
Acara pernikahan Hanson dan Rumi hampir siap, semua anggota keluarga berkumpul di ruang tamu rumah Haji Barkah yang besar dan luas. Meski acara yang digelar sederhana namun Pak Haji mengundang semua tetangga dan karyawan tokonya untuk turut hadir menjadi saksi kebahagiaan janji suci yang akan diucapkan oleh Hanson.
Pak ustadz Imron telah bersiap, di depannya Hanson duduk dengan wajah tenang. Ia sudah berlatih kalimat ijab sejak semalaman, tak ada gugup terbesit dalam raut wajahnya. Kalimat ijab qobul pun kemudian Hanson ucapkan dengan sangat lantang dan lancar.
“Bagaimana para saksi?” Tanya ustadz Imron selaku penghulu.
“Sah!” jawab para saksi yang diikuti oleh segenap undangan yang hadir.
Doa ijab pun kemudian dibacakan, semuanya mengaminkan dengan khusuk. Rumi mencium punggung tangan Hanson setelahnya, terpancar rona kelegaan pada dirinya, sekarang dirinya telah resmi menjadi Nyonya Burgman alias nyonya Ahmad Faza Al Hanif. Semua yang hadir memberikan ucapan selamat kepada mereka. Rumi dan Hanson menyambut dengan senyum mengembang.
“Ramzi, terima kasih ya sudah mau datang dan menjadi saksi untuk aku” ucap Hanson tulus, Ramzi memang sengaja diminta untuk hadir agar menjadi saksi bagi pihak mempelai laki-laki.
“Sama-sama, semoga kamu dan Rumi bahagia selamanya ya,” membalas jabatan tangan Hanson dengan mengukir senyuman.
“Kok sama gue lu kagak bilang makasih sih?” protes Om Jaka yang mendengar percakapan mereka. “Gue kan jadi saksi buat elu juga?”
Menatap Om Jaka dengan teduh dan dalam, “aku rasa untuk Om Jaka nggak cukup kalau hanya sekedar ucapan terima kasih. Om Jaka sudah mempersiapkan semuanya untuk aku dan Rumi, Om Jaka terlalu baik buatku,” langsung memeluk Om Jaka dengan erat yang spontan membuat Om Jaka gelagapan karena merasa pengap.
Mendorong tubuh tegap Hanson, “Iya iya, gue ngarti. Udah ah kagak usah lebay lu!” menepuk pundak Hanson.
Acara selanjutnya tentu saja makan-makan setelah berfoto ria.
“Mbak Rumi, saya pamit dulu ya. Saya turut bahagia untuk Mbak Rumi dan Mas Hanson,” pak RT yang menjadi saksi pernikahan untuk Rumi berpamitan.
Menyambut agak kikuk, Rumi masih malu karena tercyduk Pak RT. “Terima aksih ya, Pak.” Hanya itu yang diucapkan Rumi.
Terlihat hadirin mengantri di meja prasmanan, meski hanya pernikahan siri dan bertajug sederhana, namun makanan yang disajikan sangatlah lengkap dan menggugah selera. Riri berdiri bersama Tia dibantu beberapa karyawan toko peremuan melayani di meja prasmanan.
“Baby, kamu geliatin apa sih?” Rumi menyenggol lengan Hanson.
“Ah, nggak. Au cuman nggak nyangka Schatzi, ternyata tamu undangan yang hadir cukup banyak juga.”
Rumi ikut melihat pada barisan antrian di prasmanan, tampak Marwoto dan Dirman juga sedang berdiri dalam antrian.
__ADS_1
“Kok mereka diundang juga sih?” lirih Rumi spontan memalingkan wajahnya.
Hanson yang melihat tingkah Arumi tersenyum maklum, gadis yang baru saja sah menjadi istrinya itu memang belum diberi tahu kalau Marwoto dan Dirman juga Pak RT terlibat dalam rencana Hanson.
“Baby, kamu nggak malu sama mereka?” bisik Rumi.
“Nggak, kenapa emangnya?"
“Gawat kalau sampe mereka cerita ke semua warga alasan mengapa kita nikah dadakan seperti ini?” masih dalam mode berbisik.
Hanson hanya tersenyum, terlebih lagi melihat Rumi yang berjalan cepat meninggalkan ruang tamu untuk menghindari kedua orang itu agar jangan sampai bertemu dengan mereka. Hanson segera menyusul, Pak Joni dan Mr. Burgman yang melihat kedua anak mereka berjalan cepat meninggalkan ruangan hanya saling pandang.
“Mereka nggak lagi bertengkar kan?” Pak Joni melihat pada Haji Barkah.
“Biarkan saja, saya lihat chemistry diantara mereka sangat kuat. Walau bertengkar pun mereka akan segera baikan,” tersenyum karena sudah sangat mengenal Hanson dan Rumi.
“Iya sih, mereka memang sering berdebat bahkan untuk hal-hal yang tidak penting,” Pak Joni terkekeh mengingat tingkah Rumi yang memang kerap keras kepala.
Mister Burgman hanya senyam senyum karena tak mengerti apa yang mereka obrolkan, namun ia yakin Pak Haji Barkah dan Pak Joni tengah memperbincangkan hal yang baik.
Ramzi baru saja tiba, Sofi menyambut dengan wajah datar. “Sudah selesai acaranya?”
“Sudah. Seharusnya kamu juga ikut hadir, acaranya meriah walau sederhana.”
Berlalu menuju box baby Arfan.
“Jangan bersikap seperti itu, terimalah kenyataan bahwa mantanmu sekarang telah resmi menjadi suami dari sahabatmu,” Ramzi berdiri di belakang Sofi.
“Kak Ram ngomong apa sih? Aku nggak ada urusan ya sama mereka? Lagipula Rumi itu bukan sahabatku, dia cuman teman biasa aja!” ketus Sofi yang spontan membuat Ramzi terkekeh. “Seharusnya kita nggak tinggal disini, aku malas ketemu mereka!” Lanjut Sofi masih dengan nada ketus.
Meraih kedua pundak Sofi untuk menghadapnya, “kamu tenang saja, mereka akan melewati malam pertama mereka nggak disini kok. Jadi kita nggak akan kalah saingan hotnya nanti malam.” Tersenyum lebar yang segera dibalas dengan kibasan tangan oleh Sofi.
“Besok kita harus pindah dari rumah ini, aku nggak mau tinggal disini.”
__ADS_1
“Pindah aja sendiri,” sahut Ramzi enteng lantas keuar dari kamar. Ia tersenyum puas dalam hati karena yakin istrinya bertemabah kesal. Ya, akhirnya Ramzi dan Sofi benar-benar inggal di rumah lama Mirza sesuai saran Om Jaka. Walau Sofi masih tampak uring-uringan namun Ramzi tetap santai.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sejak peristiwa pertengkaran kemarin malam dengan Via, Mirza terlihat murung. Senyum telah sepenuhnya hilang dari wajahnya, ia hanya bicara seperlunya saja.
“Ibu tau kamu sedang marah, seharusnya kamu bersyukur megetahui kenyataan tentang istrimu,” ucapan Bu Een sontak membuat Mirza menoleh.
“Foto itu ibu dapat dari mana?” walau sebenarnya sedang tak ingin membahasnya, namun Mirza terpancing juga.
“Nggak perlu kamu tau ibu mendapatkannya dari mana.”
“Ibu menyuruh orang uuntuk memata-matai Via?” tuduhan bernada dingin dilontarkan.
Bu Een diam, ia pura-pura menyibukkan diri dengan remote TV di tangannya.
“Jawab Bu, “ desak Mirza.
Masih diam seolah tak mendengar. Mirza yang dalam mode marah segera meraih paksa remote TV dari tangan ibunya dan mematikan benda layar datar itu.
“Tak seharusnya ibu berbuat lancang di belakangku.” Menatap tajam pada sang ibu.
“Mirza! tak pantas kamu berkata seperti itu pada ibu!" Sentak Bu Een tak terima. "Itu semua demi kebaikan kamu!”
“Itu demi keegoisan ibu, bukan demi kebaikan aku!” melemparkan remote pada sofa lantas pergi dengan langkah cepat meninggalkan ibunya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Hai, maaf ya up sedikit dulu.🙏🙏🙏
Tetap like, komen dan vote ya.
Maaf juga typo bertebaran.
__ADS_1
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘