
WARNING!
Othor tak keberatan untuk sesama kawan penulis yang promo di lapak othor ini, tapi tolong JANGAN SPAM ...!
Dan akan lebih etis jika sebelum promo dukunglah othor yang punya lapak terlebih dahulu baru promo karya.
Mari jadi penulis yang beretika.
Buat apa punya karya tapi nggak ber-attitude.
Sampe sini semoga paham
Mari saling dukung
Salam karya 🙏💪
❤️❤️❤️❤️❤️
Via menggeser posisi kursi rotan di teras belakang rumahnya yang dekat dengan jemuran menjadi menghadap ke depan pohon pepaya yang buahnya cukup lebat. Dihirupnya aroma coklat hangat dalam cangkir di genggaman tangannya.
Daun pepaya bergoyang perlahan tertiup semilir angin sore, suasana yang senyap membuat hati Via semakin sepi. Sejauh mata memandang hanya ada tembok setinggi dua meter yang mengelilingi pekarangan belakang rumah kontrakannya. Coklat hangat dihisap perlahan, denyar nikmatnya cukup melegakan pikiran Via yang sedang gundah gulana.
BLUKUTUK BLUKUTUK BLUKUTUK
Bunyi pesan masuk di ponsel menyita sejenak perhatian Via. Itu pesan dari Mirza. Tak seperti biasanya, Via kali ini tak bersemangat mendapat pesan dari suaminya.
Pada siapa ia mengadu akan kegundahan hatinya. Kebanyakan orang mungkin jika keterima kerja akan merasa bahagia, namun nggak begitu bagi Via. Sejak bertemu Bu Elin kemarin, pikiran Via jadi serba salah. Dia mau nolak tak enak, mau nerima sama nggak enaknya. Apa dia harus cerita ke Yana? Tapi rasanya anak itu tak bisa diandalkan. Dia mungkin akan curiga kenapa Via menolak kerjaan padahal sedang membutuhkannya.
Ah, soal persaannya ini memang hanya dia sendiri jualah yang tau. Tak akan ada yang paham. Jika dia cerita sama orang lain, bisa-bisa dia dituduh keg e er an!
BLUKUTUK BLUKUTUK BLUKUTUK
Sekali lagi Mirza mengirimi pesan pada Via. Merasa tak enak hati karena mengabaikan suaminya, Via membuka juga pesan dari suaminya.
Mirza
Sayang, kamu lagi ngapain?
Mirza
Sayang, kok pesen Mas nggak dibaca? Mas telpon ya?
Belum sempat Via mengetik pesan balasan, tampang Mirza sudah nongol di layar ponsel Via. Setelah menimbang sebentar, Via menerima panggilan telepon itu dan akan menceritakan soal lamaran kerjanya pada Mirza.
“Halo, Assalamualaikum Mas.” Sapa Via.
“Wa alaikumussalam, sayang. Lagi ngapain? Tumben balesnya lama pesan dari suamimu yang lagi kangen berat ini?” Suara Mirza terdengar agak kecewa.
“Mas, aku udah keterima kerja.” Via langsung memberitahu tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
“Serius? Wah, selamat ya sayang. Kerja dimana?” Mirza antusias.
“Di perusahaan Bu Elin.”
“Bu Elin?” Mirza berfikir sejenak. “Bu Elin yang punya toko kuenya Riri?” Lanjut Mirza agak ragu.
“Iya. Ternyata Bu Elin dan suaminya punya perusahaan konstruksi dan property. Aku dipromosiin Khusni, Mas.” Via menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Ia ingin perasaan yang mengganjal di hatinya menjadi plong. Namun begitu baik Via maupun Mirza tak ada yang menyinggung soal Danar. Fix! Via akan melanjutkan langkahnya menjadi wanita pekerja.
❤️❤️❤️❤️❤️
Di sebuah café mall ibu kota. Sofi nampak duduk berhadapan dengan Azad. Azad menutup amplop coklat besar dan menyodorkannya kembali pada kakaknya.
“Bawa kembali ini, Kak. Kita nggak butuh semua ini.” Ucap Azad yang terang saja membuat Sofi terbelalak tak percaya.
“Are you kidding?” Sofi tak habis pikir.
Azad tak menyahut, ia memilih menandaskan minumannya kemudian bersiap pergi.
“Mau kemana kamu?”
“Sejam lagi aku ada pertemuan penting.”
Sofi mendengus kecewa. “Kamu membuat jerih payahku sia-sia.”
Azad menatap manik mata kakaknya lurus. “Kita nggak peru cara kotor untuk mengambil kembali hak kita, Kak. Aku yakin kita akan bisa memilikinya lagi dengan usaha dan kerja keras.” Ungkap Azad penuh keyakinan.
Sofi berdecak. “Jangan naif!”
__ADS_1
“Terserah Kakak. Yang jelas aku nggak bisa nerima semua itu, aku memilih memperjuangkannya dengan caraku sendiri.”
Sofi menyipitkan matanya. “Kamu meragukan kemampuanku. Sebentar lagi akan aku ambil semua milik Alatas. Mereka harus membayar semua derita dan kepedihan Papa dan Mama yang sudah kehilangan segalanya. Pembalasanku akan lebih kejam dari yang mereka bayangkan!” Sofi bangkit mengambil amplop dokumennya dan memasukkannya kembali ke dalam tas besar yang dibawanya.
“Tunggu, Kak.” Aza mencekal lengan Sofi yang hendak pergi. “Dengarkan kata-kataku. Jangan mempersulit dirimu sendiri. Kembalikan semua dokumen itu. Dan berjuanglah bersamaku untuk mengembalikan perusahaan seperti semula.” Pinta Azad penuh penekanan.
“Nggak akan!” Sofi mengibaskan tangannya.
Azad bangkit membuat suara meja yang terdorong olehnya berdecit. Azad berdiri tepat menghalangi langkah kakaknya. “Pernikahan kakak dipertaruhkan.”
“Memangnya selama ini aku pernah berkeinginan menikah dengan laki-laki itu?” Balas Sofi dengan tatapan menantang. “Aku nggak pernah mencintainya.”
Azad terdiam. Harus bagaimana lagi dia menyadarkan kakaknya yang menurutnya sudah sangat salah langkah itu. Mereka berdiri membisu. Dua kakak beradik itu seperti sedang bernegosiasi dalam hati untuk saling mempengaruhi satu sama lain. Dan adegan mereka itu ternyata diperhatikan oleh dua orang yang baru saja lepas dari escalator memasuki café itu.
“Jane, kamu lihat laki-laki yang berdiri di sana itu?” Ucap Bobby melihat pada sosok Azad yang agak jauh dari mereka.
Pandangan Jane pun mengikuti arah mata Boby. Seketika Jane terperanjat mendapati Sofi dan azad di sana.
“Itu adik ipar mantan bos kamu kan? Si Akshay Kumar?” Mata Bobby tiba-tiba berpinar penuh bola lampu 220 watt. Hah, kayak apa cooba terangnya ya?😅🤭🤭
“Kita makan di tempat lain aja deh.” Jane hendak memutar langkahnya karena tak mau bertemu Sofi namun Bobby buru-buru menarik lengan Jane.
“Kenapa emangnya? Kamu takut diamuk istri mantan bos kamu itu lagi?” Tanya Bobby yang memang sudah tau perihal yang terjadi antara Jane dan Sofi.
Jane tak menyahut.
“Kita ambil tempat duduk agak jauh dari mereka.” Bobby menggeret paksa Jane untuk mengikutinya.
Sofi dan Azad sudah selesai adegan freeze, mereka sama-sama akan pergi namun tiba-tiba ponsel Sofi berbunyi. Itu telepon dari Ramzi.
Sofi menerimanya dengan enggan. “Halo.”
“Sayang, apa kamu sedang di luar? Aku baru saja menelpon rumah dan kepala pelayan bilang katanya kamu lagi pergi.” Tanya Ramzi dari seberang.
“Iya, aku lagi makan siang sama Azad.”
“Di mana? Aku kesana sekarang.”
“Aku udah mau pulang.”
Panggilan terputus karena Ramzi sekarang beralih menghubungi Azad. Azad melihat pada Sofi seolah bertanya kenapa Ramzi malah menelponnya. Sofi hanya mengangkat bahu acuh.
“Halo, Kak.” Sapa Azad.
“Zad, shareloc tempat kamu makan dengan Sofi. Dan suruh dia tunggu.” Permintaan Ramzi tedengar seperti perintah yang wajib dijalankan.
“Iya, Kak.” Azad tak punya pilihan. “Kak Ram mau ke sini, sebaiknya kita tunggu dia. Suamimu yang baik hati itu sepertinya ingin makan siang dengan istri dan adik iparnya.” Lanjut Azad setelah Ramzi mengakhiri panggilannya.
Sofi terpaksa kembali mendaratkan bokngnya di kursinya semula. Azad tesenyum kecil melihat raut jengkel kakaknya.
“Suamimu sepertinya memperlakukanmu dengan baik, Kak.”
Perkataan Azad terasa seperti menyindir bagi telinga Sofi. Ia tak menanggapi, ia menyibukkan diri dengan ponselnya. Azad menelpon sekertarisnya untuk menunda waktu pertemuan sejam lagi.
“Aku ke toilet dulu.” Ucap Sofi beberapa lama kemudian.
“Jangan kabur lho ya. Kita akan berfoto bersama seperti layaknya keluarga yang bahagia untuk diunggah di akun sosmed.” Ledek azad.
“Ishh!” Sofi benar-benar jengkel.
Melihat Azad yang hanya seoang diri seketika langsung membuat Bobby berdiri mau menghampiri.
“Eh, mau kemana kamu?” Jane heran.
“Tunggu sebentar.” Bobby mengedipkan sebelah matanya lantas berjalan menuju meja Azad.
“Halo, Akshay Kumar…” Sapa Boby tanpa canggung seraya menepuk halus bahu Azad.
Seketika Azad menoleh kaget.
“Biasa aja dong liatnya, nggak usah sok kaget begitu!” Boby mencolek genit lengan Azad dan duduk di kursi sebelah Azad. “Masih ingat sama aku kan?” Boby memperlihatkan senyum manisnya.
Azad tersenyum canggung. Tentu saja dia kaget bisa ketemu sama mahluk model begini lagi.
“Iya, aku Kareena Kapoor… yang waktu itu make up-in kakak kamu yang cantik manjaletong di hari pernikahannya itu lho…” Jawab Bobby dengan pedenya.
Ih nanya sendiri jawab sendiri! Dasar laki-laki tulang lunak! Sok keg e ar an banget sih dia. Lagian nongol dari mana coba mahluk hermaprodit ini? Di mall sebesar ini kok bisa-bisanya dia ngeliat aku?
__ADS_1
“Jadi kapan kita jalan … ehhh maksudnya kita makan?” Boby cekikikan sendiri, entah apanya yang lucu, dia sepertinya benar-benar sudah salah tingkah akibat ulahnya sendiri.
“Makan?” Azad bengong.
“Iya. Kamu traktir aku makan maksudnya.”
“Traktir untuk apa ya?” Azad makin heran.
“Ya untuk ngerayain pertemuan kita kembali ini.”
Azad menggaruk pelipisnya, kemudian dia celingukan mencari Sofi.
Kamana lagi tuh orang? Masa ke toilet hampir seperempat jam? Jangan-jangan dia kabur lagi?
“Hey, Bang Akhsay…!” Boby menggoyangkan telapak tangannya di depan muka Azad yang lagi mencari sosok kakaknya.” Kareena Kapoor disini, Bang.”
Azad tak bisa menyembunyikan rasa jengahnya.
Tuhan! Tolong lenyapkan mahluk ini dari hadapanku. Pinta Azad dalam hati.
“Zad, Sofia mana?” Tegur Ramzi yang tau-tau nongol.
“Eeh, ada Tuan Ram juga?” Bobby bediri menyambut kedatangan Ramzi.
Ramzi tersenyum. “Kamu …. Bobby kan? Teman Jane?”
“Wah, ternayata Tuan masih ingat sama aku?” Bobby sumringah. “Iya, aku juga ke sini sama Jane.” Sahut Bobby melihat ke arah Jane yang duduk sendiri.
Jane yang sedari tadi memang memperhatikan Bobby mendadak berserbok mata dengan Ramzi yang melihat padanya. Terlihat sekali pandangan keduanya sama-sama terkejut. Tanpa berkata apa-apa. Ramzi langsung melangkah menuju meja Jane di sisi ruangan paling belakang melewati beberapa meja yang mulai dipenuhi dengan para pengunjung untuk makan siang.
“Apa kabar, Jane?” Sapa Ramzi dengan senyum dan tanpa ragu duduk di depan Jane.
Jane membalas dengan senyum. “Baik. Kamu gimana, Ram?”
“Very well.”
Jane mengagguk, sebuah senyuman masih menghias di wajah cantiknya. Namun tidak dengan hatinya, luka itu kembali perih terasa. Ramzi yang beberapa waktu lalu kerap mengahabiskan waktu bersamanya, kini begitu berjarak dengannya. Ada begitu banyak kenangan yang kembali menelusup masuk ke dalam relung kalbunya manakala kembali duduk berhadapan seperti ini dengan Ramzi.
“Kamu tadi kesini sama Bobby?” Tanya Ramzi membuyarkan angan Jane yang lagi bernostalgia.
“Emh, iya.”
“Jam makan siang ya? Omong-omong sekarang kamu kerja dimana?”
Jane melihat Ramzi sebentar, lantas menunduk menghempaskan semua perasaan pedihnya. “Aku nggak kerja.”
“Kamu belum dapet kerjaan?”
Jane menggeleng masih sambil menunduk. “Aku belum mau kerja.”
Ramzi meraih tangan Jane yang tentu saja membuat Jane kaget dan spontan menatap Ramzi.
“Aku akan bantu kamu untuk dapat kerjaan baru.” Ucap Ramzi penuh kesungguhan.
Jane ingin menarik tangannya, namun dia ragu karena perasaan senang diperhatikan Ramzi lebih menguasai hatinya. Ia tak berkata apa-apa hanya membalas tatapan Ramzi.
“Ijinkan aku bantu kamu ya.” Lanjut Ramzi, matanya sama sekali tak menyiratkan kebohongan. Jane yakin itu. Ia tau mantan bosnya itu orang yang nggak suka main-main dengan perkataannya.
Jane merasa telapak tangannya mulai berkeringat, keningnya pun sepertinya mulai mengembun. Ia sungguh berdebar menghadapi semua itu. Ia rindu tatapan mata laki-laki di depannya itu. tatapan yang dulu kerap memohon padanya untuk ditemani seusai lembur untuk menghabiskan malam di pub. Tatapan yang membuatnya berharap akan hal yang ternyata mustahil.
Jane mencoba mengerahkan semua pikirannya bahwa dia sekarang nggak lagi mimpi di siang bolong.
Lagi sedep-sedepnya adegan saling tatap dalam diam itu, dari kejauhan Sofi yang menenteng tas belanja menangkap keberadaan suaminya dengan Jane yang sedang berpegangan tangan bagaikan dalam adegan sebuah scene sinetron kejar tayang ikatan tali jemuran.
Sofi menghentikan langkahnya. Mencoba menajamkan penglihatannya, meyakinkan diri kalau dia nggak lagi kena rabun mendadak. Setelah dia yakin kalau itu memang benar suaminya dan wanita yang bersama suaminya itu adalah Jane, maka dia segera mempercepat langkahnya menuju meja keduanya.
Tap .. tap .. tap …
SREEET…..!!
Direm dulu, ada lobang kakak…. 🤭🤭🤭
Lanjut nanti ya…😍😍😍
Terima kasih bagi yang sudah membaca dan memberikan support.🙏🙏❤️❤️❤️
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1