TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
198 #LEDAKAN HEBAT


__ADS_3

Angin malam mendesir pilu menusuk tulang, Danar merapatkan jaketnya berdiri menunggu tak jauh dari ruang IGD sebuah klinik di dekat kedai miliknya. Grace yang duduk bersama Yana dan Khusni tak mengalihkan pandangannya dari wajah risau sang mantan kekasih. Raut kekhawatiran terlukis jelas pada wajah Danar. Grace baru saja berdiri hendak menghampiri ketika pintu ruang IGD terbuka dan dua orang perawat keluar mendorong brankar dengan tubuh Via di atasnya.


“Za, gimana keadaan Via?” Danar segera memburu Mirza yang bejalan di samping brankar.


Mirza berhenti membiarkan perawat membawa istrinya. “Via akan dipindahkan ke ruang perawatan, keadaannya sudah mulai stabil.”


“Syukurlah.” Danar lega.


“Hanya saja besok harus observasi lanjutan, aku khawatir terjadi apa-apa dengan kehamilannya.”


“Kamu benar.” Danar mengangguk setuju. “Atau kita pindahkan saja Via ke rumah sakit sekarang? Agar mendapatkan penanganan lebih cepat.” Usul Danar kemudian.


“Kalian ini kok malah ngobrol sih, itu Via siapa yang jagain?” Ucap Yana pada Mirza dan Danar lantas menyusul ke kamar perawatan diikuti Khusni.


“Danar, makasih ya kamu udah nolongin Via. Tapi aku rasa perawatan di klinik ini saja untuk sementara cukup. Liat keadaan besok, kalau memang perlu dirujuk ke rumah sakit aku akan segera membawanya kesana.” Tutur Mirza.


“Baiklah. Aku akan menemanimu menjaga Via malam ini.” Ucap Danar.


“Danar, apa kamu nggak mau mengantarku pulang?” Grace yang dari tadi hanya menyimak tiba-tiba menyela.


“Kamu bisa pulang sendiri kan?”


Glek!


Grace nggak nyangka Danar tega benget. Danar tau raut kecewa wajah Grace tapi ia tak menghiraukannya.


“Ekhem, sebaiknya kamu antar saja dia pulang.” Mirza menangkap gelagat tak enak diantara kedua mahluk di depannya. “ Kamu nggak usah khawatir, ada Yana dan Khusni yang nemenin aku kok.” Mirza meyakinkan Danar.


Danar terpaksa mengiyakan. “Semoga keadaan Via cepat membaik ya. aku memberinya cuti sampai keadaannya benar-benar pulih dan siap masuk kerja, tak usah pikirkan berapa lama waktunya. Yang penting dia sehat dulu.


“Makasih Pak Bos.” Mirza tersenyum menjabat tangan Danar.


Danar hanya tersenyum tipis seraya menepuk pundak Mirza kemudian berlalu pergi diikuti Grace.


Kuik kuik…


Danar membuka pintu mobil dan segera masuk. Grace yang sebenarnya menunggu dibukakan pintu terpaksa membuka pintu mobil sendiri dan segera mendaratkan pantat di jok samping Danar. Perjalanan mereka tanpa kata. Jarak dari klinik dan kedai yang sebenarnya tak terlalu jauh terasa sangat lama untuk Danar. Ini belum terlalu malam namun suasana jalan sudah sepi, mungkin karena cuaca pertengahan tahun yang dingin, jadi tak banyak orang keluar rumah.


“Kamu kenapa ngeliatin aku terus?” Tanya Danar datar tanpa melihat pada Grace.


Grace terkejut ternyata Danar tau diam-diam dia memperhatikannya.


“Emh, nggak papa.” Grace mendengus mengalihkan pandangannya ke luar jendela pura-pura fokus dengan pemandangan sepanjang trotoar dan lampu-lampu jalanan yang dilewatinya.


Danar pun sama sekali tak berminat melanjutkan obrolan.


SREET


NGIIK


Mobil Danar tiba di depan kedai. Ia bergeming di jok kemudinya dan melihat pada Grace. “Kamu nggak turun?” Tanyanya seolah ingin segera mengusir Grace dari dalam mobilnya.


“Emangnya kamu nggak turun?” Grace malah balik nanya.


“Tadi kamu bilang mau pulang kan? Mobilmu ada disana, cepat turun!” Danar kesal namun berusaha masih menahan diri.


“Apa kamu mau kembali ke klinik?” Grace menatap penuh rasa ingin tahu.


“Bukan urusan kamu.” Danar memalingkan wajahnya.


Bukannya cepat turun, Grace malah menyerongkan duduknya dan meraih pundak Danar untuk menghadapnya. “Danar, jujur sama aku, apa kamu mencintai Via?”


JRENG!


Sontak Danar tersentak dengan pertanyaan Grace yang tajam langsung pada sasaran itu. Namun bukan Danar namanya kalau tak pandai berkilah.


“Kalau kamu nggak mau turun, biar aku yang turun sekarang.” Danar bersiap hendak membuka pintu namun Grace segera menahannya.


“Ok, aku turun. Tapi kamu harus tau, aku nggak akan nyerah untuk mendapatkan hatimu kembali.” Pungkas Grace dengan senyum manis membingkai wajah ayunya yang dibias lampu temaram.


Danar mendengus gusar. Kehadiran Grace kembali dalam hidupnya bagai sebuah mimpi buruk yang datang berulang. Ketika ia sudah berhasil bangun dari mimpi buruk itu dengan susah payah, kini Grace kembali menghampiri. Ia tahu dirinya bersalah karena tak kunjung menghapus perasaannya pada istri orang. Danar meraup wajahnya kasar mencoba menyadarkan dirinya untuk berpijak pada kenyataan, dirinya tak pantas menyimpan rasa untuk Via.


Di dalam ruang perawatan Via sepeninggal Yana dan Khusni, Mirza duduk memandangi wajah Via yang pulas dalam tidurnya. Diusapnya lembut punggung tangan sang istri yang terasa dingin. Kelebat peristiwa beberapa jam yang lalu di kamar Danar mampir di benaknya. Terlihat jelas dalam pandangan matanya, Danar menggenggam tangan Via dengan tatapan sendu penuh kekhawatiran. Mirza yakin itu bukan tatapan yang semestinya.


Ahh, mungkin hanya perasaanku saja. Desah batin Mirza mengusir sepercik rasa curiga dalam pikirannya. Namun kilasan peristiwa tentang Danar dan Via kembali mengusik benaknya. Ia ingat ketika Via salah mengirimi balasan chat yang seharusnya dia kirim untuk Danar. Juga ketika Danar menolong Via yang ambruk ketika Denaya melahirkan malam itu. Danar sangat mengkhawatirkan istrinya.


Sebegitu perhatiannya kah Danar pada Via? Batin Mirza resah. Tapi sekali lagi ia halau jauh-jauh prasangka itu. Ia sadar tak pantas menaruh curiga pada orang yang sudah sangat baik selama ini padanya dan juga istrinya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Matahari hampir mencapai puncaknya, Arumi menggeliat malas di atas kasur lebar masih bergelung dalam selimutnya. Setangkup roti panggang dan segelas susu yang sudah dingin tergeletak pada nampan di atas nakas. Ia hanya melirik sekilas kemudian berguling ke tepi ranjang, duduk menjuntaikan kakinya dengan raut tak bersemangat.


Ceklek!


Seseorang membuka pintu kamar Rumi dan langsung berdecih memandangnya.


“Baru bangun lo jam segini?”


“Ngapain lo kesini? Tumben amat, si raja minyak kagak ngajak kencan?” Cibir Rumi seraya mengikat rambutnya asal.


“Jalan yok!” Ajak orang itu yang tak lain adalah Jane.


“Hem, gue tebak elo pasti lagi gabut gegara dicuekin si raja minyak! Ya kan?” Rumi memandang Jane dengan tatapan sok tau.


“Sotoy! Udah, mandi sana cepetan! Temenin gue jalan.” Jane menarik paksa Rumi.


“Gue lagi mager.” Tepis Rumi, ia beranjak membuka tirai kamar dan jendelanya lebar-lebar. “Astaga! Udah terang benderang ya di luar?” Rumi terkaget-keget sendiri. “Kirain gue ini masih pagi. Huh, gue susah tidur akhir-akhir ini.” Keluhnya menatap keluar jendela.


“Lagi ada masalah lo sama si bule somplak itu?” Jane penasaran.


Rumi hanya mendengus tanpa berminat menjawab, pandanganya masih lurus keluar jendela.


“Gue tebak elo pasti ditinggal selingkuh sama si bule, ya kan?” Kali ini gantian Jane yang sok tau.


“Ngaco lo! Gue bejek-bejek bijinya dan gue cincang pisangnya buat makan ikan lele kalo dia berani selingkuhi gue!” Rumi melotot kesal.


Jane terkekeh. “Terus kenapa?”


“Sejak peristiwa si ustadz alay itu, dia jaga jarak sama gue. Waktu itu sih masih sempet komunikasi, tapi udah beberapa hari ini kayak lose contact gitu. Dan gue juga kayak kehilangan rasa sama dia….”


“Maksud lo, elo udah nggak cinta sama dia?” Serobot Jane tak percaya. “Ck ck ck…, gue salut kalo elo beneran udah gak ngebet lagi sama si bule itu. Kebayang gimana gilanya dulu elo ngejar-ngejar dia.” Jane kembali terkekeh di akhir kalimatnya.


“Jangan bahas itu deh, please!” Rumi melirik tajam. “Ben sih sempet ngabarin kalo dia lagi fokus belajar jadi imam yang baik katanya. Makanya nggak mau sering-sering ketemu gue, takut imannya goyah.”


“Yakin banget lo sama si Ben? Dia kan jagonya busllsheet!” Cibir Jane.


“Tau ah! Yang gue pusingin malah bokap gue tuh nanya mulu jadi kawin nggak jadi kawin nggak? Kan ngeselin? Orang calon gue aja malah minggat ke Jerman kok!”


“What?” Jane sontak melongo kaget.


Rumi segera menutup mulutnya, ia sadar baru saja keceplosan.


“Elo bilang barusan katanya dia lagi memperdalam ilmu agama? Taunya dia malah balik ke negaranya? Rumi elo sadar nggak sih, dia lagi berusaha ngindarin elo?” Cerocos Jane tak habis pikir.


Rumi merutuki kebodohannya yang tak bisa mengendalikan mulutnya. Hadeh bahaya ini, kalo sampe si Jane bilang ke papa soal Hanson lagi balik ke kandangnya. Bakalan dipaksa kawin sama satpam komplek gue! Rumi membatin gusar.

__ADS_1


“Rumi, elo denger gue kan?” Jane menarik bahu Rumi karena dia cuman bengong.


“Emh, itu … maksudnya si Hanson lagi nyari ustadz di negaranya buat belajar agama.” Kilah Rumi, padahal dia sendiri juga tak yakin perihal alasan kepulangan Hanson ke Jerman. Yang dia tau Hanson pamit untuk mengurus bisnis keluarganya yang kembali bermasalah dan juga sempet nitip pesen pada Ben untuk tak terlalu mengkhawatirkannya. Namun ia tak sepenuhnya yakin akan hal itu.


“Kayak di Negara kita kekurangan ustadz aja!” Sinis Jane. “Elo mau cari ustadz yang model apa? Di Negara +62 ini ada semua, nggak usah jauh-jauh ke Jerman kalo emang dia nggak ada niat buat ngingkari janjinya sendiri.”


“Kok perasaan elo nyinyirin hubungan gue sama Hanson ya? elo sendiri sama si raja minyak laki orang apa kabar? Udah bisa move on apa maju terus sampe kecebur lo?” Balas Rumi tak kalah sinisnya.


“Gue sama dia udah end!” Sahut Jane, raut wajahnya mendadak berubah sendu.


“O gue tau, makanya elo kesini minta gue temenin jalan kan? Ternyata elo lagi patah hati gegera diputusin sama si raja minyak? Ck, kasian kasian kasian….” Jane berdecak memandang Jane sok prihatin.


“Ish, bukan dia tapi gue yang mutusin buat mengakhiri semuanya.” Jane mengklarifikasi.


“Jadi kalian udah sempet jadian dong? Hem, nggak nyangka ya, elo sok nasehatin gue taunya elo embat juga laki orang!” Cibir Rumi.


“gila lo, gue nggak separah itu!” Bantah Jane.


“Udah ah, gue males ngeladenin tukang embat laki orang!” Rumi ngeloyor cuek.


“Eeee, mau kemana lo?” Jane menghadang langkah Rumi.


“Mau ke WC, mau ikut? Hayok!”


“Sialan!”


Rumi tersenyum miring, puas bener dia ngerjain Jane. “Pergi sana lo, lagi bête aja lo baru inget sama gue. Giliran lagi seneng lupa! Temen macam apa lo?”


“Kita kan sodara bukan temen lagi?”


“Ogah gue punya sodara macam elo!” Rumi cuek ngeloyor ke kamar mandi.


“Gue tungguin elo di depan! Pokoknya hari ini elo harus nemenin gue!” Seru Jane pada Rumi yang sudah berada di dalam kamar mandinya.


“Tungguin aja sampe maghrib! Gue kagak bakalan keluar, males jalan sama elo!” Balas Rumi berteriak dari dalam.


“Oke! Kalo gitu gue aduin sama Om JONI JONI YESS PAPA soal pacar elo yang minggat ke negaranya ya!” Ancam Jane merasa menang.


Ceklek.


Rumi menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi.


“Jangan berani lo ngadu ke papa gue ya!” Rumi menyipitkan matanya. Menatap Jane sinis.


“Makanya temenin gue jalan, buruan!”


Rumi mendengus kesal. “Ya udah deh, ayok!” dengan terpaksa dia keluar kamar mandi.


“Astaga, Rumi! Elo tuh ya bener-bener gila?!” Pekik Jane menatap ke arah bagian bawah Rumi. “Celana elo dikemanain? Masa mau jalan sama gue cuman pake CD doang?”


Rumi malah nyengir seraya menepok jidatnya sendiri. “Oh iya gue lupa, tadi kan gue mau nongkrong dulu di WC ! gara-gara elo sih pake ngancem mau ngadu ke papa segala. Tungguin bentar ya, soalnya gue kalo bangun tidur harus menunaikan hajat dulu biar plong, hehe….”


“Dasar stress!” Jane memutar langkah keluar kamar dengan jengkel.


❤️❤️❤️❤️❤️


Ini adalah hari ketiga Via tak masuk kerja, setelah kepulangannya dari rumah sakit kemarin Mirza menjadi over protective. Via bahkan tak diijinkan walau hanya utuk mengangkat sebuah benda seberat buku tulis sekalipun.


“Mas, nggak usah lebay deh.” Protes Via. “Aku cuman mindahin buku doang?”


“Dokter bilang kamu harus istirahat total dan nggak boleh angkat beban berat dulu, Sayang.”


“Tapi kan ini cuman buku Mas?”


Via memutar bola mata jengah, tak ada gunanya memang dirinya berkata apapun kalau suaminya itu sudah bawa-bawa kata DOSA.


“Sekarang kamu lebih baik mandi Sayang, udah sore. Mas mau masak buat makan malam, dokter bilang kamu kan harus makan makanan gizi seimbang. Jadi Mas harus pastiin kamu dan calon anak kita ini kebutuhan gizinya pas!” Senyum Mirza mengembang seraya mengusap lembut perut istrinya.


“Hem, terserah Mas aja deh.”


“I love you, Sayang.” Mirza membelai lembut pipi istrinya.


“He em iya, aku juga.”


“Ih, kok kayak terpaksa gitu sih?” Protes Mirza.


“Abisnya Mas lebay banget, aku dari kemarin nggak boleh ngapa-ngapain. Kan bosen Mas?” Decak Via kesal.


“Oke, kalo gitu kamu boleh bantuin Mas masak tapi cuman motongin bumbu doang.”


“Nah, gitu dong. Aku kan bukan nyonya ratu yang harus duduk bertahta di atas singgasana tanpa berbuat apa-apa?”


“Iya Sayang…., sekarang cepet mandi dulu.”


“Mandinya abis masak aja deh, ntar bau lagi Mas.” Tawar Via.


“Heem, boleh. Tapi kita mandi bareng ya? suamimu yang ganteng ini kan juga belum mandi?”


“Modus….” Cebik Via seraya melangkah keluar kamar.


“Nggak lah, Mas nggak setega itu. kita kan nggak boleh nganu dulu, Sayang.” Mirza menyusul Via dengan langkah lebar.


Via hanya tersenyum, ternyata suaminya pengertian banget. Nyampe dapur Via hanya duduk seraya menunggu sang suami selesai menyiapkan semua bahan.


“Nah, ini kamu boleh yang motong Sayang.” Mirza memberikan bumbu yang sudah dibersihkan lengkap dengan pisau dapur dan talenannya.


“Cuman motong bawang sama cabe doang sih kecil Mas…” Via segera menunjukkan kepiawaiannya memotong-motong bumbu dapur.


“Kenapa sih kalo motongn cabe harus miring gitu bentukannya?” Tanya Mirza yang rupanya sedari tadi merhatiin kegiatan Via. “Mas kalo motongin biasa aja deh perasaan.”


“Karena kalo miring itu lebih sedep Mas, lebih cepet masuknya.”


Kontan saja Mirza terbengong-bengong mendengar jawaban istrinya itu. “Kamu sengaja ya Sayang? Haaah ternyata pikiran kamu udah ketularan mesum sama suamimu ini, Hahaha….” Mirza melingkarkan lengannya pada perut Via seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.


“Mas geli!” Via bergidik geli dibuatnya.


“Makanya jangan suka mancing-mancing.” Mirza nyengir dan bersiap mau nyosor Via.


“Mas, lepasin ih. Aku cocolin cabe nih kao nggak lepasin.” Via berusaha mengelak dari serangan suaminya yang udah kayak angsa itu maen sosor aja nggak tau sikon.


Mirza terpaksa mundur mengangkat tangannya. “Oke, sebagai gantinya kamu harus mau mandi bareng sama Mas.” Cengir Mirza memainkan kedua alisnya turun naik menggoda Via.


Via cuman memajukan bibirnya. “Udah nih, cepetan masaknya.” Ujarnya mendorong talenan.


“Itu Mas anggap sebagai jawaban IYA!”


Acara masak-masak ala chef Mirza Mahendra pun berjalan tak terlalu lama, cumi saos padang sudah tercium wangi dan Mirza segera mengangkatnya ke piring saji membawanya ke meja makan.



“Kita makan dulu aja kali ya Sayang? Kasian cuminya kalo ditinggalin, ntar dia ngambek berubah jadi plankton kalo lama nungguin kita selesai mandi.”


“Huh, bilang aja udah laper!” Cebik Via.


“Serius! Kamu tau sendiri kan Mas ini orangnya nggak tegaan Sayang, apalagi sama cumi-cumi yang tak berdaya kayak gini?” Mirza memandangi cumi saos padang hasil karyanya dengan tatapan seolah beneran nggak tega, padahal aslinya emang cacaing-cacing dalam perutnya udah main rebana sambil koprol jumpalitan saking udah lapernya.

__ADS_1


“Hem, ya deh kita makan dulu.” Ucap Via manut.


Ting tung ting tung


“Haish! Siapa lagi yang bertamu, nggak tau orang baru mau makan apa?” Gerutu Mirza sebel seraya mengurungkan niatnya yang hendak meraih centong nasi.


Via cuman seyum ngeliat suminya jalan ke ruang tamu sambil terus ngedumel. Via mendengar seperti suara perempuan di depan, kayaknya sih tamunya lebih dari satu orang. Baru saja Via berdiri untuk ikut melihat, Mirza sudah sampai ruang makan.


“Sayang, di depan ada teman-teman kamu datang menjenguk.” Ucap Mirza.


“Temen-temen aku?” Via sedikit heran.


Mirza mengangguk. “Cepet temui sana, biar cepet pulang mereka.” Mirza nampaak masih sebel acara makannya terganggu.


Via segera menuju ruang tamu. “Cila? Vony?” ucapnya surprise.


“Hi, Vi.” Sapa Cila. “Maaf ya kita baru jenguk, soalnya kita juga baru tau kalo kamu sakit.”


“Kamu sakit apa emang?” Vony sinis seperti biasa.


“Cuman kecapekan aja kok.” Via tersenyum seraya duduk di dekat Cila. “Oya, mau minum apa?”


“Nggak usah repot-repot, kita cuman mampir pulang kantor kok.” Sahut Cila lantas memberikan plastic berisi parcel buah. “Ini buat kamu.”


“Wah, kok pake bawa oleh-oleh segala?”


“Ya buat pantes-pantes aja.” Sahut Vony acuh.


“Sayang, teman-teman kamu mau minum apa?” Mirza muncul menanyakan hal yang sama.


“Eh, nggak usah Mas. Kita cuman sebentar kok.” Tolak Cila halus.


“Nggak papa, masa ada tamu nggak dibikin minum.” Sahut Mirza.


Via tersenyum, ternyata suaminya udah nggak sebel lagi. Dia dalam mode ramah kali ini. “Makasih ya, Mas.”


“Iya, Sayang. Udah kamu diem aja, biar Mas yang bikin minum.” Miza segera berlalau.


“Vi, suami kamu baik banget sih? Udah ganteng, baik pula. Beruntung banget kamu.” Cila sampe terkagum-kagum. “Kalo ada stok satu lagi yang kayak gitu, kasih aku aja ya?”


“Ada, Pak Bos Danar! Lo mau? Hadapi gue dulu!” Vony pasang tampang jutek.


“Apaan sih lo Von? Mending Pak Bosnya mau sama elo, liat elo aja dia ogah kok!”


“Lo belum tau aja, ntar gue bikin dia sampe klepek-klepel sama gue.” Vony pede.


“Ish! Ngayal lo ketinggian!” Cibir Vony.


“Kayak elo nggak aja! Elo juga kan sama, dulu ngebet banget sama Pak Bos?” Vony nggak mau kalah.


“Iya, tapi sekarang gue udah insaf!”


“Karena elo naïf!”


“Resek lo!”


“Eeh, udah,,, udah… kok malah jadi pada ribut sih?” Via menengahi, heran dia kenapa Cila sama Vony malah jadi perang mulut begitu.


Vony membuang muka kesal, dalam hatinya nyesel dia kenapa juga mau ikut nengokin Via yang notabene ia anggap sebagai saingan beratnya untuk mendapatkan hati Pak Bos Danar.


“Oya, sampe lupa. Aku juga kesini mau sekalian minta file-file proposal pengajuan kerja sama sama instansi Pemda. Kamu masih nyimpen kan?” Tanya Cila yang teringat maksudnya.


“Masih. Kanapa nggak WA aja sih? Kan bisa aku kirim lewat e mail.”


“Ya kan judulnya sekalian nengokin kamu.” Cila nyengir seraya menyerahkan flash discnya.


“Ok, tunggu sebentar ya.” Via berlalau masuk kamar sementara Mirza baru saja selesai membutkan tiga gelas orange juice.


“Nah, ini minumannya.” Mirza meletakkan tiga gelas es jus jeruk di meja tamu. “Lho, Vianya mana?” Heran Mirza yang tak mendapati istrinya disana.


“Lagi ngambilin file proposal Mas. Maaf ya merepotkan.” Ucap Cila sungkan.


“Oh, nggak papa. Ayok silakan diminum.”


“Kebetulan, gue lagi aus banget.” Vony langsung meraih gelasnya dan gluk gluk gluk ahh…. Dia nikmat benget meminum es jusnya tanpa malu malu, sedangkan Cila hanya meneguknya sedikit. Agak jaim dia.


“Oya, omong-omong udah lama kerja bareng Via?” Tanya Mirza sekedar basa basi.


“Belum terlalu kok, kita masuk kerja bareng pas penerimaan karyawan baru.” Sahut Cila.


“Iya, tapi Via yang selalu di diperhatiin sama Pak Bos, bahkan sampe ibu bos besar juga, perhatian banget sama Via. Kita mah apa….” Celetuk Vony yang lagsung mendapat kode kedipan mata dari Cila untuk jangan asal bicara. “Emang nyatanya gitu kok. Pak Bos itu perhatiannya pake banget kalo sama Via.” Vony malah cuek nyerocos.


“Eh, itu mungkin karena kinerja Via yang labih bagus dari kami aja sih.” Sambung Cila tak enak hati. Dasar lo Von, bisa-bisanya ngejatuhin Via di depan lakinya! Batin Cila kesal seraya melirik Vony yang cuek-cuek aja.


“Nggak juga. Aku rasa pak Bos ada rasa sama Via.” Ceplos Vony.


“Von! Elo jangan ngarang deh!” Potong Cila jengkel, ia melihat perubahan pada raut wajah Mirza.


“Buktinya waktu kita gathering ke puncak itu apa? Siapa coba yang paling panik waktu Via pingsan kecapekan dalam bus?” Vony malah makin menjadi-jadi.


“Via pingsan?” Mirza keget heran tak percaya.


“Iya. Dan Pak Bos dengan gaya super heronya langsung menggendong Via membawanya ke kamarnya.” Jawab Vony lempeng tanpa dosa.


“Itu kan karena gue sama Via belum sempet check in, lagian gue juga ikut ke kamar Pak Bos kok.” Sambung Cila sungguh merasa tak enak hati dengan cerocosan mulut Vony yang licin banget kayak jalanan abis ujan. “Mas jangan salah paham, aku yang nemenin Via di sana kok sampe dia siuman. Dan untungnya Via nggak papa.”


“Tapi terus malemnya Via sama Pak Bos keluar ke Davoyage Bogor berduaan kan?”


DUARRR!!!


Sebuah ledakan hebat baru saja terjadi di dalam dada seorang laki-laki bernama Mirza Mahendra. Memang ledakannya tak sedahsyat ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, namun efeknya sangat luar biasa. Sungguh dia sekarang sedang tak baik-baik saja, semua rentetan kalimat yang dibeberkan Vony bagaikan jawaban atas keresahannya beberapa hari yang lalau.


Mirza ingin percaya bahwa istrinya dan Danar tak punya hubungana apa-apa selain hubungan atasan dan pegawainya saja. Tapi tidakkah terlalau berlenihan apa yang sudah dilakauakn Danar di belakangnaya selama ini? Lantas kenapa Via tak pernah menceritakannya kalau ketika acara di puncak itu dia sampai pingsan karena kelelahan? Mungkinkah ada sesuatu yang ingin ditutupinya? Batin Mirza semakin resah mengais-ngais jawaban dari peretanyaan demi pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


Vi, aku mungkin bisa percaya jika kamu tak berniat buruk di belakangku. Tapi Danar? Aku sungguh tak bisa membiarkan laki-laki lain memperhatikan kamu melebihi perhatianku sebagai sumimu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Hayooo…. Mirza abis ini mau gapain Danar ya kira-kira?🤔🤔🤔


Terima kasih yang sudah baca sampai selesai dan berniat kasih komen. 🙏🙏😍😍


Yang berniat VOTE juga makasih banget lho, karena baru niat pun sudah dicatat sama mailkat 😂😂😂


Likeeeee wajib ya❤️


❤️


Typo dan miss harap selalu dimaklumin 😅😅


Othor jarinya kadang kriting sampe mata juling-juling schroll atas bawah atas bawah ngecek typo dan runtutan time setnya😁😁


Sehat-sehat semuanya ya, semoga kita selalu dalam lindungan Allah SWT.😇😇😇


I love you all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2