
Hari ini jadwal Bu Een fisioterapi, Jumilah sudah bersolek sejak pagi buta mengetahui Om Jaka yang akan mengantar ke rumah sakit karena Mirza sibuk dengan pekerjaannya. Semua pekerjaan rumah sudah beres, Jumilah duduk di teras depan dengan secangkir kopi tubruk. Tak lama sosok yang dinantikannya pun muncul, mobil Om Jaka berhenti di halaman rumah dan senyum Jumilah segera mengembang sumringah melihat Om Jaka turun dari mobil menghampirinya.
“Semalat pagi Om Jaka,” Jumilah berdiri memberi sambutan.
“Pagi, majikan elu udah siap belum?” balas Om Jaka.
“Udah, tinggal berangkat aja kok. Apa Om Jaka mau ngopi-ngopi manja dulu bareng aku disini?” mengangkat cangkir kopinya yang isinya tinggal separo.
“Kagak usah, makasih. Gue udah ngopi di rumah.”
“Ya udah, bentar ya Om. Om Jaka duduk aja dulu, ntar pegel lho kakinya kalo berdiri terus,” melempar senyum menggoda sebelum masuk ke dalam.
Om Jaka hanya menanggapi datar, baginya udah biasa digoda-godain sama Jumilah yang selalu kecentilan setiap kali ketemu dengannya.
Tak lama berselang, Jumilah keluar mendorong kursi roda Bu Een. Tak ada sapa antara kakak beradik itu, raut galak segera diperlihatkan Bu Een ketika melihat Om Jaka. sebaliknya, Om Jaka cuek saja tak mempedulikan mbakyunya itu. jika bukan karena Mirza yang minta tolong, dia juga ogah banget nganterin ke rumah sakit.
Perjalanan ke rumah sakit pun sunyi senyap, Jumilah memilih sibuk dengan gadgetnya hingga sampai di pelataran parkir rumah sakit.
“Suruh dia pulang duluan, kita pulang naik taksi saja,”ucap Bu Een pada Jumilah setelah turun dari mobil. “Malas saya liat tampangnya.” Melirik sekilas pada Om Jaka.
Berjalan cuek mendahuli Jumilah dan mbakyunya, Om Jaka tak mau ribut di rumah sakit.
“Jum, kamu nggak denger apa kata saya tadi?” bertanya pada Jumilah yang membawanya menuju ruang praktek dokter Vi Vivery.
“Bilang aja sendiri, aku nggak mau pulang naik taksi ya!” sahut Jumilah.
“Kamu berani ngelawan saya?” menoleh pada Jumilah.
Spontan Jumilah menghentikan langkahnya dan berdiri di depan Bu Een. “Bu Een berani ngelawan aku?” berbalik menantang seraya berkacak pinggang. “Jangan macam-macam ya, aku jorokin kursi rodanya ke selokan rumah sakit baru tau rasa ntar!” Ancam Jumilah denagn raut tak kalah galaknya dari Bu Een.
Bu Een langsung diam, baginya yang tak berdaya berada di atas kursi roda memilih untuk terpaksa mengalah adalah keputusan yang tepat walau hatinya gondok setengah hidup setengah mati pada Jumilah.
Tiba giliran Bu Een untuk fisoterapi pun Jumilah enggan ikut masuk ke dalam. Toh sudah ada suster, begitu pikir Jumilah kira-kira. Dia lebih memilih menemani Om Jaka yang baru saja usai menerima telepon.
“Ekhem,” berdehem kecil mendaratkan pantatnya di bangku samping Om Jaka. Ruang tunggu tampak sepi, hanya ada mereka berdua. “Om, Mbak Sofi dan suaminya udah pulang belum?” tanya Jumilah yang langsung membuat Om Jaka mengerutkan keningnya.
“Kok kamu tahu Sofi segala?”
“Iya, soalnya kemarin Mbak Sofi ke rumah pamitan sama Bu Een katanya mau pulang gitu. Emang pulangnya kemana sih Om?” mulai kepo.
“Ke Jakarta.”
Membulatkan bibir menganggukan kepalanya, “Oh, suaminya juga ikut pulang ya?”
“Ya iyalah, masa ditinggal?”
Jumilah nyengir menggaruk pelipisnya, “mereka udah lama ya nikahnya? Apa Mbak Sofi itu dulunya mantannya Mas Mirza? Kayaknya Bu Een sama mbak Sofi pernah ada chemistry ya Om?”
“Elu kepo bener sih Jum jadi manusia? Nanya mulu kayak polisi.” Om Jaka sebel, mengalihkan perhatiannya pada layar gawai untuk mengabari Mirza.
“Kepo sih nggak, cuman penasaran aja Om,” Jumilah ngeles. “Abisnya kemarin aku dengar Bu Een itu nyuruh Mbak Sofi cerai sama suaminya biar bisa nikah sama Mas Mirza, emang –“
“Bujug! Serius lu Jum?” Potong Om Jaka shock, wajahnya dengan rahang kokoh menawan menghadap Jumilah lurus. Jumilah ampe deg deg serr ditatap sedekat itu sama Om Jaka, maklumlah Jumilah kan emang ngefan banget sama Om Jaka.
“Hoy, malah bengong lagi!” menepuk jidat Jumilah sampe sedikit terdorong ke belakang.
“Eeh, maap Om, hehe …” Jumilah malah cengengesan sadar dari keterpanaanya akan pesona Om Jaka.
“Elu serius mbakyu gue ngomong begitu sama Sofi?” ulang Om Jaka.
“Serius pake banget Om!” mengangguk yakin “Emangnya kapan aku pernah bohong sama Om Jaka? Nggak pernah kan? aku selalu serius dan nggak pernah main-main, termasuk soal perasaan hati ini,” memegangi dadanya yang sedari tadi iramanya tak ritmis, matanya mengerjap-ngerjap dengan senyum dibuat semanis mungkin.
“Heh, kepiting empang! Nggak usah kecentilan deh lu sama gue, kagak mempan. Gue udah punya bini dan gue setia sama bini gue!” Om Jaka menolak keras.
Bukannya marah atau malu dengan penolakan Om Jaka, Jumilah malah tertawa mendengarnya. “Jadi yang kedua juga nggak papa deh Om, aku jepit Om ampe puas deh ntar. Kan aku kepiting empang, jagonya kalo dalam hal jepit menjemit mah, hahaha ….”
“Dasar somplak lu! Ngomong sekali lagi, gue kunci di kamar mayat mau lu?” Om Jaka kesal.
Seketika Jumilah langsung mingkem, “maaf deh Om, jangan marah dong. Aku kan cuman becanda.” Mengulas wajah penuh penyesalan. “Maafin Enjum ya Om, Mbak Denaya emang super sempurna buat Om. Apalah daku ini hanya kepiting empang yang haus akan cinta lelaki …”
“Kalo haus minum, noh kran air!” Sambar Om Jak mendongak pada wastefel di sudut ruang tunggu.
Jumilah mengerucutkan bibirnya.
“Kagak usah monyong-monyong lu, kayak ikan sapu-sapu!”
“Om Jaka tega sama Enjum … “
“Kagak usah sok imut juga deh lu depan gue! masuk sana tengokin majikan elu udah kelar apa belom. Jangan-jangan dia ketiduran di dalam dari tadi nggak keluar-keluar.”
Bangkit dari duduknya, “iya deh. Enjum tinggal bentar ya Om.”
“Hish! Dibilang jangan sok imut, kuping gue geli dengernya. Gue pecat juga lu ntar!” Ancam Om Jaka kesal.
“Iya Om iya, maaf… “ Jumilah segera berlalu masuk ruangan dokter setelah terlebih dulu mengetuk pintu meninggalkan Om Jaka dengan perasaan bingung campur kesal.
"Heran gue Yu, bisa-bisanya sampean punya pikiran buat misahin Sofi sama lakinya," menggumam sendirian."Bener-bener keterlaluan sampean Yu, nggak puas rupanya bikin Via dan Mirza pisah," berdecak kesal menyugar rambutnya ke belakang.
❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1
Hari belum terlalu siang, Via sedang memanen tanaman sayurannya. Hampir satu keranjang penuh terisi oleh tomat, kembang kol, terong dan sawi. Semilir angin menerbangkan rambut lurus pajangnya, dia mulai berpikir untuk membudidayakan sayuran secara hidroponik. Pasti akan menyenangkan mengurus tanaman sayuran hidroponik untuk mengisi waktu luang kerena Via mulai dilanda kejenuhan dengan rutinitasnya yang monoton dari hari ke hari. Namun keraguan sejenak melintas dalam benaknya, kandungannya hampir memasuki bula ke sembilan, rasanya lebih baik dia urus setelah meahirkan saja.
“Ck, tapi kayaknya kelamaan kalo nunggu lahiran dulu,” menggumam sendiri. “Ah, sebaiknya aku minta tolong Yanti dicarikan orang kerja buat bikin medianya dulu. Baru setelah itu diurus nanti kan gampang,” tersenyum dengan idenya sendiri.
Belum ada semenit mendapat ide dadakan itu, Yanti tau-tau datang memasuki halaman rumah Via.
“Vi,” panggil Yanti yang nampak terburu-buru.
“Hai, Yan. Gio mana?” balas Via.
“Ada yang mau aku omongin,” alih-alih menjawab Yanti malah menatapnya serius membuat Via heran.
“Ada apa sih? Kayaknya serius banget?”
“Kita duduk di dalem aja, biar enak ngobrolnya,” menggandeng lengan Via mengajak masuk ke ruang tamu.
Via semakin heran dibuatnya, ampe segitunya Yanti. Namun dia menurut saja dan melupakan keranjang sayurnya yang masih tergeletak pasrah di atas tanah.
“Aku mau minta klarifikasi,” menatap lurus wajah Via yang masih dipenuhi tanda tanya.
“Soal apa?”
“Apa benar kamu selingkuh sama Danar?”
JRENG!
Pertanyaan Yanti yang langsung tanpa basa basi sontak membuat rona wajah Via pias, susah payah dia menguasai dirinya karena kedua netra Yanti masih mengawasinya tajam menuntut penjelasan.
“Jawab, Vi” desak Yanti. “Katakan itu nggak benar, itu cuman gosip kan?”
Mendadak kedua telapak tangan Via terasa dingin, kegugupan mengusai hatinya. Sungguh ia tak menyangka Yanti akan tau berita settingan ini. Dan apakah dia harus jujur pada Yanti tentang yang sebenarya? Berat bagi Via untuk berterus terang, dia tak mau mengumbar aib rumah tangganya. Namun jika ia membenarkan tuduhan itu, ia pun tak siap mendapat kebencian dari Yanti. Meski Via menegnal Yanti belum terlalu lama, ketika dia dan Mirza pidah rumah ke kota, namun Via yakin Yanti orang yang sangat baik dan dapat dipercaya, selain itu juga Firman suami Yanti teman baik Mirza. Inilah yang ditakutkan Tia, cap buruk dari lingkungan yang akan diterima Via dan Danar.
Mengehela napas berat, “kamu dapat kabar dari mana?” menjawab dengan pertayaan.
“Nggak penting dari mananya, jawab aja benar atau nggak?” terus medesak masih dalam mode tatapan tajam seolah siap menguliti Via. Sepanjang mengenal Yanti, baru kali ini Via melihatnya semenyeramkan itu.
Terdiam lagi, berusah menimbang segala kemungkinan jika dia menjawab benar dan menjawab tidak benar.
“Vi! Cepat jawab,semua orang di komplek ini ramai membicarakan kamu Danar. Aku nggak akan percaya sebelum kamu berterus terang."
Masih setia dengan dengannya, mulut seolah terkunci membuat Yanti semakin penasara.
"Apa diammu ini karena kamu membenarkan berita itu?” Semakin tak sabar.
“Yan, aku dan Mas Mirza sebenarnya –“ meluncurlah kalimat demi kaliamat dari bibir Via mengungkapkan yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya. Via rasa itu pilihan terbaik, meski ia nampak buruk di depan banyak orang namun setidaknya keluarga dan sahabatnya mengetahui kebenarannya.
“Vi, kamu nggak seharusnya berbuat nekad seperti itu. kamu dan Danar sama gilanya.” Ucap Yanti usai Via menyelesaikan ceritanya. “Semuanya kan bisa dibicarakan baik-baik?”
“Kamu jangan putus asa, pasti aja jalan terbaik kok selain perpisahan,” menggenggam erat jemari Via yang masih terasa dingin untuk memberinya kekuatan.
“Selama 8 tahun ini aku dan Mas Mirza tak pernah berhenti mencoba, tapi apa hasilnya? Menikah tanpa restu orang tua, apalagi restu dari sang ibu itu terasa berat dan sangat tak bahagia.” Kedua netra beningnya mulai berkabut.
“Tapi Mirza sangat mencintai kamu.”
“Aku juga sangat mencintai Mas Mirza. Dan justru karena alasan cintaku yang begitu besar pada Mas Mirza ini, aku tak mau membuatnya terbelunggu diantara dua wanita yang tak seharusnya ia pilih salah satunya.” Lirih Via penuh kegetiran.
“Aku tetap nggak setuju dengan cara kamu, kamu nggak pikirin anak kamu nanti?” Masih tak rela menerima kenyataan sahabatnya akan bercerai.
“Aku tak akan menghalangi Mas Mirza kapanpun mau menemuinya, kerena selamanya dia adalah anak Mas Mirza.” Mengelus perutnya, sontak butiran hangat meleleh di kedua pipinya jika sudah membicarakan soal anak. Hatinya pedih.
“Itu berbeda Vi, akan jauh lebih baik jika Mirza masih tetep menjadi suamimu. Aku mohon, Vi. Pertimbangkan kembali keputusan gilamu ini.”
Menggeleng, “sudah terlambat. Ibu mertuaku sudah menjalani operasi, aku dan Mas Mirza hanya tinggal menunggu waktu saja. Setelah anak kami lahir, perceraian kami akan mulai diproses.”
“Kalau memang sudah operasi ya udah, kalian nggak usah jadi berpisah. Toh opersainya udah berjalan lancar kan? Atau kalian pura-pura saja pisah biar ibu metuamu itu percaya.”
“Janji adalah janji, Yan. Dan itu harus ditepati.”
“Kalau janji itu justru mengorbankan pernikahan, itu tak harus ditepati menurutku. Kamu dan Mirza bisa cari alasan lain untuk membatalkan perceraian itu. yang terpenting ibu mertua kamu sudah sehat kembali. Aku yakin kamu dan Mirza pasti bisa bersatu lagi, kalian saling mencintai, kalian tak seharusnya berpisah dengan cara yang kejam seperti ini. Vi, aku berharap –“
“Yan, aku udah lelah,” pangkas Via. “Aku udah lelah dengan semuanya. Dan aku menyerah.” Menyeka pipi mulusnya yang basah dengan punggung tangannya. “Jangan mendesakku, keputusanku sudah bulat.”
Harapan tinggal harapan, kekecewaan yang teramat dalam dirasakn juga oleh Yanti. Dia benar-benar tak rela dengan takdir yang akan dijalani Via. Dipeluknya erat wanita hamil yang berurai air mata di depannya itu.
“Aku berdoa, semoga kelak Tuhan mempersatukan kalian kembali,” bisiknya ditengah tangisnya yang juga pecah, keharuan menyelimuti keduanya. Yanti turut merasakan kepedihan derita batin Via.
-
-
-
Hari merambat sore, dan belum waktunya bagi Danar untuk pulang ke rumah. Namun telepon dari papanya yang memintanya segera pulang membuatnya keluar kedai dengan tergesa. Danar khawatir penyakit jantung papanya kumat lagi.
“Duduk,” titak Pak Hadi dengan wajah datar begitu Danar mejejekkan kakinya di rumah.
Memandang sang papa yang terlihat sehat-sehat saja. “Papa nggak lagi sakit?”
Menghela napas sejenak, “Danar, apa benar berita tentang kamu dan Via yang beredar di lingkungan komplek kita ini?”
__ADS_1
Meski kaget dengan pertanyaan papanya, Danar berusaha bersikap santai. “Berita apa Pa?”
“Jangan pura-pura nggak tau kamu, semua warga komplek sekarang sedang membicarakan hubungan kamu dan Via.” Menyorot dingin pada bola mata kecoklatan sang anak tunggalnya.
“Cepat juga berita itu menyebar,” menggumam seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa ruang keluarga.
“Bisa ya, kamu sesantai ini menghadapi kabar miring yang membuat reputasi keluarga kita menjadi buruk?” menggeleg tak percaya.
“Pa, yang Papa dengar itu nggak benar.” Langsung menyanggah tegas.
“Kalau nggak benar kenapa sampai semua warga heboh membicarakan kamu yang sudah merebut Via dari suaminya? Foto-foto kamu dan Via sudah menyebar, dan itu membuat mereka yakin kamu dan Via memang berselingkuh!” Pak Hadi menekankan kata berselingkuh pada akhir kalimatnya.
“Foto-foto apa Pa? aku nggak pernah foto berdua, atau bermesra mesraan sama Via. Pasti itu hanya mengada-ada.” Bantah Danar.
“Papa nggak tau, tapi Bu Endah pemilik warung di gang G perumah kita yang biasa mengambil sayuran pada Papa, tadi kesini dan bercerita secara gamblang tetang kamu dan Via. Dia juga mengatakan melihat foto-foto kamu berduaan dengan Via."
“Pa, soal foto itu aku beneran nggak tau. Aku pikir pasti ada yang sengaja merekayasa. Tapi soal hubunganku sama Via aku bisa jelaskan kebenarannya.” Danar berusaha menyabarkan Pak Hadi.
“Jelaskan sekarang kalau begitu.” Titah Pak Hadi.
Seperti halnya Via, Danar pun menceritakan semua detail masalah rumah tangga Via tanpa ada yang terlewat.
“Danar, kamu sudah mencampuri urusan rumah tangga orang lain terlalu jauh,” ucap Pak Hadi. “Sudahi permainan ini, tinggalkan Via.”
“Nggak Pa, aku nggak mungkin meninggalkan Via saat dia terpuruk seperti ini.” Tolak Danar tegas.
“Itu bukan kewajiban kamu, ada keluarganya yang akan membantunya. Kamu justru memperkeruh keadaan.” Laki-laki berusia 65 tahun yang masih manampakkan aura kesangarannya itu coba mnggoyahkan pendirian sang anak.
“Tapi Via butuh aku Pa, aku nggak bisa mundur. Kami sudah setengah jalan.”
“Kenapa nggak bisa?Jangan biarkan bola api ini terus menggelinding semakin panas, kamu dan Via bisa sama-sama terbakar dan hancur." Terus mendesak Danar untuk mematuhi nasehatnya.
Bergeming dengan semua ucapan sang papa.
"Via sedang hamil, bukan tidak mungkin tuduhan miring selanjutnya mengarah padamu." lanjut Pak Hadi dipenuhi kekhawatiran kini.
"Apa maksud papa?" mengernyit tak paham.
"Bisa jadi mereka menuduhmu lebih kejam," menjeda kalimatnya, "Via hamil anakmu," berucap dengan sangat berat.
"Astaghfirullah" Terperanjat kaget dengan pikiran sang papa. "Demi Allah aku tak berbuat sampai sejauh itu, Pa." menggeleng kuat, raut wajahnya pias.
"Kamu bisa meyakinkan papa dengan sumpahmu, tapi tidak di dengan orang-orang yang terlanjur mempunyai stigma buruk pada kamu dan juga Via."
menunduk meremas rambut ikalnya setengah frustasi. Apa seburuk itu prasangka orang di luar sana padanya?
"Danar, sekali lagi papa minta. Tinggalkan Via."
"Tidak akan Pa. Aku akan menyelesaikan apa yang sudah aku mulai."
"Jangan-jangan benar dugaan Papa selama ini,” menelisik lebih dalam pada kedua manik kecoklatan yang sama sekali tak didapatinya keraguan disana. “Kamu mencintai Via?”
Deg!
Terdiam, hanya membalas tatapan sang papa tanpa mampu berucap.
“Jawab, Danar. Kamu mencintai Via kan? Kamu melakukan semua itu karena kamu mencintai Via, bukan murni karena ingin membantunya.”
Masih belum membuka mulutnya. Pertanyaan papanya ini butuh kesungguhan, bukan jawaban untuk pendukung drama settingan yang digagas oleh Via.
“Jawab Papa, Danar!” meninggikan intonasinya, jiwa premannya tiba-tiba muncul karena gemas melihat Danar tak juga kunjung bicara. “Jawab Papa, jangan jadi pengecut!”
“Iya, aku mencintai Via Pa.” Jawab Danar lugas pada akhirnya. “Dan aku nggak rela melihat perempuan yang aku cintai menderita.”
“Danar apa kamu sadar, tindakanmu ini mempertaruhkan nama baik kamu dan keluarga. Dia itu istri orang.” Pak Hadi tak habis pikir dengan pengakuan Danar. “Tinggalkan Via sebelum kamu terlibat terlalu jauh dengan perasaan terlarangmu itu.”
“Nggak Pa, aku akan meninggalkan Via setelah dia resmi bercerai. Karena aku sudah berjanji membantunya sampai selesai.” Danar kekeh pada keputusannya.
“Apa kamu yakin kamu akan benar-benar mampu meninggalkannya setelah rasa itu tumbuh dan berkembang semakin besar dalam hatimu?" Menyapu wajah sang anak dengan tatapan tak yakin. "Nggak Danar, Papa sangsi akan hal itu. Tinggalkan Via sebelum semuanya terlambat.”
Menarik napas panjang, penat berdebat dengan sang papa. “Tentu aku tak senekad pikiran orang-orang Pa, aku nggak akan merebut Via dari Mirza. aku tau dia perempuan bersuami, itulah sebabnya meski aku mencintainya aku berusaha sadar diri dan aku –“
“Omong kosong!” Potong Pak Hadi. “Apapun pengakuanmu sekarang pada papa, itu tetep nggak akan merubah penilaian buruk pada kamu dan Via. Dan harusnya kamu sadar betul akan hal itu. membantu bukan berarti membahayakan diri sendiri, itu konyol dan bodoh!”
“Aku terima semuanya Pa, termasuk cercaan dari Papa. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk Via.”
Menarik sudut bibirnya, melengkungkan senyum sarkas, “anak muda yang dibutakan cinta. Kasihan sekali kamu, papa kira hanya papa yang mengalami nasib menyedihkan gara-gara cinta buta, nyatanya itu menurun pada kamu.”
Ikut tersenyum, seolah menertawakan kebodohannya sendiri. Mungkin benar, sebagian sifat dan watak keras kepalanya didapatkan dari sang mantan preman Hadi Pramana, laki-laki tua yang masih terlihat tampan di usia senjanya itu.
“Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah Via resmi bercerai dengan suaminya? Apa kamu akan menikahinya?” Pertanyaan Pak Hadi selanjutnya sontak kembali membuat Danar terdiam seribu bahasa. Lidahnya kelu untuk bertutur kata, sampai sang papa menunggu cukup lama, belum ada yang terucap sepatah katapun dari bibirnya.
❤️❤️❤️❤️❤️
hmm, viral ke seantero komplek perumahan ya Danar dan Via, wkwkwkkk 🤭🤭
untung nggak sampe jadi trendding topik di tweeter 😂
Jangan lupa like dan komennya ya 😊
__ADS_1
vote dan gift kalau berkenan 😍
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘