
Hari itu,
Ketika Mirza menginjakkan kaki di ibu kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kantor perwakilan Delta Cruise Indonesia. Pergi berlayar mungkin pilihan tepat saat itu, namun sayangnya Delta Cruise baru akan kembali berlayar dua bulan kemudian.
Termenung sendiri di lobby kantor, tas ranselnya ia biarkan tergeletak di dekat kaki. Mirza terlalu sibuk dengan benaknya yang semrawut. Perasaan bersalah berkecamuk dalam benak, saat itu ia adalah seorang pengecut yang sebenarnya. Lari dari masalah tanpa mampu menyelesaikannya.
Seseorang sudah berdiri tepat di depannya tanpa Mirza sadari.
“You look not so well,” sapaan suara bariton membuat Mirza mendongak menatapnya.
“Dokter Steave?” tak bisa menyembunyikan kekagetannya, berdiri dan mengulurkan tangan, “Oh, so glade to see you.”
“Glad to see you too,” dokter Steave membalas dengan pelukan singkat dan senyuman ramah. “Apa yang membawamu kesini?” ucap dokter Steave kemudian yang sukses membuat Mirza kaget untuk yang kedua kalinya.
“Dokter bisa bahasa Indonesia?” malah balik bertanya.
“Lumayan,” tersenyum kecil.
“Sejak kapan? Oh, maksudku –aku nggak pernah tau dokter bisa berbahasa Indonesia,” Mirza nyengir canggung sendiri.
“Hem, bagaimana kalau kita ngobrolnya sambil minum kopi?” berinisitif mengajak ke sebuah café kecil tepat di sebelah kantor perwakilan Delta Cruise.
Tak ada alasan untuk Mirza menolak, mereka berdua kini tengah duduk berhadapan seperti sepasang teman lama yang baru bertemu (Ada yang masih ingat sama dr.Steave? lupa ya? haha… ya sudahlah, lupakan saja 😂😂😂 ).
“Jadi, apa kamu berencana untuk pergi berlayar lagi?” dokter Steave bertanya setelah dua cangkir short machiatto tersaji di hadapan mereka.
Tak langsung menjawab, dihelanya napas panjang. “Sebenarnya itu pilihan terakhir,” desah Mirza kemudian.
Aroma khas short machiatto menguar mengendurkan urat-urat syaraf, dokter Steve menyesapnya penuh khidmat. “Aku punya kabar bagus jika kamu sedang butuh pekerjaan,” ujarnya.
Seketika menegakkan posisi duduknya, “dokter serius?”
“Apa aku terlihat sedang berbohong?” dokter yang hampir berusia setengah abad itu memasang tampang benar-benar serius. “Seorang temanku yang bertugas di Rumah Sakit Jantung mengatakan pasiennya membutuhkan perawat pribadi –“
“Aku bersedia,” potong Mirza antusias.
“Tapi ada sedikit hal yang mungkin harus kamu pertimbangkan terlebih dahulu,” meraih cangkirnya untuk menyesap isinya kembali.
“Apa itu?”
“Pasiennya itu sudah dua kali ganti perawat pribadi,”
Kali ini Mirza mengambil minumannya yang sedari tadi ia acuhkan.
“Ia seorang pengusaha kaya raya yang menginginkan semuanya sempurna,” sambung dokter Steave.
“Aku tidak pernah bermasalah dengan pekerjaanku selama ini,” Mirza meyakinkan.
“Ok, kalau begitu kamu bisa kirimkan CV-mu lewat e mail-ku, setelah itu kamu akan menunggu panggilan untuk interview.”
“Interview?” ulang Mirza agak heran.
“Ya, mereka akan menyeleksimu. Kesempurnaan adalah segalanya untuk mereka.”
Mirza hanya mengangguk. Setengah jam kemudian mereka berpisah.
Mirza menyewa penginapan sederhana tak jauh dari kantor perwakilan Delta Cruise. Setelah mengganti sim card ponselnya, ia mengirimkan CV seperti yang diminta dokter Steave.
Dua hari dalam penantian, dan Mirza belum tau apa yang akan ia lakukan seandainya ia tak mendapatkan pekerjaan itu. Rasa bimbang untuk kembali pada keluarganya sempat terlintas dalam pikiran. Mirza teringat Via –sang istri yang sudah pasti sangat sedih dan kecewa akan keputusannya yang pergi meninggalkannya begitu saja. Juga pada si kecil Nala. Bayi lucu nan cantik yang baru genap 40 hari lahir ke dunia.
Lantas, apa Mirza juga teringat pada ibunya?
Tentu saja, Marimar. Sejengkel apapun dirinya pada sang ibunda, Mirza selalu berusaha menujukkan baktinya, ya meski kadang gak dihargai juga sih.
Terdiam menatap langit-langit kamar, berusaha memejamkan kedua mata dalam penat. Hatinya berharap kepergiannya ini mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran untuk ibunda tercinta. Mirza berdoa sekembalinya ia suatu hari nanti, sang ibu akan berubah menjadi lebih baik.
Ting!
Satu notifikasi pesan masuk membuatnya membuka mata.
Itu dari dokter Steave, ia memberitahukan siang ini Mirza bisa melakukan intervieenya di sebuah alamat yang ditulis dalam pesan itu.
Senyuman lega mengembang sempurna, tak ingin datang terlambat, Mirza segera bersiap.
__ADS_1
_
_
_
Fix! Ini bukan rumah, tapi istana. Batin Mirza dengan pandangan takjub memandang bangunan mewah lagi megah di depannya. Ia sampai tergagap ketika seorang security menghampirinya.
“Maaf, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” security berbadan tegap itu sampai mengulang pertanyaannya.
“Oh, emh –aku, saya ada janji interview,” Mirza mengambil ponselnya agak gugup dan memperlihatkan pesan dari dokter Steave pada sang security.
Security itu mengangguk kemudian meraih Handy Talky-nya, menyisih beberapa langkah ia nampak berbicara melakui HT dengan seseorang. Mirza menunggu beberapa saat.
“Baik, mari ikut saya, Tuan” ucap security itu kemudian.
Seorang security lain membukakan pintu gerbang yang tinggi menjulang kemudian meminta Mirza mengeluarkan kartu identitasnya dan memeriksa Mirza dan tas ranselnya dengan garret alias handheld metal detector.
“Astaghfirullah, gini amat ya mau masuk rumahnya orang kaya raya? Dikira aku ini bawa bom apa?” sempat menggerutu dalam hati mendapatkan pemeriksaan yang sebegitunya.
“Silakan, Tuan,” sang security mempersilakan setelah menyelesaikan tugasnya.
Dari pintu gerbang menuju teras istana mewah itu kalau Mirza tak salah memperkirakan, mungkin jaraknya hampir mencapai setengah kilo meter, wkwkwk 😂😂 –saking luasnya halaman istana megah itu.
Sepanjang kakinya melangkah, Mirza tak henti menggumam takjub dalam hati. Boleh jadi rumahnya adalah rumah yang paling bagus dan mewah di kampungnya, boleh jadi halaman rumah Haji Barkah adalah halaman rumah yang paling luas sekecamatan, namun semua itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seluruh kemegahan istana tempatnya berpijak kini.
“Silakan masuk, Tuan,” seorang pelayan laki-laki membukakan pintu dan membungkuk sopan pada Mirza.
Mirza sempat melongo sejenak, segutunya ia disambut.
“Mari ikut saya, Tuan Gerald sudah menunggu Anda,” ucap pelayan itu lagi.
“Oh, jadi nama pengusaha kaya aya itu Tuan Gerald?” membatin dan semakin dibuat penasaran akan sosok Tuan pengusaha pemilik istana ini.
“Mohon tunggu sebentar, Tuan,” pelayan itu mempersilakan Mirza duduk di sebuah ruang tamu yang didominasi suasana gold mewah. Tak ingin terlihat norak, MIrza tersenyum mengangguk sopan meski dalam hatinya jedak jeduk dengan semua ketakjuban di hadapannya. “Tuan Gerald akan segera kemari,” sambung sang pelayan kemudian pamit meninggalkan Mirza.
Tak lama berselang, seorang laki-laki tinggi tegap berjalan menghampiri. Dari penampilannya yang mengenakan kemeja putih dibalut rapi dengan jas hitam, Mirza yakin inilah Tuan Gerald si pengusaha kaya raya itu. Meski Mirza agak heran demi melihat sosok Gerald yang terlihat sangat sehat, -tidak seperti yang diceritakan dokter Steave, Mirza berdiri untuk menyambutnya juga.
“Tidak apa-apa, senang bertemu dengan Anda Tuan,” sambut Mirza menjabat erat tangan Gerald.
“Silakan duduk,” Gerald mempersilakan.
Seorang pelayan wanita datang membawa baki berisi dua cangkir teh gahwa dan mempersilakannya pada Mirza kemudian pergi.
“Saya sudah membaca CV Anda, Tuan Mirza Mahendra,” ucap Gerald dengan wajah tegasnya. “Dan Tuan Besar telah menyetujui Anda untuk bekerja merawatnya selama beliau dalam masa penyembuhan.”
Apa dia bilang tadi? Tuan Besar? Jadi beneran, ternyata bukan Tuan Gerald ini yang lagi sakit? Berarti bukan dia juga si Tuan pengusaha kaya raya itu? masih ada Tuan lagi di istana ini?
“Oh, maaf saya sampai lupa memperkenalkan diri,” ucapan Gerald memangkas batin Mirza yang sedang asyik ngedumel “Saya Gerald, kepala pelayan disini. Anda bisa minta tolong saya atau semua pelayan disisni jika ada yang Anda butuhkan selama merawat Tuan Besar."
Cepat-cepat mengangguk karena telah mendapatkan penjelasan yang membuatnya terang benderang kini.
“Anda akan bertanggung jawab terhadap kesehatan Tuan Besar, dokter datang seminggu dua kali kesini memeriksa perkembangan kesehatan Tuan Besar. Untuk daftar obat dan makanan sudah dokter persiapkan setiap harinya, Anda hanya perlu memastikan semuanya berjalan dengan baik agar Tuan Besar cepat pulih,” papar Gerald menjelaskan.
“Baik, saya mengerti.”
“Kalau sudah jelas dan tak ada yang ingin ditanyakan, saya akan mengantar ke kamar Anda untuk beristirahat. Kita bertemu lagi selepas makan siang, Anda akan menemui Tuan Besar di kamar pribadinya.”
Mirza mengangguk paham, lantas ia mengikuti Gerald yang membawanya ke lantai dua menuju kamar yang diperuntukkan bagi dirinya.
Ternyata interview-nya cuman gitu aja? Mirza tersenyum dalam hati.
Masih berdiri di ambang pintu kamar selepas Gerald pergi meninggalkannya. Mirza memindai seisi kamar, ruangan yang luasnya dua kali lipat dari kamar tidurnya di rumah mewahnya itu terlihat sangat nyaman dan rapi. Perlahan ia langkahkan kaki, dengan segenap kesadarannya ia berkata memang disinilah dirinya berada kini. Setidaknya ini adalah tempat yang aman untuknya melarikan diri dari masalah hidupnya.
-
-
-
Beberapa hari berlalu, kini hampir seminggu Mirza bekerja merawat sang Tuan Besar yang baru kemarin ia ketahui bernama Tuan Alatas itu.
“Tuan Mirza, bisa kita bicara sebentar?” Gerald menghentikan langkah Mirza yang baru keluar dari kamar pribadi Tuan Alatas.
__ADS_1
“Ya, ada apa?” Mirza sedikit heran.
“Begini, Tuan –“
“Emh, maaf Tuan. Saya potong sebentar, bolehkah saya minta Anda untuk jangan memanggil saya dengan sebutan Tuan? Saya measa kurang nyaman,” Mirza berterus terang, sebab ia merasa aneh pada dirinya sendiri dengan sebutan itu.
“Baik, kalau begitu Anda panggil saya Gerald.”
“Begitu?” Mirza tersenyum.
“Ya, memang kedengarannya lebih baik.” Raut Gerald memang selalu nampak serius. “Baik, Mirza. jadi saya mau meminta Anda –oh, maksudnya meminta kamu untuk berbicara pada Tuan Besar untuk pergi terapi akhir pekan ini.”
Mencerna sebentar kalimat Gerald, “pergi terapi?” tanyanya ragu.
“Iya, dokter Janson menyarankan terapi yang baik untuk kesehatan jantungnya. Tapi Tuan Besar tidak pernah mau melakukannya.”
“Kenapa tidak kau saja yang memintanya? Bukankah –“
“Kamu kan perawat pribadinya? Segala hal yang berhubungan dengan kesehatannya adalah tanggung jawabmu, aku pernah mengatakan hal itu kan?” Gerald setengah memaksa.
“Ya, baiklah. Akan aku coba,” Mirza akhirnya mengalah meski hatinya tak cukup yakin akan berhasil sebab selama hampir seminggu ini dia merawat Tuan Alatas, mereka belum pernah mengobrol. Tuan Alatas termasuk orang yang sangat irit berbicara, begitu pendapat Mirza. Ia hanya berbicara seperlunya saja, itu pun tak pernah lebih dari tiga kata, seperti; tidak perlu, aku tahu, kau boleh pergi. Dan itu diucapkannya dengan raut datar saja tanpa ekspresi.
“Terima kasih,” ucap Gerald kemudian pergi lebih dulu.
Mirza melanjutkan langkahnya untuk menemui pelayan yang bertugas menyiapkan makanan, ada perubahan menu dari dokter Janson untuk daftar makanan Tuan Alatas mulai besok pagi. Langkahnya terhenti ketika bertemu Rinara yang baru saja keluar dari sebuah kamar dengan membawa beberapa figura besar dibantu dua orang pelayan laki-laki.
“Permisi, Tuan,” Rinara mengangguk sopan.
Mirza terdiam sejenak, ia melihat sepasang wajah yang rasanya tak asing baginya dalam foto figura besar yang dibawa oleh kedua pelayan laki-laki yang melintas di depannya.
“Tunggu sebentar,” ucap Mirza lantas mendekat untuk memastikan.
“Ya, ada apa Tuan?” Tanya Rinara.
“Itu -?” Mirza menunjuk figura besar.
“Tuan Besar menyuruh kami merapikan semua barang-barang Tuan Muda dan istrinya karena mereka sudah tak tinggal disini lagi,” ucap Rinara.
“Tuan Muda?” heran tak percaya.
“Iya, Tuan Ram anak tunggal Tuan besar.”
Terpaku ditempatnya tanpa kata.
Jadi Tuan Alatas itu ayahnya Ramzi? Mertuanya Sofi? Ya Allah, kenapa dunia ini sempit sekali?
💕💕💕💕💕
Hi, readers …😊
Othor yang semakin GaJe ini nongol lagi
😆😆
Gaosalah ya othor bilang kenapa baru up lagi? Kagak penting, wkwkwk ….
🤣🤣🤭🤭
Jujur, hal yang ganggu banget adalah othor kayak ngerasa punya ‘utang’ karena belum bikin end novel abal-abal ini.
🥺🥺
Masih mau diputerin kemana lagi Thor alurnya kagak jelas amat?
Ya suka-suka other lah, hehehe … 😁😁 sebenernya bisa aja nulis satu bab lagi langsung end, tapi itu sangat menyakitkan, Ferguso! Othor nggak suka alur cerita yang ujug-ujug jreng.
Othor hanya berharap mampu menyelesaikan cerita sampai end sesuai keinginan othor bukan karena desakan readers. Selebihnya othor nggak ambil pusing mau masih ada yang baca apa kagak, ini lebih kepada perjuangan othor sendiri melawan ketidakberdayaan selama kehamilan di tri semester pertama yang nano-nano ini 😔😔😔
Tapi tentu saja othor ucapkan terima kasih yang tak terhingga buat readers yang masih setia baca dan kasih support yang luar biasa. Peluk cium onlen buat kalian satu-satu
🤗🤗🤗😘😘😘
I love you all🥰🥰🥰🥰
__ADS_1