
Hanson dan Rumi disambut hangat oleh Jane dan Azad yang lagi berada di rumah keluarga Husein. Mereka mau pamitan karena besok harus balik ke Jerman. Jane ajakin mereka masuk, tapi Rumi mau mereka di taman aja lebih santai. Mereka ngobrol seru banget. Semua hal dibahas dari soal bulan madu sampe rencana punya momongan. Rumi usulin Azad sama Jane yang belum sempet bulan madu buat pergi ke Jerman aja.
"Kayaknya boleh juga," Jane bersemangat melihat Azad di sebelahnya.
"Ntar aku recomend tempat-tempat yang bagus dan romantis buat kalian, dijamin pasti suka," Rumi antusias banget.
"Dijamin pulang bisa langsung dapet momongan nggak?" Timpal Azad yang disambut gelak tawa semuanya.
"Kalo itu sih kayaknya tergantung sama seberapa keras usaha kalian," Hanson senyum lebar.
"Berarti usaha kalian kurang keras dong, buktinya sampe sekarang belum berhasil?" Jane ledekin Rumi yang langsung manyun dibuatnya.
"Bukan kurang keras, tapi terlalu keras! Jadi adonannya bantet nggak bisa ngembang!" Sengit Rumi ngelirik Hanson.
"Kenapa liatin aku? Kamu yang sering ngajakin kan?" Hanson gak terima.
"Tapi kamu yang godain duluan!"
"Kamunya juga mau."
"Abisnya kamu sengaja mepetin aku terus!"
"Itu gak sengaja, kamu terlalu sensitif gak bisa kesenggol dikit langsung tegangan tinggi."
"Apa kamu bilang?" Rumi melotot kesal, dia cubit dada kiri Hanson sampe melintir mirip orang lagi muter gelombang radio jadul. "Iiiishh, dasar kamu otak mesum!"
"Aaaaawwwh....!" Hanson memekik megangin dadanya.
Jane sama Azad yang semula cuman senyum-senyum aja dengerin perdebatan kecil mereka lama-lama jadi khawatir, takut meletus perang nuklir langsung pisahin Hanson sama Rumi.
"Rumi, udah. Kamu apa-apaan sih?" Jane nenangin Rumi.
"Dia yang mulai!"
"Hanson, please... " Azad menarik lengan Hanson. "Jangan diributin lagi."
"Oke, kita selesaikan nanti malam," menatap Rumi yang kesal. "Liat aja, kamu bakal aku habisin."
"Nggak salah?" Sinis Rumi. "Yang ada juga kamu yang bakal nyerah duluan!"
"Kamu -"
"Rumi, Hanson!" seru Jane dan Azad bersamaan.
Keduanya menoleh, "sorry," lirih Hanson dan Jane hampir barengan juga.
Jane geleng-geleng kepala. "Aku gak bisa bayangin gimana keseharian rumah tangga mereka," melihat Azad.
Azad merangkul pundak Jane, "setiap pasangan punya style masing-masing."
"Kami udah biasa ribut gini kok," Rumi menjelaskan dan langsung ditanggapi anggukan kepala sama Hanson. "Ujungnya sering kita selesein berantem di atas tempat tidur," pungkas Rumi dengan mengedipkan matanya genit pada sang suami.
"That's right! Kami bisa main sampe -"
"Stop, gak usah dibahas lagi," pangkas Azad. "Itu privasi kalian, tolong jangan diumbar."
Keduanya mengangguk, "oke, kita bahas yang lain aja." Cetus Rumi.
"Ya itu lebih baik," Jane menghela napas lega.
"Aku punya tawaran bagus, aku akan kasih tiket pesawat pulang pergi gratis plus hotel tempat menginap dan mobil yang siap antar kalian kemana saja kalo kalian jadi bulan madu ke Jerman." Papar Hanson bersemangat. "Gimana?" menatap Jane dan Azad bergantian.
Jane melongo gak percaya. "Benaran?"
Hanson mengangguk pasti.
"Azad, kamu denger kan?" Mengguncang lengan sang suami. "Kita dapet bulan madu gratis dari Hanson sama Rumi," bersorak kegirangan.
Azad malah ragu, "hm, tapi kita mungkin cuma punya waktu dua atau tiga hari buat bulan madu, Jane."
"Apa?" Rumi kaget. "Kamu pikir pulang pergi Jerman sama kayak pulang pergi dari sini ke Tanah Abang?" Rumi kesel banget.
"Aku gak bisa ninggalin kerjaan terlalu lama, kalian tau kan perusahaan keluargaku lagi nggak baik," Azad nyesel harus bilang kayak gini, dia sebenernya gak tega bikin Jane kecewa.
"Oke, satu minggu gimana?" Rumi kasih penawaran.
"Itu masih terlalu lama."
"Azad, ayolah... " Hanson bujukin, "Kakak iparmu bisa handle sementara kan? kasih waktu istimewa dulu untuk istrimu, dia berhak mendapatkannya."
Azad menatap Jane yang murung, "aku coba bicara sama Kak Ram dulu."
"Good!"
"Yess, akhirnya kamu bakal ke Jerman." Rumi melukin Jane seneng banget.
"Makasih ya, bentar lagi bulan madu impianku bakal jadi kenyataan," Jane bales peluk erat.
Azad senyum liat Jane bahagia, "Maafin aku ya, harusnya kamu memang prioritas utama di atas segalanya."
Jane ganti melukin Azad dan kasih ciuman di pipi Azad tanpa malu-malu. "I love you suamiku,"
"I love you more istriku," Azad balas mencium kening Jane sampe bikin Hanson dan Rumi ciye ciye godain mereka. Suasana pun kembali hangat dipenuhi gelak tawa canda, mereka gak sadar ada seseorang yang sedari tadi memperhatikan dari balik jendela balkon kamar.
"Ish, drama!" Menutup gorden dengan kasar.
"Ada apa, Sofia?" Ramzi yang baru masuk kamar menangkap raut kesal istrinya. "Siapa yang drama?"
Sofi segera menutupi kekesalannya. "Bukan apa-apa, cuman... kesel sama drama korea."
Mengernyit heran, satau Ramzi istrinya gak suka nonton drakor. berjalan mendekat dan menyingkap sedikit tirai jendela di belakang Sofi. Tampak kebahagiaan dua pasang suami istri yang lagi berbincang hangat di taman.
__ADS_1
"Kamu cemburu lihat keharmonisan mereka?" Ramzi to the point.
"Kak Ram menuduhku?" berbalik dengan wajah jengkel.
"Aku cuma tanya. "
"Tapi nada bicaramu kayak orang nuduh bukan orang nanya!"
"Ya terserah kalo kamu ngerasa."
Semakin jengkel, melangkah lebar hendak meninggalkan kamar namun Ramzi segera menahannya.
"Sampai kapan kamu akan begini terus, Sofia? Aku udah sering menasehatimu."
Menepis tangan Ramzi, "makanya nggak usah repot-repot nasehati aku!" Melanjutkan langkahnya.
"Sofia!" Menaikkan nadanya hingga membuat Sofi urung keluar kamar.
Sorot tajam kedua netra Ramzi tegas dan tak mengingikan penolakan. Dua mata bola pingpong Sofi seketika berembun, tak sanggup ia membalas tatapnya.
“Berapa kali aku bilang, kau ada dalam tanggung jawabku selagi masih menjadi istriku!” kalimat yang terucap tentu tak main-main, itu peringatan keras. “Kecuali kalau kamu sudah tak mau jadi istriku lagi.” Pungkas Ramzi datar namun penuh penekanan.
Tertegun menundukkan pandangan bersama luruhnya bulir bening hangat menyentuh pipi mulusnya. Sofi tentu tak bisa membayangkan apa jadinya hidupnya tanpa Ramzi, dia tak kan pernah siap kehilangan Ramzi untuk kedua kalinya.
“Aku –“ Sofi terbata, “minta maaf,” belum berani mengangkat wajahnya.
“Maka turuti semua perkataan suamimu ini.”
Mengangguk samar, meremas ujung dressnya denga jemarinya yang mulai terasa dingin.
“Jangan lanjutkan rasa bencimu pada mereka, itu hanya akan merusakmu sendiri. Biarkan mereka bahagia dengan pasangannya masing-masing, dan kamu pun berhak bahagia seperti mereka,” mengangkat dagu istrinya perlahan. “Ada aku yang akan selalu membuatmu bahagia, juga Arfan. Kami menyayangimu.” Meraih jemari Sofi, “tanganmu dingin, kamu sakit?” burubah penuh khawatiran.
Cepat menggeleng.
Mengusap jejak air mata Sofi, “maafkan aku, maaf –“ memeluk sang istri lantas segera melepasnya kembali. “Syndrom kamu kambuh, kamu masih punya obatnya kan?”
“Aku nggak papa, aku sudah sembuh,” coba meyakinkan Ramzi. “Aku Cuma –takut. Kamu bicara terlalu keras padaku.” Cicit Sofi kembali tertunduk.
Ramzi diliputi penyesalan, segera ia dekap sang istri untuk menenangkannya. “Jangan buat aku melakukannya lagi.”
Sofi mengangguk.
Diciuminya rambut wangi sang istri, makin erat Sofi pasrahkan diri dalam dekapan Ramzi. Semua kerelaan ia biarkan menjalari hatinya. Rela akan kebahagiaan orang-orang yang dibencinya, yang sudah menyakiti hatinya, dan yang dianggapnya tak pantas mendapatkan semua kebahagiaan itu. Kerelaan yang paling besar tentulah pada takdirnya yang sangat beruntung bersuamikan seorang Ramzi Alatas.
💕💕💕💕💕
Ini memang terasa formal sekali, Mirza dan Via menghadap Tuan Alatas di ruang kerjanya. Mereka tampak seperti sedang menghadapi persidangan yang menegangkan. Tuan Alatas belum mnegeluarkan sepatah katapun usai Mirza selesai mengungkapkan keinginannya untuk pulang menemui ibunya.
“Aku bisa saja memberikanmu cuti,” suara Tuan Alatas akhirnya setelah sekian menit. “Tapi ada konsekuensinya.”
“Apapun itu, saya siap, Tuan.” Sahut Mirza yakin.
Mencondongkan tubuhnya agak ke depan, “bagaimana kalau anak dan istrimu tidak usah ikut?”
“Maaf, Tuan. Saya nggak bisa tinggal disini tanpa suami saya,” timpal Via.
“Kenapa tidak?” tersenyum tipis. “Yang perlu menemui ibunya kan Mirza, bukan kamu? Lagi pula ibu mertuamu pasti tak menginginkan kehadiranmu disana.”
Kalimat Tuan Alatas sontak membuat Mirza dan Via terhenyak. Mirza memang sudah pernah menceritakan tentang kondisi keluarganya, namun gak nyangka Tuan Alatas bisa bilang kayak gitu.
“Ibunya Mas Mirza adalah ibu saya juga, Tuan.” Ucap Via.
Kembali hening, Tuan Alatas mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya pada meja seolah sedang berpikir tentang sesuatu. “Baiklah kalau kalian memaksa," ujarnya setelah benerapa saat. "Aku akan pikirkan konsekuensi apa yang pantas kamu terima nanti.” Bangkit perlahan dan melangkah keluar ruangan lebih dulu meninggalkan Mirza dan Via yang saling tatap dalam keheranan.
-
-
Dua koper besar teronggok di pojok kamar. Jumilah sedari lepas subuh sudah selesai packing. Ia sisir rambut Nala usai memakaikannya kaos kaki.
“Udah beres semuanya, Jum?” Via masuk untuk memastikan.
“Udah, Mbak. Insya Allah nggak ada yang ketinggalan.”
“Pakaian sama perlengkapan Nala, semuanya udah masuk koper?”
“Udah semua.”
Via memeriksa nakas dan semua laci, semuanya beres.
“Sayang, udah siap?” kepala Mirza nongol dari balik pintu kamar.
“Udah, Mas.”
“Kita ke stasiun sekarang, keretanya berangkat satu jam lagi.” Melihat jam tangannya. “Mendingan nunggu kan daripada ketinggalan?”
“Yup!” Via segera mengambil stoller untuk Nala sementara Jumilah berjalan ke sudut ruangan untuk meraih koper.
“Jum, biar Gerald yang bantu bawa kopernya.” Seru Mirza.
Gerald yang memang sudah di luar kamar permisi masuk untuk mengambil koper, Jumilah segera meletakkan kembali kopernya.
“Pemisi, Nona. Biar saya –“
“Bodo amat!” ketus Jumilah cuek gak mau lihat muka Gerald, dia jalan keluar kamar dengan muka masam.
Via dan Mirza kompakan liatin Gerald. Gerald seperti biasa, datar tanpa ekspresi. Mereka meninggalkan ruangan dan turun dimana Tuan Alatas sudah menunggu di ruang tengah untuk melepas kepergian mereka.
“Aku tidak akan mengucapkan kata-kata selamat tinggal, karena tau kamu pasti akan kembali kesini.” Ucap Tuan Alatas mengurungkan niat Mirza yang mau mengulurkan tangan untuk pamitan.
Mirza tersenyum agak dipaksakan, Tuannya kumat lagi angkuhnya. “Ya, saya akan kembali Tuan.”
__ADS_1
“Kau dan anakmu juga tentu boleh datang kesini lagi,” melihat pada Via.
“Terima kasih, Tuan sudah sangat baik menerima kami,” sahut Via tulus.
Beralih pada Nala yang sedang menggenggam mainannya, “pastikan dia nyaman dalam perjalanan,” mengusap sekilas rambut Nala.
“Tentu, Tuan.”
“Dan, jangan lupa untuk mengajarinya berenang.”
Via tersenyum hanya untuk menghargai perhatian sang Tuan besar. “Ya, saya ingat itu, Tuan.”
Gerald dan Jumilah sudah menunggu di depan, Pak Norman selesai menata koper di bagasi.
“Seharusnya kamu menerima tawaran Tuan Besar, biarkan aku mengantarkanmu sampai kampungmu,” ucap Gerald pada Mirza.
“Aku nggak mau ngerepotin, naik kereta lebih cepat.”
Mengangguk, “jangan lupa kabari Tuan Besar kalau kau sudah sampai.”
“Siap.” Masuk dan duduk di jok tengah bersama Via dan Nala yang sudah masuk duluan.
“Minggir, gue mau masuk!” perintah Jumilah pada Gerald yang berdiri menghalanginya hendak memebuaka pintu depan.
Gerald membukakan pintu untuk Jumilah, tapi Jumilah cuek aja langsung duduk tanpa bilang makasih. Segera dipakainya seat belt. “Eh, ngapain malah bengong? Tutup pintunya!” Jumilah mengomel pada Gerald yang mematung di tempatnya. Jumilah segera menarik pintu mobil tak sabaran karena Gerald masih diam. “Jalan, Pak!” ucapnya pada Pak Norman.
Mobil pun melaju perlahan.
“Jum, kamu nggak mau dadah-dadah dulu sama Gerald?” goda Mirza.
“Ogah!”
“Jangan judes-judes lho, nanti malah suka,” Pak Norman menimpali.
“Justru saya lagi nyesel Pak, pernah suka sama orang kaku macam kanebo kering kayak dia!”Sahut Jumilah kesal membuat Via dan Mirza cekikian.
-
-
-
Hampir jam dua siang kereta sampai di stasiun kota, Om Jaka sudah menunggu mereka disana. Pelukan singkat antara Om dan keponakan segera usai ketika Via langsung menanyakan tentang kondisi Bu Een.
“Elu, Vi. Baru juga juga nyampe, yang ditanya langsung mertua elu!” Om Jaka sebel. “Tanyain dulu kek kabar gue!”
“Ka tadi udah ditanya sama Mas Mirza, udah peluk-pelukan juga sama Mas Mirza?
“Ya seenggaknya elu basa basi kek.”
“Ya udah, gimana kalo kita langsung ke rumah sakit aja?” usul Mirza. “Aku juga pingin cepet liat ibu.”
“Elu kagak capek?” Om Jaka ragu, “kan baru nyampe? Jengukin emak elu bisa besok lagi, kalian istirahat dulu lah. Kasian Nala.”
“Kalo gitu Nala nggak usah ikut. Jum, kamu pulang sama Nala ya?” titah Via pada pada Jumilah.
“Ap –apa, Mbak?” Jumilah jadi ternganga, kok tiba-tiba dia disuruh pulang sendiri sama Nala?’
“Nggak, elu juga kagak usah ikut Vi kalo laki lu mau jenguk emaknya sekarang.”
“Tapi Om, aku juga pengen ketemu ibu.”
“Sayang,” Mirza meraih pundak sang istrinya. “Om Jaka bener, kamu istirahat dulu di rumah. Kasian juga Nala kalo ditinggal. Besok kita jenguk ibu sama-sama ya?”
Tampak kecewa, namun hanya bisa menghela napas berat.
“Ya udah yok, Mbak. Kita cari taxi, Njum udah nggak tahan nih pingin rebahan.”
Om Jaka dan Mirza segera menggeret koper keluar peron, mereka memesankan taxi online untuk Via pulang. Mirza lega karena Via akhirnya mau juga di suruh pulang, meski berpesan panjang lebar untuk mengabarinya sedatil mungkin tentang keadaan sang ibu mertua.
Mirza dan Om Jaka baru aja mau jalan ketika ponsel Om Jaka bunyi, telpon dari petugas Rutan.
“Ada apa ya, kok telpon gue? tumben,” heran menatap layar ponselnya.
“Angkat aja, Om. Penting kayaknya.”
“Halo,” sapa Om Jaka, kemudian terdiam menyimak penuturan orang di seberang. “Apa?” Om Jaka setengah teriak bikin Mirza kaget.
“Kenapa Om?” Mirza penasaran.
“Oke, gue kesana sekarang.” Mengakhiri percakapan.
“Kenapa, Om? Ada apa?” ulang Mirza.
“Emak elu dipindahin ke RSJ.”
Sempat terdiam mencerna sebentar, “Rumah sakit jiwa?”
“Iya, siang tadi ngamukin pasien dan nyerang perawat.” Memutar kunci dan gegas menginjak pedal gas. “Emak lu, Za …, Za … ya ampun!”
Mulut Mirza rapat terkunci, namun hati dan pikirannya bergejolak membayangkan keadaan ibunya sepertia apa sekarang. Sebait doa-doa ia lantuntan untuk ibunda tercinta.
Semoga semuanya baik sesuai harapannya.
💕💕💕💕💕
Haloha....
Maaf segini dulu ya dear, up nya 😊
Ntar kita sambung lagi, ok 😃
__ADS_1
Makasih banyak yang udah setia like dan komen 🙏🙏🙏
I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘