
Denaya dan Om Jaka tiba di rumah Via tak lama setelah ashar, mereka masuk dengan wajah sumringah. Via pikir Om Jaka dan Denaya akan lama di rumahnya, tapi nyatanya Denaya malah mau ngajakin Via belajar nyetir.
“Nggak deh, lain kali aja.” Tolak Via pada Denaya.
“Lain kali gimana? Mumpung kamu libur, Vi. Ayok, aku yang ajarin.” Denaya setengah memaksa.
Via menatap Denaya seolah tak yakin.
“Elu ngeraguin kemampuan bini gue, Vi?” Tanya Om Jaka seperti bisa membaca isi pikiran Via. “Dia jago nyetir kok, jangan khawatir. Kemarin aja waktu sopir di toko nggak masuk, dia lho yang nyetirin truk nganterin semen sama batako ke pelanggan.”
“Serius, Dena?” Via mototot tak percaya.
“Ya elah, masih nggak percaya!” Decak Om Jaka. “Peke salto-salto lho dia bawa mobilnya.” Lanjutnya dengan wajah mayakinkan yang membuat Denaya malah terbahak mendengarnya.
“Bohong banget, jangan percaya Om kamu yang somplak ini, Vi.” Ucap Denaya disela tawanya.
“Heem, udah dibelain malah ngatain gue somplak!”
“Ya abisnya kamu lebay banget, Beb. Bawa mobil sambil salto sih gimana caranya?”
“Maksudnya mobil truknya yang salto, Katemi!” Kesal Om Jaka.
“Yaaah, si Bokir marah!” Denaya kembali terbahak melihat raut kesal suaminya.
Via cuman senyum ngeliat Om dan tantenya itu saling ledek.
“Udah kamu nggak usah khawatir deh, Vi. Aku bakal ajarin kamu sampe bisa. Kamu ikut aku pulang ya, kita belajar di lapangan bola dekat balai desa Jati Asri itu. Disana kan tanahnya luas, jadi nggak takut kenapa-napa.” Denaya kembali meyakinkan Via.
Via berpikir sejenak, dia ingat ibunya adan Riri.
“Tapi nanti sekalian mampir ke rumah ibu aku ya?”
“Beres! Nanti pulangnya juga aku anterin lagi kamu kesini kok.”
“Sip!” Via mengacungkan jempol kanannya.
“Ya udah kalo gitu lu bikini kopi dulu deh, Vi!” pinta Om Jaka.
“Ehh, bikin kopi gimana? Orang kita mau langsung pergi kok!” Denaya melototin suaminya. “Keburu sore!”
Om Jaka ngiyem, kalo udah gitu dia nggak berani mendebat bininya.
Setelah Via bersiap sebentar, mereka bertiga pun pergi. Denaya duduk dengan Via di jok tengah membiarkan Om Jaka sendirian di depan.
“Ya elah Han, gue berasa jadi supir kalo kayak gini.” Gerutu Om Jaka.
“Berisik! Udah dibilangin juga, kalo aku sama Via Bebeb otomatis jadi supir!”
“sabar ya, Om …. Hehe…” Ledek Via dengan senyum lebar.
Om Jaka melirik dari spion tengah dengan tampang keki.
“Kok kamu nggak bilang sih kalo mau ngajakin aku belajar nyetir?” Via membuka obrolan dalam perjalanan mereka.
“Surprise!” Sahut Denaya dengan senyum manisnya.
“Kata Bebeb sebelumnya kamu emang udah pernah belajar kan sama Mirza?”
Via mengangguk. “Tapi udah lama banget, lupa kapan itu. lagian cuman sebentar, terus males.”
“Kalo sama aku nggak boleh males. Kita akan belajar tiap week end. Aku jemput kamu, dan kamu harus cepet bisa. Jangan takut Vi, mobilnya lecet-lecet atau penyok-penyok juga nggak masalah, mobil Om kamu ini.”
“Ekhem!” Om Jaka berdehem keras.
“Apa ekhem-ekhem?” Semprot Denaya yang tau itu kode dari suaminya.
“Kagak! Tenggorokan gue gatel!” Elak Om Jaka.
“Ntar aku garukin pake parutan kelapa. Mau?”
Om Jaka langsung tutup mulut nggak berani nyaut lagi. Sadis amat ya bininya Om Jaka? Persaan waktu belum nikah lemah lembut, kok sekarang berubah jadi galak begitu? Wkwkwk…..
__ADS_1
“Aku kasih garansi deh, kalo sampe sebulan belajar kamu belum bisa juga, aku bakal mundur jadi pelatih kamu.”
“Hahaha…. Serius banget sih kamu, Dena?” Via malah tertawa.
“Eh, beneran! Kamu juga harus serius belajar, karena aku guru mengemudi yang galak. Lebih galak dari Nyonya Puff!” Denaya benar-benar pasang tampang sok galak kemudian tawa keduanya berderai.
Via sungguh beruntung mempunya tante yang seumuran dengan dirinya, sehingga bisa sekaligus jadi sahabat dan teman yang asyik. Denaya gadis cantik berkerudung yang duduk di sampingnya itu kemudian berbisik di telinga Via.
“Biar kamu nggak dimodusin sama Danar.”
Deg!
Via jadi ingat dengan chat balasan yang dikirimkannya pada Danar. Tapi dia urung meraih gawainya dari dalam tasnya karena mungkin saja Danar membalas chat itu dengan kata-kata yang akan membuatnya semakin kepikiran.
Biarin aja deh. Aku buka hp nanti aja kalo udah selesai belajar nyetir. Nanti aku nggak konsen lagi. Batin Via.
Tak berapa lama mereka pun sampai di rumah Pak Haji Barkah. Denaya lekas berpindah ke jok depan bersama Via membiarkan Om Jaka masuk ke rumah sendirian.
Denaya melajukan mobil ke lapangan bola.
Setelah memberikan penjelasan singkat dan dirasa Via sudah paham, maka ia menyerahkan kemudi pada Via. Via agak grogi juga karena ini kali pertama dia belajar lagi setelah beberapa lama, namun Denaya terus menyemangatinya. Denaya dengan sabar terus mengarahkan Via. Beruntung sore itu lapangan bola tidak sedang dipakai anak-anak kampung bermain bola, jadi Via lebih leluasa belajar mengemudi di sana.
Setelah kurang lebih satu setengah jam belajar, Denaya menantang Via untuk turun ke jalan kampung.
“Kamu berani kan?” Denaya meyakinkan.
“Hemmm, gimana ya? Aku masih takut nih.”
“Selow aja. Kalo kamu udah bisa jalanan kampung, minggu depan kita coba lewat jalan kota.”
Via mendadak grogi lagi, padahal tadi dia sudah cukup rileks karena sudah cukup lihai berkendara di tanah lapang. Tapi kalo harus melewati jalanan yang banyak orang lewat gimana ya…?
“Hoy, kok malah ngelamun? Ayok, jalan!” Tegur Denaya.
“Takut nih. Giman kalo nyerempet orang?”
“Ya jangan diserempetin lah!”
“Kalo nabrak kambing, sapi atau bebek lewat gimana? Kan ini sore Dena, waktunya hewan ternak pada pulang kadang?” Via menunjukkan wajah cemasnya.
Via menghela nafas panjang, mencoba mengisi oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam rongga paru-parunya. Lantas mensugesti dirnya sendiri agar yakin.
“Kamu tau nggak aku dulu bisa nyetir usia berapa?”
Via menggeleng.
“Umur 15 tahun, baru lulus SMP. Dan itu aku nggak ada yang ngajarin, aku cuman sering liatin ayah nyetir, terus diem-diem aku bawa mobil pick up di gudang, ehhh tau-tau bisa lho. Lancar bolak balik sampe rumah, haha… padahal jaman itu manual lho bukan mobil matic kayak gini.”
Via setengah nggak percaya dengan cerita Denaya, tapi dia tertawa juga mendengarnya sehingga membuatnya cukup relax.
“Yakin aja. Yang penting Bismillah…”
Via mengangguk, dengan perlahan dia mulai mengemudi keluar dari lapangan bola menuju jalanan kampung yang untungnya sore itu tak terlalu ramai.
“Fokus, tapi nggak usah tegang ya…” Denaya memberi semangat.
Via sudah mulai pede.
“Aku nyalain musiknya ya, biar makin enjoy.”
...🎵🎶Aku sedang bertanya-tanya
...
...Tentang perasaan kita
...
...Benarkah kita saling mencinta ...
...atau hanya pernah saling cinta🎶🎵
__ADS_1
...
Denaya mulai ikut bersenandung lagu Judika yang mengalun lembut membuat Via mulai nyaman di balik kemudinya.
Hamparan padi yang menguning menghias sepanjang jalan yang mereka lalui. Ada juga beberap sawah yang sudah nampak dipanen oleh petani. Bunyi mesin perontok padi terdengar nyaring, jerami berhamburan menumpuk membuat gundukan di tengah sawah dengan beberapa petani yang tangkas mengemas padi yang sudah selesai dipanen ke dalam karung.
“Aku buka aja ya jendelanya, Vi? Kita matiin AC nya. Aku suka banget sama aroma jerami ketika musim panen.” Ucap Denaya meminta persetujuan Via.
“Heum, aku juga.” Via mengangguk mengulas senyum.
Semilir angin sore yang sejuk menerobos masuk ke dalam mobil melalui kaca jendela yang dibuka penuh. Sesekali Denaya menyapa petani yang berdiri di pematang sawah dengan melambaikan tangan dan disambut dengan anggukan kepala sopan oleh mereka.
...🎶Coba tanyakan lagi pada hatimu
...
...Apakah sebaiknya kita putus atau terus
...
...Kita sedang mempertahankan hubungan
...
...Atau hanya sekedar menunda perpisahan🎶
...
Denaya dan Via menyenandungkan reffren bagian terakhir lagu Judika bersamaan seperti anggota paduan suara, sesekali mereka saling melihat dan mengulas senyum. Via sudah benar-benar bisa relax sekarang, dia sangat menikmati proses belajarnya sambil bersenandung hingga ia tak sadar ada seorang wanita pengendara motor yang berpapasan dengannya dan melihatnya dengan wajah heran, nggak percaya, keget campur shock.
“Wow, kamu keren udah mulai lancar nih.” Puji Denaya yang juga ternyata nggak sadar pada si wanita pengendara motor tadi yang memperhatikan mereka karena saking asyiknya dia nyanyi-nyanyi.
Sementara si wanita pengendara motor yang tampak shock tak percaya itu menoleh ke belakang melihat mobil Om Jaka yang yang berjalan pelan.
“Itu kayak mobilnya si Jaka? Tapi kok Via yang nyetir?” Gerutu wanita pengendara motor yang tak lain adalah Bu Een.
Bu Een masih belum yakin dengan yang barusan dia lihat, sekali lagi dia menoleh ke belakang, mobil Om Jaka sudah menjauh.
“Iya bener si Via tadi, sama Denaya kayaknya. Kok dia bisa nyetir mobil sih? Sombong bener dia! Kayak punya mobil aja! Baru bawa mobil orang lain aja gayanya udah blagu begitu pake pura-pura nggak liat tadi!”
Bu Een semakin kesal, dia terus menggerutu seolah tak terima menantunya yang dibencinya itu tau-tau udah bisa nyetir mobil padahal dirinya yang ngebet banget pingin bisa nyetir makanya dulu dibela-belain beli mobil second punya Denaya, dan Sofi sang calon mantu kesayangan berjanji akan mengajarinya nyetir mobil, tapi nyatanya tu orang malah udah keburu kembali ke habitatnya sebelum sempat mengajarinya pegang setir mobil.
Saking dongkolnya Bu Een yang sibuk dengan pikiran-pikiran buruknya terhadap Via, di sampe nggak fokus pada jalanan. Bu Een nggak melihat seorang pengendara motor yang mengangkut karung padi yang tiba-tiba berhenti di pinggir jalan karena karung yang dibawanya tampak miring. Bu Een sekuat tenaga menarik rem mtor meticnya, namun terlambat.
NGIIIK…!!
“Awas….! Minggir..!”
GROSAK!
BRUUKK…!
BYUUUR….!!
Bu Een tercebur ke parit setelah menabrak motor bermuatan beberapa karung padi yang lagi berhenti di tepi jalan.
❤️❤️❤️❤️❤️
Wadoooohh ….!!!🤪🤪🤪
Omegot … omegooot…!!😱😱😱
Ayok buruan, siapapun tolongin Bu Een ….
Eeh ngapa malah pada diem aja, kesian kan Bu Een ntu nyungsep di parit....? 🤣🤣🤣🤣
Eeh, otornya malah ketawa jahat, maapin ya Bu Een😁😁😁
Okay, istirahat dulu ya. Nanti malam Insya Allah disambung up ke dua.😊😊😊
Terima kasih sudah membaca 🙏🙏🙏
__ADS_1
Jangn lupa untuk tinggalkan jejek…🤩🤩🤩
Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘