
Horee.... up 2 bab hari ini 😊😊
othor sempetin banget nih, semoga nggak mengecewakan ya....😄😄
Feedback menyusul Kak, maaf... 🙏🙏
Selamat membaca 😘😘
❤️❤️❤️❤️❤️
Di sebuah café elit di kawasan selatan ibu kota, Rumi dan Ben duduk berdua. Ceritanya mereka lagi makan malam berdua. Seorang waiter menyajikan pesanan mereka dan pergi setelah mengangguk sopan mempersilakan mereka menikmati hidangan. Ben mengeluarkan smart phonenya bersiap akan mengambil gambar.
“Ben, elo yakin ini akan berhasil?” Rumi ragu melihat pada pria mata duitan yang duduk di depannya.
“Yakin banget dong, si bule somplak itu pasti bakalan kaget ngeliat postingan IG gue bentar lagi.” Ben ancang-ancang mau ambil foto selfie bersama Rumi. “Deketan sini dong.” Ben merangkul pundak Rumi dan mendekatkan wajahnya.
“Ish! Nggak usah pegang-pegang bisa kan?” Rumi menjauhkan tangan Ben dari pundaknya. “Muka elo juga nggak usah deket-deket! Nyari kesempatan banget sih lo!” Semprot Rumi jengkel.
“Ya namanya juga kita lagi acting pacaran, masa jauh-jauhan? Kan kemarin kita udah sepakat, kalo kita ini pura-puranya udah jadian. Ntar kalo si bule nggak percaya, elo sendiri yang repot!” Kilah Ben sambil kembali mendekatkan wajahnya dan meminta Rumi pasang senyum manis.
Cekrek cekrek cekrek …..
“Wow! Emejing!” Ben bersorak melihat hasilnya. “Sekarang elo suapin gue!” Titah Ben kemudian.
Sekonyong-konyong Rumi melotot. “Elo bener-bener nyari kesempatan ya? Jangan macem-macem lo! Gue keramasin elo pake kuah sop, mau lo?” Rumi mengambil mangkuk di depannya.
“Eeet… eet….! Jangan dong!” Ben mundur menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Kan cuman acting?” Ben masih berkilah.
“Tapi nggak pake adegan suap-suapan juga kali! Elo pikir kita lagi pose di pelaminan pake suap-suapan segala?” Rumi gemas bukan main, menurutnya Ben emang sengaja banget ngambil kesempatan.
“Ya kalo si bule somplak itu nggak jadi nikahin elo, gue juga mau kok gantiin dia di pelaminan.” Gumam Ben pelan.
“Ngomong apa lo barusan?” Rumi mendengar Ben menggerutu meskipun nggak jelas apaan.
“Eeh, kagak. Gue kagak bilang apa-apa kok.” Ben nyengir, takut juga dia dikeramasin pake kuah sop beneran sama si Rumi. “Ya udah, kalo gitu kita lanjut ke adegan selanjutnya aja ya?” Ben merogoh saku celananya mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin cantik.
“Elo gila ya? Gue nggak mau pake cincin itu!” Tolak Rumi mentah-mentah.
“Jangan ge er lo! Sapa juga yang nyuruh elo pake ini!” Sanggah Ben. “Nih, pegang! Gue ambil fotonya.” Ben meyodorkan kotak cincin yang sudah terbuka itu.
“Ini asli?” Rumi memandangi cincin yang dipegangnya, ia terkesan dengan cincin cantik itu.
“Imitasi, gue beli di pasar Glodok kemarin. Demi apa coba?”
Rumi tak menanggapi ucapan Ben, ia memakai cincin itu dan memandanginya sambil senyum-senyum. Sebersit perasaan bahagia menyelinap di hatinya. Ahh, andai saja cincin ini pemberian Hanson.
“Woy! Kok malah senyum-senyum sih lo? Cepetan taroh cincinnya di kotak lagi.” Titah Ben.
“Nggak papa, gue pake aja deh. Cepet ambil foto gue!” Rumi udah terlanjur bahagia. “Biar imitasi tapi cantik banget nih cincin.”
Ben ngedumel dalam hati. Tadi aja lo nggak mau gue pake, sekarang malah minta foto peke tuh cincin. Dasar cewek ribet!
“Udah belom?” Tegur Rumi.
Ben melihat hasil jempretannya. “Heh, nggak ada yang bagus! Muka elo kurang menjiwai, acting lo jelek! Payah!” Omel Ben memperlihatkan foto-foto Rumi di ponselnya.
“Ck, elo aja yang gak becus!” Decak Rumi kesal nggak mau disalahin. “Dasar amatir lo!”
“Sekali lagi ya, kita ulangi.”
“Ogah! Gue udah laper! Udah pasang aja foto yang mana terserah.” Rumi cuek mangambil sendok dan garpunya dan mulai makan sementara Ben sedang memilih foto dan mengeditnya sedikit untuk diunggah ke akun sosmed pribadinya.
Miow… miow ….
Ponsel Ben berbunyi, itu panggilan masuk dari Hanson.
“Ya elah, belum juga gue posting. Udah nelpon aja ni orang!” Ben memperlihatkan layar gawainya yang terpampang foto Hanson pada Rumi.
“Kayaknya feeling dia lagi good.” Rumi mengaduk minumannya.
“Halo. Apaan?” Sambut Ben cuek.
“(…………….)”
“Di café lagi diner sama cewek baru gue. Kenapa emang?”
“(…………….)”
“Sorry, gue sibuk!”
KLIK!
Ben mengakhiri sambungan sepihak.
“Apa katanya?” Rumi penasaran juga.
“Dia nanyain gue lagi dimana?” Sahut Ben lantas kembali sibuk dengan gawainya.
__ADS_1
“Sip! Udah gue posting. Kita tunggu reaksi si somplak itu.” Ben menaruh gawainya dan meraih piringnya yang sedari tadi dicuekin.
Mereka berdua pun menikmati makan malam berdua yang nggak ada romantis-romantisnya sama sekali.
Sementara itu, di sebuah club malam Hanson nampak terbelalak melihat foto-foto unggahan di akun sosmed Ben. Semua foto itu emang nggak ada captionnya, tepi cukup membuat darah Hanson mendidih, terlebih lagi dia ingat jawaban Ben yang ngaku lagi diner sama ceweknya barusan. Mata hanson memanas memandangi salah satu foto Rumi yang tengah pamer cincin berlian di jarinya.
“Jadi begini cara kalian?” Hanson mengepalkan tangannya menahan amarah. “Ben, Ich werde dich erledigen!“ (Ben, aku akan menghabsimu!)
Hanson bangkit melangkah keluar setelah meletakkan beberapa uang dimejanya. Ia mengemudikan mobilnya ke tempat yang ia yakin Rumi dan Ben berada. Dia mengetahui cafe yang menjadi latar foto-foto Rumi itu.
Ben dan Rumi sudah selesai makan. Ben pergi ke toilet sementara Rumi memeriksa foto-foto unggahan Ben.
“Ish, dasar narsis!“ Rumi sebal melihat salah satu foto yang ada tampang Ben berpose dengan senyum lebar di sampingnya. Rumi terus asyik berselancar di dunia maya hingga Ben kembali dari toilet.
“Pulang yuk!“ Ajak Ben kemudian, dia lupa pada cincinnya yang masih dipakai Rumi.
Mereka pun keluar dan menuju parkiran.
“Ben, kok Hanson nggak komen ya?“ Ujar Rumi.
“Palingan dia lagi semaput abis liat foto-foto elo.“ Sahut Ben cuek.
“Elo yakin ini bakalan berhasil?“ Rumi kembali diliputi keraguan.
Ben menghentikan langkahnya. “Gue jamin elo nggak bakalan nyesel udah pake jasa gue aktor hebat sekelas aktor holywood.“ Ben berbangga diri dengan senyum sumingah. “Kalo gagal, gue kasih garansi duit lo kembali.“
“Beneran ya? Awas lo kalo bohong!“
“Eeh, tapi ya nggak semua gue balikin. Setengahnya deh! Hehe...“ Ben nggak mau rugi.
“Hu, dasar matre lo!“
Mereka berdua kembali melanjutkan langkah, namun sebelum benar-benar mencapai tempat parkir, seseorang menarik bahu Ben dari arah belakang tanpa diduga-duga dan langsung melayangkan tinjunya berkali-kali tepat ke wajah Ben.
Bugh! Bugh! Bugh!
Ben terhuyung seraya memegangi rahangnya menahan sakit.
“Hanson! Apa-apan sih lo?“ Bentak Rumi begitu tau siapa pelakunya.
“Seharusnya aku yang tanya! Apa-apaan kalian? Diam-diam jalan berdua di belakangku? Kalian sudah berhianat!“ Sarkas Hanson dengan emosi yang siap untuk ditumpahkan lagi.
“Siapa yang diem-diem? Orang kita sengaja kasih tau di sosmed kok biar semua orang tau!“ Sinis Rumi.
“Siapa yang lebih nggak tau malu? Elo yang diem-diem nemuin mantan elo dibelakang gue padahal elo udah ngelamar gue atau gue yang terang-terangan jalan sama teman elo?“ Balas Rumi. “Semua ini terjadi karena ulah elo yang nyakitin gue duluan!“ Rumi terpancing emosi.
“Jadi kamu sengaja jalan sama dia buat balas dendam?“ Hanson mununjuk pada Ben yang hanya diam menonton perang mulut dua orang yang lagi terbakar cemburu itu.
“Iya gue sengaja, puas lo?“ Tantang Rumi.
“Bagus!“ Hanson tersenyum getir, ia tak menduga kalau Rumi akan bertindak seperti ini. “Dan kamu! Teman macam apa kamu, hah? Tega nikung dari belakang. Kamu tau kan Rumi ini calon istri aku?“ Hanson menghampiri Ben dan mencengkeram kerah kemejanya.
“Hanson, lepasin!“ Teriak Rumi. “Elo nggak usah nyalahin orang lain. Ngaca lo, gimana kelakuan elo selama ini!“
“Kamu belain dia?“ Hanson melepaskan cengkramannya dan memandang Rumi dengan raut tak percaya.
“Iya! Dan elo nggak berhak ngalarang gue buat jalan sama siapapun, karena kita udah putus! Elo nggak amnesia kan? Kita udah PU-TUS!“ Rumi menatap Hanson sengit lalu menggeret tangan Ben untuk pergi meninggalkan Hanson yang hancur dengan kepingan hatinya yang berserakan.
“Rumi, tunggu!“ Hanson menyusul dengan langkah cepat menghadang mereka. “Lihat mataku, katakan itu sekali lagi. Apa kita benar benar-benar berakhir? Apa semuanya nggak bisa diperbaiki dan kita memulainya lagi dari awal?“ Hanson menatap Rumi dengan pandangan megiba.
Rumi melengos membuang pandangannya. “Nggak bisa!“
“Lihat aku, Rumi. Tatap mataku.“ Pinta Hanson lirih penuh harap.
“Ogah, mata elo belekan!"
NGOEK!
Reflek Hanson membersihkan kedua sudut matanya. “Aku nggak belekan Rumi, kamu jangan ngeles. Lihat aku, tatap mataku sekarang.” Hanson meraih kedua pundak Rumi untuk menghadapnya.
“Nggak mau. Elo mau hipnotis gue? Jangan maksa dong!” Tepis Rumi galak.
“Kamu nggak berani natap aku, berarti kamu masih mencintaiku. Iya kan? Kamu masih sayang sama aku kan, Rumi? Aku benar-benar minta maaf untuk semuanya, ayo kita perbaiki semuanya dari awal. Aku berjanji nggak akan mengulanginya.” Pria bule yang tengah bucin itu kembali memohon.
“Nggak usah ngarep ya! Nih, elo nggak liat di jari gue udah ada cincin dari Ben?” Rumi memperlihatkan cincin yang melingkar di jarinya.
“Aku nggak peduli. Aku bisa kasih cincin yang lebih bagus dari itu! Lepas cincin itu dan kembalilah padaku Rumi.” Hanson memaksa.
“Nggak!”
“Lepas! Aku bilang lepasin cincin itu, aku akan belikan cincin yang jauh lebih bagus. Ratusan kali lipat lebih bagus dari cincin itu!” Hanson melepas paksa cincin dari jari Rumi sementara Rumi kekeh mempertahankannya.
Untuk sesaat terjadi rebutan cincin antara Hanson dan Rumi, Ben mulai diliputi kekhawatiran.
SREET!
__ADS_1
TRING…. TRING … TRING…
PLUNG!
Cincin itu terlepas dari jari rumi lantas menggelinding asoy di jalanan dan masuk ke dalam saluran air.
“Cincin gue …..!” Teriak Ben histeris. Dia berlari menuju lubang saluran air dan berusaha membuka penutupnya. “Cincin berliannya jatuh ke dalam got! Omegot …..!!!” Ben semakin histeris.
Rumi melongo melihat aksi Ben yang menurutnya sangat lebay itu.
“Ben, itu kan cuman cincin imitasi? Nggak usah lebay gitu dong!” Rumi berkata dengan entengnya.
Ben mendongak menatap Rumi geram yang berdiri di sampingnya. “Itu cincin berlian asli, Rumi! A-S-L-I! ASLI!!!” Muka Ben memerah menahan marah, sedih dan kecewa yang bercampur menjadi satu.
“Tapi elo bilang …”
“Gue bilang asli ya asli!” Pekik Ben jengkel. “ Itu cincin berlian asli yang sengaja gue beli buat ngelamar cewek gue! Mana gue belinya nyicil lagi! Sekarang semuanya hancur gara-gara kalian!” Wajah Ben merah padam menatap Hanson dan Rumi bergantian.
“Ekhem. Sepertinya aku mengetahui satu hal.” Ucap Hanson menatap Rumi tak menghiraukan Ben. “Shcatzi, semua ini hanya rekayasa kan?”
Glek!
Rumi tengsin bukan main, Hanson ternyata begitu cepat mengetahui kebenarannya padahal dia masih ingin melanjutkan drama itu hingga beberapa episode ke depan. Rumi mendadak serba salah tak tau mau bilang apa.
“Shcatzi, please come back to me. Ich werde den Grund nannen, warum ich diese Frau getroffen habe. aber bitte vergib mir zuerst.“ (Rumi, kembalilah padaku. Aku akan mengatakan alasan mengapa aku menemui wanita itu tapi tolong maafkan aku.) Hanson meraih jemari Rum dengan mata sayu.
Rumi yang sudah terlanjur malu banget mengibaskan tangannya kasar. “Ngomong aja lo sama google! Gue kagak ngerti bahasa planet!“ Rumi berlari menghindari tatpan mata Hanson.
"Rumi, tunggu! Oke, aku translate!“ Hanson buru-buru mengejar perempuan ajaib pujaan hatinya itu.
“Hoy! Kalian mau kemana? Ini gimana urusannya? Cincin berlian bakal cewek gue nyemplung di got, kalian malah melarikan diri!“ Teriak Ben jengkel. “Dasar pasangan somplak! Kalian harus ganti rugi! Gue nggak mau tau!“
Rumi dan Hanson asyik kejar-kejaran tak menghiraukan teriakan Ben yang memaki kesal. Rumi terus berlari sampai keluar parkiran. Dia malu banget, bahkan saking malunya nggak berani ngeliat wajah Hanson. Rumi berbelok sampai di jalan raya, lalu tiba-tiba...
KLEK!
“Aaaaww...!“ Jerit Rumi tertahan. Pergelangan kakinya baru saja terkilir. `
“Shcatzi, are you ok?“ Hanson panik lekas menghampiri dan memeriksa kaki Rumi.
“Kaki gue ...“ Rumi meringis menahan sakit, pergelangan kakinya tak bisa digerakkan.
“Yang mana yang sakit?“ Hanson memeriksa kaki Rumi penuh kekhawatiran.
Rumi menunjuk pergelangan kaki kirinya masih sambil meringis dan nyaris saja menangis. Sebenernya sih sakitnya nggak seberapa tapi malunya itu lho! Ampuun dah...!
“Ok, kita ke rumah sakit sekarang!“ Dengan sigap Hanson mengangkat tubuh Rumi dan menggendongnya ala bridal style.
Rumi tak berani lagi membantah, dia diam seribu bahasa meringkuk dalam gendongan sambil diam-diam mencuri pandang pada laki-laki yang melangkah dengan tergesa menuju ke mobilnya.
“Shcatzi, why are you look at me like that?“ Tanya Hanson yang ternyata sadar sedang diperhatikan diam-diam oleh gadis mungil dalam gendongannya.
“Ng... nggak papa.“ Sahut Rumi gugup.
“Apa mataku belekan?“ Hanson menghentikan langkahnya dan menatap kedua netra Rumi yang menyiratkan penuh salah dan penyesalan.
“I’m so sorry.“ Cicit Rumi. “Ich liebe dich.“ Lanjutnya tertunduk malu.
“Ich liebe dich auch.“ Balas Hanson dengan mata penuh cinta lantas mendekatkan bibirnya pada wajah Rumi. Jantung Rumi berdetak kencang tak beraturan, ia memejamkan matanya pasrah menerima sesuatu yang mungkin akan segera menyambar bibirnya. Hanya beberapa centi lagi, sebentar lagi dan ...
“Kurang ajar kalian!“ Ben datang menarik lengan Hanson dari belakang membuat aksi Hanson dan Rumi terpaksa terhenti. “Malah enak-enakan mau saling sosor! Cincin berlian gue urusin! Gue nggak mau tau kalian harus ganti rugi!“ Ben memaksa dengan pasang tampang galak.
“Ck! Harusnya kamu bisa kan datang setelah aku selesai?“ Decak Hanson kesal.
“Nggak bisa! Pokoknya gue minta ganti rugi sekarang juga! Kalo nggak gue bakal panggil Satpol PP buat ciduk kalian karena kalian sudah mesum di tempat umum!“ Ancam Ben.
“Dasar sinting!“ Maki Hanson.
“Kasih aja, biar dia cepet pergi.“ Bisik Rumi yang juga kesel banget liat tampang si Ben.
“Oke aku kasih, tapi kita nanti lanjutin yang barusan di mobil ya?“ Hanson tersenyum jahil.
Rumi mencubit dada Hanson dan tertunduk malu.
bonus visual Babang Hanson yang lagi jutek 😁😁
❤️❤️❤️❤️❤️
Eaaa…. Siapa yang mau ngintipin aksi mereka di dalam mobil? Wkwkwk…. 🤭🤭🤭
like, komen selalu ya Kak.😍😍
mohon maaf untuk typo dan kesalahan penerjemahan 🙏🙏🙏🙏
Terima kasih sudah support othor sampai sejauh ini. komen balasan dan feedback menyusul hari seninya Kak.🙏🙏🙏❤️❤️❤️
__ADS_1
Luv U all🤗🤗🤗😘😘😘