TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
61 #FLASHBACK


__ADS_3

BRAAK!!


Sofi membanting pintu kamar dengan keras.


Mirza sontak saja menghentikan aksinya dan melihat pada pintu kamar Sofi yang sudah tertutup rapat. Via mendorong suaminya, keduanya duduk saling pandang.


BRUG!


PRANG!


Sofi mengamuk seisi kamar, semua barang porak poranda menimbulkan suara berisik.


“Ayo kita lanjutkan di kamar, sayang.” Ajak Mirza.


“Mas!” Seru Via menatap suaminya tak habis pikir.


Mirza hanya memperlihatkan ekspresi datar.


“Ada apa?”


“Kamu nggak denger suara dari kamar Sofi, Mas?"


“Denger, kenapa emangnya?”


Via berjalan cepat hendak menuju kamar Sofi namun Mirza buru-buru mencegahnya. “Mau kemana?”


“Mau lihat Sofi.”


“Nggak Usah! Orang lagi ngamuk ngapain diliatin?”


Via menggeleng kesal. “Ini semua gara-gara kamu, Mas.”


“Bagus kan? Itu tandanya dia bakal segera pergi dari rumah ini.”  Mirza  tersenyum puas. “Sekarang lebih baik kita lanjutkan sesuatu yang tertunda tadi.” Lanjut Mirza sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Via.


Via langsung melotot kesal. Mirza malah tersenyum lebar.


“Ayolah, sayang. Ini harus segera dituntaskan. Sebab jika tidak, aku takut celanaku bakal robek-robek jadi kayak celananya Tarzan.”


“Dasar Otak mesum!”


Mirza terbahak seraya meraih pinggang Via untuk membawanya ke lantai atas.


Sementara itu dalam kamar Sofi yang berantakan, Sofi duduk di pojok ruangan menyandarkan punggungnya ke dinding dengan pipi basah dalam isaknya yang tertahan. Kepalanya tiba-tiba terasa berat dan telapak tangannya berkeringat dingin.


 


“Kurang Ajar!” Geramnya dengan tangan megepal kuat.


FLASHBACK ON

__ADS_1


Langkah-langkah sepatu high heels beradu dengan lantai marmer menciptakan suara berirama  yang menggema di lorong kamar lantai 8 Delta Cruise malam itu. Langkah itu berhenti di depan kamar 0112, senyum manis mengembang dari bibir si pemilik langkah ritmis yang tak lain adalah Sofia Alta Husein, diambilnya key card dari tas  kecilnya dengan bibir yang terus mengulas senyum. Namun belum sempat ia membuka pintu kamar itu, seorang cabin steward  keluar dari kamar itu  dan cukup terkejut melihat Sofi.


“Nona, apa Anda mau masuk ke dalam?” Tanya cabin steward  itu dengan raut seperti tak yakin.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Sofi balik bertanya.


Cabin steward  tak bergerak dari tempatnya berdiri seolah ingin menghalangi langkah Sofi untuk masuk.


Sofi memperlihatkan key card ditangannya. “Aku bisa keluar masuk kamar pacarku  sesuka hatiku. Kenapa kau sepertinya tak suka?” Sinis Sofi.


Cabin steward tak menjawab, Sofi melewatinya dengan sengaja menyenggol bahu si cabin steward yang kemudian segera meninggalkan kamar itu. Sofi menutup pintu bergegas mencari laki-laki yang sedari kemarin tak mau menerima telpon darinya itu.


Hamparan sprei putih bersih beraroma ocean fresh menyeruak memenuhi cabin Hanson, sel-sel syaraf Sofi relax dibuatnya.


Pasti si cabin steward barusan menggantinya, pikir Sofi. Lantas Sofi duduk di bibir ranjang king size itu seraya memejamkan mata dengan wajah menengadah ke atas, tangan kanannya mengusap lembut sprei putih bersih itu. Terbayang olehnya Hanson pasti akan terkejut melihatnya berada di kamar setelah pertengkaran mereka dua hari lalu.


“Aku yakin kamu masih menginginkanku.” Gumam Sofi dengan senyum kecilnya lantas ia merebahkan diri di atas kasur itu.


Namun tak terlalu lama Sofi lena dalam angannya yang kepedean itu, ia mendengar suara samar di telinganya. Sofi membuka mata dan menajamkan pendengarannya.


“Hanson?” Lirih Sofi mengernyitkan dahi.


Kamar bertipe suite itu masih senyap, lalu suara samar  terdengar lagi. Sofi mengitari ruangan berukuran luas 16 meter persegi itu. Bath room, dressing room, coastal kitchen tak ada siap-siapa.


Tap tap tap …


JRENG!


Mata Sofi terbelalak menyaksikan adegan dua orang yang sepertinya sedang melakukan olah tubuh, ehh … olah raga yang kesiangan itu. Keduanya hanya memakai bikini. Hanson, pria berambut pirang itu tampak menyandar di kursi dengan seorang wanita berkulit eksotik, berdada penuh yang hampir tumpah duduk di pangkuannya menikmati setiap aksi bibir dan kedua tangan Hanson yang marayap ke segala penjuru hutan gunung sawah dan lautan yang dimilikinya. Si perempuan berdada penuh yang hampir tumpah itu merem melek sambil mengeluarkan suara-suara kecil, kadang mendesah manja, kadang merintih gemas, kadang meringkik bak kuda kelaparan dan mengembik bak kambing minta dikawinkan.


Sungguh pemandangan yang mampu membuat Sofi merasa bagaikan baru saja disambar petir, kemudian diterjang tsunami lalu berakhir dengan digilas tronton hingga menjadi remahan peyek yang berakhir di tempat pembuangan akhir Bantar Gebang. (Kurang dramatis kah? maaf ya …, wkwkwkk 🤣🤣🤭🤭).


“Bajaayy!” Teriak Sofi dengan emosi yang sudah tak bisa dibendung lagi. Matanya menatap nyalang, nafasnya tak beraturan.


Kedua manusia yang lagi olah raga kesiangan itu kontan saja melihat ke arah Sofi dengan keterkejutan maksimal.


“Sofi?” Ucap Hanson dengan matanya yang membulat kaget.


Si perempuan langsung berdiri dan membenahi celana da**mnya yang sudah melorot kesana kemari tak tentu arah.


“Siapa dia?” Tanya perempuan itu pada Hanson karena kaget dan heran mengapa tiba-tiba ada orang nyelonong masuk mengganggu olahraganya.


“Kau yang siapa?” Sofi maju dengan wajah bringas hendak menjambak rambut perempuan berkulit eksotik berdada penuh yang hampir tumpah itu.


Namun Hanson cepat mencekal tangan Sofi dan menyembunyikan partner olah raganya itu di balik punggungnya.


“Kenapa kamu ke sini? Kita sudah selesai!” Ujar Hanson dingin.


Sofi menggeleng kuat, air matanya tumpah ruah.

__ADS_1


“Tidak! Aku tak terima kamu meninggalkan aku hanya gara-gara perempuan bi**l ini!” Teriak Sofi masih sambil berusaha meraih rambut pesaingnya dengan tangan kirinya.


Namun lagi-lagi Hanson sigap menangkap tangan Sofi, jadilah kedua tangan Sofi tak berdaya. Hanson lalu menghempaskannya.


“Apa kau merasa lebih baik darinya? Siapa kau memangnya?”


Sofi tak menyangka Hanson berkata seperti itu.


“Kita sudah selesai!” Seru Hanson lagi. “Aku sudah membayarmu secara profesianal, dan sekarang kau bukan lagi tour guide-ku. Pergilah, kau bebas. Aku tak mungkin menghabiskan waktuku dengan perempuan lemah sepertimu.”


“Kau … dasar laki-laki bre****k!” Sofi menyerang Hanson dengan pukulan memababi buta. “Katakan kalau itu hanya alasanmu saja untuk mencampakkanku! Katakan! Penyakitku jangan kau jadikan alasan, kau hanya ingin berkencan dengan wanita ja**ng itu saja, kan?” Tunjuk Sofi pada si perempuan yang masih ngumpet di balik punggung kokoh Hanson.


“Sofi, cukup!” Bentak Hanson mendorong Sofi menjauh darinya. “Hubungan kita adalah hubungan kerja secara profesional, kau menerima bayaran untuk itu. Dan yang terjadi dengan hubungan pribadi kita itu hanya atas dasar suka sama suka, jadi kamu sama sekali tidak berhak melarangku untuk berkencan dengan siapapun!” Tegas Hanson berapi-apai.


“Aku tidak terima! Aku tidak terima! Aku masih ingin bersamamu!” Sofi meracau masih terus berusaha menyerang Hanson namun dengan tubuh yang makin melemah.


Hanson menggiring partner olah raganya ke sudut balcony yang berukuran luas tiga meter itu menjauh dari Sofi yang masih menangisi keadaannya sendiri.


Hanson melihatnya tak peduli, terlebih lagi dengan perempuan berkulit eksotis berdada penuh hampir tumpah itu. Ia memandang Sofi dengan senyuman penuh kemenangan.


“Kau boleh pergi dari sini.” Ucap Hanson sedikit melunak. “Kecuali …”


Hanson sengaja tak melanjutkan kalimatnya, ia meraih pinggang ramping parempuan didepannya dan menepelkan tangan kiri si perempuan itu untuk menyentuh bagian pribadinya yang sedari tadi menegang menunggu waktu untuk melakukan eksekusi pada wadah yang tepat.


FLASHBACK OFF


_______________ ambil nafas dulu akak 😅


makasih udah setia baca karyaku kak 🙏❤️


jangan lupa tinggalkan like, komen, rate 5 dan votenya ya 😘😘


mohon maaf jika ada yang belum sempet aku feedback ya kak 🙏


Insya Allah segera meluncur ke karya akak author semua 🤩😍


luv u all 🤗🤗😘😘


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2