TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
225 #NYUSULIN SOFI


__ADS_3

Berbincang dengan Sofi membuat pikiran Azad acak-acakan, ditambah lagi kondisi perusahaan yang sedang mengalami masalah tak kunjung selesai membuatnya semakin kacau. Ia menenggelamkan dirinya pada kursi empuk singgasananya. Tubuhnya merosot seolah tak hendak beranjak dari sana padahal jam pulang kantor sudah berlalu sejak tadi. Sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga Husein, Azad jelas memikul tanggungjawab besar untuk mengembalikan kejayaan perusahaan keluarganya setelah diporakporandakan oleh Alatas.


Tuk tuk


Suara ketuka pada daun pintu ruangan Azad terdengar, wajah sekretarisnya muncul setelahnya.


“Pak, apa Anda masih membutuhkan sesuatu?” Tanya sang sekretaris.


Mengangkat wajah malas lantas menggeleng lesu.


“Emh, apa saya boleh pulang duluan?” Agak tak enak hati karena harus meninggalkan bosnya pulang lebih dulu.


“Heem.” Mengangguk samar, sang sekrearis pun segera keluar ruangan.


Percakapannya dengan sofi beberapa saat lalu masih terngiang-ngiang di telinga Azad. Uang 100 juta bukanlah jumlah yang sedikit. Apa dia rela merogoh kas perusahaan demi kakaknya? Lantas bagaimana keuangan perusahaan jika ia nekad mengambilnya? Tapi jika kakaknya tak dituruti, ia khawatir dengan kondisi calon keponakannya. Apa dia harus mengatakan pada sang ayah? Ah, tidak! Tuan Husein kondisinya sedang sangat prima, ia bahkan kelihatan bugar dari yang sebelum-sebelumnya. Azad tak mau ayahnya kepikiran. Beberapa kali Tuan Husein meminta ijin pada Azad untuk kembali ke perusahaan, namun Azad masih belum memperbolehkannya. Azad hanya khawatir ayahnya akan dilanda kelelahan dan stress jika harus bekerja lagi.


Tuk tuk tuk


Ketukan kembali terdengar pada daun pintu ruangan Azad.


“Ah, ada apalagi si Thalia? Bukanya tadi dia udah pamit pulang?” Gumam Azad setengah heran.


Tuk tuk tuk


Sekali lagi terdengar ketukan pintu.


“Masuk.” Sahut Azad setelah melihat jam di atas mejanya menunjukkan puku 17.10.


“Azad.” Sapa satu suara yang membuat Azad langsung bangkit. “Aku tadi menunggumu di lobi, aku kira – “


“Ada apa kau kesini?” Memotong dengan ketus.


“Aku mau bicara soal kesalahpahaman dengan Sofia.”


Melengkungkan senyum sarkas. “Sudah terlambat!” Meraih jas dan tas kerjanya.


“Tunggu. Aku mohon, kasih aku kesempatan untuk menjelaskan.” Menahan lengan Azad.


“Lepas, Jane!” Menatap dingin.


“Aku sungguh merasa bersalah, dia pergi karena salah paham.”


“Aku bilang sudah terlambat, nggak ada gunanya kamu jelasin sekarang. Kemarin-kemarin kamu kemana aja?”


Jane melepaskan lengan Azad, tertunduk menyesal. Ia membenarkan semua kelimat Azad. Seharusnya sejak saat itu ia langsung mengklarifikasinya. Entahlah, perasaan bersalahnya baru mendera belakangan ini.


Azad meninggalkan ruangan dengan langkah lebar, ia tak ingin menggubris keberadaan Jane yang semakin membuat pikirannya semrawut. Tergesa Jane menyusul langkah Azad menuju lift. Suasana kantor sudah lengang. Mereka di dalam lift hanya berdua dan tak ada satu pun yang bersuara sampai pintu lift terbuka. Azad segera mendahului tak mempedulikan Jane yang setengah berlari di belakangnya.


Mereka sampai di parkiran. Azad tak percaya melihat ban depan mobilnya kempes.


“Sh**t!” ditendangnya ban tak berdosa itu, Jane sampai belakangan dengan terengah. Ia terdiam melihat raut wajah Azad yang kesal.


TIN!


Sebuah mobil mendekat, sang pengemudi menurunkan kaca jendela setelah berhenti di dekat Jane.


“Jane, apa sudah selesai?” Tanya Rumi.


Jane hanya menjawab dengan helaan nafas, Azad ikut melihat ke arah Rumi yang masih setia bertengger di balik kemudinya. Hari semakin sore, Rumi melihat pada kondisi ban mobil Azad.


“Apa ada yang butuh tumpangan?” Rumi memandang Azad.


Azad cuek pura-pura tak mendengar. Ia mengambil ponselnya bermaksud memesan taxi online saja untuk pulang namun ponselnya lebih dulu berbunyi.


Kak Ram, batin Azad setelah mengetahui siapa yang menelponnya.


Disakukannya kembali ponselnya tanpa berniat menerima pangglan itu. Jane dan Rumi saling pandang, ponsel Azad terus berbunyi. Tanpa pikir panjang ia segara menuju mobil Rumi dan mendaratkan pentatnya di jok tengah tanpa permisi.


“Paling nggak elo bisa bilang minta tolong kan sama gue?” Rumi menatap Azad dari spion tengah.


Azad mendengus kasar. “Tadi kamu yang nawarin tumpangan kan?”


Rumi berdecih dalam hati. Dasar adek sama kakaknya sama aja! Sama-sama suka ngeselin! Kalo bukan karena Jane, ogah gue anterin dia pulang.


Ponsel Azad berbunyi lagi, namun dia masih bergeming hingga nada dering itu berhenti sendiri.


“Hoy, Jane! Elo mau ikut pulang apa mau nginep di parkiran?” Seru Rumi yang melihat Jane masih mematung berdiri.


Gegas Jane masuk duduk di jok penumpang samping Rumi. “Jadi kita anterin Azad pulang?” Tanyanya.


“Iya lah, orang dia udah main nyelonong aja!” Sindir Rumi lantas mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan parkiran.


Untuk ke 3x kalinya ponsel Azad berbunyi hingga membuatnya jengah.


“Angkat aja kali, sapa tau penting!” Ujar Rumi namun Azad tak menanggapinya sementara ponselnya terus menjerit-jerit memohon perhatian. “Angakt woy! Berisik tau!” Semprot Rumi pada akhirnya kesal juga karena Azad anteng aja.


Bukan karena takut bentakan Rumi, sebenarnya Azad juga penasan kenapa laki-laki yang masih berstatus kakak iparnya itu semapai menelponnya bertubi-tubi padahal sudah sengaja ia abaikan.


“Halo!” Sapa Azad setengah jengkel.


“Azad, kamu dimana?” Ramzi sedikit panik di seberang.


“Ada parlu apa emangnya?”


“Aku tau keberadaan Sofia.”

__ADS_1


Kalimat Ramzi sukses membuat Azad kaget. “Dimana Kak sofi? Cepat katakan!”


Jane langsung menoleh begitu mendengar nama Sofi disebut, ia intens memperhatikan raut wajah Azad yang berubah seketika.


“Cepat bilang dimana Kak Sofi?” Azad tak sabaran karena Ramzi masih terdiam di seberang.


“Kita harus ketemu, kita akan temui Sofi bersama-sama dan membawanya pulang.” Ucap Ramzi.


“Aku bisa sendiri! Kak Ram nggak usah sok peduli!”


“Azad, saat ini kemungkinan orang-orang suruhan papa juga sudah menegtahui keberadan Sofia. Aku nggak mau sampai keduluan, kita harus – “


“Jangan-jangan Kak Ram sendiri yang mengatakannya pada Tuan Alatas?” Sindir Azad memotong penuh kecurigaan.


“Azad, kapan sih kamu bisa percaya? Aku benar-benar menginginkan Sofia kembali! Aku sudah meminta maaf pada kamu dan aku menyesalinya!” Ramzi terdengar jengkel. “Oke, lebih baik aku pergi sendiri! Aku juga tak butuh bantuanmu!”


“Kak Ram, tunggu!” Azad sekarang yang memohon. “Baik, kita ketemu. Aku akan ikut bersamamu menemui Kak Sofi.”


“Ok. Aku sahare loc tempatnya nanti.”


Jane dan Rumi yang sedari tadi menyimak perbincangan Azad dan Ramzi terlihat sangat penasaran tapi mereka berusaha menahan rasa kepo yang hampir menyeruak jika saja Azad tak keburu meminta Rumi untuk menuju ke suatu tempat sesuai share loc yang baru saja didapatkan Azad.


“Lapiaza café, please.” Ucapnya pada Rumi.


“Baguslah, elo tau diri juga. Gitu kek dari tadi,jadi nggak bikin gue kesel.” Omel Rumi yang merubah haluan kemudinya mengambil jalur lain mengurungkan niatnya yang semula.


Tiga manusia dalam mobil itu berdiaman, tak ada satu pun yang menemukan topik obrolan yang menarik. Rumi fokus pada jalanan yang ramai lancar. Sore merangkak berganti senja, lampu-lampu jalanan sudah menyala terang, sebentar lagi mungkin akan berkumandang adzan maghrib. Perhatian Rumi tersentak, kali ini ponselnya yang berbunyi.


Merogoh tas slempangnya dengan tangan kiri.


My baby, Rumi terdiam sebentar mengetahui siapa yang menelpon.


“Siapa? Hanson?” Jane ikut melihat pada layar gawai Rumi di sebelahnya.


“Halo.” Sambut Rumi.


“( ………………..)”


“Apa?” Surprise Rumi sambil menginjak pedal rem seketika hingga membuat Jane dan Azad memekik bersamaan. Dari luar juga terdengar klakson kandaraan di belakang mobil Rumi dengan beberapa umpatan berang karena Rumi ngerem mendadak.


“Apaan sih, Rum?” Jane kesal. “Minggir dulu deh!”


Rumi pun menepikan mobilnya, dengan perasaan campur aduk dia kembali menempelkan gawainya pada daun telinganya.


“Kamu bilang apa tadi, Baby?” tanyanya setelah berhasil mengusai keadaan.


“Aku siap menikah denganmu, malam ini aku akan langsung datang ke rumahmu dengan penghulu.” Ulang Hanson dengan penuh percaya diri di seberang.


“Mana bisa begitu? Aku mau wedding yang megah, bukan asal sah.” Tolak Rumi. “Lagian emang kamu udah hafal semua bacaan sholat seperti syarat yang diajukan papa?”


“Serius?” Tak yakin dengan jawaban sang kekasih. “Kok bisa sih?”


“Mau tes aku sekarang? Boleh.”


“Bu-kan begitu – “ Tercekat karena masih belum yakin.


“Aku sudah hafal surat Alfatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nas, Al Lahab, apa lagi ya … heum… oya sudah hafal doa iftitah juga, bacaan ruku, iftidal, bacaan sujud, bacaan – “


“Ok, ok aku percaya.” Pangkas Rumi. “Tapi kita masih butuh waktu untuk persiapan menikah.”


“Schatzi, ceme on. Tidakkah semua itu cukup untuk sementara? Aku bisa terus lanjut belajar setelah kita menikah. Aku ingin segera halal denganmu.”


Deg!


Rumi terdiam, si babang bulenya sudah sedemikin ngebetnya. Bukan ia tidak mau menghargai perjuangan sang kekasih, tapi menikah tercatat secara hukum negara dan hukum agama adalah harga mutlak baginya. Ia tak ingin kelak dikemudian hari mendapatkan masalah karena perbedaan kewarganegaraan dengan Hanson. Tentu banyak yang harus diurus sebelum pernikahan itu benar-benar terlaksana. Terlebih lagi ia sudah mempunyai konsep pernikahan yang sesui dengan impiannya. Ia ingin pernikahan yang hanya sekali dalam seumur hidup itu meninggalkan kesan mendalam.


“Apa kita bisa lanjutin perjalannya?” Teguran Azad membuyarkan lamunan Rumi.


“Emh, eh …” Rumi tersadar. “Baby, gini aja deh. Kita ketemuan dulu buat bicarakan semuanya ya.” Berbicara kembali pada Hanson.


“Aku sudah hubungi penghulu, Schatzi.”


“Cencel! Nanti dulu. Kalo kamu mau denger aku, please kita jangan nikah malam ini. Kalo kamu ngeyel kita putus!”


“Nein! Oke, aku cancel penghulunya.” Hanson terpaksa mengalah.


“Good boy. Sekarang kita ketemu di Lapiaza ya.”


Rumi kembali melajukan mobilnya, perasaannya kini bercabang-cabang. Bagaimana mungkin kekasihnya itu setelah diusir mentah-mentah oleh sang papa tepo hari tiba-tiba menelponnya dan mengatakan akan menikahinya malam ini juga?Hanson ternyata memang sangat gigih memperjuangkan cintanya. Rumi terus berputar-putar dengan pikirannya sendiri hingga tak menyadari Jane disampingnya menyapu seluruh wajahnya dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.


“Lo mau nikah malam ini" Jane bertanya dengan raut serius.


“Nggak jadi.”


“Kenapa?”


“Ya nggak lah, masa gue nikah cuman sepi-sepi aja? Ya paling nggak ada topeng monyet atau apa kek sebagai hiburannya. “


“Jadi elo cuman minta ada topeng monyet doang?” Jane hampir tertawa mendengarnya.


Rumi berdecak kesal. “Yang bener aja! Itu cuman kiasan doang. Si bule somplak itu kan pewaris tunggal bisnis batu bara dan pangalengan ikan papanya, gue nggak mau nikah asal sah. Pernikahan gue harus bisa dikenang sama semua orang yang hadir di acara gue.”


Jane manggut-manggut. Rumi mengurangi kecepatan mobilnya, mereka hampir sampai tujuan. Pas banget mobil Rumi bersamaan dengan mobil Ramzi memasuki parkiran.


NGIIK

__ADS_1


SREET


Rumi menghentikan mobilnya setelah menemukan tempat parkir yang pas. Ramzi langsung mendekati Azad begitu melihatnya.


“Azad, kita harus pergi sekarang.” Ucapnya penuh kesungguhan. “Jane?” Ramzi melihat Jane yang keluar belakangan.


Jane hanya tersenyum, Azad memperhatikan mereka berdua seolah sedang mencari tahu adakah yang spesial diantara mereka berdua. Tapi sepertinya semuanya biasa saja.


“Kamu bisa ikut aku sekarang kan?” Ramzi kembali pada niatnya mengajak Azad untuk ikut serta.


“Apa kita harus benar-benera pergi sekarang?” Azad sedikit ragu.


“Iya, kita harus cepat.”


“Tapi aku – “


“Kamu bisa hubungi papa dan mama lewat telpon nanti. Bilang saja ada urusan ke luar kota kalau kamu nggak mau mereka khawatir.”


Azad terdiam, berpikir seperti menimbang segala sesuatunya.


“Ekhm! Makan dulu kali. Laper nih.” Rumi mengalihkan fokus Azad dan Ramzi.


“Oh iya, thanks ya udah nganterin. “ Azad melihat Rumi.


“Terus apa kita mau diem di parkiran aja?”


“Emh,mungkin lain waktu aku akan traktir kamu makan. Tapi sekarang situasinya sedang tidak pas.”


“Azad, apa kamu akan ikut pergi sama Ramzi?” Jane buka suara.


“Iya Jane, dia harus ikut aku. Aku nggak mau kalau sampai orang-orang papaku berbuat macam-macam pada Sofia.” Jawab Ramzi.


“Aku ikut!” Putus Jane.


Ramzi dan Azad sontak menatap Jane.


“Aku mohon. Aku merasa sangat bersalah pada istrimu, Ram. Dia pergi juga karena kejadian waktu itu diantara kita.” Ungkap Jane penuh penyesalan. “Tolong ijinin aku ikut bersama kalian.”


“Baiklah.” Putus Ramzi kemudian. “Azad, mungkin kita membutuhkan Jane untuk menguatkan penjelasanku pada Sofia nanti agar dia lebih percaya.”


“Hem, baiklah.” Sahut Azad.


“Oke, kita pergi sekarang dengan mobilku. Perjalanan ke sana memakan waktu sekitar 4 sampai 5 jam, mungkin kita akan sampai sekitar tengah malam.’ Ucap Ramzi.


Azad dan Jane segera mengekor Ramzi tanpa komentar.


“Eh, tunggu dong! Ini gue gimana urusannya?” Sergah Rumi. “Masa gue ditingalin sendirian? Jane elo serius mau ikut mereka nemuin Sofi?” Rumi menarik lengan Jane.


“Iya, Rum. Gue harus ikut.”


“Elo nggak takut kalo ntar elo dicakar-cakar nyampe sana sama Sofi? Inget lo pernah hampir dicekek sama dia?” Rumi menakut-nakuti, dia rada nggak ikhlas gitu Jane ikutan nyusulin Sofi. Menurutnya aneh banget Jane sampe ikutan segala. Harusnya biarin aja suami dan adiknya Sofi yang kesana, Jane nggak perlu ikut.


“Gue harus pergi, Rum.”


“Jane, perasaan gue nggak enak nih. Kalo sampe elo kenapa-napa gimana dong? Elo belum pamit kan sama nyokap elo juga? Tadi elo cuman bilang mau keluar sama gue kan? Ntar kalo nyokap lo nanyin gimana?” Rumi khawatir dengan pikirannya sendiri.


“Nanti gue hubungi nyokap.”


“Ck, tau gini gue nggak bakalan kempesin ban mobilnya si Azad!” Decak Jane kesal.


“Jadi itu kerjaan elo?” Pekik Jane tertahan karena kaget dan tak ingin didengar Azad.


“Iyalah, siapa lagi?” Rumi merengut. “Udah, lo nggak usah ikut ya Jane. Bahaya! Sofi itu kalo udah ngamuk serem tau!” Sekali lagi Rumi membujuk.


“Kan ada Ramzi dan Azad?”


TIN TIN!


Ramzi membunyikan klasonnya.


“Kamu jadi ikut atau nggak?” Serunya yang sudah berada dalam mobil bersama Azad.


“Oh, iya jadi Ram!” Sahut Jane. “Rumi, gue pergi ya!” Melambai pada Rumi yang menatapnya dengan perasaan yang sukar diartikan. Rumi sungguh tak rela. Mobil Ramzi mulai bergerak meninggalkan parkiran. Sebuah mobil lain dari pintu masuk parkiran tepat berhenti di dekat Rumi.


“Hi, Schatzi.” Sapa sang pengemudi menurunkan kaca jendela mobilnya.


“Baby?!” Rumi segera menuju mobil sang kekasih dan masuk duduk di samping Hanson. “Cepat ikuti mobil hitam tadi!” Perintahnya tanpa babibu.


“Tapi Schatzi – “


“Udah cepet ikutin! Kalo nggak mau batal nikah sama gue!” Rumi setengah mengancam hingga Hanson terpaksa menurutinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Nah… jadi rame deh ntar kampung Suka Tresna kedatangan mereka berlima ya … 😂😂


Terima kasih sudah membaca. Maaf kalo banyak typo 🙏🙏


Like😀


Komen😍


Vote😉


I love you all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2