
Perdebatan panjang dan melelahkan baru saja usai antara Om Jaka dan Denaya. Hujan diluar terdengar semakin deras, waktu merangkak hampir jam sebelas malam. Sepasang suami istri itu duduk berjauhan di tepi ranjang, kaku dan mencekam suasana kamar. Om Jaka yang biasanya tengil dan humoris, kali ini tak mau mengalah demi alasan apa pun. Denaya melipat kedua tangan didada, melirik kesal pada suaminya.
"Ngapain liatin gue?" semprot Om Jaka.
Tak nenyahut, Denaya paham suaminya tengah benar-benar marah.
"Mau ngancem gue suruh tidur di luar?" sambung Om Jaka sengit. "Oke, gue tidur di luar!" Bangkit mengambil bantal dan selimut lantas berjalan ke arah pintu.
Denaya kaget, gegas mencegat "Aku nggak bilang gitu, kok. Sensi banget sih jadi orang?" memasang tampang kesal namun Om Jaka melewatinya saja, cuek.
"Bebi!" panggil Denaya mengejar Om Jaka yang sudah sampai di ruang tengah, bersiap tidur di sofa. "Aku nggak nyuruh kamu tidur di luar," setengah menyesal menatap sang suami.
"Gue yang mau, males tidur di kamar ntar dicuekin elu!" menyahut acuh.
"Kok jadi gini sih?" heran campur sesal melanda Denaya. "Perlu ya kamu melakukan ini?"
"Perlu dong. Soalnya kalo gue nggak tegas, elu bakal maksa gue lagi, bujukin gue lagi, buat bantuin itu si nenek gayung!"
"Beb, tapi kan dia kakak kamu?"
"Secara biologis iya, tapi secara hati nurani dan akal sehat tidak!"
"Jangan gitu dong, Beb -"
"Cukup," memperingatkan dengan tegas. "Gue nggak mau debat lagi, capek! Gue mau tidur!" siap-siap rebahan di sofa.
"Kamu bener-bener nggak punya perasaan, Beb."
"Apa kamu bilang?" mengurungkan niatnya yang mau rebahan. "Nggak punya perasaan?"
"Iya, kamu tega sama sodara sendiri."
"Dena, harusnya elu ada disana kemaren. Harusnya elu saksikan sendiri, elu denger sendiri apa yang dikatakan sama nenek gayung itu!" ujar Om Jaka dengan kejengkelan yang kembali meluap. "Dari awal sampe detik ini, semua yang gue lakuin nggak ada yang bener dimata dia. Bahkan dia nuduh ayah, nuduh elu, nuduh kita semua udah sekongkol bikin dia menderita dan jatuh miskin!"
Terdiam, sang suami tak terlihat lucu, menggemaskan dan jenaka seperti biasanya. Panggilan Hani pun sudah berganti hanya panggilan nama, Dena. Pertanda sang suami benar-benar sedang dalam mode emosi.
"Gue nggak minta dia berterimakasih, gue nggak pernah minta apa-apa dari dia. Bahkan gue rela ikut kehilangan aset pemberian orang tua demi bantuin dia!"
Tertunduk, Denaya tak berani bersuara lagi.
"Dan sekarang semuanya gue rasa udah cukup. Gue nggak akan ngurusin kasus dia lagi, kagak peduli elu mau nuduh gue apapun! terserah!"
"Jaka, Dena? Kalian belum tidur?" sapaan Haji Barkah membuat keduanya menoleh kaget. "Kalian berantem?" hapal sekali jika menantunya membawa peralatan tidur keluar kamar, pasti sedang ribut.
"Nggak, kami... "
"Jaka, kembali ke kamarmu," titah Pak Haji memangkas kalimat Denaya.
"Ayah jangan ikut campur, aku lagi kasih pelajaran sama Dena," tak seperti biasanya Om Jaka tak patuh pada sang ayah mertua.
Pak Haji mengernyitkan dahi. Lantas Om Jaka menceritakan duduk perkara yang sebenarnya.
"Hargai keputusan suamimu, Dena. Dia sudah berbuat yang terbaik untuk kakaknya," ucap Haji Barkah bijak.
"Makasih Ayah sudah mengerti," sahut Om Jaka lantas melirik Denaya yang tampak kecewa karena tak mendapat pembelaan dari sang ayah. "Ini juga sebagai pelajaran buat Mbakyu, Yah. Mungkin dengan begini, Mbakyu akan sadar diri dan dapet hidayah bisa tobat. Ya, meskipun kemungkinannya kecil."
__ADS_1
"Jangan putus asa, Jaka. Kita harus tetap mendoakannya, urusan hidayah kita serahkan semuanya oada Allah SWT."
Mengangguk disertai senyum tipis. Emang dah ah, kalo ayah mertua udah ngomong selalu bikin adem ati, seketika Om Jaka reda dari amarahnya.
"Ya udah, sekarang kalian kembali ke kamar. Jangan suka memperpanjang urusan, nanti setan merasa menang," ucap Haji Barkah tersenyum pula. "Ayah mau lanjutin beres-beres."
"Beres-beres?" Denaya dan Om Jaka hampir bersamaan.
"Iya, besok ayah berangkat pagi-pagi ke Jakarta. Kan Azad mau nikahan akhir pekan ini? Masa kalian lupa?"
Saling pandang dengan sang suami, "tapi kan masih berapa hari lagi, Yah?" Denaya heran.
"Tadinya ayah juga pingin berangkatnya nanti aja bareng kalian, tapi Azad maksa terus. Dia udah pesenin tiket kereta buat besok, katanya dia mau ngenalin ayah sama keluarganya sebagai rasa terima kasih karena dulu pernah kita terima dengan baik waktu tinggal disini," papar Haji Barkah.
"Terus ayah nginep di rumah Azad nanti?" Denaya penasaran.
"Udah dibookingin hotel sama Ramzi."
"Wuidih, tamu undangan expensive ayah," timpal Om Jaka dengan raut senang.
"Exclusive, Beb!" ralat Denaya.
"Ye, sama aja. expensive kan artinya mahal? Ayah tamu mahal, pake dibayarin tiket kereta sama disewain hotel segala, Han."
"Tapi kenapa tiket kereta ya? Bukannya tiket pesawat gitu? Biar ayah makin nyaman perjalanannya," Denaya ngedumel.
"Mau naek pesawat dari mana, Katemi?! Dari lapangan bola? Yang ada juga ntar itu pesawat nyungsep di saluran irigasi pas mau landing!" ledek Om Jaka tak habis pikir.
"Ye, biasa aja dong Bokir! nggak usah nyolot gitu!" Denaya tak terima.
"Pesawat TV juga bisa!"
"Ya elu aja sono yang naek, Katemi, gue sih ogah!" bangkit mengambil perlengkapan tidurnya.
"Hu, dasar Bokir!" mengejar sang suami yang berjalan kembali ke kamar.
Haji Barkah hanya mengelus dada dengan tingkah anak dan mantunya. Suami istri berbeda 10 tahun itu memang sungguh ajaib kadang-kadang, diusia Om Jaka yang sudah menginjak 45 dan Denaya 35, mereka masih tampak seperti anak-anak di mata seorang haji Barkah.
πππππ
Hujan semalam membawa kesejukan di awal pagi. Baby Nala yang sudah kenyang menyusu, kembali terlelap sementara Via tampak sibuk dengan gadgetnya.
"Mbak, sarapan yuk!" Jumilah nongol dari balik pintu kamar Via yang sedikit terbuka. "Njum masak nasi goreng seafood."
"Duluan aja, Jum," menyahut tanpa menoleh, tangannya sedang mengetik pesan untuk Denaya.
"Mbak Via nggak laper apa?"
"Laper, tapi ntar aku lagi hubungin Om Jaka sama Denaya nih dari tadi aku telpon aku chat nggak ada yang bales."
"Hem, palingan juga masih pada berpelukan Mbak. Dingin-dingin gini enaknya boboan sama pasangan. Ah, Mbak Via bikin Njum cemburu aja deh! Njum kan jadi bayangin mereka berdua lagi pelukan dibalik selimut, huhuhu.... "
"Ssstt!" menyuruh Jumilah diam dengan nenempelkan telunjuknya di deoan mulutnya. Via sedang menelpon. "Halo, Assalamualaikum, Dena."
"Wa alaikum salam, Vi. Gimana?"
__ADS_1
"Om Jaka kemana sih? dari tadi aku chat aku telpon nggak ada jawaban. Kamu juga."
"Oh, maaf. Aku baru selesai mandiin Amara nih. Kalo Bebeb hpnya ketinggalan di rumah. Dia lagi nganterin ayah ke stasiun."
"Ke stasiun?"
"Iya, diminta berangkat lebih cepet sama Azad. kamu juga diundang kan ke nikahannya Azad sama Jane?"
"Iya, diundang."
"Nanti kita berangkat bareng ya?"
"Oke."
"Eh, tadi kamu mau ngapain nanyain si Bebeb?" kembali ke topik.
"oh iya sampe lupa. Itu aku mau nanya soal perkembangan kasusnya ibu."
Gluk!
Denaya terdiam. Soalnya sudah diwanti-wanti sang suami agar tak membicarakannya lagi.
"Om Jaka jadi sewa temennya yang pengacara itu kan?"
Masih diam, membuat Via heran.
"Halo? Dena? Kamu masih disitu kan?"
"Emh, i ya, Vi, " agak terbata. "Tapi aku nggak tau perkembangannya, maaf ya."
Semakin merasa heran, "emang Om Jaka nggak pernah cerita sama kamu?"
"Ng gak, soalnya aku nggak nanyain juga sih."
"Tapi pengacaranya udah dateng kan? Soalnya kemarin aku tanya ke Pak Brata katanya Om Jaka udah mengunjungi ibu di Rutan sama pengacara."
"Oh, jagi Pak Kapolsek yang ngasih tau ya... " seperti menggumam namun Via masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Iya, soalnya aku pernah minta tolong beliau kalo ada kabar tentang kasus ibu aku minta dikasih tau. Aku juga dapet info kalo ibu udah dipindahkan ke Rutan tempo hari dari beliau kok," papar Via.
"Tapi soal perkembangan kasusnya aku nggak ngikutin, Vi. maaf ya... " menyesal dari hati Denaya yang paling dalam.
"Yah... "
"Atau kamu tanya langsung aja sama pengacaranya, aku kasih nomernya ya?"
"Oh, iya. boleh, boleh. Mana, cepet kirim ya?" Via sangat bersemangat.
πππππ
Heum, Mbak Via keknya bakal ketemuan sama Abang Hotman Siangbolong nih ππ
tungguin kelanjutannya ya, dear π₯°π₯°
Luv u all π€π€π€πππ
__ADS_1