
Hanson menyuruh Arumi turun dari mobilnya di tepi jalan yang lengang dengan emosi hampir naik ke ubun-ubun.
“Kamu tega nurunin aku di tepi jalan begini? Kamu nggak kasian sama aku? Kalo aku diculik gimana?” Arumi kekeh nggak mau keluar.
“Turun sekarang, atau aku seret kamu!” Geram Hanson.
“Kamu itu kenapa sih? Katanya tadi mau nemenin aku shopping, kok sekarang malah nurunin aku di jalan seenaknya? Dasar bule aneh!” Arumi menatap kesal.
“Kamu pikir aku nggak tau? Kamu ngajakin aku muter-muter dari tadi cuman mau bodohin aku kan? Terus kamu arahin aku ke tempat dukun somplak itu lagi kan?” Hanson meluapkan kejengkelannya.
Rencanya yang terbaca oleh Hanson membuat Arumi gelagapan. Dari awal ia memang beniat mau ngajakin Hanson ke tempat Mak Epot karena ini sudah wakunya Hanson terapi lagi, berhubung dia tau Hanson nggak bakal mau maka Arumi modusin Hanson minta ditemani belanja.
“Cepatan turun!” Hanson membuka pintu mobil dan menarik tangan Arumi.
“Hanson, tapi ini di dearah mana aku nggak tau.” Arumi pasang tampang memelas.
“Siapa suruh kamu bohongin aku? Harus berapa kali aku bilang, hah? Aku nggak percaya dengan pengobatan alternatif itu!”
“Tapi …, tapi nggak ada salahnya kan kita coba seklai lagi?” Ucap Arumi takut-takut.
“Nie wieder!” (Nggak akan lagi!) Hanson habis kesabaran dan menarik lengan Arumi hingga keluar dari mobilnya.
“Kamu itu laki-laki apa bukan sih? Kenapa tega banget sama perempuan?” Arumi hampir menangis diperlakukan semena-mena seperti itu oleh Hanson.
Hanson mendengus kasar. “Kamu yang minta aku berbuat seperti ini! Kalo kamu nggak pernah maksa aku, aku juga nggak akan sampe kasar seperti ini!”
“Tapi aku cuman pingin kamu jadi laki-laki normal lagi, jadi perkasa lagi.” Cicit Arumi seraya mengusap kedua matanya yang basah.
“Aku punya cara sendiri.” Suara Hanson sedikit melunak. “Kamu tau kan aku sedang menjalani pengobatan medis? Tapi kamu mengacaukannya!”
“Itu karena aku peduli sama kamu, karena aku cinta sama kamu.” Ucap Arumi tanpa malu seperti biasanya.
“Rette einfach deine Liebe! ich bin
brauche keine Liebe.“ (Simpan saja cintamu! Aku sedang nggak butuh cinta.“ Sahut Hanson jengah.
“Masa bodo kamu ngomong apa! Aku nggak ngerti! Yang jelas aku pingin selalu sama kamu, tolong jangan tinggalain aku.” Sekonyong-konyong Arumi melukin tubuh kekar Hanson hingga membuat Hanson terperangah.
“Arumi! What the hell?” Hanson berusaha melepaskan pelukan Arumi.
“Aku nggak bakalan lepasin!” Arumi menggeleng seraya mengetatkan dekapannya. “Aku nggak mau ditinggalin disini! Aku takut diculik preman terus dipaksa suruh jadi pengemis, nanti mukaku nggak cantik lagi, kulitku gosong, rambutku jadi gimbal. Sayang banget perawatanku mahal. Aku nggak mau kalo sampe jadi gemebel, hu..hu…hu…hu…” Arumi malah menangis.
Beberapa pengendara motor yang lewat menyakasikan adegan itu memandang mereka dengan tatapan beraneka macam. Ada yang iba, ada yang tersenyum, ada juga yang merengut seolah nggak habis pikir ngapain pake peluk-pelukan di tepi jalanan. Mungkin mereka mengira Hanson dan Arumi itu sepasang kekasih yang lagi bertengkar.
“Oke, aku nggak jadi ninggalin kamu di sini.” Hanson akhirnya mengalah. “Tapi kamu juga nggak boleh maksa aku ke tempat pengobatan itu lagi."
Dengan berat hati Arumi mengangguk dan perlahan melepaskan pelukannya dari tubuh Hanson.
“Sekarang aku antar kamu pulang.”
Mobil Hanson kemudian melaju berputar arah kembali menuju kota. Tak ada yang buka suara duluan. Hanson fokus pada kemudianya, Arumi tampak masih mencari celah dari mana ia akan memulai lagi misinya karena ia masih belum mau menyerah begitu saja. Sementara dari MP3 mengalun Sunday morning Maroon 5 mengisi keheningan di dalam perjalanan mereka.
🎵Fingers trace your every outline
Paint a picture with my hands
Back and forth we sway like branches in a storm
Change the weather still together when it ends …🎶
🎵That maybe all I need
In darkness she is all I see
Come and rest your bones with me
Driving slow on Sunday morning
And I never want to leave …🎶
“Eum, Hanson. Aku boleh nanya satu hal?” Arumi menoleh pada Hanson setelah beberapa lama mereka berdiaman.
“Kenapa?” Sahut Hanson tanpa menoleh.
“Tapi kamu jangan marah ya?”
Hanso mengangguk.
“Janji?” Tuntut Arumi karena walau bagaimana pun dia khawatir Hanson tiba-tiba akan menghentikan mobilnya dan meyuruhnya kembali turun di tepian jalan. Tapi emang bukan Arumi namanya, kalo dia langsung kapok dan nyerah gitu aja.
__ADS_1
“Iya.”
“Benaran ya? Kamu nggak boleh marah nih.”
Hanson berdecak kesal. “Apa aku perlu sumpah Palapa dulu?”
“Eh buset! Ini bule tau juga sumpah Palapa? Kamu siapanya Patih Gajahmada emang?” Arumi kaget juga Hanson tau sumpah palapa segala.
“Udah nggak usah ngalihin pembicaraan. Kamu mau nanya apaan?” Hanson cuek, matanya masih fokus lurus ke depan.
“Hemm, obat dari mak Epot itu udah kamu habiskan belum?”
NGIIK ….!
CIIT…..!
DUG….!
“Awwww!” Arumi meringis memegangi jidatnya yang barusan nyium dash board. “Kira-kira dong kalo ngerem!” Omel Arumi.
Hanson melihat Arumi dengan lurus. “Berapa kali aku bilang, jangan bahas soal itu lagi.” Geram Hanson tertahan.
“Ini yang terakhir, aku janji.” Arumi mengangkat dua jari kanannya. “Cuman pingin tau aja.”
Hanson tak menyahut, lantas ia menepikan mobilnya.
“Kamu bukan mau nyuruh aku turun lagi kan?” Arumi jadi khawatir tiba-tiba.
Hanson mengehala nafas. “Aku nggak mau pake itu lagi.”
“Jadi belum habis?” Cecar Arumi. “Kamu merasakan perubahan?”
“Boro-boro. Yang ada punyaku malah gatel-gatel.” Gumam Hanson.
“Jadi karena itu?” Lirih Arumi, sejenak ia berpikir seperti sangat serius.
“Ini semua gara-gara ulah kamu. Udah pisangku layu sekarang tambah dengan gatal-gatal lagi. Bener-bener nggak berguna pengobatan itu!” Dengus Hanson kesal.
“Apa aku boleh liat?”
Hanson melotot. “Liat apaan?”
“Ish! Gila kamu!”
“Barangkali cara ngolesnya yang salah. Kurang merata atau terlalu …”
“Lupakan! Jangan bahas soal itu lagi, atau kamu boleh turun sekarang sebelum aku nyeret paksa kamu lagi!” Potong Hanson dingin.
Arumi langsung diam.
Oke, kali ini aku nurut. Tapi liat aja, aku punya seribu satu cara buat kamu ngabisin obat itu. Batin Arumi .
❤️❤️❤️❤️❤️
Sejak kejadian makan siang di café itu Ramzi tak tidur sekamar dengan Sofi. Ia berspekulasi menuruti perkataan Azad. Dan ini adalah hari ke dua dia tidur di kamar pribadinya di lantai tiga.
“Apa istri ja**ngmu itu berulah lagi?” Tanya Tuan Alatas pada Ramzi ketika mereka duduk di balkon bersantai seusai makan malam.
“Udah ku bilang aku tak suka Papa menyebutnya seperti itu.” Sahut Ramzi datar.
Tuan Alatas tersenyum acuh. “Kalian tak saling bicara, biasanya dia selalu sok manis saat makan bersama.”
“Papa perhatian juga rupanya dengan hubungan kami.”
“Kepala pelayan juga bilang kalian tidur terpisah.”
Ramzi membetulkan posisi duduknya yang agak melorot. “Dia sedang marah padaku karena cemburu pada Jane.”
“Baguslah. Ceraikan saja dia langsung dan nikahi Jane. Papa nggak keberatan.”
Seketika Ramzi menoleh, memandang Papanya sejenak.
“Jane lebih baik, lebih dari itu dia bisa diandalan untuk membantu di perusahaan.” Ucap Tuan Alatas.
Ramzi bangkit. “Aku mau tidur dulu, besok pagi-pagi ada rapat penting.” Ucapnya kemudian naik ke kamarnya.
Sementara itu di kamar Sofi, ia merasa dicuekin Ramzi. Ada rasa menyesal kenapa membiarkan hal ini berlarut-larut, namun ia juga gengsi kalau harus ngajak baikan duluan karena menurutnya kejadian di café itu murni kesalahan suaminya.
“Apa si brewok itu beneran nggak peduli sama aku?” Sofi bergumam sendiri. “Gimana kalo dia ternyata memang lebih milih si bekas asistennya itu? Terus beneran ninggalin aku? Ah, jangan sampe deh! Aku belum ambil semua aset berharganya. Ini nggak boleh dibiarin. Oke, aku yang ngalah kalo gitu.” Putus Sofi.
__ADS_1
Ia pun menuju meja rias dan memoleskan make up tipis di wajahnya serta menyemprotkan parfum dan tak lupa memakai lingerie di balik piyamanya.
“Biarin deh, aku turun harga sekalian. Si brewok mah emang kudu digituin biar bucin lagi! Tapi obat tidurku habis.” Sofi memeriksa laci nakasnya tak mendapati obat tidur yang ia pakai untuk mengecoh suaminya tempo hari. “Adanya obat pencahar nih. Ah, nggak! Nanti malah kena aku lagi kayak dulu itu, senjata makan tuan.”
Sofi terus berpikir cara apalagi yang akan ia gunakan agar tak sampai dimakan habis oleh suaminya seusai minta maaf nanti.
Digeladahnya semua isi tasnya, tapi tetep nihil ia tak menemukan apapun untuk membantunya.
“Baiklah, agaknya aku harus pasrah saja kalo gitu.” Sofi bersiap keluar kamar.
Pada saat yang sama, Ramzi pun sedang gelisah karena nyatanya sampai malam ini Sofi belum juga kembali baik seperti kata Azad.
“Gimana kalo dia beneran marah? Bisa jadi kan dia nganggep aku nggak peduli lagi sama dia karena nggak mau negur dia duluan?” Ramzi galau dan menimbang-nimbang langkah apa yag akan diambilnya. “Hem, mungkin aku memang harus mengajaknya baikan duluan. Gimana pun juga kan kemarin itu Sofi nggak salah? Dia nggak mungkin marah seperti itu kalo aku nggak ketemu Jane?” Ramzi terus ngomong sendiri. “Oke, aku harus bicara padanya. Aku yang akan minta maaf, masa bodo deh apa kata Azad kemarin.”
Ramzi pun beranjak bermaksud akan menemui Sofi di kamarnya, namun baru saja ia membuka pintu kamarnya, Sofi yang baru tiba di lantai tiga sudah berdiri di depan kamarnya hendak mengetuk pintu.
“Sofia …”
“Kak Ram …”
Ucap mereka bersamaan dengan ekspresi sama-sama kaget. Lantas keduanya terdiam hanya saling tatap.
“Aku …” Ucap mereka lagi hampir bersamaan.
Sofi dan Ramzi sama-sama tersenyum.
“Kalo gitu kamu dulu yang ngmong.”
“Nggak, Kak Ram aja dulu …”
“Ladies first.”
Sofi agak tergagap, ia mau nolak tapi nggak enak karena udah ketangkep basah malem-malem keluyuran nyamperin kamar pribadi suaminya.
“Eum, apa aku boleh masuk?” Tanya Sofi.
Ramzi memberinya jalan, Sofi segera duduk di sofa kamar Ramzi dengan menyilangkan pahanya membuat belahan piyamanya tersibak dan paha mulusnya tepampang jelas di mata suaminya.
“Kak, kenapa kamarmu panas sekali? Apa ACnya rusak?” Sofi menyeka lehernya seraya menyibakkan rambut panjangnya dengan posisi dada yang menantang.
“Oh, aku sengaja matikan. Karena aku tadi mau keluar.”
“Kak Ram mau keluar kemana malam-malam begini?”
“Cuma mau jalan-jalan di dekat kolam cari angin.” Sahut Ramzi memperhatikan cara duduk istrinya yang sepertinya sangat mengandung umpan, namun ia masih coba menahan diri karena ingin tahu apa sebenarnya yang akan dikatakan Sofi.
“Oh …”
Ramzi menatap lekat manik mata indah istrinya. “Kok cuma oh?”
Sofi menggeser duduknya lebih dekat dengan suaminya. “Terus?”
Ramzi ikut terprovokasi lebih mendekatkan lagi posisinya pada Sofi. “Tadi kamu mau bilang apa malam-malam datang ke sini?” Wajah Ramzi dekat sekali dengan Sofi.
“Aku, aku mau … mau tau Kak Ram lagi ngapain?” Sofi terpaksa berbohong, sementara ia merasakan hembusan nafas Ramzi mulai tak beraturan.
Ramzi tersenyum, dibelainya pipi mulus istrinya dengan lembut. “Sekarang kamu udah tau kan aku lagi ngapain?” Ucapnya dengan mata sayu dan bibir didekatkan pada ceruk leher Sofi yang jenjang.
“Kak Ram mau aku temani jalan-jalan di tepi kolam?” Tanya Sofi.
“Tamani aku di kamar aja.” Ramzi tak sanggup lagi menahan semuanya, direbahkannya tubuh Sofi perlahan di atas Sofa.
“Kak, kamu belum menutup pintunya.”
“Biarkan saja, palingan juga nyamuk yang masuk ngeliatin kita.” Sahut Ramzi cuek seraya tak sabaran pingin buru-buru ngeliat buah melon kesukaannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Tiiiiiiiit…..!
Layarnya tutup ya, silakan bayangkan sendiri apa yang terjadi selanjutnya 😂😂😂🤭🤭
Terima kasih sudah membaca. 🙏🙏🙏
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya Kak 😍😍😍
Rate 5 selalu dan vote seikhlasnya🤩🤩🤩
Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘
__ADS_1