TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
122 # TEMAN LAMA


__ADS_3

Kembali ke ruang makan Via.


“Nambah lagi, Yan.” Ujar Via yang melihat piring Yanti sudah bersih.


“Nggak ah, makin melar deh nanti badanku.”


“Ya elah, namanya juga ibu menyusui Yan. Wajar aja kalo melar, biar ASI kamu banyak dan Gio sehat. Ayok, nambah lagi makannya.”


“Nggak, Vi. Beneran deh.” Yanti nyengir. Dia lantas membawa piring yang sudah kosong ke belakang dan mencucinya.


“Ya udah, nanti pulangnya bawa ya buat Firman.” Via menyusul ke belakang untuk mengambilkan wadah.


“Makasih ya, tau aja kamu Vi kalo aku belum masak buat makan malam, hehe…” Lagi-lagi Yanti nyengir. “Eh, hp kamu bunyi tuh Vi kayaknya.” Lanjut Yanti yang mendengar bunyi ponsel Via.


“Oh, iya kayaknya. Bentar, ya.” Via bergegas ke ruang tengah untuk melihat siapa yang menelpon. “Yana?” Gumam Via.


“Halo, Vi.” Yana mendahului.


“Ya. Gimana, Yan?”


“Soal lowongan kerja itu lho. Kita ketemuan sama Khusni yuk sekarang.” Yana to the point.


“Sekarang?”


“Iya. Khusni baru nyampe siang tadi dari Bandung. Barusan ngajakin aku ketemuan di kedai Nostalgia seperti biasanya.” Terang Yana.


“Heran deh, demen banget kalian janjian disana. Emang nggak ada tempat lain apa?”


“Ck, malah ngomongin itu. jadi mau nggak nih ikut ketemuan? Kalo mau, jemput aku di tempat kerja ya? Udah jam pulang nih.”


“Emang kamu nggak bawa motor?”


“Kalo bawa ngapain minta jemput kamu, Romlah?” Yana balik nanya kesal.


“Huh! Bilang aja pingin dijemput aku!”


“Udah ah, bawel! Cepetan, aku tunggu ya kagak pake lama!”


KLIK!


Yana mengakhiri panggilan.


“Siapa, Vi?” Tanya Yanti begitu Via kembali ke ruang makan.


“Teman aku, dia ngajakin ketemuan sekarang buat ngomongin lowongan pekerjaan.”


“Kamu lagi nyari lowongan kerja?” Yanti tak yakin.


“Iya. Bosen di rumah terus, Yan.”


“Bagus deh, biar kamu ada kegiatan.” Yanti setuju. “Ya udah, aku pulang sekarang deh kalo kamu mau pergi.”


“Eh, nanti dulu. Bawa gulainya sekalian tuh. Ambil aja semua masih di atas kompor, Yan.”


“Nggak ah, banyak banget. Buat siapa?”


“Daripada disini nanti juga nggak ada yang makan. Udah bawa aja semua cuman tinggal 3 ekor kok.”


“Satu aja cukup buat Mas Firman.”


“Terus sisanya buat siapa dong?”


“Lha, kamu lagian masak banyak banget.”


“Ya daripada kelaman di freezer Yan, nanti malah beranak pinak kan malah tambah repot aku.”


“Bagus dong! Kamu bisa buka usaha masakan gulai ikan kakap.”


Via nyengir. “Udah ah, terserah kamu buat siapa kek. Tolong ambil sendiri ya, aku mau siap-siap dulu. Ntar kamu pulangnya bareng aku aja sekalian jalan.”


Yanti cuman menghela nafas, terpaksa nurut juga akhirnya. Namun ketika langkahnya hampir mencapai dapur Yanti teringat sesuatu.


“Eh, Vi!” Panggil Yanti. “Gimana kalo kamu kasihin buat Pak Hadi aja?” Yanti agak berteriak.


Via yang udah masuk kamar kembali menyembulkan kepalanya dari balik pintu. “Apaan, Yan?”


“Gulai kakapnya gimana kalau dikasihin Pak Hadi aja? Kan tinggal dua ekor, pas banget dia kan cuman tinggal berdua sama anaknya.” Usul Yanti.


“Oh gitu? Iya deh, boleh juga.”


“Sekalian itung-itung ungkapan terima kasih kamu kan?” Senyum Yanti.


“Iya, bener juga kamu, Yan. Ya udah, tolong masukin ke wadah terpisah ya, nanti kita mampir ke Pak Hadi bentar. Aku mau mandi dulu.”


“Oke!” Yanti mengacungkan jempolnya.


Lima belas menit berlalu, Via mengakhiri mandinya yang biasanya lama karena takut kena omel Yana. Setelah berpakaian dan mengusap make up tipis dia keluar dan segera pergi dengan Yanti menuju rumah pak Hadi.


“Kok kayaknya sepi, Yan?” Via turun dari motor ragu.


“Ada kok, palingan di dalem. Pak Hadi nggak pernah kemana-mana.” Yanti memberikan wadah berisi gulai kakap pada Via. “Udah cepetan sana, aku tungguin disini aja.”


Via kahirnya masuk halaman dan mengetuk pintu rumah Pak Hadi.


Tok tok tok …


“Permisi, Assalamualaikum …” Via mengucap salam dan menunggu sebentar namun belum ada jawaban.


Via berinisiatif jalan memutar lewat halaman samping. Mungkin Pak Hadi lagi di kebun belakang, pikirnya. Tiba-tiba …


Ceklek!


Pintu rumah Pak Hadi dibuka dan Via mengurungkan langkahnya.


“Nak Via?” Pak Hadi agak surprise melihat kedatangan Via.



“Maaf, saya mengganggu ya Pak?” Via tersenyum merasa tak enak hati mungkin tadi Pak Hadi lagi istirahat.


“Oh, nggak. Mari masuk, Nak.” Pak Hadi mempersilakan Via masuk.


“Nggak usah, Pak. Saya cuman mampir sebentar mau memberikan ini.” Via memberikan wadah tupperber pada Pak Hadi.


“Apa ini, Nak?” Pak Hadi sedikit heran.


“Itu gulai ikan kakap masakan saya, Pak.” Via tersenyum agak nggak pede juga.


“Wah, gulai ikan kakap?” Pak Hadi berbinar. “Masakan kamu sendiri?”


Via mengangguk. “Iya, Pak. Maaf ya, kalo nanti rasanya kurang enak.


“Soal rasa itu, tergantung selera.” Ungkap Pak Hadi dengan senyum simpul.


Via kembali tersenyum, lantas segera pamit karena ingat janjinya pada Yana.

__ADS_1


“Trima kasih ya, Nak. Nanti kamu harus kesini lagi ya, saya mau tau perkembangan tanaman sayuran kamu.” Ujar Pak Hadi antusias.


“Oh, iya. Pasti, Pak. Insya Allah saya pasti ke sini lagi.”


Via akhirnya pergi. Setelah mengantar Yanti, dia segera tancap gas menuju kantor Yana. Namun ketika sampai di sana kantor tampak sepi. Via jadi ragu jangan-jangan Yana udah pergi karena kelamaan nunggu.


Cepat-cepat Via mengecek ponselnya, tak ada pesan atau panggilan masuk. Via menelpon Yana, tak lama Yana menyahut.


“Ya, Vi?”


“Kamu dimana? Aku udah di depan kantor kamu nih.”


“Tunggu bentar. Aku masih beres-beres.”


“Oh, oke. Kirain kamu udah ngacir!” Via lega lantas menutup sambungannya.


Lima menit berlalu, Yana belum keluar juga. Via ampe bête dibuatnya. Iseng dia buka sosmednya sambil kembali nunggu Yana.


Sebuah Van putih parkir di dekat Via, namun Via tak menyadarinya. Seorang Laki-laki keluar dari Van itu dan menuju kantor Yana. Namun langkahnya terhenti ketika melewati Via. Ia memandang Via yang bertengger di atas motor sambil serius main ponsel. Laki-laki itu adalah laki-laki yang sama yang memperhatikan Via dan Yana tempo hari di café depan kantor itu.


Lama kelaman Via merasa juga kalau ada yang memperhatikannya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat pada si laki-laki yang masih memandanginya itu. merasa tak menegnal orang itu, Via jadi agak khawatir juga. Lekas dia memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Jangan-janagn dia mau jambret hp aku! Jaman sekarang, jambret pun penampilannya kayak orang kantoran!


Via pasang kuda-kuda waspada.


Si laki-laki malah mendekati Via membuat Via semakin was-was. Namun ketika sudah di depan Via, dia malah mengembangkan senyum.


“Kamu Livia kan?” Tanya si laki-laki itu yakin.


Via hanya menatap si laki-laki di depannya masih dengan kewaspadaan.


“Kok tau namaku?” Judes Via.


“Aku Rindra teman sekelas kamu waktu kelas sepuluh.” Si laki-laki yang ngaku bernama Rindra itu mengulurkan tangan dengan senyum yang semakin lebar.


Via menyambutnya agak ragu. Dia coba mengingat nama Rindra dalam file memorinya.


Oh iya! Dia emang teman sekelasku. Si cowok tengil yang sok kecakepan dan playboynya na udzubillah! Batin Via setelah berhasil mengingat nama Rindra dan memperhatikan penampilan Rinda.


“Lama nggak ketemu kamu masih cantik aja ya?” Rindra langsung mengeluarkan jurus gombalnya.


Via hanya tersenyum tipis, sedikitpun dia tak termakan rayuan gombal apek si Rindra itu.


Heran juga, hampir 12 tahun berlalu kok dia sama sekali nggak pangling sama aku? Aku aja nggak inget sama dia!


“Kamu pasti kaget kan kenapa aku masih inget sama kamu padahal udah belasan tahun kita nggak ketemu?” Tanya Rindra seolah dapat membaca isi pikiran Via. “Itu karena kamu masih tetap cantik, makin cantik malah!” Lanjut Rindra dengan senyum yang sungguh bikn Via mual-mual.


Via jadi gusar, dia melihat ke arah pintu kantor Yana.


Si Yana ngapain sih, kok belum nongol juga? Nggak tau apa disini aku lagi disamperin buaya buntung.


“Kamu janjian sama Yana ya?” Tanya Rindra lagi-lagi seperti tau isi hati dan oikiran Via.


“Iya.” Via hanya menyahut pendek, ogah nanya banyak-banyak. Dia udah risih banget dengan tatapan si Rindra.


“Masuk aja yuk, ke dalem!” Dengan pedenya Rindra langsung memegang lengan Via.


Via langsung menepisnya kasar.


“Masih galak aja ya kamu?” Rindra malah terkekeh bikin Via beneran makin ilfeel. “Tapi itu yang aku suka dari kamu. Kamu pasti nggak tau kan, kalo sebenernya dulu diem-diem aku pernah jadi pemuja rahasiamu.” Celoteh Rindra yang sama sekali tak mempan dengan penolakan Via.


Via sama sekali tak menanggapi. Dia meraih ponselnya lagi untuk membuat Rindra kesal karena tak diperhatikan. Tapi justru Rindra makin menjadi.


“Kamu tinggal dimana? Boleh aku main ke rumah kamu?” Rindra makin nekad.


“Aku sibuk.” Ketus Via.


“O …” Rindra ber O ria. “Kalo malem minggu nanti sibuk nggak? Kita jalan yuk!”


“Hoy! Burung Blekok! Ngapain kamu deket-deket sama Olive?” Yana yang baru keluar langsung menghardik Rindra kesal dan membuat Via bernafas lega.


“Eh, kamu punya panggilan kesayangan ya buat Livia?” Si Rindra malah tersenyum tak tau malu.


“Nggak usah sok kece deh! Minggat sana!” Usir Yana galak.


“Gila ya, kalian emang sahabat setia. Dari dulu kompak banget. Boleh dong aku juga …”


“Nggak boleh!” Potong Yana sambil melotot. “Pergi sana, aku bilang!” Yana mendorong bahu Rindra kesal, ia tak takut sedikit pun.


“Aduuh, sama ya kamu galaknya sama temen kamu yang cantik itu.” Rindra melirik Via yang udah nggak tau lagi harus gimana untuk menghindari Rindra. “Kamu keberatan nggak Yan, kalo aku yang ganteng ini jalan sama temen kamu yang cantik itu?”


“Jangan macem-macem ya! Dia udah punya suami tau!” Semprot Yana jengkel. “Aku laporin suaminya tau rasa kamu, biar dibejek jadi adonan cimol!”


“Jadi si cantik ini udah punya suami?” Rindra tak percaya. “Aduh, patah deh hati aku.” Rindra sok-sokqn bersedih sambil memegangi dadanya.


“Ish, masa bodo!” Cibir Yana. “Ayok, Vi. Kita cuss!” Perintah Yana.


Via segera memutar motornya, Yana naik ke boncengan.


“Awas ya kalo berani ganguain Via lagi. Aku santet biar burung kamu ilang!” Ancam Yana sebelum pergi karena mata Rindra masih terus memperhatikan Via.


Via kemudian menarik gasnya meninggalkan kantor Yana menuju kedai Nostalgia.


"Lama bener sih tadi kamu? Aku udah mau kabur tau gegara mahluk tengil itu!" Kesal Via yang melajukan motor dengan santai karena sudah menjauh dari Rindra.


"Sorry, tadi tiba-tiba perut aku mules."


Yana kemudian menceritakan soal Rindra. Yana bilang si Rindra itu masih keponakannya Bu Tasya notaris PPAT tempat Yana kerja. Dia ikut kerja disana baru beberapa hari yang lalu, namun sudah cukup merepotkan dengan ulahnya yang tengil sok kegantengan. Kemarin dia baru saja mendekati salah satu staff Bu Tasya juga, namun ketahuan pacarnya. Mereka sampai ribut di kantor dan membuat Bu Tasya wanti-wanti Rindra agar jangan mengulangi kekonyolannya itu kalo masih pingin kerja di tempatnya. Namun sepertinya tak mempan, karena barusan dia mengulanginya pada Via.


Dasar playboy! kelakuannya masih tak berubah dari dulu! Via hanya bisa membatin sambil berharap nggak akan ketemu Rindra lagi, dan dia udah pasti ogah kalo harus nyamperin Yana ke kantornya lagi.


Tak berapa lama, mereka sampai di kedai. Via segera memarkir motornya dan melangkah mantap. Kini sedikit pun ia tak ragu untuk singgah di kedai itu dan walau harus ketemu Danar, karena dia sudah meyakinkan diri tak akan mampu siapapun menggoyahkan hatinya. Meskipun tadi dia sempet heran kenapa Yana dan Khusni favorit banget nongkrong di situ.


Kedai tak terlalu ramai, mereka menuju area outdoor dimana Khusni sudah menunggu di sana.


Yana sudah barang tentu girang bukan kepalang karena ketemu sama tunangannya setelah seminggu berpisah. Ya, Khusni yang bekerja di Bandung, memang selalu pulang seminggu sekali.


“Kamu mau pesen apa, Liv?” Tanya Yana.


“Minuman aja deh, terserah apa aja. Aku udah makan soalnya.”


“Oke, samaan kayak aku aja ya.” Yana menulis pada kertas yang sudah disediakan lantas meyerahkan pada pelayan yang menghampirinya.


“Liat tuh tunangan kamu. Dia sampe nggak mau makan karena kamu ledekin pipinya lebar mirip jok motor vespa!” Omel Via pada Khusni.


“Hah? Masa sih, cintaku?” Khusni melihat tak percaya pada Yana di sampingnya. “Kamu ampe segitunya?”


Yana menyun.


“Maafin aku ya, cinta. Aku nggak bermaksud nyinggung kamu kok. Waktu itu cuma becandaan.” Khusni segera merangkul bahu Yana dan menariknya ke dalam pelukannya.


“Ekhem, ekhem!” Deheman Via membuyarkan keromantisan mereka. “Jadi gimana, kamu ada informasi lowongan kerjaan apa buat aku?” Tanya Via langsung.


“Banyak sih.” Sahut Khusni.

__ADS_1


“Serius?” Via ampe melotot dibuatnya.


“Tergantung kamunya mau di bidang apa dulu.”


“Apa aja deh. Yang penting bisa menerimaku yang usianya udah expired ini.” Cengir Via sambil menyambut minumannya yang baru datang kemudian mengaduknya.


“Iya sih. Agak susah juga kalo bicara soal umur sama status kamu yang udah nikah.” Khusni menggaruk-garuk pelipisnya.


“Katanya tadi kamu bilang banyak?” Via heran.


“Aku lupa kalo kamu udah nikah.” Cengir Khusni.


PLAK!


Yana sekonyong-konyong menggampar pipi Khusni.


“Aduh, kok nampol sih cinta?” Khusni memegangi pipinya yang pedes. Untung nampaknya ia sudah terbiasa dengan perlakuan Yana yang ringan tangan itu, jadi dia nggak marah, cuman kadang bikin shock aja.


“Pan dia nikahnya sama temen kamu, Bambang!” Kesal Yana. “Gimana sampe bisa lupa sih?” Yana nggak habis pikir.


Khusni cuman nyengir. “Coba aku tanyain sama beberapa temenku di sini ya? Kalo di Bandung kamu pasti nggak mau kan?” Tanya Khusni kemudian.


“Ya nggak lah. Aku kira udah ada lowongan kerjanya, nggak taunya masih nyari juga!” Via cemberut lantas menyedot minumannya.


“Sabar, Liv. Nanti pasti dicariin kok. Iya kan sayangku?” Yana melihat pada Khusni.


“Iya, cintaku. Segera aku hubungi Via kalo udah ada info.” Balas Khusni dengan tatapan manja.


“Makasih ya sayangku. Kamu emang yang paling baik sedunia. Makin sayang deh sama kamu.” Yana nggak canggung langsung melukin Khusni bikin Via sebel.


“Ish, kalian ini! Nggak malu apa diliatin orang?” Kesal Via. “Kalian kan belum resmi? udah main peluk-pelul aja kamuYan! Dasar gatel!”


“Namanya juga lagi kangen. Iya kan, sayang?”


“Iya cintaku.” Sahut Khusni sok mesra.


“Udah deh, aku pulang aja kalo gitu. Males nontonin kalian mesra-mesraan gitu.” Via buru-buru menandaskan minumannya.


“Yaah, dia malah mau kabur. Mafin deh, Liv.” Cengir Yana. “Yang lagi LDR sabar, yaaa…” Goda Yana.


“Tau ah, gelap!” Cebik Via lantas meraih tasnya dan berlalu begitu saja.


“Kalo gelap, nyalain lampunya, Vi!” Seru Khusni sengaja bikin Via makin kesal.


❤️❤️❤️❤️❤️


Menjelang maghrib Danar tiba di rumahnya dengan wajah letih. Pak Hadi yang mendengar suara pintu mobil bedebum membuka tirai jendela ruang tamu dan melihat Danar yang melangkah gontai masuk ke rumah.


“Motor kamu dibuang kemana?” Tanya Pak Hadi agak mengejutkan Danar yang tak menyadari Papanya berdiri di ruang tamu dekat jendela.


“Di lempar ke loakan!” Sahut Danar asal.


Pak Hadi malah terkekeh. “Hebat betul anaknya Herlina dan Rian Permadi ini, motor dilempar ke tempat loak. Tiap pulang gonta-ganti mobil. Udah kayak bos beneran ini. Mereka terlalu memanjakan kamu.”


Danar yang mau masuk kamar menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Papanya.


“Bisa nggak sih Papa nggak usah nyinyir?? Aku capek banget Pa, sumpah!” Danar memperlihatkan wajah lelahnya.


“Siapa yang nyinyir? Mentang-mentang abis ketemu sama pejabat, udah sok gaya kamu! Laki-laki kok sensitive, kayak test pack!” Kekeh Pak Hadi sambil melewati Danar.


“Terserah Papa, deh!” Danar malas meladeni Papanya.


“Hebat juga si Rian itu kalo bisa bikin kamu berubah jadi lebih tertib kayak lampu lalu lintas.” Pak Hadi berbalik kembali menyunggingkan senyum.


“Makasih lho Pa, atas pujiannya.” Sahut Danar keki.


“Mandi sana! Abis maghriban makan, ada gulai ikan kakap tuh di meja makan!” Seru Pak Hadi siap-siap mau ambil wudhu.


“Papa masak? Tumben!” Heran Danar.


“Itu dari Via, tetangga baru kita. Katanya dia masak sendiri.” Sahut Pak Hadi santai.


Seketika Danar terkesiap. Dia urung masuk kamar lantas menuju meja makan. Membuka tudung saja dan melihat gulai ikan kakap yang berlinang-linang santan sedemikian menggoda selera. Sebenernya sih bukan karena masaknnya, tapi karena yang masaknya. Hehe… 😆😆😆


Danar tersenyum memandangi masakan Via itu. Dilepasnya jas hitamnya, dan digulungnya lengan kemejanya, kemudian ia menarik kursi makan dan duduk di sana.


“Heh! Mandi sama sholat dulu,sana!” Pak Hadi yang habis wudhu menepuk bahu Danar dari belakang.


“Laper, Pa!” Sahut Danar cuek mengambil piring.


“Cuci tangan! Dasar jorok!” Hardik Pak Hadi.


Danar cuman cengengesan. Seumur-umur baru kali ini dia diomelin papanya karena lupa cuci tangan sebelum makan. Itu pasti karena masakan Via. Danar kembali tersenyum.


“Malah senyum-senyum lagi! Cuci tangan cepatan!” Ulang Pak Hadi persis kayak nyuruh anak kecil.


“Iya, Pa. Iya…” Danar menuju wastafel. “Papa nggak makan gulainya kan?” Tanya Danar kemudian.


“Kenapa memangnya?”


“Kan bersanten, Pa? Nanti kolesterol lho.” Danar menyedok nasi ke dalam piring.


“Papa nggak punya riwayat kolesterol kok.”


“Ini kayaknya pedes, kuahnya aja merah gini.” Danar mengambil gulai ke dalam piringnya.


“Terus kalo pedes kenapa?” Heran Pak Hadi.


“Nanti Papa sakit perut.”


“Bilang aja kamu mau habisin gulainya sendiri, dasar rakus!” Omel Pak Hadi segera berlalu menuju kamarnya.


Danar cuman nyengir, kemudian dia mulai makan dan begitu menikmati masakan Via. Lelah dan letihnya sirna seketika berganti dengan bahagia karena mendapatkan hadiah masakan lezat dari pujaan hatinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Aish, pujaan hati… 😊😊😊


Ciye… ciyee….😂😂😂


Ada yang marah nggak nih?😆😆😆


Atau mau ngomelin Othor kalo Via dideketin Daanar?🤭🤭🤭


Secara kan Mirza lagi nggak ada, hehe….😅😅😅


Selow, sodara-sodara.😁😁😁


Danar santun dan terhormat kok. 😍😍😍Nggak kayak si Rindra.😏😏😏


Oke, segini dulu yak … 🙏🙏🙏🤩🤩🤩


Have a nice Sunday ❤️❤️❤️


Luv u all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2