TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
157 #CALON ISTRI PAK BOS


__ADS_3

Sejak piknik keluarga itu pikiran Bu Harni tak menentu. Riri yang sering kali memergoki ibunya sedang gundah gulana tak berani bertanya, ia hanya membiarkan saja ibunya itu bergelut dengan pikirannya sendiri. Seperti sore ini Bu Harni sama sekali tak menyadari kedatangan Riri, padahal Riri sudah mengucap salam namun ibunya tak menjawab. Riri mancari ibunya yang ternyata sedang merapikan jemuran pakaian di teras belakang. Tangan Bu Harni memang bekerja, namun pikiranya hampir dipastikan tak berada di sana.


“Hemm, pasti lagi kebayang sama mantan deh itu.” Riri melongok dari balik pintu dapur lantas segera menuju kamarnya.


Bu Harni beberapa kali menghela napas, sepertinya sedang terjadi pergulatan batin yang hebat dalam dirinya.


“Ah, Mas Pram. Mengapa kamu datang lagi dalam kehidupanku setelah berpuluh tahun lamanya, Mas.” Kalimat yang seperti penuh penyesalan itu meluncur begitu saja.


FLASHBACK ON


“Pantainya indah ya, Dik?” Pah Hadi menghampiri Bu Harni yang sedang memperhatikan Ica bermain dari kejauhan.


Agak tergagap Bu Harni menoleh pada laki-laki yang dulu pernah menjadi raja dalam hatinya itu. “Eh, Mas … Mas Pram?”


“Kok kaget gitu Dik ngeliat saya? Kayak baru ngeliat hantu aja.” Pak Hadi berusaha mencairkan suasana karena melihat jelas keterkejutan dalam raut wanita yang pernah begitu didambakannya itu.


“Ah, nggak kok.” Bu Harni tersenyum salah tingkah.


“Dik, kita jalan-jalan ke sana yuk.”


“J – jalan-jalan?” Bu Harni ragu.


“Iya, sayang kan kalo kita hanya diam saja nggak menikmati suasa pantai yang indah ini.”


Bu Harni melukis senyum canggung dan mulai mengikuti langkah Pak Hadi di depannya.


“Dik, kamu kok jalannya di belakang sih kayak sama siapa aja?” Pak Hadi menoleh.


Mereka kemudian bejalan bersisihan, untuk beberapa lama tanpa kata. Sesekali ombak yang landai hampir menjilat kaki mereka yang tanpa terasa berjalan kian mendekat ke bibir pantai.


“Dik, kesibukanmu apa sekarang ini?” akhirnya Pak Hadi memulai obrolan.


“Nggak ada, Mas. Cuma ngurus rumah saja kok.”


Pak Hadi menghentikan langkahnya, sejenak melepaskan pandangan ke laut lepas. Bu Harni merasa akan ada hal yang ingin disampaikan sang mantan terindah itu.


“Dik, bagaimana menurutmu tentang rencana Herlina untuk Danar dan Riri?” Pak Hadi mengalihkan pandangannya ke wajah Bu Harni.


“Emh, aku sih terserah Riri saja Mas.” Bu Harni tak berani menatap kedua netra Pak Hadi, kelihatan sekali kalau dia kikuk dan coba menghindar.


“Aku juga begitu. Soal hati sebaiknya kita jangan ikut campur.” Pak Hadi kembali mengulas senyum. “Meskipun hati sebenarnya bisa dipaksakan.”


Deg!


Kalimat terakhir Pak Hadi terasa sangat menusuk ulu hati Bu Harni. Ia sadar, kemana arah tujuan perkataan mantan kekasihnya itu. Bu Harni hanya menunduk, ia tak mengatakan apapun.


“Dik, aku minta sama kamu jika anak-anak kita berjodoh tolong restui mereka.” Ucap Pak Hadi kali ini tanpa melihat pada wajah Bu harni yang masih menunduk meremas kedua telapak tanagnnya sendiri.


“Mungkin pernah terbesit dalam hatimu kalau aku memanfaatkan Danar untuk mendekati anak-anakmu, tapi percayalah aku pun tak mengetahui kalau kamu ibu dari mereka, Dik.”


Bu Harni semakin meras tertohok, Pak Hadi seperti sudah bisa membaca kekhawatiran Bu Harni selama ini. Perasaan bersalahnya yang begitu besar di masa lalu pada Pak Hadi membuatnya curigaan dan parno.


Angin pantai yang menyapu lembut wajah wanita separuh baya lebih yang masih terlihat ayu itu membuai lamunan Bu Harni ke peristiwa tiga puluh tahun silam dimana dia dengan sangat tak berperasaan mencampakkan si Hadi sang preman pasar pujaan hati dan lebih memilih pemuda lain yang dinilai lebih mapan karena dorongan orang tuanya.


“Mas Pram, aku minta maaf.” Lirik Bu Harni. Suaranya seperti menyatu dengan desiran ombak yang menyapu pasir-pasir pantai namun ia beranikan juga kali ini melihat wajah kharismatik di depannya.



Setelah berpuluh tahun, kata maaf itu baru terlantun, karena memang sejak peristiwa pahit malam itu mereka berdua tak pernah bertemu lagi.


“Dik, aku ikhlas menerima takdirku.” Pak Hadi berbalik menatap Bu Harni dengan senyum lebar. “Sekarang aku mohon, kau juga harus ikhlas dengan takdir anak-anak kita jika mereka kelak meminta restumu untuk hidup bersama.”


Tak ada kata yang terucap, hanya anggukan kepala Bu Harni sebagai jawabannya. Tentu saja itu pun belum sepenuhnya dari dalam hati, karena nyatanya sampai hari ini Bu Harni masih saja gamang.


FLASHBACK OFF


“Astaghfirullah, Ibu! sayurnya gosong!” Teriak Riri dari dapur.


Bu Harni tersadar karena teriakkan Riri, bergegas ia menghampiri.


“Ri, kamu udah pulang?” kaget Bu Harni.


“Dari tadi!” Sahut Riri kesal. “Ini gimana urusannya, masakan ibu sampe gosong begini? Emang ibu dari tadi di belakang nggak nyium bau gosong? Aku aja yang di kamar bau kok. Untung aja nggak kebakaran.” Omel Riri yang sudah mematikan kompor.


Bu Harni memandangi masakannya di atas wajan yang sudah tak berupa-rupa lagi bentuknya, aroma gosong jelas menyengat dan asap nampak mengepul memenuhi dapur.


“Ibu tadi lagi ngangetin sayur terus ibu tingal ngelipetin pakaian.” Ucap Bu Harni.


“Ditinggal ngelamun kali! Orang aku pulang ucap salam ibu diem aja kok! Makanya lain kali kalo mau ngelamun bikin agenda sendiri jangan sambil masak, jadi begini kan akibatnya!” Riri masih saja ngomel kemudian membaa wajan gosong itu ke tempat cucian piring dan mengguyurnya dengan air.


❤️❤️❤️❤️❤️


Semenjak Denaya hamil, dia jarang ikut mengurus toko matrial dengan Om Jaka. Denaya lebih sering di rumah mengerjakan pekerjaan rumah dibantu Bi Wati dan akan memasang tampang manisnya ketika Om Jaka pulang sore hari.


“Beb, sini dulu dong. Kok main nyelonong aja sih?” Tegur Denaya yang lagi nonton TV di ruang tengah ketika melihat suaminya datang.


“Eh, sori Han, aku nggak liat.” Om Jaka menghempaskan diri di samping Denaya menyandarkan tubuhnya rilex di sofa.


“Buka!” Pinta Denaya.


Om Jaka mengernyit. “Buka apaan?”


“Buka bajunya, cepetan!”


“Ih, masa buka sekarang? Tunggu agak maleman dikit, Han.” Om Jaka agaknya memikirkan hal yang lain. “Kok nggak sabaran amat sih, kalo ayah pulang terus liat kita gimana?”


“Beb, cepetan buka sekarang. Aku pingin nyium ketek kamu ....” Rengek Denaya.


Mata Om Jaka sekonyong-konyong melotot demi mendengar permintaan aneh istrinya. “Han, kamu ...”


“Buruan, ini adek bayinya yang minta.” Puppy eyes diperlihatkan Denaya hingga membuat Om jaka tak tega menolak.


T-shirt navy yang membungkus body maskulin Om Jaka akhinya dibuka juga, Denaya langsung nyungsep di ketiak kiri Om Jaka, mengendusnya sambil merem melek udah mirip iklan pewangi pakaian di TV.


“Ya ampun Han, kok gini amat ya? Nggak bisa lebih elit dikit napa ngidamnya?” Ucap Om Jaka.

__ADS_1


Denaya tak peduli masih saja membaui ketiak suaminya yang akhir-akhir ini menjadi candu baginya.


“Ahhh, segerrrr Beb.” Denaya tersenyum lebar lantas beralih ke ketiak kanan sumaniya.


“Han, kamu sadar nggak sih? Ini tu jorok banget tau?” Lirih Om Jaka dengan wajah pasrah tak berdaya.


“Lebih jorokan mana aku nyiumin ketiak kamu atau nyiumin ketiak teteangga?” Denaya mengangkat wajahnya denagn mimik jutek.


“Eeh, iya iya .... bukan maksud gitu, aku cuma ngerasa kamu ngidamnya antimainstream.” Om Jaka takut Denaya tersinggung.


Denaya lantas kembali cuek, kali ini merebahkan kepalanya di dada bidang Om Jaka sambil tangan kanannya menyusup ke dalam ketiak kiri suaminya. Om Jaka hanya bisa pasrah coba memaklumi kelakuan sang istri.


“Asaalamualaikum.” Dari luar terdengar suara Pak Haji Barkah mengucap salam. “Masya Allah. Kelakuan ... “ Pak Haji hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anak dan menantunya di sofa ruang tengah.


“Eh, Yah.” Om Jaka kaget. “Awas Beb, ada ayah tuh.” Om Jaka menegakkan posisinya, Denaya melihat ayahnya dengan senyum tanpa dosa.


“Kalian ini kok ya nggak tau tempat sih kalo mau mesra-mesraan begitu, kan nggak enak kalo dilihat Wati?” Tegur Pak Haji.


“Tuh, dengerin Han. Aku bilang juga apa tadi!” Om Jaka meraih T-shirtnya dan memakainya lagi. “Dena tuh Yah, akhir-akhir ini kelakuannya aneh sejak hamil. Hobinya ngobok-ngobok ketiak, ampe pada lecet-celet nih!”


“Nggak usah lebay, deh! Orang cuman pegang doang terus diciumin masa bisa lecet?!” Denaya mencebik kesal.


Pak Haji hanya bisa mengelus dada, kemudain berlalu ke kamarnya. Om Jaka pun segera bangkit.


“Beb, mau kemana?” Rengek Denaya.


“Mandi.”


“Jangan dong!” Denaya mencegat langkah suaminya. “Ntar baunya ilang.”


“Gerah, Dena. Gue seharian keringetan masa nggak boleh mandi?” Om Jaka nggak habis pikir, namun masih mencoba bersabar.


“Ya udah boleh mandi tapi keteknya jangan dibasahin, dua-duanya!”


“Ish, apa-apaan?”


“Ini permintaan adek bayinya.”


Om Jaka kembali melepas T-shirnya dan memberikannya pada Denaya. “Untuk sementara cium ini dulu ya? Ntar kalo abis olah raga malem kamu boleh ciumin ketek gue lagi sepuasnya.” Om Jaka nyengir lantas buru-buru masuk kamar sebelum dihadang lagi oleh istrinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Setelah sukses dengan rencana mengantarkan makan siang, kini Bu Elin meminta Danar buat nganterin Riri belanja berbagai macam keperluan bahan untuk mebuat kue.


“Emangnya Riri nggak bisa pergi sendiri, Bu?” Danar bertanya heran lewat telepon.


“Kan belanjaannya banyak, Nar. Kasihan kalo Riri harus naik motor.” Bu Elin beralasan.


“Kan bisa nyuruh sopir? Ibu kayak aku nggak ada kerjaan lain aja sih, masa nyuruh aku? Terus kerjaan kantor gimana kalo aku tinggal, ini kan masih jam kerja?” Danar agak kesal pada ibunya.


“Serahin aja sama Yoga, gitu aja kok repot?” Bu Elin santai. “Masa kamu nggak kasihan sama Riri, belanja banyak jauh lagi. Itu buat bikin pesanan minggu ini lho, dan besok harus ready semua bahannya.”


Danar tak berani membantah meski dia mulai mencurigai modus Bu Elin karena nggak biasa-biasanya nyuruh dia nemenin Riri.


“Ya udah tungguin, bentar lagi Riri nyampe situ sekalian antar makan siang kamu.” Putus Bu Elin.


“Tuh liat, kurir makanan dateng lagi.” Bisik Vony.


“Ih, iya lho. Ngapain sih dia pede banget main nyelonong aja masuk ruangan Pak Bos?” Kesal Cila.


Pada saat yang sama Via berdiri dari kursinya karena mau ke toilet, tak sengaja ia melihat Riri.


“Riri?” Panggil Via seraya mendekat.


“Eh, Mbak Via?” Riri sedikit terkejut.


“Kamu ngapain di sini?”


“Ini, nganterin makan siang buat Mas Danar disuruh Bu Elin.” Riri memperlihatkan bawaannya.


Via mengut-manggut, meski agak heran juga tapi Via langsung sadar ini pasti rencana Bu Elin untuk mebuat Danar lebih dekat lagi sama adiknya.


“Ya udah sana gih.”


“Mbak mau kemana?”


“Mau ke toilet.” Via nyengir.


Milen cs memperhatikan keakraban Via dan Riri sambil terus berkasak kusuk.


Tak lama waktu makan siang pun tiba. Via segera menuju mushola kantor selepas dari toilet sedangkan Riri dan Danar segera turun munuju parkiran.


“Mas kok tadi nggak dimakan dulu sih bekalnya? Kan sayang udah dimasakin sama Bu Elin.” Ucap Riri ketika mereka sudah di loby.


“Nanti keburu telat, Ri. Katanya kamu belanjaannya banyak?”


“Ya tapi kalo Mas Danar belum makan kan aku jadi khawatir. Ntar nggak kuat lagi angkat-angkat barangnya.”


“Jadi kamu ngajakin aku buat jadi kuli angkut nih?” Danar pura-pura kesal.


“Becanda, Mas. Haha....” Riri tertawa renyah seraya berjalan beriringan dengan Danar.


Di sudut loby Milen cs yang memperhatikan keakraban Riri dan Danar memandang heran.


“Eh, kok si cewek itu kecentilan banget sih pake ketawa-ketawa gitu?” Milen menatap jutek.


“Iya, sok akrab sama Pak bos!” Timpal Cila.


“Ish, kudu kita uyel-uyel tuh si tukang kurir. Berani banget keganjenan di depan pak Bos!” Vony tak mau kalah.


“Ho oh, mending cakep! Cakepan aku kemana-mana.” Milen pede yang langsung dibalas dengan lirikan tajam oleh Vony dan Cila.


Dari arah mushola nampak Via berjalan menuju lobi yang langsung dicegat oleh Milen.


“Eh, itu si Via! Kita tanya dia yok, siapa sih tu sebenernya si cewek kurir itu!” Milen berjalan cepat mendahului kedua solmetnya. “Vi, tunggu!”

__ADS_1


Via menoleh menghentikan langkahnya.


“Kamu kenal sama si tukang krir itu?” Tanya Milen langsung tanpa tadeng aling-aling.


“Tukang kurir?” Via heran.


“Iya, si cewek kurir yang kecentilan sama pak bos!” Sambung Cila.


“Yang tadi ngobrol sama kamu di atas!” Timpal Vony karena melihat Via masih bingung.


Via langsung ngeh, Riri yang dimaksud Milen cs. “Kenapa emangnya?”


“Yee kok malah balik nanya sih! Kamu kenal nggak?” Vony agak kesal. “Kayaknya kamu tadi akrab banget.”


“Kenal.” Sahut Via pendek.


“Siapa dia?” Milen penasaran banget.


“Tukang kurir.”


“Ish, maksud aku namanya siapa?” Milen geregetan.


“Oh, namanya Riana. Kalian kenapa sih kok kepo banget?” Via sengaja mincing-mancing.


“Ya kita kesel aja, cewek model begitu kok bisa-bisanya kecentilan di depan Pak Bos, pake ketawa-ketawa lagi barusan.” Vony memonyongkan bibirnya.


“Kalian kayaknya belum tau ya?”


“Belum tau apa?" Milen cs kompakan.


“Riana itu calon istrinya Pak Bos, mereka udah dijodohin sama Bu elin.”


“APA?” Milen cs kembali kompakan, mata mereka seolah mau copot karena melotot saking kagetnya.


Via tersenyum puas melihat Milen cs terkaget-kaget begitu, dia lantas berjalan meninggalkan mereka.


“Eh, tunggu!” Cila mengejar langkah Via. “Kamu jangan ngarang ya!”


“Iya, kamu asal ngomong kan? Mentang-mentang udah punya gebetan Om Om jadi semena-mena kamu ngatain Pak Bos mau nikah sama cewek model begitu!” Milen nggak kalah kesalnya.


SREEET


Via mengerem langkahnya ketika keluar dari lobi, sontak Milen cs bertubrukan karena Cila yang di depan juga mengerem mendadak.


“Siapa yang punya gebetan Om Om?” Via menatap tajam ketiganya.


“Ya kamu lah, masa kita!” Jawab Milen sok yakin.


“Iya, kamu kan waktu itu di jemput sama laki-laki pake mobil bertampang Om Om?” Cibir Vony.


Dasar mulut lemes! Kurang kerjaan banget mereka ngatain aku gebetannya Om-Om. Belum tau mereka kalo Om Jak itu Omnya suamiku! Ah, tapi bodo amat lah. Terserah mereka, nggak ada gunanya ngeladenin trio ubur-ubur ini.


Via memilih pergi sementara Milen cs terus mengikuti.


“Kalian ngapain sih ngikutin aku terus?” Kesal Via.


“Kamu masih berhutang penjelasan soal cewek kurir itu!” Milen pantang menyerah.


“Kalo kalian nggak percaya kalian tanya langsung aja ke pak bos atau ke Bu Elin sekalian.” Via memperceat langkahnya, risih banget dia sama si Milen cs yang keponya lebih-lebihin wartawan lambe turah.


“Mbak, Via!” Tak jauh dari situ Riri melambaikan tangan. Mau tak mau Via berhenti juga.


“Eh, itu si cewek itu. beneran lho, dia kayaknya mau pergi sama Pak Bos.” Bisik Cila.


Via mendekati Riri. “Kirain udah pergi dari tadi."


“Mas Danar masih nelpon tuh.” Riri melihat pada Danar yang nampak sibuk berbicara di telpon.


“Oh, ya udah hati-hati ya. Mbak mau makan dulu, laper nih.”


“Iya deh. Eh, tapi kalo aku pulangnya kemaleman aku nginep tempat Mbak Via ya?”


“Oke.”


“Hai, Vi.” Danar yang sudah selesai menelpon menghampiri. “Mau makan siang ya?”


“Iya.” Via sedikit melirik pada Milen cs yang masih berdiri memperhatikannya. “Ya udah deh, buruan kalian pergi, ntar keburu sore lagi.”


“Kamu mau ikut?” Danar menawari.


“Ih, ngapain aku ikut?”


“Iya Mbak, ikut aja yuk sekalian kita jalan-jalan. Ya kan, Mas?” Riri semangat.


Danar hanya yersenyum.


“Nggah ah, masa aku keluyuran di jam kerja? Ntar bisa kena SP.” Via nyengir. “Udah cepetan sana!”


Riri pun masuk mobil setelah Danar membukakan pintu untuknya.


“Duluan ya.” Ucap Danar sebelum masuk.


Via mengangguk. “Have fun ya.”


Danar menoleh, “kita cuman mau belanja kok bukan mau liburan.” Ucapnya tersenyum tipis.


Via tak ambil pusing, dia pun melanjutkan langkahnya menuju kantin sementara mobil Danar melaju pelan meninggalkan parkiran.


“HUAAAA!!!” Pekik Milen cs histeris.


”Ternyata benaran cewek kurir itu calon istrinya Pak Bos?” Milen menghentakkan kakinya tak terima.


❤️❤️❤️❤️❤️


Maaf banget ya Kak, othor masih belum maksimal up dan kasih feedback 🙏🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak selalu 😉🤩😍😍


Luv U all 🤗🤗😘😘😘


__ADS_2