TERPAKSA SELINGKUH

TERPAKSA SELINGKUH
259 #BERPAMITAN PART 2


__ADS_3

Melihat dari gelagat Sofi, Jumilah yakin antara sang tamu dan majikannya sudah saling mengenal dengan baik, maka ia tak ragu untuk mengijinkan Sofi langsung masuk ke ruang tengah untuk menemui Bu Een.


Duduk di atas kursi roda menghadap TV, dengan tubuh terlihat kurus dan rambut tanpa hijab yang sepenuhnya hampir bewarna putih, Bu Een belum menyadari kehadiran Sofi berdiri di belakangnya.


“Apa kabar, Bu?” Sapaan suara Sofi mampu membuat Bu Een merotasi lehernya seketika.


Tak percaya dengan obyek yang ditangkap kedua mata tuanya,Bu Een sampe teriak pada Jumilah untuk minta diambilkan kacamata.


"Jum ....! Cepat ambilkan kacamata saya!"


Jumilah yang lagi nemplok diantara dinding pembatas antara ruang tengah dan ruang tamu dengan rasa keponya pada sang tamu, terjingkat kaget karena teriakan Bu Een.


"Nggak usah teriak-teriak, Bu. pecah gendang telinga saya lama-lama denger Anda teriak-teriak terus," sungut Jumilah kesal.


"Aku pikir ibu masih cukup mengenaliku tanpa kacamata," melengkungkan senyum seraya mendekat.


wajah tua yang selalu konsisten memancarkan aura keangkerannya itu memindai tubuh Sofi dari ujung kepala sampai ujung sepatunya dengan kedua mata cekungnya, bolak balik atas bawah atas bawah seolah tak yakin hanya dengan satu kali melihat.


"Kamu So-fi?" bertanya masih dengan shock.


"Iya ini aku, Sofia" duduk dengan gaya elegannya.


"Sofi, kamu kemana saja? Kenapa baru datang sekarang? kemana kamu saat ibu membutuhkanmu," berhamburan kata-kata penuh kerinduan dengan kedua tangan terjulur ke depan ingin meraih Sofi yang duduk di hadapannya.


meraih kursi roda Bu Een untuk lebih dekat. "Maafkan aku ya Bu, aku nggak bisa nemenin ibu."


"Andai kamu tau Sof, ibu selalu berdoa untuk bisa melihatmu lagi. Dan akhirnya doa ibu terjawab, kamu datang hari ini untuk menemui ibu," kedua mata cekung Bu Een kini berkaca-kaca dan Sofi tak bisa menolak saat Bu Een mencondongkan tubuhnya untuk dapat memeluknya.


Bisa bersikap lembut juga ternyata si nenek tua renta menjengkelkan ini. siapa sih sebenarnya wanita muda bernama Sofi itu? Kok si nenek sihir bisa baik banget sama dia ya?Jumilah membatin semaki kepo.


"Ibu tau kamu nggak akan meninggalkan ibu, Sof," melerai pelukan dan mengusap kedua matanya yang basah.


mengukir senyum tipis, "justru aku kesini untuk berpamitan karena akan pergi, Bu."


shock lagi, "pergi? pergi kemana? bukankah kamu baru saja dateng?" pandangannya kemudian tertuju pada perut Sofi yang datar, "kamu sudah melahirkan?" Bu Een baru menyadarinya.


mengangguk dengan senyuman, "iya Bu,anak saya laki-laki."


ikut tersenyum, senyum lebih lebar dari Sofi dengan binar kebahagiaan tercetak jelas memenuhi wajah tuanya, "baguslah, artinya kita bisa meneruskan rencana kita berdua yang tertunda. Kamu akan menikah dengan Mirza secepatnya, karena dia akan segera menceraikan istrinya setelah melahirkan."


Gantian kini Sofi yang merasa shock, "Mirza akan menceraikan Via?" lebih mirip orang menggumam sendiri daripada bertanya.

__ADS_1


"Iya, kalian bisa langsung menikah setelahnya karena duri penghalang itu akan benar-benar pergi dari kehidupan Mirza," ucap Bu Een dengan penuh kesungguhan.


Masih berusaha menguasai pikirannya karena sangat terkejut dengan kalimat yang baru saja Bu Een lontarkan, Sofi kini mengerti mengapa Via terkesan menutupi sesuatu tentang rumah tangganya.


Keterkejutan juga menyergap Jumilah yang sedari tadi berada disana sedang pura-pura membersihkan hiasan di bufet, padahal dia sedang melancarkan aksi menguping ria. Mas Mirza dan istrinya akan bercerai?


"Jumilah, buatkan tamu saya minum!" Titah Bu Een yang tiba-tiba sontak membuat Sofi fan Jumilah tersadar dari angannya.


"Emh, nggak usah Bu" sergah Sofi. "Aku nggak lama kok."


Mengernyit penuh keheranan, "bukannya kamu akan tinggal disini?"


Merasa sudah cukup dengan kehaluan Bu Een tentang dirinya, Sofi akhirnya mengutarakan kenyataan tentang dirinya. "Aku akan pulang ke Jakarta besok dengan anak dan suamiku."


"S-suami?" suaranya tercekat di tenggorokan.


"Iya, suami yang sangat aku cintai yang sudah memberiku malaikat kecil yang tampan."


Menggeleng dalam keterkejutannya, "kamu pasti bercanda kan?"


"Aku serius Bu, berjuta-juta kali serius," raut Sofi benar-benar menunjukkan keseriusan. "Aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku, jadi lupakan saja tentang harapan ibu untuk menjadikan aku istri Mirza."


"Nggak mungkin.Ini nggak bisa terjadi, kamu harus menikah dengan Mirza." Sergah Bu Een memaksakan kehendaknya.


"Kamu harus bercerai dengan suamimu!"


"Itu gila!" Bantah Sofi tegas, "aku nggak akan menuruti keinginan ibu yang tak masuk akal itu."


"Kenapa tidak? Siapa yang dulu memohon untuk menjadi istri Mirza? Siapa yang datang kesini minta perlindungan dan bersedia melakukan apa saja yang aku inginkan sebagai imbalannya? Kamu jangan pura-pura lupa Sofi," menatap nyalang karena tak ingin keinginannya dibantah. "Kenapa sekarang kamu mau pergi begitu saja, mana balas budimu sebagai seorang manusia yang sudah saya tolong?"


"Justru karena aku seorang manusia, yang punya akal dan budi aku nggak akan melakukan keinginan ibu yang tak masuk akal itu."


"Tidak bisa, kamu tidak bisa cuci tangan dari semua ini!"


Menghela napas jengah, wanita tua di hadapannya sungguh lebih kejam dari yang ia pikirkan. "Aku mau tau, kenapa ibu sangat membenci Via? Kenapa ibu sangat menginginkan Via dan Mirza berpisah?"


"Apa saya harus punya alasan kenapa saya membencinya?" memicingkan kedua mata cekungnya.


"Tentu saja, setiap orang harus punya alasan jelas melakukan sesuatu."


"Kebencian saya adalah kebencian yang tak butuh alasan. wanita itu sudah salah sejak awal karena membuat Mirza menuruti semua keinginannya. Mirza bahkan rela mengabaikan restu saya sebagai seorang ibu demi dirinya."

__ADS_1


"Bukankah itu sebuah alasan? ibu ternyata cemburu dengan Via, ibu terlalu ketakutan kehilangan Mirza. aku tak bisa menjamin jika Mirza menikah dengan aku atau perempuan lain pun ibu tak akan membenciku karena takut merasa tersaingi. Ck,itu pikiran yang sungguh dangkal sebagai seorang ibu," berdecak tak percaya setelah mengetahui faktanya.


"Saya nggak akan membencimu karena kamu memang pantas untuk Mirza. kamu punya segalanya, kamu terhormat dan punya kekayaan yang bisa menjamin kebahagiaan." Ucap Bu Een dengan percaya dirinya.


"Jadi karena alasan harta? Satu lagi aku temukan alasan mengapa ibu membenci Via" tersenyum tipis, "apa harta bisa dijadikan ukuran kehormatan seorang manusia?"


"Tentu. Dengan banyak harta kita akan dihormati banyak orang."


"Miris sekali ibu ini," bangkit dari duduknya, melihat pada jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya. "Aku harus pergi. Anak dan suamiku menunggu diluar. Jika ibu masih memaksakan kehendak ibu pada Via dan Mirza ibu akan menyesal selamanya."


"Tidak akan, karena saya yakin apa yang saya lakukan ini benar."


mengukir senyum sarkas, "coba saja lanjutkan rencana ibu, dan saat ibu menyesalinya nanti semuanya sudah terlambat dan tak kan bisa kembali."


"Jangan som tau kamu! Kamu tidak lebih dari rubah licik yang memilih pergi setelah mendapatkan mangsa buruan yang lebih menjanjikan." Geram Bu Een dengan kilatan mata penuh emosi tertahan.


"Kejam sekali sebutan itu," pura-pura memasang raut sedih. "Jika aku rubah, lantas ibu apa?"


"Sofi, kau -"


"Aku masih waras, aku ingin menata hidupku yang baru. aku rasa jika sampai Via pun bercerai dengan Mirza, ia pasti akan punya kehidupan baru yang lebih indah. Dia akan bahagia tanpa ibu mertua macam ibu."


"Sofia,kenapa kamu lama sekali?" Ramzi tau-tau muncul di ruang tengah. "Baby Arfan rewel, dia pasti sudah kelelahan."


Tersenyum menghampiri Ramzi, "Bu, kenalkan.ini Ramzi Alatas suamiku, ayah dari malaikat kecilku," melingkarkan tangannya pada lengan Ramzi.


Menatap tak suka, perasaan Bu Een makin berkecamuk. Melihat dari penampilan Ramzi yang tentu saja bukan dari kalangan biasa saja.


"Baiklah, aku pamit. Selamat tinggal, selamat menantikan penyesalan." Melambaikan tangan dengan senyuman mengembang yang lebih mirip sebuah ejekan yang terselubung.


Mengepalkan kedua tangannya, ingin memaki dan berteriak atas keadaan yang tak memihak padanya.


perasaan lain justru berputar-putar di benak Jumilah. Wow, sepertinya laki-laki dari perempuan yang bernama Sofi tadi pisangnya sangat kuat, besar dan tahan lama..


❤️❤️❤️❤️❤️


maafkan othor yaa.....🙏🙏🙏


like selalu


komen lagi biar othor mskin semangat

__ADS_1


vote kalau masih bisa,


I love you all 🤗🤗🤗😘😘😘


__ADS_2