TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
257 #TERKENANG


__ADS_3

Hari ini Bu Een pulang dari rumah sakit, operasi tulang selangkanya telah berhasil dengan hasil baik. Dokter Vivery sudah memperbolehkannya pulang karena tak ada keluhan yang berarti, Bu Een hanya dijadwalkan untuk kontrol dan dilanjutkan dengan fisoterapi setelahnya. Pasca operasi, Mirza tak menjenguk ibunya satu kali pun. Dan hari ini ia akan menjemput Bu Een pulang, kursi roda Bu Een telah sampai di loby rumah sakit namun belum ada tanda-tanda kemunculan Mirza.


“Kamu udah telpon Mirza kalau hari ini saya boleh pulang?” tanya Bu Een pada Jumilah yang duduk di bangku panjang rumah sakit.


Ada yang masih ingat dengan Jumilah?


Yup! Bener banget, dia adalah cewek semok bohay bahenol cetar badai anaknya Pak Karto salah satu petani tambak yang menggarap empang milik Mirza. Jumilah bisa kerja sebagai perawat Bu Een berkat bantuan Om Jaka. Soal kecakapan Jumilah dalam bekerja tak perlu diragukan lagi karena dia sudah terbiasa bekerja menjadi TKW sejak lulus sekolah menengah atas. Jumilah pernah bekerja sebagai ART, pernah merawat orang jompo, pernah bekerja di pabrik elektronik, pernah jadi cleaning service, pokoknya hampir semua pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan kesabaran ekstra pernah Jumilah geluti. Hanya saja dalam tugasnya kali ini, Om Jaka dan Mirza sudah wanti-wanti berpesan agar Jumilah jangan mau diperlakukan semena-mena oleh Bu Een, bila perlu Jumilah boleh membantah perintah Bu Een jika tak sesuai dengan standar operasional prosedur alias SOP,hehe… 😁😁 baru tau kan ada asisten rumah tangga boleh melawan perintah majikannya? Wkwk…


Oke, kembali ke pertanyaan Bu Een,


“Jangan-jangan kamu lupa ya nggak kasih tau Mirza kalau saya hari ini pulang?” kembali bertanya karena Jumilah malah asyik dengan gadgetnya. “Jumilah, kamu denger nggak sih saya tanya?” meninggikan intonasinya.


“Nggak usah kenceng-kenceng Bu, aku nggak budek!”decak Jumilah kesal.


“Kalo nggak budek kenapa ditanya diem aja?”


“Terserah aku dong, mulu mulut aku, mau jawab mau nggak suka suka aku! Lagian nggak ada dalam SOP aku harus jawab apa-apa yang ditanyakan sama ibu!” ketus Jumilah yang sukses membuat Bu Een naik darah.


“Kamu ya, dari kemarin SOP SOP terus yang diomongin, emangnya kamu lagi kerja di perusahaan? Ngelawan terus kalo dibilangin, saya pecat kamu baru tau rasa!” seperti biasanya Bu Een mengeluarkan jurus andalannya, Pecat!


“Yang bisa mecat aku cuman Mas Mirza, bukan Anda wahai ibu tua galak.” Jumilah cuek kambali pada layar gawainya.


“Kurang ajar, kamu –“ kemrahan Bu Een terjeda karena melihat Mirza berjalan mendekat. “Za, kenapa kamu lama banget datangnya?” setengah merajuk pada sang anak yang kini berdiri di sampingnya.


“Banyak kerjaan di apotik,” mengambil tas pakaian Bu Een.


“Eh, Mas Mirza udah dateng? Ayuk Mas cuss kita, udah pegel-pegel nih badan aku pingin rebahan di kasur empuk.” Ucap Jumilah seraya bangkit dan meraih kursi roda Bu Een.


Mirza hanya tersenyum tipis lantas melangkah mendahului menuju parkiran. Melihat raut sang anak yang suram Bu Een mengurungkan niatnya untuk bertanya kenapa Mirza tak menyempatkan menjenguknya satu kali pun setelah operasi. Bu Een menyimpan rasa penasarannya dan akan menanyakannya menunggu saat yang tepat.


Guguran daun jambu yang menghampar di halaman rumah menyambut kedatangan Bu Een. Angin yang bertiup cukup kencang di siang menjelang sore ini tak hanya membuat daun-daun berguguran, namun juga beberapa buah jambu air nampak ikut berserak. Lantai teras yang berdebu dan tanaman dalam pot yang mengering seolah menjadi tanda bahwa rumah seperti tak terjamah tangan sejak kepergian Bu Een ke rumah sakit. Pikian Bu Een langsug tertuju pada Via. Mirza pasti kembali pulang ke rumah istrinya selama saya nggak ada, -begitu pikir Bu Een.


“Za, mau kemana?” menahan langkah sang anak dengan pertanyaan ketika sudah berada di dalam rumah.


“Balik ke apotik,” sahut Mirza pendek.


“Bukannya sebentar lagi jam pulang kerja?”


“Aku menggantikan perawat jaga di IGD nanti malam,” menyahut seraya kembali memutar langkahnya keluar dari kamar ibunya usai menaruh tas pakaian.


Nggak salah lagi, dia pasti akan pulang ke rumah istrinya. Alasan saja kerja, kamu pikir kamu bisa membohongi ibu, Za? Liat aja, kamu akan saya bikin kembali ke rumah ini dan meninggalkan istrimu selama-lamanya. Batin Bu Een ngedumel kesal.


“Udah beres, aku mau mandi terus istirahat,” ucapa Jumilah setelah selesai merapikan baju Bu Een yang masih bersih ke dalam lemari.


“Istirahat katamu?” memicing menatap Jumilah. “Enak aja, masakin saya makanan dulu. Abis itu bersih-bersih rumah, tuh halaman sama tanaman di depan sekalian kamu beresin juga!” Titah Bu Een.


“Ish, ogah banget! Aku capek, mau istirahat! Kayak nggak ada hari lain aja bersih-bersih rumah,” sahut Jumilah dengan cueknya.

__ADS_1


“Kamu berani membantah? Itu semua kan memang tugas kamu?”


“Iya, tapi sekarang aku lagi capek. Orang capek tuh harus istirahat, nggak boleh dipaksa bekerja, nanti jadi sakit.”


“Dasar, pembantu blagu!” Dengus Bu Een.


“Asisten, saya asistennya Mas Mirza buat ngurus rumah dan Anda ibu tua! Ingat itu, jangan sebut saya pembantu lagi!” Ralat Jumilah dnegan percaya dirinya.


“Terserah! Kalo nggak mau bersih-bersih, mendingan masak aja. Cepetan, saya lapar.”


“Lapar?” Jumilah membulatkan kedua matanya. “Bukannya tadi sebelum pulang Anda itu makan ya? ngemil juga, dua buah apel, pudding sama kue brownis sampe ludes dan sekarang Anda bilaang lapar? Ck ck ck, itu perut apa karung sih?” berdecak seraya menunjuk perut Bu Een dengan matanya.


“Kamu itu semakin lama semakin kurang ajar ya?” Bu Een mengumpat penuh kejengkelan.


“Emang. Baru tau ya?” tertawa seolah wajah jengkel Bu Een memang terlihat sangat lucu bagi Jumilah. “Marah aja terus, bair tensi darah Anda naik terus kena stroke dan wassalam, haha ….” Malah semakin terbahak puas menertawakan Bu Een yang sudah merah padam.


“Kamu nyumpahin saya?” melotot dengan kilatan penuh amarah.


“Nggak sih, cuman mendoakan saja,” sahut Jumilah lantas segera ngacir keluar kamar meninggalkan Bu Een dengan rasa jengkel yang tak tersampaikan.


❤️❤️❤️❤️❤️


Setelah Hanson dan Rumi pulang ke Jerman, kini giliran Sofi dan Ramzi yang segera akan menyusul pulang. Hari ini jadwal check up baby Arfan yang terakhir, rencananya besok atau lusa mereka akan segera bertolak ke Jakarta, suster Ines tentu saja turut serta.


“Kak, aku mau mampir ke suatu tempat boleh?” bertanya pada sang suami yang tengah fokus dengan kemudianya.


Menggeleng, “aku mau mampir ke rumah Via,” ucapnya kemudian.


“Kamu mau pamitan?”


“Nggak formal gitu sih kak, aku cuman mau ketemu Via aja sebelum kita pergi dari kota ini.”


Ramzi mengerti perasaan istrinya, bagaimana pun juga Sofi pernah hadir dalam kehidupan Via dan suaminya, mungkin Sofi hanya ingin sekali lagi untuk mengucapkan kata maaf. Ramzi pun menuruti keinginan sofi, mobilnya melaju mengikuti arahan dari sang istri.


“Ini rumahnya?” Tanya Ramzi menghentikan mobilnya di depan rumah yang tampak asri.


“Iya. Kak Ram dan baby Arfan diem aja di mobil, aku nggak akan lama kok. Suster, tolong jagain babay Arfan ya.” menoleh ke belakang.


“Iya, Nyonya” jawab suster Ines.


Sofi melangkah memasuki halaman, sejenak ia berdiri di teras dengan agak ragu. Pada saat yang sama Via tengah berada di kamarnya, ingatannya melayang pada peristiwa malam itu. malam perkelahian suaminya dan Danar.


“Vi, nggak seharusnya kamu melakukan ini padaku,” menatap netra bening Via seraya memegang tangan kanan Via yang sedang membersihkan lukanya.


“Aku cuman mau ngobatin kamu kok,” tepis Via.


“Kamu nggak perlu melakukan ini untuk membuat suamimu cemburu,” jujur, Danar sangat khawatir jika hatinya tak dapat menerima sepenuhnya bahwa yang dia lakukan dnegan Via hanya settingan semata.

__ADS_1


“Nggak usah protes, disini aku sutradaranya.” Menggosok sudut bibir Danar dengan kapas yang dibasahi revanol.


“Shh,” Danar sedikit meringis karena Via cukup keras menekan lukanya.


“Tapi nggak harus –“


“Kenapa? Kamu takut suamiku akan memukulmu lagi?” Potong Via dengan tatapan lurus.


Danar terdiam, tak mungkin dia mengaku bahwa dia takut benar-benar berharap lebih dari drama yang sedang ia dan Via perankan.


“Kamu beneran takut rupanya,” menyunggingkan senyum miring seolah mengolok-olok pria di depannya yang sedang mati-matian menyembunyikan debaran jantungnya karena terus ditatapi intens oleh sepasang netra bening wanita cantik yang membuatnya hampir gila.


“Aku nggak takut,” lirih Danar tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik itu. “Bahkan kalau aku mau, aku sudah balas meninju muka suamimu itu lebih keras dan bertubi-tubi,” lanjutnya dengan wajah menyiratkan keseriusan namun Via justru tersenyum seperti mengejeknya.


“Terus kenapa nggak kamu tonjok aja dia? Biar impas?”


“Karena aku nggak mau membuatmu sedih,”


Jleb!


Ting tong!


Kesadaran Via kembali bersamaan dengan bunyi bel dari ruang tamu.


“Danar?” gumamnya beringsut dari tempatnya duduk, namun kemudian dia tertegun seperti menyadari kesalah yang baru saja dilakukannya sendiri. “Kenapa aku berharap itu Danar yang datang?” masih menggumam merutuki pikirannya sendiri.


Ting tung!


Sekali lagi terdengar bunyi bel dari depan. Menghempaskan semua perasaannya yang tiba-tiba terasa gajil, Via beranjak menuju ruang tamu untuk membuka pintu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Duh Vi, kok ngarep Danar yang dateng sih? Hihihi…😄😊


Hayo ya ….😂


Kita lanjut besok ya…😍


Maafkan kalau banyak typo, othor kejar-kejaran sama paksu yang juga mau pake leptope soale, hehe ….🤣😁😁


Terima kasih yang suah baca, yang selalu like, selalu komen dan berbaik hati memberikan votenya.🙏🙏🙏


Tetep like di bab ini ya😇


Ditunggu komennya juga😘


Lanjut votenya yang masih punya vote mingguannya ❤️

__ADS_1


I love you all🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2