TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
197 #CINTA SALAH ALAMAT?


__ADS_3

WARNING!!


Sebelum baca harap siapkan air segalon, barangkali aus. Othor kasih panjaaaaang bab ini. Siap-siap ya…😘


❤️❤️❤️❤️❤️


Sofi baru keluar dari apotik sebuah rumah sakit, ia berpegangan pada tembok berjalan perlahan dan merambat persisi cicak lagi belajar jalan. Didaratkannya pantatnya pada kursi besi dengan penuh kehati-hatian. Dahi sebelah kanannya terus berdenyut hingga ke seluruh bagian belakang kepalanya. Satu tarikan nafas lemah membuatnya lebih tenang, dengan tangan agak gemetar diraihnya sebotol air mineral yang selalu dibawa dalam tasnya. Seorang wanita hamil dengan perut lebih besar darinya yang baru datang menyita perhatian. Ia duduk tak jauh dari Sofi.


“Kamu tunggu disini, biar aku yang tebus obatnya.” Ucap seorang laki-laki pada perempuan hamil tua itu, sepertinya dia suaminya.


Sang istri hanya mengangguk, kemudian melempar senyum tipis ke arah Sofi membuat Sofi agak terkejut karena kedapatan lagi memperhatikannya.


“Habis periksa kandungan juga ya, Mbak?” Perempuan itu bertanya dengan melihat perut Sofi yang juga tengah hamil.


Sofi terpaksa mengangguk meski agak kikuk karena tak mungkin ia bilang habis periksa kesehatannya karena syndromnya akhir-akhir ini terasa lebih mengganggunya.


“Udah jalan berapa bulan kandungannya?” Tanya wanita itu lagi, sepertinya ia tipe orang yang mudah akrab.


“7 bulan” sahut Sofi -kalo tidak salah, imbuhnya dalam hati. Masa iya dia mau bilang nggak tau, kan gak lucu bumil kok nggak tau usia kandungannya sendiri?


Wanita itu mengangguk seraya tersenyum, sejurus kemudian ia meringis sambil memegangi pinggangnya membuat Sofi khawatir.


“Kamu nggak papa?” Sofi sedikit menyerongkan posisi duduknya untuk memastikan perempuan hamil tua baik-baik saja.


“Heem.” Dia mengangguk kemudian menyandarkan punggungnya dan meluruskan kedua kakinya.


“Din! Ini makan dulu rotinya. Dari pagi kamu belum sarapan kan? Bandel banget jadi orang, udah tau hamil masih juga males makan!” Seorang perempuan berambut abu-abu sekitar berusia 60 tahunan datang menghampiri perempuan hamil tua itu sambil ngomel.


“Emph, Ssshh… tunggu dulu Ma, pinggangku lagi nyeri.” Wanita yang dipanggil Din itu masih meringis.


“Kamu sih jarang olah raga! Makanya rajin gerak biar sehat. Wanita hamil nggak boleh males, Din!” Perempuan tua yang sepertinya mamahnya si Din itu ngomel lagi. “Udah, nih rotinya cepetan dimakan. Alesan saja nyeri pinggang segala, emang gitu kalo wanita udah masuk bulan melahirkan tuh.” Imbuhnya mengambil roti bertabur keju dari kantong plastik dan menyodorkannya pada si Din.


Mau tak mau si Din menerimanya dan mulai memakannya. Dengan sigap sang ibu tua itu juga membuka sebotol air mineral. “Nih minumnya, biar nggak seret. Makan yang banyak jangan males!” Ucapnya masih dengan raut ngomelnya.


Sofi hanya menonton saja peristiwa di dekatnya itu hingga si Din menoleh padanya, sepertinya si Din baru ingat kalo disana ada Sofi. “Mbak, roti?” Di mengambilkan dua bungkus roti dan memberikannya pada Sofi.


Sofi sempat tergagap, ia tak enak mau menerimanya namun juga sungkan untuk menolak. Kebetulan dia sendiri juga sedang merasa lapar. Roti dengan toping sosis keju itu sepertinya enak, batin Sofi.


“Makasih ya.” Ucap Sofi dengan senyuman.


“Habis periksa kandungan jga, Mbak?” pertanyaan yang sama dilontarkan ibu tua di samping Din pada Sofi.


“Iya, Bu.”


Ibu tua itu mengangguk. “Kalo lagi hamil itu gizi harus cukup, makan jangan males, olah raga juga biar sehat dan persalinannya gampang. Jangan kayak si Dini males banget jadi orang!” Ibu itu kembali mengomel sambil melirik pada Din, ooh namanya Dini ternyata.


Sofi mengangguk sambil tersenyum, namun dalam hatinya berkata, gue juga gitu keleuus! males makan, jarang olah raga dan bawaannya pingin rebahan mulu.


lantas si ibu tua kembali pada Din. “Habiskan! Mama mau nyusul suamimu ke dalam.” Ia beranjak menuju apotik.


Dini mengunyah potongan rotinya yang terakhir. “Maafin ya, mama mertuaku emang cerewet, tapi sebenarnya baik kok hatinya.” Ucap Dini setelah meminum setengah botol air mineralnya.


Ohh… jadi tadi mama mertua? Aku pikir ibu kandungnya. Pantesan aja judes banget, tapi bagus juga Dini ada yang perhatian, ngga kayak aku…. Sofi tiba-tiba jadi nelangsa teringat kehamilannya sendiri yang tanpa seorang pun di sampingnya. Tak ada suami, orang tua, apalagi mertua yang perhatian padanya.


“Mbak, aku duluan ya?” Ucapan Dini menyadarkan lamunan Sofi. Rupanya suami dan mama mertuanya sudah selesai dari apotik.


“Oh, iya hati-hati.” Ucap Sofi agak kaget. “Makasih rotinya ya.”


“Sama-sama. Mbak juga hati-hati ya, semoga diberi kelancaran sampai melahirkan nanti.” Doa tulus Dini sebelum pergi.


Sofi memandangi punggung Dini yang berjalan keluar dengan diapit suami dan ibu mertuanya. Ada perasaan aneh yang berkecamuk dalam dadanya. Nelangsa lagi kah itu? nggak tau! Yang jelas, Sofi tiba-tiba saja ingin menangis. Kedua netranya sudah mulai menghangat, ia usap perut buncitnya lembut dengan senyum getir. Sofi simpan roti pemberian Dini ke dalam tas dan bangkit menuju mobil. Ia tak ingin menangis dan dilihat orang lain.


Pusing kepalanya sudah mendingan, ia mengistirahatkan diri di dalam mobil menikmati roti toping sosis keju pemberian Dini sebelum meminum obatnya.


Perasaannya jauh lebih baik sekarang, perlahan ia melajukan mobilnya keluar area parkiran rumah sakit. Sofi tak ingin larut dalam perasaan, ia memutuskan untuk mengunjungi orang yang sangat ingin ditemuinya. Dengan memantapkan hati, Sofi menambah kecepatan mobilnya menuju kawasan perkantoran karena jam makan siang hampir tiba. Iya yakin Ramzi ada di kantor.


Setelah satu jam berkendara Sofi hampir tiba di tujuan, namun baru saja ia akan berbelok masuk ke parkiran, dia melihat sebuah mobil yang sangat dihafalnya baru saja keluar. Karena penasaran Sofi membuntuti mobil itu. perasaannya tak karuan, ia belum tau pasti siapa di dalam mobil itu, apakah suaminya atau justru sang ayah mertuanya yang super duper kejam tak berperasaan. Sofi terus mengikuti mobil itu dari jarak aman agar tak menimbulkan kecurigaan. Mobil yang diikutinya berhenti di depan sebuah rumah dalam komplek perumahan tak terlalu elit . Sofi menajamkan matanya ketika melihat seseorang yang keluar dari mobil incarannya.


JENGJENG!


“Kak Ram?” Desis Sofi, meski ia sudah menduga orang yang ada dalam mobil itu mungkin suaminya namun tetap saja dia terkejut. Ia penasaran siapa yang Ramzi kunjungi.


Ramzi melangkah memasuki halaman rumah, ia membunyikan bel dan seseorang membukakan pintu. Setelah bernegosiasi sebentar Ramzi dipersilakan masuk.


“Ram, untuk apa kamu datang kesini?” Jane muncul dengan wajah tak suka.


“aku dapat kabar kalo kamu sakit.” Ramzi berdiri dari tempat duduknya.


“Makasih sudah mengkhawatirkan ku. Tapi sebaiknya kamu pergi sekarang.”


“Jane aku ngerasa kamu menghindariku ..”Ramzi mendekat namun Jane melarangnya mendekati.


“Berhenti disitu Ram, aku nggak mau terjebak dalam perasaan yang salah lagi.”


“Maksudmu?”


Jane mendengus kasar. “Sebaiknya kita tak usah berhubungan lagi. Dengan alasan apapun.”


“Jane kita kan sudah lama berteman? Ayolah…”


“Jangan maksa.” Potong Jane. “Daripada kamu bertingkah alay begitu lebih baik kamu cari istrimu. Dia pasti lebih membutuhkanmu.”


GLEK!


Ramzi terdiam. Ia terpaku ditempatnya berdiri. Jane memperhatikan perubahan air muka lelaki di hadapannya. Perasaan inilah yang seharusnya ia hindari, selalu luluh jika melihat Ram bersedih. Namun buru-buru Jane menepisnya.


“Mungkin sebentar lagi Sofia akan melahirkan, kau pasti ingin didekatnya untuk melihat anakmu lahir kan? temukan dia Ram, jangan sampai kau meneysal nanti.” Terasa sakit memang saat Jane mengucapkan semuanya, tapi dia yakin itu yang terbaik karena selama beberapa waktu ini ia berpikir keras untuk menghempaskan perasaannya hingga dirinya jatuh sakit, dan inilah saat yang tepat untuk menegaskan semuanya.


Ramzi terduduk, ia merenungi kata-kata Jane. “Apa menurutmu kami bisa bersama lagi?” Tanya Ramzi seolah tak yakin.


“Kenapa tidak? Kamu sangat mencintainya kan?” Jane mendekat duduk di samping Ramzi menatapnya lekat, coba mengikis semua perasaan takut kehilangannya. “Jangan kamu bilang kalau kamu takut dengan papamu.” Pandangan Jane semakin menusuk.


“Kau pikir aku anak kecil?” Ramzi mengelak tak terima.


“Bukannya kamu selama ini memang begitu? Hidup seperti tak bisa jauh dari ketiak papamu. Cih, dasar bocah ingusan!” Jane berdecih sebal.


“Enak saja! Aku akan buktikan kalau aku bisa mengambil keputusan sendiri.” Tegas Ramzi.


“Ya udah, buktikan saja nggak usah banyak bicara.”


Sejurus kemudian ramzi mengambil jemarai Jane dan menatapnya intens.


Deg deg! Jantung Jane berdegup lebih kencang.


“Jane, makasih ya.” Ucapnya dengan sorot penuh makna.


“Untuk?”


“Kamu selalu berusaha menyadarkanku tentang seseorang yang tak seharusnya aku sia-siakan.”


Jane berusaha menarik tangannya namun Ramzi menggenggamnya makin erat. “Aku tau kenapa Papa memasaku untuk menikahimu….”


Jane terperangah, ia tak yakin Tuan Alatas sudah sampai sejauh itu menginginkannya untuk menjadi menantunya.


“K-kenapa papamu ingi kau menikah denganku?” Jane agak terbata.


“Karena kamu wanita yang sangat baik.” Ramzi mengulas senyum,


“Ram, aku udah pernah bilang kan kalo aku tak sebaik yang kau pikir? Aku pernah berusaha menggodamu." Jane buru-buru menghindari tatapan yang kian menusuk-nusuk ulu hatinya itu.


“Terlepas dari semua itu, kau tetap orang baik Jane. Karena semua manusia kan pasti pernah membuat kesalahan.”


“Begitu juga dengan istrimu, Ram. Sebesar apapun kesalahannya maafkanlah dia, karena dia adalah ibu dari calon anakmu.”


Ramzi mengangguk, ia genggam tangan Jane dan menciumnya lembut.


“Ram, tolong jangan begini, lepaskan.” Jane merasa serba salah, disatu sisi dia senang dengan perlakuan Ramzi namun disisi lain ada perasaan yang harus segera ia kubur dalam-dalam.


“Jane, bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya sebagai tanda terima kasihku padamu.”


Jane mengernyit. “Harus banget ya pake peluk segala?”


“As a best friend, Jane.” Ramzi meyakinkan.


“Apa setelah ini kau berjanji nggak akan mendekatiku lagi dan membuatku merasa tersudut pada perasaan yang tak semestinya ini?” Ungkap Jane terang-terangan.


“Aku janji.”


“Juga berjanji akan mencari istrimu dan membuatnya kembali padamu?”


“Ya, demi anakku yang ada dalam rahimnya.”


“Anak kalian, bukan cuman anakmu seorang, Ram.” Jane menatap tajam.


“Ya.. ya…anak kami, buah cinta kami.” Ucap Ram dengan senyuman lantas menggser posisinya untuk lebih dekat dengan Jane dan memeluknya seketika. “Terima kasih seklai lagi telah mengingatkanku Jane. Aku beruntung mempunyai kamu.” Ramzi membelai rambut Jane dengan segenap perasaannya. Perasaan yang ia yakini sebagai seorang saabat baik, Jane pun meluruhkan semua perasaannya. Ia lepas segala bebannya, bahagia bisa barada dalam pelukan laki-laki yang dicintainya meski kini ia harus benar-benar merelakannya pergi. Karena kebahagiaan yang sesungguhnya adalah ia berhasil menolak untuk menjadi perusak rumah angga orang lain. Jane memejamkan matanya merasakan dekapan hangat itu, pada saat yang sama seseorang yang baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu menatap nyalang ke arah mereka.


“Kak Ram….?”


Seketika Ramzi dan Jane melerai pelukan dan shock melihat keberadan Sofi berdiri dengan wajah berang.


“Sofia ….”


❤️❤️❤️❤️❤️


BRAK…!


Bu Een menggebarak meja mengagetkan Saprol yang hampir tertidur di dekat karung beras.


“Ada apaan si Bu, ngagetin aja? Nggak tau orang lagi ngantuk apa?” Saprol mengusap wajahnya kaget.


“Enak bener ya kamu jam segini tiduran? Cepet beliin lauk makan siang sana!” Titah BU Een.


“Eh, siapa yang mau makan? Kok saya yang suruh beli sih?”


“Kamu nggak nurut saya suruh?” Bu Een melotot.


“Ya nggak lah! Kan itu bukan bagian dari tugas palayan toko? Enak aja main nyuruh-nyuruh saya.” Saprol cuek mau tiduran lagi.


“Oh, gitu ya? baik, kalo gitu gaji kamu saya potong!” Ancam Bu Een.


“Potong aja silakan, biar nanti ini beras sekarung saya angkut ke rumah kalo gitu!” Saprol ngancam balik.


“Kamu berani sama saya?” Bu Een berkacak pinggang. “Kamu itu bener-bener perhitungan ya jadi orang? Kemarin suruh bersih-bersih rumah nggak mau, kemarinnya lagi suruh nyuci mobil juga nggak mau, dan sekarang cuman disuruh beliin lauk makan juga nggak mau! Kalo gitu saya pecat aja kamu sekalian!”


“Jadi Bu Een mecat saya?” Saprol seetika bangkit.


“Iya! Biar kamu tau rasa!”


“Ok! Tapi bayar dulu gaji saya selama seminggu kerja disini.” Saprol menengadahkan tangannya.


“Enak aja bayar, kamu kerja belum sebulan udah minta digaji. Nggak ada!” Bu Een menolak keras.


“Tapi kan saya kerja disini pake tenanga, Bu? kalo Bu een nggak mau bayar berarti bu Een benar-benar dzolim sama saya!”


“Kalo saya dzolim, lantas kamu apa? Jadi anak buah nggak mau disuruh-suruh, kerjanya males-malesan seenaknya sendri, nggak kayak si Udin, dia rajin disuruh apa aja berangkat!"


“Oh ya jelas saya beda sama Udin! Saya nggak mau dimanfaatkan dan diperas tenaganya sama Bu Een. Kalo disuruh untuk urusan toko saya pasti bakal kerjakan, tapi kalo suruh bersih-bersih rumah, nyuci mobil, beli lauk, enak aja! emangnya saya pembantu? Emangnya saya dibayar lebih utuk itu? jadi orang jangan mau menang sendiri, mikir dong bu pake otak, jangan ake tumit!” Saprol meluap-luap, segala unek-uneknya ia tumpahkan sudah.


“Kurang ajar kamu ya!” Bu Een udah melayangkan tangannya hendak menggampar Saprol, tapi tangan kekar saprol sudah lebih dulu menahan tangan kanan Bu Een dan dia nggak gentar pada tatapan galak Bu Een yang terkenal paling meneyramkan sekelurahan.


“Sekarang cepat bayar kerja saya selama disini kalo nggak mau toko ini saya acak-acak!” Saprol mendorong tangan Bu Een sampai Bu Een limbung, untung saja berpegangan pada meja kasir.


“Saya akan laporkan sama polisi tindakan kamu ini!” Bu Een masih penuh emosi.


“Silakan, saya nggak takut! Satu kampung juga tau kalau Bu Een itu orang paling pelit dan dzolim! Dan Bu een tak punya bukti apa-apa, malah justru saya yang akan menuntut ibu karena tidak mau membayar upah saya selama bekerja disini.”


Seketika wajah Bu een pias, keringat dingin mengembun di jidatnya. Dengan tangan gemetar dia membuka laci meja kasir dan memberikan selembar uang ratusan ribu pada Saprol.


“Cuma segini bayaran saya selama seminggu? Bu Een ini bodoh apa nggak bisa ngitung sih?”


“Jangan ngelunjak kamu ya, masih bagus saya mau bayar kamu!” Bu Een menggeram menahan emosinya yang siap memuncak agi.


“Ok, ngga papa kalo cuman mau bayar segini.” Saprol mengambil kantong plastik yang paling besar dan dengan sigap memindahkan beberapa bungkus mie instan, dua kilo elur, dua kilo gula, susu, sabun, odol, kecap, minyak goreng dan 1 sak beras.


Bu een melongo melihat aksi gila Saprol.


“Ini saya bawa sebagai ganti rugi tenaga saya!” Saprol segera pergi dengan langkah lebar meninggalkan toko sembako Bu Een.


“Saprol….! Berhenti kamu! Saprol….!” Bu Een berlari mengejar begitu sadar dengan apa yang barusan terjadi, namun terlambat karena Saprol sudah berlalu dengan motornya. “Dasar maling kamu…! Kurang ajar…! Saya nggak rela, nggak ikhlas …! Nggak rido….! Awas kamu ya, Saprol….!” Bu Een terduduk lemas di depan tokonya meraung-raung sendirian di siang bolong yang panas menyengat seperi ini.


Kriyuk …..


Panggilan manja dari cacing penghiuni perutnya membuat BU Een segera bangkit dari posisinya selonjoran dengan tampang tak karu-karuan. Perasaannya sungguh tak baik-baik saja, dia benar-benar merasa telah dibodohi mentah-mentah. Meski dalam hatinya terus mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah untuk Saprol namun perutnya tetap tak bisa diajak kompromi, hingga membuat Bu Een terpaksa menutup tokonya sebentar untuk pergi mencari makan siang. (catet ya: di bab awal sudah dipaparkan kalau Bu Een itu paling males masak. apa-apa serrba beli. Jadi nggak heran meski lagi dongkol, dia pun rela pergi cari makan siang sendiri)


❤️❤️❤️❤️❤️


Siang hari yang panas dan terik juga dirasakan oleh Riri dan Toni yang sedang dalam perjalan pulang setelah mengantar pesanan catering dengan mobil pick up nya.


“Ton, ntar kita berhenti di tukang dawet ayu sebelum kantor pos itu ya.” Ucap Riri seraya membuka lebar-lebar kaca jendela pintu mobil di sampingnya.


“Kamu mau minum es dawet?” Tanya Toni tanpa menoleh.


“Iya nih, kayaknya enak panas-panas gini minum yang seger-seger.” Riri mengusap-usap lehernya.

__ADS_1


“Oke, tapi kamu yang trakstir ya?” Toni nyengir.


“Iya deh, ih, kamu tuh ya perhitungan banget sama aku.” Riri manyun.


“Becanda, Ri…!” Toni mengacak poni Riri dengan senyum lebar.


“Ish!” Tepis Riri makin manyun.


“Tenang aja, aku yang traktir kok. Jangankan cuman minta es dawet, minta dilamar pun aku sanggup kok.” Toni terkekeh seraya melirik Riri.


“Idih, siapa juga yang minta dilamar?” Riri keki.


“Kamu lah.” Sahut Toni terang-terangan.


Riri tersipu malu, dia jadi salting sementara Toni masih melihat padanya dengan senyuamn mengembang dibibirnya seolah menunggu jawaban Riri.


“Eh, Ton tukang es dawetnya kelewatan!” Pekik Riri begitu sadar mereka sudah melawati warung es dawet.


NGIIK…


Toni menginjak rem dan tengok kanan kiri. “Masa sih kelewatan?” Ucapnya tak yakin.


“Iya, kamu sih meleng mulu! Udah mundur aja, kayaknya nggak terlalu jauh deh.” Riri menyembulkan kepalanya dari jendela mobil melihat belakang.


“Puter balik aja deh. Aku kan orangnya pantang mundur, maju terus pokoknya.”


“Ish, kamu apaan sih Ton? Orang cuman dibelakang situ kok sedikit kelewatannya, mundur aja deh.” Rriri kekeh.


“Nggak mau.”


“Mundur nggak?” Riri kesel.


“Aku nggak mau mundur, Ri. Aku akan terus maju buat dapetin kamu.” Sahut Toni dengan ekspresi dibuat swserius mungkin.


“Toni…..” Riri kesel beneran, dicubitnya lengan Toni smpai dia puas.


“Awwwwwh…!” Toni meringis menahan sakit sampai mukanya yang agak poriental itu memerah.


“Permisi, Mas Mbak… ada apa ya? kok saya dengar ada yang teriak-teriak?” Seorang laki-laki berbadan gempal tiba-tiba nongol dari arah jendela sebelah Toni.


“eeh, maaf Pak. Nggak ada apa-apa kok…” Jawab Toni sambil mengelu-elus lengan kirinya yang barusan kena cubitan maut.


“Sepertinya barusan terajdi KDRT disini ya?” Si Bapak berbadan gempal itu nampak kepo sekali.


“KDRT? Nggak lah! Kita belum menikah, enak aja!” Sahut Riri.


“Maaf sekali lagi ya Pak, kami cuman lagi cari tempat parkir kok, hehe…” Toni beralasan.


“Oh, mau cari tempat parkir? Kalo gitu mari saya bantu.” Tawar si Bapak ramah. “Mau makan ayam bakar ya? kebetulan jam segini masih sepi, kalo udah sore biasanya rame. Ayam bakarnya disini emang enak banget kok Mas Mbak.” Cerocos bapak itu yang kontan saja membuat Riri dan Toni saling pandang.


Kedua netra Toni kemudian membulat ketika membaca tulisan AYAM BAKAR NYONYA SUTINI pada papan besar di depan bangunan tepat seberang jalan mobil mereka berhenti.


Si bapak gempal tadi kemudian mengeluarkan peluitnya.


Prit… prit.. prit….


Ia membuanyikan peluit seraya mengatur lalu lintas biar mobil Riri bisa menyebrang dan parkir di rumah makan ayam bakar trsebut. Oalah.. ternyata bapaknya itu tukang parir?? Batin Riri.


BLAM!


Toni menutup pintu mobil begitu selesai memarkir mobil dengan manis.


“Makasuh ya, Pak.” Ucapnya pada bapak berbadan gempal tadi.


“Ton, kita kan mau minum es dawet? Kenapa malah jadi ke warung ayam bakar sih?” Riri kelihatan kesal.


“Kamu belum makan kan?” Tanay Toni.


Riri menggeleng.


“Ya udah, aku traktir makan siang sekalian.”


“Tapi es dawetnya?” Riri pasang mode kecewa.


Tanpa menjawab, Toni malah melangkah duluan membuat Riri makin kesal. Terpaksa dia mengikuti walau sambil menghentak-hetakkan kakinya persis kayak anak SD lagi lmoba grak jalan 17 agustusan.


“Pak, bisa minta tolong nggak?” Toni ternyata mendekati si Bapak tukang parkir berbadan gempal tadi.


“Ya Mas. Giamna?”


“Kalo saya minta tolong pesenin es dawet 2 gelas bawa kesini bisa? Calon istri saya soalnya lagi pengen banget makan ayam bakar sambil minum es dawet.” Ucap Toni yang sontak saja membuat Riri terbelalak kaget mendengarnya.


“Oh, bisa Mas, bisa. Es dawet yang di seberang jalan dekat kantor pos itu kan?” si bapak bersemangat.


“Iya, Pak.” Toni merogoh sakunya mengeluarkan selembar uang berwarna biru. “Ini uangnya. Kembaliannya buat bayar parkir ya.”


Si bapak melongo sejenak. “Bayar parkirnya kebanyakan Mas.”


“Nggak papa, kan bapak udah nolongin saya beliin es dawet buat calon istri saya.” Toni tersenyum.


“wah, makasih banyak ya.” si bapak sumringah. Menang banyak dia.


“sama-sama. Saya tungu di dalam ya Pak, es dawetnya.” Toni memutar lagkah mengahmpiri Riri yang masih terpaku di empatnya. “Kenapa muka kamu manyun gitu?” tanya Toni santuy.


Riri tak menjawab, ia malah menatap Toni dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Nggak suka ya aku nyebut kamu sebagai calon istri?”


Riri masih diam tak menyahut.


“Ya udah, maaf deh. Kalo gitu aku ganti sebutannya jdi calon makmum gimana?”


“Toni, kamu tuh ya….”


“Ri, please. Jangan nyuruh aku nunggu lagi, kamu paham kan sama perasaanku?” Toni makin mendekat membuat Riri jadi dag dig dug. “apa kamu nggak bisa menerima aku karena aku cuman tukang cilok?”


JLEB!


Petanyaan Toni membuat Riri kaget sendiri.


“Bukan, bukan begitu Ton.” Sanggah Riri tak ingin Toni salah paham.


“Lantas?”


“Eum…, itu…. kamu…. Tau kan ibu aku kayak gimana?” Riri menunduk tak berani menatap wajah pemuda di depannya. Walau bagaimanapun tak mungkin dai mengesampingkan pendapat Bu Harni, ibu kandungnya sendiri yang masih tak bisa menerima Toni.


Toni menghempaskan nafas. “Jadi soal itu?”


“Tapi kamu mau kan nerima cintaku?” Tanya Toni frontal. Dia memang tipe pemuda yang tak suka basa basi.


Riri semakin menunduk dalam. Dag dig dug jantungnya kini semkain tak beraturan. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya. Ia belum pernah jatuh cinta. Beberapa waktu yang lalu, dia memang sempat hampir jatuh cinta betulan dengan Danar. Namun takdir berkata lain. Lalu apakah dia trayma? Tentu tidak sodara-sodara. Riri adalah tipe cewek yang cepat move on. Dia sadar akan perasaannya terhadap Danar hanya sebentuk rasa yang tiba-tiba dipaksakan harus jatuh cinta oleh keadaan. Namun kalo sekarang ternyata dia ditodong pertanyaan seperti itu oleh Toni? Dia harus jawab apa?


Riri bergeming dalam kebimbangan. Kedekatannya dengan Toni beberapa waktu belakangan ini memang membawa warna tersendiri dalam hatinya. Toni teman yang seru dan menyenangkan untuk diajak ngobrol tentang apapaun. Wawasannya luas meski hanya mantan tukang cilok. Dia humble dan penyayang. Terbukti 2 adiknya sudah lulus disekolahkan dan rela menyerahkan begitu saja bisnis ciloknya yang sudah maju pada adik pertamanya sementara dia sendiri memilih mulai lagi hidupnya dari nol.


“Ri? Jawab aku?” Teguran Toni membuat Riri sedikit tergagap.


“Emh, aku ….” Riri tak juga melanjutkan kalimatnya.


“Kalo kamu nolak juga nggak appa kok, ini akan jadi pengalaman pertama aku ditolak cewek. Karena baru pertama kali ini aku bilang cinta sama seorang cewek.”


Perkataan Toni membuat Riri mengangkat wajahnya. Ia beranikan diri menatap wajah oriental si pemuda Sumedang itu. tak ada kkebohogan dimatanya.


“Apa kamu barusan nembak aku?’ pertanyaan itu justru yang meluncur dari bbir mungil Riri.


“Bukan nembak tapi ngelamar. Kamu mau nggak menjadi makmumku?”


Nah lo! Diulangi lagi kan Ri pertanyaannya? Telak malah kali ini.


“Kamu ya Ton, masa ngelamar aku nggak elit banget di parkiran kayak gini?” Riri malah melotot kesal.


“Jawab aja mau apa nggak, seteah kalmu jawab mau baru aku lamar kamu secara resmi ke rumah kamu bawa semua anggota keluargaku!” Toni malah ikutan kesal.


“Ya udah, mau deh.”


“Yess!” Toni mnepalkan tangannya senang. “Benaan ya? ini udah dicatet sama malaikat lho. Muali sekarang kamu resmi jadi calon istri aku.”


“Ih… Toni kamu setangah maksa deh! Aku nggak yakin kamu bisa sebahagia ini kalo ibu denger kabar aku bakal kamu lamar.”


“Itu urusan belakangan. Yang penting kamu cinta sama aku. Baru setelah itu kita minta restu kakak-kakak kamu buat dukung pernikahan kita ngomong sama ibu kamu.”


Riri mendesah. “Ya, Bismillah aja deh… “


“Jangan pesimis gitu dong, sayang.”


“Ih, apaan sih udah panggil Sayang-Sayang aja?” Riri mencebik.


“saking bahagianya, hehe…” Toni mengacak lagi poni Riri. Semakin Riri berusaha menepis tangan usil Toni semakin Toni suka mengacak-acak poni rambut Riri sambil tergelak kegirangan karena wajah imut Riri yang cemberut membuatnya gemas.


“Mas? Mbak? Masih disini to ternyata? Pantesan saya cari-cari ke dalem nggak ada?” Pak tukang parkir muncul dengan 2 gelas es dawet di tangannya mengejutkan mereka.


“Eh, Bapak?” Toni menoleh dengan nyengir kuda. “Maaf Pak, tadi calon istri saya agak merajuk soalnya.”


“Terus, es dawetnya ini gimana urusannya?” si bapak malah bingung.


“Oh, ya sini biar saya aja yang bawa masuk ke dalam.” Toni mengambil alih dua es dawet bermandikan santan dan gula aren berkilauan itu dari tangan si bapak tukang parkir. “Makasih ya, Pak. Ayok sayang, kita ke dalam.” Ajak Toni dengan senyuman mengembang yang sontak membuat Riri tersipu-sipu karena lagi-lagi dipanggil Sayang.



Bonus visual tukang cilok 😘


❤️❤️❤️❤️❤️


Ting tung ting tung


Suara bel pintu berbunyi beberapa kali membuat Via yang sedang mengeringkan rambunya sedikit kaget.


“Mas, kayaknya ada tamu deh.”


“Bisa jadi tukang kurir, sayang.” Sahut Mirza cuek sambil asyik menekuni benda pipih di tangannya.


“Ish, ngaco! Masa malem-malem kurir nganter barang?” Kesal Via.


Ting tung ting tung


Bel berbunyi lagi


“Mas bukain dong, cepetan!” Via kesel beneran karena suaminya itu malah cuek-cuek aja.


“Sabar Sayang, baru aja kita selesai. Masa udah minta buka lagi. Kamu mau nambah ya?” Mirza malah menggoda istrinya seraya mencium tengkuk Via yang sontak saja mebuat Via merinding.


“Ih, Mas kamu nih ya bener-bener deh!” Via melotot.


“Bener-benar apa sayang? Bener-bener bikin nagih ya? hehe…” MIrza malah menciuminya semakin intens hingga membuat Via terpaksa menyinkut perut suaminya.


Dug!


“Aduh…”


“Rasain!” Cebik Via. “Yang mau minta nambah itu siapa? Rambut aku belum juga kering, udah mesum aja deh pikirannya Mas ini, heran deh!” Via menjauh dari suaminya. “cepetan bukain pintunya sana!”


Mirza nyengir sambil garuk-garuk pelipisnya yang nggak gatal. “Tapi ntar malem lagi ya?”


Via sungguh tak habis pikir, kenapa semenjak dirinya hamil suaminya seolah tak lelah mengajaknya bercinta. Padahal Mirza paham betul tak mau membuat istrinya kecapekan, sampe rela mengerjakan semua urusan rumah, namun untuk urusan ranjang nampaknya ia tak ingin dibatasi. Meski di awal permainan Mirza sudah wanti-wanti agar istrinya itu pasrah saja tak perlu mmberikan perlawanan yang berati, tapi kan lama-lama Via juga gemas dan kepingin kasih service lebih, hihihi…


Seperti lepas shalat maghib barusan, cuman gara-gara renda mukena Via nyangkut di anting telinga kirinya, Mirza seketika jadi lapar. Dia bukan saja membantu melepas mukena istrinya, tapi melapas piyama dan teman-temannya dari tubuh istrinya yang menurutnya semakin terlihat molek dan berisi itu. ya iyalah, namanya juga orang hamil Za, Mirza! Akhirnya Via tak kuasa menolak, hingga terjadilah pergumulan nikamat selepas shalat maghrib itu.


Ting tung ting tung ting tung tung tung ting tung…….


“Ya ampun! Itu tamu apa debt colector sih maksa banget!” Mirza menepuk jidatnya sendiri.


Via mendorong suaminya. “cepetan bukain pintunya makanya Mas.”


“Astaghfirullahaladzim….! Allahulaa ilahaillahuawalhayulqoyuum… “


“Hoy! Kamu pikir kita setan! Pake mau baca ayat kursi segala!” Semprot Khusni kseal pada Mirza sebelum dia menyelesaikan bacaan ayat kursinya.


“Oliv mana?” Seperti biasa Yana langsung nyelonong kagak pake nunggu dipersilakan masuk.


“Ya ampun! Kalian ini bener-bener tamu nggak da ahlak ya, ganggu aja!” Mirza dalam mode kesal membiarkan kedua sahabatnya menjajah ruang tamunya.


“Emang kalian lagi ngapain? Bau juga jam 7, masa udah mau tidur?” Khusni duduk dengan santainya sementara Yana sudah barada di ambang pintu kamar Via.


“ssuut…, suuut… cewek…” Goda Yana pada Via yang algi sibuk dengan hair dryernya.


Spontan Via menoleh ke sumber suara. “Yana?” pakiknya tak percaya.


“Baru madi jam segini?”


Via cuman tersenyum seraya meletakkan hair dryerya mengahmapiri Yana.


“Ganti baju sana, kita keluar yok.”


“Keluar ekmana?” Via heran.

__ADS_1


“Kita mau ngajakin kalian makan. Pasti pada belum makan malem kan?”


“Kok tumben?”


“Iya, sebagai perpisahan.”


“Perpisahan?” Via makin heran.


Yana mengangguk. “Mulai besok aku pindah ke Bandung ikut sama Kusni.”


Via melongo, setengah tak percaya dia mendengar kabar itu dari sahabatnya. Yana kemudian menggeret tangan Via keluar kamar berkumpul di ruang tamu.


“Beneran kalian.. eh, maksudku kamu mau pindah ke Bandung?” Tanya Via begitu mendaratakn pantatnya di samping suaminya. Ia menatap Yana dan Khusni berganti-ganti.


“Iya. Habis gimana lagi dong, kasihan Khusni kalo dia musti bolak balik terus tiap minggu. Capek di jalan.” Yana menatap sang suami penuh kasih.


“Takut kececer di jalan, Vi. Ntar bukannya dia yang bunting, malah perempuan lain yang bunting.” Kelakar Khusni seperti biasa selalu tengil dan seenaknya sendiri.


“Haish! Kamu ini..!” Via sebel.


“Ya intinya sih kita nggak bisa LDR-an terus kayak gini.” Pungkas Khusni.


“Kamu nggak usah sedih gitu dong Sayang.” Mirza mengusap bahu istrinya karena Via menampakkan raut sendu.


“Ntar kita nggak bisa hang out bareng lagi dong Yan?” Lirih Via.


“Bisa lah sesekali kalo pas aku main ke sini atau kalian yang mengunjungi kami.” Sahut Yana mengulas senyum.


“kamu kok tega sih Yan….?” Via malah mewek, sedih dia berpisah dengan sahabat semenjak masa SMPnya itu.


Yana memeluknya haru. “Jangan nangis dong, aku kan pingin ikut nangis juga jadinya…” Yana ikutan mewek. Kedua sahabat itu berpelukan saling terisak bersama.


“hemmm, dasar para perempaun.” Dengus Khusni. “Kamu nggak mau meluk aku juga, Za?” Selorohnya pada Mirza.


“Ogah! Bukan muhrim!’” Cibir Mirza.


“Udah dong, pelukannya. Jadi nggak nih kita keluar makan malem ngerayain perpisahan kita” Khusni nampak nggak sabaran.


“Apa?” Kaget Mirza. “Jadi kalian dateng kesini untuk itu?


Yana melerai pelukannya. “tadi aku udah bilang kok sama Olive.”


“Kok dadakan sih? Kayak tahu bulat?” Mirza heran.


“Udah, nggak usah banyak protes. Sana pada ganti baju dulu, kita berangkat sekarang keburu kemaleman.” Titah Khusni mendorong bahu MIrza.


“Tunggu dong, main nyuruh-nyuruh aja. Sayang, gimana kamu mau pergi bareng mereka?” Mirza beratanya khawatir pada istrinya mengingat mereka baru saja selesai olah rga malam jadi takut Vai kecapekan.


“hemm, sebenarnya sih lagi males Mas. Aku agak lemes nih, nagntuk juga….”


“Yah, nggak asik kamu Lv!” Yana merengut.


“Salah sendiri kanapa nggak nagabarin sebelumnya!” Mirza sebel.


“Kan biar surprise?” Sahut khusni santuy.


“Istri aku kayaknya lagi mager tuh. Udah kalian masak mie rebus aja di belakang, kita bikin pesta perpisahan dsini aja ya? jangan jauh-jauh? Kasihan istriku.”


“Yaelah, Za… kalo cuman makan mie rebus doang ngapain harus pake ada acara perpisahan?” Khusni kesal.


“Kita perginya yang deket-deket sini aja deh, biar kamu nggak capek Liv. Yang penting kita keluar bareng biar ada momen kebahagiaan bersama.” Bujuk Yana.


“He em, kalo keluarnya bareng pasti bahagia bersama , Darling.” Khusni memainkan alisnya naik turun seraya tersenyum menggoda Yana.


“Ish kamu ini ya…!” Yana menjembreng kedua pipi suaminya gemas campur kesal. “Kalo keluar yang itu ntar agak maleman.”


“Janji ya, my darling?” Khusni menjawil dagu Yana.


“Iya, apa sih yang nggak buat kamu?”


“Asyik, nambah boleh ya nanti?”


“Boleh dong, selagi akmu masih kuat.”


“Ekhem! Sorry, kalian bahas apa ya?” Via pasang tampang folos sok tak mengerti dengan pembasan suami istri somplak itu.


“Nggak usah didengirin Sayang, mereka emang aneh.” Lirih Mirza. “Udah sana, kalian pada pulanga aja! Mendingan pada istirahat kalo besok mau ke Bandung. Kita udah ikhlas rido kok ngelepas kalian pergi.” Usir Mirza secara halus.


“Ya ampun tega kamu ya Popaye! Aku nggak mau pulang sebelum kalian mau pergi baeng kita,.” Sungut Yana.


“Hadeh…. Maksa.” Miza kehabisan kata.


“Kita pergi ke kedai kopinya Danar aja deh yang deket. Lumayan kok disana juga bagus tempatnya buat jadi latar foto selfi.”


"Ya ampun, kalo cuman mau numpang selfi di kebon cabe samping rumah juga kan bisa, yan?” Mirza bener-benr nggak habis pikir dengan isi kepala Yana.


Akhirnya setelah melalui perdebatan sengit beberapa menit kemudian mereka jadi juga keluar menuju kedai kopi Nostalgia. Mereka memilih tepat outdoor.


Yana segera memanggil waiter untk memesan makanan.


“Yah, hpku ketinggalan di mobil deh kayaknya Mas.” Via memeriksa tasnya sementara Yana sibuk memilihkan menu makanan dan minuman.


“Mas ambilin deh.”


“Nggak usah, biar aku aja Mas.” Via mengambil kunci mobil di dekat suaminya.


“Jangan lama-lama Sayang, nanti suamimu yang ganteng ini kangen.” Seloroh Mirza yang kontan saja Membuat Khisni mencibir sebal.


Via hanya tersenyum. Ia segera keluar, namun karena tak begitu mempehatikan jalan dan fokus pada saku tasnya penasaran dengan keberadaan ponselnya, Via menabrak seseorang di p8ntu masuk.


“Eeh, Maaf, maaf…” Ucap Via merasa tak enak hati.


“Nggak papa, maafin juga ya. Aku juga nggak merhatiin jalan tadi.” Balas perempuan yang ditabrak Via tersenyum maklum seraya meminta maaf juga.


Mereka kemudian berlalu begitu saja, Via menuju parkiran. Sedangkan perempuan tadi kembali mengedarkan pandangan ke seisi area outdor kedai malam itu. langkahnya diayun mantap menuju pantry menghampiri waiter yang sedang sibuk disana.


“Permisi. Apa aku bisa ketemu Danar?” Tanyanya yang sontak membuat si waiter yang ditanya melongo.


“C-cari Mas Danar?” si waiter agak tergagap saking terpesonanya dia sama kecantikan sang perempuan di depannya.


“Iya, apa dia ada di sini?”


Si waiter itu bagaikan terhipnotis, ia segera menunjukan diamana kamar pribadi Danar. Padahal Danar sudah berpesan padanya agar siapaun yang mencarinya jangan ada yang memberi tahu. Aih! Dasar mata lelaki!


Tok tok tok ….


Ketokan halus lembut terdengar dari kamar Danar, ia segera berajak membukanys karena mengira itu pasti salah satu karyawannya.


Ceklek.


Jengjeng!


Alangkah terkejotnya hati Danar manakala melihat siapa yang datang.


“Kenapa kamu kesini?” Tanya Danar dingin.


“Buat nemuin kamu lah.”


“Grace, aku udah bilang kita nggak bisa kembali seperti dulu.” Tegas Danar memasang tampang sangarnya.


“Jangan GR dulu. Aku cuman mau mastiin kamu baik-baik aja kok.” Ya, peremuan itu ternyata Grace, sodara-sodara.


Danar mengernyit.


“Kemarin kamu masuk setangh hari kerja, dan hari ini kamu bahan tak masuk kerja sama sekali.” Ucap Grace menatap pria pujaannya seolah meminta penjelasan.


Danar menyilangkan tangan didepan dadanya. “kamu mata-matain aku?”


“Tentu saja nggak, kurang kerjaan banget. Tante Elin yang ngasih tau.”


“Kamu berusaha merebut hati ibu setelah membuat semuanya hancur, seolah kamu tanpa dosa.” Danar tersenyum sinis.


“Danar, aku benar-benar menyesal.” Grace coba meraih tangan danar namun Danar spontan menghindar.


Grace paham dengan penolakan itu. ia tak ingin sakit hati, sebab ia mersa pantas jika mendapatkan perlakuan seperti itu. meraka saling diam. danar berpikir harus menggunakan jurus apa untuk membuat Grace pergi.


“Kamu nggak nyuruh aku masuk?” Tanya Grace kemudian sambil berusaha melihat kedalam kamar danar.


“Ini kamar prbadiku, bukan ruang tamu.” Tegas Danar.


“Kalo gitu kamu bakal nyuruh aku berdiri disini sampe malem?”


“kalo kamu capek tinggal pulang aja. Aku nggak ngundang kamu kesini kok.” Danar cuek.


“Heh ….” Grace mendengus. Ia melihat sebuah bangku kayu panjang, tempat Danar main gitar kala sutuk melam-malam. “Kita duduk disana.” Grace berjalan mendahului tanpa menunggu jawaban Danar.


Terpaksa danar mengikuti. Mereka berdiaman lagi untuk beberapa lama. Sedikit pun danar tak berniat membuka obroan lebih dulu. Garace sendiri berusaha menahan perasaannya yang sangat penasaran dengan sosok perempuan yang dicintai Danar yang disebutkan Bu Elin sebagai cinta salah alamat. Sungguh Grace merasa selama ini teralu percaya diri mengira Danar tak bisa move on darinya. Namun kenyataannya dia bisa mencintai orang lain setelah luka hatinya yang begitu dalam.


“Ekhem, Danar. Aku haus.” Ucap Grace memecah kebekuan diantara mereka.


“Minum apa?” tanya Danar acuh.


“Apa aja, yang penting kamu yang buat.” Sahut Grace dengan senyuman.


Danar bangkit tanpa kata, dia lekas menuju pantry. Beberapa menit berkuatat disana selesai juga, dia segara mengambil baki untuk menghidangkannya pada tamu tak diundangnya. Pada saat yang sama Via baru saja keluar dari toilet. Kepalanya merasakan sedikit pusing. Via berjalan pelan dan berhenti sebentar di lorong dekat pantry.


HUP!


Sepasang mata Danar menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya.


“Via?” Gumamnya, ia masih terpaku memperhatikan Via yang nampak memegangi pelipisnya.


Belum sempat Danar mendekat tubuh Via seperti oleng mencari pegangan tembok namun tak berhasil menjaungkaunya. Detik berikutnya perlahan tubuhnya terkualai lemas.


“Via ..!”


PRANG…!


Suara pecahan gelas membentur lantai terdengar bersamaan seiring teriakan panik Danar membuat Ari yang melihat itu kaget. Danar segera memburu tubuh lemas Via dan mengagkat kepalanya ke dalam pangkuannya.


“Mas? Dia… bukannya Mbak Via yang …”


“Vi…, kamu kenapa…?” Danar menepuk-nepuk pelan pipi Via tak menghiraukan kalimat Ari. “Vi, bangun…, kamu kenapa….?”


“Mas, sepertinya Mbak Via pingsan.” Ucap Ari.


“Ri, tolong cari bantuan…, ah.. tolong cari ponselku di kamar… cepet!” Titah Danar panik.


“I-iya Mas.” Ari segera melesat menuju kamar pribadi Danar.


Grace yang melihat Ari terburu-buru masuk dan keluar dari kamar Danar sontak heran dan “Tunggu, ada apa? Kamu…? Danar mana?” Grace bertanya bingung.


“Parmisi saya lagi buru-buru disuruh Mas danar, temannya Mas Danar pingsan.” Ari langsung pergi tek mengiraukan Garace,


Grace segar mengikuti Ari. Danar masih berusaha menyadarkan Via yang lemah dalam pangkuannya.


“Ini Mas hpnya.”


Danar segera meraihnya dan menghubungi nomor Mirza, namun sayang karena ponsel Mirza dalam mode silent dia tak bisa mendengarya.


“Ya ampun, ayo dong Za…, angkat…” Danar gemas karena panggilannya tak kunjung diterima.


“Danar, dia siapa?” Grace bertanya heran, namun Danar yang kadung panik tak menjawabnya, dia berusaha sekali lagi menghubungi Mirza. Grace memperhatikan wajah Via yang berada dalam pagkuan Danar.


Dia kayaknya…. Peremuan yang ketemu di pintu masuk itu? kok danar kayaknya khawatir banget sama dia? Apa jangan-janagn…


“Ri, kamu tolong ambil kayu putih atau apa kek yang isa buat orang pingsan siuman. Abis itu cari suaminya. Kamu tau MIrza kan? Dia pasti ada disini. Aku bawa dia ke kamar dulu.” Danar segera membopong tubuh lemas Via membawa ke dalam kamarnya. Grace yang sempat bengong langsung sadar dan mengikuti, sementara Ari sibuk menjalankan perintah Danar.


Tubuh lemah Via kini sudah terbaring dia atas kasur kamar Danar. Danar meraih jemari Via yang terasa dingin. Tangan kirinya mengusap lembut anak rambut di kening Via. “Vi, bangun dong. Jangan bikin aku takut. Vi…”


Grace yang sedari tadi hanya jadi penonton sontak merasakan kejanggalan. Belum penah selama dia mnejalin kebersaaaman dengan Danar, danar terlihat sekhawatir itu padanya. Bahkan danar sampai tak sadar kalau ada orang lain di kamar itu. grace sampai pada satu kemungkinan.


Apa ini wanita yang disebut Tante Elin sebagai cinta salah alamatnya Danar?


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


-----------------5969 kata sampai kata Danar di atas Kak…😂😂😂


Panjang ya…? Haha… maafkan kalau membosankan. 😆😆😆


Terima kasih buat yang udah baca sampai selesai. You are the best, mmmuach…😘😘😘😘😘😘😘


Jempol jangan lupa ya


Komen juga


Vote boleh banget


Maaf jika banyak typo dan beberapa miss. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


Tetap jaga kesehatan ya semuanya.


I love you all🤗🤗🤗😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2