TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
124 #GEH WEG VON HIER!


__ADS_3

Tap tap tap…..


Langkah-langkah Sofi diayun mantap menuju ruang tamu walau dnegan hati penuh tanya.


Ketika sampai di ambang ruang tamu, Sofi menghentikan langkahnya karena sepertinya mengenali pria yang duduk bersama Arumi itu.


Dalam sepersekian detik, pria yang menyadari kehadiran Sofi itu langsung menoleh. Pandangan mereka bertemu dan sama-sama tak dapat saling menyembunyikan keterkejutan mereka masing-masing.


“Sofia …” Lirih Hanson sambil bangkit perlahan dan tak lepas pandangan kedua netranya dari sosok perempuan cantik yang dahulu selalu mengisi hari-harinya.


Begitu yakin dengan sosok pria yang dilihatnya, Sofi melanjutkan langkahnya perlahan. Pun dia tak lepas dari mata Hanson yang mengekornya hingga tepat berdiri di depan Hanson. Sofi coba berdiri tegak walau ia merasakan kedua kakinya bergetar seolah tak mampu menopang berat tubuhnya. Darahnya berdesir, kilasan peristiwa masa lalu bermunculan seolah berebut hendak meloncat keluar dari dalam kepala. Lalu kala semuanya mencapai puncaknya…


PLAAKK!!


Satu tamparan telak didaratkan olehnya tepat di pipi kanan Hanson.


Hanson yang tak menyangka dengan tamparan Sofi itu kaget bukan kepalang. Telapak tangan Sofi membekas sempurna di kulit pipinya yang putih. Sedangkan Arumi hanya melongo, mulutnya seolah tak mampu terkatup lagi melihat adegan dramatis itu.


"Wie kannst du es wagen, vor mir zu erscheinen! Du Hurensohn!" (Beraninya kamu menampakkan diri di depanku!


Dasar laki-laki baji**an!) Geram Sofi dengan mata berkilat penuh amarah.


Hanson mengusap pipinya yang terasa panas. Namun raut wajahnya sama sekali tak menampakan emosi, sorot matanya memohon.


“Meine Geliebte. Vergib mir. Es tut mir so leid." (Sayangku, maafkan aku. Aku sangat menyesal).


“Was ist der Grund, warum ich dir vergeben muss? Warum kommst du jetzt wieder in mein Leben, nachdem du mich wie Müll abgeladen hast?" (Apa alasanku harus memaafkanmu? setelah kau mencampakkanku seperti sampah, kenapa baru sekarang kamu datang lagi dalam hidupku?). Rahang Sofi mengeras, giginya gemerutuk menahan kobar amarah yang sebentar agi akan meledak.


"Weil ich weiß, dass du mich immer noch sehr liebst." (karena aku tahu kamu masih mencintaiku). Sahut Hanson dengan mata sayu seraya hendak meraih tangan Sofi, namun…


 PLAAK!!!


Kembali satu tamparan pedas dilayangkan Sofi, kali ini di pipi kiri Hanson. Impas! Kanan kiri kini pipi Hanson ada cap lima jari dari Sofi. Wow, keren! 🤭🤭


Hanson tak marah sedikitpun, dia masih tegak menatap manik mata perempuan yang ia yakin masih menyimpan perasaan padanya dengan tatapan sendu.


"Ich weiß, dass ich das verdiene, Sofia. Gott hat mich sogar für meine Einstellung zu dir bestraft. Ich bin jetzt kein Mann ..." (Aku tahu, aku pantas menerima ini, Sofia. Tuhan bahkan sudah menghukumku atas sikapku padamu. aku sekarang bukan lagi laki-laki yang...)


“Genug! Ich will kein weiteres Wort von dir hören, es ist mir egal.“ (cukup! aku nggak mau dengar apa-apa lagi darimu. aku nggak peduli sama kamu!) Potong Sofi murka.


"Bitte hör mir zuerst zu, Sofia.“ (tolong dengarkan aku dulu, Sofia.) Ucap Hanson mengiba.


"Geh weg von hier!“ (pergi dari sini!). Geram Sofi dengan tangan mengepal seolah siap melayangkan serangan lagi ke wajah Hanson.


"Bitte verzeih mir. Es tut mir so leid, Sofia.“ (aku mohon maafkan aku. Aku sangat menyesal, Sofia.) Kali ini Hanson dengan nada mulai memaksa.


"Bist du taub? Ich sagte, verschwinde von hier! Ich will dein Gesicht nicht wieder sehen!“ (apa kamu tuli? Aku bilang pergi dari sini! aku enggak mau lihat tampangmu lagi!).


Mati-matian Sofi berusaha menguasai dirinya agar tak meledak, dadanya sampai turun naik karena emosi yang hampir sudah tak bisa dibendungnya lagi. Ia takut kalau pertikaiannya dengan Hanson sampai terdengar oleh Ramzi dan mertuanya.


"Eemh, apa kalian nggak bisa bertengkar pakai bahasa indonesia aja? Soalnya di bawah ini nggak ada teks terjemahannya." Celetuk Arumi yang sedari tadi hanya menyaksikan mereka berdua berdebat dengan kata-kata yang sama sekali tak dipahaminya.


Nicht!“ (Nggak!). Sahut Sofi dan Hanson hampir berbarengan.


Arumi ampe kaget. Kenapa mereka kompak banget?


"Kalo gitu, bisa tolong terjemahkan apa yang kalian omongin barusan? Aku nggak ngerti, hehe...“ Lanjut arumi konyol.


Sofi menghela nafas panjang, mencoba menghirup oksigen untuk mengendorkan sel-sel syarafnya yang menegang. Hanson nampak gusar karena tak berhasil mendapat kata maaf dari Sofi.


"Tolong bawa dia pergi dari sini.“ Ucap Sofi pada Arumi.


"Oke. Dengan senang hati.“ Sahut Arumi enteng. "Ayok!“ Arumi menarik lengan Hanson.


Namun Hanson menepis Arumi.


 "Aku mau tahu satu hal.“ Hanson menatap Sofi sejurus. "Bayi siapa yang pernah kamu kandung?“ Tanya Hanson dingin.


Sofi seketika melotot. "Apa maksudmu?“


"Aku yakin itu pasti anakku.“ Ucap Hanson dengan seringai aneh.


"Jaga bicaramu!“


"Kenapa kau menggugurkannya?“ Tatapan Hanson mengintimidasi.


"Kau ini bicara apa? Dasar laki-laki sinting!“


 Hanson maju menarik paksa Sofi untuk melihat pada wajahnya. Sofi coba berontak, namun lengan kekar Hanson membuat Sofi susah melepaskan diri walau terus meronta.


"Aku yang menghamili mu!“ Lirih Hanson dengan wajah yang sangat dekat.

__ADS_1


 Sofi terdiam seperti baru saja tersihir.


"Kau ingat malam saat kau mabuk di club dan terus meracau bersama Ludwig?“ Sinis Hanson, pegangan tangannya mulai mengendor.


Memori Sofi memutar otomatis kejadian malam itu. Matanya mencari kesungguhan pada kalimat yang dilontarkan Hanson.


"Aku minta Ludwig membawamu ke kamarku. Dan aku melakukannya untuk yang terakhir kalinya padamu.“ Ucap Hanson meyakinkan. "Dan tanpa pengaman.“ Lanjutnya penuh penekanan.


BRUUK!!


Sofi mendorong tubuh Hanson hingga terjengkang.


"Mimpi kamu!“ Sinis Sofi.


"Kau tak percaya?“ Hanson bangkit. "Tanyakan pada Ludwig.“


Sofi menyeringai. "Lalu kalau itu anakmu, kau mau apa sekarang? Bukannya kau sudah membuangku? Kita tak ada urusan lagi!“


"Iya, bener. Dengerin tuh! Bandel banget sih kamu bule, udah aku bilangin juga.“ Timpal arumi iba-tiba.


"Cepat bawa dia pergi!“ Ucap Sofi pada Arumi. "Pintu keluar ada di sebelah sana!“ Lanjut Sofi sambil mendongakkan dagu ke arah pintu. Lalu dengan langkah lebar meninggalkan Hanson dan Arumi.


"Udah yok, kita pulang aja! Kan masih ada aku?“ Arumi menggamit lengan Hanson. "Sofi udah punya raja minyak yang pastinya juga pisangnya lebih besar dan panjang. Dia nggak bakalan mau lagi sama pisangmu yang udah layu. Ayok, cepet pergi dari sini.“ Arumi menggeret Hanson.


Diluar dugaan, Hanson melepas paksa tangan Arumi dari lengannya dan berlari menyusul Sofi yang sudah mencapai anak tangga.


"Tunggu, Sofia!“ Seru Hanson yang tak ayal membuat langkah Sofi terhenti dan berbalik melihatnya. "Aku harus membuat perhitungan denganmu.“


"Apa maksudmu?“ Dahi Sofi mengernyit.


"Kamu dengan sengaja menghilangkan benihku yang ada dirahimmu demi menikah dengan laki-laki kaya kan? Kamu sengaja membunuh darah dagingku karena kebencian mu padaku, iya kan? Kejam kau, Sofia! Aku akan membalas kekejaman mu itu!“


"Ngomng apaan sih kamu? Pede banget kamu kalo itu anak kamu!“ Ejek Sofi.


"Karena aku yang melakukannya!“


"Aku juga melakukannya dengan laki-laki lain! Dan itu dengan dasar cinta! Kami melakukannya secara sadar, bukan karena aku mabuk seperti katamu! Cih, dasar bule sakit jiwa!“ Maki Sofi benar-benar jengkel.


"Sayangku, ada apa ribut-ribut?“ Ramzi menghampiri dengan langkah lebar.


Sofi terkejut dari mana gerangan suaminya itu nongol. Namun dia segera bersikap biasa, mencoba bersikap setenang mungkin.


Hanson melihat pada Ramzi dengan tatapan tak suka.


Jadi ini tampang suami Sofi? Gantengan aku kemana-mana. Cuman menang brewok doang! Huh, kalo itu sih aku juga bisa pake obat penumbuh bulu biar bisa brewokan sampe ke jempol-jempol kaki. Cibir Hanson dalam hati.


"Cintaku, ayo kita pulang.“ Arumi segera menghampiri dan bergelayut mesra di lengan Hanson membuat Ramzi yang sempat merasa heran dengan tatapan Hanson barusan langsung percaya kalo laki-laki yang di depannya itu adalah pacarnya teman Sofi.


"Halo, Tuan ... kita ketemu lagi, ya. Apa kabar?“ Sapa Arumi sok kenal.


Ramzi sedikit mengernyit, coba mengingat siapa perempuan di depannya itu.


"Kita pernah ketemu di Rumah Sakit ...“


 "Ah, ya! Aku ingat.“ Pungkas Ramzi.


"Oke, karena udah malem, kita pamit dulu ya. Sampe ketemu ya, Sof. Bye...!“ Arumi melambaikan tangan dan menarik paksa Hanson yang masih alot.


Sofi menatap kepergian mereka dengan nafas lega. Ramzi segera meraih pinggang istrinya.


Sayangku, bersiaplah untuk makan malam. Setelah itu kita akan bertempur.“ Bisik Ramzi yang sekonyong-konyong membuat bulu hidung Sofi merinding.


Sofi menyeringai canggung, namun kemudian dia ingat akan satu hal yang membuatnya tersenyum. Maka dibelainya dada bidang suaminya yang masih terbungkus kemeja itu.


“Baiklah. Kau juga sebaiknya bersiap dengan permainanku yang terbaru, Kak.”


Mata Ramzi langsung membulat. “Kau punya jurus baru?”


Sofi mengangguk sambil sok tersipu malu-malu, membuat Ramzi melebarkan senyumannya lantas menggandeng pinggang ramping istrinya menaiki anak tangga.


Sementara itu di luar, Arumi dan Hanson yang baru saja masuk mobil tak luput dari perhatian Tuan Alatas yang sedang memandangi mereka dari balkon kamarnya.


“Cepat jalan! Aku nggak mau dengar kamu dimaki-maki lagi sama Sofi!" Ketus Arumi.


“Dia harus membayar semua perlakuannya pada anakku yang sudah dilenyapkannya.” Hanson mencengkeram kemudi dengan nafas memburu.


“Dia tadi bilang kalo itu bukan anakmu!”


“Terserah! Tapi aku yakin bayi itu anakku!” Kesal Hanson. “Seharusnya aku punya keturunan, tapi dia dengan sengaja membunuhnya. Kau tahu kan keadaanku sekarang? Hidupku rasanya benar-benar hancur! Aku pun harus membuat Sofia hancur!” Mata Hanson nanar menatap lurus jalanan.


“Sudah, nggak usah ngomel mulu. Aku tahu caranya gimana bisa bikin kamu perkasa lagi.” Ucap Arumi santai.

__ADS_1


Hanson melirik arumi. “Kalau urusanku sudah selesai, aku akan pulang ke Jerman untuk berobat.”


“Ngapain jauh-jauh ke Jerman?”


“Teknologi kedokteran di negaraku jauh lebih canggih daripada disini.”


“Jangan  terlalu yakin. Kau perlu mencoba dulu tawaranku.” Sarkas Arumi dengan wajah yang dibuat sok berteka-teki, tapi Hanson sudah tak peduli. Kekesalannya masih mengisi hati dan pikirannya.


 


❤️❤️❤️❤️❤️


 


Malam merambat perlahan, sesuai kesepakatan sore tadi. Ramzi dan Sofi akan bertempur habis-habisan malam ini.


“Sayangku, apa kau sudah siap?” Tanya Ramzi yang barusan masuk kamar.


“Sebentar, Kak. Aku menunggu susu sedang dibuatkan oleh pelayan.” Ucap Sofi mematut diri di depan cermin.


“Sejak kapan kau suka minum susu sebelum tidur?” Ramzi melingkarkan tangannya di pinggang Sofi.


“Biar kita semakin strong, Kak.”


“Kita? Kau meragukan kemampuanku?” Heran Ramzi.


Tok tok tok …


Pelayan mengetuk pintu dari luar.


Sofi melepaskan tangan Ramzi perlahan dan bangkit menuju pintu untuk mengambil sendiri susu pesanannya.


“Kak, bisa kau pilihkan lingerie yang akan aku pakai malam ini?” Pinta Sofi sedikit merajuk.


Ramzi tentu saja bersemangat, dengan senyuman dia segera memilihkannya untuk istrinya. Kesempatan itu digunakan Sofi untuk menaburkan obat tidur pada gelas susu milik Ramzi lalu cepat –cepat mengaduknya.


“Ini, istriku.” Ramzi kembali dnegan lingerie berenda berwarna tosca.


“Hmm, sekarang minumlah susunya dulu, Kak.” Sofi memberikan segelas susu pada Ramzi.


Agar Ramzi tak curiga, Sofi juga minum segelas susu yang satunya. Setelah Ramzi menghabiskannya, Sofi meminta Ramzi membersihkan diri dulu.


“Apa kita tak bisa langsung melakukannya saja, Sayangku?” Ramzi tak sabaran.


“Aku ingin kita melakukannya dengan keadaan bersih dan harum.”


“Baiklah, tunggu aku ya.” Ramzi segera masuk kamar mandi.


Sofi tersenyum. Dasar brewok mesum! Mau aja aku kadalin!


Lima menit berlalu, Ramzi keluar dengan wajah segar.


“Sekarang giliranku. Tunggu sebentar ya, Kak.” Sofi mengerling manja sambil menenteng lingerinya menuju kamar mandi.


Ramzi yang sudah harum, merebahkan tubuhnya yang bertelanjang dada di atas kasur busa. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, Sofi belum juga keluar.


“Hoaahmmm….” Ramzi menguap lebar, lantas melirik pada pintu kamar mandi yang masih tertutup. “Hooaaahmm…” Ia menguap sekali lagi hingga matanya berair.


Beberapa menit kemudian Sofi mengintip dari balik pintu kamar mandi dan setelah memastikan suaminya sudah tertidur, ia baru keluar. Terdengar dengkuran halus Ramzi, agaknya lelah dan pengaruh obat tidur dengan dosis ekstra membuatnya langsung melayang ke alam mimpi.


Dengan sedikit kesusahan, Sofi melepas boxer Ramzi agar meyakinkan saat suaminya bangun nanti seolah mereka telah benar-benar melakukannya.


“Wow! Emang size nya super!” Gumam sofi melihat milik suaminya. “Pantes aja selalu bikin aku lecet-lecet. Sekarang rasakan, kamu tak dapat berkutik lagi wahai singkong bakar!” Omel Sofi yang lantas menarik selimut untuk membungkus tubuhnya dan suaminya seraya tersenyum puas karena berhasil menggagalkan serangan suaminya yang memiliki singkong bakar berukuran super itu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Naaah.... begitulah 😆😆😆


Maaf ya Kak.... jika ada kesalahan dalam penerjemahan. 🙏🙏🙏


kriting, kriting dah tuh bibir gegara coba-coba baca pertengkaran Sofi sama Hanson pake bahasa Jerman 🤭🤭🤭


ok, terima kasih yang sudah support othor sampai sejauh ini.😍😍😍


jangan lupa tinggalkan jejak, luv u all 🤗🤗🤗😘😘


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2