yang dilihatnya. Via sibuk di dapur ketika Mirza menghampirinya selesai menerima telpon dari Pak Kamto.
“Sayang,” sapa Mirza.
“Bentar Mas, airnya belum mateng. Nanti aku bawain kopinya ke depan ya,” sahut Via tanpa menoleh.
Memeluk pinggang sang istri dari belakang, “siapa yang minta kopi?”
“Terus?” menoleh hingga wajah mereka berhadapan.
Cup! Satu ciuman singkat di bibir Via.”Minta cium, hehe …”
“Isssh!” memelintir pinggang Mirza hingga membuatnya meringis.
“Awwh,” mengusap pinggang kirinya. “Mas mau pergi ke tambak, tadi Pak Kamto telpon katanya para petani tambak minta Mas sama Om Jaka kesana karena ada yang mau diobrolin.”
“Tapi aku belum masak Mas, Ice juga belum dateng mau aku suruh belanja.”
“Kan udah sarapan roti, sama aja Sayang.”
“Tapi perjalanan jauh, Mas.”
“Gampang, nanti bisa mampir di warung makan kalo laper,” melihat jam pada layar ponselnya. “Mas berangkat sekarang ya, mau nyamperin Om Jaka dulu soalnya.”
“Ya udah, hati-hati ya.”
“Iya, Sayang,” Mirza ke belakang untuk pamit pada anak dan ibunya. “Bu, aku mau –“
“Eh, udah mau berangkat kerja ya?” Sambar Bu Een. “Tuh, Ayah udah mau berangkat. Ayok Nala salim sama Ayah,” Bu Een membawa Nala mendekat.
Udah kadung, Mirza senyumin aja. “Anak Ayah sayang, jangan nakal di rumah ya,” sedikit membungkukkan badannya kemudian mencium kedua pipi gembul putri kecilnya.
“Hati-hati ya, Za. Jangan pulang malam, kasian istri sama anak kamu. Kalo ada apa-apa kasih kabar, biar istrimu gak khawatir. Oya, jangan lupa sebelum pergi baca doa dulu, Al Fatihah, ayat kursi, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas masing-masing tiga kali biar kamu selamat dalam perjalanan, pekerjaan kamu lancar dan barokah,” pesan Bu Een usai Mirza mencium punggung tangannya.
“Iya Bu,” mengangguk dengan hati masih setengah takjub demi mendengar petuah sang ibu yang panjang lebar itu tapi cukup membuatnya ”nyes” juga karena merasa selama hidupnya baru kali ini pesan ibunya kedengeran bijak.
Ice datang tak lama setelah Mirza pergi, tampangnya morat marit persis seperti habis berantem sama angin ribut.
“Haduh, Mbak! Maaf ya, aku kesiangan,” ucapnya setengah berlari menghampiri Via yang tengah menjerang teh.
“Ce? Kok –“
“Iya, soalnya Kang Udin hari ini kurang enak badan, Mbak.” Potong Ice sebelum Via melajutkan kalimatnya. “Jadi tadi aku anterin Kang Udin berobat dulu, mungkin kecapekan habis acara semalam Mbak,” membenahi rambutnya yang tampak acak-acakan.
"Tau gitu kamu kan gak usah kesini gak papa, Ce. Kasihan Udin.”
“Gak papa, Mbak. Udah agak enakan katanya, abis minum obat terus aku kerikin, kayaknya masuk angin juga.”
“Beneran?” bertanya tak yakin.
“Iya, Kang Udin sendiri yang nyuruh aku kesini. Kasian Mbak Via katanya kalo gak ada yang bantuin beberes dan jagain Nala.”
“Ya udah, kamu mau teh nggak? Atau kopi, atau susu? Sekalian aku bikinin,” tawar Via.
“Nanti aku bikin sendiri aja Mbak, aku mau nyuci karpet dulu. Semalem kayaknya ada yang numpahin minuman, aku udah rendam dari semalam di belakang.”
“Ha? Ngapain pake direndam segala?” Via kaget, “Cuci laundry aja, Ce! kan berat itu karpetnya, ya ampun!”
“Gak papa, serahin semuanya sama Ice Juice, dijamin beres! Red carpet kalo acara piala Oscar juga dulu aku kok yang nyuci waktu masih jadi TKW di Saudi, Mbak,” ucap Ice meyakinkan.
Via cuman geleng-geleng kepala, “sejak kapan acaranya pindah ke Saudi?“ gumam Via, tapi ya udahlah biarin aja. Si Ice ini emang 11 12 sama Jumilah, suka ngeyel kalo dibilangin tapi rajin kok kerjanya. “Nanti habis cuci karpet kamu gak usah beberes dan gak usah masak ya, pasti capek banget. Nitip tolong jagain Nala aja, aku mau belanja buat stok di kulkas sekalian beli makanan buat makan kita,” sambung Via kemudian.
“Siap, Mbak.”
“ASI buat Nala di freezer, udah tau cara ngasihinnya kan?”
“Udah, Mbak. Pokoke dijamin aman terkendali.”
“Tapi kayaknya aku agak lama, Ce. Sekalian mampir ke rumah dulu abis belanja, mau nengokin tanaman sayuran.”
“Gak masalah, Ice Juice bisa handle semuanya. Tenang aja Mbak.”
Via lega, lantas ke belakang untuk memberikan secangkir teh pada sang ibu mertua. “Bu, ini tehnya,” meletakkan teh di maja taman belakang.
“Makasih ya, Vi,” menerimanya dengan senyuman. –senyum yang dulu jarang, atau bahkan hampir tak pernah terukir tulus untuk sang menantu satu-satunya itu.
Via mengangguk, “oya, Bu. aku mau ke kota dulu ya, ada keperluan.”
“Lama nggak? Kasih susu dulu nih anak kamu sekalian dikelonin, kayaknya dia udah ngantuk. Kecapekan main sama ibu,” memberikan Nala pada Via.
“Iya, Bu.”
“Bawa ke kamar aja.”
Via menggendong Nala membawanya ke kamar atas. Ternyata benar, tak lama setelah menyusu pada ibunya, Nala terlelap dan Via segera keluar kamar dengan perlahan.
Bu Een duduk santai di gazebo taman belakang rumah Mirza menikmati tehnya. Dahan pohon mangga di samping gazebo bergoyang-goyang tertiup semilir angin, tehnya mengepul mengeluarkan aroma melati. Beberapa lama disana, rasanya dia pernah merasa berada disitu sebelumya. Bu Een coba mengingat, namun kepalanya berdenyut nyeri membuatnya menyerah.
Ice nampak berjibaku menyelesaikan tugasnya, seluruh permukaan karpet usai disikat menjadi konclong tinggal diguyur air. Ice mencari selang ke dekat kolam ikan, namun perhatiannya tertumpu pada Bu Een yang tengah dibuai sejuk angin hingga matanya terlihat sayup-sayup.
“Hem, enak bener tuh nenek-nenek malah santuy disitu,” gumam Ice terbit jiwa usilnya. “Mumpung masih amnesia, kesempatan aku kerjain tuh si nenek gayung!” Ice berjalan menghampiri, kedatangannya yang tiba-tiba agak mengejutkan Bu Een.
__ADS_1
“Eh, Uce?” Bu Een terkesiap.
“Uce, Uce, enak aja. Ice Bu, Ice Juice!” ralat Ice setengah kesal karena dari pertama ketemu lagi, Bu Een selalu salah sebut namanya. Tapi lantas dia tengak tengok seolah meyakinkan diri kalo situasi rumah aman, tak ada orang lain selain mereka, karena dia juga gak mau ketahuan ngerjain Bu Een.
“Iya, Ice maksudnya. Ada apa?”
“Ibu kok betah sih malah duduk-duduk santai disini? Padahal dulu ibu orangnya rajin lho, gak mau diem,” cetus Ice memulai misinya.
“Oya?”
“Iya. Bu Een tuh gak pernah santai kayak gak ada kerjaan, pokoknya selalu sibuk tiap hari.”
Berpikir sejenak, “pantesan dari tadi saya mikir kok kayak ada yang aneh ya, kayak kurang sesuatu gitu.”
“Itu karena Bu Een cuman duduk-duduk aja. Padahal dulu rumah segede ini Bu Een gak pake pembantu lho.”
“Masa sih?”
“Iya!” menyahut sangat meyakinkan. “Katanya Bu Een badannya bakalan pegel-pegel kalo gak kerja, makanya semua kerjaan rumah ibu kerjain sendiri.”
Mengangguk-ngangguk pelan, sementara Ice tersenyum merasa rencananya akan berhasil.
“Sekarang badan Bu Een pasti pada pegel-pegel kan? Itu karena kelamaan menjalani pengobatan selama ibu sakit. Ibu kebanyakan rebahan, makanya otot-otot Bu Een jadi kaku.”
Mengangguk-angguk lagi.
“Nah, biar otot-otot Bu Een lemes lagi, mendingan Bu Een bersih-bersih rumah, kayak nyapu, ngepel, ngelapin kaca sama perabot-perabot rumah biar kinclong,” saran Ice coba menggiring pikiran Bu Een. “Kan Mbak Via lagi pergi, tadi belum sempet beberes. Aku juga lagi nyuci karpet ampe pegel nih tangan,” Ice memijit-mijit sendiri lengannya biar makin meyakinkan.
“Bener juga, daripada ngantuk,” semudah itu Bu Een percaya, Ice bersorak dalam hati. Yess!
Bu Een masuk ke dalam, Ice mengawasi dari kejauhan yang dilakukan mantan majikan suaminya itu. Setelah yakin yang dilakuakan Bu Een benar, ia pun kembali meneruskan pekerjaannya. Usai menjemur karpet, Ice masuk melihat Nala di kamarnya. Aman, Nala masih pulas. Ice turun, Bu Een tengah mengepel lantai di ruang tengah.
Glubrak!
“Awwh!” Ice kepleset setelah menabrak ember di dekat tangga hingga airnya tumpah.
“Uce, kamu jatuh?” Bu Een menoleh kaget.
“Aduh, Ibu gimana sih ngepelnya?” bangun sambil memegangi pinggangnya. “Naroh ember juga sembarangan banget, jadi ketabrak tumpah kan tuh airnya?”
“Ya udah, biar saya yang beresin. Kamu kesana aja, sakit ya jatuh tadi?”
“Sakit lah, pake nanya lagi!” berjalan sambil meringis menuju meja makan.
Bu Een mondar mandir mencari lap kering membersihkan tumpahan air di lantai. Agak khawatir juga Ice memperhatikan, jangan sampe Bu Een juga ikutan jatoh karena barusan dia cuman acting. Emang enak dikerjain? Ice cekikikan dalam hati.
Bu Een melanjutkan ngepel lagi, Ice pura-pura mencari sesuatu di laci lemari dapur.
“Cari apa kamu, Ce?” Tanya Bu Een yang udah nyampe dapur.
“Obat gosok.”
Terdiam sebentar, “apa saya dulu pernah pake obat gosok ya?” menggumam.
“Biar aku cari sendiri deh, Ibu lanjutin aja ngepelnya,” menuju ruang tengah, tapi karena lantainya masih basah jadilah kaki Ice mencetak jejak-jejak indah disana.
Menoleh, memperhatikan permukaan lantai. “Oh, iya. Maaf ya, Bu. Ya udah, Bu Een pel lagi aja,” memutar langkah berpegangan pada rak di sudut ruangan. “Ya ampun, ini kok masih berdebu. Bu Een belum bersihin ya?” mengusap telapak tangannya sendiri.
“Iya nanti saya bersihin abis ini. Udah sana, kamu keluar aja nanti saya nggak selesai-selesai ngepelnya.”
Ice mengangguk, keluar menuju gazebo setelah mengmbil sebotol air dingin dari dalam kulkas. Selonjoran santuy ia disana, hatinya puas tiada terkira.
“Rasain lu, nenek lampir! Dulu kamu yang semena-mena sama saya dan sama Kang Udin. Tapi ini belum seberapa, untung aku masih ada rasa kasihan,” Ice ngedumel sendiri, lantas mengeluarkan ponselnya karena ada pesan masuk.
Mbak Via
Ce, kayaknya aku agak sorean pulangnya gak papa ya? buat makan siang aku tadi udah pesen makanan sama Riri. Bentar lagi mau dianterin sama orang suruhannya.
Ice
Siip, gak papa Mbak. Semuanya aman terkendali kok.
Mbak Via
Makasih ya, tolong jagain Nala.
Ice
Don wori bi hepi, Mbak.
Ice tersenyum, kalo Via pulangnya masih lama berarti kesempatan dia buat ngerjain Bu Een masih lama juga. Ice tiduran sambil mainan gadgetnya. Gak kerasa adzan dzuhur berkumandang.
“Ce! Kamu pesen makanan?” tegur Bu Een membuat Ice mengalihkan fokusnya.
Bangkit perlahan, “oh iya, Mbak Via yang pesen buat makan siang.” Melihat kantong palstik yang dibawa Bu Een.
“Tapi tadi katanya dari Riri.”
“Iya, Riri itu adiknya Mbak Via. Dia sekarang buka delivery order makanan kalo pas gak ada pesenan catering.”
Dahi Bu Een berkerut, seketika Ice sadar kalo percuma ngejelasin, Bu Een belum bisa ingat.
“Ya udah, mendingan kita makan dulu. Mbak Via katanya pulangnya agak sore. Bu Een pasti laper kan abis bersih-bersih?” Ice bangun tapi sambil meringis memegangi pinggangnya lagi.
“Kamu mau ngapain?” bertanya khawatir.
“Mau ambil piring sama sendok.”
“Biar saya aja, kita makan disini sama-sama mumpung Nala belum bangun.”
“Iya deh. sama minumnya sekalian ya Bu, yang dingin. Botolnya udah kosong nih,” Ice nyengir memperlihatkan botol air mineral yang memang udah kandas isinya.
“Iya.”
“Tapi kalo nggak ngerepotin, bikin es sirup enak kayaknya Bu. panas-panas gini pasti seger,” ucapan Ice mengurungkan langkah Bu Een.
“Es sirup?”
“Iya, tadi aku liat ada sirup coco pandan di kulkas. Ibu juga pasti haus kan? Enak kalo minum es, Bu.”
__ADS_1
Mengangguk lantas melajutkan langkahnya.
Ice kembali bersorak girang, tapi tentu aja cuman berani dalam hati. Puas banget dia bisa nyuruh-nyuruh Bu Een.
“Enak bener, gini kali ya rasanya jadi majikan?” ucapnya seraya membuka plastik makanan.
Tak lama Bu Een muncul dengan pesanan Ice, lantas mereka pun makan di bawah rindangnya pohon mangga.
“Abis ini Bu Een istirahat aja, pasti capek kan Bu? biar Nala aku yang jagain kalo udah bangun,” ucap Ice disela makan siangnya.
“Emangnya pinggang kamu udah gak sakit lagi?”
“Mendingan, abis makan pasti langsung strong lagi. Tenang aja, Bu.” Ice gak enak juga terus-terusan ngerjain Bu Een.
Bu Een sepakat, ia sempat tidur siang setelah makan dan shalat dzuhur. Menjelang sore ia baru bangun. Ice tengah membersihkan halaman depan.
“Ce, Nala mana?” Bu Een nongol.
Hanya menunjuk pada stoller dengan matanya.
“Ya ampun, cucu nenek,” melongok Nala yang tengah asik dengan mainannya. “Kasin banget kamu dicuekin ya? kita jalan-jalan yuk! Mau kan?” Membawa stoller Nala. “Ce, saya mau jalan-jalan sebentar ya, biar Nala nggak bosen.”
“Mau kemana Bu? jangan jauh-jauh, ntar nyasar.”
“Nggak, cuman muter-muter sini aja.”
“Iya deh.”
Ada baiknya juga Nala dibawa jalan sama Bu Een, Ice jadi bisa nyelesein bersih-bersih halaman depan belakang dan nyiram semua tanaman dan pepohonan disana. Aroma khas tanah basah sangat menentramkan, Ice santai sebentar setelah selesai dengan pekerjaannya.
“Eh, kok Bu Een sama Nala belum balik ya?” tersadar kalau Bu Een sudah cukup lama pergi.
Baru saja Ice berniat akan mencarinya, Via datang dengan motornya yang penuh dengan plastik belanjaan.
“Ce, tolong bantuin ya,” pinta Via seraya membuka jok motornya yang rupanya berisi dengan belanjaan juga.
“Oke, Mbak.” Menurunkan semua belanjaan Via. “Banyak banget Mbak? Kayak orang mau jualan aja.”
“Namanya juga buat stok, Ce.”
Ice dan Via membawa semuanya ke dalam. Via memilah milah mana yang harus dimasukkan ke dalam kulkas mana yang nggak.
“Oya, ibu kemana?” tanya Via menata belanjaan ke dalam rak kulkas.
“Nah, sampe lupa kan!” Ice menopok jidatnya sendiri. “Bu Een tadi –“
“Vi, udah pulang rupanya kamu?” Bu Een muncul membuat Ice lega.
“Udah, Bu. barusan aja.”
“Kamu kok belanjanya banyak banget? Jangan boros-boros, nanti uang kamu cepat habis lho. Mendingan ditabung,” Sifat pelit kayaknya emang susuah ilang dari Bu Een meski lagi amnesia.
“Kan ini juga buat Ibu?”
“Iya, tapi nggak usah sebanyak ini juga.”
“Nggak papa, biar ibu nggak repot beli-beli lagi.”
“Kamu ini kok susah sih dibilangin?” agak ngedumel.
Via cuman senyum. “Ce, ini minyak goreng taroh disana aja!” mengalihkan perhatian Bu Een.
“Ok.” Menuju lemari dapur namun lantas terdiam kaget setelah balik badan menyadari rasanya ada sesuatu yang aneh.
“Emh, Bu –“ tanya Ice antara ragu dan khawatir. “Ibu pulang sendirian?”
Bu Een melihat Ice yang menatapnya lurus. “Maksudnya?”
“Nala mana?” melihat stoller Nala tak bersama Bu Een.
“Nala?” Bu Een malah bertanya heran.
“Iya, kan ibu bilang mau bawa Nala jalan-jalan. Sekarang Nalanya mana? Kok ibu pulang sendirian?”
Bu Een terdiam, ia kelihatan bingung. Via yang menyadari ada yang tak beres segera menyudahi aktifitasnya.
“Emangnya ibu habis pergi sama Nala, Ce?” mulai curiga.
“Iya, Mbak. Kan tadi aku lagi bersihin halaman depan, terus Bu Een bilang katanya mau bawa Nala jalan-jalan sebentar pake stoller. Tapi, tapi –kok, sekarang Nalanya mana?” Ice mulai panik.
“Nala, ya?” gumam Bu Een.
“Iya, ibu bawa kemana Nalanya?” Ice lantas berjalan ke depan barangkali ada di depan tapi nihil.
Bu Een dan Via segera menyusul.
“Nggak ada, Mbak. Jangan-jangan Nala hilang, Mbak –“
“Hilang?” suara Via bergetar, seketika badanya terasa lemes. “Mungkin ibu gak bawa Nala, Ce.”
“Aku liat sendiri ibu dorong stollernya keluar, iya kan Bu? ibu bilang mau bawa Nala jalan-jalan?” Ice ikutan gemeteran.
Bu Een cuman melongo seperti makin bingung. “I –ya, ibu tadi bawa tapi –nggak tau,” sahutnya tanpa ekspresi apapun.
“Beneran ilang ini mah,” Ice hampir menangis, ia menyesali perbuatannya yang mengijinkan Bu Een keluar membawa Nala.
Via sudah tak mmapu berkata-kata, ia terduduk lemas di kursi teras, kedua nentranya memanas, perlahan merembes air hangat dari sana.
“Mbak, Mbak Via tenang ya. aku coba cari keliling sini dulu sambil tanya-tanya warga,” Ice segera melesat tanpa menunggu jawaban Via.
💕💕💕💕💕
Ada yang tau Nala di mana??
kasih tau othor ya, hehee... 😂😂😂
Makasih selalu setia membersamai karya othor awut-awutan ini 🙏🙏🙏🙏
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1