
Pegangan gaes…., tarik napas dalam-dalam. Part ini bikin senewen lagi. 😄🤭
Hari ini dengan mengerahkan segala kemampuannya dalam membujuk rayu, akhirnya Mirza berhasil juga membawa Bu Een berobat ke klinik dokter Burhan. Karena drama bujuk rayu merayu cukup alot, alhasil mereka berangkat agak sore. Beruntung jam praktek dokter Burhan belum tutup. Dan sekarang mereka tengah berada di ruangan dokter Burhan.
Mirza membantu ibunya turun dari bed setelah dokter Burhan selesai memeriksanya. Mereka duduk di depan meja dokter.
“Za, ada baiknya kamu bawa ibu kamu terapi ke dokter ortopedi.” Saran Dokter Burhan setelah selesai menuliskan resep obat.
“Saya sudah sehat kok, Dok. Sudah bisa jalan lagi.” Bu Een segera menyahut sebelum keduluan Mirza.
“Hanya untuk memastikan saja, Bu. sebelum ini kan Bu Endang juga pernah mengalami trauma akibat benturan di tulang kaki?”
“Saya sudah nggak sakit, Dok. Beneran.” Bu Een meyakinkan.
Dokter Burhan hanya bisa pasrah, ia sudah sangat mengenal Bu Een. “Ini resepnya, Za. Silakan tebus di apotik ya.”
Mirza menerimanya. “Makasih ya, Dok. Kalo gitu saya permisi dulu.” Mirza mau bantu ibunya bangkit namun tangannya di tepis Bu Een.
“Ibu bisa sendiri.” Bu Een berjalan menuju pintu, Mirza dan dokter Burhan mengikuti. “Lihat kan, Dok. Saya udah bisa jalan sekarang?” Bu Een berbalik melihat pada dokter Burhan seolah mau pamer kemudian melangkah mendahului.
Dokter Burhan ikut keluar dan mengunci pintu ruang prakteknya karena Bu Een adalah pasien terkhirnya sore ini.
“Oya Za, omong –omong kamu nggak pergi melaut lagi?” Dokter Burhan membuka pecakapan dalam langkah mereka menyusuri lorong klinik.
“Nggak, Dok. Udah capek.” Mirza tersenyum.
“Udah capek apa udah nggak sanggup LDR-an lagi sama istri kamu?” Gurau Dokter Burhan yang sangat tau perjalanan cinta seorang Mirza.
“Ya dua-duanya, Dok.” Mirza nyengir.
“Terus sekarang kamu kerja di mana?”
“Pengangguran dia, Dok.” Bu Een menghentikan langkahnya, berbalik ikut nimbrung obrolan mereka. “Saya suruh ngurus toko sembako, dia nggak mau.” Sindir Bu Een melirik Mirza.
“Ya jelas nggak mau lah Bu, Mirza kan sarjana keperawatan, masa suruh jualan sembako?” Dokter Burhan kembali berguau.
“Kenapa emangnya? Itu si Toyib sarjana hukum kerjanya nyangkul di sawah, si Juned insinyur kerjanya nyupir angkot, si Tia kakak iparnya dia sendiri sarjana kependidikan malah jualan kue. Jaman sekarang nggak jaminan Dok sekolah tinggi bisa dapat kerjaan bagus!”
Ngurut dada, ini mah kudu ngurut dada. Sabar ….
Mentang-mentang udah kenal lama sama dokter Burhan, itu mulut Bu Een labas aja ngomong kagak pake rem.
“Saya mengerti maksud Bu Endang.” Dokter Burhan menanggapi dengan senyuman. “Tapi saya kira itu pasti opsi terakhir yang mereka pilih setelah berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai.”
Bu Een diam dengan raut kesal. Heran, sama dokter aja berani ngomel-ngomel ya? ajaib benget memang manusia yang satu itu.
“Emh, maksud saya kalau memang Mirza sedang menganggur, saya mau menawari dia kerja di klinik saya lagi. Siapa tau aja Mirza berminat Bu, karena terus terang saya sangat kekurangan tenaga medis untuk membantu disini.” Lanjut dokter Burhan.
“Nggak, dia nggak bermiat Dok.” Sambar Bu Een, padahal Mirza jawab aja belum.
“Eh, Ibu tau dari mana aku nggak berminat? Orang aku belum bilang apa-apa?” Protes Mirza.
“Ibu udah tau, pasti kamu bosan kan kerja ngurusin pasien? lagian mana ada perawat rambutnya gondrong kayak kamu begitu?” Bu Een terus mencari cara jangan sampai Mirza kerja di klinik dokter Burhan lagi. Misinya untuk membuat Mirza mengurus toko sembakonya bisa gagal kalo sampe Mrza nerima tawaran dokter Burhan.
“Kalo gitu kamu bisa bantu di apotik, Za. Kamu ngerti tentang obat-obatan kan?” Sambung dokter Burhan.
“Dia bukan apoteker, Dok.” Lagi-lagi Bu Een menyambar kayak bensin. “Nanti kalo dia salah ngambilin obat gimana? Kan bisa gawat? Mendingan dia jualan sembako, jelas!”
Mirza dan dokter Burhan sama-sama menghela nafas dan saling pandang, mereka paham maksud hati Bu Een.
“Ya sudah, kamu pikir-pikir saja dulu ya.” Dokter Burhan menepuk pundak Mirza. “Saya sih berharapnya kamu bisa kerja disini lagi bantuin saya kayak dulu.”
“Iya, Dok. Saya pikirkan dulu ya sekalian minta pedapat istri saya juga.”
Dokter Burhan mengangguk. “Kalo gitu saya duluan. Bu Endang, jangan lupa minum obatnya dengan teratur ya biar cepat pulih.” Pesan dokter Burhan.
“Iya Dok.” Raut Bu Een agak kecut-kecut asem.
Dokter Burhan berlalu pergi, Mirza melanjutkan langkah menuju apotik sementara Bu Een memilih menunggu duduk di kursi.
Tak berapa lama Mirza keluar dari apotik dengan membawa obat dan segera mengajak ibunya pulang.
__ADS_1
perjalanan mereka tanpa kata. Bu Een sibuk dengan pikirannya sendiri gimana untuk bisa membujuk Mirza mau mengurus toko sembakonya karena dengan begitu dia akan berdekatan terus dengan anaknya dan pelan-pelan bisa menjauhkan Mirza dari Via.
Mereka sampai di rumah, Bu Een segera turun. Walau dengan langkah masih belum berjalan seperti semula namun keadaannya sudah cukup membaik, luka bakar ditangannya juga sudah sembuh.
“Bu, tunggu sebentar.” Panggil Mirza ketika mereka sudah berada di dalam. “Ibu kan udah sehat, aku mau pulang ya. Kasihan Via kelamaan aku tinggalin.”
Sontak Bu Eeen berbalik menatap tajam. “Kamu kasihan sama istrimu tapi nggak kasihan sama ibumu?”
“Bukan begitu Bu. aku kan disini udah hampir seminggu, ibu juga udah sehat udah bisa jalan lagi. Luka di tangan ibu juga udah kering.”
Bu Een bergeming, beberapa detik kemudian dimulainya lagi drama babak baru. “Kamu tega sama ibu, Za. Ibu ini sudah tua, ibu hanya mau ditemani kamu.” Kemampuan acting Bu Een mungkin memang layak disandingkan dengan para aktris peran antagonist drama TV ikan terbang, namun sayangnya Mirza tetap punya pendirian sendiri.
Diusapnya lembut tangan sang ibu. “Aku janji Bu, aku akan sering-sering kesini untuk nengokin ibu.”
“Ibu nggak percaya sama kamu. Istrimu pasti nanti mempengaruhi kamu.” Masih dalam mode sok sedih.
“Nggak Bu, justru Via yang selalu ingetin aku untuk sering-sering mengunjungi ibu.”
“Besok kamu harus kesini. Ibu mau belanja, semua dagangan ibu udah kosong di toko.” Agak ketus Bu Een menyahuti.
Mirza mengernyit. “Ibu yakin mau buka toko lagi? Udahlah Bu, lebih baik ibu istirahat aja. Nanti ibu capek kalo harus ngurus toko lagi.”
“Jangan melarang ibu kalo kamu nggak mau urus toko sembako ibu.” Bu Een kesal.
“Baiklah, Bu. besok aku kesini lagi.” Mirza mengalah, ia memutar langkah ke kamarnya untuk bersiap-siap.
“Za. Tunggu.” Sergah Bu Een menghampiri.
“Ya, Bu?”
“Emh, apa kamu nggak sebaiknya tinggal di rumah lama kamu lagi aja? Sayang banget rumahmu itu kosong.” Bu Een agak ragu memulai jurus keduanya.
“Itu kan rumah Ibu, bukan rumahku lagi.”
Bu Een tak enak hati mendengarnya. Walau gimana pun juga kan dia yang membuat Mirza menyerahkan semua harta miliknya tak bersisa pada dirinya. “Tinggallah di rumah itu lagi Za, biar nggak terlalu jauh sama ibu.” Bujuk Bu Een mengesampingkan rasa malunya.
“Nggak, Bu. semua yang ada di sana sudah sah mejadi milik ibu, aku nggak akan pernah mengambilnya lagi.” Tegas Mirza.
“Kan ibu sendiri yang menginginkannya?”
JLEB!
Hati Bu Een tertohok, tapi dia masih pantang menyerah.
“Daripada kamu mengontrak rumah kecil? Sempit, bikin susah nafas!”
“Nggak, tinggal di kontrakan lebih baik. Lagipula Via nggak akan setuju kalo aku kembali ke rumah itu.”
Huh! Via lagi Via lagi! Kenapa sih Via terus yang dipikirin itu anak? Mau apa-apa bilangnya harus minta persetujuan Via! kayak istrinya paling penting aja di dunia ini! Awas kamu ya Za, nyesel kamu nanti terlalu membela istrimu itu! monolog hati Bu Een geram.
“Lebih baik ibu kontrakan saja rumah itu. Atau diual sekalian sama mobil dan semua barang-barang yang ada disana.” Ucap Mirza memberi saran.
“Ibu udah pasang tulisan DIKONTRAKAN disana, tapi sampai detik ini nggak ada yang mau mengontraknya.” Keluh Bu Een.
“Berarti memang belum ada. Tunggu aja, nanti juga kalau ada yang berminat pasti menghubungi ibu. Udah ya, aku mau siap-siap dulu takut kemaleman pulangnya.” Mirza menuju kamar tanpa menunggu jawaban ibunya, ia tak ingin berlama-lama berdebat dengan sang bunda.
Bu Een terpaksa mengalah kali ini, namun besok dia bertekad akan kembali membujuk Mirza.
Sebelum maghrib Mirza pulang, dengan sangat hati-hati sekali dia mengeluarkan motor Arya dari dalam garasi agar tak mengusik ibunya yang yang sedang istirahat di kamarnya. Tak butuh waktu lama dia segera menggeber motor butut itu menuju rumah Tia untuk menjemut istri tercintanya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Pak Joni sedang berjalan-jalan kecil di halaman rumahnya, dia menikmati sore hari dengan caranya sendiri. Berjalan di atas bebetuan taman rumahnya tanpa alas kaki menjadi rutinitas pilihannya untuk melancarkan peredaran sel-sel darahnya. Keasyikannya sedikit terganggu ketika melihat sebuah mobil berhenti di dekatnya.
“Selamat sore, Pak.” Sapa seseorang yang baru turun dari mobil menghampirinya.
Kedua mata Pak Joni membulat sempurna. “Hansol?” Pekiknya antara surprise dan kesal. “Kemana aja kamu, dasar bule somplak! Kamu biarkan anak saya menunggu tanpa kepastian! Kamu sudah lari dari tanggung jawab! Kamu sudah mengingkari janji yang kamu buat sendiri! Rumi sudah akan saya nikahkan sama satpam komplek!” Pak Joni mengeplak kepala Hanson berkali-kali dengan meluapkan semua kekesalannya.
Hanson mengaduh sambil berusaha menangkis serangan Pak Joni, namun kalimat terakhir calon ayah mertuanya itu sukses membuatnya terkejut. Hanson langsung berlutut menjatuhkan tubuhnya memeluk kaki sang calon ayah mertua.
“Maafkan saya, Pak. Saya memang bersalah, tapi tolong jangan pisahan saya sama Rumi. Apalagi mau menikahkannya dengan satppam komplek.” Hanson menengadah dengan wajah memelas penuh rasa bersalah.
__ADS_1
“Semua ini gara-gara kamu! Kalo kamu nggak kabur, saya juga nggak bakalan bertindak seperti ini.”
“Saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya sangat mencintai Rumi. Saya memang bersalah karena meninggalkannya terlalu lama, tapi saya mohon maaf. Tolong maafkan saya, Pak…” Hanson semakin kuat memegangi kaki Pak Joni.
“Ih! Lepas! Saya nggak bisa jalan!” Pak Joni berusaha melepaskan kakinya dari tangan Hanson.
“Tapi tolong maafkan saya dulu, Pak. Saya mohon ….”
“Memaafkanmu? Tidak semudah itu Pulgoso!” Pak Joni tersenyum smirk. “Bangun! Atau saya bakal teriak panggil satpam komplek tunangannya Rumi buat ngusir kamu!” Ancam Pak Joni.
“Jadi Bapak benar-benar sudah membuat mereka bertunangan?” Kaget Hanson seraya bangkit dari posisinya. “Bagaimana bisa? Rumi kan masih resmi jadi tunangan saya, kami akan menikah. Kenapa Bapak malah mengijinkan Rumi bertunangan dengan pria lain?” Kecewa memenuhi rongga dada Hanson.
“Ya bisa lah! Kan kamu kabur tanpa kepastian!” Pak Joni melengos kesal lantas melangkah namun Hansol segera mencegatnya.
“Tapi sekarang saya sudah kembali. Saya mohon, biarkan saya menikahi Rumi saat ini juga, Pak.”
Pak Joni melotot. “Berani kamu ngajakin Rumi nikah sekarang? Memangnya kamu sudah bisa memenuhi syarat dari Saya?”
Seketika keberanian Hanson mengkerut. Dia ingat dia memang belum bisa memenuhi syarat itu, selama di Jerman dia sama sekali tak sempat mempelajari bacaan sholat ataupun menghafal surat-surat pendek. Waktunya habis untuk menuruti sang ayah yang menuntutnya terus untuk membantu masalalahnya.
“Itu ….” Hanson tak bisa melanutkan kalimatnya.
Sekali lagi Pak Joni tersenyum smirk. “Kamu tidak bisa memenuhinya kan? Sekarang pergi! Pergi dari rumah saya dan jangan coba-coba lagi dekati Rumi! Anak saya nggak butuh laki-laki macam kamu! Pergi …..!” Jari telujuk Pak Joni menunjuk lurus ke arah pintu pagar.
Kegaduhan yang sejak tadi tercipta mengusik Rumi yang baru terjaga dari tidur siangnya yang kesorean. Penasaran dengan keadaan yang sebenarnya, Rumi melihat ke arah jendela kenapa papanya teriak-teriak kayak orang lagi latihan vocal.
Tak percaya dengan apa yang dilihatnya, Rumi membuka lebar jendela kamarnya dengan mata terbelalak. “My baby…….!” Panggilnya dari jendela kamarnya di lantai dua dengan teriakan penuh kerinduan.
Hanson menoleh mencari sumber suara. “Shcatzi ……!” Balas Hanson penuh surprise. Dia ingin mendekat namun Pak Joni menarik kerah kaosnya dari belakang.
“Mau ngapain kamu?” Menatap galak pada Hanson.
“Rumi, Pak. Rumi satchzi ….” Hanson melihat pada kekasihnya dengan tangan terulur seolah hendak menggapai Rumi di atas sana.
“Baby … Ich vermisse dich. Ich vermisse dich fast verrückt. wo warst du die ganze Zeit? Ich wrktkecmkretmekzrbceklekptkwckdszahkh……” (Sayang, aku merindukanmu. Aku merindukanmu hampir gila. Kemana saja kau selama ini? kalimat terakhir itu hanya Rumi yang tau artinya apaan)” Ucap Rumi mendayu-dayu dengan tangan terulur juga seolah siap menyambut pangeran impiannya.
“Ich vermiss Dich auch, Schatzi …. Ich warte die ganze Zeit auf dich. Mein dkzlkmtkchplketmrjktwrk... dzskawktyhgdbxmcilh …..” (Aku juga merindukanmu, Sayang aku menantikanmu sepanjang waktu. Kalimat terakhir juga hanya Babang Hansol yang tau).
Pak Joni jengah dengan adegan roman picisan di hadapannya. “Kalian ini apa-apaan? Blkutuk mkrezkhbrikwrich. Mkretbmlmukeblplsoalkteght……!” Ucap Pak Joni emosi.
Hanson terengang. “Apa maksud Bapak?”
“Minggat kamu dari sini! dan jangan coba datang lagi kalau belum bisa memenuhi syarat dari saya!” Pak Joni mendorong tubuh Hanson dan segera memutar lagkah tak mempedulikan Hanson yang memanggilnya penuh permohonan.
“Rumi! Masuk, tutup jendela kamu! Kalo nggak mau Papa gantung di tali jemuran semaleman!” Ancam Pak Joni melempar tatapan sangar pada Rumi di atas.
Setelah memberikan ciuman jarak jauh bertubi-tubi pada kekasih hatinya, Rumi pun menutup jendelanya. Hanson terpaksa pulang dengan tangan hampa. Dia pun menyadari itu semua karena kesalahannya. Namun kalimat terakhir Pak Joni barusan menyiratkan masih ada harapan untuknya kembali bersama Rumi. Hanson memacu mobilnya dengan semangat membara, kali ini dia tak kan lagi lembek kayak eek ayam. Dia harus bisa memenuhi syarat yang diajukan calon ayah mertuanya.
Tanpa Hanson ketahui, sebenarnya Pak Joni pun masih menaruh harapan besar agar anaknya dapat dipersunting si bule Jerman itu. dia terpaksa mengarang cerita kalau Rumi akan dinikahkan dengan satpam komplek. Semuanya itu demi menguji kadar cinta seorang Hanson Dietrich Burgman.
Semangan ya Sol… Hansol….😁😁😁
❤️❤️❤️❤️❤️
Up segini dulu ya Kak…. 😊
Ada yang tau nggak kenapa komen di kolom komentar pada ilang ya?
Kadang othor baru baca sekilas belum sempet membalas atau kasih feedback karena kesibukan yang tumpang tindih di dunia nyata.
Eh begitu buka NT lagi, itu komen-komen udah pada raib ntah kemana.
Apa dihapus sama yang komennya ya?
Maafkan othor kalo telat balas dan kasih feedback yaa 🙏🙏
Othor sangat berterima kasih atas apresiasi dari readers dan sesama othor semua yang sudah mendukung karya awut-awutan othor sampai sejauh ini. ❤️❤️❤️
Peluk cium online buat kalian semua…..🤗🤗🤗😘😘😘
I love you all
__ADS_1
😍😍