TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
126 #CLBK?? (CINTA LAMA BELUM KELAR)


__ADS_3

“Sayangku, aku masih tak yakin kalau kita benar-benar melakukannya kemarin malam.” Ucap Ramzi pada Sofi lewat telepon.


Sofi kaget juga suaminya menelpon hanya untuk menanyakan hal itu, padahal dia sudah mengatakan pada Ramzi kalau mereka benar-benar melakukannya. Tapi ternyata Ramzi masih ragu.


“Aku sepertinya tidak merasakan apa-apa.” Sambung Ramzi.


“Terang saja, Kak Ram kalah dalam permainan dimenit-menit awal dan langsung tertidur.” Sofi berusaha meyakinkan.


“Benarkah?” Ramzi mengerutkan dahinya. “Bagaimana kalau nanti malam kita ulangi lagi?”


“Hah?” Sofi kaget keceplosan.


“Aku akan pulang lebih awal, untuk istirahat dulu agar staminaku vit. Setelah itu nanti malam akan aku tebus kekalahanku. Bagaimana, sayangku?” Suara Ramzi terdengar begitu bahagia, ia tak tahu kalo Sofi sudah mulai ketar ketir. “Istriku kenapa diam?” Tegur Ramzi.


“Ah, entahlah Kak… aku lagi agak nggak enak badan ini spertinya. Kepala dan tengkukku sakit, sepertinya kumat lagi sindromku karena kelelahan.” Sofi mencari-cari alasan.


“Kalo gitu aku jemput kamu, kita ke dokter sekarang.” Ramzi panik.


“Eeeh, Kak! Nggak usah!” Sergah Sofi. “Aku hanya perlu istirahat. Maaf ya… mungkin malam ini kita tunda dulu pertempurannya.” Sofi merayu.


Ramzi mengehal nafas di seberang. “Baiklah, kita atur jadwal ulang kalau begitu, sayangku.” Ucap Ramzi agak kecewa.


Sofi langsung bernafas lega begitu Ramzi mengakhiri panggilan teleponya.


“Ya ampun! Cara apalagi yang harus aku pakai untuk menghindar dari si brewok itu!” Kesal Sofi sambil menghempaskan tubuhnya di atas kasur. “Untung kemarin aku sempat mampir ke apotik beli obat tidur sebelum ke rumah Mama. Setelah alasan sakit, aku harus pakai alasan apa lagi…?” Sofi sibuk memikirkan berbagai cara dan kemungkinan yang akan dipakainya untuk menolak ajakan bertempur suaminya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hari ini seminggu sudah Bu Harni menginap di rumah Via, dan rencananya sore ini akan pulang bersama Riri.


“Nanti aja pulangnya, Bu. Aku kesepian lagi nanti anggak ada ibu sama Riri.” Sungut Via yang melihat Bu Harni sedang merapikan barang bawaannya.


“Rumah ibu pasti udah kotor banget ditinggal seminggu, Vi.”


“Biar Riri aja yang pulang buat bersih-bersih.”


“Hmmm…. Adikmu itu nggak bakal berani tidur di rumah sendirian. Dia kan penakut.” Ucap Bu Harni tangannya masih sibuk melipat baju-baju bersih yang kemarin sudah dicucinya. “Gimana kalo kamu aja yang nginep di rumah ibu?”


“Nanti gimana tanamanku? Bisa-bisa layu terus mati semua nggak ada yang ngurus.”


“Ya kamu titipin aja sama tetangga, minta tolong.” Usul Bu Harni.


Via manyun, merasa usulan ibunya bukan usul yang baik.


“Oh iya, kamu masih punya nggak bibit cabai sama sawi, Vi? Ibu minta buat ditanam di pekarangan belakang rumah.” Ucap Bu Harni kemudian.


“Habis, Bu. Cuman tinggal kembang kol aja.” Jawab Via. “Tapi kita bisa minta sama Pak Hadi.” Lanjut Via.


“Pak Hadi? Siapa itu?”


“Yang ngasih semua bibit sayuran itu, Bu. Aku juga dikasih tanah kompos dari Pak Hadi. Orangnya baik kok. Kalo ibu mau nanti sore sebelum pulang kita kesana dulu.”


“Boleh. Tapi kayaknya nggak enak Vi kalo kesana kita nggak bawa apa-apa. Katamu orangnya baik, ya paling nggak kita bawakan sesuatu buat timbal baliknya.” Tutur Bu Harni.


“Terserah ibu aja deh.”


“Ibu bikinin masakan aja apa ya, Vi? Sekalian masak buat makan malam kamu nanti.”


“Atur aja deh, Bu.” Sahut Via dengan snyuman.


Maka selepas Ashar Bu Harni mulai masak dibantu Via. Karena stok makanan di kulkas sudah menipis, Bu Harni hanya masak sayur lodeh dan telor balado. Via cepat mengemas masakan ibunya ke dalam rantang plastik susun dan siap membawanya ke rumah Pak Hadi.


“Tunggu, Vi. Ibu mau mandi dulu, nggak enak ini bau kompor.”


“Ya ampun, cuman mau nganter makanan deket sini aja kok Bu.”


“Ya kan sekalian pulang nanti dijemput Riri. Kalo udah mandi kan enak seger.” Ucap Bu Harni sambil ngeloyor.


Via memilih menunggu ibunya di ruang tengah sambil nonton TV.


BLUKUTUK BLUKUTUK BLUKUTUK...


Ponsel Via berbunyi tanda ada pesan masuk. Via segara meraihnya.


Liv, besok kamu diajakin Khusni ngelamar kerja di tempat koleganya Khusni. Siapin berkasnya ya. Jam 8 pagi harus udah siap, nanti Khusni jeput ke rumah kamu.


Bunyi pesan dari Yana.


“Apa? Ngelamar kerja sama si Khusni?” Heran Via. “Ih, ngapain sama dia? kayak aku nggak bisa pergi sendiri aja.” Protes Via lantas segera menghubungi Yana.


“Halo, Olive. Kamu udah baca pesan aku kan?” Sapa Yana.


“Iya. Tapi ngapain aku harus berangkat bareng Khusni segala? Aku kan bisa pergi sendiri?”


“Kenapa emangnya? Kan bagus dia bisa anterin kamu sekalian dia juga ada janji dengan orang yang mau kamu temui itu.”


“Aku nggak mau pergi sama cowok kamu yang tengil itu ya! Aku bisa pergi sendiri!” Kekeh Via. Dia emang kurang sreg sama si Khusni yang kelakuannya suka tengil.


“Terserah kamu deh. Tapi awas kalo nyasar ya, jangan salahin aku. Udah bagus aku baik sama kamu nyuruh pergi sama cowok aku. Saking apanya coba?” Kesal Yana.


“Masa bodo! Ogah banget pergi sama cowok kamu.”

__ADS_1


“Ya udah, kalo gitu besok langsung ke jalan Ahmad Yani nomor 15C ya. Ketemu Khusni disana.”


“Jalan Ahmad Yani 15C? dimana itu?” Tanya Via bingung.


“Nah kan! Dibilangin juga berangkat bareng aja, bandel banget dibilangin!”


“Nanti suruh Khusni shareloc ya.”


“Terserah kamu deh!”


KLIK!


Yana memutuskan sambungan telepon kesal.


“Ye, kok malah dimatiin sih? Dasar si Yana, orang aku yang nelpon juga main dimatiin aja! ” Gerutu Via ngomel sendiri.


“Ngomong sama siapa, Vi?” Tanya Bu Harni yang sudah baru keluar dari kamar.


“Yana tadi telpon, katanya besok pagi aku mau diajakin ngelamar kerja di tempat koleganya tunangan dia, Bu.”


“Wah, bagus dong itu. moga keterima ya, Vi.”


Via hanya mengangguk, lantas segera mengajak ibunya pergi ke rumah Pak Hadi. Sesampainya di sana, rumah Pak Hadi sepi seperti biasanya.


“Sepi, Vi. Ada nggak orangnya?” Tanya Bu Harni ragu.


“Ada kok, Bu. Pak Hadi nggak pernah kemana-mana. Dia cuman tinggal berdua sama anaknya.” Ucap Via sok yakin, padahal dia juga tau hal itu dari Yanti tempo hari itu.


Tok tok tok …


Via mengetuk Pintu seraya mengucap salam.


“Eh, itu kan ada bel? Ngapain ngetuk-ngetuk pintu segala?” Bu Harni menunjuk bel yang bertengger di tembok samping pintu.


“Oh, iya ya.” Via nyengir, soalnya tempo hari dia kesini itu ketuk pintu sih.


Ting tong!


Via menekan bel sekali.


Belum ada jawaban.


“Lagi mandi kali ya, Bu?” Tebak Via.


“Mungkin masih sholat ashar atau sedang istirahat.” Sambung Bu Harni. “Coba pencet sekali lagi belnya.”


Ting tong!


Setelah kembali menungu beberapa saat, terdengar langkah kaki dari dalam.


Ceklek!


Pintu terbuka. Wajah ramah Pak Hadi langsung tersenyum begitu melihat Via yang datang.


“Nak Via? Wah, ternyata beneran nepatin janji ya main ke sini lagi. Mari silakan masuk, Nak.” Sambut Pak Hadi pada Via tanpa melihat Bu Harni yang berdiri di belakang Via.


“Iya, Pak. Ini saya juga bawakan masakan buat Bapak.” Via meminta rantang yang dibawa Bu Harni.


Bu Harni maju hendak memberikan rantangnya, namun ketika matanya melihat wajah Pak Hadi tiba-tiba Bu Harni tercenung. Hal yang sama pun terjadi pada Pak Hadi. Ia memandangi wajah perempuan setengah baya lebih yang berdiri divdepannya itu dengan lebih seksama.


“Dik Har …?”


“Mas Pram …?”


Lirih keduanya tanpa sadar, mata mereka masih saling menatap dalam keterkejutan yang sama-sama tak bisa disembunyikan dan membuat Via keheranan melihatnya.


“Ibu…, udah kenal sama Pak Hadi …?” Tanya Via agak ragu.


Pak Hadi dan Bu Harni melihat pada Via yang sejenak sempat mereka lupakan.


“Vi …”


“Apa Nak Via ini anakmu, Dik?” Tanya Pak Hadi memotong kalimat Bu Harni.


“Iya, Mas.” Bu Harni mengangguk pelan.


Via masih belum mengerti antara Pak Hadi dan ibunya sebelumnya ada hubungan apa? Apa mereka teman baik atau …


“Mari masuk dulu, Dik. Kita ngobrol di dalam.” Ajak Pak Hadi.


“Emh, nggak usah Mas. Saya masih ada kerjaan. Ini masakannya, tolong diterima.” Bu Harni menyerahkan rantang yang dibawanya dengan agak gugup.


Pak Hadi menerimanya tanpa kata karena masih belum reda dari keterkejutannya.


Sebuah motor memasuki halaman. Semuanya menoleh melihat siapa yang datang.


Danar turun dari motor dan melihat Via bersama ibunya berdiri di teras rumahnya. Jantungnya terasa mau loncat keluar melihat perempuan yang sudah lama dipujanya itu mengunjungi rumahnya.


Danar? Gumam Via dalam hati, dia heran melihat Danar ada di rumah Pak Hadi, begitu juga dengan Bu Harni.


“Assalamualaikum.” Danar mengucap salam.

__ADS_1


Mereka bertiga kompak menjawab salam.


“Nak Danar …?” Ucap Bu Harni ketika Danar menyalaminya.


Danar senang sekaligus khawatir melihat Via ada di rumahnya. Danar khawatir kalau Via nggak akan mau lagi mengunjungi papanya jika tau Pak Hadi itu ayahnya.


“Kalian sudah kenal dengan Danar?” Tanya Pak Hadi yang melihat sorot mata Via dan Bu Harni yang sepertinya sudah tak asing lagi dengan Danar.


“Apa Nak Danar ini …” Bu Harni tak berani melanjutkan kalimatnya.


Pak Hadi mengangguk. “Danar anak saya.


Baik Via maupun Bu Harni keduanya sama-sama terkejut namun mencoba sebisa mungkin bersikap biasa saja.


“Danar, Ibunya Nak Via ini dulu …”


“Kami teman sekolah.” Potong Bu Harni dengan senyum yang agak dipaksakan.”


Via dan Danar melihat Bu Harni dan Pak Hadi bergantian. Mereka merasa seperti ada yang disembunyikan oleh orang tua mereka.


“Pa, gimana kalo kita lanjutin obrolannya di dalem?” Ucap Danar memecah kecanggungan yang tercipta diantara mereka berempat.


“Maksih, Nak. Tapi Ibu masih ada kerjaan. Kami pamit dulu ya.” Bu Harni cepat menyahut.


Via mengangguk memberi salam dan lekas menyusul langkah ibunya yang sudah lebih dulu berjalan di depannya.


Pak Hadi melangkah gontai dan meletakkan rantang yang diberikan Bu Harni di atas meja makan lalu menghempaskan diri di sana.


“Apa ada yang ingin Papa katakan?” Tanya Danar berdiri di samping ayahnya.


“Duduklah.” Pinta Pak Hadi.


Danar menurut dan menunggu apa yang akan disampaikan ayahnya.


Pak Hadi mengeha nafas. “Tolong ambilkan nasi, Papa lapar.” Ucap Pak Hadi.


“Pa?” Mata Danar manatap tajam, Pak Hadi menunduk. “Jadi Papa dan ibunya Via benar-benar teman sekolah?” Selidik Danar.


“Iya, kenapa memangnya? Bukankah Papa pernah bercerita, dulu Papa pernah tinggal di Kecamatan Jati Asri?" Jawab Pak Hadi namun matanya tak melihat pada Danar.


“Papa kan kerja di pasar kecamatan bukan sekolah disana?” Sanggah Danar.


Pak Hadi meremas jemarinya, sekali lagi menghela nafas panjang. Danar setia menunggu hal apa yang akan disampaikan ayahnya.


“Saat itu usia Papa masih sangat muda. Papa tidak lulus sekolah karena sering ikut orang tua jualan di pasar.” Cerita Pak Hadi mulai mengalir. “Orang tua Papa, kakek nenek kamu adalah warga pendatang dan mengontrak rumah kecil di dekat Pasar Jati Asri. Hari-hari Papa dihabiskan disekitar pasar dan stasiun. Kadang Papa membantu nenek kakekmu jualan, kadang juga membantu membawakan barang para penumpang kereta. Pada masa itu belum ada porter, Papa melakukannya dengan upah sukarela.” Pak Hadi menjeda ceritanya.


“Beberapa gadis desa Jati Asri yang pulang pergi Sekolah Menengah Atas sering melewati pasar. Dan salah satunya ada yang mencuri hati Papa. Dia adalah Suharni, gadis yang paling cantik diantara teman-temannya. Setiap pagi dan sore, Papa sengaja duduk di depan stasiun hanya untuk melihat gadis itu bersepeda berangkat dan pulang sekolah yang saat itu hanya ada satu-satunya di kota kecamatan. Singkat cerita, Papa memberanikan diri berkenalan. Dia baik dan supel, tapi Papa belum berani menyatakan isi hati Papa. Tiga tahun berselang, pasar mengalami kebakaran, kios kecil kami ludes terbakar. Orang tua Papa memilih kembali ke kampung asal di Tegal sedangkan Papa bertahan disana. Pasca kebakaran, kehidupan pasar semakin keras karena sasama pedagang berebut lapak yang hanya sedikit, kami juga harus membayar pada preman disana agar bisa berjualan, sampai akhirnya Papa sendiri yang sudah lelah dipalak ikut-ikutan jadi preman. Sebanarnya niat awal Papa hanya ingin membantu sesama pedagang agar berani melawan para preman itu. Tapi apa mau dikata, ternyata setelah preman sungguhannya pergi, para pedagang dipasar malah meminta Papa untuk menjadi kepala keamanan di sana. Akhirnya Papa dikenal dengan sebutan preman pasar.”


Jeda Lagi, Pak Hadi menyandarkan punggungnya dan mata letihnya kembali menerawang.


Danar masih setia menyimak penuturan ayahnya.


“Saat papa merasa sudah punya cukup uang tabungan, papa memberanikan diri menyatakan isi hati papa pada Harni. Dia memang tak langsung menolak. Sepertinya dia memberikan kesempatan, dia mau menerima Papa asalkan Papa mencari pekerjaan lain sebab beberapa kali Papa berkunjung ke rumahnya orang tua Harni selalu sinis sama Papa karena mereka tau pekerjaan Papa. Usia Papa saat itu 25 tahun, papa pamit pada Harni merantau ke ibu kota untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Papa bekerja jadi supir di perusahaan catering milik Rian.”


“Jadi itu awal mula Papa bertemu dengan ayah Rian?” Sela Danar.


Pak Hadi mengangguk, lantas melanjutkan ceritanya.


“Dua tahun kemudian Papa kembali, namun ternyata Papa menerima kenyataan pahit, Harni telah bertunangan dengan seorang laki-laki yang sudah mapan. Dialah ayahnya Via. Keluarga Harni mengusir Papa seperti binatang, mereka mencaci maki Papa karena berani kembali dan hendak melamar Harni. Harni hanya diam tak membela papa sama sekali. Papa kembali ke Jakarta dengan hati hancur. Papa berhenti bekerja dan kembali hidup di jalanan. Berkali-kali Rian mengajak Papa untuk bekerja tapi Papa selalu menolak. Hingga Rian memohon karena saat itu dia baru menikah dan sangat membutuhkan sopir untuk mengantar jemput istrinya Herlina yang ternyata berasal dari kota kabupaten Papa. Akhirnya Papa mau. Tapi tanpa sepengetahun Rian, kalau malam Papa selalu keluyuran tak jelas karena hati Papa masih belum rela menerima kenyataan Harni yang akan menikah. Suatu malam, Papa dikroyok warga karena mabuk dan membuat keributan. Rian dan Herlina yang menjamin Papa agar tak diserahkan ke polisi. Rian dan Herlina kemudian mengenalkan Papa pada seorang perempuan muda yang cantik dan anggun, dia kawan baik Herlina. Khaerani, mama kamu. Wanita yang sangat lembut dan penyayang. Papa belum sempat membahagiakannya, Mama kamu meninggal ketika kamu masih berusia 2 tahun karena kanker kelenjar getah bening.”


Pak Hadi menyeka air mata yang menggenang di kedua pelupuk matanya. Danar yang walaupun tidak mengingat jelas sosok mamanya, dia dapat merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan Papanya. Danar mengusap bahu sang papa untuk memberikannya kekuatan.


“Jangan sedih, Pa. ada Danar disini.” Ucap Danar.


Pak Hadi menggeleng pelan. “Papa justru bahagia karena pernah memiliki wanita sebaik mama kamu.”


Sementara ayah dan anak itu larut dalam cerita masa lalu yang mellow, Bu Harni dan Via pun sedang duduk berdua di ruang tengah. Bu Harni juga tengah menceritakan bagaimana hubungannya dengan Pak Hadi di masa lalu. Via yang tak menyangka sama sekali akan hal itu tentu saja kaget, ternyata orang yang sering disebut-sebut sebagai mantan pacar ibunya sebagai preman stasiun oleh ibu mertuanya dikala Via dihina Bu Een itu adalah Pak Hadi orangnya. Hadi Pramana ayah kandung dari Danar.


“Vi, sebaiknya mulai sekarang kamu jangan terlalu dekat dengan Pramana dan Danar.” Ujar Bu Harni. “Ibu khawatir setelah Pram mengetahui kenyataan ini, dia akan berniat jahat pada keluarga kita.”


“Maksud ibu?” Via heran.


“Riri kan selama ini dekat dekat dengan Danar, bukan tak mungkin kan kalau Pram berniat menggunakan Danar untuk membalaskan sakit hatinya di masa lalu?” Ucap Bu Harni penuh kekhawatiran. “Ibu akan minta Riri berhenti kerja dari toko kue itu.”


Via memandang ibunya tak habis pikir. “Ibu terlalu berlebihan.”


❤️❤️❤️❤️❤️


Hai, Kak…. Maaf ya upnya telat 🙏🙏


Udah gitu mungkin part ini agak ngebosenin karena othor pingin cerita tentang masa lalu Bu Harni dan pak Hadi. 😊😊😊


Harap diketahui ya Kak, kisah mereka nggak ujug-ujug muncul. Udah pernah disinggung di bab-bab awal tentang masa lalu Papanya Danar, juga ada di part Bu Een yang bertengkar dengan Via.


Mohon maaf kalau ada beberapa typo dan kekeliruan ya, kak 🙏❤️❤️


Teima kasih supportya😍😍😍


Salam hangat, terpaksa selingkuh❤️


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2