TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
35 #MENYINGKAP TABIR


__ADS_3

Mobil BMW 320i Sport berwarna dark grey keluaran terbaru itu melaju kencang menuju kantor biro perjalanan haji dan umroh milik Ramzi. Ya, Ramzi bukan hanya sukses sebagai pengusaha garmen bersama ayahnya, dia juga punya bisnis travel haji dan umroh yang berkembang pesat dan salah satu yang terbesar di ibu kota. Bahkan belakangan Ramzi merambah ke bisnis batu bara di Kalimantan bersama adiknya yang sudah lebih dulu sukses di sana. Pendek kata, Ramzi lebih dari kata mapan sebagai seorang laki-laki.


Kedatangan Sofi untuk pertama kalinya ke kantor itu membuat beberapa karyawan Ramzi terpukau keheranan.


“Permisi, saya ingin bertemu dengan Pak Ramzi Alatas.” Ucap Sofi pada seorang perempuan di bagian front office.


“Apa sudah ada janji?” Tanya perempuan itu.


“Sudah. Bilang saja Sofia ingin bertemu.”


Perempuan tadi menghubungi Ramzi melalui telpon, sementara karyawan yang lain berbisik sambil memperhatikan Sofi dari ujung kaki sampai ujung kepala.


“Siapa ya? Cantik banget.”


“Iya, mungkin calon klien Pak Ram.”


“Calon jamaah haji, begitu?”


“Atau calon jamaah umroh?”


“Atau juga calon istrinya Pak Ram.”


Kekepoan mereka sayangnya tak berlangsung lama sebab Sofi sudah dipersilahkan masuk ke ruangan Ramzi diantar oleh perempuan tadi.


Ramzi langsung berdiri menyambut Sofi.


“Kak Ram, maafkan aku. Aku tak bisa menerima hadiah pemberianmu.” Ucap Sofi langsung pada tujuannya sambil meletakkan kunci BMW 320i Sport itu di atas meja kerja Ramzi.


Ramzi langsung terkejut mendengarnya, tapi kemudian senyumnya merekah seraya mengajak Sofi duduk di kursi tamu ruang kerjanya.


"Kita duduk di sana."


Sebenernya Sofi ingin menolak karena tak mau berlama-lama di sana, tapi sikap Ramzi yang begitu cair membuatnya tak enak hati.


"Apa ada yang salah dengan hadiah pemberianku?" Tanya Ramzi tenang.


"Tidak sama sekali."


"Lantas?"


"Aku ... hanya tak bisa menerimanya." Ucap Sofi lirih, matanya tak berani menatap Ramzi.


Ramzi menyerongkan posisi duduknya sehingga berhadapan dengan Sofi. Diraihnya


jemari lembut Sofi.


"Kau adalah calon istriku, kita akan segera menikah bulan depan. Tentang sindrom itu kau tak perlu cemas, kita berangkat ke Singapura minggu ini untuk berobat. Aku sudah minta bantuan teman yang ada di sina. Kamu pasti sembuh." Tutur Ramzi meyakinkan Sofi.


Sofi sangat gamang. Semua kebaikan Ramzi dan sikap manisnya mengapa tak mampu sedikit pun menyentuh hatinya. Diberanikan juga ia menatap wajah lelaki yang sudah belasan tahun mengharapkan balasan cinta darinya itu.


Sofi coba mencari cela dalam diri Ramzi. Dia menggeleng pelan, tidak ada. Kam Ramzi laki-laki yang sangat mapan dan sempurna. Tapi aku tak bisa mencintainya. Perasaan ini tak bisa dipaksakan.


"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Ramzi menyadarkan lamunan Sofi.


Sofi melepaskan genggaman tangan Ramzi perlahan. "Kak Ram, maafkan aku. Aku tak bisa menikah denganmu."


Akhirnya kalimat itu meluncur juga dari bibir Sofi dan tak pelak lagi membuat Ramzi tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Wajahnya yang kokoh berjambang itu langsung pias.


"Apa maksudmu?"


Sofi diam.

__ADS_1


"Katakan, kenapa kau menolakku untuk kesekian kalinya?" Nada Ramzi penuh tekanan, tatapannya yang semula lembut kini berubah dingin.


Sofi masih diam. Untuk beberapa lama hanya ada suara detik jarum jam dinding yang mengisi ruangan itu.


"Katakan!" Pinta Ramzi lagi.


Sofi membuang mukanya, laki-laki yang ada di hadapannya kini terlihat geram. Belum pernah dia melihat Ramzi marah, perasaannya mulai takut, tapi Sofi tak ingin terus berbohong. Dia harus jujur agar Ramzi berhenti mengejarnya.


"Apa kau akan pergi berpesiar lagi? " Tebak Ramzi masih dengan nada yang sama. Nada suara yang berusaha untuk bersabar meskipun hatinya bergejolak.


"Tidak."


"Lantas apa? Apa yang membuatmu mengubah keputusan itu? Padahal kemarin kau setuju. Kau mempermainkan ku, mempermainkan keluargaku!" Ramzi mengambil pundak Sofi memaksanya untuk melihat wajahnya lagi, emosinya mulai tak terkendali.


Sofi bangkit menepis tangan Ramzi. "Aku tak mengatakan kalau aku setuju, kalian saja yang terlalu memaksaku!" Balas Sofi dengan suara yang agak meninggi juga.


"Jadi rupanya kau benar-benar ingin mempermainkan keluargaku, hah?" Ramzi mencengkeram pergelangan tangan Sofi.


Sofi berkelit berusaha melepaskan cengkraman tangan Ramzi yang terasa menyakitinya. " Kak Ram, lepaskan." Pinta Sofi. "Aku tak bermaksud seperti itu." Sofi mulai gemetar.


Ramzi tak memperdulikan Sofi yang kesakitan. Dia justru mendesak ke arah Sofi hingga Sofi terduduk kembali di kursi panjang ruang tamu itu. Sofi berusaha melepaskan diri, namun tubuh Ramzi yang tinggi besar membuatnya tak kuasa.


"Aku tak percaya kau menolak ku lagi." Ujar Ramzi dengan sinis, aku sudah menunggu begitu lama untuk mendapatkan mu." Lanjutnya sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Sofi. "Kalau aku mau, aku bisa membeli selusin wanita yang lebih cantik darimu."


Sofi benar-benar gemetar, Ramzi mulai menyapukan bibirnya ke leher Sofi yang terlentang tak berdaya di sandaran kursi. Merasa tak ada penolakan, tangan Ramzi kini mulai membelai wajah Sofi, kemudian meraih dagu Sofi lembut mendekatkan pada bibirnya.


Namun yang terjadi sungguh diluar dugaan. Sofi yang merasa mendapat kesempatan untuk meloloskan diri langsung mendorong tubuh Ramzi.


"Aku tak bisa menikah denganmu karena aku mencintai laki-laki lain, dan sekarang aku sedang mengandung anaknya!"


JRENG!


Ramzi terbelalak kaget. Kalimat Sofi barusan bagai peluru yang langsung menghujam ke jantungnya. Tapi belum juga dia sempat berkata apa-apa, Sofi langsung pergi meninggalkannya dengan langkah-langkah cepat.


______


"Sayang, aku nanti mau pergi ketemuan sama temen-temen lho." Ujar Mirza menghentikan langkah Via yang mau ngambil jemuran ke halaman belakang.


"Ya udah pergi aja."


"Emangnya kamu nggak mau ikut?"


"Nggak ah, males. Badan aku pegel semua, Mas. Rasanya capek banget, padahal cuma bantu-bantu aja."


"Ya udah sini, Mas pijitin." Mirza menarik Via lantas mulai memijit bahunya.


"Nanti ajalah, Mas." Tolak Via. "Aku mau angkatin jemuran dulu, udah dua hari di teras tuh, jangan-jangan udah berubah jadi keripik kelamaan nggak diangkat."


"Ya udah, kalo gitu nanti malam ya Mas pijitinnya?" Mirza mulai genit.


"Mas kan mau pergi?"


"Cuman bentar kok, paling sebelum Maghrib juga pulang."


"Tumben, biasanya kalo udah kumpul sama temen-temen Mas suka lupa waktu."


"Kan mau mijitin kamu, sayang." Mirza mendekatkan wajahnya udah mau nyosor aja.


Via langsung menutup wajah Mirza dengan telapak tangannya. "Ya udah pergi cepetan sana."


Mirza tersenyum. "Itu berarti kamu setuju dengan acara kita nanti malam, yess!" Mirza girang sendiri. "Makasih sayang, cup!" Dikecupnya bibir Via sekilas.

__ADS_1


Wajah Via langsung merona dan tersenyum malu. Sudah cukup lama menjadi pasangan suami istri, tapi Via selalu saja masih suka canggung di depan Mirza.


"Kita harus kerja keras biar cepat punya momongan. Bulan depan Mas sudah harus pergi lagi, dan sebelum itu kamu sudah harus hamil, sayang."


Via terperanjat. "Mas udah mau pergi lagi?" Raut wajahnya berubah sedih. "Cepet banget."


Mirza membelai rambut panjang Via. "Masih bulan depan, sayang. Makanya kita pergunakan sisa waktu ini untuk bikin anak ya?"


POK!


Via menepok Jidat Mirza.


"Aduh, kok mukul sih?"


"Ya Mas itu kata-kanya vulgar banget ih!"


Bukannya marah, Mirza malah meringkus Via ke dalam pelukannya sehingga mereka berdua jatuh di atas karpet empuk depan TV itu. "Aku pingin cepet-cepet kita punya anak, sayang."


Via menatap manik mata suaminya yang berada tepat di atas wajahnya. "Bukannya Mas pernah bilang kita nggak usah buru-buru?"


"Itu kan kemarin-kemarin, sekarang beda lagi." Mirza tersenyum sambil berusaha nyosor lagi.


Via mendorong tubuh Mirza. "Oke, " ujar Via sambil merapikan rambutnya yang sedikit morat-marit. "Kita tuntaskan nanti malam."


Mirza pandangi gemulai istrinya yang beranjak meninggalkannya. Senyumnya lebar girang bukan main. Tak berapa lama Via kembali dengan keranjang pakaian dan duduk di samping Mirza sambil merapikan tumpukan pakaian itu.


Mirza diam-diam memperhatikan Via yang asyik dengan kesibukannya.


Bukan main sempurnanya Via sebagai seorang istri. Tidak hanya cantik, dia terampil dengan semua pekerjaan rumah, dan dia tak pernah mengeluh. Ah, betapa beruntungnya aku sebagai suaminya.


"Mas! Yee ... , kok malah bengong?" Via menyadarkan Mirza yang sedang bermonolog dalam hati. "Katanya mau pergi?"


Mirza tersenyum, lantas mencium kening istrinya, "iya." Ujarnya lantas menuju kamar di lantai dua untuk mengambil ponselnya.


"Ih, aneh banget jadi orang. Abis bengong malah senyum-senyum." Gerutu Via sambil tangannya terus pada pekerjaannya.


Via meraba saku celana jeans Mirza yang tampak ada sesuatu disana.


"Apa ini, jangan-jangan uang? Wah, rejeki istri sholehah nih." Via tersenyum sambil meraih sesuatu dari saku celana suaminya. "Kebiasaan Mas Mirza kalo mau nyuci nggak diperiksa dulu."


SLAP.


Ternyata satu tiket kereta api yang sudah lecek karena air cucian. Via membukanya. Hari, tanggal berikut dengan jam keberangkatan kereta tersebut masih bisa terbaca dengan jelas.


Berbagai tanya dan keheranan berkecamuk dalam benak Via.


"Sayang, Mas pergi dulu ya." Seru Mirza sambil menuruni tangga, lantas mendaratkan kecupannya sekali lagi di kening Via.


"Mas, tunggu." Sergah Via.


"Ada apa, sayang?"


Via memperlihatkan tiket itu pada Mirza. "Bisa kamu jelaskan ini?"


Seketika Mirza terdiam, dia hanya memperhatikan kertas lecek di tangan Via itu tanpa kata.


_________


Bersambung ☺️


Terima kasih sudah setia membaca 🙏❤️❤️🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate dan votenya ya akak-akak author tersayang dan para readers tercinta 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2