
Riri berdiri dengan tampang manyun di depan gedung tempat kursus tata boga. Bu Elin wanita setengah baya yang mengajarnya sekaligus pemilik lembaga kursus itu menyapa Riri.
"Ri, dari tadi kamu masih belum pulang?" Sapa Bu Elin yang baru keluar gedung berlantai dua itu dengan membawa kardus dan paper bag yang mungkin berisi makanan hasil ujian peserta kursus.
"Eh, iya Bu, belum." Riri agak terkejut juga. "Saya nunggu kakak saya, Bu."
"Mau bareng sama saya sekalian? Saya juga lagi nunggu jemputan." Bu Elin menawarkan.
"Nggak usah, Bu. Makasih. Rumah saya kan jauh. Lagian kakak saya juga sebentar lagi sampai."
Sebuah BMW hitam melaju pelan dan berhenti tepat di depan Riri dan Bu Elin.
"Ya udah, kalo gitu saya duluan ya. Jemputan saya sudah sampai." Bu Elin menunjuk BMW hitam itu.
Pengemudi BMW yang berkacamata hitam dengan rambut gondrong diikat seadaanya turun dan menghampiri Bu Elin untuk mengambil barang bawaan Bu Elin. Riri seketika melongo karena merasa pernah melihat laki-laki itu.
Si laki-laki tersenyum pada Riri sementara Riri masih mengingat-ingat siapa laki-laki itu.
BLAM!
Bunyi pintu mobil ditutup menyadarkan Riri, dan Riri ingat siapa laki-laki itu.
TIN!
Danar membunyikan klakson dan senyum ke arah Riri sebelum menutup kaca jendela dan melajukan BMW hitam itu.
"Ah, iya! Itu orang yang nolongin aku waktu motorku mogok!" Ujar Riri girang setelah ingat laki-laki itu ternyata Danar, tapi tentu saja dia belum tau namanya. "Duh, kenapa aku bisa mendadak amnesia gini ya? Etapi, dia itu siapanya Bu Elin ya? Suaminya? Ah, nggak mungkin! Masa masih muda gitu! Anaknya? Nggak mungkin juga, kan Bu Elin katanya nggak punya anak! Ah, mungkin sopirnya! Tapi kok sopir keren amat?" Riri asyik menebak-nebak sendiri sampai tak sadar ada tukang cilok berhenti di depannya.
"Neng, mau beli cilok nggak?" Tanya tukang cilok pada Riri, sepertinya usianya tak seberapa jauh dengan Riri.
Riri cuek aja masih asyik dengan pikirannya sendiri.
"Neng? Cilok?" Tanya si tukang cilok lagi.
Riri masih cuek.
Ngekngok ngekngok...
Si tukang cilok membunyikan klaksonnya, sontak Riri kaget
"Eh, ngapain sih? Bikin kaget orang aja!" Semprot Riri kesal.
"Cilok, Neng?" Tawar si tukang cilok dengan senyum yang dibuat semanis mungkin.
"Nggak!" Seru Riri pasang tampang judes.
"Duh, galak amat!" Gerutu si tukang cilok. "Saya kasih bonus deh Neng, khusus hari ini." Lanjut tukang cilok pantang menyerah.
"Nggak ya nggak! Maksa banget sih orang jualan?" Riri kesal.
"Ya mumpung saya lagi baik hati, Neng. Ada bonus hari ini khusus untuk Eneng. Karena hari ini hari ulang tahun temannya tetangga nenek saya, Neng."
"Bodo amat!" Ketus Riri semakin galak. "Sapa juga yang mau beli cilok situ? Nggak doyan!"
Si Tukang cilok menyerah, dia mendorong gerobak ciloknya sambil menggerutu sendiri. "Cantik-cantik judes banget. Cewek jaman sekarang, gengsinya nggak ketulungan!"
Riri mengikuti si tukang cilok dengan ekor matanya masih dengan tampang judesnya. Tiba-tiba ....
Kruyuuuukk ....
Perut Riri ngasih alarm pertanda belum dikasih santapan karena memang sedari siang Riri belum sempat makan gara-gara panik motornya mogok lagi.
Kkrrrryuuuuukkk ....
Kali ini bunyinya lebih dramatis serasa menggigit-gigit dinding perutnya.
"Mang! Mang cilok!" Seru Riri lantang tanpa pikir panjang.
Si tukang cilok yang belum terlalu jauh menoleh, "manggil saya?" Tanyanya heran.
Riri melambaikan tangan memberi isyarat untuk mendekat. Si tukang cilok berjalan mundur menarik gerobaknya. "Neng manggil saya?" Tanyanya sekali lagi masih tak yakin.
"Iya. Emang ada orang lain disini?" Riri masih saja judes. "Cilok dong!" Sambung Riri.
"Katanya tadi nggak doyan?" Sindir si tukang cilok.
"Situ niat jualan nggak sih? Tadi nawarin, giliran mau beli malah nyindir-nyindir! Kalo nggak mau dibeli ya udah!" Omel Riri sewot.
"Eeh... jangan ngambekan gitu dong, Neng. Ya mau atuh, masa nggak mau dibeli?" Si tukang cilok coba meredakan kejengkelan Riri.
__ADS_1
"Ya udah, cepetan. Dapet bonus kan katanya tadi?"
"Iya, bonus khusus dalam rangka ulang tahun temennya tetangga nenek saya." Terang si Tukang cilok dengan senyum lebar. "Mau beli berapa, Neng?"
Riri merogoh saku tasnya dan mendapatkan selembar uang disana. "Dua ribu aja, Mang."
Si tukang cilok melongo sejenak. kirain mau beli berapa, taunya cuman dua rebu. Ampun dah ah, udah mah judesnya ngalah-ngalahin ibu kos saya, eeh ternyata ...
"Mang! Kenapa bengong?" Tegur Riri menyadarkan tukang cilok yang lagi ngedumel dalam hati. "Cepetan, laper nih! Jangan lupa bonusnya.
"Eh, iya beres." Si tukang cilok segera melayani.
"Pedes ya. Banyakin juga kecapnya."
"Nah, ini Neng ciloknya."
Riri memandangi plastik yang berisi lima buah cilok ditangannya. "Cuma segini? Katanya dapat bonus?"
"Ya itu udah dikasih bonus 1, Neng. Aturannya kan 2 rebu dapet 4, itu saya kasih 5." Jelas si tukang cilok.
"Aturan dari Hongkong? Kirain bonusnya banyak, nggak taunya cuma satu doang!" Gantian Riri yang ngedumel, tapi diembat juga itu cilok walau masih panas. Alhasil nggak sampe dua menit habis ciloknya tinggal bungkusnya doang. "Tambah dua ribu lagi deh!" Ujar Riri masih sambil kepedesan.
"Naah ..., enak kan cilok buatan saya mah? Pasti ketagihan."
"Ini karena laper, bukan ketagihan! Cepet, mana ciloknya? Bonusnya tambahin jangan cuman satu!"
"Beres, saya kasih tiga bonusnya buat Neng."
"Saos, sambel sama kecapnya juga tambahin, Mang!"
Si tukang cilok segera meracik pesanan Riri.
"Ini, Neng." Tukang cilok memberikan pesanan Riri.
"Hem, nyam ... Hufhh ... hufhh.. nyam ... nyam ... huuff ... " Antara lapar, rakus, pedes dan panas jadi satu.
Keringat mulai menetes dari dahi Riri namun mulutnya nggak berhenti mengunyah dan meniupi ciloknya, sesekali dielapnya keringat didahi dengan punggung tangannya.
Si tukang cilok yang diam-diam memperhatikan Riri jadi senyam senyum merasa lucu dengan tingkah Riri, tapi kemudian dia tak tega melihat cewek cantik di depannya kepedesan sampe keluar pula ingusnya.
Hemm, untung cantik. Biar keringetan sama ingusan juga tetep aja kalo cewek cantik mah kelihatan cantik. Batin si tukang cilok.
Si tukang cilok langsung berinisiatif. "Kepedesan ya, Neng? Sebentar, saya belikan minum." Ujarnya lantas pergi ke warung yang tak jauh dari situ. "Ini Neng, minum dulu. Biar ilang pedesnya." Si tukang cilok sudah kembali dengan sebotol air mineral dan mengasongkannya pada Riri
Glek glek glek ...
Riri langsung menenggak setengah botol lebih isi air mineral itu.
"Aahh ...." Riri puas mengelap mulutnya dengan punggung tangan kirinya. "Makasih ya, Mang."
"Iya, sama-sama. Maaf ya, Neng kepedesan ya? Kebanyakan saosnya ya?"
"Huah, pedes banget, Mang. Tapi kan tadi saya yang minta sendiri dibanyakin." Riri kali ini udah nggak judes lagi karena merasa ditolong si tukang cilok.
"Kalo gitu nanti sampe rumah kalo sakit perut jangan salahin saya ya, Neng"
Riri malah tertawa. "Ya nggak lah, Mang."
Mereka berdua sama-sama tersenyum sudah mulai akrab.
"Oh iya, jadi berapa sama air mineralnya, Mang?" Tanya Riri kemudian.
"Nggak usah dibayar, nggak apa-apa. Semuanya bonus buat Eneng."
"Wah, makasih deh Mang kalo gitu. Tau aja kalau aku lagi bokek. Hehe .... sekali lagi makasih ya, Mang."
"Iya, Neng. Tapi jangan panggil saya mang dong, saya kan masih muda. Palingan nggak beda jauhlah sama Eneng."
"Kalo gitu jangan panggil saya neng juga dong. Gigi saya kan ngggak boneng! Kenalin saya Riri. " Riri mengulurkan tangannya, roman wajahnya sekarang sangat bersahabat berbeda dengan beberapa menit yang lalu yang juteknya pol-polan sekelurahan.
"Toni." Sambut si tukang cilok tersenyum lebar.
Menit berikutnya mereka terlihat akrab dan terlibat obrolan kecil sampai saatnya Via datang untuk menjemput Riri dan dia sedikit aneh melihat Riri sedang cekakak cekikik ngobrol dengan seorang pemuda asing yang di depannya teronggok seonggok gerobak cilok seperti tak bertuan.
"Ri?" Tegur Via.
"Eh, Mbak Via. Mbak mau cilok juga nggak? ciloknya enak lho, Mbak. Tadi aja aku sampai habis 12 biji."
"Ya itu mah dasar kamunya aja yang rakus." Cetus Via lantas melirik Toni sekilas.
__ADS_1
"Oh iya, kenalin ini Toni Mbak, owner cilok mantul." Riri memperkenalkan Toni seraya menunjuk gerobak cilok di dekat mereka.
Via menyambut uluran tangan Toni, kemudian dia berbisik pada Riri, "Mbak kan udah sering bilang, hati-hati sama orang asing. Jangan mudah percaya gitu aja."
"Orang nggak ngapa-ngapain, cuman ngobrol sebentar aja. Lagian dia kan cuman tukang cilok Mbak, bukan penculik atau penjahat." Sahut Riri sambil berbisik juga.
"Ya tapi kan kamu baru kenal sama dia."
"Aduh udah deh, Mbak nih sama aja kayak ibu deh! Suka berburuk sangka duluan sama orang."
"Bukan buruk sangka tapi waspada."
Toni sadar dirinya sedang dipergunjingkan oleh kedua wanita di dekatnya itu, tapi dia tidak mau ambil pusing. dia sudah terbiasa di dipandang sebelah mata oleh orang-orang yang cuman tahu luarnya saja dari dirinya. bodo amat!
Sementara Via dan Riri masih asik bisik-bisik tetangga ngomongin soal Toni sebuah BMW hitam kembali menuju ke gedung kursus tata boga itu dalam kecepatan melambat. Dan segera setelahnya Riri memekik pelan sambil mencengkeram lengan Via.
"Mbak, itu cowok yang waktu itu pernah nolongin aku."
"Hah, mana? Siapa?" Via celingukan nggak mengerti maksud Riri.
"Itu...!" Riri menunjuk dengan dagunya ke arah mobil BMW hitam yang parkir di dekat mereka.
Lalu seorang laki-laki mengenakan Tshirt hitam keluar dari mobil itu melepas kacamata hitamnya sambil mengibaskan rambut gondrongnya yang ikal terurai sebahu.
wuz ... wuz ... wuz ...
Dengan badan tegap dan tinggi ideal, cowok itu memang terlihat laki banget. Cool man ... ! Gayanya udah persis kayak model iklan kutu rambut, wkwkwkwk.
Danar? Gumam Via dalam hati. Tentu saja matanya tak lepas mengawasi si laki-laki yang pernah menolongnya dalam insiden jeruk menggelundung tempo hari itu.
Hup!
Mata via tak sengaja berserobok dengan mata Danar yang melihat kearahnya.
Aduh, ketahuan kan aku lagi ngeliatin dia? Yah, kok dia malah kesini sih? Mau ngapain sih dia? Kenapa harus ketemu dia lagi sih? Kayaknya tiap ketemu dia timing-nya selalu nggak tepat deh! Heran, perasaan kemana-mana pasti ketemu sama dia, ada aja alasannya kebetulan ketemu dia. Kayaknya kota ini penuh sama dia deh! Via sibuk mengatasi perasaannya sendiri yang mendadak nggak karuan sementara Danar melangkah ke arahnya yang langsung disambut oleh senyum ramah Riri.
"Kok balik lagi, Mas?" Tanya Riri sok akrab.
Danar tersenyum simpul, "Iya kunci rumahnya Bu Elin ketinggalan."
"Kok bisa?" Tanya Riri heran.
"Nggak tahu juga, Bu Elin bilang mungkin tertinggal waktu tadi dia sekalian ngeluaran dompet di kelas A3."
"Oh, itu kelas saya Mas. Ruangannya ada di lantai dua. Setelah tangga lurus aja, terus belok kiri sedikit lalu belok kanan, selang 2 kelas dari situ depan ruang pengajar paling kanan, nah disitu deh ruangannya." Papar Riri panjang lebar.
"Dimana?" Tanya Danar yang belum sempat mencerna penjelasan Riri.
Riri dan Via saling tatap. Sepertinya Riri kecewa bahwa penjelasannya ternyata tidak dimengerti oleh Danar, sementara Via berusaha menahan senyumnya.
"Kalo gitu biar aku aja deh yang kesana. Mas tunggu di sini aja." Riri berbaik hati kembali menuju ke kelasnya daripada disuruh sekali lagi menjelaskan pada Danar yang memang tidak tahu seluk beluk gedung itu.
Riri pun pergi meninggalkan Via dan Danar dan juga tentu saja si Toni tukang cilok yang cuman bisa melongo menyaksikan Danar dan Via yang saling berdiam-diaman tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Akang dan teteh lagi pdkt ya? Kok dari tadi pada diem aja? pasti si akang grogi ya? Dan si teteh salting ya?" "seloroh Toni sok tahu.
Via langsung melotot pada Toni, sementara Danar hanya tersenyum.
"Ya udah, biar enak ngobrolnya saya tinggal aja deh. Sok silahkan atuh kalau mau pdkt mah. Saya pamit dulu ya, akang teteh. Semoga berhasil pdktnya sukses lancar jaya makmur sentosa abadi selama-lamanya." Oceh Toni masih dengan sok tahunya.
Ngekngok ... ngekngok ...
"Cilok ... cilok... !" Seruan lantang Toni meninggalkan mereka.
Kini hanya tinggal Via berdua dengan Danar disana. Via rikuh tidak tahu mau ngomong apa, sedangkan Danar seperti sedang mencari sesuatu hal untuk memulai obrolan. Beruntunglah kebekuan diantara mereka terpecahkan oleh suara telepon ponsel Via yang berada di dalam tas selempangnya.
Tas selempang Via yang berukuran sedang itu memang terdiri dari beberapa kantong didalamnya dan Via sedikit kesulitan untuk mencari ponselnya karena dia lupa menaruhnya di kantong sebelah mana, sementara ponselnya terus saja berbunyi. Via semakin gugup karena merasa Danar juga sedang memperhatikannya. Dan ketika Via sudah berhasil menemukan ponselnya dan sempat melihat nama ibu Bu Een di layar ponselnya tiba-tiba ...
SEET ... PRANG!
Ponsel via terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah. refleks via dan Danar langsung membungkuk untuk mengambilnya dan sudah barang tentu tangan mereka bertemu. Tangan kanan Danar tak sengaja menyentuh tangan Via yang sudah lebih dulu menggapai ponsel itu, mereka bertatapan begitu dekat dalam raut wajah sama-sama datar tanpa kata untuk sepersekian detik.
Dan ....
dan bersambung dulu 🤭
karena udah kepanjangan nulisnya 😂
Terima kasih sudah membaca, nantikan kelanjutannya ☺️
__ADS_1
like, komen, rate dan vote ya kakak 🙏😘