
Via sampai di rumah ibu mertuanya hampir maghrib. Udin sedang bersiap menutup toko ketika melihat Via datang bersama Riri. Via memarkir motornya di bawah pohon jambu air depan toko.
“Weh, Mbak Via kok tumben sore-sore ke sini?” Sapa Udin pada Via.
Via hanya senyum kecil. “Ibu mana, Din?” Tanya Via kemudian.
“Ada, Mbak. Baru masuk tadi.” Udin Menunjuk dengan dagunya ke arah rumah samping karena kedua tangannya sibuk mengangkat kardus air mineral yang akan dimasukkan ke dalam toko.
Via menuju rumah, sementara Riri hanya duduk di jok motor sambil maian hp. Via baru saja sampai teras ketika Bu Een keluar.
“Bu, ini aku mau ngasih nota.” Ujar Via setelah mencium tangan mertuanya dengan takzim. “Ini kembaliannya.” Via memberikan beberapa lembar uang kembalian.
“Hemm.” Hanya itu sahutan Bu Een, matanya meneliti setiap huruf dan angka yang tertera di nota belanja.
Dari bawah pohon jambu air Riri mengutak-atik ponselnya sambil diam-diam memperhatikan kakaknya dan Bu Een.
“Oya, Bu. Kata Pak tukangnya nanti kalau mau pasang kanopi lagi tinggal hubungi lagi aja.” Via menyampaikan pesan yang diamanatkan padanya.
Bu Een tak menyahut, dimasukkannya nota dan kembalian ke dalam saku long dressnya. Sejurus kemudian dia memandang Via. “Kamu itu kalo nggak ada Mirza kerjaannya ngapain aja?” Tanya Bu Een dengan nada setengah kepo.
“Maksud Ibu?” Via bingung tiba-tiba ditanya begitu sama ibu mertuanya.
“Ya daripada kamu cuman tidur-tiduran di rumah mendingan kamu bantuin si Udin di toko.”
Sejenak Via terdiam mendengar perkataan ibu mertuanya. Memang bukan permintaan yang susah sih, tapi entah mengapa Via merasa ada nada menyindir dalam kalimat Bu Een.
“Jadi perempuan tuh jangan males, harus banyak gerak biar sehat nggak loyo dan lemah jadinya susah hamil.”
Deg!
Via merasa seperti habis disengat tawon. Kaget dan perih tapi nggak bisa teriak. Mata Via tiba-tiba merasa hangat, ada air yang menggenang disana. Ini bukan kali pertama ibu mertuanya itu mengungkit soal kehamilan dan seolah menyalahkannya yang tak juga kunjung memberinya cucu.
Via coba menahan air matanya agar tak luruh, dia tak ingin terlihat cengeng di depan ibu mertuanya. “Iya, Bu. Besok pagi nanti Via kesini.” Sahut Via agak serak.
Bu Een mencibirkan bibir bawahnya, “Kenapa nggak dari dulu-dulu?”
Via hanya menunduk. Riri merasa ada yang tak beres dengan kakaknya karena melihat ekspresi Bu Een.
“Si Mirza itu nggak berani buat ngomongin kamu atau emang kamunya yang nggak bisa dibilangin?” Ketus Bu Een masih dengan bibir yang miring kiri miring kanan.
“Maaf, maksud ibu ngomongin soal apa ya?” Via tak mengerti.
“Ya ngomongin supaya kamu bantu-bantu di toko sama si Udin!”
“Apa? Maksud Ibu Mbak Via suruh jadi pelayan disini, gitu?” Tanya Riri tak percaya.
Bu Een dan Via sama-sama kaget Riri tau-tau datang.
__ADS_1
“Kamu ngapain anak masih bau kencur ikut campur aja urusan orang?” Omel Bu Een pada Riri sebal.
“Ya bukan gitu, masa menantunya Ibu sendiri suruh jadi pelayan. Emang Ibu nggak bisa cari orang lain?”
Via spontan menyikut lengan Riri, dia khawatir Bu Een akan marah dengan Riri yang ceplas ceplos kalo ngomong.
“Ibu tinggal pasang iklan aja di depan toko, pasti banyak yang mau kerja di sini kok. Jangan mantu sendiri suruh jadi pelayan, emangnya Mbak Via nggak ada kerjaan lain?” Riri terus nyerocos, nyuekin Via yang kali ini melotot ke arahnya memberi isyarat untuk diam.
“Ya emang dia nggak punya kerjaan, kan?” Ucap Bu Een enteng.
Via langsung menarik lengan Riri yang mau ngomong lagi. “Maafin Riri ya Bu, udah nggak sopan sama Ibu.” Via merasa tak enak hati atas ucapan-ucapan Riri pada ibu mertuanya. “Besok pagi nanti Via kesini.” Sambung Via meyakinkan.
“Nggak usah! Nggak jadi!” Ketus Bu Een lantas berpaling masuk rumah.
Via menghela nafas berat lalu menuju motor dengan perasaan tak enak, Riri mengikuti dengan wajah manyun.
“Huh, kalo itu mertua aku Mbak, udah ku kasih racun tikus!” Ceplos Riri kesal.
“Hus!” Hardik Via sambil melotot. “Nanti ibu dengar!”
“Abisnya mertuanya Mbak itu emang ngeselin banget. Kayaknya dari dulu nggak pernah suka sama Mbak Via. Nanti kalo aku cari suami, aku mau cari yang udah yatim piatu ah biar nggak dinyinyirin mertua terus kayak Mbak Via!" Oceh Riri.
“Udah ah, ayok pulang buruan! Nanti Ibu nyariin kamu.” Via naik ke jok motor bersiap berangkat.
Riri malah pasang senyum lebar. “Kalo aku nginep di rumah Mbak Via boleh nggak? Mas Mirza masih belum pulang kan?” Riri mengerjap-ngerjapkan matanya masih dengan senyum lebar sok manis.
“Aaah …, nanti dia resek, Mbak.” Riri kurang setuju, karena dia sama Ica malah sering berantem. Meski usia Riri dan Ica terpaut jauh, tapi nggak tau kenapa sering ribut nggak jelas gitu kalo kumpul.
“Tapi Mbak udah janji mau jemput dia, Ri.”
“Nanti aku yang telpon Mbak Tia aja kasih alesan, sekalian telpon Ibu juga. Kan aku kangen pingin bobo sama Mbak Via sambil cerita-cerita gitu …” Riri kali ini pasang tampang sok manja.
“Terserah kamu deh. Tapi nanti tanggung jawab ya kalo Ica ngambek.”
“Beres!” Riri langsung melompat ke jok belakang seraya melukin Via. “Yuk, jalan!
Heh, dasar si Riri!
______
Kereta mulai melaju lambat meninggalkan stasiun. Mirza duduk di samping seorang Bapak yang nampak bersiap akan melenakan dirinya padahal langit senja belum begitu redup.
Mirza melayangkan pandangan keluar jendela. Kegelisahan mulai menguasai pikirannya. Via mungkin tidak akan bertanya macam-macam tentang hal apa saja yang dilakukannya selama di Jakarta, tapi hatinya tak bisa bohong bahwa kejadiannya bersama Sofi telah mengusik ketenangannya.
Setelah tiga jam dalam perjalanan, Mirza sampai di stasiun Jati Asri. Baru kemarin dia bercanda ria menggoda istrinya di depan stasiun itu tanpa pernah sedikitpun ia mengira Om Jaka akan mempertemukannya dengan Sofi. Mirza melangkah menuju warung kecil tak jauh dari stasiun. Dibelinya sekotak rokok putih dan Mirza langsung menyulutya dengan gusar.
Kepulan asap rokok dihembuskan dengan kasar ke udara. Mirza duduk di bangku kayu panjang depan warung mengacak rambutnya sendiri. Wajah lelah dan penat terlihat jelas, kembali dia menghisap rokoknya beberapa kali. Suasana sudah tak begitu ramai karena hampir jam 9 malam. Mirza tak begitu memperhatikan sekitar, dia tak menyadari ada dua pasang mata yang sedang memperhatikannya. Mirza bukan perokok sebenarnya, dia hanya sesekali saja merokok jika sedang merasa kacau.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, Mirza mengeluarkan gawai dari saku celananya dan membuang puntung rokok menginjaknya dengan sepatunya.
"Halo, Din. Kamu bisa jemput aku di stasiun nggak?" Mirza menghubungi Udin. "Oke, aku tunggu di warung sebelah stasiun, ya." Mirza lantas mengakhiri percakapan.
Disulutnya sebatang rokok lagi sambil menunggu Udin, sepasang mata masih memperhatikannya dari tempat terlindung. Udara malam mulai menelisik dingin masuk melewati pori-pori kulit, Mirza menggosok-gosokkan tangannya sekedar mengurangi hawa dingin. Rokok putih yang terselip diantara kedua bibirnya dihisap sekali lagi sebelum dihempaskan ke tanah.
Motor Udin melambat mendekati Mirza yang duduk sendirian.
"Maaf ya, Mas agak lama. Tadi lagi makan soalnya." Ujar Udin begitu sampai.
Mirza langsung naik ke boncengan tanpa menyahut, motor udin segera melaju.
"Antar aku ke rumah ibu aja." Perintah Mirza kemudian.
Udin ingin bertanya tapi diurungkannya karena sedari tadi Mirza nampak tak seperti biasanya.
Mungkin Mas Mirza cuma lagi capek aja.
Begitu pikir Udin berbaik sangka, meskipun setelah sampai di rumah Bu Een Mirza langsung masuk kamar sehabis menyalami ibunya di ruang tengah dan tak berminat sedikitpun menjawab pertanyaan Bu Een yang heran melihatnya datang dengan tampang kusut.
Udin buru-buru pergi namun Bu Een memanggilnya.
"Sini dulu!"
"Ya, ada apa Bu?"
"Si Mirza kenapa pulang kesini?"
"Wah, kalo itu saya nggak tau, Bu. Tadi Mas Mirza sendiri yang minta diantar ke sini."
Bu Een nampak berpikir menduga-duga yang terjadi pada anaknya, kemudian menyuruh Udin pergi.
"Ya udah, sana!" Bu Een mengusir dengan tangannya.
Udin bergeming.
"Ngapain masih disitu? Tadi mau buru-buru pulang?"
Udin cengengesan sambil menggaruk kepalanya. "Anu, Bu ... Saya lupa belum minta ongkos ojeknya sama Mas Mirza, hehe ..."
Bu Een langsung berkacak pinggang sambil melotot galak. "Emangnya yang kamu pakai itu motor siapa? Berani kamu minta ongkos segala! Sekarang juga pulang sana jalan kaki, balikin motor saya!"
"Ampun, Bu ... Ampun! Iya.. Maaf ..." Udin langsung ciut dihardik Bu Een begitu, lantas dia cepat pergi melarikan diri dengan motor CBR inventarisnya itu sebelum diamuk majikannya lagi.
______ bersambung 😉
Terima kasih sudah setia membaca 🙏❤️
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, bintang dan votenya ya kakak 🌹😘