
Malam ini Riri menginap menemani Via di rumah kontrakannya. Riri belum menceritakan soal keadaan Via pada ibunya ataupun pada Mirza. Riri hanya bilang pada Bu Harni kalau menginap di tempat Via karena besok pagi ada yang harus ia kerjakan di ruko.
Via sudah terlelap sejak lepas isya tadi, Riri menutup pintu kamar kakaknya perlahan dan baru saja hendak menuju kamar merebahkan diri juga ketika suara ketukan pintu menghentikan langkahnya.
Ceklek.
“Mas Danar?” Riri sedikit surprise begitu medapati Danar sudah berada di teras.
“Aku nelpon kamu dari sore hpmu nggak aktif.” Ucap Danar.
“Hpku kayaknya mati, Mas.”
“Gimana keadaan Via?” Apa dia baik-baik aja?” Tanya Danar langsung.
Riri tak menjawab, ia malah membuang pandangan menghindari mata Danar yang meminta penjelasan darinya.
“Kamu nggak nyuruh aku masuk?” Tanya Danar karena Riri berdiri di ambang pintu seolah tak mau mengajaknya masuk.
“Udah malem, Mas. Kita duduk di depan aja ya.”
Riri berjalan mendahului duduk di kursi teras.
Danar segera mengikuti dan duduk di samping Riri.
“Mas, aku besok kayaknya nggak bisa ke ruko deh. Nanti aku bilang sama Bu Elin.” Ungkap Riri kemudian.
Danar melihat Riri sekilas, ia tak ingin bertanya kenapa. Danar memilih menunggu penjelasan dari Riri sendiri.
“Aku besok mau ngantar Mbak Via tes darah.” Ucap Riri setelah beberapa saat.
“Apa kakakmu sakit serius?”
Riri diam, ia ingin cerita tapi rasanya tak pantas karena Via saja melarang dirinya untuk mengatakannya pada Mirza karena tak ingin Mirza kepikiran, selain itu Mirza akan segera pulang besok, jadi Via memutuskan untuk mengatakannya sendiri begitu suaminya itu sudah datang.
“Oke, kalo nggak mau cerita nggak papa. Tapi kalo besok kamu butuh bantuan, kamu bilang ya.” Ucap Danar mengerti akan keadaan.
“Makasih ya, Mas.”
Danar membalas dengan senyuman.
“Ekhem!”
Sebuah deheman yang terdengar sangat dibuat-buat mengalihkan fokus Danar dan Riri. Seketika mereka melihat pada seorang perempuan semok yang tengah berdiri di dekat gerbang.
“Mas Danar, malem-malem jangan berduaan sama cewek, nanti yang ke tiga setan lho.” Ujar si empunya suara dengan nada penuh kenyinyiran.
Riri yang merasa tak mengenal si semok bohay bahenol itu kontan saja melotot sebel.
“Yang berduaan itu siapa?”
“Ya situ sama Mas Danar!”
Danar melihat Riri memberikan isyarat untuk tak meladeni. “Aku juga udah mau pulang kok Bu Jelita.” Danar bangkit.
Yup, ternyata si empunya deheman yang dibuat-buat itu adalah Jelita Manjawati tetangganya Via.
“Uh, untuk aku lewat. Coba kalo nggak, pasti Mas Danar udah ngapa-ngapain kan sama dia?” Jeli melirik ke arah Riri.
__ADS_1
“Hey, Ibu ini kalo ngomong jangan asal ya! Emangnya ibu pikir kita mau ngapain? Orang kita cuman ngobrol kok Bu!”
“Bu? Jangan anggil Bu, panggil saya Jeng! Jeng Jelita Manjawati.”
Riri hanya mencibir kesal.
“Udah Mas, cepetan pulang aja sana. Kuping aku bisa kena polusi nih malem-malem dengerin ocehan unfaedah kayak gini.” Ujar Riri pada Danar.
“Apa kamu bilang?” Jeli mendekat. “Ocehan unfaedah katamu? Denger baik-baik, ya. Sebagai warga komplek yang baik, saya punya kewajiban untuk memperingatkan warga lain yang nampak mencurigakan!” Tegas Jeli sengit.
“Memangnya kita mau maling sampe-sampe harus dicurigai? Lagi pula ibu ini siapa sih? Hansip peumahan kompek sini? Malem-malem masih keluyuran gangguin orang!”
“Hansip katamu?” Jeli melotot tak terima.
”Udah, udah….” Danar menengahi. “Jangan ribut, sudah malam.”
“Tapi ibu itu nyebelin banget, Mas! Dia asal nuduh aja!” Riri menunjuk Jeli kesal.
“Hey, jangan nunjuk-nunjuk! Dasar anak bau kencur, nggak sopan!” Balas Bu Jeli lebih kesal.
“Masih mending aku bau kencur, daripada situ bau ketek!”
“Apa?” Jeli maju dengan wajah menahan marah tapi untungnya Danar langsung menghalangi.
“Uda Bu Jeli, jagan ribut disini! Nggak enak kalo dilihat tetangga yang lain. Lebih baik ibu pulang, jangan diperpanjang lagi.” Ucap Danar menengahi. “Ri, aku pamit pulang ya.” Ucap Danar pada Riri yang masih terlihat kesal.
Riri mengangguk.
“Mas Danar kita pulang bareng, yuk. Pasti romantis deh malem-melem kita jalan kaki berdua. “Jeli kini mepetin Danar sambil pasang tampang sok manis dengan mengedip-ngedipkan matanya genit persis lampu bohlam yang mau padam.
BRUK!
Riri masuk membanting pintu.
___________
Sofi sudah bersiap di kamarnya yang ia yakini sudah sangat rapi dan harum. Waktu menunjukkan pukul 9 malam, namun Ramzi belum juga datang.
Sofi keluar menuju balkon kamar, tak lama ia melihat mobil suaminya memasuki halaman rumah. Sofi menarik bibirnya mengulas senyuman dan bersiap dengan pose terbaiknya di atas kasur.
Semenit, dua menit hingga beberapa menit Ramzi belum juga masuk kamar.
“Ya ampun, itu orang nyangkut dimana sih? Nggak atau apa kalo aku udah pegel pose kayak ikan duyung begini demi nugguin dia?” Kesal Sofi seraya bangkit dan mengenakan kembali jubah tidurnya.
Ceklek
Terdengar suara pintu kamar dibuka begitu Sofi baru saja selesai mengikatkan tali jubahnya. Wajahnya segara sumringah mengetahui siapa yang datang.
“Sayang, kau sudah pulang.” Sambut Sofi seraya mendekati suaminya dan melepas jas suaminya.
Terlihat jelas wajah Ramzi yang surprise mendapati sambutan yang begitu hangat dari Sofi.
“Aku menunggumu sedari tadi.” Ucap Sofi dengan suara yang dibuat begitu menggoda.
"Aku tadi ke ruang kerja dulu." Sahut Ramzi datar berusaha menenangkan pikirannya yang mulai berselancar ke alam kemesuman.
"Ohh, begitu..." Ucap Sofi dengan senyum manja. Kini tangannya melepas kancing kemeja Ramzi satu persatu dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Ramzi menatap wajah cantik istrinya tak berkedip. Sofi memainkan perannya dengan sangat baik, dia tahu betul bagaimana cara menaklukkan seorang laki-laki. Hutan belantara yang lebat di dada Ramzi kini dimain-mainkan oleh Sofi dengan jarinya yang lentik, Ramzi seolah menahan nafasnya menikmati sentuhan yang geli-geli sedap itu.
Sofi mendekatkan bibirnya ke telinga Ramzi.
“Mandilah dulu sayang, setelah itu aku akan memberikanmu hal yang tak kan pernah kau lupakan.”
Huft! Ramzi baru bernafas lega setelah Sofi menjauh darinya dan duduk di bibir ranjang dengan sengaja memperlihatkan kaki jenjang dan pahanya yang mulus.
Meski sesuatu dalam celananya dirasakan mulai mengeras, namun Ramzi menuruti juga perkataan Sofi. Ramzi menuju kamar mandi setelah dilemparkan kedipan menggoda oleh Sofi.
Sofi tersenyum puas melihat reaksi Ramzi barusan.
“Dasar amatir. Setelah ini aku yakin kamu pasti akan ketagihan. Kamu akan menjadi budakku dan menuruti semua permintaanku.” Lirih Sofi dengan senyum bahagianya. “Kau pasti akan membuatku hamil lagi, setelah itu aku akan meninggalkanmu dan kembali pada cinta sejatiku.”
Sofi asyik membayangkan rencana hebatnya hingga Ramzi mucul dari kamar mandi. Sofi segera berdiri. Ia menatap Ramzi seolah siap untuk melahapnya hidup-hidup. Perlahan ia menarik tali jubah tidurnya dan melepaskannya.
JENGJENG!
Mata Ramzi menatap penuh gairah tubuh molek di depannya yang hanya mengenakan lingeri warna dusty pink yang begitu menggoda itu.
“Kemarilah, sayang.” Sofi memberi isyarat dengan jarinya.
Rmazi melangkah perlahan, degup jantungnya berpacu ribuan kali lebih cepat nampaknya, hingga wajah tegangnya tak bisa disembunyikannya lagi. Sofi terkekeh kecil melihat ekspresi sumainya.
Kedua tangan Sofi kini sudah melingkar di leher Ramzi. “Aku tau meski kau punya segalanya, namun ini pasti yang pertama kalinya untukmu kan, sayang?"
Nafas Ramzi mulai tak teratur demi menikmati desahan suara Sofi dalam setiap kalimatnya. Ia memang laki-laki kaya, sukses dan mapan, namun tak pernah mencintai perempuan manapun selain Sofi. Oleh sebab itu Sofi yang paham betul hal ini akan menggunakannya sebagai senjatanya.
“Aku akan mengajarimu, hingga kamu mahir mengimbangi permainanku, sayang.” Ujar Sofi dengan suara yang dibuat sedemikan rupa hingga mampu membangkitkan semua perasaan yang sudah bethaun-tahun Ramzi tahan setengah mati.
“Oya? Aku sudah tak sabar.” Ucap Ramzi yang langsung melahap bibir Sofi tanpa-aba.
Sofi yang kaget sontak terkejut namun tak ingin mengecewakan suaminya yang menurutnya masih amatir itu. Dengan gerakan yang cepat tanpa melepaskan bibirnya, Ramzi menghempaskan jubah mandinya ke lantai hingga semua auratnya terbuka dan tongkat saktinya yang sudah menegang dari tadi berdiri sempurna.
“Biar aku yang memulainya lebih dulu, sayang.” Ramzi membopong tubuh Sofi ke atas kasur dan mempreteli lingeri Sofi dengan brutal. Sofi yang tak dapat mengelak lagi hanya pasrah ketika dua melon besarnya diremas sedemikin kuatnya oleh Ramzi serupa orang memeras cucian, lalu Rmazi melahap Sofi dengan sangat rakus.
“Awww! Pelan-pelan sayang…” Desis Sofi mulai kewalahan.
Namun terlambat! Ramzi yang sudah kelaparan sejak bethaun-tahun itu tak memberikan kesempatan sedikitpun pada Sofi hingga pemainan berhasil finish dengan Sofi yang tak karu-karuan lagi bentuknya.
______________
Oohh....., demi celana dalm Neptunus dan kerang ajaib, maafkan tangan emak othor ini yang sudah menulis dengan sangat tak berakhlak 😩😩😩
Huft! Tapi yang penting Ramzi senang karena sudah mendapatkan malam pertamanya dengan sofi ya?🤭🤭🤭
Oke, masih mau lanjuut....??
Besok aja deh 😂😂😂
emak othor mo angkat jemuran dulu nih, mendung soalnya 😅😅😅
Terima kasih buat akak semua yang sudah mengikuti cerita ini sampai sejauh ini.🙏🙏🙏🙏😘😘😘
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Kak🤩🤩🤩
luv u all 😍😍😍🤗🤗🤗😘😘
__ADS_1