
Sesuai jadwal kemarin, hari ini Via akan menjalani tes darah. Firman dan Yanti menjenguk Riri sekalian menawarinya tumpangan ke rumah sakit.
“Semoga hasilnya baik ya, Vi.” Ucap Yanti memberi semangat.
Via hanya tersenyum samar, hatinya sudah merasa pesimis mendengar penjelasan dokter kemarin. Semalaman sebenarnya ia ta bisa memejamkan matanya. Via hanya pura-pura tidur agar Riri tak terlalu mengkhawatirkannya.
Via semalam berbicara pada janin yang baru beberapa minggu menghuni perutnya itu. Rasanya ia tak percaya dengan kenyataan yang kini menghampirinya, belum lama ia bahagia dengan karunia Tuhan itu lantas dengan tiba-tiba ia harus menerima kenyaaan pahit kehilangan calon bayi yang sudah lama didambakannya.
“Ayo Mbak, kita berangkat.” Ajak Riri yang muncul dari dalam.
“Hati-hati ya, Vi.” Pesan Yanti.
“Makasih ya, Yan.”
Mereka bertiga kemudian berangkat, Yanti menutup gerbang hendak kembali ke rumahnya.
“Hey, itu si tetangga baru mau kemana sama suamimu, Jeng?” Jeli mencolek bahu Yanti dari belakang membuat Yanti sedikit terkejut.
“Ih, mau tau aja urusan orang! Kepo deh!” Cibir Yanti.
“Eh, bukan begitu. Itu cewek yang satunya yang sok cantik itu, semalam aku lihat lagi berdua-duaan sama Mas Danar di teras situ.” Jeli mulai mengompori. “Bukannya nggak mungkin kan, kalo kamu biarin suamimu sama tetengga baru itu nanti dia bakalan ngerebut suamimu?”
Yanti melotot kesal. “Hasutan Bujel nggak bakalan mempan! Aku tau suamiku, jadi jangan coba-coba Bujel manas-manasin aku!”
“Eh, saya nggak manas-manasin lho Jeng. Saya bilang begini cuman biar kamu hat-hati dan waspada.” Elak Jeli, ia tak protes dipanggil dengan sebutan Bujel sebab lagi semangat-semangatnya ngomporin Yanti. Itu orang emang paling suka bikin onar dimana-mana, nggak bisa liat orang hidup nyaman dan damai.
“Udah ya, saya duluan. Bye!” Yanti mau meninggalkan Jeli namun Jeli menarik tangannya.
“Eeh, sebentar dulu Jeng.”
“Ada apa lagi? Aku mau masak!”
“Eum, itu … si Mas Chico Jerico kemana ya? Kok dari kemarin aku nggak lat dia?” Tanya Jeli dengan wajah malu-malu kucing garong.
“Hey, situ waras apa kagak Bujel? Pagi-pagi udah nanyain suami orang!” Yanti langsung nyempprot Jeli.
“Orang cuman nanya doang dong kok…”
“Kalo mau tau, cari sana di google map!” Jawab Yanti kesal lantas segera berlalu dengan langkah cepat khawatir dicegat si Bujel lagi.
Jeli yang dicuekin cuman bisa ngomel-ngomel nggak jelas.
______
Sofi bangun dengan merasakan nyeri pada sekujur tubuhnya. Rasanya dia bagaikan habis diterkam serigala buas yang kelaparan semalam.
“Ssssh, Aww!” Sofi meringis ketika coba berjalan hendak ke kamar mandi.
“Ya ampun, si brewok itu sampai-sampai membuatku susah berjalan!” Kesal Sofi sambil memegangi ujung pahanya yang terasa ngilu.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu kamar.
“Masuk.” Ujar Sofi.
Seorang pelayan wanita datang membawakan baki sarapan untuk Sofi.
“Maaf Nyonya, jam sarapan sudah lewat sedari tadi. Tuan Ram meminta saya untuk mengantar sarapan ke kamar Nyonya.” Ucap pelayan itu sopan.
Sofi mengangguk, lantas kembali berusaha berjalan menuju kamar mandi. Sang pelayan meletakkan baki itu di atas nakas.
“Apa suami saya sudah pergi ?” Tanya Sofi berbalik pada pelayan.
“Tuan Ram ada di lantai atas, Nyonya.”
Sofi berpikir sebentar, ini sudah jam 9 lewat beberapa menit dan Ramzi belum juga berangkat kerja?
“Saya permisi dulu, Nyonya.” Pamit si pelayan menyadarkan pikiran Sofi.
Sofi lantas melanjutkan niatnya yang akan membersihkan diri. Setelah selesai dia sarapan di kamar dan memanggil pelayan untuk mengambil nampannya kembali.
Karena penasaran kenapa suaminya belum berangkat kerja maka Sofi menuju lift untuk ke lantai tiga.
Ting!
Pintu lift terbuka. Sofi mendengar suara dari kolam renang. Agak ragu dia menuju kesana dengan jalannya yang sedikit mengangkang. Benar saja ternyata seseorang sedang berenang menuju tepi kolam disana.
“Hai, sayang.” Sapa Ramzi yang baru saja sampai di tepian kolam dan melihat Sofi berdiri tak jauh darinya.
Sofi tersenyum agak canggung, ia ingat kelakuan Ramzi semalam yang melahapnya habis-habisan tapa ampun. Ramzi segera keluar dari kolam tentu saja hanya menggunakan celana renangnya.
Ya ampun! Apa itu?
Sofi melongo melihat sesuatu dalam celana renang Ramzi.
Aih, kenapa aku ini? Bukankah aku sudah terbiasa melihat yang begituan? Aduh, otakku sepertinya jadi nggak beres gara-gara pertempuran semalam!
Cup!
__ADS_1
Ramzi mengecup bibir Sofi sekilas tanpa permisi, dia sudah tak gengsi lagi sekarang, Sofi jadi makin terperangah.
“Kau tidak berhenti kerja?” Tanya Sofi untuk menghilangkan kegugupannya.
Ramzi tersenyum, diraihnya pinggang ramping Sofi membuat sesuatu dalam celana renangnya itu menyentuh bagian Sofi.
“Ini kan hari sabtu, sayang. Aku berenang di sini setiap akhir pekan.” Ucap Ramzi seraya mengalungkan kedua tangan Sofi ke lehernya.
Sofi jadi semakin merasa aneh sendiri.
Kok aku bisa lupa ingatan begini ya, kenapa lupa kalo hari ini hari sabtu?
“Kau kenapa? Kamu nggak senang melihatku ada di rumah?” Ramzi memasang tampang manja melihat Sofi.
“Oh, Eh .. nggak bukan begitu. Aku cuman lupa kalo ini hari sabtu.”
“Baiklah, setelah ini aku akan membuatmu tak lupa lagi dengan hari.” Bisik Ramzi dekat telinga Sofi. “Bagaimana kalau kita lanjutkan permainan yang semalam? Betul katamu, kau membuatku ketagihan.” Ramzi menciumi telinga dan leher Sofi.
Seketika Sofi ciut.
Haduh! Si brewok ini mau memangsaku lagi. Bagaimana ini? Kalo tau begini aku nggak mau datang kesini?
“Eum, sebentar sayang.” Sofi menepis halus Ramzi berusaha melepaskan diri. “Aku ambilkan kamu minum dulu, ya.” Sofi berajalan menuju meja mendapat ide dadakan untuk coba menghindar.
Tak mau kehilangan kesempatan, Ramzi menyusul dan mendekap Sofi dari belakang. Sofi merasakan sesuatu mengeras menempel di bokongnya.
Mati aku! Pisang raja si brewok ini sudah berdiri rupanya.
“Minum dulu sayang, kau pasti haus setelah berenang.” Sofi membalikkan badannya memberikan segelas jus jeruk yang sepertinya sudah disiapkan pelayan.
Ramzi meraih gelas itu dan meminum jusnya namun matanya tetap tak lepas dari Sofi.
“Eum, apa kau sudah sarapan, sayang? Aku ambilkan, ya?” Sofi hendak beranjak, namun Ramzi lebih cepat mencegahnya.
“Aku sudah makan sepotong roti tadi pagi. Dan sekarang aku ingin makan buah melon.” Tanpa ragu-ragu Ramzi membuka kancing baju Sofi dengan mata yang menyiratkan kelaparan akan buah melon.
“Sayang, apakah kita akan melakukannya sekarang?” Tanya Sofi diselimuti ketegangan.
“Tentu saja.” Sahut Ramzi yakin. Tangannya sudah selesai membuka semua kancing baju Sofi.
“Tapi…. Ini masih pagi, sayang.” Sofi kembali mencari Alasan.
Ramzi tak peduli, dia membaku pengait rok pendek yang dikenakan Sofi kini. “Sekalian olah raga, sayang.” Ucap Ramzi yang sudah tak sabar lagi.
“Tapi bagaimana kalau ada yang masuk? Bagaimana kalau ….”
Ramzi segera membungkam mulut Sofi dengan bibirnya membuat Sofi tak bisa melanjutkan Kalimatnya.
“Ada apa lagi, sayang? Kau nggak usah khawatir, nggak akan ada yang masuk ke sini tanpa seijinku.”
“Eum, omong-omong soal olah raga. Aku sudah lama nggak berenang.” Sofi memperlihatkan tampang konyolnya. Nampaknya dia belum kehabisan ide untuk menghalangi usaha suaminya.
“Kau ingin berenang?”
Sofi mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu sekalian saja kita lakukan di kolam renang. Pasti akan lebih menyenangkan sensasinya.”
Tanpa menunggu lama Ramzi langsung melepas semua pakain Sofi dan membopongnya menuju kolam lalu menyeburkan diri berama Sofi ke sana.
Selanjutnya sudah dapat dibayangkan, pemirsa? Sofi habis tak berkutik di tepian kolam dengan gaya baru ter-HOT yang diciptakan Ramzi.
Omegooot…..! 😱😱😱
__________
Riri dan Via sedang menunggu hasil tes di depan lab.
“Mbak, sepertinya hasilnya akan keluar setelah jam istirahat. Gimana kalo kita ke kantin dulu?” Usul Riri karena sudah hampir satu jam mereka menunggu.
Via memperhatikan sekitar, nampak beberaapa orang yang masuk lebih dulu untuk tes darah sebelum dirinya juga masih mengantri untuk mendapatkan hasilnya. Sementara jam sudah menunjukkan pukul setengah 12.
“Ya udah, ayok!” Via setuju.
Mereka pun menuju kantin rumah sakit. Riri memesan dua mangkuk soto ayam dan es teh manis. Tak lama pelayan kantin datang mengantarkan pesanan mereka.
Riri sibuk menaruh sambal, kecap dan memeras jeruk nipis untuk sotonya, sedangkan Via masih diam sambil melihat pada layar ponselnya.
“Mbak, ayo makan dong...” Ucap Riri sambil mengaduk soto ayamnya sehingga membuat aromanya mengepul makin wangi.
“Mas Mirza kok belum pulang ya, Ri?” Tanya Via kemudian.
“Emangnya Mas Mirza nggak ngasih kabar, Mbak?” Riri balik bertanya, kemudian mulai menyuapkan soto ayamnya dnegan perlahan karena masih sedikit panas.
“Tadi pagi udah kiri pesan sih, katanya keretanya berangkat jam 9.”
“Oh, berarti udah lagi di jalan. Sebentar lagi pasti nyampe, kok. Medical chek up nya udah selesai kan, Mbak?”
“Udah, pagi tadi tinggal nungguin keluar hasilnya aja.”
__ADS_1
Riri mengangguk, lantas kembali melanjutkan menyantap sotonya. Via yang melihat Riri begitu bersemangat, lama-lama jadi ngiler juga. Maka mulai diaduklah sotonya perlahan dan mencicipinya. Kuah soto yang hangat terasa seger menyentuh mulut Via yang sedari pagi hanya baru minum susu saja.
“Enak juga ya Ri, sotonya.” Ucap Via.
“Iya. Tambah kecap sama sambal lebih enak lagi, Mbak.” Sahut Riri sambil terus mengunyah. “Pake ini juga biar makin seger.” Riri menunjuk pada potongan jeruk nipis dalam wadah kecil di depannya.
Via menurut, dia kemudian menyantap soto ayamnya. Riri yang diam-diam memperhatikan kakaknya itu merasa lega karena paling tidak Via sudah mau makan.
Tak lama setelah mereka selesai makan, terdengar Adzan dhuhur dari mushola rumah sakit.
“Kita sholat dulu ke mushola ya, Mbak.”
“Iya. Sebentar, Ri.” Via bangkit hendak membayar makanan.
“Eh, biar aku aja yang traktir.” Cegah Riri.
“Hem, mentang-mentang udah kerja, sombong.” Ledek Via pada adiknya.
“Hehe…” Riri nyengir kuda, lantas bangkit menuju kasir.
“Eh, Ri! Sini dulu!” Panggil Via.
“Apa?” Riri mendekat.
“Mbak boleh nitip sotonya lagi nggak?”
“Boleh. Mau berapa bungkus?”
“Satu aja, tapi cuman kuahnya aja ya?” Bisik Via agak ragu.
“Hah? Buat apaan?” Riri kaget demi mendengar permintaan kakaknya.
“Buat cuci muka! Ya buat dimakan lah.” Kesal Via.
“Iya deh!” Tak ingin berdebat Riri pun mengiyakan saja.
Setelah itu mereka segera menuju mushola. Beberapa orang sudah berdiri di dalam untuk mengikuti shalat dzuhur berjamaah.
“Mbak duluan aja deh. Aku mau telpon Bu Elin dulu, lupa nih kalo besok ada acara di tempat kursus.” Ucap Riri.
“Oke. Kalo gitu nitip ini ya.” Via memberikan tasnya pada Riri, lantas menuju tempat wudhu.
Riri menelpon Bu Elin namun tak juga kunjung diangkat.
“Mungkin lagi sibuk. Aku kirim pesan aja deh.” Riri segera mnegtik pesan untuk Bu Elin.
Tiba-tiba ponsel Via bergetar dari dalam tas. Riri berinisiatif melihatnya.
“Mas Mirza?” Riri celingukan mencari Via namun tak menemukannya. “Aku angkat aja deh.” Riri pun menggeser tanda hijau pada layar ponsel Via. “ Halo, Mas. Ini Riri.”
“Riri? Mbak kamu mana?”
“Ada, lagi sholat.”
“Oh. Ya udah, bilangin ya ini Mas udah mau nyampe stasiun kota. Palingan nggak nyampe setengah jam udah nyampe rumah.” Terang Mirza dari seberang.
“O …” Riri hanya ber O ria karena dia bingung haruskah dia bilang yang sejujurnya.
“Kamu nggak ke ruko, Ri? Kok tumben siang-siang nyamperin Mbak kamu?”
pertanyaan Mirza membuat Riri terpaksa akhirnya mengatakan yang sebenarnya, toh nanti Mas Mirza juga bakalan tau, pikir Riri.
“Eum.., aku lagi di rumah sakit ini Mas, nganter Mbak Via.”
“Rumah sakit? Kenapa emangnya Via?” Mirza terlojak kaget di seberang.
“Periksa aja kok, Mas. Nanti Mas Mirza langsung ke sini aja ya. Kita tnggu di depan ruang lab.”
“Oh, oke.”
Mirza pun langsung mengakhiri sambungannya.
_________
Nah, apa yang akan terjadi selanjutnya....?
🤔🤔🤔🤔
Tungguin ya Kak... othor up 2 bab hari ini. 😍😍😍😍
kalo belum nongol berarti masih nyangkut direview 😂🤭
like dulu dong...
komen juga..
rate 5 selalu yaa...
vote seikhlasnya 🤩🤩
__ADS_1
luv u all 🤗🤗🤗😘😘😘