
Om Jaka dan Bu Een turun dari motor dan langsung disambut oleh Pak Haji Barkah sendiri. Bu Een langsung menyampaikan maksud tujuannya tanpa basa basi lagi begitu mereka duduk di ruang tamu.
“Ini uangnya, silakan dihitung lagi Pak Haji.” Bu Een memberikan amplop coklat besar dan tebal itu pada Haji Barkah.
Seorang perempuan muda datang membawa nampan dengan tiga cangkir teh hangat diatasnya dan meletakkan satu per satu cangkir itu di atas meja tamu.
“Silakan di minum airnya, Pak, Bu.” Ucap perempuan muda itu seraya menyunggingkan senyum.
Om Jaka dan Bu Een mengangguk membals senyum juga.
“Ini Denaya putri Pak Haji, kan?” Tanya Bu Een kemudian.
“Iya, Bu.” Sahut Denaya masih dengan senyum.
“Dena, tolong ambilkan mesin penghitung uang.” Pinta Pak Haji pada perempuan bernama Denaya itu.
Denaya mengangguk kemudian masuk ke dalam dan tak berapa lama muncul lagi dengan mesin pengitung uang berbentuk kotak yang tidak terlalu besar. Denaya meletakkan mesin itu di atas meja kecil dekat ayahnya dan mencolokkan kabelnya.
“Tolong dihitung uangnya, Nak.” Pak Haji menyerahkan amplop coklat pada Denaya.
Denaya mulai menghitung satu persatu dua bendel uang ratusan ribu itu. Masing-masing bendelnya berisikan sepuluh gepok dan satu gepoknya berisi seratus lembar.
Cklek! Krrrrrk!
Cklek! Krrrrrk!
Bunyi mesin itu terdengar merdu di telinga Bu Een.
Emang ya, beda aja kalo orang kaya raya mah. Buat ngitung duit aja sampe punya mesin hitung sendiri. Bener-bener tajir nih Pak Haji duda ini.
Bu Een senyum-senyum membatin sendiri sambil memperhatikan Denaya yang sedang menghitung uang.
Layar digital kecil di mesin itu menujukkan angka 100 setiap kali selesai menghitung segepok uang yang masih berlebel Bank Rakyatnya Indonesia itu.
“Uangnya pas, Yah. 200 juta.” Ucap Denaya pada ayahnya.
Pak Haji mengangguk lalu mengangkat cangkir tehnya. " Ayo diminum dulu Bu, Mas."
Bu Een dan Om Jaka ikut mengambil minuman mereka, hangat langsung terasa membasahi tenggorokan dan kerongkongan mereka.
Pak Haji lalu menulis pada selembar kwitansi yang sudah ia siapkan.
Sret sret! Satu tanda tangan ia bubuhkan di atas materai dan memberikannya pada Bu Een.
“Ini tanda terimanya untuk ibu simpan. Barangkali Ibu memerlukan surat jual belinya juga nanti Dena yang urus, untuk sementara saya baru menyiapkan ini dulu, Bu.” Papar Pak Haji.
“Ini saja sudah cukup, Pak Haji. Kita saling percaya aja, kita niatkan jual beli ini karena Allah.” Sahut Bu Een dengan senyum termanisnya.
Om jaka mencibir dalam hati.
Halah, sok religius lu, Yu! Lagak lu kayak ustadzah pengajian di masjid kelurahan. Dasar caper!
“Nak, tolong ambilkan kunci dan surat-surat mobilnya di kamar Ayah.” Pinta Pak Haji lagi pada Denaya.
Denaya masuk, Bu Een menatap punggung perempuan muda itu berambut panjang ikal terurai itu.
“Denaya cantik sekali ya, Pak Haji. Mirip dengan almarhumah Bu haji Barkah.” Ucap Bu Een.
Nah, kan! Mulai peres deh! Dasar tua-tua juga pandai cari muka si mabakyu ini.
__ADS_1
Pak Haji mengembangkan senyum lalu menarik nafas berat.
“Sayangnya sampai sekarang belum berkeluarga. Sepertinya belum ada laki-laki yang cocok dengannya.” Lirih Pak haji mungkin takut terdengar Denaya.
Seketika Bu Een menegakkan duduknya.
“Masih single maksudnya?” Ucap Bu Een antusias sekali entah Pak Haji Barkah menyadarinya atau tidak.
Pak Haji hanya mengangguk pelan.
Kemudian Bu Een mulai sibuk dengan pikiran-pikiran jahil dikepalanya, Om Jaka meliriknya curiga.
“Oya, kalo ini siapanya Bu Endang? Kok saya sepertinya baru pertama kali ketemu.” Ucapan Pak Haji Barkah menyadarkan Bu Een.
“Oh, ini Jaka adik saya, Pak Haji. Sedari remaja memang sudah merantau ke Jakarta, ini kebetulan saja lagi pulang dia.” Jelas Bu Een.
Pak Haji Barkah manggut-manggut. “Ya memang kalau sudah berkeluarga emang kadang suka lupa kampung halaman ya?” Pak Haji sedikit bergurau.
Om Jaka tertawa kecil. “Nggak juga, Pak Haji. Saya cukup sering bolak balik ke sini, istri saya sudah meninggal beberapa tahun lalu.”
“Oh, maafkan ya Mas Jaka.” Pak Haji sedikit menyesal.
“Nggak papa Pak Haji, saya udah move on kok.” Om Jaka nyengir. “Niatnya sih mau cari pasangan lagi, tapi belum dapat yang cocok.”
“Kalau begitu saya doakan Mas Jaka cepat dapat pendamping baru ya, biar ada yang bantu jaga anak-anaknya.”
“Oh, kebetulan juga saya nggak punya anak dari pernikahan dengan almarhumah istri saya, Pak Haji.”
Pak haji sedikit kaget, dia merasa bersalah untuk yang kedua kalinya.
“Makanya saya pengen cari pendamping lagi biar bisa punya anak. Jadi ada yang nerusin bisnis properti saya nanti.” Ungkap Om Jaka blak-blakan.
Om Jaka balas tersenyum, tanpa ia tau Bu Een mulai sinis.
“Yah, ini kunci mobil dan surat-suratnya.” Denaya muncul membawa barang yang diinginkan ayahnya.
“Oh, berikan pada Bu Endang, Nak.” Pinta Pak Haji.
Denaya pun memberikannya pada Bu Een.
“Makasih ya, Nak Denaya. Kapan-kapan main ke rumah Ibu ya.” Ucap Bu Een.
“Insya allah, Bu.”
Setelah di rasa cukup, Bu Een dan Om Jaka langsung pamit. Om Jaka mengendarai mobil yang baru di beli Bu Een, sedangkan Bu Een sendiri mengikuti di belakang dengan motor maticnya. Maklum lah meski ngebet pingin beli mobil, tapi Bu Een sama sekali belum bisa nyetir.
Ponsel Om Jaka berbunyi sehingga mengganggu kekhusykannya menyetir. Nama Udin terpampang jelas pada layar ponselnya
“Ya, Halo, Din.” Sapa Om Jaka. “Apa?” Lanjut Om Jaka kaget bukan main setelah mendengar perkataan Udin diari seberang.
Klik!
Om Jaka langsung mematikan telpon dan tancap gas.
“Wah, gila tuh si Jaka! Kok langsung ngebut ngacir gitu!” Bu Een keheranan demi melihat mobil barunya yang langsung dibawa ngebut sama Om Jaka.
Bu Een pun lantas ikutan tarik gas menyusul Om Jaka sampai kerudung lebarnya berkibar-kibar persis kayak sayap supermen kalo lagi terbang.
SREET!
__ADS_1
Om Jaka berhenti tepat di depan rumah Bu Een dan bergegas turun. Udin langsung menyongsong menghampiri Om Jaka dengan raut khawatir.
“Kenapa kamu bawa dia ke sini?” Tanya Om Jaka pada Udin.
Sofi yang menunggu di teras berdiri dan ikut menghampiri. “Aku yang minta dia bawa aku ke sini, Om.” Sahut Sofi.
Om Jaka mengusap rambutnya gusar. “Kita pulang ke Jakarta sekarang.”
“Nggak.” Sofi menggeleng kuat.
“Sofi, dengan keadaanmu yang seperti sekarang ini lebih baik kamu berada di tengah keluagamu sendiri.” Ungkap Om Jaka.
“Ibu Een sebentar lagi juga akan menjadi keluargaku, Om.” Sahut Sofi.
Om Jaka semakin gusar. “Kamu sadar nggak, tindakanmu ini bisa mengahancurkan rumah tangga Mirza dan Via.”
Sofi hanya mengangkat bahunya cuek.
Udin garuk-garuk kepala nggak gatel, dia jadi bingung sebenarnya permasalahan apa yang sedang terjadi.
“Om, Mbak Sofi ini sebenarnya siapa?” Tanya Udin polos tak bisa menyembunyikan penasarannya.
Om Jaka bingung mau jawab apa.
“Aku calon istrnya Mirza.” Sahut sofi penuh percaya diri.
“Waaaat?” Udin memasang tampang kaget bukan kepalang. “Istri?”
Belum hilang kekagetan Udin, satu motor berhenti dan suara cempreng yang membahana memekakan telinga segera menghampiri.
“Oh, bagus kamu ya, Din! Hari gini baru nongol? Kemana aja kamu dari kemarin, hah? Awas aja, gaji kamu bulan ini saya potong lima puluh persen!” Cerocos Bu een kesal pada Udin. “Jangan protes! Berani protes saya potong jadi 70 persen!” Ancam Bu Een yang melihat Udin mau buka mulut.
“Jangan galak-galak lah, Yu. Saadis amat sampean itu sama si Udin.” Ucap Om Jaka. “Kasian dia, lama-lama bisa jantungan, kena stroke terus mati. Nanti siapa yang bantuin sampean kalo dia sampe mati? Gue yakin kalo orang lain pasti nggak ada yang betah kerja sama sampean yang cerewetnya ngalahin petasan renceng.”
Bu Een langsung ngiyem.
Si udin meski seneng dibelain Om Jaka tapi rada serem juga. “Belain sih belain Om, tapi jangan nyumpahun aku kena stroke terus mati dong. Kan aku belum nikah.” Udin pasang tampang sedih.
Bu Een melihat pada Sofi yang sedari tadi hanya diam. Dia baru ngeh kalo ada perempuan cantik di dekat Udin.
“Din, ini siapa? Kok dari kemarin kamu ngilang terus nongol tau-tau bawa cewek cantik?” Tanya Bu Een pada Udin penasaran. “Jangan bilang kalo ini pacar kamu, ya. Aku rasa dia khilaf seumur hidup kalo sampe mau jadi paar kamu.” Lanjut Bu Een dengan tatapan 100% nggak percaya memandang Udin dan Sofi bergantian.
“Kenalkan, Bu. Saya, Sofi.” Sofi memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan pada Bu Een.
Bu Een ragu menerimanya.
Sofi mencium punggung tangan Bu Een, Om Jaka disergap perasaan khawatir tingkat dewa dewi.
“Nak Sofi beneran pacarnya Udin?” Tanya Bu Een ragu.
Sofi menggeleng. “Saya calon istrinya Mirza.”
JLEDER!!
___________
bersambung 😉
Jangan lupa selalu like, komen, rate 5 dan vote ya akak-akak semua yang baik hati 😘😘🤗🤗
__ADS_1
Terima kasih selalu support author sampai sejauh ini 🙏🙏❤️❤️🌹🌹